Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 ISSN 1693-7724, eISSN 2685-614X https://jurnal. isi-ska. id/index. php/ornamen/ Kajian Visual Wayang Beber Koleksi Museum Wayang Banyumas Junende Rahmawati a. Rohmad Eko Priyono a. Program Studi Kriya Kulit. Fakultas. Akademi Komunitas Negeri (AKN) Seni dan Budaya Yogyakarta junenderahma0409@gmail. com, 2 rohmadeko99@yahoo. ABSTRAK Kata Kunci Wayang beber merupakan salah satu jenis wayang yang dikenal di Indonesia. Terkenal memiliki dua gaya dari dua tempat yang diyakini sebagai tempat tersimpannya wayang beber asli yaitu Pacitan dan Wonosari selanjutnya disebut wayang beber Gaya Pacitan dan Gaya Wonosari. Wayang beber sendiri memiliki arti wayang yang dibeber (J. atau di bentangkan pada saat pertunjukan. Wayang beber yang berada di museum wayang Banyumas merupakan salah satu cerita dari wayang beber gaya Pacitan. Dimana ciri khas wayang beber Pacitan menceritakan kisah Jaka Kembang Kuning dengan Dewi Sekartaji dengan latar belakang yang dipenuhi ornamen. Wayang beber koleksi museum wayang Banyumas hanya memiliki satu gulung, yaitu gulungan ke dua. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tokoh-tokoh yang tergambar melalui pendekatan visual pada wayang beber koleksi museum wayang Banyumas guna memberikan edukasi dan sebagai referensi wawasan dan Wayang beber. Museum Wayang Banyumas. ABSTRACT Keywords Wayang beber is one type of puppet known in Indonesia. It is famous for having two styles from two places believed to be the original puppets, namely Pacitan and Wonosari, hereinafter referred to as Pacitan Style and Wonosari Style puppets. Wayang beber itself means puppets that are unfolded (J. or stretched during the The puppets in the Banyumas puppet museum are one of the stories from the Pacitan style puppets. Where the characteristic of Pacitan puppets tells the story of Jaka Kembang Kuning with Dewi Sekartaji with a background filled with The puppets in the Banyumas puppet museum collection only have one roll, namely the second roll. This study aims to describe the characters depicted through a visual approach to the puppets in the Banyumas puppet museum collection in order to provide education and as a reference for insight and knowledge. Wayang beber. Banyumas Puppet Museum. This is an open access article under the CCAe BY-SA license Pendahuluan Museum Wayang Banyumas dalam menjalankan amanat Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2015 tentang Museum dalam hal Aopengkajian Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 museumAo melalui pengembangan museum, serta mengingat bahwa kesenian pertunjukan wayang (The Wayang Puppet Theatr. juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda atau Intangible Heritage UNESCO pada 7 November 2003, maka diperlukan adanya kajian mengenai koleksi wayang di Museum Wayang Banyumas, baik itu wayang gagrag Banyumas ataupun wayang gagrag non-Banyumas. Penelitian ini sebagai tindaklanjut penelitian tahun 2023 yang memfokuskan pada koleksi wayang gagrag Banyumas, untuk riset ini memfokuskan pada koleksi wayang gagrag non-Banyumas. Penelitian ini bertujuan mengkaji koleksi non - Banyumas khususnya koleksi wayang beber. Wayang beber yang diyakini bukan berasal dari Banyumas memerlukan kajian khusus sebagai bahan edukasi pengunjung museum wayang Banyumas. Tujuan dari kegiatan kajian ini yaitu menghasilkan deskripsi koleksi wayang gagrag non-Banyumas yang ada di Museum Wayang Banyumas. Deskripsi tersebut meliputi deskripsi umum yang berisi tentang sejarah wayang dan koleksi wayang yang berisi tentang latar belakang, anatomi dan atribut tokoh Metode Kajian deskriptif-analitis mendeskripsikan dan menjelaskan mengenai sejarah umum dan ciri khas dari koleksi wayang tersebut. Metode pengumpulan data meliputi studi Pustaka, observasi lapangan, wawancara, serta dokumentasi. Metode pengolahan dilaksanakan melalui tahapan kajian wujud visual wayang yang bertujuan mengidentifikasi wujud visual wayang yang terdapat masing-masing Berkaitan pengelompokan berdasarkan kesamaan bentuk dan struktur suatu benda, yang Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 disebut dengan tipologi. Pengelompokan dalam hal ini merujuk pada tipologi, yaitu studi yang menyusun kategorisasi dan pengelompokan untuk menghasilkan suatu tipe. Menurut Raphael Moneo . alam Damayanti dkk. , tipologi didefinisikan sebagai konsep yang mengelompokkan objek atas dasar kesamaan sifat-sifat dasar prinsip yang digunakan untuk membantu pengelompokan dengan prinsip kesamaan atau principle of similarity Gestalt. Koffka dan Kohler . alam Abdurrahman, 2015: 16-. berpandangan bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung dipandang sebagai objek yang saling memiliki. Klasifikasi dalam penelitian ini berkaitan dengan rupa. Rupa merupakan keadaan tampak luar, roman atau paras atau tampang, dan wujud yang terlihat (Dwiputri, 2. Metode analisis data diperoroleh dari kajian literatur atau studi pustaka yang didukung dengan observasi lapangan, wawancara, dan dokumentasi mengenai tipologi, dan data mengenai wayang. Data tersebut berupa pembahasan rupa . ajah dan atribut busan. serta makna-makna yang terkandung dalam unsur rupa wayang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif, deskriptif-analitis pembentukan yang terbagi menjadi dua tahap. Tahap pertama berupa pembentukan tipologi atau klasifikasi rupa wayang sebagai dasar melakukan pemaknaan. Tahap kedua adalah tahapan melakukan arti makna dan rupa wayang. Hasil dan Pembahasan Deskripsi dan Sejarah Umum Wayang Beber Orang Jawa telah menciptakan berbagai kreativitasnya yang sangat luar Berbagai kreativitas orang Jawa tersebut telah menjadi peninggalan yang adiluhung, yang menarik untuk dikaji dan diteliti (Siswanto, 2. Wayang beber merupakan salah satu jenis wayang yang ada di Indonesia Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 dan berkembang dalam beberapa versi. Versi pertama, menurut Maharsi . , wayang beber berawal dari Kerajaan Pajajaran pada abad 12, sekitar tahun 1130 Masehi. Versi kedua, wayang beber dimulai sejak Kerajaan Jenggala, sekitar tahun 1120 Saka, oleh Raden Panji Kasatriyan dengan gelar Surya Hamisesa . utra dari Prabu Lembu Hamiluhur. Raja Jenggala saat it. , menciptakan lukisan Wayang Purwa diatas daun rontal (Suharyono, 2005: Versi ketiga, diceritakan dalam Serat Centini AuTembang GirisaAy, wayang beber dibuat pertama kali pada Masa Kerajaan Majapahit pada abad XIV, pada masa pemerintahan Prabu Branata atau Raden Jaka Sesuruh. Pada masa Kerajaan Mataram, wayang beber dibuat dalam warna hitam putih dengan candrasengkala: gunaning bhujangga sembahing dewa, berarti tahun 1283 Saka atau 1361 Masehi. Setelahnya, pada tahun 1378 Masehi, wayang beber mulai memiliki warna karena disempurnakan oleh Raden Sungging Prabangkara . nak dari Prabu Brawijay. (Ardus M. Sawega: 2. Wayang beber diambil dari kata beber yang merujuk pada cara penyajian yang di-beber-kan atau dibentangkan karena media yang dipakai berupa kertas Jawa . atau kain yang berbentuk gulungan (Maharsi, 2018: Umumnya terdiri dari enam . gulung, satu gulungnya terdiri dari empat . jagong atau adegan. Oleh karena bentuk wayang berupa gambar dua dimensi, di setiap ujung gulungan wayang beber diselipkan kayu panjang yang fungsinya sebagai pegangan dan penggulung. Wayang ini dipentaskan dengan cara ditancapkan pada gedebog atau kayu yang berlubang, di-beber-kan dengan dalang yang duduk dibagian belakang wayang, dimana saat ada pergantian adegan, dibuka ke arah kiri . osisi dalan. dan digulung dari kanan ke kiri. Posisi penonton berada di belakang dalang, dengan posisi dalang yang berhadapan dengan gambar (Wawancara Wahyudi, 2. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 Lewat pertunjukkan wayang melalui tokoh serta ceritanya mempunyai peran dalam pembinaan dan pendidikan untuk membangun karakter bangsa (Marwoto, 2. Biasanya lakon yang diceritakan merupakan cerita Panji Asmara Bangun atau Jaka Kembang Kuning. Hal tersebut disebabkan karena banyaknya adegan roman percintaan diadaptasi dari cerita Panji Asmara Bangun dan Dewi Sekartaji. Cerita tersebut kemudian dibumbui dengan imajinasi baru tergantung dari setiap suku bangsa, sehingga menjadikan wayang ini sebagai bentuk folklore yang popular (Suwega, dkk. 2013: . Kisah sastra yang diangkat merupakan salah satu bentuk varian dari Cerita Panji, tanpa pakem tertulis. Untuk keahlian dalang wayang beber, pun dilakukan dengan proses magang, tidak selalu menurun kepada anak sendiri, tetapi bisa kepada cantrik . munya masih kerabat deka. yang dianggap paling berbakat (Tabrani, 2012: . Wayang beber yang terkenal berasal dari daerah Wonosari dan Pacitan. Wayang beber dari Wonosari dikenal dengan nama Wayang AoBeber Gelaran WonosariAo, sedangkan wayang beber dari Pacitan dikenal dengan Wayang AoBeber Karangtalun PacitanAo. Wayang beber Wonosari identik dengan gambaran visual yang sangat sederhana di bagian background wayang, gambar wayang yang tidak konsisten antara satu jagong dengan jagong lainnya, unsur-unsur elemen detail yang belum selesai/disungging, dan dibiarkan dalam bentuk outline garis hitam yang membentuk figur tertentu terutama figur binatang kecil . ase terban. , sehingga kesan visual yang ditampilkan oleh wayang beber gelaran Wonosari adalah kesan yang tua jika dibandingkan dengan milik Pacitan yang lebih ramai di segala aspek visual (Subandi, dkk. , 2. Wayang beber gaya Jaka Kembang Kuning atau lebih dikenal dengan cerita Panji Asmara Bangun . ersi Pacita. menyiapkan berbagai sesaji Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 sebagai bentuk pelengkap dan syarat dari pertunjukkan. Perbedaan pementasan serta tampilan wayang beber Cerita Panji Remeng Mangunjaya dipentaskan dengan cara di-tuding atau ditunjuk oleh Dalang yang berada di depan wayang beber, dengan iringan musik gamelan bernada slendro. Gambar 1. Pertunjukan wayang beber lakon Joko Kembang Kuning (Sumber: SEAMEO SPAFA, 2. Gambar 2. Dalang wayang beber (Sumber: SEAMEO SPAFA, 2. Gambar 3. Pertunjukan wayang beber Remeng Mangunjaya (Sumber: Hapsoro, 2. Wayang beber dilukis dengan teknik pewarnaan sungging dengan pewarna alam maupun sintesis berbasis air . ater colour, cat akrilik, cat Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 tembok, atau cat poste. Menurut Hermin Istrianingsih . alam wawancara CNN Indonesia AuWayang Beber di Ambang Zaman- Inside IndonesiaAy, tahun 2. menyampaikan bahwa Wayang Beber hanya menggunakan filosofi warna jawa yaitu, hitam . rtinya ketiadaa. , putih . elahiran manusi. , kuning . , merah . , dan hijau . Namun, apabila terselip warna biru itu diartikan sebagai bentuk tolak bala. Dalam wawancara terbarunya . , wayang beber yang yang biasanya dibuat oleh beliau didominasi penggunaan pewarna alam yang ada di lingkungan sekitar. Hal ini lebih menyerupai wayang beber klasik dengan warna terbatas serta didominasi oleh warna merah dan Gambar 4. Wayang beber lakon Remeng Mangunjaya (Repro: Tim Kriya ISI Solo, 2. Gambar 5. Wayang beber lakon Jaka Kembang Kuning (Repro: Tri Ganjar Wicaksono, 2. Wayang Beber digambar dengan prinsip anatomi wajah dengan sudut Sutriyanto membandingkan bentuk wajah Wayang Purwa dan wayang beber. Wajah Wayang Purwa digambarkan tepat 90 derajat pandangan manusia menoleh ke samping, sedangkan penggambaran wajah wayang beber seperti Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 menyerong 45 derajat sehingga kedua mata digambarkan utuh dalam tokoh wayang beber. Gambar 6. Perbandingan sketsa karakter visual tokoh Wayang Suluh . dan wayang beber . (Sumber: Sutriyanto, 2. Lukisan wayang beber dengan gaya Pacitan digambarkan dengan penuh ornamen, yang paling menonjol adalah ornamen flora yang digambarkan hampir memenuhi latar. Ornamen pohon hayat yang berada di tengah pejagong menunjukkan tanda ruang jagong atau lakon, sedangkan pohon yang berada di pinggir . i belakang pejagon. sebagai tanda batas atau Dalam Wiyadi . menyebutkan bahwa gambar wayang beber gaya Pacitan, pada ornamen karang . dibagian bawah menyimbolkan dunia bawah, sedangkan apabila semakin ke atas adalah ornamen susunan bata dan lainnya, dan bagian paling atas adalah ornamen bentuk tumpal . dengan bagian tepinya berupa lidah api. Pembacaan wayang beber ini dibagi menjadi dua latar. Pertama, pembacaan dilakukan dari background, setelahnya baru ke bagian latar depan atau tokoh. Bagian kiri tuan rumah atau yang memiliki pangkat, sedangkan bagian kanan adalah tamu tanpa pangkat, sehingga berbeda dengan pembacaan Wayang Kulit Purwa. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 Gambar 7. Sketsa pohon pembatas adegan dan petanda ruang adegan wayang beber (Sumber: Sutriyanto, 2. Kekhasan Koleksi Wayang Beber Di Museum Wayang Banyumas Pada objek koleksi dengan No. Inv. 123, terdapat wayang beber dengan gaya Pacitan, dengan ukuran panjang 345 cm dan lebar 85 cm. Material koleksi terbuat dari kain yang digambar menggunakan cat water based. Koleksi tersebut bagian dari wayang beber gulungan ke dua dengan lakon Jaka Kembang Kuning atau Panji Asmara Bangun. Tabrani . , berhasil melakukan transkrip wawancara pada tahun 1981 dengan Dalang wayang beber Pacitan AuJaka Kembang KuningAy. Ki Sarnen Gunacitra . Adapun isi gulungan kedua adalah sebagai berikut. Foto 1. Objek koleksi No. Inv. 123: wayang beber (Sumber: Tenaga Ahli Kajian, 2. Adegan wayang beber 1 Gambar 8. Adegan pertama pada objek koleksi No. Inv. 123: wayang beber (Sumber: Tenaga Ahli Kajian, 2. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 . Cerita Adegan: Jaka Kembang Kuning tiba di Kademangan Ki Demang Kuning . aman dari Jaka Kembang Kunin. digambarkan di sebelah kiri bagian depan bersama dengan punakawannya di belakangnya. Pada sisi kanan, digambarkan Jaka Kembang Kuning bersama Tawang Alun dan Naladerma di Jaka Kembang Kuning melaporkan tentang penemuan Sekartaji. Lalu, diputuskan mengirim Naladerma agar menyerahkan seserahan berupa kotak emas melalui Retno Mindaka, adik Raja Kediri di pangreburan . Istana Kediri. Setelah itu. Tawang Alun diutus menemui Raja Kediri untuk menyampaikan berita ditemukannya Sekartaji oleh Jaka Kembang Kuning. Tokoh adegan . Ki Demang Kuning Gambar 9. Tokoh Ki Demang Kuning pada adegan pertama (Sumber: Tenaga Ahli Kajian, 2. Ki Demang Kuning merupakan paman dari Jaka Kembang Kuning yang tinggal di Kademangan. Pada wayang beber adegan pertama, posisi tubuh tokoh berdiri dengan wajah menghadap ke depan dalam posisi sedang berbicara atau menghadap lawan Ki Demang Kuning bermata thelengan, berhidung bentuk dempok/bentulan, bergodek/bercambang, dan memiliki wok . ambut yang tumbuh di Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 area lehe. , warna kulit seperti warna kain. Memakai anting bentuk bunga dan sumping bentuk daun dan bunga. Berambut hitam pendek. Bertubuh tegap dengan bulu dada atau simbar jaja. Bentuk tubuh tokoh mirip seperti wayang kulit hanya saja tangannya tidak sampai bawah. Mengenalan kelat bahu bentuk naga angangrang dan gelang binggel. Tokoh digambarkan dengan bentuk tangan kiri menggenggam dan tangan kanan seperti tangan buto. Berpakaian dari pinggang ke bawah hingga lutut memakai kain panjang ke belakang berwarna abu-abu gelap yang disungging dengan tepi kain . berwarna merah. Mengenakan lontong/sabuk, boro, dan memakai keris. Jaka Kembang Kuning Gambar 10. Tokoh Jaka Kembang Kuning pada adegan pertama (Sumber: Tenaga Ahli Kajian, 2. Jaka Kembang Kuning merupakan tokoh utama dan dikenal sebagai pemuda yang gagah dan tampan dari Jenggala. Tokoh ini adalah kekasih dari Dewi Sekartaji . utri Raja Kedir. Penggambaran Panji Jaka Kembang Kuning Panji Asmorobangun diadopsi dari bentuk manusia. Meskipun terdapat bentuk bentuk yang dideformasi, bagian-bagian tubuh Panji Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 seorang manusia (Pratama & Oemar, 2. Bermata liyepan/gabahan dengan alis tipis yang terlihat di kedua mata, bermulut bentuk salitan, dan berhidung ambangir, dan bertopi tekes . opi khas panj. , anting, dan hiasan sumping mirip bentuk bunga dan daun di telinga. Berpakaian dari pinggang berupa kain panjang sampai atas lutut dengan bagian belakang memanjang berwarna kuning bermotif lidah api dengan lis . epi kai. berwarna sunggingan merah, dilengkapi dengan lontong/sabuk dan boro warna abu kehijauan dengan motif bunga. Ornamen kain melambangkan kemampuan lidah pemimpin yang secara metaforis dapat membakar banyak orang (The Batik Website, t. Posisi tangan kiri tokoh digambarkan dalam posisi menggenggam dan tangan kanan menunjukkan tanda mempersilahkan. Naladerma Gambar 11. Tokoh Naladaerma pada adegan pertama (Sumber: Tenaga Ahli Kajian, 2. Naladerma merupakan salah seorang abdi setia Jaka Kembang Kuning. Berperawakan gemuk, berhidung terong, bermata kiyip, dan bermulut mirip gusen tetapi mingkem. Tokoh memakai sumping bentuk bunga dan daun serta memakai anting di telinga. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 Selain aksesoridi telinga, tokoh juga mengenakan gelang binggel di tangan dengan posisi tangan kanan seperti menyentuh hidung dan tangan kiri dalam posisi menggenggam. Secara keseluruhan, tokoh digambarkan dengan perut buncit dan hanya berpakaian dari pinggang atau perut ke bawah sampai mata kaki. Jenis bawahan yang dikenakan berupa celana panjang warna biru muda dan kain panjang warna gelap dengan lis sunggingan Beberapa pelengkap pakaian tokoh antara lain lontong atau sabuk warna merah yang disungging dan boro warna biru muda motif bunga dan tidak beralas kaki . Tawang Alun Gambar 12. Tokoh Tawang Alun pada adegan pertama (Sumber: Tim kajian, 2. Tokoh Tawang Alun merupakan nama seorang abdi Jaka Kembang Kuning. berperawakan gemuk, berwajah bulat, berambut panjang dengan rambutnya diikat ke atas. Tokoh Tawang Alun memiliki ciri rupa fisik bermata kiyip, berhidung pesekan, bermulut seperti mulut gusen tetapi mingkem dan berkumis. Beberapa aksesori yang digunakan berupa hiasan sumping bentuk bunga dan daun dan anting di telinga. Terkait fitur tubuh, tokoh digambarkan berlengan besar dan tanpa aksesori. Tokoh juga digambarkan Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 bertelanjang dada dan hanya memakai kain dari pinggang ke Pada adegan pertama ini, tokoh digambarkan dalam posisi duduk dengan kaki yang tidak terlihat karena tertutup oleh bawahan berupa kain. Kain yang digunakan sebagai bawahan tersebut berwarna biru polos tanpa ornamen. Penggunaan kain dilengkapi dengan lontong/sabuk dan boro berwarna gelap dengan lis sunggingan merah tua. Latar adegan Pada adegan pertama, latar adegan menggambarkan tempat kediaman Ki Demang Kuning. Latar kediaman tersebut digambarkan penuh dengan ornamen flora dengan dinding bata yang disungging. Di tengah pejagong, terlihat pohon hayat sebagai tanda pembeda antar tokoh/golongan. Pada tepi kanan dan kiri juga terdapat pohon hayat adegan/pejagong/jagong. Pada Wayang Beber, sisi kiri menunjukkan tuan rumah/lebih berpangkat/tokoh baik sedangkan sisi kanan menunjukkan tamu/tokoh jahat/kurang berpangkat. Adegan wayang beber 2 Gambar 13. Adegan kedua pada objek koleksi No. Inv. 123: wayang beber (Sumber: Tenaga Ahli Kajian, 2. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 . Cerita adegan: Retno Tegaron diutus Raja Klana ke Pengreburan Melanjutkan cerita pada adegan pertama, digambarkan Raja Klana yang sedang berkemah di Taretebang di Alun-alun Kediri. Oleh karena ketidaksabarannya, maka ia mengutus adiknya. Retno Tegaron, untuk menyampaikan mahar perkawinan untuk Sekartaji melalui Retno Mindaka di Keputren Istana Kediri. Pada bagian bawah kiri adegan, tampak Retno Mindaka dan di bagian kanan tampak pihak Retno Tegaron. Saat itu, ia sedang sibuk menenun di Pangreburan Namun, terdapat seorang yang berbeda tampilannya yaitu Retno Mindaka. Selanjutnya, tampak Retno Tegaron yang baru datang . anan depa. sedang bercakap di tengah kesibukan Menariknya, para dayang Retno Mindaka yang bernama Ni Pengilon digambar dua kali pada adegan tersebut. Artinya, penggambaran tersebut menunjukkan prosesnya mondar-mandir sambil melawak. Merasa ditolak. Retno Tegaron kemudian murka dan menantang berkelahi. Tokoh adegan . Retno Mindaka Gambar 14. Tokoh Retno Mindaka pada adegan kedua (Sumber: Tenaga Ahli Kajian, 2. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 Retno Mindaka merupakan salah satu bangsawan dari keluarga kerajaan Kediri. Meskipun tidak ada sumber yang menyatakan hal tersebut secara langsung, tetapi dari segi cerita yang disajikan disebutkan bahwa Retno Mindaka merupakan orang yang penting di dalam Kerajaan Kediri. Dari segi pakaian yang dikenakan, tampak pakaiannya berbeda dengan orangorang di sekitarnya. Retno Mindaka digambarkan dalam posisi liyepan/gabahan dengan hidung mbangir, mulut salitan yang terlihat gigi-giginya seakan sedang bercakap. Ia juga memakai anting dan sumping berbentuk bunga dan daun di telinga. Tokoh Retno Mindaka memiliki rambut yang panjang dan diikat dengan hiasan rambut berwarna keemasan. Berpakaian berupa atasan kemben dan bawahan kain panjang berwarna gelap dengan lis merah. Pada posisi duduk, kakinya tidak terlihat karena tertutup kain. Terdapat beberapa pelengkap pakaian yang dikenakan berupa rimong . ampir untuk wanit. berwarna kuning keemasan dengan lis warna merah yang disungging dengan posisi disampirkan di bahu. Retno Tegaron Gambar 15. Tokoh Retno Tegarong pada adegan kedua (Sumber: Tenaga Ahli Kajian, 2. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 Retno Tegaron, menurut berbagai sumber, merupakan adik Prabu Klana. Pada adegan kedua, ia digambarkan dengan wajah menghadap ke depan seakan sedang memandang lawan bicara. memiliki ciri rupa fisik berupa dua mata berbentuk mata liyepan atau gabahan, hidung mbangir, mulut salitan dengan gigi terlihat seperti sedang bicara. Ia juga digambarkan berambut panjang dengan ikat rambut keemasan, memakai sumping di atas telinga dan mengenakan anting. Berpakaian kain kemben dari dada hingga kaki. Oleh karena posisinya yang sedang duduk dan tertutup kain, kakinya tidak terlihat seluruhnya. Posisi tangan kiri tokoh diangkat dengan jari berbentuk menyerupai jari buto . ari jempol, telunjuk dan kelingking berdiri. jari tengah dan manis . Ni Pengilon Gambar 16. Tokoh Ni Pengilon pada adegan kedua (Sumber: Tenaga Ahli Kajian, 2. Tokoh Ni Pengilon merupakan seorang dayang atau abdi yang terlihat memegang cermin kemanapun dia berada. Pengilon dalam Bahasa Jawa berarti cermin. Melihat dari keterangan tersebut, karakter Ni Pengilon ialah wanita yang suka berdandan dan mengagumi dirinya sendiri. Ni Pengilon digambarkan dua kali di sisi kanan dan kiri adegan kedua. Hal ini menunjukkan perpindahan tempat . ondar-mandi. Tokoh Ni Pengilon Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 digambarkan memiliki ciri rupa fisik berupa dua mata berbentuk liyepan/gabahan, berhidung bentulan/dhempok, bermulut mesem dan terbuka seakan tertawa. Latar adegan Pada adegan kedua tampak latar adegan berupa Keputren Kerajaan Kediri tempat Retno Mindaka yang penuh dengan peralatan menenun dengan dayang-dayang yang sedang sibuk menenun. Latar dipenuhi dengan ornamen flora dengan dinding bata dan soko yang Di tengah pejagong terlihat pohon hayat seperti keterangan adegan sebelumnya. Adegan wayang beber 3 Gambar 17. Adegan keempat pada objek koleksi No. Inv. 123: wayang beber (Sumber: Tenaga Ahli Kajian, 2. Cerita adegan: Laporan Tawang Alun Terakhir, pada adegan keempat dari gulungan kedua. Tawang Alun ditugaskan melapor ke Raja Kediri tentang penemuan Sekartaji oleh Jaka Kembang Kuning. Ia kemudian mampir ke alun-alun Kediri tepatnya ke lokasi perkemahan tentara di Taretebang dan perkemahan tentara Klana di Kedungrangga. Pada adegan tersebut, tampak Tawang Alun di bagian kanan. Senapati Kediri Sedahrama Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 . usana mera. di sisi kiri, dan Patih Arya Deksa Negara beserta pengiringnya di belakang Senapati Kediri Sedahrama. Kehadiran Tawang Alun memicu keributan dan dialog dimulai antara para pengiring yang ingin tahu berita yang dibawa Tawang Alun. Kemudian, dilanjutkan Patih Arya Deksa Negara, lalu Senapati Sedahrama. Akan tetapi, kerahasiaan yang ingin dijaga menjadi terungkap karena munculnya Patih Kebo Lorodan dari Negeri Seberang yang keluar dari perkemahannya dan mendengar keributan Tampak di bagian kanan. Ki Demang Kuning yang rupanya ikut ke Kediri bersama Tumenggung Cona Cani. Tokoh adegan . Tawang Alun Gambar 18. Tokoh Tawang Alun pada adegan keempat (Sumber: Tenaga Ahli Kajian, 2. Pada adegan ini tokoh Tawang Alun digambarkan berbeda dari adegan sebelumnya. Pada adegan ini. Tawang Alun dibuat lebih mirip dengan Kebo Lorodan, yang memiliki postur tubuh dan anatomi tubuh yang sangat berbeda. Pada bagian ini, terjadi ketidaksesuaian antara cerita dengan gambaran tokoh. Beberapa buku menuliskan cerita yang diturunkan sudah jauh dari dalang awalnya, sehingga terjadi perbedaan persepsi meskipun intinya Hal ini juga disebabkan karena seniman penciptanya Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 Sebelumnya. Tawang Alun digambarkan dengan sosok gemuk dengan pakaian tertutup dari pinggang sampai kaki. Senapati Kediri Sedahrama Gambar 19. Tokoh Senapati Kediri Sedahrama pada adegan keempat (Sumber: Tenaga Ahli Kajian, 2. Tokoh Senapati Kediri Sedahrama merupakan seorang Senapati Kediri yang memakai pakaian merah berlengan panjang. Ia mengenakan sumping bentuk bunga dan daun. Bermata dua berbentuk liyepan/gabahan, berhidung mbangir, bermulut salitan dan berkumis. Terkait hiasan kepala, ia digambarkan memakai topi tekes. Terkait pakaiannya, ia memakai atasan berwarna merah dan kain panjang dari pinggang atau perut sampai di atas lutut berwarna sunggingan merah bermotif lidah api dengan lis hijau gradasi. Beberapa pelengkap pakaiannya antara lain lontong atau sabuk dan boro. Tokoh Senapati Kediri Sedahrama juga membawa senjata berupa keris. Patih Arya Deksa Negara Gambar 20. Tokoh Patih Arya Deksa pada adegan keempat (Sumber: Tenaga Ahli Kajian, 2. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 Tokoh Patih Arya Deksa Negara merupakan seorang patih yang digambarkan di belakang Senapati Sedahrama. Ia memiliki ciri rupa fisik bermata dua berbentuk liyepan atau gabahan, hidung mbangir, mulut salitan, dan berkumis. Bagian badan ke bawah tidak Nampak. Tumenggung Cona Cani Gambar 21. Tumenggung Cona Cani pada adegan keempat (Sumber: Tenaga Ahli Kajian, 2. Tumenggung Cona Cani merupakan seorang Tumenggung yang didatangi Sekartaji saat ia kabur dari Kerajaan Kediri. Ciri khasnya ialah mengenakan baju berlengan panjang, berwarna hitam dengan lis kuning. Bermata yang menyerupai bentuk mata kedhelen, berhidung dhempok, bermulut mingkem, dan memiliki cambang dan wok. Bagian pinggang ke bawah tidak terlihat. Ki Demang Kuning Gambar 22. Tokoh Ki Demang Kuning pada adegan keempat (Sumber: Tenaga Ahli Kajian, 2. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 Tidak ada perubahan, sama seperti sebelumnya. Kebo Lorodan Gambar 23. Tokoh Kebo Lorodan pada adegan keempat (Sumber: Tenaga Ahli Kajian, 2. Pada adegan ini. Kebo Lorodan digambarkan dalam posisi wajah mendongak, seakan-akan penasaran dengan pembicaraan antara Senapati Sedahrama dengan Tawang Alun. Posisinya bersebelahan dengan Ki Demang Kuning. Ia memiliki ciri rupa fisik bermata mata kedhelen, berhidung dhempok, bermulut mirip mulut gusen dengan posisi terbuka dan brewokan. Ia juga memiliki rambut yang hitam dengan potongan pendek. Pada bagian telinga tokoh, terdapat aksesori sumping bentuk bunga dan daun. Latar Adegan Pada adegan terakhir gulungan kedua wayang beber ini. Alun-alun Kediri. Terlihat tenda-tenda perkemahan dengan bendera/panji-panji yang dipasang berjejer berdiri menunjukkan tempat para tentara berada. Holt . , menyebutkan terdapat perbedaan cerita pada adegan ke empat ini yaitu Roll II. Number 4: Sekar TadjiAos brother. Gondoripo, also sent to look for her meets Pandji and latter tells his meeting her on the pasar . n Kedir. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 Gambar 24. Cuplikan Gulungan ke-2 Adegan ke-4 wayang beber oleh C. Holt . (Sumber: https://digitalcollections. org, diakses Juni 2. Tabrani . ketidaksesuaian tokoh di adegan ini berdasarkan ceritanya. Terdapat ketidakcocokan ciri-ciri tokoh dari Pangeran Gandarepa . akak Sekartaj. , tetapi yang ditampilkan hanya Patih Arya Deksa Negara (Lihat gulungan ke-3, adegan ke-. dan Senapati Sedahrama dengan baju (Lihat gulungan ke-4, adegan ke-. , dan didepannya ada Kebo Lorodan dan Patihnya Klana. Versi lainnya menyebutkan, tokoh di adegan tersebut adalah tokoh Gandarepa dan Sedahrama, dengan percakapan yang tidak dijelaskan secara rinci serta lebih cenderung ke bentuk parikan (Wawancara Ki Supani . Dalang wayang beber Pacita. Oleh sebab itu, dapat diambil kesimpulan bahwa cerita dalam pewayangan ini bisa saja berubah, dikarenakan seni tradisi wayang beber Pacitan saat ini telah sampai pada generasi dalang yang ke-15 (Wawancara Faris Wibisono . Hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa informasi mengenai wayang beber antar generasi dapat berubah atau dalam bentuk informasi yang tidak utuh. Asumsi tersebut dikuatkan dengan adanya spekulasi proses untuk menjadi dalang wayang beber dilaksanakan dengan cara nyantrik atau magang, bukan diturunkan dari garis waris keluarga. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 Kesimpulan Wayang beber koleksi museum wayang Banyumas merupakan salah satu wadah edukasi bagi pengunjung museum. Meskipun hanya satu gulungan saja, koleksi tersebut sudah mewakili wawasan masyarakat tentang salah satu Indonesia. Wayang merepresentasikan cara berfikir dan sudut pandang bangsa Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Wayang beber memiliki keunikan atau kekhasan yang berbeda dengan wayang jenis lainnya. Baik secara visual maupun secara Dengan adanya wayang beber yang menjadi salah satu koleksi museum Banyumas ini, turut serta memberikan edukasi atau wawasan kepada masyarakat luas bahwa kekayaan jenis wayang di Indonesia sangat beragam. Tidak hanya wayang kulit saja, tetapi wayang jenis lain dengan media dan karakter yang berbeda juga memiliki cara memaknai yang khusus sehingga membuka wawasan serta memperkaya intelektual masyarakat sekitar. Harapannya, tidak hanya mengoleksi satu gulungan saja, untuk memberikan edukasi yang lengkap tentunya baik jika koleksi yang dimiliki semakin lengkap sehingga cerita dan maksud dalam wayang tersebut tersampaikan secara utuh dan menjadi dasar pendidikan karakter, utamanya bagi masyarakat. Terimakasih kepada seluruh narasumber yang telah bersedia menjadi teman diskusi sehingga memberikan hasil dari penelitian ini. Penulis ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya kepada Pemerintah Kabupaten Banyumas. Dinas Pemuda. Kebudayaan, dan Pariwisata yang telah memberikan fasilitas untuk penelitian ini dari awal sampai akhir. Terimakasih kepada teman-teman CV Karta Kawya Karta yang telah memberikan kesempatan dan pengalam untuk bekerjasama dalam penelitian ini. Ornamen: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya Vol. No. Desember 2025 Daftar Pustaka