AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 1. No. 09 Oktober . ISSN 2828-6634 . edia onlin. Hal 1101- 1109 Peningkatan Pemahaman Story-Driven Marketing pada Legenda Batu Parsidangan Huta Siallagan Samosir. Sumatera Utara Posma Sariguna Johnson Kennedy1* 1Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Program Studi Manajemen. Universitas Kristen Indonesia. Jakarta. Indonesia Email: 1*posmahutasoit@gmail. AbstrakOeTeknik pemasaran dengan menggunakan storytelling dinilai berpeluang untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengeksplorasi storytelling di obyek wisata Huta Siallagan Kabupaten Samosir Sumatera Utara. Obyek wisata ini berpeluang untuk dikembangkan karena memiliki nilai dan keunikan sejarah serta cerita rakyat. Kegiatan ini dilakukan dengan cara diskusi dengan Ketua Huta Siallagan, untuk mendapatkan peningkatan pemahaman bagaimana legenda batu parsidangan menjadi daya tarik wisata yang berfungsi sebagai pengadilan kejahatan. Pelaksanaan dilakukan langsung di Obtek Wisata Huta Siallagan. Metode penulisan yang digunakan adalah metode kualitatif, yang dapat digunakan untuk menggali dan memahami makna yang bersumber dari masalah sosial atau kemanusiaan. Kursi Batu Raja Siallagan adalah peninggalan sejarah dan benda purbakala berupa kursi dan meja batu. Batu-batu tersebut diyakini berusia lebih dari 200 tahun, yang mengungkap praktik kejam di Samosir di masa lalu, yaitu kisah mengenai kanibalisme Suku Batak. Dengan diskusi dan wawancara yang panjang dapat dipahami mengenai pentingnya storytelling dalam meningkatkan jumlah pengunjung obyek wisata, khususnya di Huta Siallagan Kata Kunci: Peningkatan Pemahaman. Storytelling. Legenda Batu Parsidangan. Huta Siallagan. Kawasan Danau Toba AbstractOeMarketing techniques using storytelling are considered to have the opportunity to increase the number of tourist visits. This activity explores storytelling in the Huta Siallagan tourism object. Samosir Regency. North Sumatra. This tourist attraction has the opportunity to be developed because it has historical value and uniqueness, and folklore. This activity was carried out using discussions with Chairman Huta Siallagan to gain an increased understanding of how the legend of the parsidangan stone became a tourist attraction that functions as a criminal court. The implementation was carried out directly at the Huta Siallagan Tourism Object. The writing method used is a qualitative method, which can explore and understand the meaning of social or humanitarian problems. King Siallagan's Stone Chair is a historical relic and archaeological objects in the form of stone chairs and tables. The stones are believed to be more than 200 years old, revealing a cruel practice in Samosir in the past, namely the story of the cannibalism of the Batak Tribe. With long discussions and interviews, we can understand the importance of storytelling in increasing the number of visitors to tourism objects, especially in Huta Siallagan. Keywords: Improved Understanding. Storytelling. Legend of Batu Parsidangan. Huta Siallagan. Lake Toba Region PENDAHULUAN Target jumlah kunjungan wisatawan perlu ditingkatkan setiap tahunnya. Namun terdapat beberapa kendala yang dihadapi dalam pengembangannya, salah satunya terkait promosi. Oleh karena itu, perlu diterapkan story-driven marketing untuk mempromosikan pariwisata melalui penyebaran cerita dan kesan dengan menerapkan storytelling (Huang et al. , 2019. Yuliarti et al. Hampir semua daerah di Indonesia memiliki potensi wisata yang menarik, namun tidak semuanya tersampaikan dengan baik kepada wisatawan (Ibo, 2. Menurut Alam dalam Bakti et . , storytelling adalah untuk membuat suatu objek wisata menjadi lebih menarik dan membuat calon wisatawan penasaran. Oleh karena itu, teknik pemasaran dengan menggunakan tourism storytelling dinilai berpeluang untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. Di sisi lain, perkembangan media digital semakin meningkat. Kegiatan ini bertujuan untuk mengeksplorasi storytelling destinasi wisata di kawasan Danau Toba, tepatnya di Huta Siallagan Kabupaten Samosir di Sumatera Utara. Kawasan wisata ini berpeluang untuk dikembangkan karena memiliki nilai dan keunikan sejarah serta cerita rakyat. Posma Sariguna Johnson Kennedy | https://journal. id/index. php/amma | Page 1101 AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 1. No. 09 Oktober . ISSN 2828-6634 . edia onlin. Hal 1101- 1109 Adanya sejarah, asal usul, dan perkembangan dari masa ke masa, dan legenda cerita rakyat dari suku Batak, khususnya salah satu cerita rakyat dari Huta Siallagan. Legenda batu Parsidangan merupakan salah satu bentuk kearifan lokal karena merupakan salah satu atau pengetahuan asli suatu masyarakat yang bersumber dari nilai-nilai luhur tradisi budaya dalam mengatur tata kehidupan masyarakat (Sibarani, 2010. Siregar et al. , 2. Beberapa tulisan tentang legenda batu parsidangan telah dilakukan antara lain oleh Debora et al. Syahfitri et al. , dan Sinamo et al. Jika ingin mengunjungi Pulau Samosir, jangan lupa untuk mengunjungi situs sejarah dan budaya Huta Siallagan ini (Zizydmk, 2. METODE PELAKSANAAN Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode kualitatif. Moleong . mendefinisikan bahwa metode kualitatif sebagai strategi penelitian untuk menghasilkan data deskriptif, hasilnya berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Metode kualitatif adalah metode yang dapat digunakan untuk menggali dan memahami makna yang bersumber dari masalah sosial atau kemanusiaan (Creswell, 2. Metode kualitatif disebut juga sebagai metode artistik, karena prosesnya lebih artistik . urang berpol. , dan disebut sebagai metode interpretatif karena datanya lebih banyak berkaitan dengan interpretasi dari data yang ditemukan di lapangan (Sugiyono, 2. (Siregar et al. , 2. Kegiatan ini dilakukan dengan cara diskusi bersama Ketua Huta Siallagan. Ir. Gading Jhanson Siallagan, untuk mendapatkan peningkatan pemahaman bagaimana legenda batu parsidangan menjadi daya tarik wisata yang berfungsi sebagai pengadilan kejahatan. Metode pelaksanaan diawali dengan rapat perencanaan dan persiapan di Jakarta. Pelaksanaan dilakukan langsung di Obtek Wisata Huta Siallagan. Setelah kegiatan dilakukan evaluasi, untuk dapat melanjutkan kegiatan ini sebagai rangkaian penelitian yang dilakukan di Danau Toba, yang merupakan salah satu Kawasan Wisata yang dijadikan prioritas pembangunan di Indonesia. Gambar 1. Mengunjungi Huta Siallagan Sumber: Foto sendiri HASIL DAN PEMBAHASAN Storytelling sebagai Kearifan Lokal Mendongeng adalah kegiatan bercerita, baik dilakukan secara manual maupun dengan menggunakan alat teknologi dan internet. Menurut Serrat . , mendongeng atau storytelling adalah seni yang menggambarkan peristiwa nyata dalam bentuk fiksi dan dapat disampaikan dengan menggunakan gambar atau suara (Susianti, 2. AuSelain bermanfaat sebagai media promosi pariwisata, storytelling merupakan metode yang efektif untuk menggali nilai-nilai unik dan menarik suatu destinasi wisata atau bahkan produk ekonomi kreatif. Dengan storytelling yang baik, wisatawan akan mendapatkan pengalaman yang berbeda dalam berwisata. Cerita yang menarik akan Posma Sariguna Johnson Kennedy | https://journal. id/index. php/amma | Page 1102 AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 1. No. 09 Oktober . ISSN 2828-6634 . edia onlin. Hal 1101- 1109 membuat sebuah destinasi wisata tidak hanya menjadi tempat tetapi ruang yang lebih hidup untuk mencari berbagai informasi. Secara tidak langsung, pengalaman berwisata dengan storytelling ini akan membawa makna bagi setiap destinasi. Semua bisa menjadi bahan storytelling yang menarik, dari cerita legendaris yang fiksi hingga sejarah (Kemenparekraf, 2. Ay (Kennedy et al. , 2. Storytelling. AuDapat membuat suatu obyek wisata menjadi lebih menarik dan membuat wisatawan penasaran. Namun, penceritaan yang terlalu panjang akan menjenuhkan wisatawan, maka cerita cukup singkat tetapi dalam. Storytelling adalah salah satu cara untuk membuat destinasi wisata menjadi lebih menarik. Storytelling membuat destinasi wisata menjadi lebih menarik bagi wisatawan domestik karena mereka dapat menemukan sesuatu yang baru di daerah tersebut. Destinasi wisata akan menjadi lebih menarik karena storytelling telah mengemas cerita yang belum pernah didengar atau diceritakan kepada orang lain. Storytelling membuat destinasi wisata menjadi lebih menarik bahkan bisa membuatnya terkesan baru. Mendongeng memungkinkan orang untuk berinteraksi dengan daerah mereka. Ketika wisatawan bertemu masyarakat di tempat tujuan wisata, pengalaman cerita bisa dibentuk, seperti merasakan cerita tentang kesembuhan, kelangsungan hidup, ketahanan, dan lain-lain. Strategi promosi pariwisata berbasis storytelling sangat positif. Storytelling merupakan langkah penting bagi wisatawan untuk mengetahui latar belakang peristiwa dan destinasi wisata yang akan mereka kunjungi. Melalui storytelling, pariwisata dan ekonomi kreatif, para pelaku dapat memperkenalkan produk atau karya berdasarkan nilai-nilai filosofisnya. Ini akan menciptakan kesan emosional yang positif antara suatu produk dan pembelinya. Dapat menggunakan teknik storytelling di destinasi wisata dan berbagai atraksi promosi, karena cerita lisan merupakan salah satu dari sekian banyak budaya yang berkembang ratusan tahun yang lalu (Susianti, 2. Ay (Kennedy et al. , 2. Cerita rakyat sebagai sastra lisan yang dituturkan melalui prinsip estetika yang mengandung unsur budaya dan moral dalam suatu masyarakat perlu dilestarikan. Sastra lisan masih ditemukan di daerah-daerah, biasanya lebih murni karena belum mengenal teknologi (Endaswara, 2. Legenda adalah cerita rakyat yang menceritakan tentang seseorang atau beberapa tokoh yang berhubungan dengan sesuatu atau tokoh yang dipercaya keberadaannya atau telah ada dalam kehidupan Salah satu cerita legenda adalah batu Parsidangan di Huta Siallagan Samosir. Legenda tersebut merupakan kearifan lokal yang perlu dilestarikan. AuKearifan lokal adalah kecerdasan manusia yang dimiliki oleh kelompok etnis tertentu yang diperoleh melalui pengalaman masyarakat (Rahyono, 2. Kearifan lokal merupakan hasil masyarakat tertentu melalui pengalamannya dan belum tentu dialami oleh masyarakat lain. Nilai-nilai tersebut akan sangat melekat kuat pada masyarakat tertentu, dan nilai-nilai tersebut telah melalui perjalanan waktu yang panjang, sepanjang keberadaan masyarakat tersebut. Kearifan lokal adalah kearifan dan pengetahuan asli suatu masyarakat yang bersumber dari nilai-nilai luhur tradisi budaya untuk mengatur tata kehidupan masyarakat (Sibarani, 2. Ay (Siregar et al. , 2. Huta Siallagan dan Kursi Batu Raja Siallagan Huta Siallagan terletak di Desa Ambarita. Kecamatan Simanindo. Kabupaten Samosir pada Kawasan Danau Toba (Gambar 2. Desa seluas 2. 400 meter persegi ini dikelilingi tembok halus setinggi 1,5 hingga 2 meter. Pada masanya, tembok ini juga dilengkapi dengan benteng bambu runcing yang berfungsi untuk melindungi desa dari serangan satwa liar dan lainnya. Huta Siallagan adalah sebuah desa kuno yang berusia ratusan tahun yang dibangun pada masa pemerintahan Huta pertama. Raja Laga Siallagan. Siallagan adalah keturunan Raja Naimbaton yang mengikuti garis keturunan Raja Isumbaon, putra kedua Raja Batak. Huta sendiri berarti desa sedangkan Siallagan adalah nama Raja Siallagan yang merupakan pemimpin marga Siallagan. (Siregar et al. , 2. Posma Sariguna Johnson Kennedy | https://journal. id/index. php/amma | Page 1103 AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 1. No. 09 Oktober . ISSN 2828-6634 . edia onlin. Hal 1101- 1109 Gambar 2a. Lokasi Huta Siallagan dalam Google Map Sumber: zizydmk, 2020. Gambar 2b. Huta Siallagan Sumber: Foto sendiri Huta berarti desa, dan Siallagan diambil dari nama marga Siallagan. Dinamakan Huta Siallagan karena desa ini dibuat oleh orang Batak dari marga Siallagan yang dipimpin oleh Raja Siallagan. Deretan rumah adat Batak atau rumah bolon bisa Anda temukan begitu melangkah masuk . ihat Gambar 2. Jika kita perhatikan lebih detail, di depan rumah bolon terdapat beberapa ornamen khas yaitu topeng dengan ekspresi menakutkan, patung kepala singa, patung cicak, dan simbol dada. Ornamen-ornamen tersebut bukan sekedar pajangan biasa tetapi memiliki fungsi tersendiri yang diyakini oleh masyarakat desa. Fungsinya untuk mengusir roh jahat. Kemudian lambang cicak sebagai binatang yang bisa hidup dimana saja melambangkan orang Batak yang bisa hidup dimana saja, kuat dan tangguh. Sedangkan payudara adalah simbol orang kaya dan dermawan. Saat memasuki rumah, pintunya sangat rendah, sehingga harus melihat ke bawah. Ini dimaksudkan sebagai tanda penghormatan kepada pemilik rumah. Pintu rendah juga dipercaya dapat mengusir niat jahat seseorang. Di zaman kuno, hal-hal magis masih sangat kental, sehingga perlindungan terhadap ilmu hitam sangat umum. Namun kini beberapa rumah bolon tersebut dijadikan sebagai tempat pembuatan kerajinan. Setelah melewati deretan rumah bolon, akan ditemui sebuah pohon besar yang menaungi kursi-kursi batu. Di kursi ini, raja, dukun, dan tetua desa menentukan nasib Jika orang tersebut bersalah dan akan dipenggal kepalanya, maka ia akan dipenjarakan terlebih dahulu dengan dibelenggu di bawah rumah raja, menunggu tanggal eksekusi. (Zizydmk. Afrillia, 2. Kursi Batu Raja Siallagan . ecara lokal dikenal sebagai Batu Parsidanga. adalah peninggalan sejarah dan benda purbakala berupa kursi dan meja batu. Terletak tepat di tengah Huta Siallagan di bawah Pohon Hariara, yang dianggap sebagai pohon suci oleh Batak (Lihat Gambar . Batu-batu tersebut diyakini berusia lebih dari 200 tahun. Kursi Batu Raja Siallagan mengungkap praktik kejam di Samosir di masa lalu. Terdapat dua set kursi yang letaknya berbeda. Yang pertama digunakan sebagai tempat pertemuan resmi, sedangkan yang lain sebagai tempat eksekusi. Set pertama terdiri dari kursi-kursi batu yang tertata rapi yang khusus diperuntukkan bagi raja, ratu, sesepuh marga, pemimpin desa tetangga, undangan, dan datu atau pemuka spiritual. Dalam kasus pengadilan, raja akan memimpin pertemuan untuk memutuskan berbagai jenis hukuman termasuk eksekusi terhadap para penjahat. Set kedua menampilkan pengaturan serupa tetapi dengan tambahan Meja Batu Panjang, tempat eksekusi terjadi. (Zakaria, 2. Kampung Huta Siallagan terkenal dengan kisahnya sebagai kampung kanibal. Huta Siallagan merupakan desa suku Batak yang memiliki tradisi kanibal alias memakan daging manusia. Kebiasaan memakan daging manusia dilakukan dengan alasan yang jelas pada saat itu. Ceritanya mengatakan, di zaman raja-raja tua, jika seseorang dijatuhi hukuman adat karena terbukti melakukan kejahatan, dia akan dikenakan dua jenis hukuman: pemenggalan kepala atau hukuman dirantai. Yang bersalah dipenggal adalah mereka yang melecehkan atau mengambil istri orang lain, membunuh, memperkosa, dan menjadi mata-mata musuh. Raja akan segera menghukumnya untuk dipenggal. Posma Sariguna Johnson Kennedy | https://journal. id/index. php/amma | Page 1104 AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 1. No. 09 Oktober . ISSN 2828-6634 . edia onlin. Hal 1101- 1109 Sedangkan kesalahan seperti mencuri hanya akan mendapatkan denda. Yang membuat desa ini dikenal sebagai desa kanibal adalah ketika dieksekusi, bagian tubuh seperti jantung, dan darah diambil untuk dimakan dan diminum oleh raja dan panglima. Orang-orang percaya bahwa ini dapat meningkatkan kekuasaan raja dan meningkatkan kekebalan. Jika Anda mendengar ceritanya. Anda pasti akan merinding saat membayangkannya. Namun sebenarnya pelajaran dari cerita tata cara adat turun temurun ini adalah bahwa segala perbuatan jahat harus dihukum dengan hukuman yang berat seperti hukuman mati. (Zizydmk, 2. Gambar 3. Batu Parsidangan Huta Siallagan Sumber: Foto sendiri Kisah Huta Siallagan yang disampaikan secara lisan memiliki keunikan dan nilai-nilai yang dapat dimanfaatkan. Legenda Huta Siallagan belum ada dalam bentuk naskah cerita . (Siregar et al. , 2. Berikut cerita legenda Batu Parsidangan Huta Siallagan. Legenda Batu Parsidangan Huta Siallagan (Siregar et al. , 2022. Zizydmk, 2021. Zakaria, 2022. Gurky, 2. Pada zaman dahulu, tepatnya 700 tahun yang lalu, hiduplah seorang raja Batak bernama Siallagan. Raja Siallagan tinggal di sebuah desa bernama Huta Siallagan. Huta Siallagan adalah sebuah desa tua yang telah ada selama ratusan tahun, dibangun pada masa pemerintahan pemimpin pertama Huta Siallagan. Huta Siallagan dikelilingi oleh tembok pelindung setinggi 1,5 meter dengan pintu masuk yang sangat kecil dan berdiri tegak patung batu Pangulubalang . atung penjaga yang melindungi warga dari serangan roh jahat yang ingin memasuki des. Raja Siallagan terkenal sebagai raja yang adil dan bijaksana. Raja Siallagan selalu memperhatikan rakyatnya dengan bertemu dan menyapa. Raja terlihat senyum dan menyapa kembali ketika ada rakyatnya yang lewat dan menyapanya. Tidak hanya rakyat yang sopan kepada Raja, tetapi Raja juga bersifat sopan kepada semua rakyatnya. Sifat ramah yang dimili Raja mencerminkan bahwa ia adalah orang yang sopan dan santun. Masyarakat Huta Siallagan hidup dengan bertani. Mereka menanam padi, kopi, dan sayuran di ladang. Batu Parsidangan dibuat ratusan tahun yang lalu oleh Raja Siallagan untuk menampung rakyatnya yang ingin mengadakan diskusi atau pertemuan karena tidak semua orang memiliki rumah atau halaman yang cukup luas untuk berdiskusi dengan keluarga besar. Apapun yang akan dilakukan di Huta Siallagan wajib untuk dirapatkan terlebih dahulu di Batu Parsidangan, misalnya seperti merapatkan pesta adat yang akan dilakukan, merapatkan menguburan mayat, merapatkan pesta perkawinan dan lain-lain. Batu parsidangan selalu digunakan sebagai tempat musyawarah, mendengarkan pendapat dan saran serta pertimbangan dari para tetua adat yang diundang untuk hadir kemudian mengambil keputusan, baik yang berkaitan dengan konflik, perencanaan pernikahan, hingga persiapan acara kematian. Batu Parsidangan di Huta Siallagan ditempatkan di Posma Sariguna Johnson Kennedy | https://journal. id/index. php/amma | Page 1105 AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 1. No. 09 Oktober . ISSN 2828-6634 . edia onlin. Hal 1101- 1109 dua lokasi dengan aturan dan fungsi yang berbeda. Batu Parsidangan pertama di depan Rumah Bolon adalah kediaman Raja bersama istri dan selirnya yang berfungsi sebagai istana (Gambar 4. , dan di bawah Pohon Hariara, pohon keramat bagi orang Batak (Gambar 4. Batu Parsidangan kedua terletak di bagian luar sebagai tempat eksekusi (Gambar 4. Dalam ceritanya. AuSuatu hari panglima kerajaan melakukan kesalahan dengan menghianati Melalui hak preogatif raja, dengan adanya kesalahan tersebut, raja memutuskan untuk melakukan rapat di Batu Parsidangan yang dipimpinnya, yang diikuti oleh penasihat, istri raja, dukun, algojo dan terdakwa serta disaksikan oleh semua rakyat. Kesalahan yang dilakukan panglima termasuk kedalam tindak pidana berat yang hukumannya berupa pemancungan. Untuk melakukan pemancungan, raja menyerahkan kepada dukun untuk melakukan penentuan hari baik yang disebut manitiari, dukun bersemedi dibawah pohon ari-ara sampai ia menemukan kapan hari baik untuk pemancungan tersebut. Pohon ari-ara adalah pohon suci yang terletak disebelah batu kursi, konon masyarakat Huta Siallagan mempercayai bahwa arwah orang batak yang sudah meninggal ada diatas pohon suci tersebut. Setelah mendapatkan hari baik, maka pemancungan pun dilakukan di batu Pemancungan hanya boleh dilakukan sekali saja, jika algojo tidak berhasil melakukan dalam sekali pemancungan maka algojo yang akan menggantikan terdakwa. Ritual dimulai dengan musik-musik klasik gondang batak, sebelum dilakukan pemancungan dukun akan menutup mata terdakwa dan memberinya ramuan-ramuan serta membacakan mantra-mantra agar kekuatan atau ilmu kebal yang dimiliki terdakwa hilang, ketika dukun membacakan mantra-mantra algojo mulai memukuli badan terdakwa menggunakan tongkat tunggal panaluan sampai terdakwa menjerit-jerit, jika terdakwa sudah menjerit berarti kekuatan dan ilmu kebal yang dimilikinya sudah hilang. Selanjutnya dilakukan eksekusi tersebut, terdakwa ditelungkupkan dengan posisi leher diatas batu. Jika pemancungan berhasil raja akan bertanya kepada semua yang menyaksikan Ausiapa yang ingin memakannya?Ay hati dan jantung akan dimakan oleh Raja yang dipercayai untuk menambah kekuatan Raja, kemudian kepalanya akan digantung diatas pintu masuk Huta Siallagan sebagai peringatan kepada semua masyarakat Huta Siallagan agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Ay (Gurky. Gambar 4a. Batu Parsidangan Pertama sebagai tempat pertemuan resmi Gambar 4b. Pohon Hariara Gambar 4c. Batu Parsidangan Kedua sebagai tempat eksekusi Sumber: Zakaria . Sumber: Foto sendiri Sumber: Priatna dalam Afrillia . Kisah lain saat itu. Batu Parsidangan digunakan oleh Raja untuk pertemuan dengan tetua adat tentang masalah seorang pria yang dihukum karena mengganggu istri raja. Kemudian terpidana dibelenggu di depan rumah raja. Paranormal menentukan tanggal eksekusi melalui Parhalaan . alender Bata. dan Manitiari . rimbon orang Bata. Setelah hari eksekusi tiba, terpidana dibawa terlebih dahulu ke batu Parsidangan untuk diadili. Raja berkumpul di Batu Ujian, kursi pertama adalah tempat duduk Raja dan Permaisuri. Kursi kedua ditempati oleh Raja Huta lainnya atau saudara-saudara Raja. Tempat duduk ketiga adalah tempat duduk Datu/Pemilik Ilmu Kebatinan. Kursi keempat adalah kursi algojo kerajaan. Kursi kelima disebut kursi tahanan. Kursi keenam adalah untuk penasihat korban. Kursi ketujuh adalah Penasehat Hukum Terdakwa. Dan, kursi kedelapan adalah penasihat Raja. Sebelum dieksekusi, terpidana diberikan makanan yang mengandung ramuan psikis untuk melemahkan ilmu hitam. Sebelum eksekusi, pakaian terpidana dilepas untuk memastikan tidak ada jimat yang tertinggal. Matanya ditutup dengan ulos lalu dibaringkan di salah satu batu terbesar di belakang area eksekusi. (Siregar et al. , 2. Posma Sariguna Johnson Kennedy | https://journal. id/index. php/amma | Page 1106 AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 1. No. 09 Oktober . ISSN 2828-6634 . edia onlin. Hal 1101- 1109 Saat eksekusi. AuNarapidana dipukul menggunakan tongkat raja yang disebut tongkat Tunggal Panaluan . ongkat sakti yang diukir di kepala manusia dan hewa. hingga tubuh terpidana lemas dan semua ilmu hitam di tubuh terpidana hilang. Selanjutnya, tubuh terpidana diiris dan disayat kemudian disiram dengan ramuan dan cairan asam. Hingga terpidana tidak bisa lagi menjerit kesakitan dan akhirnya lemas tak berdaya. Kemudian, terpidana dipindahkan ke batu eksekusi untuk dipenggal oleh algojo kerajaan. Algojo harus melakukan tugasnya dengan baik, yaitu memotong leher terpidana dalam satu kali pemenggalan. Jika dalam sekali penggal leher terpidana tidak putus dan mati, maka algojo kerajaan mendapat hukuman dari Raja Siallagan. Setelah pemenggalan selesai, seorang pembantu raja mengambil piring Batak untuk meletakkan darah segar dan kepala terpidana di piring dan kemudian meletakkannya di atas meja. Tubuh terpidana diletakkan kembali di atas batu ketika dia dipukuli dengan satu tongkat. Tubuh tak bernyawa terpidana itu kemudian terbelah menjadi dua. Hati dan hati dikeluarkan, anggota badan terpidana diiris tipis-tipis dan dicampurkan ke dalam darah yang ada di piring Batak. Kemudian diberi bumbu, bumbu, campuran hati, hati untuk dipersembahkan kepada Raja. Raja Siallagan tidak menikmati persembahan itu Dalam pandangan Raja dan rakyatnya. Huta Siallagan, yang dihukum mati bukan lagi manusia melainkan binatang. Raja dan Datu/pemilik ilmu kebatinan. Raja Huta lainnya, penasehat makan dan minum darah dengan tujuan meningkatkan kekuatan ilmu hitam. Raja Siallagan menyapa masyarakat dengan ramah, bertanya, dan membagikan sesajen kepada masyarakat yang hadir pada proses pemenggalan kepala. Orang-orang yang hadir dapat menolak permintaan raja dan Raja Siallagan tidak pernah marah dengan penolakan tersebut. Setelah proses pemenggalan selesai, mayat terpidana dibuang ke danau dan kepalanya digantung di pintu masuk Huta Siallagan. Tujuan menggantung kepala adalah agar setiap orang yang melihat kepala dapat belajar dan tidak melakukan perbuatan (Reinnamah, 2. Ay (Siregar et al. , 2. Dalam menyelesaikan masalah hukum. Huta Siallagan memiliki tiga jenis hukuman di Yang pertama adalah denda, yang diberikan kepada terdakwa yang ketahuan mencuri. Raja Siallagan memberikan kebebasan dengan syarat. Syarat yang diberikan adalah mengganti empat kali lipat dari apa yang dicuri pencuri. Jika pencuri tidak dapat menggantikannya maka pencuri itu harus menjadi budak. Kedua, hukuman penjara, yang diberikan kepada pelaku yang melakukan pembunuhan, pemerkosaan, perkelahian yang tidak ada hubungannya dengan kerajaan. Lamanya hukuman penjara tergantung pada hasil diskusi antara penasehat raja, penasehat terdakwa dan penasehat korban. Mereka akan melihat dan mempertimbangkan nilai-nilai yang ada dalam hukum Batak. Keputusan tersebut akan diberitahukan kepada raja dan raja akan mengesahkan keputusan tersebut. Ketiga, hukuman mati alias pemenggalan kepala merupakan hukuman terakhir dan hukuman yang paling berat. Hukuman mati diberikan kepada pengkhianat kerajaan. Tidak masalah apakah orang itu adalah putra raja, adik raja, atau memiliki hubungan khusus dengan raja. Kemudian panglima musuh yang tertangkap saat perang dan orang yang ketahuan selingkuh dengan salah satu istri raja, demi mempertahankan wibawa raja, akan dihukum mati. Gambar 5. Diskusi dengan Ketua Huta Siallagan Sumber: Foto sendiri Posma Sariguna Johnson Kennedy | https://journal. id/index. php/amma | Page 1107 AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 1. No. 09 Oktober . ISSN 2828-6634 . edia onlin. Hal 1101- 1109 Orang-orang Huta Siallagan hidup dengan hukum yang adil, mematuhi aturan dan mematuhi perintah raja. Raja berharap dengan keadilan dan sikap bijaksana yang ia terapkan akan membuat Kerajaan Siallagan ini semakin maju dan disegani oleh kerajaan-kerajaan lain, karena wibawa raja dan kerajaan adalah yang paling utama. Pemenggalan dan makan orang-orang terhukum di Huta Siallagan berakhir pada awal abad ke-19 ketika seorang pendeta Jerman bernama Ingwer Ludwig Nommensen dari pulau Nordstrand di Schleswig, seorang penginjil terkemuka Jerman memperkenalkan agama Kristen kepada orang-orang Huta Siallagan. Setelah Raja memeluk agama Kristen, praktik hukum pemenggalan kepala mereka yang melakukan kejahatan dihentikan dan diganti dengan hukuman lain. Kini Huta Siallagan telah dibuka sebagai destinasi wisata agar kerajaan Siallagan dapat dikenal oleh semua orang. (Siregar et al. , 2. KESIMPULAN Banyak destinasi terkenal di Indonesia yang sudah memiliki storytelling yang kuat. Bagi sebuah destinasi wisata, storytelling merupakan bagian dari pemasaran produk. Storytelling menggabungkan fakta dan cerita untuk disampaikan kepada wisatawan agar mereka lebih tertarik dengan apa yang mereka lihat. Legenda batu Parsidangan di Huta Siallagan memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang diturunkan secara turun temurun oleh masyarakat setempat. Saat ini sebagian generasi muda masih mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal, namun sebagian sudah mulai Berbagai kearifan lokal tersebut memiliki keindahan, keunikan, dan makna tertentu yang berpotensi untuk dikembangkan. Kisah Batu Parsidangan di destinasi wisata Huta Siallagan memberi warna pada pariwisata Danau Toba dan dapat dijadikan sebagai storytelling untuk menjadi daya tarik. Pada hari libur. Obyek Wisata Kursi Batu Raja Siallagan selalu ramai dikunjungi wisatawan asing maupun lokal. Mereka dapat mendengarkan cerita tentang Batu Parsidangan di masa lalu dari pemandu yang sudah dilatih oleh Ketua Huta Siallagan. Selain itu wisatawan juga bisa menari tortor bersama dengan gembira. Terdapat obyek wisata menarik lainnya di Huta Siallagan ini, termasuk rumah adat Batak Toba yang berusia ratusan tahun, patung Sigale-gale, dan pusat suvenir yang terletak di belakang huta. Dengan diskusi dan wawancara yang panjang dapat dipahami mengenai pentingnya storytelling dalam meningkatkan jumlah pengunjung obyek wisata, khususnya di Huta Siallagan ini. Gambar 6. Wisatawan Bergembira Diajarkan Menari Tortor Batak di Huta Siallagan Sumber: Foto sendiri UCAPAN TERIMA KASIH Kami mengucapkan terima kasih kepada AuHibah Penelitian dari Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi (Hibah Simlitabmas 2. dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat LPPM-UKI. Ay Posma Sariguna Johnson Kennedy | https://journal. id/index. php/amma | Page 1108 AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 1. No. 09 Oktober . ISSN 2828-6634 . edia onlin. Hal 1101- 1109 REFERENCES