JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 3. NO. MARET 2024 Ketersediaan Dan Aksesibilitas Pangan Lokal: Implikasinya Terhadap Ketahanan Pangan Di Distrik Konda Kabupaten Sorong Selatan Provinsi Papua Barat Daya Krisna Fransina Lermating . Hendry Jems Yoel Aidore . Franklin D. Paiki . 1,2,. 1,2,. Program Studi Agribisnis Universitas Werisar krisnafransina24@gmail. com, aidorehendry23@gmail. com, paikifranklin@gmail. ABSTRACT This study aims to analyze the availability and accessibility of local food and its implications for food security in Konda District. South Sorong Regency. Southwest Papua Province. Local food plays an important role in ensuring food security, especially in areas with limited access to external food sources. In this context, this study explores various factors influencing the availability and accessibility of local food, such as agricultural production, transportation infrastructure, the economic conditions of the community, and local government Using qualitative and quantitative methods, data were collected through in -depth interviews, field observations, and questionnaire surveys of households in Konda District. The results of the study indicate that the availability of local food is influenced by traditional production patterns and limited access to modern agricultural technology. Additionally, food accessibility is also hampered by d ifficult geographical conditions and inadequate road infrastructure. This study finds that although the people of Konda District have a high dependence on local food, they face various challenges in ensuring long-term food security. This analysis provides deep insights into how improving the availability and accessibility of local food can significantly contribute to food security in the Proposed policy implications include infrastructure development, capacity building for local farmers, and the implementation of more efficient agricultural technologies. This research is expected to serve as a reference for local governments and relevant stakeholders in formulating effective strategies to enhance food security in Konda District and other areas with s imilar Keywords: Food availability, food accessibility, food security, local food. Konda District. Southwest Papua ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketersediaan dan aksesibilitas pangan lokal serta implikasinya terhadap ketahanan pangan di Distrik Konda. Kabupaten Sorong Selatan. Provinsi Papua Barat Daya. Pangan lokal memegang peranan penting dalam menjamin ketahanan pangan, terutama di daerah yang memiliki keterbatasan akses terhadap sumber pangan eksternal. Dalam kont eks ini, penelitian ini mengeksplorasi berbagai faktor yang mempengaruhi ketersediaan dan aksesibilitas pangan lokal, seperti produksi pertanian, infrastruktur transportasi, kondisi ekonomi masyarakat, serta kebijakan pemerintah setempat. Dengan menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan survei kuisioner terhadap rumah tangga di Distrik Konda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketersediaan pangan lokal dipengaruhi oleh pola produksi y ang masih tradisional dan terbatasnya akses ke teknologi pertanian modern. Selain itu, aksesibilitas pangan juga terhambat oleh kondisi geografis yang sulit dan infrastruktur jalan yang belum memadai. Penelitian ini menemukan bahwa meskipun masyarakat Distrik Konda memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap pangan lokal, mereka menghadapi berbagai tantangan dalam memastikan ketahanan pangan jangka panjang. Analisis ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana peningkatan ketersediaan dan aksesibilitas pangan lokal dapat berkontribusi signifikan terhadap ketahanan pangan di wilayah tersebut. Implikasi kebijakan yang diusulkan termasuk pengembangan infrastruktur, peningkatan kapasitas petani lokal, dan penerapan teknologi pertanian yang lebih efisien. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah dan pihak terkait dalam merumuskan strategi yang efektif untuk meningkatkan ketahanan pangan di Distrik Konda dan daerah lainnya yang memiliki karakteristik serupa. Kata Kunci: Ketersediaan pangan, aksesibilitas pangan, ketahanan pangan, pangan lokal. Distrik Konda. Papua Barat Daya e-ISSN: 2964-3619 JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 3. NO. MARET 2024 PENDAHULUAN Ketahanan pangan merupakan aspek krusial kesejahteraan masyarakat, yang mencakup dimensi ketersediaan, aksesibilitas, pemanfaatan, dan stabilitas pangan. Di Indonesia, isu ketahanan pangan menjadi semakin penting terutama di daerah-daerah terpencil seperti Distrik Konda. Kabupaten Sorong Selatan. Provinsi Papua Barat Daya, di mana akses terhadap sumber pangan eksternal sangat terbatas. Kondisi geografis yang sulit, infrastruktur yang belum memadai, serta ketergantungan tinggi terhadap pangan lokal membuat penelitian mengenai ketersediaan dan aksesibilitas pangan di daerah ini sangat relevan. Distrik Konda merupakan wilayah dengan potensi pertanian lokal yang signifikan. Namun, pola produksi pertanian yang masih tradisional dan keterbatasan akses terhadap teknologi modern seringkali menjadi hambatan dalam memastikan ketersediaan pangan yang mencukupi. Selain itu, aksesibilitas pangan di daerah ini juga terpengaruh oleh faktor ekonomi dan sosial, seperti tingkat pendapatan masyarakat dan kebijakan pemerintah Kondisi ini menimbulkan tantangan besar dalam mencapai ketahanan pangan yang Pentingnya penelitian ini terletak pada upaya untuk memahami lebih dalam mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi ketersediaan dan aksesibilitas pangan lokal di Distrik Konda. Penelitian ini bertujuan untuk: Menganalisis ketersediaan pangan lokal di Distrik Konda, termasuk jenis dan jumlah pangan yang tersedia. TINJAUAN PUSTAKA KONSEP KETAHANAN PANGAN Ketahanan pangan adalah kondisi di mana setiap orang memiliki akses fisik, sosial, dan ekonomi yang cukup terhadap pangan yang aman, bergizi, dan sesuai dengan kebutuhan mereka untuk hidup sehat dan produktif. Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), ketahanan pangan, aksesibilitas pangan, pemanfaatan pangan, dan stabilitas pangan. Ketersediaan pangan mengacu pada jumlah pangan yang ada, baik melalui produksi lokal maupun Aksesibilitas kemampuan individu untuk memperoleh pangan, yang dipengaruhi oleh faktor ekonomi, sosial, dan Pemanfaatan pangan berkaitan dengan cara pangan tersebut digunakan oleh tubuh, yang mencakup aspek gizi dan kesehatan. Stabilitas pangan mencakup kemampuan untuk mempertahankan ketersediaan, aksesibilitas, dan e-ISSN: 2964-3619 Menganalisis aksesibilitas pangan lokal, mencakup faktor ekonomi, geografis, dan masyarakat terhadap pangan. Mengidentifikasi ketersediaan dan aksesibilitas pangan lokal terhadap ketahanan pangan masyarakat di Distrik Konda. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat mengenai kondisi pangan lokal di Distrik Konda serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan rekomendasi kebijakan yang efektif kepentingan lainnya dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan di Distrik Konda. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada peningkatan pemahaman ilmiah dan pengetahuan mengenai isu ketahanan pangan di daerah terpencil, tetapi juga memberikan manfaat praktis bagi upaya pembangunan berkelanjutan di Provinsi Papua Barat Daya. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat ditemukan solusi yang efektif untuk mengatasi berbagai tantangan dalam ketersediaan dan aksesibilitas pangan lokal, sehingga ketahanan pangan di Distrik Konda dapat terwujud dengan lebih baik. Penelitian ini juga diharapkan menjadi acuan bagi penelitian-penelitian selanjutnya yang berfokus pada daerah-daerah dengan karakteristik serupa di Indonesia. pemanfaatan pangan secara konsisten dari waktu ke waktu. KETERS EDIAAN PANGAN LOKAL Ketersediaan pangan lokal merujuk pada jumlah dan jenis pangan yang diproduksi dan tersedia di suatu wilayah. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketersediaan pangan lokal meliputi: C Produksi Pertanian: Pola teknologi pertanian, dan sumber daya alam. C Iklim dan Cuaca: Kondisi iklim yang mempengaruhi hasil pertanian. C Infrastruktur Pertanian: Akses terhadap sarana dan prasarana pertanian, seperti irigasi, alat dan mesin pertanian, serta fasilitas penyimpanan. Penelitian yang dilakukan oleh Jones et al. menunjukkan bahwa peningkatan teknologi pertanian dan diversifikasi tanaman dapat meningkatkan ketersediaan pangan di tingkat Selain itu, akses terhadap sumber daya air JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 3. NO. MARET 2024 dan tanah yang subur juga memainkan peran penting dalam ketersediaan pangan. AKSESIBILITAS PANGAN Aksesibilitas merujuk pada kemampuan individu atau rumah tangga untuk memperoleh pangan yang cukup melalui produksi sendiri, pembelian, atau bantuan pangan. Faktorfaktor yang mempengaruhi aksesibilitas pangan C Kondisi Ekonomi: Pendapatan rumah tangga, harga pangan, dan kebijakan subsidi pangan. C Infrastruktur Transportasi: Akses jalan, transportasi publik, dan biaya distribusi C Kondisi Sosial: Norma budaya, gender, dan struktur keluarga. Menurut penelitian oleh Barrett . , aksesibilitas pangan seringkali lebih penting daripada ketersediaan pangan itu sendiri dalam menentukan ketahanan pangan. Kebijakan yang meningkatkan daya beli masyarakat dapat secara signifikan meningkatkan aksesibilitas pangan. perbaikan infrastruktur dan kebijakan ekonomi dapat secara signifikan meningkatkan ketahanan IMPLIKASI KETERSEDIAAN DAN AKSESIBILITAS PANGAN TERHADAP KETAHANAN PANGAN Ketahanan pangan di suatu wilayah sangat dipengaruhi oleh ketersediaan dan aksesibilitas pangan lokal. Jika pangan tersedia tetapi tidak dapat diakses oleh masyarakat karena kendala ekonomi atau infrastruktur, maka ketahanan pangan tidak dapat tercapai. Penelitian oleh Smith et al. menunjukkan bahwa kombinasi antara produksi pangan lokal dan METODOLOGI TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN Penelitian ini akan dilakukan di Distrik Konda. Kabupaten Sorong Selatan. Provinsi Papua Barat Daya. Indonesia. Distrik Konda dipilih karena representatif dalam konteks studi mengenai ketersediaan dan aksesibilitas pangan lokal di daerah terpencil. Pengumpulan data lapangan dilakukan di berbagai lokasi dalam distrik konda, termasuk beberapa kampung diataranya (Kampung Wara. Kampung Manelek dan Kampung Baria. dan pasar lokal yang menjadi pusat kegiatan pertanian dan perdagangan pangan. Waktu penelitian bulan Maret s/d Juni 2024. Rentang waktu ini dipilih untuk memastikan data yang dikumpulkan mencakup berbagai musim pertanian dan kondisi ekonomi yang mungkin berubah dari waktu ke waktu. POPULASI DAN SAMPEL e-ISSN: 2964-3619 STUDI KASUS DI WILAYAH TERPENCIL Studi kasus di berbagai wilayah terpencil menunjukkan bahwa tantangan dalam ketersediaan dan aksesibilitas pangan seringkali diperparah oleh kondisi geografis yang sulit dan keterbatasan Penelitian oleh Dewey et al. di daerah pedalaman menunjukkan bahwa investasi dalam infrastruktur jalan dan fasilitas penyimpanan dapat membantu mengatasi beberapa tantangan ini. KEBIJAKAN DAN STRATEGI UNTUK MENINGKATKAN KETAHANAN PANGAN Berbagai kebijakan dan strategi dapat diterapkan untuk meningkatkan ketahanan pangan di daerah-daerah terpencil, termasuk: C Peningkatan Produksi Pertanian: Melalui adopsi teknologi pertanian modern dan diversifikasi tanaman. C Pembangunan Infrastruktur: Investasi dalam infrastruktur transportasi dan fasilitas C Kebijakan Ekonomi: Subsidi pangan, program bantuan pangan, dan kebijakan yang meningkatkan daya beli masyarakat. C Pengembangan Kapasitas Petani: Pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah rumah tangga terkait yang tinggal atau terlibat dalam kegiatan pertanian dan pangan di Distrik Konda. Kabupaten Sorong Selatan. Provinsi Papua Barat Daya. Populasi ini mencakup seluruh masyarakat yang tinggal di Distrik Konda, baik yang langsung terlibat dalam produksi pertanian maupun yang terlibat dalam perdagangan dan distribusi pangan lokal. Sampel Sampel adalah subset dari populasi yang dipilih untuk diobservasi atau diwawancarai dalam penelitian ini. Sampel 50 responden. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive dan acak stratifikasi untuk memastikan representativitas dari berbagai segmen masyarakat yang ada di Distrik Konda. Sampel terdiri dari: JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 3. NO. MARET 2024 Petani lokal: Petani yang aktif dalam produksi pangan lokal di berbagai jenis tanaman dan hewan ternak yang umum di Distrik Konda. Pedagang dan distributor pangan: Individu atau kelompok yang terlibat dalam distribusi dan perdagangan pangan lokal di pasar-pasar pusat-pusat Rumah tangga: Rumah tangga yang menjadi konsumen utama pangan lokal di Distrik Konda. Pemerintah daerah dan stakeholder terkait: Individu atau lembaga yang terlibat dalam kebijakan, pengaturan, atau pengawasan terhadap produksi, distribusi, dan konsumsi pangan lokal di Distrik Konda. RANCANGAN PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode campuran . ixed method. yang menggabungkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif untuk menganalisis ketersediaan dan aksesibilitas pangan lokal serta implikasinya terhadap ketahanan pangan di Distrik Konda. Kabupaten Sorong Selatan. Provinsi Papua Barat Daya. Pendekatan ini memungkinkan pengumpulan data yang komprehensif dan mendalam, serta analisis yang holistik untuk memperoleh hasil yang lebih akurat dan dapat diandalkan. C Ketersediaan Pangan: Jumlah dan jenis pangan yang diproduksi dan tersedia di Distrik Konda. C Aksesibilitas Pangan: Kemampuan rumah tangga untuk memperoleh pangan yang cukup melalui produksi sendiri, pembelian, atau bantuan pangan. C Ketahanan Pangan: Kondisi di mana setiap rumah tangga memiliki akses yang cukup terhadap pangan yang aman dan bergizi. Teknik Komputasi dan Pengolahan Data C Analisis Deskriptif: Menggunakan statistik deskriptif untuk menggambarkan distribusi data ketersediaan dan aksesibilitas pangan, serta kondisi ekonomi rumah tangga. C Analisis Korelasi dan Regresi: Menggunakan analisis korelasi untuk mengidentifikasi hubungan antara variabel ketersediaan dan aksesibilitas pangan dengan ketahanan Analisis regresi digunakan untuk mengukur pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. C Analisis Tematik: Menggunakan teknik analisis tematik untuk mengidentifikasi tema dan pola dari data kualitatif yang diperoleh melalui wawancara dan observasi. Penjelasan Asumsi C Asumsi Ketersediaan Data: Data yang dikumpulkan melalui survei, wawancara, dan observasi dianggap representatif untuk populasi Distrik Konda. C Asumsi Keseragaman Responden: Responden yang dipilih secara purposive dianggap memiliki pengetahuan dan pengalaman yang relevan dengan topik penelitian. C Asumsi Keterandalan dan Validitas Data: Data yang diperoleh melalui metode campuran dianggap valid dan dapat diandalkan untuk analisis lebih lanjut. PENGUMPULAN DATA Data Primer C Wawancara Mendalam: Dilakukan dengan petani, pedagang, dan pemangku kepentingan lainnya di Distrik Konda untuk memperoleh aksesibilitas pangan lokal. C Observasi Lapangan: Mengamati kondisi pertanian, infrastruktur transportasi, dan pasar pangan lokal. C Survei Kuisioner: Distribusi kuesioner kepada rumah tangga di Distrik Konda untuk mengumpulkan data kuantitatif tentang ketersediaan dan aksesibilitas pangan, serta kondisi ekonomi rumah tangga. Data Sekunder C Dokumentasi dan Laporan: Mengumpulkan data dari laporan pemerintah, organisasi nonpemerintah, dan lembaga penelitian terkait ketahanan pangan, produksi pertanian, dan kebijakan pangan di Distrik Konda. C Literatur dan Studi Sebelumnya: Mengkaji literatur dan penelitian sebelumnya yang relevan dengan topik penelitian. LANGKAH-LANGKAH ANALISIS DATA Definisi Variabel TEKNIK ANALISIS DATA Pengumpulan Data: Mengumpulkan data melalui wawancara, observasi, dan survei Pengolahan Data: Membersihkan dan mengkodekan data yang diperoleh dari kuesioner dan transkrip wawancara. e-ISSN: 2964-3619 Analisis Data: Melakukan analisis deskriptif, korelasi, regresi, dan tematik sesuai dengan tujuan penelitian. Interpretasi Hasil: Menginterpretasikan hasil analisis untuk menjawab pertanyaan penelitian dan mencapai tujuan penelitian. JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 3. NO. MARET 2024 DIAGRAM ALIR PENELITIAN Gambar 1. Diagram Alir Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini menggunakan campuran . ixed method. untuk menganalisis ketersediaan dan aksesibilitas pangan lokal serta implikasinya terhadap ketahanan pangan di Distrik Konda. Kabupaten Sorong Selatan. Provinsi Papua KETERS EDIAAN PANGAN LOKAL Tanaman Sagu Ubi Jalar Jagung Sayuran Sumber data : diolah 2024 Tabel 1: Produksi Pertanian di Distrik Konda Luas Lahan . Produksi . on/tahu. Berdasarkan Gambar 2. Menunjukkan jumlah produksi tahunan . alam to. untuk masing-masing jenis tanaman: sagu, ubi jalar, jagung, dan sayuran. Dengan visualisasi ini, dapat e-ISSN: 2964-3619 Barat Daya. Berikut ini adalah hasil dan pembahasan yang disajikan dalam bentuk tabel, grafik, dan pernyataan untuk memberikan gambaran yang Metode Pertanian Tradisional Tradisional Tradisional Tradisional dilihat bahwa sagu memiliki produksi tertinggi, diikuti oleh ubi jalar, jagung, dan sayuran. Hal ini dikarenakan Sagu adalah tanaman yang sangat cocok dengan kondisi iklim tropis dan tanah yang JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 3. NO. MARET 2024 ada di Distrik Konda. Tanaman ini tumbuh baik di lahan basah dan rawa-rawa, yang banyak ditemukan di wilayah tersebut. Kondisi tanah dan iklim di Distrik Konda memberikan lingkungan yang ideal untuk pertumbuhan sagu, sehingga produksi tanaman ini lebih tinggi. Berbeda halnya dengan ubi jalar, jagung, dan sayuran, meskipun dapat tumbuh di Distrik Konda, tanaman-tanaman ini membutuhkan kondisi tanah dan manajemen pertanian yang berbeda dan lebih intensif dibandingkan sagu. Selain itu, kalau kondisi cuaca yang ekstrem seperti hujan lebat dapat lebih mudah merusak tanaman sayuran dan jagung yang lebih sensitif. Lahan luas yang tersedia di Distrik Konda sering kali lebih cocok untuk penanaman Tanaman sagu juga tidak memerlukan perawatan intensif dan dapat tumbuh secara liar, yang menjadikannya pilihan yang lebih mudah bagi masyarakat lokal yang sebagian besar masih menggunakan metode pertanian tradisional. Sedangkan lahan untuk menanam ubi jalar, jagung, dan sayuran mungkin terbatas atau kurang cocok dibandingkan dengan lahan untuk sagu. Selain itu, metode pertanian tradisional yang digunakan masyarakat kurang efektif untuk meningkatkan produksi tanaman-tanaman ini. Sagu memiliki nilai sosial dan budaya yang tinggi di kalangan masyarakat Papua, termasuk di Distrik Konda. Sagu adalah makanan pokok yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat lokal. Oleh karena itu, penanaman sagu lebih diprioritaskan dan lebih banyak diperhatikan oleh petani. Sedangkan ubi jalar, jagung, dan sayuran, meskipun juga penting, tanaman-tanaman ini tidak memiliki nilai sosial dan budaya yang sama tinggi dengan sagu, sehingga produksinya lebih rendah. Proses panen sagu dapat dilakukan dalam jumlah besar karena pohon sagu menghasilkan tepung yang banyak dari setiap pohonnya. Hal ini berbeda dengan tanaman seperti ubi jalar, jagung dan sayuran yang menghasilkan produk dalam jumlah yang lebih terbatas per unit lahan, sehingga memerlukan lebih banyak perhatian dan pemeliharaan serta seringkali menghasilkan panen yang lebih kecil per unit Gambar 2. Grafik Produksi Pertanian AKSESIBILITAS PANGAN LOKAL Tabel 2: Kondisi Ekonomi dan Infrastruktur Aspek Kondisi Kondisi Ekono mi Pendapatan rendah, daya beli terbatas, mengandalkan produksi sendiri Infrastruktur Jalan buruk, minimnya transportasi publik, distribusi pangan sulit Harga Pangan Fluktuasi harga signifikan, biaya transportasi tinggi Sumber data : diolah 2024 Berdasarkan Gambar 3. Grafik fluktuasi harga pangan di pasar lokal selama satu tahun. Menunjukkan bahwa perubahan harga bulanan untuk sagu, ubi jalar, jagung, dan sayuran. Dapat dilihat bahwa untuk tanaman sagu, harga sagu mengalami peningkatan secara bertahap dari e-ISSN: 2964-3619 Januari hingga September, mencapai puncaknya di bulan September, sebelum mulai menurun sedikit pada bulan-bulan berikutnya. Fluktuasi harga sagu relatif lebih stabil dibandingkan komoditas lainnya, meskipun ada kenaikan yang signifikan pada pertengahan tahun. Untuk tanaman ubi jalar. JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 3. NO. MARET 2024 menunjukkan tren peningkatan yang konsisten dari Januari hingga Agustus, sebelum mengalami sedikit penurunan menjelang akhir tahun. Meskipun ada fluktuasi, perubahan harga ubi jalar cenderung lebih stabil dibandingkan dengan sagu dan jagung. Untuk tanaman jagung. Harga jagung juga mengalami peningkatan dari Januari hingga Agustus, dengan fluktuasi yang lebih tajam dibandingkan dengan sagu dan ubi jalar. Tren harga jagung menunjukkan adanya kenaikan dan penurunan yang cukup signifikan dalam beberapa bulan tertentu. Sedangkan tanaman sayuran. Harga sayuran menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dari Januari hingga Agustus, sebelum menurun pada bulan-bulan berikutnya. Harga sayuran cenderung lebih rendah dibandingkan dengan komoditas lainnya, namun fluktuasinya lebih tajam, terutama di bulan-bulan tertentu. Gambar 3. Grafik Fluktuasi Harga Pangan Di Pasar Lokal Selama Satu Tahun IMPLIKAS I KETERS EDIAAN DAN AKSESIBILITAS PANGAN TERHADAP KETAHANAN PANGAN Tabel 3: Ketergantungan dan Tantangan Ketahanan Pangan Aspek Kondisi Ketergantungan pada Pangan Masyarakat sangat bergantung pada pangan lokal untuk kebutuhan sehari-hari Tantangan dalam Pemenuhan Gizi Keterbatasan akses terhadap berbagai jenis pangan menyebabkan ketidakseimbangan gizi Peran Kebijakan Pemerintah Kebijakan pemerintah daerah sangat penting dalam mendukung produksi dan distribusi pangan lokal Sumber data : diolah 2024 Berdasarkan Tabel 3. Menunjukkan bahwa, masyarakat di Distrik Konda sangat bergantung pada pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Ini menunjukkan bahwa pangan lokal memiliki peran yang sangat penting dalam menyokong kehidupan dan Ketergantungan yang tinggi juga mengindikasikan bahwa upaya untuk mempertahankan dan meningkatkan produksi pangan lokal sangat krusial untuk menjaga keberlanjutan pangan di Distrik Konda. Meskipun ada ketergantungan pada pangan lokal, tantangan utama yang dihadapi adalah akses terbatas terhadap berbagai jenis e-ISSN: 2964-3619 Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan gizi di masyarakat, yang bisa berdampak negatif pada kesehatan dan perkembangan manusia, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Perlu adanya langkah-langkah konkret untuk meningkatkan aksesibilitas terhadap pangan yang beragam dan bergizi di Distrik Konda. Selain itu, kebijakan pemerintah daerah memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung produksi dan distribusi pangan lokal. Ini mencakup regulasi, insentif bagi petani lokal, infrastruktur pendukung, dan kebijakan yang mendorong keberlanjutan produksi pangan lokal. Dengan adanya dukungan yang kuat dari pemerintah, diharapkan dapat JURNAL ADMINISTRASI TERAPAN VOL 3. NO. MARET 2024 meningkatkan produksi, aksesibilitas, dan kualitas pangan lokal, serta mengurangi ketergantungan PENUTUP KESIMPULAN Penelitian ini mengungkapkan bahwa ketersediaan dan aksesibilitas pangan lokal di Distrik Konda memiliki implikasi yang signifikan terhadap ketahanan pangan masyarakat. Produksi pertanian didominasi oleh tanaman sagu, yang sesuai dengan kondisi iklim dan tanah lokal, serta memiliki nilai budaya yang tinggi bagi masyarakat Papua. Meskipun demikian, ada tantangan dalam diversifikasi pertanian untuk tanaman lain seperti ubi jalar, jagung, dan sayuran, yang memerlukan perhatian lebih intensif dalam manajemen lahan dan teknik pertanian. Sagu merupakan tanaman SARAN Saran dapat diusulkan untuk meningkatkan ketersediaan dan aksesibilitas pangan lokal serta menguatkan ketahanan pangan di Distrik Konda: Penguatan Produksi Sagu, pemerintah daerah perlu mengambil langkah untuk mendukung produksi sagu melalui penyediaan teknologi pertanian yang tepat, pelatihan bagi petani, dan promosi penggunaan metode pertanian yang Diversifikasi Pertanian, memperluas jenis tanaman yang ditanam, termasuk ubi jalar, jagung, dan sayuran, perlu ditingkatkan dengan memperbaiki manajemen lahan dan pemilihan varietas yang cocok dengan kondisi lokal. Stabilisasi Harga, langkah-langkah untuk mengurangi fluktuasi harga pangan, seperti pada pangan dari luar daerah. dominan dalam produksi pertanian di Distrik Konda, disusul oleh ubi jalar, jagung, dan sayuran. Kondisi tanah dan iklim yang mendukung serta nilai budaya yang tinggi menjadikan sagu sebagai pilihan utama bagi petani lokal. Namun, produksi tanaman lain seperti ubi jalar, jagung, dan sayuran terbatas karena persyaratan tanah dan perawatan yang lebih intensif. Harga pangan lokal, terutama sagu, ubi jalar, jagung, dan sayuran, mengalami fluktuasi yang mempengaruhi aksesibilitasnya di pasar lokal. penyediaan infrastruktur pasar yang baik dan insentif untuk mengurangi biaya transportasi, perlu dipertimbangkan untuk meningkatkan aksesibilitas pangan lokal bagi masyarakat. Peningkatan Aksesibilitas, infrastruktur distribusi serta promosi pasar meningkatkan akses masyarakat terhadap pangan lokal yang bervariasi dan bergizi. Kebijakan Pendukung, pemerintah daerah perlu mengembangkan kebijakan yang mendukung keberlanjutan produksi dan distribusi pangan lokal, termasuk regulasi yang memfasilitasi pertanian berkelanjutan dan insentif bagi petani DAFTAR PUSTAKA