Academy of Education Journal Vol. No. Januari 2025. Page: 143-151 ISSN: 1907-2341 (Prin. ISSN: 2685-4031 (Onlin. Permasalahan Pengasuhan di Era Digital: Suara Orang Tua dan Harapan terhadap Literasi Digital Nur Cholimaha,1*. Adinda Setyaningsihb,2. Faadhilah Augustin Hunaernic,3. Aliyah Latifah Hanumd,4 a,b,c Universitas Negeri Yogyakarta. Karang Malang. Sleman 55281 d PKBM An-Nuur. Jl. Magelang KM 12,5 Krapyak Triharjo. Sleman 55514. Indonesia 1 nurcholimah@uny. 2023@student. 2022@student. 4 hanumaliyahlatifah@gmail. INFO ARTIKEL Sejarah Artikel: Diterima: 13 November 2024 Direvisi: 28 November 2024 Disetujui: 19 Desember 2024 Tersedia Daring: 9 Januari 2025 Kata Kunci: Anak Usia Dini Literasi Digital Orang Tua Keywords: Early Childhood Digital Literacy Parents ABSTRAK Perkembangan teknologi digital yang pesat membawa dampak signifikan terhadap pola pengasuhan anak dalam keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi permasalahan pengasuhan yang dihadapi orang tua di era digital serta menggali harapan mereka terhadap pelatihan literasi Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan teknik survei terhadap 67 orang tua di salah satu lembaga PAUD yang mengikuti kegiatan literasi digital. Data dikumpulkan melalui angket yang memuat pertanyaan tertutup dan terbuka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua menghadapi tantangan dalam mendampingi anak yang terlalu sering menggunakan gadget, serta mengalami kesulitan dalam menumbuhkan disiplin, tanggung jawab, dan pengelolaan emosi anak. Sebanyak 55,2% responden mengaku belum pernah menerima materi literasi digital secara jelas. Adapun harapan orang tua terhadap pelatihan literasi digital mencakup lima tema utama: menambah pengetahuan dan wawasan . ,7%), memperoleh solusi dan strategi konkret . ,3%), perubahan positif pada anak . ,6%), penguatan peran orang tua . ,2%), serta transformasi diri . ,3%). Temuan ini menunjukkan urgensi penguatan literasi digital berbasis keluarga, agar orang tua mampu mendampingi anak secara bijak dan efektif dalam menghadapi tantangan dunia digital. ABSTRACT The rapid development of digital technology has had a significant impact on parenting patterns within families. This study aims to identify the parenting challenges faced by parents in the digital age and explore their expectations regarding digital literacy training. The study employs a descriptive quantitative approach using a survey technique targeting 67 parents at a preschool institution participating in digital literacy activities. Data was collected through a questionnaire containing closed and open-ended The results of the study indicate that most parents face challenges in accompanying children who use gadgets too frequently, as well as difficulties in fostering discipline, responsibility, and emotional management in children. As many as 55. 2% of respondents admitted they had never received clear digital literacy materials. Parents' expectations for digital literacy training encompass five main themes: increasing knowledge and understanding . 7%), obtaining concrete solutions and strategies . 3%), positive changes in children . 6%), strengthening the role of parents . 2%), and personal transformation . 3%). These findings highlight the urgency of strengthening family-based digital literacy, so that parents can wisely and effectively guide their children in navigating the challenges of the digital world. Nur Cholimah et. al (Permasalahan Pengasuhan di Era Digital: . Academy of Education Journal Vol. No. Januari 2025. Page: 143-151 ISSN: 1907-2341 (Prin. ISSN: 2685-4031 (Onlin. A2025. Nur Cholimah. Adinda Setyaningsih. Faadhilah Augustin Hunaerni. Aliyah Latifah Hanum This is an open access article under CC BY-SA license Pendahuluan Perkembangan teknologi digital yang pesat telah mengubah berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam pola pengasuhan anak (Novitasari & Fauziddin, 2. (Kusumawati & Zuchdi, 2. Teknologi Digital menjadikan anak membangun pemahaman moral melalui interaksi social yang dialaminya termasuk teknologi (Kusumawati & Zuchdi, 2. Di era digital saat ini, anak-anak, termasuk yang masih usia dini, semakin akrab dengan penggunaan gawai dan internet (Ain et al. , 2021. Terras & Ramsay, 2. Kemudahan yang dihadirkan teknologi dalam mengakses informasi (Jamun et al. , 2. dan hiburan edukatif, juga diikuti tantangan baru bagi para orang tua, seperti kecanduan gadget (Prasetya, 2022. Sembiring, 2. , menurunnya interaksi sosial anak (Samho, 2024. Tomczyk & PotyraCa, 2. , serta melemahnya nilai-nilai karakter seperti disiplin, tanggung jawab, dan sopan santun (Saidan Maulana Ahmad et al. , 2024. Samho, 2. Adanya peran orang tua dalam perkembangan teknologi digital (S M Ahmad et al. , 2. Pengasuhan orang tua dalam mengembangkan literasi digital anak usia dini juga diperlukan (Fitri & Darmawanti, 2. (Sumarni et al. Terdapat tantangan sekarang dalam mengawasi anak terdapat berbagai tantangan (Didah et al. , 2. Tantangan tersebut perlu disikapi secara serius oleh keluarga sebagai lingkungan yang terdekat bagi anak. Orang tua perlu melakukan pengawasan dengan mampu mengikuti perkembangan teknologi saat ini dengan memberikan contoh dan pemahaman yang baik akan penggunaan teknologi digital (Lindriany et al. , 2022. Rahayu et al. , 2. Untuk mendukung hal tersebut, orang tua juga perlu untuk memahami terkait literasi digital, etika penggunaannya, dan keamanan digital anak (Tulaseket, 2. Namun, hasil penelitian Rahayu et al. menunjukkan bahwa 25 orang tua siswa di TK Lily Depok kompetensi literasi digital orang tua siswa anak usia dini sebagian besar berada di dimensi mengakses sebanyak 36%, sedangkan pada dimensi menyeleksi 30% dan memahami 34%. Penelitian lain yang dilakukan oleh (Ain et al. , 2. menghasilkan data bahwa di Kecamatan Tampan Kota Pekanbaru Provinsi Riau, kemampuan literasi digital orang tua anak usia dini berada pada persentase 31% dngan kategori AuRendahAy. Pada penelitian yang dilakukan oleh Ahmad et al. menyimpulkan bahwa orang tua dari siswa TK Plus Al Adalah Purwakarta belum memahami literasi digital yang sehat bagi anak serta keterlibatan orang tua dalam penggunaan teknologi bersama anak belum efektif dan optimal. Berdasarkan hasil survei awal terhadap 67 orang tua di Kecamatan Sleman, sebanyak 68,7% menyatakan bahwa penggunaan gadget merupakan permasalahan utama yang mereka hadapi dalam pengasuhan saat ini, diikuti dengan masalah kurangnya disiplin, tanggung jawab, dan soft skill pada anak. Sedangkan hanya 37,3% orang tua yang pernah mendapat materi literasi digital. Kesenjangan pengalaman literasi digital di kalangan orang tua atau pengasuh dapat berdampak pada kurang optimalnya kemampuan orang tua dalam mendampingi anak menggunakan teknologi secara sehat. Hal ini mencerminkan adanya keresahan yang nyata dan mendalam terhadap dampak negatif penggunaan teknologi yang tidak terkontrol di lingkungan Melihat fenomena tersebut, penting untuk mengkaji lebih lanjut permasalahan pengasuhan yang dirasakan orang tua di era digital serta menggali harapan mereka terhadap literasi digital sebagai bentuk intervensi edukatif. Penelitian ini berfokus pada permasalahan yang dialami orang tua di Kecamatan Sleman dapat menjadi pijakan untuk merancang program literasi digital yang tepat sasaran dan relevan dengan kebutuhan keluarga masa kini. Nur Cholimah et. al (Permasalahan Pengasuhan di Era Digital: . Academy of Education Journal Vol. No. Januari 2025. Page: 143-151 ISSN: 1907-2341 (Prin. ISSN: 2685-4031 (Onlin. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif, dengan tujuan untuk memperoleh gambaran secara numerik mengenai permasalahan pengasuhan orang tua di era digital dan harapan mereka terhadap literasi digital (Haddar et al. , 2. Metode survei digunakan untuk mengumpulkan data secara sistematis dari responden melalui angket yang berisi pertanyaan tertutp dan terbuka mengenai: jumlah anak dan pekerjaan, persepsi terhadap internet dan gadget, dan harapan terhadap pelatihan literasi digital. Data dianalisis secara kuantitatif deskriptif, melalui tabulasi frekuensi, persentase, dan analisis tematik sederhana. Tabulasi frekuensi dan persentae digunakan untuk menyajikan dan menganalisis data dalam bentuk jumlah dan persentase sehingga menunjukkan kecenderungan dan dominasi jawaban. Hasil dan Pembahasan Hasil Hasil penelitian menunjukkan 88,1% responden berpengalaman langsung sebagai orang Hal ini dapat dilihat pada gambar 1. dibawah ini yang menunjukkan hanya 11,9% responden yang belum memiliki anak. Gambar 1. Jumlah Anak Dari gambar 1. diperoleh informasi bahwa mayoritas responden memiliki 2 anak sebesar 41,8% yang menunjukkan bahwa memiliki dua anak masih menjadi jumlah yang paling umum atau ideal di kalangan responden. Jumlah responden yang memiliki lebih dari 3 anak relatif sedikit, yaitu sebesar 9%, mengindikasikan bahwa memiliki keluarga besar bukan pola dominan dalam kelompok ini. Jumlah keluarga dengan 3 anak menjadi kelompok kedua terbanyak dengan persentase 23,9% dan disusul oleh responden yang memiliki 1 anak, yaitu sebesar 14,9%. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden berada dalam fase kehidupan keluarga aktif dengan anak-anak, terutama dalam pola keluarga kecil hingga sedang . Ae3 ana. Profesi dari kelompok responden didominasi dari kalangan pendidik atau guru sebanyak 49,3%. Sedangkan untuk kategori lainnya di luar guru. ASN, dosen, pedagang, petani cukup besar, yaitu 32,8% yang berarti terdapat keragaman dalam latar belakang profesi kelompok responden yang dapat dilihat pada gambar 2. di bawah ini. Nur Cholimah et. al (Permasalahan Pengasuhan di Era Digital: . Academy of Education Journal Vol. No. Januari 2025. Page: 143-151 ISSN: 1907-2341 (Prin. ISSN: 2685-4031 (Onlin. Gambar 2. Pekerjaan Dari gambar 2 di atas dapat diperoleh informasi bahwa guru atau pendidik menjadi profesi mayoritas responden sebanyak 49,3% atau 33 responden menunjukkan bahwa kelompok ini didominasi oleh kalangan pendidik. ASN (Aparatur Sipil Negar. mencakup 11,9%, yang mungkin juga termasuk guru yang berstatus PNS, namun bisa jadi diinput terpisah. Responden yang bekerja sebagai dosen dan pedagang hanya sebanyak 3% masing-masing. Sementara itu, tidak ada responden yang berasal dari profesi TNI dan petani. Sedangkan keragaman profesi responden di luar pilihan yang disediakan terlihat pada 32,8% responden memilih AulainnyaAy. Permasalahan yang dirasakan oleh para responden saat ini didominasi oleh penggunaan gadget sebanyak 68,7%. Diikuti oleh kurang disiplin, kurang mandiri, dan kurang tanggung jawab sebagaimana dapat dilihat di gambar 3 di bawah ini. Gambar 3. Permasalahan yang dirasakan pada saat ini Dari gambar 3 di atas dapat diperoleh informasi bahwa sebanyak 68,7% responden memilih penggunaan gadget. Permasalahan lainnya yang juga banyak dipilih oleh responden, yaitu Permasalahan kedisiplinan sebanyak 44,8%, kemandirian sebanyak 34,3%, dan tanggung jawab sebanyak 29,9%. Permasalahan akan nilai moral seperti kurang hormat dipilih sebanyak 22,4% dan kurang jujur sebanyak 4,5%. Aspek sosial-emosional seperti kurang bergaul, menyendiri, dan kurang komunikasi berada pada kisaran 9% Ae 14%. Hanya 6% responden yang menyatakan tidak ada permasalahan yang dirasakan. Nur Cholimah et. al (Permasalahan Pengasuhan di Era Digital: . Academy of Education Journal Vol. No. Januari 2025. Page: 143-151 ISSN: 1907-2341 (Prin. ISSN: 2685-4031 (Onlin. Pemahaman responden akan penggunaan internet didominasi 55,2% yang menyatakan bahwa memiliki dampak positif dan negatif yang seimbang sebanyak 50% masing-masing. Hal ini dapat dilihat pada gambar 4. di bawah ini. Gambar 4. Pemahaman penggunaan internet Dari gambar 4 di atas dapat diperoleh informasi bahwa 55,2% responden menilai penggunaan internet bersifat seimbang sisi positif dan negatifnya. Sebanyak 29,9% responden menilai internet banyak positifnya, seperti untuk pembelajaran, informasi, komunikasi, dan hiburan yang bermanfaat. Sedangkan sebanyak 14,9% menilai internet lebih dominan sisi positif . %) meskipun tetap menyadari adanya dampak negatif. Sedangkan, tidak ada responden yang menyatakan internet Aubanyak negatifnyaAy atau Autidak berdampakAy, yang berarti semua responden mengakui adanya pengaruh baik atau buruk dari internet dalam kehidupan mereka. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap pengaruh internet cukup tinggi, namun masih terbagi antara yang optimis dan yang hati-hati. Pengalaman soft skills dari responden menunjukkan bahwa sebanyak 55,2% responden belum pernah mendapat materi tentang soft skills. Sebanyak 19,4% responden menyatakan pernah menerima, tetapi materinya belum jelas. Sedangkan 25,4% responden pernah mendapat materi dengan cukup baik. Hal ini dapat dilihat pada gambar 5 di bawah ini. Gambar 5. Materi soft skills Harapan orang tua akan pelatihan literasi digital diungkapkan untuk menambah pengetahuan, wawasan, dan keterampilan baru, baik terkait gadget, pengasuhan anak, maupun literasi digital secara umum. Hal ini dapat dilihat dari kutipan orang tua berikut ini AuMenambah pengetahuan. Ay (R. AuDapat lebih memahami softskill dan literasi digital. Ay (R. AuTambah ilmu tentang gadget untuk pendidikan yang sesuai perkembangan AUD. Ay (R. Nur Cholimah et. al (Permasalahan Pengasuhan di Era Digital: . Academy of Education Journal Vol. No. Januari 2025. Page: 143-151 ISSN: 1907-2341 (Prin. ISSN: 2685-4031 (Onlin. Responden juga berharap pelatihan yang disediakan mampu memberikan jawaban konkret atas permasalahan sehari-hari, terutama terkait penggunaan gadget dan pengembangan karakter anak. Hal ini dapat terlihat pada kutipan di bawah ini. AuMendapat pencerahan untuk menangani masalah gadget. Ay (R. AuSupaya bisa memecahkan persoalan yang dialami oleh anak atau peserta didik. Ay (R. Beberapa harapan berkaitan langsung dengan perubahan positif pada anak, seperti lebih mandiri, disiplin, jujur, dan beretika dalam menggunakan teknologi. Hal ini dapat terlihat pada kutipan di bawah ini. AuAnak saya bisa mandiri dan bisa berkurang dalam pemakaian gadget yg berdampak Ay (R. AuSmoga anak sy nntnya lebih bisa memilih mana yg positif dan mana yg penting utk masa Ay (R. Ada pula harapan agar orang tua dapat lebih berdaya dalam mendampingi anak dan mampu berkolaborasi dengan sekolah maupun lingkungan. Hal ini dapat terlihat pada kutipan di bawah ini. AuAgar orang tua mendapatkan soft skill dalam menghadapi anak-anak. Ay (R. AuKami sbg orang tua/ nenek dpt mendampingi bagaimana cara menerapkan strategi pengembangan soft skill dan literasi digital. Ay (R. Harapan orang tua terhadap pelatihan literasi digital sangat beragam dan berkaitan untuk mendampingi anak di era digital. Orang tua menginginkan pelatihan yang mampu menambah ilmu dan wawasan praktis tentang dunia digital, sekaligus memberikan solusi konkret atas tantangan sehari-hari yang mereka hadapi. Selain itu, mereka berharap pelatihan turut berkontribusi dalam membentuk karakter anak yang bijak dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi. Selain itu, pelatihan juga diharapkan dapat memberdayakan peran orang tua agar lebih percaya diri dan terlibat aktif dalam pengasuhan digital, serta membawa transformasi dan motivasi pribadi bagi mereka untuk terus belajar dan beradaptasi demi masa depan anak yang lebih baik. Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa permasalahan pengasuhan di era digital sangat berkaitan dengan penggunaan gadget yang berlebihan oleh anak-anak serta kurangnya pemahaman orang tua dalam mendampingi mereka. Temuan ini sejalan dengan pendapat Nurjanah & Mukarromah . dimana saat ini merupakan era revolusi digital dimana hampir semua orang akrab dengan teknologi digital mulai dari orang dewasa, remaja, lansia bahkan pada anak-anak. Hal ini menjadi tantangan dengan adanya teknologi ini, ketergantungan pada perangkat digital (Atmojo et al. , 2. Namun, permasalahan ini juga dapat dipengaruhi dengan kebiasaan orang tua yang juga dekat dengan teknologi sehingga anak akan ikut terbiasa (Rachmat & Hartati, 2. Dukungan keluarga memberi pengaruh terhadap pembentukan karakter& sikap anak sehingga peran keluarga dalam mendampingi literasi digital akan optimal. Pengasuhan yang tepat adalah pengasuhan yang dapat mengontrol teknologi yang dimiliki dan digunakan oleh anak (Shofiah et al. , 2. Maka diperlukan adanya pemahaman orang tua yang dapat melakukan hal tersebut. Hasil survei yang mengindikasikan bahwa tingkat literasi digital orang tua masih rendah, di mana lebih dari 55% belum pernah mendapatkan materi tentang soft skill dan literasi digital. Hal ini dapat menjadi peluang bagi penyediaan pelatihan literasi digital untuk orang tua nantinya mendampingi anak. Sebagaimana yang dikemukakan dalam penelitian Wicaksono et al. bahwa pelatihan literasi digital bagi orang tua di Desa Burneh Bangkalan dapat meningkatkan pemahaman pemanfaatan internet secara sehat dan kemampuan literasi digital pada orang tua untuk memberikan pendampingan Nur Cholimah et. al (Permasalahan Pengasuhan di Era Digital: . Academy of Education Journal Vol. No. Januari 2025. Page: 143-151 ISSN: 1907-2341 (Prin. ISSN: 2685-4031 (Onlin. pada anak-anak mereka. Pengasuhan yang dilakukan orang tua untuk anak perlu dibarengi dengan strategi pengasuhan yang tepat untuk anak-anak yang akrab dengan teknologi digital (Risnawaty & Monika, 2. Pemberian pelatihan ini dapat memberikan pemahaman akan kewaspadaan terhadap ancaman serangan siber, pencurian identitas, dan penipuan online (Yulyanto et al. , 2. Tingginya harapan orang tua terhadap pelatihan literasi digital menunjukkan kesadaran yang baik. Harapan-harapan tersebut tidak hanya berkaitan dengan peningkatan pengetahuan, tetapi juga mencakup dimensi penguatan peran orang tua, perubahan karakter anak, serta transformasi diri secara personal. Harapan ini sejalan dengan peran orang tua dalam mengontrol dan memilih konten bagi anak, menetapkan batasan waktu penggunaan, dan memberikan contoh penggunaan teknologi yang positif (Sabrina et al. , 2. Selain itu, dengan adanya harapan orang tua yang dapat meningkatkan pemahaman akan literasi digitral untuk menguatkan peran orang tua (Yulyanto et al. , 2. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap 67 orang tua peserta pelatihan literasi digital, diperoleh beberapa simpulan sebagai berikut: Permasalahan utama dalam pengasuhan di era digital yang dirasakan orang tua adalah penggunaan gadget yang berlebihan oleh anak-anak, diikuti oleh masalah kedisiplinan, kurangnya tanggung jawab, dan lemahnya kemampuan mengelola emosi. Orang tua juga merasa kesulitan dalam memahami peran dan strategi pengasuhan yang tepat di tengah perkembangan teknologi yang cepat. Sebagian besar orang tua belum pernah mendapatkan pelatihan atau materi literasi digital maupun soft skill secara sistematis. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kebutuhan pengasuhan digital dan fasilitas edukasi yang tersedia. Persepsi orang tua terhadap internet dan teknologi digital bersifat ambivalen: mereka mengakui adanya manfaat, tetapi juga khawatir terhadap dampak negatif terhadap anak, khususnya dalam aspek perilaku dan karakter. Orang tua memiliki harapan yang sangat tinggi terhadap program pelatihan literasi Harapan tersebut mencakup: . Penambahan ilmu dan wawasan . ,7%), . Pemberian solusi dan strategi praktis . ,3%), . Perubahan positif pada anak . ,6%), . Penguatan peran orang tua . ,2%), dan . Motivasi serta refleksi diri . ,3%). Literasi digital dipandang sebagai solusi yang potensial dan dibutuhkan untuk memperkuat peran orang tua dalam mendampingi anak secara efektif, etis, dan bijak di era digital. Daftar Pustaka