Indonesian Journal of Educational Development Volume 2 Nomor 4, Februari 2022 DOI: 10.5281/zenodo.6203651 _________________________________________________________________________ MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR FISIKA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) DENGAN MIND MAPPING I Ketut Sudarta SMA Negeri 1 Penebel, Tabanan, Indonesia; sudartaketut1967fis@gmail.com Abstrak. Tujuan dilakukan penelitian tindakan kelas ini pada siswa kelas XII IPA 1 di SMA Negeri 1 Penebel pada semester 1 tahun pelajaran 2015/2016 adalah untuk mengetahui apakah penerapan model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan mind mapping dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik. Penelitian tindakan kelas ini melibatkan 22 subjek penelitian yang dilakukan dalam dua siklus melalui tahapan-tahapan perencanaan, pelaksanaan, observasi/ pengamatan dan refleksi. Tes prestasi belajar merupakan alat yang digunakan dalam mengumpulkan data hasil penelitian yang selanjutnya di analisis menggunakan analisis deskriptif. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan kemampuan peserta didik mengikuti proses pembelajaran dari rata-rata awal 75,54 meningkat menjadi 79,59 pada siklus I dan meningkat menjadi 82,64 pada siklus II dengan ketuntasan belajar awal 63,63% pada siklus I meningkat menjadi 81,81% dan pada siklus II meningkat menjadi 86,36%. Simpulan yang dapat diambil dari hasil tersebut adalah penerapan model pembelajaran contextual teaching and learning dengan mind mapping dalam pelaksanaan proses pembelajaran mampu meningkatkan prestasi belajar fisika siswa kelas XII IPA 1 di SMA Negeri 1 Penebel pada semester 1 tahun pelajaran 2015/2016. Kata kunci: contextual teaching and learning, prestasi belajar Abstract. The purpose of this classroom action research on students of class XII IPA 1 at SMA Negeri 1 Penebel in semester 1 of the 2015/2016 academic year is to find out whether the application of the Contextual Teaching and Learning (CTL) model with mind mapping can improve student learning achievement. This classroom action research involves 22 research subjects conducted in two cycles through the stages of planning, implementation, observation and reflection. Learning achievement test is a tool used in collecting research data which is then analyzed using descriptive analysis. The results obtained from this study indicate an increase in the ability of students to follow the learning process from an initial average of 75.54 increasing to 79.59 in the first cycle and increasing to 82.64 in the second cycle with an initial learning mastery of 63.63% in the first cycle. I increased to 81.81% and in the second cycle increased to 86.36%. The conclusion that can be drawn from these results is that the application of the contextual teaching and learning learning model with mind mapping in the implementation of the learning process is able to improve physics learning achievement for class XII IPA 1 students at SMA Negeri 1 Penebel in semester 1 of the 2015/2016 academic year. Keywords: Contextual teaching and learning, learning achievement PENDAHULUAN Pendidikan merupakan proses yang dilakukan secara terus menerus dari sejak kecil hingga dewasa seiring dengan keingintahuan manusia yang terus ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 599 Indonesian Journal of Educational Development, 2(4), hlm. 599-608, Februari 2022 berkembang (Mardika, 2020). Setiap individu dapat melaksanakan pendidikan tergantung kesempatan yang dimiliki baik dilakukan secara formal, non-formal dan informal. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Aturan tersebut harus menjadi dasar bagi seorang guru dalam memajukan pendidikan di Indonesia dan sekaligus sebagai harapan dari pihak pemerintah agar terwujudnya tujuan pendidikan yang dicanangkan dalam undang-undang tersebut, diperlukan berbagai upaya aktif dari pendidik dalam proses pembelajaran yang efektif dan berdaya guna. Setyowati dan Widana (2016), menyampaikan bahwa dalam proses memajukan pendidikan guru memiliki tanggung jawab besar, dimana guru merupakan ujung tombak pendidikan yang diharapkan mampu mengembangkan proses pembelajaran sehingga dapat berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Guru dapat mengembangkan inisiatif dalam pembelajaran serta guru dapat menjadi pembimbing yang terlibat aktif merubah diri dan pembelajaran yang dilaksanakan. Hal ini dapat dilakukan guru dengan mengembangkan empat kompetensi yang harus dimiliki guru sebagai agen perubahahan dalam pembelajaran. Empat kompetensi yang harus dimiliki guru antara lain kompetensi kepribadian, pedagogik, profesional dan kompetensi sosial. Keempat kompetensi tersebut harus selalu diasah dan dikembangkan guru dalam proses pembelajaran yang dilakukan serta menjalankan peran utamanya dalam hal mendidik mengajar, administrator sekolah, pribadi, dan psikologis (Darmadi, 2015). Tentunya keempat kompetensi ini dikembangkan guru juga terkait dengan proses pembelajaran yang dilakukan terutamanya interaksi dengan peserta didik guna meningkatkan kemampuan peserta didik terutamanya dalam meningkatkan prestasi belajar peserta didiknya. Menurut Rosyid et al. (2019), prestasi belajar merupakan hasil dari suatu kegiatan pembelajaran yang disertai perubahan yang dicapai seseorang (siswa) yang dinyatakan dalam bentuk simbol, angka, huruf, maupun kalimat sebagai ukuran tingkat keberhasilan siswa dengan standarisasi yang telah ditetapkan dan menjadi kesempurnaan bagi siswa baik dalam berfikir dan berbuat. Namun terkadang upaya meningkatkan prestasi belajar ini dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar tidak dapat dilepaskan dari faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar. Faktor tersebut yaitu faktor yang berasal dari dalam diri (faktor intern) dan faktor yang berasal dari luar (faktor ekstern). Faktor yang berasal dari dalam diri siswa meliputi: faktor fisiologi misalnya mengalami sakit, kondisi fisik, secara umum dan kondisi panca indra dan faktor psikologis misalnya ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 600 Indonesian Journal of Educational Development, 2(4), hlm. 599-608, Februari 2022 intelegensi, motivasi, persepsi, sikap, bakat, kemandirian, dan kecerdasan. Faktor yang berasal dari luar diri siswa, seperti kurikulum, kompetensi profesionalisme guru, fasilitas belajar, lingkungan sekolah, lingkungan keluarga, dan lingkungan belajar (Juliana et al., 2017). Terkait dengan proses pembelajaran tidak bisa dilepaskan dari peran guru terutamanya profesionalisme guru dalam menjalankan tugasnya. Guru harus mampu menyelesaikan permasalahan yang terjadi dikelasnya terutama terkait dengan upaya guru dalam mendesain pembelajaran (Leonard, 2015). Dinamika pembelajaran di kelas dipengaruhi banyak hal, jika guru tidak mampu menyelesaikan permasalahan di kelasnya maka akan berdampak negatif bagi siswanya terutama berkaitan dengan prestasi belajar yang diperoleh siswa dalam pembelajaran guru tersebut. Karena guru merupakan salah satu pihak yang akan membantu peserta didik dalam menyelesaikan permasalahannya. Apabila guru mampu memahami hal-hal tersebut, maka guru akan mampu melaksanakan pembelajaran dengan baik dan mau giat memperbaiki kondisi yang ada agar tingkat perkembangan kemampuan peserta didik tidak mengalami gangguan pada tahapan berikutnya. Ditengah usaha guru memperbaiki proses pembelajaran yang dilakukannya terkadang hasil yang diperoleh masih jauh dari harapan. Hal ini juga terjadi dalam pembelajaran fisika di SMA Negeri 1 Penebel, berdasarkan hasil observasi awal diperoleh kenyataan hasil prestasi belajar siswa kelas XII IPA1 di semester 1 tahun pelajaran 2015/2016 baru mencapai nilai rata-rata sebesar 75,54 dengan ketuntasan secara klasikal sebesar 63,63% dapat disadari bahwa hasil tersebut masih sangat jauh dari KKM yang ditetapkan mata pelajaran fisika di SMA Negeri 1 Penebel yaitu 78. Hal ini juga perlu dicarikan solusi pemecahannya agar berdampak pada hasil belajar berupa prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran fisika. Berdasarkan hasil diskusi dengan peserta didik diperoleh informasi ini terjadi karena belum maksimalnya upaya guru dalam memilih dan menerapkan model pembelajaran serta permasalahan yang dibahas belum terkait dengan permasalahan yang dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari sehingga siswa susah menyerap materi yang pada akhirnya berpengaruh terhadap prestasi belajarnya. Menurut Sundari (2015) model pembelajaran adalah satu perangkat pembelajaran yang kompleks yang menaungi metode, teknik, dan prosedur. Menurut Evitasari dan Utamaningtyas (2021) dalam menentukan model pembelajaran yang akan diterapkan guru perlu memperhatikan beberapa hal antara lain (1) Karakteristik materi pelajaran; (2) Karakteristik peserta didik; (3) Kebutuhan peserta didik; (4) Kemampuan guru; dan (5) Ketersediaan sarana dan prasarana. Terkait dengan permasalahan pembelajaran yang terjadi dimana masalah yang dibahas belum seuai dengan kondisi sehari-hari siswa maka model pembelajaran yang sesuai diterapkan adalah model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL). ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 601 Indonesian Journal of Educational Development, 2(4), hlm. 599-608, Februari 2022 Menurut Rosada (2016) pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan atau keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan atau konteks ke permasalahan atau konteks lainnya. Model Contextual Teaching and Learning cocok diterapkan untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa yang secara otomatis dapat meningkatkan prestasi belajar siswa (Pusparina, 2021). Terkait dengan pembelajaran fisika, hasil yang diharapkan dari model Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah adanya peningkatan prestasi belajar fisika. Prestasi belajar fisika merupakan hasil yang diperoleh siswa setelah mengikuti proses belajar fisika (Ekayanti, 2020). Prestasi belajar fisika bisa diperoleh ketika siswa mengikuti tes dalam pembelajaran fisika, jika proses pembelajaran yang dijalankan sudah sesuai, maka prestasi belajar yang diperoleh pun akan sesuai juga. Penerapan model Contextual Teaching and Learning (CTL) diterapkan karena memiliki kelebihan dalam pembelajaran di kelas. Dalam proses pembelajaran, model Contextual Teaching and Learning (CTL) memiliki kelebihan jika diterapkan dengan baik. Menurut Winarti (2015), kelebihan model Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah dalam model pembelajaran ini menghadirkan “dunia nyata” dalam pembelajaran sehingga siswa dekat dengan lingkungannya dalam proses pembelajaran serta siswa mudah memahami materi yang dibahas termasuk permasalahan yang dikaji di dalamnya. Selanjutnya Nurhidayah, et al. (2016) kelebihan dari model Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah (1) Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan nyata. Artinya siswa dituntut mampu menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, karena dengan mampu mengkorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, tidak hanya bagi siswa materi tersebut akan berfungsi secara fungsional, tetapi materi yang dipelajari akan melekat erat dalam ingatan siswa; (2) Pembelajaran lebih produktif dan mampu untuk mendorong penguatan konsep. Kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, dimana seorang siswa dituntun untuk menemukan sendiri pengetahuannya. Melalui landasan filosofis konstruktivisme, siswa diharapkan belajar melalui “mengalami” bukan “menghafal”; (3) Kontekstual adalah pembelajaran yang menekankan pada aktivitas siswa secara utuh, baik fisik maupun mental; (4) Kelas dalam pembelajaran kontekstual bukan sebagai tempat untuk memperoleh informasi, tetapi sebagai tempat untuk menguji temuannya di lapangan; (5) Materi pelajaran dapat ditemukan sendiri oleh siswa, bukan hasil pemberian dari guru; dan (6) penerapan pembelajaran Kontekstual dapat menciptakan suasana belajar yang bermakna. ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 602 Indonesian Journal of Educational Development, 2(4), hlm. 599-608, Februari 2022 Dalam pembelajaran dengan model Contextual Teaching and Learning dijalankan berdasarkan 5 sintaks pembelajaran antara lain (1) orientasi; (2) presentasi; (3) latihan terstruktur; (4) latihan terbimbing; dan (5) latihan mandiri (Komalasari et al., 2018). Selain itu, terkait dengan materi dalam pembelajaran fisika yang lumayan sulit bagi siswa dapat disederhanakan sehingga lebih mudah dipahami dengan memanfaatkan mind mapping. Menurut Permatasari (2013) mind mapping merupakan media yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan antara satu persoalan dengan persoalan lainnya baik dalam hal perbandingan, tingkatan, keterkaitan, dan relasi lainnya. Sehingga diharapakan bahwa dengan menjalankan sintaks model Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan mind mapping ini pembelajaran bisa berjalan dengan baik dan pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Berdasarkan pemaparan di atas, adapun permasalahan yang ingin dikaji dalam penelitian ini apakah penerapan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan Mind Mapping dapat meningkatkan prestasi belajar Fisika siswa kelas XII IPA 1 SMA Negeri 1 Penebel?, selanjutnya adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar fisika siswa kelas XII IPA 1 SMA Negeri 1 Penebel setelah mengikuti pembelajaran fisika dengan menerapkan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL). Dengan upaya guru menerapkan pembelajaran fisika dengan menerapkan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan mind mapping siswa akan diajak melaksanakan pembelajaran yang mengutamakan konteks dalam kehidupan sehari-hari serta konsep yang diperlukan dalam pembelajaran akan di ringkas dan dibuat alur yang sesuai berdasarkan mind mapping sehingga akan meningkatkan pemahaman dan semangat belajar peserta didik dalam mata pelajaran fisika khususnya dikelas XII IPA 1 SMA Negeri 1 Penebel yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan prestasi belajar fisika siswa di kelas tersebut. Terkait dengan hal tersebut, maka perlu direalisasikan dalam bentuk penelitian tindakan kelas (PTK) yang berjudul meningkatkan prestasi belajar fisika melalui penerapan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan mind mapping XII IPA 1 SMA Negeri 1 Penebel. METODE Penelitian ini dilaksanakan pada SMA Negeri 1 Penebel, Tabanan, Bali. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII IPA 1 semester 1 Tahun Pelajaran 2015/2016 SMA Negeri 1 Penebel. Objek dalam penelitian ini adalah prestasi belajar siswa kelas XII IPA1 SMA Negeri 1 Penebel setelah diterapkan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan mind mapping. Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dimulai dari bulan Juli sampai bulan Desember 2015. Penelitian ini dilaksanakan ke dalam beberapa siklus menyesuaikan dengan kriteria keberhasilan. Dalam tiap siklusnya dilaksanakan beberapa tahap anatara lain perencanaan, pelaksanaan, observasi/ pengamatan dan refleksi. Dari ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 603 Indonesian Journal of Educational Development, 2(4), hlm. 599-608, Februari 2022 setiap siklus yang dilaksanakan akan diperoleh data tentang prestasi belajar. Terkait dengan instrumen yang digunakan adalah tes prestasi belajar. Sebelum mengumpulkan data tentang prestasi belajar maka disusun instrumen penelitian berupa kisi-kisi tes hasil belajar untuk mendapatkan data. Untuk mengetahui keberhasilan penelitian yang peneliti laksanakan, terlebih dahulu menetapkan indikator keberhasilan untuk memberikan batasan tingkat ketercapaian hasil tindakan. Indikator keberhasilan ditentukan capaian nilai rata-rata 78 atau lebih dengan ketuntasan belajar minimal 85%. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada kelas XII IPA 1 semester 1 Tahun Pelajaran 2015/2016 SMA Negeri 1 Penebel. Dalam pelaksanaannya penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus yang diawali dari kegiatan pra siklus yang dilaksanakan mulai bulan Juli sampai Desember 2021. Kegiatan penelitian diawali dari kegiatan pra siklus, dalam kegiatan pra siklus, kegiatan ini dilakukan sebagai bahan refleksi awal dalam melakukan penelitian tindakan kelas lebih lanjut. Dalam kegiatan pra siklus diperoleh data prestasi belajar siswa kelas XII IPA 1 seperti yang terangkum Dalam Tabel 1. tentang prestasi belajar siswa kelas XII IPA 1 semester I tahun pelajaran 2015/2016 Pra Siklus berikut ini. Tabel 1. Prestasi Belajar Siswa Kelas XII IPA 1 Semester I Tahun Pelajaran 2015/2016 PraSiklus Observasi awal Jumlah Nilai 1662 Rata-rata (Mean) 75,54 KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) 78 Jumlah Siswa yang Mesti Diremidi 8 Jumlah Siswa yang Perlu Diberi Pengayaan 14 Prosentase Ketuntasan Belajar 63,63% Berdasarkan Tabel 1. diperoleh data awal dari penelitian yang dilakukan dapat disampaikan 14 orang anak yang memperoleh nilai di atas KKM, yang artinya anak-anak tersebut sudah cukup mampu menerapkan ilmu. Ini berarti 63,63% dari seluruh siswa sudah berhasil. Ada 8 orang anak yang memperoleh penilaian di bawah KKM yang artinya anak-anak tersebut belum mau belajar giat. Persentase yang dapat diberikan adalah 36,37%, artinya anak masih pasif dan belum banyak berbuat. Observasi awal ini menggambarkan tingkat pencapaian prestasi belajar masih rendah. Berdasarkan data awal yang diperoleh ini penulis melaksanakan pembelajaran dengan menerapkan model Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan mind mapping sebagai upaya perbaikan pembelajaran sesuai dalam siklus I. ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 604 Indonesian Journal of Educational Development, 2(4), hlm. 599-608, Februari 2022 Berdasarkan hasil kegiatan pra siklus, maka kegiatan dilaksanakan dengan melaksanakan siklus I. Tindakan awal yang dilakukan adalah guru selaku peneliti merencanakan untuk memperbaiki prestasi belajar fisika yang masih di bawah KKM memanfaatkan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL), selanjutnya untuk memperdalam pemahaman tentang model yang akan diterapkan, guru selaku peneliti melakukan pengkajian beberapa literatur yang sesuai dengan permasalahan yang akan diselesaikan. Tindak lanjut berikutnya adalah menyusun jadwal penelitian, materi, RPP, soal-soal sebagai instrumen untuk mengumpulkan data hasil penelitian. Selanjutnya dilaksanakan kegiatan pelaksanaan pembelajaran sekaligus kegiatan observasi. Berdasarkan kegiatan tersebut diperoleh data prestasi belajar pada siklus I sesuai Tabel 2. berikut ini: Tabel 2. Data prestasi belajar siklus I siswa kelas XII IPA 1 semester I tahun pelajaran 2015/2016 Observasi awal Jumlah Nilai 1751 Rata-rata (Mean) 79,59 KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) 78 Jumlah Siswa yang Mesti Diremidi 4 Jumlah Siswa yang Perlu Diberi Pengayaan 18 Prosentase Ketuntasan Belajar 81,81% Berdasarkan tabel 2. tentang Data prestasi belajar siklus I siswa kelas XII IPA 1 semester I tahun pelajaran 2015/2016 diperoleh hasil tes pada siklus I siswa yang mendapat nilai dibawah KKM (N < KKM) sebanyak 4 orang siswa (18,18%), mendapat nilai sama dengan KKM ( N= KKM )sebanyak 4 orang siswa (18,18%) dan memperoleh nilai diatas KKM (N > KKM) sebanyak 14 orang siswa (63,63%), dimana dari 14 orang siswa tersebut yang diberi pengayaan. Dengan nilai rara-rata sebesar 79,59. Prosentase ketuntasan belajar pada siklus I sebesar 81,81%, jika dilihat dari kriteria keberhasilan yang sudah ditetapkan ketuntasan belajar klasikal pada siklus I belum memenuhi hal ini disebabkan karena beberapa hal terutamanya terkait dengan aktifitas siswa yang belum maksimal karena belum memahami arahan guru serta belum terbiasa dengan pembelajaran yang dilaksanakan, guru menjadi lebih mendominasi pembelajran sehingga kesempatan siswa belum maksimal aik dalam kegiatan pembelajaran maupun prestasi belajar yang diperoleh, sehingga kegiatan penelitian dilanjutkan ke siklus II. Dalam pelaksanaan siklus II dilakukan beberapa perbaikan sebagai bentuk kekurangan dalam siklus I, dalam tahap perencanaan disesuaikan perencanaan yang telah dibuat. Terkait dengan tindakan dalam penelitian guru memberikan pemahaman kepada siswa tentang alur pelaksanaan pembelajaran pada siklus II dengan memanfaatkan model Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan mind mapping. Dalam pelaksanaan tindakan dan observasi siklus II diperoleh data tentang hasil prestasi belajar fisika siswa pada siklus II sesuai tabel 3. berikut ini. ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 605 Indonesian Journal of Educational Development, 2(4), hlm. 599-608, Februari 2022 Tabel 3. Data prestasi siklus II belajar siswa kelas XII IPA 1 semester I tahun pelajaran 2015/2016 Observasi awal Jumlah Nilai 1818 Rata-rata (Mean) 82,64 KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) 78 Jumlah Siswa yang Mesti Diremidi 3 Jumlah Siswa yang Perlu Diberi Pengayaan 19 Prosentase Ketuntasan Belajar 86,36% Berdasarkan tabel 3. tentang data prestasi belajar siklus II siswa kelas XII IPA 1 semester I tahun pelajaran 2015/2016 diperoleh data siswa yang belum tuntas (N < KKM) hanya 3 orang siswa (13,64%), memperoleh nilai sama dengan KKM (N = KKM) sebanyak 1 orang siswa (4,54%) sedangkan yang mendapat nilai diatas nilai KKM (N > KKM) sebanyak 18 orang siswa (81,82%), dengan rara-rata yang diperoleh pada siklus II sebesar 82,64. Prosentase ketuntasan belajar sebesar 86,36%. Jika dilihat dari kriteria keberhasilan, hasil yang diperoleh pada siklus II sudah memenuhi kriteria keberhasilan yang ditetapkan sehingga penelitian dikatakan telah berhasil. Hal ini tidak terlepas dari upaya guru untuk giat melakukan diskusi, memberi pengertian-pengertian pada siswa dalam upaya menstimulir kegiatan yang dilakukan demi adanya perbaikan. Guru mengupayakan dalam pembelajaran siswa lebih banyak mengambil peran sehingga kegiatan ceramah yang sebelumnya didominasi oleh guru dapat dikurangi. Hal tersebut memberikan kesempatan lebih besar kepada siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran sehingga kegiatan menjadi lebih menyenangkan dan siswa mendapat lebih banyak waktu mengkaji permasalahan sehari-hari yang berkaitan dengan konsep fisika. Secara tidak langsung aktifitas siswa memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami materi lebih baik sehingga dapat meningkatkan prestasi belajarnya. Berdasarkan data yang diperoleh dari tindakan pra siklus, siklus I dan siklus II dapat diketahui telah terjadi peningkatan prestasi belajar siswa dilihat dari ketuntasan belajar secara klasikal, pada tindakan pra siklus diperoleh ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 63,63%, meningkat menjadi 81,81% pada siklus I, dan meningkat kembali menjadi 86,36 pada siklus II. Ini menunjukkan bahwa hipotesis penelitian penerapan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan Mind Mapping dapat meningkatkan prestasi belajar fisika pada siswa kelas XII IPA 1 SMA Negeri 1 Penebel dapat dibuktikan, serta tujuan penilitan sudah dapat dicapai dengan baik. ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 606 Indonesian Journal of Educational Development, 2(4), hlm. 599-608, Februari 2022 SIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan penerapan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan Mind Mapping dapat meningkatkan prestasi belajar fisika pada siswa kelas XII IPA 1 SMA Negeri 1 Penebel, hal ini dapat dilihat dari terpenuhinya kriteria keberhasilan serta meningkatnya prestasi belajar siswa. adapun rekomendasi yang dapat disampaikan agar guru selalu berupaya menyelesaiakan kendala pembelajaran yang dihadapi di dalam kelasnya melalui penelitian tindakan kelas, terkait dengan permasalahan yang sama dapat digunakan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan Mind Mapping agar bisa mendekatkan kegiatan belajar siswa dengan kondisi nyata yang dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari dan pembelajaran menjadi terstruktur dengan mind mapping. DAFTAR PUSTAKA Darmadi, H. (2015). Tugas, Peran, Kompetensi, dan Tanggung Jawab Menjadi Guru Profesional. Edukasi: Jurnal Pendidikan, 13(2), 161174 .http://dx.doi.org/10.31571/edukasi.v13i2.113. Ekayanti, N. W. (2020). Implementasi model pembelajaran outdoor POCE untuk meningkatkan hasil belajar fisika siswa kelas X multimedia SMK Negeri 1 Tampaksiring. IJED: Indonesian Journal of Educational Development, 1(2), 180-189. https://doi.org/10.5281/zenodo.4003807. Evitasari, A. D. & Utamaningtys, S. (2021). Pendampingan penyusunan rpp “satu halaman” bagi guru sekolah dasar. Intan Cendikia: Jurnal Pengabdian Masyarakat 2(1), 1-14. http://jurnal.intancendekia.org/index.php/Intan_Cendekia/article/view/ 123/116. Juliana, D. G., Widana, I. W., & Sumandya, I. W. (2017). Hubungan motivasi berprestasi, kebiasaan belajar dan minat belajar terhadap hasil belajar matematika. Emasains, 6(1), 40-60. ISSN 2302-2124. Komalasari, N. Rochman, C., Nasrudin, D., & Supriatna S. (2018). Mengukur efektivitas proses pembelajaran fisika contextual teaching and learning (CTL). Jurnal Wahana Pendidikan Fisika 3(2), 68-73. https://doi.org/10.17509/wapfi.v3i2.13733. Leonard, (2015). Kompetensi tenaga pendidik di Indonesia: analisis dampak Rendahnya kualitas SDM guru dan solusi perbaikannya. Formatif: Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA, 3(3), 192-201. http://dx.doi.org/10.30998/formatif.v5i3.643. Mardika, I. K. (2020). Upaya meningkatkan sikap ilmiah dan hasil belajar kimia melalui penerapan model pembelajaran inkuiri. Indonesian Journal of Educational Development, 1(2), 311-321. https://doi.org/10.5281/zenodo.4006135. Nurhidayah, N., Yani, A., & Nurlina, N. (2016). Penerapan model contextual teaching learning (CTL) terhadap hasil belajar fisika pada siswa kelas XI SMA handayani sungguminasa kabupaten gowa. Jurnal Pendidikan Fisika, 4(2), 161-174. https://doi.org/10.26618/jpf.v4i2.307. ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 607 Indonesian Journal of Educational Development, 2(4), hlm. 599-608, Februari 2022 Permatasari, I. (2013). Penerapan media mind mapping program pada model pembelajaran contextual teaching and learning (CTL) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar fisika pada siswa kelas XI.A2 SMA Negeri 4 Surakarta. Jurnal Pendidikan Fisika, 1(2), 28-33. https://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/pfisika/article/view/2799/1915 Pusparina, R. (2021). Meningkatkan motivasi berprestasi siswa melalui model pembelajaran kooperatif dengan pendekatan CTL. Indonesian Journal of Educational Development, 2(2), 391-400. https://doi.org/10.5281/zenodo.5257412. Rosada, U. D. (2016). Strategi pembelajaran yang humanis berbasis contextual teaching and learning (CTL). Jurnal CARE Edisi Khusus Temu Ilmiah, 03(3), 21-31. http://ejournal.unipma.ac.id/index.php/JPAUD/article/view/596. Rosyid, M. Z., Mustajab, & Abdullah A. R. (2019). Prestasi Belajar. Literasi Nusantara. Setyowati, D. & Widana, I. W. (2016). Pengaruh minat, kepercayaan diri, dan kreativitas belajar terhadap hasil belajar matematika. Emasains, 5(1), 66-72. ISSN 2302-2124. Sundari, H. (2015). Model-model pembelajaran dan pemefolehan bahasa kedua/asing. Pujangga: Jurnal Bahasa dan Sastra, 1(2), 106-117. http://dx.doi.org/10.47313/pujangga.v1i2.321. Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Winarti. (2015). Contextual Teaching And Learning (CTL) untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa. Jurnal Pendidikan Fisika dan Keilmuan, 1(1). 1-8. http://doi.org/10.25273/jpfk.v1i1.4. ___________________________________________________________________ ISSN 2722-1059 (Online); ISSN 2722-3671 (Print) 608