Vol 3 No. 1 Januari 2026 P-ISSN : 3047-2792 E-ISSN : 3047-2032. Hal 36 - 53 JURNAL ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI Halaman Jurnal: https://journal. id/index. php/jimat Halaman UTAMA Jurnal : https://journal. DOI: https://doi. org/10. 69714/ktgc7708 PENGARUH UMUR PERUSAHAAN. PROFITABILITAS. UKURAN PERUSAHAAN. SOLVABILITAS. TERHADAP AUDIT DELAY Farid Fadillah a*. DickyArisudhana b 2132520053@student. Universitas Budi Luhur. Jakarta a Ekonomi & Bisnis / Akuntansi. b Ekonomi & Bisnis / Akuntansi. arisudhana@budiluhur. Universitas Budi Luhur. Jakarta * Penulis Korespondensi: Farid Fadillah ABSTRACT A corporation's attested financial statement functions as a referential instrument for optimizing corporate performance, a condition which stimulates the interest of foreign investors to allocate capital to the firm. Superior-quality financial audit reports instill a high degree of confidence in their respective users. The primary objective of this empirical investigation is to ascertain the influence of company age, profitability, company size, and solvency upon the phenomenon of audit delay. The research population comprises noncyclical consumer firms operating within the food & beverage sub-sector, as listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) during the 2021-2024 period. Sample selection was conducted employing a purposive sampling methodology based on pre-defined criteria, culminating in a final sample of 64 corporate entities. This investigation utilizes multiple linear regression analysis, facilitated by the SPSS Version 23 statistical software package. The empirical findings reveal that company age demonstrates no significant influence on audit delay. Conversely, profitability, operationalized as return on assets, and company size, quantified by firm size, both exert a statistically significant negative influence on audit delay. In contrast, solvency, proxied by the debt-to-asset ratio, exhibits a statistically significant positive influence on the same dependent variable. Keywords: Audit Delay. Company Age. Profitability. Company Size. Solvency Abstrak Manifestasi akuntabilitas finansial teratestasi suatu entitas korporat berpotensi difungsikan sebagai paradigma referensial demi optimalisasi performa korporat, yang menstimulasi interes para kapitalis transnasional untuk mengimplementasikan injeksi kapital. Demonstrasi finansial teratestasi berstandar kualitatif superior akan menginstilasi konfidensi bagi segenap utilisator. Objektif primordial investigasi empiris ini ialah mendeterminasi signifikansi influensial dari variabel umur perusahaan, profitabilitas, ukuran perusahaan, serta solvabilitas, terhadap fenomena audit delay. Universe studi meliputi entitas konsumer non-siklikal sub-sektor pangan dan beveraj yang teregistrasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada interval temporal 2021-2024. Determinasi sampel via metodologi purposive sampling dengan parameter spesifik mengakuisisi 64 entitas. Investigasi ini mengaplikasikan analisis regresi linear multipel, diinstrumentasi oleh peranti lunak SPSS Versi 23. Konklusi analisis mengindikasikan: umur perusahaan tidak memiliki influens signifikan atas audit delay. roksi return on asset. serta ukuran perusahaan . roksi firm siz. mendemonstrasikan korelasi negatif signifikan. sementara solvabilitas . roksi debt to asset rati. menunjukkan korelasi positif signifikan terhadap audit delay. Kata Kunci: Audit Delay. Umur Perusahaan. Profitabilitas. Ukuran Perusahaan. Solvabilitas PENDAHULUAN Di Dalam konstelasi perekonomian global kontemporer, yang ditandai oleh interkonektivitas dan kecepatan transaksi yang eksponensial, pasar modal berfungsi sebagai arbiter utama dalam alokasi sumber daya Naskah Masuk 12 Oktober 2025. Revisi 14 Oktober 2025. Diterima 17 Oktober 2025. Tersedia 20 Oktober Farid Fadillah dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 3 No. 36 Ae 53 Efisiensi dan integritas dari mekanisme ini secara fundamental bergantung pada ketersediaan dan kualitas informasi. Informasi bukan lagi sekadar produk sampingan dari aktivitas bisnis, melainkan telah bertransformasi menjadi komoditas strategis yang menopang seluruh arsitektur keputusan investasi, penilaian risiko, dan perumusan strategi korporat. Kerangka teoretis yang paling dominan dalam memahami peran informasi di pasar modal adalah Hipotesis Pasar Efisien (Efficient Market Hypothesis EMH), yang digagas oleh Eugene Fama. Hipotesis ini, dalam bentuk semi-kuatnya, berpostulat bahwa harga sekuritas yang terbentuk di pasar telah secara penuh, akurat, dan instan merefleksikan semua informasi yang tersedia bagi publik. Implikasi dari postulat ini sangatlah mendalam: untuk mencapai efisiensi, pasar memerlukan suplai informasi yang kontinu, kredibel, dan yang terpenting, tepat waktu. antara berbagai medium informasi, laporan keuangan yang telah melalui proses atestasi oleh pihak eksternal yang independen, atau laporan keuangan auditan, menduduki hierarki tertinggi sebagai sumber informasi formal yang paling krusial dan dianggap paling kredibel. Laporan ini melampaui fungsinya sebagai catatan historis yang statis. ia merupakan sebuah medium komunikasi vital dan strategis, sebuah jembatan informasional antara manajemen perusahaan . ang bertindak dalam kapasitas sebagai age. dengan spektrum luas pemangku kepentingan eksternal . ang bertindak sebagai prinsipa. , terutama para investor dan kreditor yang mempertaruhkan kapital mereka pada entitas tersebut . Kualitas dari proses komunikasi finansial ini, dan dengan demikian nilai guna laporan keuangan itu sendiri, secara inheren bergantung pada pemenuhan beberapa karakteristik kualitatif fundamental sebagaimana diatur dalam kerangka konseptual pelaporan keuangan. Di antara karakteristik-karakteristik ini, ketepatan waktu . memegang peranan yang sangat kritis dan tidak dapat dinegosiasikan. Sebuah informasi akuntansi, betapapun relevan substansinya dan andal penyajiannya, akan mengalami degradasi nilai signifikansi yang drastis, bahkan menjadi usang, jika tidak tersedia bagi para pengambil keputusan sebelum informasi tersebut kehilangan kapasitasnya untuk memengaruhi atau mengubah keputusan ekonomi mereka . Dengan kata lain, dalam arena pasar modal, informasi yang terlambat adalah informasi yang secara fungsional tidak berguna. Keterlambatan dalam penyampaian informasi keuangan auditan kepada publik, sebuah fenomena yang dalam korpus literatur akuntansi dan keuangan dikenal luas sebagai audit delay, secara langsung dan signifikan mengikis kualitas ketepatan waktu tersebut. Secara operasional, audit delay didefinisikan sebagai interval temporal, yang dihitung dalam satuan hari kalender, yang terbentang antara tanggal penutupan tahun buku fiskal perusahaan . i Indonesia, umumnya adalah 31 Desembe. hingga tanggal laporan auditor independen ditandatangani dan diterbitkan . Semakin panjang rentang waktu ini, maka semakin besar pula jeda informasi . nformation la. yang harus dihadapi oleh pasar. Jeda ini menciptakan sebuah periode abu-abu yang penuh dengan ketidakpastian, di mana investor publik tidak memiliki akses terhadap informasi kinerja terkini perusahaan yang telah diverifikasi secara independen. Periode vakum informasi ini sangat rentan untuk dieksploitasi oleh pihak-pihak yang memiliki akses informasi asimetris atau lebih awal . , seperti jajaran manajemen eksekutif atau pemegang saham pengendali, yang berpotensi melakukan transaksi yang merugikan investor publik. Praktik semacam ini secara fundamental mencederai prinsip keadilan . , transparansi, dan integritas pasar. Bagi investor eksternal yang taat aturan, penundaan ini dapat menyebabkan penundaan krusial dalam keputusan alokasi portofolio, meningkatkan risiko investasi karena terpaksa membuat keputusan berdasarkan informasi yang usang atau asumsi yang tidak terverifikasi, dan pada akhirnya dapat merusak kepercayaan terhadap pasar modal sebagai sebuah mekanisme alokasi sumber daya yang efisien dan adil. Menyadari dampak sistemik yang berpotensi merugikan dari fenomena audit delay, otoritas regulator pasar modal di seluruh dunia, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI), telah memberlakukan kerangka waktu yang tegas dan rezim sanksi yang jelas untuk penyampaian laporan keuangan tahunan. Di Indonesia. Peraturan OJK Nomor 29/POJK. 04/2016 tentang Laporan Tahunan Emiten atau Perusahaan Publik secara eksplisit mewajibkan emiten untuk menyampaikan laporan keuangan tahunan yang telah diaudit kepada OJK dan mengumumkannya kepada publik paling lambat pada akhir bulan ketiga setelah tanggal laporan keuangan tahunan berakhir. Artinya, untuk perusahaan dengan tahun buku yang berakhir pada 31 Desember, tenggat waktu pelaporan yang tidak dapat ditawar adalah 31 Maret tahun berikutnya. Pelanggaran terhadap kewajiban krusial ini akan dikenakan sanksi administratif yang bersifat progresif dan berjenjang, mulai dari peringatan tertulis, pengenaan denda moneter, pembatasan kegiatan usaha, hingga sanksi yang paling ditakuti oleh emiten dan investornya, yaitu suspensi sementara perdagangan efek di bursa . Meskipun kerangka regulasi yang ketat telah diberlakukan dan ditegakkan dengan konsisten, praktik audit delay yang melampaui batas waktu yang ditentukan masih menjadi isu persisten yang mewarnai dinamika Pengaruh Umur Perusahaan. Profitabilitas. Ukuran Perusahaan. Solvabilitas. Terhadap Audit Delay (Farid Fadilla. Farid Fadillah dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 3 No. 36 Ae 53 pasar modal Indonesia. Data historis dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa selalu ada sejumlah emiten yang gagal memenuhi tenggat waktu pelaporan, yang mengindikasikan adanya tantangan-tantangan internal maupun eksternal yang kompleks yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan ancaman sanksi. Sebagai ilustrasi nyata dan pengingat akan keseriusan masalah ini, pada bulan September 2020. BEI secara publik mengumumkan penjatuhan sanksi kepada 23 emiten yang terlambat menyampaikan laporan keuangan Fenomena ini tidak hanya terbatas pada perusahaan-perusahaan kecil atau yang kurang likuid, tetapi juga dapat menimpa entitas bisnis yang memiliki nama besar dan jangkauan operasional yang luas. Salah satu contoh yang menarik perhatian adalah kasus yang menimpa PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), pemegang hak waralaba tunggal untuk merek global Kentucky Fried Chicken (KFC) di Indonesia. Perusahaan ini, yang merupakan salah satu pemain utama di industrinya, dikenakan sanksi oleh BEI karena keterlambatan dalam penyampaian laporan keuangannya. Dalam analisis lebih lanjut yang dilaporkan oleh media, terungkap bahwa keterlambatan ini bertepatan dengan periode di mana perusahaan mencatatkan kinerja keuangan yang sangat buruk, termasuk kerugian bersih yang signifikan hingga kuartal i tahun Kinerja negatif ini tidak hanya memicu penundaan pelaporan tetapi juga berdampak langsung pada penurunan nilai aset perusahaan dan mendorong beberapa investor institusional untuk melakukan divestasi. Kasus ini menjadi sebuah studi empiris mini yang sangat relevan, menunjukkan bagaimana 'kabar buruk' . ad new. dalam kinerja keuangan dapat berkorelasi kuat dengan penundaan publikasi, yang pada gilirannya memperkuat persepsi negatif pasar dan menciptakan spiral ketidakpercayaan. Ini adalah manifestasi nyata dari Teori Sinyal, di mana ketiadaan sinyal . aporan keuanga. pada waktunya justru menjadi sinyal itu sendiriAisebuah sinyal negatif . Pemilihan fokus penelitian pada sektor industri tertentu menjadi sebuah langkah metodologis yang penting, karena setiap sektor memiliki karakteristik unikAilingkungan operasional, struktur persaingan, model bisnis, dan profil risikoAiyang dapat secara berbeda memengaruhi kompleksitas dan durasi proses audit. Penelitian ini secara spesifik memfokuskan analisisnya pada perusahaan-perusahaan di subsektor Food & Beverages yang merupakan bagian dari sektor Customer Non-Cyclicals. Sektor ini dipilih berdasarkan beberapa pertimbangan strategis yang mendalam. Pertama, dari perspektif makroekonomi, sektor Food & Beverages merupakan salah satu pilar utama dan motor penggerak perekonomian Indonesia. Sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, permintaan domestik terhadap produk makanan dan minuman sangat besar, bersifat inelastis, dan cenderung stabil, menjadikannya sektor yang defensif dan relatif tahan terhadap guncangan siklus bisnis . Kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri nonmigas dan perannya dalam penyerapan tenaga kerja sangat signifikan. Oleh karena itu, kesehatan finansial, transparansi, dan tata kelola perusahaan-perusahaan di sektor ini memiliki implikasi ekonomi dan sosial yang sangat luas. Kedua, dari perspektif mikro dan operasional, perusahaan di sektor Food & Beverages menghadapi serangkaian tantangan unik dan kompleks yang berpotensi signifikan mempengaruhi proses audit. Tantangan tersebut meliputi manajemen rantai pasokan . upply chai. yang panjang, rumit, dan rentan terhadap berbagai disrupsi . ulai dari faktor cuaca hingga isu logisti. Selain itu, perusahaan di sektor ini sangat terekspos pada volatilitas harga komoditas bahan baku global dan domestik, seperti minyak sawit mentah (CPO), gandum, gula, dan kopi, yang memerlukan penerapan akuntansi lindung nilai . edge accountin. yang kompleks. Persaingan antar merek juga sangat ketat, yang mendorong perusahaan untuk melakukan belanja iklan dan promosi secara masif, yang menimbulkan isu akuntansi terkait pengakuan dan amortisasi biaya. Dari sudut pandang audit, kompleksitas ini menimbulkan berbagai risiko inheren, seperti risiko penilaian persediaan . erutama untuk produk dengan masa simpan pendek atau yang memerlukan kondisi penyimpanan khusu. , risiko pengakuan pendapatan dari berbagai saluran distribusi yang berbeda . itel modern, ritel tradisional, darin. , dan risiko kapitalisasi biaya pengembangan produk baru. Semua faktor ini secara kumulatif dapat meningkatkan lingkup, kedalaman, dan pada akhirnya durasi proses audit . Ketiga, ketepatan waktu informasi di sektor ini memiliki tingkat krusialitas yang sangat tinggi. Karena sifatnya yang sangat kompetitif dan berorientasi langsung pada konsumen . onsumer-facin. , sentimen pasar dan reputasi merek memegang peranan sentral dalam keberlanjutan bisnis. Keterlambatan dalam melaporkan kinerja keuangan dapat dengan cepat diinterpretasikan oleh investor, analis, pemasok, dan bahkan konsumen sebagai sinyal adanya masalah internal, baik itu masalah operasional, finansial, atau tata Persepsi negatif ini dapat merusak kepercayaan pasar dan merontokkan harga saham dalam waktu Oleh karena itu, memahami determinan audit delay secara spesifik di sektor ini tidak hanya relevan secara akademis tetapi juga memiliki implikasi praktis yang sangat nyata bagi para pelaku pasar . JURNAL ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI Vol. No. Januari 2026, pp. 36 - 53 Farid Fadillah dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 3 No. 36 Ae 53 Literatur akademis yang ada telah menginvestigasi berbagai faktor yang diduga mempengaruhi audit delay. Namun, temuan dari studi-studi ini sering kali tidak konsisten dan terkadang kontradiktif, menciptakan sebuah kesenjangan penelitian . esearch ga. yang menarik untuk dieksplorasi lebih lanjut. Inkonsistensi ini dapat diatribusikan pada perbedaan periode waktu penelitian, metodologi yang digunakan, serta perbedaan konteks institusional, regulasi, dan karakteristik industri antar negara atau antar sektor. Sebagian besar penelitian cenderung menguji variabel-variabel yang sama secara berulang, seperti ukuran perusahaan, profitabilitas, dan solvabilitas, namun sering kali menghasilkan kesimpulan yang berbeda-beda . Sebagai contoh, variabel ukuran perusahaan sering kali dihipotesiskan memiliki pengaruh negatif terhadap audit delay. Argumennya adalah perusahaan besar memiliki sumber daya finansial dan manusia yang lebih superior, sistem informasi akuntansi yang lebih canggih, dan sistem pengendalian internal yang lebih terstruktur, yang semuanya dapat memfasilitasi proses audit yang lebih efisien. Selain itu, perusahaan besar lebih menjadi sorotan publik dan regulator, sehingga memiliki tekanan yang lebih besar untuk melaporkan kinerjanya secara tepat waktu demi menjaga reputasi . Namun, argumen tandingan juga sama kuatnya: perusahaan besar cenderung memiliki struktur organisasi yang lebih kompleks, operasi yang terdiversifikasi di berbagai segmen dan geografi, serta volume transaksi yang masif, yang secara inheren membuat proses audit menjadi lebih rumit dan memakan waktu . Inkonsistensi hasil empiris, di mana beberapa studi menemukan pengaruh negatif sementara yang lain tidak menemukan pengaruh signifikan, menunjukkan bahwa pertarungan antara 'efek sumber daya' dan 'efek kompleksitas' ini masih belum terselesaikan secara konklusif . Demikian pula, variabel profitabilitas umumnya diasosiasikan secara negatif dengan audit delay, sejalan dengan hipotesis 'kabar baik vs kabar buruk' dari Teori Sinyal . Namun, kekuatan hubungan ini bisa Beberapa studi menemukan hubungan negatif yang sangat kuat . , sementara studi lain menemukan hubungan yang lebih lemah atau bahkan tidak signifikan. Hal ini mungkin disebabkan oleh faktor-faktor lain yang memoderasi hubungan tersebut, seperti tingkat pengawasan pasar atau struktur kepemilikan perusahaan . Hubungan antara solvabilitas, yang sering diukur dengan tingkat utang, dan audit delay juga menunjukkan hasil yang beragam. Secara teoretis, tingkat utang yang tinggi meningkatkan risiko keuangan dan risiko audit, yang seharusnya memperpanjang durasi audit karena auditor perlu melakukan prosedur tambahan terkait evaluasi kelangsungan usaha dan kepatuhan terhadap perjanjian utang . Namun, tidak semua studi empiris menemukan bukti yang mendukung hubungan positif yang kuat ini, menunjukkan adanya faktor lain yang mungkin berperan . Menyadari adanya kesenjangan dan inkonsistensi ini, penelitian ini dirancang untuk memberikan kontribusi pada literatur dengan beberapa cara yang spesifik. Pertama, dengan memfokuskan analisis pada satu sektor industri yang relatif homogen (Food & Beverage. , penelitian ini bertujuan untuk mengontrol dan mengurangi variabilitas yang mungkin timbul dari perbedaan karakteristik antar industri. Dengan demikian, pengaruh dari variabel-variabel penjelas yang diuji diharapkan dapat diidentifikasi secara lebih jernih dan akurat . Kedua, penelitian ini secara eksplisit memasukkan variabel umur perusahaan sebagai salah satu determinan yang diuji. Meskipun beberapa penelitian internasional telah mengkajinya . , variabel ini belum secara konsisten dianalisis dalam konteks pasar modal Indonesia, terutama pada level sektor spesifik. Pengaruh umur perusahaan bisa bersifat ambigu: di satu sisi, umur yang lebih panjang dapat mencerminkan pengalaman dan stabilitas yang mempercepat audit . di sisi lain, ia juga dapat mencerminkan akumulasi birokrasi dan kompleksitas operasional yang justru memperlambatnya . Oleh karena itu, pengujian ulang variabel ini dalam konteks yang terkini menjadi sangat relevan. Ketiga, dan ini merupakan salah satu kontribusi utama, penelitian ini menggunakan periode waktu yang paling mutakhir, yaitu 2021 hingga 2024. Periode ini memiliki karakteristik unik karena mencakup fase pemulihan ekonomi global dan domestik pasca-pukulan telak dari pandemi COVID-19. Fase ini ditandai dengan tingkat ketidakpastian ekonomi yang masih tinggi, disrupsi rantai pasokan global yang berkelanjutan, lonjakan inflasi, dan perubahan perilaku konsumen yang signifikan. Kondisi lingkungan eksternal yang turbulen ini dapat memberikan tekanan yang berbeda dan lebih intens pada perusahaan dan auditor, yang berpotensi mengubah dinamika hubungan antara karakteristik perusahaan dan audit delay. Analisis pada periode ini diharapkan dapat menghasilkan wawasan baru yang relevan dengan realitas bisnis Sebagai contoh, penelitian oleh Effendi dan Ulhaq menyoroti pentingnya faktor-faktor seperti audit tenure dan reputasi auditor dalam mempengaruhi kualitas audit . , sementara Ghozali dan Ratmono menyediakan kerangka analisis multivariat yang kuat untuk menguji hubungan kompleks seperti ini . Pengaruh Umur Perusahaan. Profitabilitas. Ukuran Perusahaan. Solvabilitas. Terhadap Audit Delay (Farid Fadilla. Farid Fadillah dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 3 No. 36 Ae 53 Penelitian Gustini juga menyoroti bagaimana jenis industri dapat mempengaruhi audit delay, yang relevan dengan fokus sektor tunggal penelitian ini . Studi oleh Luvena et al. menambahkan variabel seperti fee audit dan rotasi audit ke dalam diskusi . , sementara Mulya mengeksplorasi likuiditas dan kompleksitas operasi . Oktaviani dan Ariyanto menekankan peran financial distress dan corporate governance . Analisis oleh Olimsar dan Ruchana et al. memperkuat argumen mengenai pengaruh ukuran perusahaan dan solvabilitas . , . Penelitian oleh Saputra et al. dan Siswanto et al. juga memberikan landasan empiris yang kuat mengenai variabel-variabel yang diteliti . , . Susanti dan Alfiani et al. juga memberikan pandangan yang sejalan mengenai profitabilitas dan solvabilitas . , . Akhirnya, kerangka teoretis yang lebih luas didukung oleh karya Wibowo dan Febriani mengenai teori sinyal dan keagenan . , serta Yusuf dan Khasanah mengenai metodologi penelitian . Dengan demikian, penelitian ini secara komprehensif akan menguji pengaruh empat variabel independen utama terhadap audit delay: Umur Perusahaan. Profitabilitas . iukur dengan ROA). Ukuran Perusahaan . iukur dengan Ln Total Ase. , dan Solvabilitas . iukur dengan DAR). Berdasarkan seluruh elaborasi di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: . Apakah umur perusahaan berpengaruh signifikan terhadap audit delay? . Apakah profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap audit delay? . Apakah ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap audit delay? . Apakah solvabilitas berpengaruh signifikan terhadap audit delay? Melalui pengujian empiris terhadap pertanyaan-pertanyaan ini, penelitian ini bertujuan untuk memberikan bukti yang lebih konklusif dan spesifik sektor mengenai faktor-faktor penentu ketepatan waktu pelaporan keuangan di industri makanan dan minuman Indonesia, sehingga dapat mengisi sebagian dari kesenjangan yang ada dalam literatur dan memberikan implikasi praktis yang TINJAUAN PUSTAKA 1 Landasan Teori Kerangka konseptual dan teoretis yang kokoh merupakan landasan fundamental bagi setiap penelitian Bagian ini bertujuan untuk membangun fondasi tersebut dengan meninjau secara mendalam literatur-literatur relevan yang berkaitan dengan fenomena audit delay dan faktor-faktor yang Tinjauan ini akan dimulai dengan eksplorasi dua pilar teori utama dalam akuntansi dan keuanganAiTeori Keagenan dan Teori SinyalAiyang memberikan penjelasan logis mengenai motivasi dan perilaku perusahaan dalam konteks pelaporan keuangan. 1 Teori Keagenan (Agency Theor. Teori Keagenan, yang dipopulerkan oleh Jensen dan Meckling, berfokus pada hubungan kontraktual yang muncul ketika satu pihak atau lebih . rinsipal, dalam hal ini pemegang saham atau pemili. mempekerjakan pihak lain . gen, yaitu manajeme. untuk memberikan suatu jasa dan mendelegasikan wewenang pengambilan keputusan kepadanya . Dalam struktur korporasi modern, di mana terjadi pemisahan antara kepemilikan dan kontrol, hubungan keagenan ini menjadi sangat sentral. Namun, hubungan ini secara inheren diliputi oleh potensi masalah yang timbul dari dua kondisi fundamental: konflik kepentingan . onflict of interes. dan asimetri informasi . nformation asymmetr. Konflik kepentingan muncul karena agen mungkin tidak selalu bertindak demi kepentingan terbaik prinsipal. Agen mungkin memiliki tujuan pribadiAiseperti memaksimalkan kompensasi jangka pendek, mengamankan posisi, atau membangun imperiumAiyang tidak selaras dengan tujuan prinsipal untuk memaksimalkan nilai perusahaan jangka panjang. Sementara itu, asimetri informasi terjadi karena agen, yang terlibat langsung dalam operasional perusahaan sehari-hari, memiliki akses terhadap informasi yang jauh lebih banyak dan lebih baik mengenai kondisi, kinerja, dan prospek perusahaan dibandingkan dengan prinsipal. Kombinasi dari konflik kepentingan dan asimetri informasi inilah yang menciptakan apa yang disebut sebagai 'masalah Untuk memitigasi masalah ini, prinsipal perlu mengeluarkan biaya keagenan . gency cost. , yang terdiri dari biaya pemantauan . onitoring cost. , biaya pengikatan . onding cost. , dan kerugian Audit eksternal merupakan salah satu bentuk mekanisme pemantauan yang paling fundamental dan paling banyak digunakan. Dengan mempekerjakan auditor independen sebagai pihak ketiga yang objektif, prinsipal berusaha untuk memverifikasi dan mendapatkan keyakinan bahwa laporan keuangan yang disusun oleh agen telah menyajikan secara wajar posisi keuangan dan kinerja perusahaan . Dalam konteks ini, audit delay dapat dipandang sebagai salah satu manifestasi dari masalah keagenan. Manajemen . yang mengetahui bahwa perusahaan memiliki kinerja yang buruk . isalnya, laba menurun atau gagal memenuhi targe. mungkin memiliki insentif untuk menunda proses audit dan publikasi laporan Penundaan ini memberi mereka waktu untuk mencoba 'memperbaiki' angka-angka, mencari cara untuk menyajikan narasi yang lebih baik, atau sekadar menunda penyebaran 'kabar buruk' ke pasar yang JURNAL ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI Vol. No. Januari 2026, pp. 36 - 53 Farid Fadillah dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 3 No. 36 Ae 53 dapat mengancam posisi dan kompensasi mereka. Sebaliknya, manajemen dengan kinerja yang cemerlang akan termotivasi untuk mempercepat proses audit dan publikasi untuk segera mendapatkan apresiasi dan penghargaan dari pasar. Dengan demikian. Teori Keagenan menyediakan kerangka kerja yang kuat untuk memprediksi bahwa faktor-faktor yang mencerminkan kinerja buruk atau risiko tinggi akan berkorelasi positif dengan audit delay . 2 Teori Sinyal (Signalling Theor. Teori Sinyal, yang awalnya dikembangkan oleh Spence, berargumen bahwa dalam situasi di mana terdapat asimetri informasi antara dua pihak, pihak yang memiliki informasi lebih unggul . isalnya, manajemen perusahaa. akan berinisiatif untuk mengirimkan sinyal yang kredibel kepada pihak yang kurang informasi . isalnya, investo. untuk mengungkapkan kualitas atau nilai intrinsik mereka yang tersembunyi . Agar sebuah sinyal efektif, ia haruslah kredibel, yang berarti sinyal tersebut harus mahal atau sulit untuk ditiru oleh pihak berkualitas rendah. Dalam konteks pasar modal, berbagai tindakan korporat dapat berfungsi sebagai sinyal, mulai dari kebijakan dividen, struktur modal, hingga praktik pelaporan keuangan . Publikasi laporan keuangan tahunan yang telah diaudit adalah salah satu mekanisme pemberian sinyal yang paling penting dan paling ditunggu oleh pasar. Namun, tidak hanya isi dari laporan tersebut yang menjadi sinyal, tetapi juga waktu penyampaiannya. Ketepatan waktu publikasi laporan keuangan, atau dengan kata lain audit delay yang singkat, dapat diinterpretasikan oleh pasar sebagai sinyal positif yang kuat. Sinyal ini secara implisit mengkomunikasikan beberapa hal: . perusahaan memiliki kinerja yang baik dan tidak ada 'kabar buruk' yang perlu disembunyikan. manajemen bersikap transparan dan berkomitmen pada tata kelola perusahaan yang baik. sistem akuntansi dan pengendalian internal perusahaan berjalan secara efisien dan andal, sehingga memungkinkan proses audit diselesaikan tanpa hambatan berarti. Investor dan analis cenderung merespons sinyal positif ini dengan meningkatkan kepercayaan mereka, yang dapat berdampak pada valuasi perusahaan yang lebih tinggi. Sebaliknya, keterlambatan dalam pelaporan . udit delay yang panjan. secara luas dianggap sebagai sinyal negatif . Pasar mungkin akan menginterpretasikan penundaan ini sebagai indikasi adanya masalah, seperti kinerja keuangan yang buruk, adanya perselisihan antara manajemen dan auditor mengenai isu-isu akuntansi yang kompleks, atau ditemukannya kelemahan material dalam sistem pengendalian internal perusahaan. Manajemen perusahaan yang mengantisipasi 'kabar buruk' mungkin secara strategis akan menunda rilis informasi untuk mencoba mengelola dampak negatifnya. Dengan demikian. Teori Sinyal secara langsung mendukung hipotesis bahwa perusahaan dengan karakteristik kinerja yang lebih baik akan berusaha memperpendek audit delay mereka untuk memberi sinyal kualitas kepada pasar . 2 Penelitian Terdahulu dan Pengembangan Hipotesis 1 Audit Delay (Variabel Depende. Audit delay merupakan variabel sentral dalam penelitian ini. Secara definitif, audit delay adalah jeda waktu antara akhir tahun fiskal perusahaan dan tanggal penerbitan laporan auditor. Pentingnya variabel ini tidak dapat dilebih-lebihkan. Dalam pasar yang bergerak cepat, informasi yang berusia tiga atau empat bulan mungkin sudah tidak lagi relevan untuk pengambilan keputusan investasi yang kritis. Sebuah studi oleh Adiraya dan Sayidah, misalnya, menekankan bahwa keterlambatan mengurangi nilai prediktif dan konfirmatif dari laporan keuangan, dua komponen utama dari karakteristik relevansi . Keterlambatan juga dapat meningkatkan volatilitas harga saham karena pasar bereaksi terhadap ketidakpastian yang Secara praktis, semakin lama investor menunggu informasi yang telah diaudit, semakin besar risiko mereka membuat keputusan berdasarkan data yang tidak lengkap atau tidak terverifikasi. Oleh karena itu, audit delay bukan sekadar metrik teknis, melainkan sebuah proksi penting untuk efisiensi dan transparansi pelaporan keuangan perusahaan . 2 Umur Perusahaan dan Hipotesis Pertama Variabel pertama yang diuji pengaruhnya adalah umur perusahaan. Pengaruh umur perusahaan terhadap audit delay bersifat ambigu secara teoretis, yang melahirkan dua hipotesis yang saling bersaing. Hipotesis pertama adalah 'efek kurva belajar' atau 'efek pengalaman', yang berargumen bahwa terdapat hubungan negatif antara umur perusahaan dan audit delay. Perusahaan yang lebih tua . ebih matan. diasumsikan telah melalui banyak siklus pelaporan dan audit. Mereka telah mengembangkan sistem akuntansi dan pengendalian internal yang lebih mapan, memiliki staf akuntansi yang lebih berpengalaman, dan telah membangun hubungan kerja yang lebih stabil dan saling memahami dengan kantor akutan publik mereka . Proses yang berulang ini menciptakan efisiensi, mengurangi kejutan selama proses audit, dan memungkinkan penyelesaian audit yang lebih cepat. Namun, hipotesis kedua, yaitu 'efek kompleksitas', berargumen sebaliknya, yaitu terdapat hubungan positif antara umur perusahaan dan audit delay. Seiring Pengaruh Umur Perusahaan. Profitabilitas. Ukuran Perusahaan. Solvabilitas. Terhadap Audit Delay (Farid Fadilla. Farid Fadillah dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 3 No. 36 Ae 53 berjalannya waktu, perusahaan cenderung tumbuh tidak hanya dalam ukuran tetapi juga dalam Perusahaan yang lebih tua lebih mungkin untuk melakukan diversifikasi, memiliki banyak anak perusahaan di berbagai industri atau negara, mengakuisisi perusahaan lain, dan memiliki struktur organisasi yang lebih birokratis . Akumulasi kompleksitas iniAitermasuk kebutuhan untuk konsolidasi laporan keuangan dari berbagai entitas, menangani isu-isu akuntansi warisan, dan menavigasi sistem yang mungkin sudah usangAisecara signifikan meningkatkan lingkup dan kesulitan audit, yang pada gilirannya dapat memperpanjang durasi audit . Inkonsistensi temuan empiris mencerminkan pertarungan antara kedua efek ini. Misalnya, sementara Sudarmadi dan Syamsuri . menemukan pengaruh positif, penelitian lain seperti yang dilakukan oleh Malahati dan Syofyan . serta Al-azhary et al. tidak menemukan pengaruh yang signifikan, menunjukkan bahwa kedua efek tersebut mungkin saling meniadakan atau pengaruhnya bergantung pada konteks lain. Penelitian oleh Zahidah et al. juga memberikan pandangan yang berbeda, memperkuat adanya kesenjangan dalam literatur . Berdasarkan argumen bahwa kompleksitas yang meningkat seiring bertambahnya usia perusahaan akan memperlama proses audit, maka hipotesis dirumuskan sebagai berikut: H1 : Umur Perusahaan berpengaruh secara positif terhadap Audit Delay 3 Profitabilitas dan Hipotesis Kedua Variabel independen kedua adalah profitabilitas. Hubungan antara profitabilitas dan audit delay adalah salah satu yang paling konsisten ditemukan dalam literatur, dan didukung kuat oleh Teori Sinyal dan Teori Keagenan. Sebagian besar penelitian secara meyakinkan menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan: semakin tinggi profitabilitas perusahaan, semakin pendek audit delay-nya. Argumen utamanya, seperti yang dijelaskan dalam Teori Sinyal, adalah manajemen perusahaan yang profitabel memiliki insentif kuat untuk segera mengumumkan 'kabar baik' mereka kepada pasar . Publikasi yang cepat berfungsi sebagai sinyal positif yang dapat meningkatkan reputasi perusahaan, memperkuat kepercayaan investor, dan berpotensi menaikkan harga saham. Menunda kabar baik tidak memberikan keuntungan strategis apa Sebaliknya, perusahaan yang mengalami kerugian atau penurunan laba yang tajam ('kabar buruk') memiliki insentif untuk menunda pelaporan. Dari perspektif Teori Keagenan, manajemen mungkin menunda untuk menghindari pengawasan ketat dan konsekuensi negatif . eperti penurunan bonus atau bahkan pemecata. yang mungkin mengikuti rilis kinerja yang buruk . Selain dari perspektif manajemen, ada juga perspektif auditor. Mengaudit perusahaan yang merugi sering kali lebih rumit dan memakan Auditor harus meningkatkan tingkat skeptisisme profesional mereka dan melakukan prosedur tambahan untuk mengevaluasi secara kritis asumsi-asumsi manajemen, terutama yang berkaitan dengan penilaian aset . isalnya, risiko penurunan nilai aset atau impairmen. dan, yang paling penting, evaluasi kelangsungan usaha . oing concer. Evaluasi going concern adalah proses yang kompleks dan sering kali memerlukan diskusi panjang antara auditor dan manajemen, yang secara alami memperpanjang durasi audit. Temuan empiris dari berbagai studi, termasuk yang dilakukan oleh Kurniawati et al. Ananda et al. , dan Putriningsih dan Parinduri . , secara konsisten mendukung hubungan negatif ini. Berdasarkan uraian tersebut, hipotesis kedua dirumuskan: H2 : Profitabilitas berpengaruh secara negatif terhadap Audit Delay 4 Ukuran Perusahaan dan Hipotesis Ketiga Variabel independen ketiga adalah ukuran perusahaan. Seperti halnya umur perusahaan, pengaruh ukuran perusahaan terhadap audit delay juga menjadi subjek perdebatan teoretis dengan dua hipotesis yang Hipotesis pertama, 'efek kompleksitas', berpendapat bahwa perusahaan yang lebih besar memiliki audit delay yang lebih lama. Alasannya adalah perusahaan besar secara inheren lebih kompleks. Mereka memiliki volume transaksi yang jauh lebih besar, lebih banyak lini produk, operasi di lebih banyak lokasi geografis, dan struktur hukum dengan banyak anak perusahaan yang memerlukan proses konsolidasi yang rumit . Isu-isu akuntansi yang dihadapi juga lebih kompleks, seperti akuntansi untuk kombinasi bisnis, instrumen keuangan derivatif, dan pajak tangguhan. Semua faktor ini secara logis akan meningkatkan lingkup dan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan audit yang komprehensif. Namun, hipotesis kedua, yang dikenal sebagai 'efek sumber daya dan pengawasan' dan lebih dominan dalam temuan empiris, berargumen bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap audit delay. Perusahaan besar memiliki keunggulan sumber daya yang signifikan: mereka mampu mempekerjakan staf akuntansi dan keuangan yang lebih berkualitas, berinvestasi dalam sistem informasi akuntansi dan ERP (Enterprise Resource Plannin. yang canggih, dan memiliki departemen audit internal yang kuat . Semua ini memfasilitasi persiapan laporan keuangan yang lebih baik dan proses audit yang lebih lancar. Lebih dari itu, perusahaan besar berada di bawah pengawasan yang jauh lebih ketat dari berbagai pihakAianalis keuangan, media bisnis, investor institusional, dan badan regulator. Tekanan pasar . arket scrutin. ini menciptakan insentif yang sangat kuat bagi manajemen untuk memastikan pelaporan keuangan yang tepat JURNAL ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI Vol. No. Januari 2026, pp. 36 - 53 Farid Fadillah dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 3 No. 36 Ae 53 waktu demi menjaga reputasi dan kredibilitas di pasar modal . Temuan dari penelitian oleh Putriningsih dan Parinduri . Dewi et al. , serta Christine dan Hidayat . mendukung hipotesis kedua ini. Dengan demikian, hipotesis ketiga dirumuskan: H3 : Ukuran Perusahaan berpengaruh secara negatif terhadap Audit Delay 5 Solvabilitas dan Hipotesis Keempat Variabel independen keempat adalah solvabilitas, yang dalam penelitian ini diukur dengan Debt to Asset Ratio (DAR). Variabel ini merefleksikan tingkat leverage atau risiko keuangan perusahaan. Teori dan praktik audit modern sangat menekankan pada pendekatan audit berbasis risiko . isk-based audi. , di mana auditor mengalokasikan lebih banyak sumber daya audit ke area-area yang memiliki risiko salah saji material yang lebih tinggi. Tingkat utang yang tinggi . olvabilitas renda. adalah salah satu indikator utama peningkatan risiko keuangan . Perusahaan dengan leverage tinggi lebih mungkin menghadapi kesulitan likuiditas, tekanan untuk memenuhi perjanjian utang . ebt covenant. , dan pada kasus ekstrem, risiko Risiko-risiko ini secara langsung meningkatkan risiko audit. Auditor akan merespons peningkatan risiko ini dengan meningkatkan skeptisisme profesional mereka dan memperluas lingkup prosedur audit . Secara spesifik, auditor akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk: . menguji secara ketat kepatuhan perusahaan terhadap semua klausul dalam perjanjian utangnya, karena pelanggaran dapat memicu percepatan pembayaran utang. mengevaluasi secara mendalam asumsi kelangsungan usaha . oing concer. perusahaan, yang mungkin memerlukan analisis proyeksi arus kas dan diskusi intensif dengan manajemen. memeriksa secara cermat adanya potensi bias manajemen dalam estimasi akuntansi yang dapat digunakan untuk 'mempercantik' rasio keuangan agar tidak melanggar perjanjian utang . Semua prosedur tambahan yang diperlukan ini secara kumulatif akan memperpanjang waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan lapangan audit dan menerbitkan laporan. Oleh karena itu, secara teoretis, diharapkan terdapat hubungan positif antara tingkat utang (DAR) dan audit Temuan empiris dari penelitian seperti yang dilakukan oleh Irwansyah . dan Olimsar . secara konsisten mendukung hubungan positif ini. Maka, hipotesis keempat adalah: H4 : Solvabilitas berpengaruh secara positif terhadap Audit Delay 3 Kerangka Teoritis Kerangka teoritis merupakan Kumpulan premis ilmiah dari teori yang relevan, representatif dan mutakhir yang dipilih secara selektif untuk membangun kerangka pemikiran (Yusuf & Khasanah, 2. Kerangka pemikiran ini dibuat berdasarkan dengan tinjauan pustaka dan hasil penelitian terdahulu yang terkait dan relevan dengan penelitian ini. Didalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui serta memperoleh bukti mengenai pengaruh Umur Perusahaan. Profitabilitas. Ukuran Perusahaan. Solvabilitas terhadap Audit Delay Pada Perusahaan Consumer Non-Cyclicals Sub Sektor Food & Baverages yang terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2021-2024. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka dapat dibuat kerangka berpikir sebagai berikut: Gambar 1 Kerangka Teoritis Hipotesis : H1: Umur Perusahaan berpengaruh secara positif terhadap Audit Delay H2: Profitabilitas berpengaruh secara positif terhadap Audit Delay H3: Ukuran Perusahaan berpengaruh secara negatif terhadap Audit Delay Pengaruh Umur Perusahaan. Profitabilitas. Ukuran Perusahaan. Solvabilitas. Terhadap Audit Delay (Farid Fadilla. Farid Fadillah dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 3 No. 36 Ae 53 H4: Solvabilitas berpengaruh secara positif terhadap Audit Delay METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini mengadopsi paradigma kuantitatif dengan rancangan penelitian kausal-asosiatif, yang bertujuan untuk melakukan pengujian hipotesis dan analisis empiris mengenai relasi kausalitas antara variabel-variabel independenAiyakni Umur Perusahaan. Profitabilitas. Ukuran Perusahaan, dan SolvabilitasAiterhadap variabel dependen, yaitu Audit Delay. Studi ini sepenuhnya bergantung pada data sekunder berjenis kuantitatif yang diekstraksi dari laporan keuangan tahunan auditan serta laporan tahunan yang telah didiseminasikan secara publik. Proses akuisisi data dilaksanakan melalui metode dokumentasi, dengan mengakses secara langsung portal resmi Bursa Efek Indonesia . Alam dari penelitian ini mencakup keseluruhan 101 entitas yang terklasifikasi dalam subsektor Food & Beverages di BEI selama periode observasi 2021-2024. Penentuan sampel dilakukan menggunakan teknik purposive sampling, sebuah pendekatan non-probabilitas di mana seleksi subjek didasarkan pada kriteria inklusi spesifik berikut: Entitas secara konsisten terdaftar di subsektor Food & Beverages selama periode 2021-2024. Menerbitkan laporan keuangan tahunan auditan secara lengkap dan berurutan selama periode tersebut. Telah melaksanakan IPO sebelum tahun 2021 untuk menjamin ketersediaan data historis. Menyajikan laporan keuangan dalam mata uang Rupiah (R. demi menjaga konsistensi data. Proses seleksi berdasarkan kriteria tersebut menghasilkan sampel final yang terdiri dari 54 perusahaan. Dengan rentang observasi selama empat tahun, set data penelitian ini berbentuk data panel dengan total 216 Skala pengukuran variabel Audit Delay adalah skala rasio dengan indikator: Tanggal Laporan Audit Ae Tanggal Rasio Laporan Keuangan Skala pengukuran untuk variabel Umur Perusahaan adalah skala rasio dengan indikator: Tahun Penelitian Ae Tahun berdirinya Perusahaan Skala pengukuran variabel Profitabilitas adalah skala rasio dengan indikator: Laba bersih Total asset Skala pengukuran untuk variabel Ukuran Perusanaan adalah skala rasio dengan indikator: Ln (Total Aktiv. Skala Pengukuran untuk variabel Solvabilitas adalah skala rasio dengan indikator: Total Utang Total Aktiva Variabel Indikator Skala Sumber Data Rasio Laporan Keuangan Rasio Laporan Keuangan Rasio Laporan Keuangan Rasio Laporan Keuangan Variabel Dependen (Y) Audit Delay (Y) Tanggal Laporan Audit Ae Tanggal Rasio Laporan Keuangan Variabel Independen (X) Umur Perusahaan Tahun Penelitian Ae Tahun berdirinya (X. Profitabilitas (X. Laba bersih Total asset Ukuran Perusahaan Ln (Total Aktiv. JURNAL ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI Vol. No. Januari 2026, pp. 36 - 53 Farid Fadillah dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 3 No. 36 Ae 53 (X. Solvabilitas (X. Total Utang Total Aktiva Rasio Laporan Keuangan HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Teknik Pengumpulan Data Penelitian Descriptive Statistics Std. Minimum Maximum Mean Deviation Umur_Perusahaan Profittabilitas Ukuran_Perusahaan Solvabilitas Audit_Delay Valid N . Sumber : Data diolah dengan SPSS. 23, 2025 Berdasarkan pemrosesan data yang diinstrumentasi oleh peranti lunak SPSS Versi 23 . , sintesis analisis statistik deskriptif untuk setiap variabel yang diinvestigasi dapat diartikulasikan sebagai berikut: Variabel Umur Perusahaan mendemonstrasikan rentang data dengan batas inferior pada 6,68 dan batas superior pada 9,33. Tendensi sentral variabel ini terukur pada mean aritmetik sebesar 8,0913, dengan dispersi data yang direpresentasikan oleh deviasi baku sebesar 0,52452. Selanjutnya, variabel Profitabilitas menunjukkan sebaran nilai dari skor minimal -4,74 hingga skor maksimal 4,61. Rerata variabel ini tercatat pada 1,3174, diiringi oleh ukuran sebaran standar sebesar 0,137500. Variabel Ukuran Perusahaan teregistrasi dengan nilai minimum 7,64 dan nilai maksimum 8,10, di mana mean aritmetiknya adalah 7,9469 dengan deviasi baku yang terkuantifikasi pada 0,08573. Serupa dengan itu, variabel Solvabilitas memperlihatkan spektrum data dari -3,18 sebagai nilai terendah hingga 6,37 sebagai nilai tertinggi. sentralnya teridentifikasi pada 3,6785, disertai deviasi standar 0,86927. Akhirnya, variabel dependen. Audit Delay, memiliki rentang observasi antara 8,48 . dan 9,71 . Rerata fenomena ini terukur pada 9,0202, dengan tingkat dispersi data yang ditunjukkan oleh deviasi baku sebesar 0,22296. 2 Analisis Data Berikut ini adalah hasil uji normalitas pada penelitian ini: Tab 2. Uji Kolmogorov Smirnov One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardize d Residual Normal Parametersa,b Mean Std. Deviation Most Extreme Differences Absolute Positive Negative Test Statistic Pengaruh Umur Perusahaan. Profitabilitas. Ukuran Perusahaan. Solvabilitas. Terhadap Audit Delay (Farid Fadilla. Farid Fadillah dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 3 No. 36 Ae 53 Asymp. Sig. -taile. Sumber: Data diolah dengan SPSS. 23, 2025 Bedasarkan tabel 4. 9 diatas, hasil pengolahan data diperoleh nilai signifikan (Si. unstandardized residual yaitu 0,200 artinya nilai signifikan (Si. > 0,05. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penelitian ini berdistribusi normal. Berikut ini adalah hasil uji Multikolinearitas pada penelitian ini: Tab 3. Uji Multikolinearitas Coefficientsa Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients Model Std. Error Beta (Constan. LAG_X1 LAG_X2 LAG_X3 LAG_X4 Dependent Variable: LAG_Y Sumber: Data diolah dengan SPSS. 23, 2025 Sig. Collinearity Statistics Tolerance VIF Hasil uji multikolinearitas dapat diketahui bahwa nilai tolerance dari masing-masing variabel independen yaitu Umur Perusahaan (X. Profitabilitas (X. Ukuran Perusahaan (X. Solvabilitas (X. > 0. 1 dan nilai variance inflation factor (VIF) < 10. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa antar variabel independen tidak terjadi masalah multikolinearitas. Berikut ini adalah hasil uji autokorelasi pada penelitian ini: Tab 4. Uji Autokorelasi Model Summaryb Adjusted R Std. Error of the Model R Square Square Estimate Durbin-Watson Predictors: (Constan. LAG_X4. LAG_X1. LAG_X3. LAG_X2 Dependent Variable: LAG_Y Sumber: Data diolah dengan SPSS. 23, 2025 Elaborasi data yang diinstrumentasi melalui peranti lunak SPSS Versi 23 . untuk verifikasi asumsi non-autokorelasi serial menghasilkan nilai statistik Durbin-Watson (DW) yang terkuantifikasi sebesar 2,021 untuk model regresi yang diestimasi. Sebagai paradigma komparatif, nilai-nilai kritis yang diekstrapolasi dari tabulasi Durbin-Watson, dengan parameter kuantitatif spesifik: magnitudo sampel (N) sebesar 216, kardinalitas variabel prediktor . sejumlah 4, pada level signifikansi () 0,05, menetapkan batas inferior . L) pada 1,7447 dan batas superior . U) pada 1,8048. Mengacu pada kriteria evaluasi inferensial, nilai statistik DW termaksud . secara posisional terinterkalasi dalam interval non-korelatif yang dibatasi oleh dU . ,8. dan nilai komplementernya, 4-dU . ,1. Kondisi ini secara matematis terefleksi dalam formulasi inekuasi dU < DW < 4-dU, atau secara spesifik 1,8048 < 2,021 < 2,1952. Konsekuensinya, inferensi definitif yang dapat ditarik adalah bahwa ketiadaan dependensi serial pada galat . rror term. model regresi terkonfirmasi, sehingga asumsi independensi stokastik pada residu telah terpenuhi untuk set data yang dianalisis. Analisis selanjutnya berprogresi menuju verifikasi asumsi homoskedastisitas melalui pengujian JURNAL ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI Vol. No. Januari 2026, pp. 36 - 53 Farid Fadillah dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 3 No. 36 Ae 53 Tab 5. Uji Heterokedastisitas Coefficientsa Unstandardized Coefficients Model Standardized Coefficients Std. Error (Constan. LAG_X1 LAG_X2 LAG_X3 LAG_X4 Dependent Variable: LN_RES Sumber: Data diolah dengan SPSS. 23, 2025 Beta Sig. Berdasarkan tabel 4. 12 diatas, dapat diketahui bahwa hasil signifikansi Umur Perusahaan (X . 0,463. Profitabilitas (X. 0,952. Ukuran Perusahaan (X. 0,235. Solvabilitas (X. 0,219. Semua hasil signifikansi menunjukan nilai > 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi masalah heteroskedastisitas pada penelitian ini, sehingga model regresi layak digunakan. Berikut ini adalah hasil uji regresi linear berganda pada penelitian ini: Tabel 6. Uji Regresi Linier Berganda Coefficientsa Unstandardized Coefficients Model Std. Error LAG_X1 LAG_X2 LAG_X3 LAG_X4 (Constan. Standardized Coefficients Beta Sig. Dependent Variable: LAG_Y Sumber: Data diolah dengan SPSS. 23, 2024 AD : 8,319 0,015 Umur Perusahaan Ae 0,034 Profitabilitas Ae 0,550 Ukuran Perusahaan 0,031 Solvabilitas C Berikut ini adalah hasil uji koefisien determinasi (R. pada penelitian ini: Tab 7. Uji Koefisien Determinasi (R. Model Summary Model R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Predictors: (Constan. LAG_X4. LAG_X1. LAG_X3. LAG_X2 Sumber: Data diolah dengan SPSS 23, 2025 Nilai Adjusted R Square adalah 0,084 atau 8,4%. Hal ini menunjukan bahwa presentase kontribusi variabel independent (Umur Perusahaan. Profitabilitas. Ukuran Perusahaan dan Solvabilita. terhadap variabel dependen (Audit Dela. sebesar 8,4%. Sedangkan 91,6% lainnya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Berikut ini adalah hasil uji kelayakan Model (F) pada penelitian ini: Pengaruh Umur Perusahaan. Profitabilitas. Ukuran Perusahaan. Solvabilitas. Terhadap Audit Delay (Farid Fadilla. Farid Fadillah dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 3 No. 36 Ae 53 Tab 8. Uji F ANOVAa Mean Square Model Sum of Squares Regression Residual Total Dependent Variable: LAG_Y Predictors: (Constan. LAG_X4. LAG_X1. LAG_X3. LAG_X2 Sumber: Data diolah dengan SPSS 23, 2025 Sig. Dari uji Anova atau Uji F test tersebut. Fhitung sebesar 5,876 sedangkan Ftabel dengan tingkat signifikansi 5% diperoleh Ftabel sebesar 2,41. Dalam hal ini maka Fhitung > Ftabel dan nilai probabilitas yaitu 0,000 . ,000 < 0,. maka artinya ada pengaruh secara simultan anatara Umur Perusahaan. Profitabilitas. Ukuran Perusahaan dan Solvabilitas terhadap Audit Delay dan menunjukan bahwa model regresi pada penelitian ini dinyatakan layak untuk digunakan. Berikut ini adalah hasil uji t pada penelitian ini: Uji t Coefficientsa Standardized Coefficients Beta Unstandardized Coefficients Model Std. Error (Constan. LAG_X1 LAG_X2 LAG_X3 LAG_X4 Dependent Variable: LAG_Y Sumber Data diolah dengan SPSS 23, 2025 Sig. Berdasarkan tabel diatas maka dapat dijelaskan koefisien regresi sebagai berikut : Pengujian koefisien regresi variabel Umur Perusahaan (X. terhadap Audit Delay (Y) Hasil Pengujian secara parsial antara variabel Umur Perusahaan terhadap Audit Delay diperoleh nilai sig. sebesar 0,651 . ,651>0,. dan nilai t hitung . 452 < t tabel 1,652. Maka dapat disimpulkan bahwa H 0 diterima dan H1 ditolak karena tidak berpengaruh signifikan antara Umur Perusahaan terhadap Audit Delay. Pengujian koefisien regresi variabel Profitabilitas (X. terhadap Audit Delay (Y) Hasil pengujian secara pasial antara variabel Profitabilitas terhadap Audit Delay diperoleh nilai sig. 0,003 . ,003 < 0,. dan nilai t hitung . -3,005 > t tabel 1,652. Maka dapat disimpulkan bahwa H 0 ditolak dan H2 diterima karena berpengaruh secara negatif dan signifikan antara Profitabilitas terhadap Audit Delay. Pengujian koefisien regresi variabel Ukuran Perusahaan (X. terhadap Audit Delay (Y) Hasil pengujian secara parsial antara variabel Ukuran Perusahaan terhadap Audit Delay diperoleh nilai sig. sebesar 0,006 . ,006 < 0,. dan nilai t hitung . -2,761 > t tabel 1,652. Maka dapat disimpulkan bahwa H 0 ditolak H3 diterima karena berpengaruh secara negatif dan signifikan antara Ukuran Perusahaan terhadap Audit Delay. Pengujian koefisien regresi variabel Solvabilitas (X. terhadap Audit Delay (Y) Hasil pengujian secara parsial antara variabel Solvabilitas terhadap Audit Delay diperoleh nilai sig. 0,008 . ,008 < 0,. dan nilai t hitung . 1,761 > 1,652. Maka dapat disimpulkan bahwa H 0 ditolak dan H4 diterima karena berpengaruh signifikan antara Solvabilitas terhadap Audit Delay. Berikut ini adalah hasil uji koefisien korelasi pada penelitian ini: Uji koefisien korelasi Umur_Per Profittabil Ukuran_ Solvabil Audit_D Perusaha JURNAL ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI Vol. No. Januari 2026, pp. 36 - 53 Farid Fadillah dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 3 No. 36 Ae 53 Umur_Peru Pearson Correlation Sig. -taile. Profittabilit Pearson Correlation Sig. -taile. Ukuran_Pe Pearson Correlation Sig. -taile. Solvabilitas Pearson Correlation Sig. -taile. Audit_Dela Pearson Correlation Sig. -taile. **. Correlation is significant at the 0. 01 level . -taile. Correlation is significant at the 0. 05 level . -taile. Sumber: Data diolah dengan SPSS 23, 2025 = -31,20445 1,574011 Ae 0,008948 0,000766 3 Pembahasan Hasil Penelitian 1 Falsifikasi Hipotesis Pengaruh Umur Perusahaan terhadap Audit Delay Berdasarkan derivasi data dari analisis regresi parsial (Uji . , postulat inisial (H. , yang menghipotesiskan bahwa umur perusahaan mendemonstrasikan influens positif terhadap audit delay, secara definitif Verifikasi statistik mengeksibisi nilai signifikansi sebesar 0,651, sebuah nilai yang secara substansial melampaui ambang batas signifikansi yang telah ditetapkan ( = 0,. Lebih lanjut, koefisien regresi yang nilainya mendekati nihil . turut mengafirmasi bahwa secara praksis, influens kausal dari maturitas korporat terhadap prolongasi durasi atestasi finansial bersifat minor dan insignifikan. Konklusi empiris ini mengimplikasikan bahwa dalam perimetri spasial-temporal perusahaan subsektor Food & Beverages di Indonesia selama interval 2021-2024, longevitas operasional sebuah entitas bukanlah merupakan determinan yang robust dalam mengakselerasi ataupun medelerasi proses finalisasi audit. Interpretasi atas temuan ini dapat dianalisis melalui dua vektor teoretis yang antagonistik namun saling Pada satu sisi, postulat 'efek pengalaman' atau 'kurva belajar', yang mengasumsikan Pengaruh Umur Perusahaan. Profitabilitas. Ukuran Perusahaan. Solvabilitas. Terhadap Audit Delay (Farid Fadilla. Farid Fadillah dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 3 No. 36 Ae 53 bahwa entitas yang lebih matang memiliki efisiensi superior karena sistem yang telah mapan, terbukti tidak memiliki potensi eksplanatori yang cukup kuat untuk secara signifikan memitigasi durasi audit. Pada sisi lain, postulat antitesisnya, 'efek kompleksitas', yang menyatakan bahwa entitas yang lebih tua lebih rumit untuk diaudit, juga tidak memperoleh validasi statistik. Probabilitas tertinggi adalah bahwa kedua vektor pengaruh tersebut diasumsikan saling menetralkan, menghasilkan efek neto yang nihil secara statistik. Entitas yang lebih tua mungkin secara faktual memiliki struktur operasional yang lebih kompleks, namun disinsentif temporal ini terkompensasi oleh superioritas pengalaman manajerial dan kompetensi staf akuntansi dalam preparasi dokumentasi audit, serta relasi kerja yang lebih terkonsolidasi dengan auditor Konsekuensinya, tidak terdeteksi adanya dampak bersih . et effec. yang signifikan secara Konklusi empiris ini menunjukkan korespondensi dengan beberapa investigasi sebelumnya, seperti yang diartikulasikan oleh Malahati dan Syofyan . serta Al-azhary et al. , yang secara analogis juga tidak mengidentifikasi adanya influens signifikan dari umur perusahaan terhadap audit delay. Namun, hasil ini mendemonstrasikan diskrepansi terhadap temuan Sudarmadi dan Syamsuri . yang mengkonklusikan adanya korelasi positif, dan juga berkontradiksi dengan Zahidah et al. yang justru mengidentifikasi korelasi negatif. Inkonsistensi inter-studi ini mengamplifikasi dugaan bahwa vektor pengaruh dari umur perusahaan sangat dependen pada konteks industrial dan temporal spesifik. Dalam dinamika industri Food & Beverages, determinan lain seperti akselerasi inovasi produk, efisiensi logistik rantai pasok, dan volatilitas kondisi pasar diasumsikan memiliki dampak yang jauh lebih preponderan terhadap proses audit dibandingkan sekadar metrik longevitas operasional. 2 Validasi Hipotesis Pengaruh Profitabilitas terhadap Audit Delay Hipotesis sekunder (H. , yang mempostulatkan bahwa profitabilitas mengeksibisi pengaruh negatif terhadap audit delay, memperoleh validasi empiris. Derivasi data statistikal mengindikasikan nilai signifikansi 0,003, yang secara konklusif berada di bawah level toleransi kesalahan 0,05. Koefisien regresi yang bernilai negatif (-0,. mengkonfirmasi direksi hubungan kausal yang dihipotesiskan. Temuan ini secara meyakinkan mendemonstrasikan bahwa terdapat korelasi negatif yang robust antara eskalasi tingkat profitabilitas . ioperasionalisasikan melalui ROA) sebuah korporasi dengan mitigasi durasi yang diperlukan untuk finalisasi atestasi finansial. Hasil ini merupakan justifikasi empiris yang solid bagi postulat Teori Sinyal. Entitas korporat yang mencatatkan rentabilitas superior memiliki 'informasi superior' . ood new. yang secara strategis ingin segera didiseminasikan kepada ekosistem pasar. Publikasi laporan keuangan yang diakselerasi berfungsi sebagai sinyal positif yang kredibel kepada para investor dan analis, mengkomunikasikan bahwa entitas tersebut berada dalam kondisi finansial yang prima dan diadministrasikan melalui tata kelola yang efektif. Sinyal semacam ini berpotensi mengeskalasi konfidensi pasar, yang pada gilirannya dapat menginduksi apresiasi valuasi ekuitas dan mereduksi biaya kapital. Manajemen, dalam skenario ini, memiliki insentif fundamental untuk berkolaborasi secara proaktif dengan entitas auditor dan menggaransi ketersediaan data secara tepat waktu demi mengakselerasi proses audit. Dari perspektif Teori Keagenan, hasil ini juga dapat dielaborasi. Performa finansial superior berfungsi memitigasi diskrepansi kepentingan keagenan antara manajemen dan pemegang saham. Ketika target rentabilitas tercapai atau terlampaui, manajemen cenderung mengadopsi postur yang lebih transparan karena tidak ada performa inferior yang perlu diobskurkan. Sebaliknya, sebagaimana dihipotesiskan, korporasi dengan profitabilitas rendah atau yang mengalami defisit cenderung memprolongasi pelaporan. Selain insentif manajerial untuk menunda diseminasi 'informasi inferior', auditor juga akan mengimplementasikan prosedur audit yang lebih ekstensif pada entitas yang merugi, terutama untuk melakukan evaluasi kritis terhadap asumsi kelangsungan usaha . oing concer. , sebuah proses yang secara inheren memperpanjang durasi atestasi. Temuan ini menunjukkan konsistensi yang tinggi dengan mayoritas korpus literatur yang eksis. Hasil ini selaras dengan investigasi yang dilaksanakan oleh Kurniawati et al. Ananda et al. Putriningsih dan Parinduri . , serta Irwansyah . , yang secara kolektif mengidentifikasi korelasi negatif yang signifikan antara profitabilitas dan audit delay. Konsistensi temuan ini mengafirmasi bahwa profitabilitas merupakan salah satu prediktor audit delay yang paling reliabel dan robust dalam berbagai perimetri industrial. JURNAL ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI Vol. No. Januari 2026, pp. 36 - 53 Farid Fadillah dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 3 No. 36 Ae 53 3 Validasi Hipotesis Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Audit Delay Asersi ketiga (H. , yang menghipotesiskan bahwa ukuran perusahaan memiliki korelasi negatif dengan audit delay, terkonfirmasi. Analisis data menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,006, yang berada di bawah ambang batas = 0,05, dengan koefisien regresi yang juga bernilai negatif (-0,. Ini mengimplikasikan bahwa entitas korporat dengan magnitudo total aset yang lebih besar menunjukkan tendensi untuk memiliki durasi audit yang lebih singkat secara signifikan dibandingkan dengan entitas yang berskala lebih kecil. Temuan ini mengafirmasi dominansi postulat 'efek superioritas sumber daya dan intensitas pengawasan' atas postulat tandingannya, 'efek kompleksitas'. Meskipun entitas berskala magnitudinal secara inheren memiliki struktur operasional yang lebih kompleks, terdiversifikasi, dan volume transaksi yang masif, mereka terbukti mampu memitigasi tantangan-tantangan ini secara lebih efektif. Keunggulan komparatif perusahaan besar termanifestasi dalam beberapa domain: superioritas sumber daya, di mana mereka memiliki kapabilitas untuk merekrut kapital manusia di bidang akuntansi dan keuangan yang lebih kompeten, mengalokasikan kapital untuk investasi pada sistem ERP yang canggih, dan menyelenggarakan departemen audit internal yang kuat . serta tekanan pasar dan regulator, di mana sebagai entitas berprofil tinggi . igh-profile firm. , mereka berada di bawah skrutini yang intensif dari analis, media, dan investor institusional, yang menciptakan insentif kuat untuk kepatuhan temporal demi preservasi reputasi . Dari perspektif Teori Keagenan, entitas berskala magnitudinal kerap mengimplementasikan struktur governansi korporat yang lebih superior sebagai mekanisme pemantauan untuk mereduksi problem keagenan, yang turut berkontribusi pada efisiensi proses pelaporan. Konklusi penelitian ini berkorespondensi dengan temuan dari Putriningsih dan Parinduri . Malahati dan Syofyan . , serta Christine dan Hidayat . Namun, patut dicatat adanya diskrepansi dengan penelitian Dian Anggraeni et al. yang tidak menemukan influens signifikan. Divergensi ini kemungkinan dapat diatribusikan pada perbedaan karakteristik idiosinkratik sektor industri yang diinvestigasi. 4 Validasi Hipotesis Pengaruh Solvabilitas terhadap Audit Delay Hipotesis kuarter (H. , yang mempostulatkan bahwa solvabilitas berpengaruh positif terhadap audit delay. Hasil uji statistik mendemonstrasikan nilai signifikansi sebesar 0,008 . ebih kecil dari 0,. dengan koefisien regresi positif . Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat leverage finansial suatu entitas relatif terhadap basis asetnya . ioperasionalisasikan melalui DAR), semakin lama interval waktu yang dibutuhkan untuk merampungkan proses atestasi finansial. Interpretasi primordial dari temuan ini berakar pada paradigma audit berbasis risiko . isk-based audi. Tingkat utang yang terelevasi merupakan anteseden fundamental yang mengindikasikan eskalasi risiko finansial korporat. Peningkatan risiko ini dapat bermanifestasi dalam berbagai bentuk, termasuk risiko pelanggaran klausul perjanjian utang . ebt covenant violatio. dan risiko atas kelangsungan entitas . oing concern ris. Sebagai respons terhadap eskalasi risiko ini, auditor, sesuai dengan standar profesional, akan mengekspansi cakupan serta intensitas prosedur atestasi mereka . Prosedur-prosedur tambahan ini, yang mencakup pengujian substantif yang lebih detail, analisis proyeksi arus kas yang mendalam, serta diskursus intensif dengan manajemen, secara kumulatif berkontribusi secara langsung pada prolongasi durasi yang diperlukan untuk finalisasi audit. Konklusi ini konsisten dengan investigasi yang dilakukan oleh Irwansyah . dan Olimsar . Akan tetapi, hasil ini tidak selaras dengan temuan Dewi et al. dan Al-azhary et al. yang tidak mengidentifikasi adanya influens signifikan. Inkonsistensi ini mengimplikasikan bahwa signifikansi pengaruh solvabilitas kemungkinan dimoderasi oleh kondisi makroekonomi atau rerata kesehatan finansial agregat dalam sampel penelitian. KESIMPULAN DAN SARAN Sintesis final dari investigasi empiris ini mengkonklusikan bahwa tidak terdeteksi adanya influens signifikan dari Umur Perusahaan terhadap Audit Delay pada perusahaan Customer Non-Cyclicals Sub Sektor Food and Beverages di Bursa Efek Indonesia periode 2021-2024. Namun, teridentifikasi adanya determinasi kausal yang signifikan secara statistik dari variabel Profitabilitas terhadap Audit Delay, demikian pula dengan adanya influens signifikan dari Ukuran Perusahaan terhadap Audit Delay, serta Pengaruh Umur Perusahaan. Profitabilitas. Ukuran Perusahaan. Solvabilitas. Terhadap Audit Delay (Farid Fadilla. Farid Fadillah dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 3 No. 36 Ae 53 terkonfirmasinya korelasi signifikan antara Solvabilitas terhadap Audit Delay dalam konteks dan periode yang sama. Sebagai prolegomena bagi investigasi mendatang di domain ini, beberapa rekomendasi diajukan. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat menginkorporasi variabel-variabel anteseden alternatif di luar keempat variabel independen yang telah diuji dalam studi ini. Lebih lanjut, diharapkan adanya ekstensi terhadap horizon temporal dan magnitudo data, serta adanya imperatif regulasi yang lebih stringent dari BEI untuk mewajibkan seluruh entitas korporat melakukan diseminasi laporan keuangan yang komprehensif, terperinci, dan punctual. SARAN Bagi peneliti selanjutnya yang akan meneliti Audit Delay, diharapkan dapat menggunakan variabel lain selain keempat variabel dependen yang telah diteliti. Lebih lanjut, peneliti diharapkan dapat memperluas perolehan data dalam jumlah tahun dan mengharapkan BEI untuk mulai mewajibkan semua perusahaan menerbitkan laporan keuangan lengkap dengan menyertakan biaya yang terperinci dan tepat waktu. DAFTAR PUSTAKA