Serambi Saintia. Vol. No. Oktober 2017 ISSN : 2337 - 9952 Pengaruh Titik Tumbuh Entres dan Teknik Pengikatan terhadap Kecepatan Tumbuh Sambung Samping Tanaman Kakao (Theobroma cacao L. Ismail1 Desi Sri Pasca Sari Sembiring2 Rahmaddin Sahputra Desky3 1,2,3. Program Studi Agroteknologi Universitas Gunung Leuser ismailagro@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan titik tumbuh entres dorman dan abdorman dan untuk mengetahui tingkat keberhasilan teknik pengikatan swiscontect dan melilit batang pohon. Penelitian ini menggunakan rancang acak kelompok (RAK) dengan pola faktorial 2 x 2 dengan 6 ulangan. Faktor yang diteliti adalah tingkat keberhasilan titik tumbuh entres dan teknik pengikatan yang berbeda. Parameter yang diamati adalah panjang tunas, jumlah helaian daun, dan diameter batang. Data dianalisis dengan Analisis Sidik Ragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan titik tumbuh entres berpengaruh tidak nyata terhadap panjang tunas dan jumlah helaian daun pada umur 30, 40, 50, dan 60 HSS. Diameter batang pada umur 30, 50, 60, berpengaruh nyata terhadap titik tumbuh entres. Perlakuan pada umur 40 HSS berpengaruh sangat nyata. Teknik pengikatan berpengaruh nyata terhadap panjang tunas pada umur 30, 40, 50, dan 60 HSS, dan berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah helain daun pada umur 30, dan berpengaruh nyata pada umur 40, 50, dan 60 HSS. Perlakuan berpengaruh sangat nyata terhadap diameter batang pada umur 30, 40, 50, dan 60 HSS. Kata Kunci: Titik Tumbuh Entres. Pengikatan. Kecepatan Tumbuh. Sambung Samping. Kakao PENDAHULUAN Budidaya kakao (Theobroma cacao L. ) dewasa ini ditinjau dari penambahan luas areal di Indonesia terutama kakao rakyat sangat pesat, karena kakao merupakan salah satu komoditas unggulan nasional setelah tanaman karet, kelapa sawit, kopi, dan Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan yang berperan penting bagi pertumbuhan perekonomian Indonesia terutama dalam penyediaan lapangan kerja baru, sumber pendapatan petani dan penghasil devisa bagi negara. Kakao merupakan tanaman tahunan yang mulai berbunga dan berbuah umur 3-4 tahun setelah ditanam. Apabila pengelolaan tanaman kakao dilakukan secara tepat, maka masa produksinya dapat bertahan lebih dari 25 tahun, selain itu untuk keberhasilan budidaya kakao perlu memperhatikan kesesuaian lahan dan faktor bahan tanam. Penggunaan bahan tanam kakao yang tidak unggul mengakibatkan pencapaian produktivitas dan mutu biji kakao yang rendah, oleh karena itu sebaiknya digunakan bahan tanam yang unggul dan bermutu tinggi. Indonesia merupakan negara terbesar ketiga mengisi pasokan kakao dunia yang diperkirakan mencapai 20% bersama Negara Asia lainnya seperti Malaysia. Filipina, dan Papua New Guinea (Supartha, 2. Ismail. Desi Sri Pasca Sari Sembiring, dan Rahmaddin Sahputra Desky Peningkatan luas areal pertanaman kakao belum diikuti oleh produktivitas dan mutu yang tinggi. Data Biro Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada tahun 1983 luas areal tanaman kakao 59. 928 ha, dengan produksi sekitar 20. 000 ton, dan pada tahun 1993 luas areal tanaman kakao menjadi 535. 000 ha dengan produksi mencapai 258. ton (Direktur Jenderal Perkebunan, 1. Produksi kakao saat ini 435. 000 ton dengan produksi dari perkebunan rakyat sekitar 87%. Produksi tertinggi yakni 67% diperoleh dari wilayah sentra produksi kakao yang berpusat di daerah Sulawesi Selatan. Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah (Pujiyanto, 2. Di Sumatra Utara, panelitian yang sama terus dilaksanakan dalam rangka perkembangan coklat. Beberapa PT perkebunan melalui penanaman cokelat Bulk, seperti PT perkebunan IV dan PT perkebunan II. PT Perkebunan II Bahkan mengadakan perluasan areal penanaman cokelat di Papua dan Riau serta membangun kebun benih cokelat di maryke. Medan. Pembangunan kebun benih cokelat tersebut dilaksanakan bersama P4TM (Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Tanjung Moraw. Medan yang saat ini telah mengasilkan bahan tanaman biji hibrida dengan tetua klon-klon Sca. ICS. Pa. TSH, dan IMS. Biji-biji hibrida yang dihasilkan kebun benih cokelat masih dalam tahap pengujian (Tumpal et, al, 2. Tanaman Kakao (Theobroma cacao L) merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang berperan penting dalam perekonomian Indonesia. Perkebunan kakao didominasi oleh perkebunan rakyat . ,1%) dengan jumlah petani yang terlibat secara langsung lebih dari 1,5 juta KK. Dengan produksi 795. 581 ton. Indonesia merupakan produsen kakao terbesar kedua dunia setelah Pantai Gading 1,38 juta ton (Asaad. M, 2. Ekspor kakao Indonesia juga masih lebih banyak di produksi dalam bentuk setengah jadi dan bukan produk olahan akhir. Lain halnya dengan Singapura dan Malaysia yang mampu mengolah biji kakao dalam bentuk penggunaan cokelat, sedangkan luas areal tanam kakao mereka lebih kecil dari Indonesia. Oleh karna itu, di harapkan bisa memotivasi para pembisnis kakao Indonesia untuk meningkatkan jumlah pabrik pengolahan kakao untuk produksi akhir, seperti kue atau permen cokelat, produksi kakao saat ini 435. 000 ton dengan produksi dari perkebunan rakyat sekitar Produksi tertinggi yakni 67% diperoleh dari wilayah sementara produksi kakao yang berpusat di daerah Sulawesi Selatan. Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah (Wahyudi, 2. Tujuan Penelitian Untuk mengetahui pengaruh titik tumbuh entres dan teknik pengikatan terhadap kecepatan tumbuh sambung samping tanaman kakao. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan sambung samping dengan teknik yang METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di desa perapat Tinggi. Kecamatan lawe alas. Kabupaten Aceh Tenggara dimulai dari Bulan Oktober sampai dengan Desember Serambi Saintia. Vol. No. Oktober 2017 ISSN : 2337 - 9952 Bahan dan Alat Penelitian Batang bawah. Entres . erasal dari cabang kipas/plagiatrop ) . Pisau okulasi. Gunting pangkas. Plastik transparan. Tali rafia . Batu asah. Skliper / jangka sorong sebagai pengkur diameter batang. Rol Analisis Data Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial 2 x 2 dengan 6 ulangan. Ada dua faktor yang diteliti, yaitu: Faktor titik tumbuh entres (T) terdiri dari: = titik tumbuh yang dorman = titik tumbuh yang abdorman Faktor tehnik pengikatan entres (P) terdiri dari: = teknik pengikatan swiscontect = teknik pengikatan melilit batang pohon Jumlah kombinasi perlakuan adalah 2 x 2 = 4 kombinasi perlakuan, yaitu : T1P1 T2P1 T1P2 T2P2 Jumlah ulangan : 6 ulangan Jumlah kombinasi : 4 kombinasi Jumlah percobaan : 24 percobaan Jumlah tanaman perplot : 5 tanaman Jumlah sampel : 3 sampel Jumlah seluruhan sampel : 72 tanaman Jumlah seluruh tanaman : 120 tanaman Metode Analisa Dari hasil pengamatan dengan menggunakan analisis sidik ragam model linier sebagai berikut : Yij = AA I aj uij Keterangan : Yij = Hasil pengamatan percobaan pada perakuan ke-I dan blok ke- j AA = Nilai tengah umum I = Efek perlakuan pada tarap ke- i aj = Efek pada blok ke- j uij = Efek galat yang ditimbulkan pada taraf ke- i dan blok ke- j Pengamatan Pengamatan sambung samping dilakukan pada umur 30, 40, 50 dan 60 Hari setelah sambung. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah: Panjang tunas . Pengukuran tinggi tanaman sambung samping dilakukan dengan cara mengukur tinggi tanaman mulai dari titik tumbuh entres sampai keujung daun tertinggi. Pengamatan ini dilakukan mulai umur 30 hari setelah sambung samping. Jumlah daun (Hela. Pengitungan helai daun dilakukan pada umur 30 hari setelah sambung samping. Ismail. Desi Sri Pasca Sari Sembiring, dan Rahmaddin Sahputra Desky Diameter batang . Diameter batang diukur setelah tanaman berumur 30 hari setelah sambung samping. Pengukuran diameter batang dilakukan dengan menggunakan alat skliper. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pengaruh Perbedaan Titik tumbuh Entres Hasil uji F analisis ragam . ampiran 2, 4, 6, 8 10, 12, 14, 16, 18, 20, dan . menunjukkan bahwa perpedaan titik tumbuh entres tidak berpengaruh nyata terhadap panjang tunas dan jumlah helaian daun umur 30, 40, 50, dan 60 HSS, namun berpengaruh nyata terhadap diameter batang umur 30, 50, 60, dan sangat nyata pada 40 HSS. Panjang Tunas . Hasil uji F analisis ragam . ampiran 2, 4, 6, dan . perbedaan titik tumbuh entres tidak berpengaruh nyata terhadap panjang tunas sambung samping umur 30, 40, 50, dan 60 HSS, akibat perbedaan titik tumbuh entres dapat dilihat ditabel 1. Tabel 1. Rata-rata panjang tunas sambung samping akibat perbedaan titik tumbuh entres pada umur 30, 40, 50, dan 60 hari setelah sambung samping tanaman kakao. Panjang tunas . Perlakuan 30 HSS 40 HSS 50 HSS 60 HSS 16,05 31,38 43,71 60,33 16,72 27,55 40,94 57,88 Jumlah 72,77 58,93 84,65 118,21 Rata-rata 16,38 29,46 42,32 59,10 Tabel 1. Menunjukkan bahwa panjang tunas sambung samping pada umur 30, 40, 50, dan 60 HSS. Ini menunjukakan bahwa secara statistik, tidak ada perbedaan diantara perlakuan yang telah dicobakan. Perbedaan titik tumbuh entres . orman dan abdoma. tidak berpengaruh nyata dengan perbedaan titik tumbuh entres. Tunas terpanjang cenderung dijumpai pada T1. Jumlah Helaian Daun Hasil uji F analisis ragam . ampiran 10, 12, 14, dan 16. ) menunjukkan bahwa perbedaan titik tumbuh entres tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah helaian daun sambung samping umur 30, 40, 50, dan 60 HSS, akibat perbedaan titik tumbuh entres dapat dilihat ditabel 2. Serambi Saintia. Vol. No. Oktober 2017 ISSN : 2337 - 9952 Tabel 2. Rata-rata jumlah helaian daun sambung samping akibat perbedaan entres pada umur 30, 40, 50, dan 60 hari setelah sambung samping tanaman kakao. Jumlah daun . Perlakuan 30 HSS 40 HSS 50 HSS 60 HSS 13,66 21,91 30,66 45,24 13,99 22,07 32,07 47,74 Jumlah 27,65 43,98 62,73 92,98 Rata-rata 13,82 21,99 31,36 46,49 Tabel 2. Menunjukkan bahwa jumlah helaian daun sambung samping pada umur 30, 40, 50, dan 60 HSS. Ini menunjukakan bahwa secara statistik, tidak ada perbedaan diantara perlakuan yang telah dicobakan. Perbedaan titik tumbuh entres . orman dan abdoma. tidak berpengaruh nyata dengan perbedaan titik tumbuh entres. Tunas terpanjang cenderung dijumpai pada T2. Diameter Batang Hasil uji F analisis ragam . ampiran 18, 20, 22, dan . perbedaan titik tumbuh entres berpengaruh nyata terhadap diameter batang sambung samping umur 30, 50, dan 60 HSS dan berpengaruh sangat nyata umur 40. akibat perbedaan titik tumbuh entres dapat dilihat ditabel 3. Tabel 3. Rata-rata diameter batang sambung samping akibat perbedaan entres pada umur 30, 40, 50, dan 60 hari setelah sambung samping tanaman kakao. Diameter batang . Perlakuan 30 HSS 40 HSS 50 HSS 60 HSS 1,45 1,60 1,57 1,26 1,47 1,41 1,58 1,31 Jumlah 1,92 3,01 3,15 2,57 Rata-rata 1,46 1,50 1,57 1,28 Keterangan : Angka yang di ikuti oleh huruf yang sama pada jalur yang sama tidak berpengaruh nyata pada T ( 0. 05 ( Uji BNJ ). Tabel 3. Menunjukkan bahwa diameter batang sambung samping pada umur 30, 50, dan 60 HSS berpengaruh nyata dan pada umur 40 HSS berpengaruh sangat nyata. Ini menunjukakan bahwa secara statistik, perbedaan titik tumbuh entres berpengaruh nyata dan sangat nyata pada perlakuan yang telah dicobakan. Perbedaan titik tumbuh entres . orman dan abdoma. berpengaruh nyata dengan perbedaan titik tumbuh entres. Tunas terpanjang cenderung dijumpai pada T2 Ismail. Desi Sri Pasca Sari Sembiring, dan Rahmaddin Sahputra Desky Pengaruh Perbedaan Teknik Pengikatan Hasil uji F analisis ragam . ampiran 2, 4, 6, 8 10, 12, 14, 16, 18, 20, dan . menunjukkan bahwa perpedaan teknik pengikatan berpengaruh nyata terhadap panjang tunas daun umur 30, 40, 50, dan 60 HSS,dan berpengaruh sangat nyata umur 30, dan umur 40, 50, 60 berpengaruh nyata terhadap jumlah helaian daun, namun berpengaruh sangat nyata terhadap diameter batang umur 30, 40, 50, dan 60. HSS. Panjang Tunas . Hasil uji F analisis ragam . ampiran 2, 4, 6, dan . perbedaan teknik pengikatan berpengaruh nyata terhadap panjang tunas sambung samping umur 30, 40, 50, dan 60 HSS, akibat perbedaan teknik pengikatan dapat dilihat ditabel 4. Tabel 4. Rata-rata panjang tunas sambung samping akibat perbedaan teknik pengikatan pada umur 30, 40, 50, dan 60 hari setelah sambung samping tanaman kakao. Panjang tunas . Perlakuan 30 HSS 40 HSS 50 HSS 60 HSS 16,83 30,38 43,49 59,55 15,94 28,55 41,16 58,66 Jumlah 32,77 58,93 84,65 118,21 Rata-rata 16,38 29,46 42,32 Keterangan : Angka yang di ikuti oleh huruf yang sama pada jalur yang sama berpengaruh sangat nyata pada p ( 0. 05 ( Uji BNJ ). Tabel 4. Menunjukkan bahwa panjang tunas sambung samping pada umur 30, 40, 50, dan 60 HSS. Ini menunjukakan bahwa secara statistik, perbedaan diantara perlakuan yang telah dicobakan berpengaruh nyata. Perbedaan teknik pengikatan . wisconteck dan melilit batang poho. berpengaruh nyata dengan perbedaan teknik Tunas terpanjang cenderung dijumpai pada P1. Jumlah daun Hasil uji F analisis ragam . ampiran 10, 12, 14, dan 16. ) perbedaan teknik pengikatan berpengaruh sangat nyata pada umur 30 dan 40, 50, 60 berpengaruh nyata terhadap jumlah helaian daun sambung samping umur 30, 40, 50, dan 60 HSS, akibat perbedaan teknik pengikatan dapat dilihat ditabel 5. Serambi Saintia. Vol. No. Oktober 2017 ISSN : 2337 - 9952 Tabel 5. Rata-rata jumlah helaian daun sambung samping akibat perbedaan entres pada umur 30, 40, 50, dan 60 hari setelah sambung samping tanaman kakao. Jumlah daun . Perlakuan 30 HSS 40 HSS 50 HSS 60 HSS 12,82 21,16 30,82 45,15 13,82 22,82 31,91 47,82 Jumlah 26,64 43,98 62,73 92,97 Rata-rata 13,32 21,99 31,36 46,48 Keterangan : Angka yang diukiti oleh hurup yang sama pada jalur yang sama berbeda nyata pada p . ,05 ( Uji BNJ ). Tabel 5. Menunjukkan bahwa jumlah helaian daun sambung samping pada umur 30, 40, 50, dan 60 HSS. Ini menunjukakan bahwa secara statistik, ada perbedaan diantara perlakuan yang telah dicobakan. Perbedaan teknik pengikatan . wisconteck dan melilit batang poho. tidak berpengaruh nyata dengan perbedaan teknik Tunas terpanjang cenderung dijumpai pada P2. Diameter Batang Hasil pengamatan terhadap diameter batang sambung samping tanaman kakao pada umur 30, 40, 50, dan 60 hari setelah sambung samping disajikan pada . ampiran 18, 20, 22, dan 24. ) menunjukkan bahwa perbedaan teknik pengikatan berpengaruh sangat nyata terhadap diameter batang sambung samping tanaman kakao umur 30, 40, 50, dan 60 HSS. akibat perbedaan teknik pengikatan dapat dilihat ditabel 6. Tabel 6. Rata-rata diameter batang sambung samping akibat perbedaan entres pada umur 30, 40, 50, dan 60 hari setelah sambung samping tanaman kakao. Diameter batang . Perlakuan 30 HSS 40 HSS 50 HSS 60 HSS 1,45 1,52 1,50 1,32 1,47 1,49 1,65 1,24 Jumlah 2,92 3,01 3,15 2,56 Rata-rata 1,46 1,50 1,57 1,28 Keterangan : Angka yang diukiti oleh huruf yang sama pada jalur yang sama berbeda sangat nyata pada p . ,05 ( Uji BNJ ). Tabel 6. Menunjukkan bahwa diameter batang sambung samping pada umur 30, 40 ,50 , dan 60 HSS, berpengaruh sangat nyata. Ini menunjukakan bahwa secara statistik, perbedaan teknik pengikatan berpengaruh nyata dan sangat nyata pada perlakuan yang telah dicobakan. Perbedaan teknik pengikatan . wisconteck dan melilit Ismail. Desi Sri Pasca Sari Sembiring, dan Rahmaddin Sahputra Desky batang poho. berpengaruh nyata dengan perbedaan teknik pengikatan. Tunas terpanjang cenderung dijumpai pada P2. Pembahasan Pengaruh Perbedaan Titik Tumbuh Entres Dari hasil penelitian yang dilakukan terlihat bahwa perbedaan titik tumbuh entres, memberikan berpengaruh tidak nyata terhadap panjang tunas dan jumlah helaian daun umur 30, 40, 50, dan 60 HSS, namun berpengaruh nyata terhadap diameter batang umur 30, 50, 60, dan sangat nyata pada 40 HSS. Ada kemungkinan dengan titik tumbuh entres lainnya lebih baik dibanding dengan titik tumbuh yang lainnya, dari titik tumbuh entres lebih baik dilakukan penelitian ulang biar dapat hasil maksimal, entres harus dalam kondisi sehat dan prima. Apabila tanaman yang diambil entresnya tidak dalam kondisi baik, maka perlu dilakukan pemupukan, pemangkasan dan pengendalian hama/penyakit agar tanaman sehat sebelum pengambilan entres. Pemupukan sebaiknya dilakukan satu bulan sebelum pengambilan cabang kipas dilakukan agar cabang sehat dan tersedia cukup kambium pada batang dengan dosis 150 Ae 200 gr/pohon. Daun kakao mempunyai bentuk helai daun bulat memanjang, ujung daun runcing dan pangkal daun runcing, susunan daun menyirip dan pangkal daun menonjol kepermukaan bawah helai daun. Tetapi tetapi daun kuat rata, daging daun tipis seperti perkamen, permukaan daun licin dan mengkilap . uslitlkoka, 2. Pilih pohon terbaik yang berproduksi dan berkualitas tinggi, toleran terhadap hama dan penyakit serta beradaptasi terhadap lingkungan. Cabang yang tumbuh horizontal . ideal untuk dipilih atau digunakan untuk sambung samping . Umur cabang diperkirakan 3 bulan dengan warna kulit cabang coklat kehijauan kira-kira berdiameter 0,75 sampai 1,5 cm. Buang daunnya dengan menggunakan gunting pangkas dan potong menjadi beberapa bagian dengan panjang masing-masing 12 cm dan memiliki 2 Ae 3 mata tunas (Endang Gunawan, 2. Batang sambung samping yang sehat dan bertunas . siap disambung karena pada saat itu kambium tumbuh aktif sehingga pemudahan pelaksanaan pembukaan kulit batang. Apabila kondisi tanaman kurang sehat maka sebelum sambung dapat diberi perlakukan untuk menyehatkan tanaman misalnya pemupukan, pemangkas, pengairan, pengendalian hama dan penyakit (Pujiyanto, 2. Pengaruh Perbedaan Teknik Pengikatan Dari hasil penelitian yang dilakukakan terlihat bahwa perpedaan teknik pengikatan berpengaruh nyata terhadap panjang tunas umur 30, 40, 50, dan 60 HSS,dan berpengaruh sangat nyata jumlah helai daun umur 30, dan umur 40, 50, 60 berpengaruh nyata, namun berpengaruh sangat nyata terhadap diameter batang umur 30, 40, 50, dan 60. HSS. Pengikatan pada sambung samping salah satu faktor yang berpengaruh besar terhadap keberhasilan sambunng samping, pembentukan jaringan kambium baru pada kalus perlu adanya tekanan mekanis, dengan demikian, keeratan pengikatan dan jenis tali yang digunakan sangat berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan. Hal lain juga berpengaruh seperti sungkup harus diikat kuat dengan tali rafia supaya air hujan tidak mudah masuk kedalam luka bekas sayatan (T. Wahyudi, 2. Serambi Saintia. Vol. No. Oktober 2017 ISSN : 2337 - 9952 Daun sama dengan sifat percabangannya, daun kakao juga bersifat dimosfirme artinya bersifat tumbuh ke dua arah. Pada tunas ortotrop, tangkai daunnya panjang, yaitu 7,5-10 cm, sedangkan pada tunas plagiotrop panjang tangkai daunnya hanya 2,5 Bentuk helai daun bulat memanjang . , ujung daun meruncing . , dan pangkal daun runcing . Susunan tulang daun menyirip dan tulang daun menonjol kepermukaan bawah helai daun. Permukaan daun licin dan mengkilap ( Siregar T, 2014 ). Habitat asli tanaman kakao adalah hutan tropis dengan curah hujan tinggi, suhu sepanjang tahun relatif sama, serta kelembaban tinggi dan relatif tetap. Kondisi habitat seperti itu, tanaman kakao akan tumbuh tinggi tetapi bunga dan buahnya sedikit. Jika dibudidayakan di kebun, tinggi tanaman umur tiga tahun mencapai 1,8 Ae 3,0 meter dan pada umur 12 tahun dapat mencapai 4,50 Ae 7,0 meter. Tanaman kakao bersifat dimorfisme, artinya mempunyai dua bentuk tunas vegetatif. Tunas yang arah pertumbuhannya ke atas disebut dengan tunas ortotrop atau tunas air . iwilan atau chupo. , sedangkan tunas yang arah pertumbuhannya ke samping disebut dengan plagiotrop ( Puslit Kopi dan Kakao, 2. Interaksi Antara Titik Tumbuh Dan Teknik Pengikatan Dari hasil penelitian yang dilakukan ada terdapat intraksi antara titik tumbuh entres dan teknik pengikatan terhadap panjang tunas berpengaruh tidak nyata umur 30, 40, 50, dan berpengaruh sangat nyata umur 60 HSS, jumlah daun berpengaruh sangat nyata umur 30 HSS tidak berpengaruh umur 40, 50 dan 60 HSS, dan berpengaruh sangat nyata terhadap diameter batang umur 30, 40, 50, dan 60 HSS. Hal ini diduga karena masing-masing perlakuan memberikan pengaruh berbeda terhadap pertumbuhan sambung samping tanaman kakao. PENUTUP Perbedaan titik tumbuh entres dengan sambung samping tidak berpegaruh nyata terhadap panjang tunas dan jumlah helaian daun umur 30, 40, 50, dan 60 HSS, namun berpengaruh nyata terhadap diameter batang umur 30, 50, 60, dan sangat nyata pada 40 HSS. Perpedaan teknik pengikatan berpengaruh nyata terhadap panjang tunas daun umur 30, 40, 50, dan 60 HSS,dan berpengaruh sangat nyata umur 30, dan umur 40, 50, 60 berpengaruh nyata terhadap jumlah helaian daun, namun berpengaruh sangat nyata terhadap diameter batang umur 30, 40, 50, dan 60. Hari Setelah Sambung. Ada terdapat intraksi antara titik tumbuh entres dan teknik pengikatan terhadap panjang tunas berpengaruh tidak nyata umur 30, 40, 50, dan berpengaruh sangat nyata umur 60 HSS, jumlah daun berpengaruh sangat nyata umur 30 tidak berpengaruh umur 40, 50 dan 60 HSS, dan sangat nyata terhadap diameter batang umur 30, 40, 50, dan 60 HSS DAFTAR PUSTAKA