Volume 5 Nomor 1 Bulan September Tahun 2025 https://jurnal. Analisis Dana Kementrian Koperasi Dan UMKM Dalam Mengurangi Kemiskinan dan Penyerapan Tenaga Kerja Provinsi Banten Yayah Rukayah Universitas Syekh Nawawi Banten Jl. Kp. Kemuludan. Tanara. Kec. Tanara. Kabupaten Serang. Banten 42194 yayahrahmat2@gmail. Naskah masuk: 23-08-2025, direvisi: 25-08-2025, diterima: 29-08-2025, dipublikasi: 01-09-2025 ABSTRAK Pemberdayaan Koperasi dan UMKM secara terstruktur dan berkelanjutan, diharapkan akan mampu menyelaraskan struktur perekonomian daerah, dan berperan besar dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah, mengurangi tingkat pengangguran, menurunkan tingkat kemiskinan, mendinamisasi sektor riil, dan memperbaiki pemerataan pendapatan masyarakat. Penelitian ini dilatarbelakangi dengan adanya kenaikan tingkat kemiskinan di Banten yang disebabkkan oleh kurangnya lapangan kerja, serta kurangnya kualitas sumberdaya manusia terutama mengenai tingkat kemiskinan dan ketenagakerjaan di Provinsi Banten. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dana bergulir terhadap pengurangan kemiskinan dan peningkatan penyerapan tenaga kerja. Metode analisis yang digunakan meliputi uji parsial . , uji simultan . ji F), dan uji koefisien determinasi (RA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial, dana bergulir berpengaruh signifikan terhadap pengurangan kemiskinan dengan nilai thitung > ttabel . ,601 > 2,. dan terhadap peningkatan ketenagakerjaan dengan nilai thitung > ttabel . ,872 > 2,. Secara simultan, dana bergulir berpengaruh signifikan terhadap kedua variabel tersebut dengan nilai Fhitung > Ftabel . ,437 > 4,. Koefisien determinasi menunjukkan bahwa dana bergulir berkontribusi sebesar 13% terhadap pengurangan kemiskinan dan 78% terhadap peningkatan ketenagakerjaan. Temuan ini secara empiris membuktikan bahwa keberadaan dana bergulir mampu mendorong pengembangan UMKM, mengoptimalkan realisasi anggaran daerah, serta berperan sebagai instrumen intermediasi keuangan yang efektif dalam memperkuat perekonomian regional maupun nasional secara Kata Kunci: Dana Bergulir. Kemiskinan. Ketenagakerjaan. UMKM. Pertumbuhan Ekonomi. ABSTRACT Empowerment of Cooperatives and MSMEs in a structured and sustainable manner is expected to be able to harmonize the structure of the regional economy, and play a major role in accelerating regional economic growth, reducing unemployment rates, reducing poverty rates, dynamizing the real sector, and improving the distribution of community income. This research is motivated by the increase in poverty rates in Banten caused by a lack of employment opportunities, as well as the lack of quality human resources, especially regarding the level of poverty and employment in Banten Province. This study aims to analyze the effect of revolving funds on poverty reduction and increasing employment. The analysis methods used include partial tests . -tes. , simultaneous tests (F-tes. , and coefficient of determination tests (RA). The results of the study indicate that partially, revolving funds have a significant effect on poverty reduction with a calculated t value > t table . 601 > 2. and on increasing employment with a calculated t value > t table . 872 > 2. Simultaneously, the revolving fund significantly impacted both variables, with a calculated F value > F table . 437 > 4. The coefficient of determination Ad- Diwan:Journal of Islamic Economics Creative Commons Attribution 4. 0 International License. indicates that the revolving fund contributed 13% to poverty reduction and 78% to employment growth. These findings empirically demonstrate that the existence of a revolving fund can encourage MSME development, optimize regional budget realization, and serve as an effective financial intermediation instrument in strengthening the regional and national economy as a whole. Keywords: Revolving Fund. Poverty. Employment. MSMEs. Economic Growth. PENDAHULUAN Pemberdayaan Koperasi dan UMKM secara terstruktur dan berkelanjutan, diharapkan akan mampu menyelaraskan struktur perekonomian daerah, dan berperan besar dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah, mengurangi tingkat pengangguran, menurunkan tingkat kemiskinan, mendinamisasi sektor riil, dan memperbaiki pemerataan pendapatan masyarakat. Ekonomi Indonesia akan memiliki pondasi yang kokoh jika Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi pelaku utama yang produktif dan mampu bersaing secara nasional. Oleh karena itu, pembangunan dan pengembangan UMKM perlu menjadi fokus utama dalam pembangunan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang (Sugita & Sinarwati, 2. Pemberdayaan Koperasi dan UMKM diarahkan pada upaya meningkatkan produktivitas dan daya saingnya, serta secara sistematis diarahkan pada upaya menumbuhkan wirausaha baru di sektor-sektor yang memiliki produktivitas tinggi, berbasis pengetahuan, teknologi dan sumberdaya lokal. (Sugiyarsih, 2. Peran koperasi usaha mikro kecil dan menengah (KUMKM) dalam perekonomian daerah Provinsi Banten dapat dilihat dari: . kedudukannya sebagai pemain utama dalam kegiatan ekonomi diberbagai sektor, . penyedia lapangan kerja terbesar, . pemain penting dalam pengembangan kegiatan ekonomi lokal dan pemberdayaan masyarakat, . pencipta pasar baru dan sumber inovasi, serta . sumbangannya dalam neraca pembayaran melalui kegiatan ekspor. Dengan melihat kinerja Koperasi dan UMKM di atas, merupakan bukti bahwa Koperasi dan UMKM sebagai katup pengaman, dinamisator dan stabilisator perekonomian daerah dan nasional, bahkan dapat dikatakan bahwa kiprahnya dalam pembangunan merupakan solusi bagi ekonomi masyarakat (Renstra, 2. Capaian kinerja ekonomi makro daerah tidak terlepas dari kontribusi pembangunan bidang Koperasi dan UMKM yang dikoordinasikan oleh SKPD yang membidangi Urusan Koperasi dan UMKM selama ini (Setiawan & Rejekiningsih, 2. Secara sektoral perlu dikemukakan, bahwa Koperasi dan UMKM adalah ekonomi rakyat yang merupakan kelompok pelaku ekonomi terbesar dalam perekonomian daerah Banten, serta telah menjadi dinamisator pertumbuhan ekonomi daerah. Perekonomian daerah Banten masih didominasi oleh sektor dengan produktivitas yang rendah, seperti: sektor pertanian, perdagangan dan industri rumah tangga. Pada sektor dengan produktivitas yang rendah inilah jumlah usaha mikro dan kecil terkonsentrasi . ,99 %) yang memperebutkan posisi PDB sebesar 48,74 % pada tahun 2006 . agi UMKM). Hal ini mengindikasikan, bahwa produktivitas dan daya saing UMKM masih rendah, dan oleh karena itu sangat perlu sekali untuk terus dibina melalui berbagai bimbingan, pengarahan maupun bantuan agar perusahaan tersebut tetap dapat beroperasi serta meningkatkan kinerjanya. Pemberdayaan Koperasi dan UMKM juga berkaitan erat dengan upaya untuk mencapai Millenium Development Goals (MDGAo. atau tujuan pembangunan Ad- Diwan:Journal of Islamic Economics Creative Commons Attribution 4. 0 International License. millenium yang ditujukan pada pencapaian hak-hak dasar kebutuhan hidup bagi segenap bangsa Indonesia, khususnya menyangkut menanggulangi pengentasan kemiskinan dan kelaparan yang ekstrim, mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, dan membangun kemitraan global dalam pembangunan terutama dengan mengembangkari usaha produktif yang layak dijalankan untuk kaum muda (Marlinah, 2. Pembangunan koperasi di Provinsi Banten periode 2007-2012 mengalami kemajuan yang cukup menggembirakan, jika diukur dari kinerja internal koperasi di Provinsi Banten. Jumlah koperasi mengalami kenaikan 9,22% dari 5. 388 unit pada tahun tahun 2007 menjadi 830 unit pada tahun 2011. Jumlah koperasi yang aktif mengalami perkembangan 36,06%, 131 unit pada posisi 2007 menjadi 4. 260 unit pada posisi 2011. Sehingga adanya penurunan koperasi yang tidak aktif . ang dapat dibina kembal. 28,87% dari 2. 207 unit pada tahun 2007 menjadi 1. 570 unit pada posisi 2011. Jumlah anggota mengalami peningkatan 24,65%, dari 872. 203 orang pada tahun 2007 menjadi 1. 170 orang pada Koperasi yang menyelenggarakan RAT dengan tepat waktu sebagai kekuasaan tertinggi dalam tata kehidupan koperasi mengalami peningkatan 4,00%, dari 1. 002 unit pada tahun 2007 menjadi 1. 042 unit pada tahun 2011. Koperasi yang telah memanfaatkan tenaga manajer turun 43,88%, dari 1. 837 unit pada tahun 2007 menjadi 1. 031 unit pada posisi tahun Hal ini terkandung prinsip efisiensi mengingat kelonggaran prinsip manajemen bahwa pengangkatan manajer merupakan kebijakan pengurus dan terkait dengan posisi kelembagaan pengawas. Penyerapan tenaga kerja yang tergambar pada posisi karyawan koperasi mengalami peningkatan 3,79%, dari 6. 929 orang pada posisi 2007 menjadi 7. orang pada posisi tahun 2011. Pada tahun 2006. UMKM telah memberikan lapangan kerja 636 orang penduduk Banten, dan merupakan tumpuan utama penyerapan tenaga kerja pada masa mendatang. Dari jumlah tersebut, usaha mikro menyerap tenaga kerja 463 orang . ,64%), usaha kecil menyerap 366. 546 orang . ,51%) dan usaha menengah menyerap 106. 627 orang . ,84%) (BPS, 2. Berdasarkan hasil kombinasi terhadap komponen-komponen SWOT yang meliputi: kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman, dengan didasarkan atas pertimbangan 3 . hal, yaitu: . isu dapat menciptakan dan mendorong pencapaian visi dan misi Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Banten. mampu mencari solusi atas isu yang berkembang. dapat melaksanakan suatu solusi yang ditemukan. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka isu strategis bagi Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Banten dalam rangka pemberdayaan Koperasi. Usaha Mikro Kecil dan Menengah, meliputi: a. ) Rendahnya akses terhadap sumberdaya produktif . odal, bahan baku, keterampilan, informasi, teknologi, dan ) Rendahnya kualitas sumber daya manusia . endidikan, keterampilan, kompetensi, kewirausahaa. ) Rendahnya produktivitas (Nasional: 0,014% dari produktivitas usaha besar, 56% dari produktivitas usaha secara nasional. ) Tingginya biaya transaksi/usaha . ungutan, perijinan, ketersediaan infrastruktu. )Rendahnya daya saing (UKM Indonesia = 3,5 dari maksimal skor 10. Isu Strategis ini menggambarkan prioritas penanganan yang dijadikan Agenda Utama dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Banten periode tahun 2012-2017. Sehingga ada satu daerah yang lebih maju karena pemerintahnya sangat peduli terhadap koperasi namun di sisi lain ada juga yang koperasinya sangat tidak bergerak karena di pandang sebelah mata. Sehingga pemerataan koperasi di Indonesia menjadi tidak merata (Sugiyanto, 2. Ad- Diwan:Journal of Islamic Economics Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Pada tahun 1994 lembaga manajemen fakultas ekonomi universitas indonesia (FEUI) mengusulkan beberapa kriteria kualitatif tentang pola pembangunan koperasi di masa yang akan datang. AuKoperasi harus memiliki kemampuan untuk mengantisipasi kecenderungan perubahan lingkungan. Ay Kriteria ini berdasarkan pemikiran bahwa sbagian besar atau mungkin semua koperasi primer di Indonesia masih belum mempunyai kemampuan untuk mempraktikan segala kemungkinan yang akan terjadi di masa yang akan Karena itu kelembagaan koperasi koperasi yang memiliki tenaga ahli harus banyak melakukan studi dan penelitian mengenai dampak perubahan maslah-maslah ekonomi, politik, teknologi, dan sosial budaya yang berkembang dalam kehidupan masyarakat (Aribawa, 2. Sistem perekonomian Indonesia dikenal ada tiga pilar utama yang menyanggah perekonomian yakni BUMN. BUMS dan koperasi. Ketiga pilar ekonomi tersebut mempunyai peranan masing-masing yang sangat spesifik sesuai dengan kapasitasnya. Sayangnya seperti yang diungkapkan oleh widiyanto . Dari ketiga pilar itu koperasi sering disebut sebagai soko guru perekonomian nasional, secara ekonomi merupakan suatu pilar yang jalannya paling terseok- seok, di bandingkan dengan BUMN dan BUMS padahal koperasi selama ini sudah didukung oleh pemerintah . ahkan berlebiha. sesuai kedudukan istimewa dari koperasi di dalam perekonomian indonesia. Sebagai soko guru perekonomian ide dasar pembentukan koperasi sering di kaitkan dengan pasal 33 UUD 1945. Khususnya ayat 1 yang menyebutkan bahwa Auperekonomian disusun sebgai usaha bersama berdasarkan atas asas Mengenai jumlah koperasi yang meningkat cukup pesat sejak krisis ekonomi 1997-1998 menurut soetrisno . pada dasarnya sebagai tanggapan terhadap dibukanya secara luas pendirian koperasi dengan pencabutan inpres. 4/1984 dan lahirnya inpres 18/1998, sehingga orang bebas mendirikan koperasi pada basis pengembangan dan hingga 2001 sudah lebih dari 35 basis pengorganisasian koperasi. Salah satu indikator yang umum digunakan untuk mengukur kinerja koperasi adalah perkembangan volume usaha dan sisa hasil usaha (SHU). Data yang ada menunjukan bahwa kedua indikator tersebut mengalami peingkatan selama periode 2000-2006. Untuk volume usaha naik, nilainya menjadi hampir 23,1 triliun rupiah pada tahun 2000 ke hampir 54,8 triliun rupiah tahun 2006, sedangkan SHU dari 695 miliar rupiah tahun 2000 menjadi 3,1 triliun rupiah tahun 2006. Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Banten dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Banten Nomor 3 Tahun 2012 tentang Pembentukan Organisasi Perangkat Daerah Provinsi Banten. Pasal 76 menyebutkan bahwa: Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah merupakan unsur pelaksana otonomi daerah di bidang koperasi dan usaha mikro kecil dan menengah (Renstra, 2. TINJAUAN PUSTAKA Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peran vital dalam perekonomian Indonesia, menyumbang lebih dari 60% Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap lebih dari 97% tenaga kerja (Zulvikri, 2. Meskipun demikian. UMKM seringkali menghadapi berbagai tantangan yang menghambat pertumbuhan dan Beberapa tantangan utama yang dihadapi UMKM meliputi keterbatasan akses terhadap modal, keterbatasan penguasaan teknologi, serta kesulitan dalam Ad- Diwan:Journal of Islamic Economics Creative Commons Attribution 4. 0 International License. mengakses pasar yang lebih luas (Yolanda, 2. Akses terhadap modal merupakan salah satu masalah paling signifikan yang dihadapi oleh UMKM. Banyak UMKM kesulitan mendapatkan pembiayaan dari lembaga keuangan formal karena persyaratan yang ketat dan suku bunga yang tinggi. Keterbatasan modal ini sering kali menghambat kemampuan UMKM untuk berinvestasi dalam pengembangan usaha, inovasi, dan ekspansi bisnis (Bakri. Suri. Sahara, & Pratama, 2. Koperasi dapat berfungsi sebagai lembaga yang menyediakan akses pembiayaan dengan syarat yang lebih mudah dan bunga yang lebih rendah, sehingga membantu UMKM mendapatkan modal yang diperlukan untuk berkembang. Selain itu, koperasi juga dapat menyediakan pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan penguasaan teknologi bagi anggotanya, serta membangun jaringan pasar yang lebih luas untuk membantu UMKM dalam ekspansi bisnis mereka. Optimalisasi peran koperasi dalam mendukung UMKM tidak hanya penting untuk keberlanjutan dan pertumbuhan UMKM itu sendiri, tetapi juga untuk memperkuat perekonomian nasional secara keseluruhan. Dengan memfasilitasi akses modal, penguasaan teknologi, dan ekspansi pasar, koperasi dapat berkontribusi signifikan dalam meningkatkan daya saing dan kesejahteraan ekonomi UMKM, yang pada gilirannya akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan (Tambunan, 2. Optimalisasi peran koperasi tidak hanya sekadar sebuah kebutuhan, tetapi juga merupakan suatu keharusan dalam rangka membangun ekonomi yang inklusif dan Koperasi yang kuat dan berdaya saing akan menjadi motor penggerak utama dalam transformasi ekonomi yang lebih adil dan merata, memberikan manfaat yang luas bagi seluruh lapisan masyarakat. Optimalisasi peran koperasi dalam mendukung UMKM adalah sebuah upaya strategis yang memerlukan komitmen dan kerjasama dari berbagai pihak. Dengan menyediakan akses modal, teknologi, dan pasar yang lebih baik, koperasi dapat menjadi katalisator bagi pertumbuhan dan keberlanjutan UMKM. Dukungan dari pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat luas sangat penting untuk menciptakan ekosistem yang memungkinkan koperasi dan UMKM untuk berkembang Melalui pendekatan yang holistik dan terintegrasi, koperasi dapat membantu UMKM untuk mengatasi tantangan dan memanfaatkan peluang yang ada di era globalisasi dan digitalisasi ini. Dengan demikian, koperasi tidak hanya akan berperan dalam meningkatkan kapasitas dan kesejahteraan ekonomi UMKM, tetapi juga akan berkontribusi signifikan terhadap pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di Indonesia (Aribawa, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini termasuk jenis penelitian kuantitatif yaitu suatu proses menemukan pengetahuan yang menggunakan data berupa angka sebagai alat menganalisis keterangan mengenai apa yang ingin kita ketahui. Dalam penelitian ini analisis data menggunakan Statistik yang digunakan dapat berupa statistik deskriptif dan inferensial/induktif. Statistik inferensial dapat berupa statistik parametris dan statistik nonparametris. Peneliti menggunakan statistik inferensial bila peneliti dilakukan pada sampel yang diambil secara random (Sugiyono, 2. Data yang digunakan adalah data sekunder atau data tangan kedua adalah data yang diperoleh lewat pihak lain, tidak langsung diperoleh oleh peneliti dari subjek penelitiannya. Ad- Diwan:Journal of Islamic Economics Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Data sekunder biasanya berwujud data dokumentasi atau data laporan yang tersedia. Dalam penelitian ini di ambil dari laporan keuangan . ana berguli. yang ada di dinas koperasi dan UMKM dan banyaknya jumlah ketenaga kerjaan dan kemiskinan yang dipublikasikan pada situs w. BPSBanten. Selain pengumpulan dokumen laporan keuangan, penulis juga melakukan beberapa teknik pengumpulan data. Penelitian normatif . ibrary researc. , dalam hal ini penulis membaca dan mempelajari teori-teori yang ada hubungannya dengan masalah pokok pembahasan melalui buku-buku referensi, penelitian terdahulu, jurnal, artikel, internet dan media lainnya yang berhubungan dengan media ini. Dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda. Berganda, yaitu hubungan dalam bentuk persamaan yang menghubungkan antara dua variabel terikat (Y1 dan Y. dengan satu variabel bebas (X1,) dalam suatu persamaan linier. HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas Tabel 1. Uji Normalitas kemiskinan dan Ketenagakerjaan Keterangan Dana Bergulir (X) Kemiskinan (Y. Tingkat Signifikansi Keterangan Dana Bergulir (X) Ketenagakerjaan (Y. Tingkat Signifikansi Sumber: Output SPSS Dari data di atas, tentang dana bergulir yang telah diolah, berdasarkan hasil menggunakan One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test, menunjukkan bahwa data dana bergulir (X) terhadap kemiskinan (Y. dan ketenagakerjaan (Y. berdistribusi normal. Uji Heteroskedastisitas Gambar 1. Uji Scatter Plot kemiskinan Ad- Diwan:Journal of Islamic Economics Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Dari hasil pada Gambar 1 uji heteroskedastisitas terlihat bahwa pada scatterplot tidak terdapat pola yang jelas selain itu titikAetitik pada scatterplot menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas ataupun homoskedastisitas Hal ini mengindikasikan bahwa penelitian ini layak menggunakan statistik parametrik Gambar 2. Uji ScatterPlot Ketenagakerjaan Dari hasil pada Gambar 2. 1 uji heteroskedastisitas terlihat bahwa pada scatterplot tidak terdapat pola yang jelas selain itu titikAetitik pada scatterplot menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas ataupun homoskedastisitas. Hal ini mengindikasikan bahwa penelitian ini layak menggunakan statistik parametrik, seperti : uji t dalam pembahasannya. Uji Multikolinearitas Tabel 3. Uji Multikolinearitas Model Tolerance VIF Hasil Kesimpulan Tol > 0. VIF < 10 Tol > 0. VIF < 10 Tol > 0. VIF < 10 Bebas Multikolinearitas Bebas Multikolinearitas Bebas Multikolinearitas Hasil Uji melalui VIF diperoleh nilai Vif sebesar 1. 000 dan nilai Tolerance sebesar 000 dari variabel diatas menunjukkan bahwa variabel memiliki nilai Vif yang tidak lebih dari nilai 10, dan tolerance tidak kurang dari 0. 1 yang berrati bahwa nilai regresi tidak mengandung multikolinearitas dan dapat digunakan dalam penelitian selanjutnya dilakukan juga uji Multikolinearitas pada data kemiskinan dan Ketenagakerjaan. Uji Autokolerasi Variabel Dana Bergulir terhadap Kemiskinan dan Ketenagakerjaan Tabel 4. Uji Autokorelasi 4 - dU Kesimpulan Tidak Terdapat Autokorelasi Sumber: Output SPSS Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui nilai Durbin-Watson (DW) sebesar 2. Ad- Diwan:Journal of Islamic Economics Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Hal ini menunjukkan bahwa nilai DW lebih kecil dari nilai 4-du. Karena nilai DW terletak antara du< DW < 4-du . 580 < 2. 036 < 4-2. Hal tersebut berarti bahwa dalam penelitian ini tidak terjadi autokorelasi pada model regresi. Uji Hipotesis Uji t (Parsia. Tabel 5. Uji t Model T hitung X Terhadap Y1 X Terhadap Y2 T Tabel Sig. Kesimpulan Ada pengaruh signifikan H1 Ada pengaruh signifikan H2 Sumber: Output SPSS Dari Tabel di atas secara parsial Apabila nilai t hitung< ttabel maka H0 diterima. Dan apabila thitung> t tabel maka H0 ditolak. Untuk pengujan analisis Dana Bergulir (X) Kemiskinan (Y. Dapat dilihat thitung lebih besar dari ttabel . 601 >2. yang berarti signifikan. Untuk pengujian analisis yang kedua secara parsial antara Dana Bergulir (X) terhadap Ketenagakerjaan (Y. , menunjukkan hasilnya bahwa thitung lebih besar dari pada ttabel . > 2. yang berarti signifikan, hal ini mengandung arti bahwa pengaruh Dana Bergulir terhadap Ketenagakerjaan memberikan nilai yang berpengaruh secara signifikan, atau H0 diterima dan Ha ditolak. Uji F (Simulta. Tabel 6. Uji F F Tabel F hitung Sig. Hasil Fhitung> Ftabel. Sig. Kesimpulan H0 ditolak dan Ha diterima Sumber: Output SPSS Dari Tabel nilai Fhitung sebesar 4. 437 dan untuk mengetahui pengaruh secara simultan nilai Fhitung harus dibandingkan dengan Ftabel dan dari Ftabel dengan drajat kebebasan df 2 . -2-. = 32 maka hasil diperoleh Ftabel sebesar 4. Berdasarkan hasil di atas menunjukkan Fhitung > Ftabel = 4. 437>4. 15 yang artinya H0 ditolak dan Ha diterima. Dasar pengambilan keputusan yang lain adalah nilai F hitung harus lebih besar dari F tabel untuk menentukan adanya pengaruh secara simultan. Dari perhitungan, dapat dilihat nilai F hitung sebesar 4,437 lebih besar dari nilai F tabel sebesar 4. Makadapat disimpulkan variabel dana bergulir berpengaruh signifikan secara simultan terhadap kemiskinan dan Pengujian hipotesis analisis data variabel X . ana berguli. , kemiskinan Y1, dan ketenagakerjaan Y2 didahului dengan pengujian hipotesis yaitu uji statistik t . ji secara parsia. , dan uji koefisien determinasi serta Uji F. Berdasarkan uji statistik tersebut, digunakan untuk melihat berpengaruh atau tidaknya variabel penjelas . secara Ad- Diwan:Journal of Islamic Economics Creative Commons Attribution 4. 0 International License. individual dalam menerangkan variabel terikat. Serta untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel penjelas . secara individual dalam menerangkan variabel terikat. Uji Koefisien Determinasi (R. Tabel 7. Uji Koefisien Determinasi Variabel R Square (R. Jumlah Kemiskinan Jumlah ketenagakerjaan Diperoleh hasil koefisien determinasi sebesar 0. 13 yang artinya 13%, bahwa perubahan pada variabel Kemiskinan (Y. sebesar 13% dipengaruhi oleh perubahan pada variabel Dana Bergulir (X) maka dapat disimpulkan bahwa persentase pengaruh variabel independen (Dana Berguli. terhadap variabel dependen Y1 (Kemiskina. sebesar 13% sedang sisanya sebesar 87% dipengaruhi atau dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam penelitian ini. Diperoleh hasil koefisien determinasi sebesar 0. 78 yang artinya 78%, bahwa perubahan pada variabel Ketenagakerjaan (Y. dipengaruhi oleh perubahan pada variabel Dana Bergulir (X) maka dapat disimpulkan bahwa persentase pengaruh variabel independen (Dana Berguli. terhadap variabel dependen Y2 (Ketenagakerjaa. sebesar 78% sedangkan sisanya sebesar 22% dipengaruhi atau dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam penelitian ini. Pengaruh Dana Bergulir Terhadap Kemiskinan dan Ketenagakerjaan Dengan menggunakan beberapa uji statistik, penelitian ini mengeksplorasi secara empiris dan berdasarkan hasil penulis dapat merumuskan masalah dan menguraikannya. Selanjutnya bedasarkan hasil analisis diketahui, dengan menggunakan analisis regresi linier berganda, uji hipotesis secara secara parsial . untuk mengetahui pengaruh secara parsial antara X terhadap Y1 dan X terhadap Y2, dan uji hipotesis secara bersama-sama atau simultan . ji F) untuk mengetahui pengaruh secara bersama-sama atau simultan antara variabel X terhadap Y1 dan Y2. Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil analisis data menggunakan SPSS menunjukkan bahwa dana bergulir memiliki pengaruh signifikan terhadap kemiskinan dan ketenagakerjaan di Provinsi Banten. Berdasarkan uji t parsial pada variabel dependen kemiskinan, diperoleh nilai t hitung sebesar 2,601 yang lebih besar dibandingkan t tabel 2,030. Hal ini mengindikasikan bahwa secara parsial, dana bergulir berpengaruh signifikan terhadap pengurangan kemiskinan. Dari sisi substantif, temuan ini mengisyaratkan bahwa keberadaan dana bergulir yang disalurkan melalui lembaga koperasi dan UMKM mampu menjadi sumber modal yang mendorong terciptanya aktivitas ekonomi produktif. Modal ini membuka peluang bagi masyarakat miskin untuk berpartisipasi dalam kegiatan usaha, baik sebagai pelaku langsung maupun pekerja yang mendapatkan pembiayaan. Peningkatan aktivitas ekonomi tersebut berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat sehingga mengurangi angka kemiskinan. Besarnya pengaruh dana bergulir terhadap kemiskinan diperoleh dari koefisien determinasi sebesar 0,13 atau 13%. Nilai ini menunjukkan bahwa meskipun kontribusi dana bergulir terhadap penurunan kemiskinan cukup terbatas, namun tetap memiliki signifikansi Ad- Diwan:Journal of Islamic Economics Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Angka 13% mengisyaratkan bahwa faktor-faktor lain di luar dana bergulir, seperti kualitas pendidikan, infrastruktur, akses pasar, dan kebijakan pembangunan daerah, juga memegang peranan penting dalam mengurangi kemiskinan. Dengan demikian, dana bergulir dapat diposisikan sebagai instrumen pendukung yang memerlukan sinergi dengan program pengentasan kemiskinan lainnya. Sementara itu, pada variabel ketenagakerjaan, hasil uji t parsial menunjukkan nilai t hitung sebesar 3,872 yang lebih besar dari t tabel 2,030. Ini menegaskan bahwa dana bergulir juga berpengaruh signifikan terhadap peningkatan ketenagakerjaan. Besaran pengaruh yang diperoleh dari koefisien determinasi sebesar 0,78 atau 78% menunjukkan kontribusi yang sangat besar. Artinya, dana bergulir berperan dominan dalam mendorong penyerapan tenaga kerja di Provinsi Banten. Secara praktis, tingginya pengaruh ini dapat dijelaskan melalui mekanisme bahwa dana bergulir yang diakses oleh pelaku usaha mendorong ekspansi kapasitas produksi, diversifikasi produk, dan pembukaan unit usaha baru. Proses ini menciptakan kebutuhan tenaga kerja tambahan, sehingga tingkat pengangguran dapat ditekan. Selain itu, daya saing daerah dalam menarik investasi juga meningkat karena tersedianya dukungan modal yang memadai bagi sektor UMKM dan koperasi (Ansori, et al. , 2. Hasil uji F menunjukkan bahwa secara simultan dana bergulir berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan dan ketenagakerjaan, dengan nilai F hitung sebesar 4,437 yang lebih besar dibandingkan F tabel 3,29. Hal ini berarti bahwa keberadaan dana bergulir secara bersamaan dapat memperbaiki kondisi sosial-ekonomi masyarakat melalui dua jalur: menekan angka kemiskinan dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Donasi yang disalurkan oleh pemerintah melalui kementrian keperasi dan UMKM akan berdampak baik bagi pertumbuhan perekonomian Indonesia namun hal tersebut dapat pula di kolabarasikan dengan kebijakan yang selasar dengan program tersebut yaitu salah satunya dengan penyaluran pinjaman baik melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) maupun dari pembiayaan bank syariah (Wahyudin, 2. Selain itu penting juga masyarakat dapat memahami penggunaan dana tersebut (Aribawa, 2. Dari perspektif kebijakan, temuan ini memberikan implikasi bahwa penguatan skema dana bergulir perlu menjadi prioritas pemerintah daerah, terutama dalam . Peningkatan aksesibilitas bagi masyarakat miskin dan pelaku UMKM yang memiliki potensi usaha produktif. Penguatan pendampingan usaha agar dana yang disalurkan benar-benar digunakan untuk aktivitas produktif yang berkelanjutan. Integrasi program dengan pelatihan keterampilan, pengembangan pasar, dan inovasi produk untuk memperluas peluang kerja. Dengan strategi tersebut, dana bergulir dapat menjadi motor penggerak ekonomi daerah yang efektif dalam jangka panjang, tidak hanya untuk mengurangi kemiskinan tetapi juga untuk membangun struktur ketenagakerjaan yang lebih kuat dan kompetitif di Provinsi Banten. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dana bergulir terbukti berpengaruh secara parsial dalam mengurangi kemiskinan dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Hal ini dibuktikan melalui uji t, di mana variabel dana bergulir (X) terhadap kemiskinan (Y. menunjukkan nilai thitung > ttabel . ,601 > 2,. dan terhadap ketenagakerjaan (Y. juga menunjukkan thitung > ttabel . ,872 > 2,. , sehingga keduanya memiliki pengaruh Ad- Diwan:Journal of Islamic Economics Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Secara simultan, hasil uji F menunjukkan bahwa Fhitung > Ftabel . ,437 > 4,. , yang berarti dana bergulir berpengaruh signifikan terhadap penurunan kemiskinan dan peningkatan ketenagakerjaan. Besarnya pengaruh dana bergulir terhadap kemiskinan berdasarkan nilai koefisien determinasi (RA) adalah 0,13 atau 13%, sedangkan terhadap ketenagakerjaan sebesar 0,78 atau 78%. Nilai ini menunjukkan bahwa dana bergulir memiliki kontribusi yang cukup besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pengurangan kemiskinan dan peningkatan lapangan kerja. Secara empiris, temuan ini menegaskan bahwa keberadaan dana bergulir di tengah masyarakat mampu membantu pengembangan UMKM, sehingga realisasi anggaran pemerintah telah tepat sasaran. Selain itu, secara teoritis dan ideologis, dana bergulir terbukti mendinamisasi aktivitas ekonomi dan keuangan daerah, serta secara efektif memainkan peran sebagai badan intermediasi melalui penyaluran dana oleh pemerintah, baik melalui dinas koperasi maupun lembaga UMKM, guna memperkuat perekonomian regional maupun nasional. DAFTAR PUSTAKA