JISI: JURNAL INDUSTRI JISI: JURNALINTEGRASI INTEGRASISISTEM SISTEM INDUSTRI P-ISSN: Volume 11 No 2 Agustus Website: http://jurnal. id/index. php/jisi E-ISSN: 2550-083X MODEL KONSEPTUAL FAKTOR PENDORONG NIAT SEBAGAI FASILITAS PENGUMPULAN MINYAK GORENG BEKAS SEBAGAI INISIASI JARINGAN REVERSE LOGISTICS Siti Mahsanah Budijati*1. Fatma Hermining Astuti2. Wandhansari Sekar Jatiningrum3. Poppy Laksita Rini4 1,2,3 Program Studi Teknik Industri. Fakultas Teknologi Industri. Universitas Ahmad Dahlan. Jl. Ringroad Selatan. Kragilan. Tamanan. Banguntapan. Bantul. Daerah Istimewa Yogyakarta 55191 Program Studi Manajemen. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Ahmad Dahlan. Jl. Kapas No. Semaki. Umbulharjo. Kota Yogyakarta. Daerah Istimewa Yogyakarta 55166 E-mail: smbudijati@ie. ABSTRAK Karakteristik aliran reverse logistics (RL) diantaranya adalah sumber pasokan yang tersebar dan kuantitas pasokan yang tidak pasti. Hal ini juga berlaku pada aliran minyak goreng bekas, yang merupakan salah satu end of used product yang bisa dikelola melalui aktivitas RL. Selain itu, belum ada mekanisme yang teratur dalam pengumpulan minyak goreng bekas dari bisnis jasa makanan maupun rumah tangga. Proses pengumpulan yang ada saat ini, ditangangani oleh pihak ketiga atau pengepul, yang terutama bertujuan untuk keuntungan ekonomi semata. Di sisi lain, untuk mewujudkan rantai pasok minyak goreng yang berkelanjutan, yang tidak saja memberikan keuntungan ekonomi, tetapi juga mewujudkan kelestarian lingkungan, dan tanggung jawab sosial, maka diperlukan tanggung jawab para pelaku bisnis jasa makanan sebagai penghasil minyak goreng bekas. Bentuk tanggung jawab tersebut dapat berupa kesediaan sebagai fasilitas pengumpulan minyak gorong bekas. Kesediaan bisnis jasa makanan sebagai fasilitas pengumpulan, tentu dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu. Penelitian ini mengusulkan model konseptual faktor-faktor pendorong bagi kesediaan pelaku bisinis jasa makanan sebagai fasilitas pengumpulan minyak goreng bekas. Model konseptual tersebut dibangun berdasarkan kajian literatur dan penyesuaian terhadap kondisi aliran RL minyak goreng bekas saat ini. Model konseptual yang terbentuk selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar untuk penelitian empiris yang ditujukan bagi para pelaku bisnis jasa makanan. Kata kunci: faktor pendorong. fasilitas pengumpulan. minyak goreng bekas. model konseptual. ABSTRACT The driving factors of intentions as a used cooking oil collection facility: a conceptual model. The reverse logistics (RL) flow characteristics include scattered supply sources and uncertain supply This characteristic also applies to the flow of used cooking oil, which is one of the ends of used products that can be managed through RL activities. In addition, there is no regular mechanism for collecting used cooking oil from food service businesses and households. The current collection process is handled by third parties whose main aim is for economic gain. On the other hand, to create a sustainable cooking oil supply chain that provides economic benefits and realizes environmental sustainability and social responsibility, it is necessary to take responsibility for food service business actors as producers of used cooking oil. This form of responsibility can be in the willingness to serve as a facility for collecting used cooking oil. The willingness of a food service business to serve as a collection facility is, of course, influenced by certain factors. This research proposes a conceptual model of the driving factors for the willingness of food service businesses to serve as used cooking oil collection This conceptual model was built based on a literature review and adjustments to the current RL flow conditions of the used cooking oil. The conceptual model formed can be used as a basis for empirical research on food service business actors. Kata kunci: conceptual model. collection facility. driving factors. reverse logistics. used cooking oil DOI: /10. 24853/jisi. JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Website: http://jurnal. id/index. php/jisi de Albuquerque Landi et al. menggambarkan berbagai bentuk produk hasil pengolahan minyak goreng bekas. Adapun tingkat produksi dan konsumsi minyak goreng di Indonesia tahun 2018-2022 berdasarkan publikasi Direktorat Statistik Distribusi . ditampilkan pada Gambar 1. Juta ton Produksi Gambar 1. Data produksi dan konsumsi minyak goreng di Indonesia . uta to. Sementara Yoshio menyebutkan potensi minyak goreng bekas dari rumah tangga dan unit usaha mikro di berbagai kota di Indonesia dalam KL/ tahun ditampilkan pada Gambar 2. KL/ tahun PENDAHULUAN Minyak goreng bekas merupakan salah satu limbah yang dihasilkan oleh rumah tangga, industri, dan bisnis jasa makanan, yang terkait dengan kegiatan memasak, menggoreng, dan Penanganan pembuangan minyak goreng bekas yang tidak memadahi dapat mengakibatkan pencemaran Beberapa dampak pembuangan limbah minyak goreng bekas diantaranya disebutkan dalam Synchez-Lara et al. , yaitu bahwa minyak goreng bekas merupakan salah satu bahan pencemar perairan perkotaan, yang akan meningkatkan biaya pemeliharaan dan pengoperasian sistem saluran pembuangan. Minyak goreng bekas yang tumpah ke dalam tanah dan badan air akan menimbulkan efek berbahaya karena rendahnya kemampuan Selain itu, juga mengubah kondisi fisikokimia dan biologi tanah dan air, yang menyebabkan hilangnya keanekaragaman Sementara Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral . disebutkan bahwa Auminyak jelantah yang dibuang sembarangan memberikan risiko meningkatnya kadar Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biological Oxygen Demand (BOD) di perairan. Hal ini menyebabkan tertutupnya permukaan air dengan lapisan minyak. Akibatnya, sinar matahari tidak dapat masuk ke perairan yang mendorong matinya biota dalam perairan, serta berpotensi mencemari air Ay Dengan demikian secara umum, minyak goreng bekas yang dibuang secara tidak benar keseimbangan ekosistem. Selain itu, dinyatakan dalam de Albuquerque Landi et al. bahwa biaya energi dan ekonomi yang terkait dengan pembuangan yang tidak tepat berkisar 3 kWh/kg dan 0,45 euro/kg. Sementara apabila minyak goreng bekas ditangani dengan baik akan menghasilkan keuntungan dan mewujudkan sirkular ekonomi. Pengolahan minyak goreng bekas melalui proses daur ulang untuk menghasilkan produk lain, merupakan bagian dari peningkatkan sirkular ekonomi yaitu pemanfataan sumber daya untuk terus menghasilkan manfaat ekonomi sekaligus mengurangi dampak P-ISSN: 2355-2085 E-ISSN: 2550-083X Semarang Yogyakarta Surakarta Denpasar Surabaya Bandung Jabodetabek Gambar 2. Potensi minyak goreng bekas dari rumah tangga dan unit usaha mikro di berbagai kota di Indonesia (KL/tahu. Untuk mewujudkan pengelolaan limbah minyak goreng yang ideal pada bisnis jasa makanan, tentu diperlukan tanggung jawab pengusaha terhadap limbah yang dihasilkan. Meskipun secara nasional, pemerintah belum memiliki regulasi khusus yang mengatur tentang pengelolaan minyak goring bekas. Peraturan yang ada dan sudah berlaku saat ini, serta secara spesifik mengatur pengelolaan limbah minyak goreng adalah Peraturan Gubernur (Pergu. DKI Jakarta Nomor 167/2016. Pada Pergub tersebut limbah minyak goreng didorong untuk dimanfaatkan sebagai JISI: SISTEM INDUSTRI JISI: JURNAL JURNALINTEGRASI INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Website: http://jurnal. id/index. php/jisi bahan bakar alternatif biodiesel atau sektor Selanjutnya, bisnis jasa makanan harus menangani limbah minyak goreng dengan Untuk melakukannya, bisnis jasa pengelolaan limbah yang bertanggung jawab dan dapat bekerja sama dengan perusahaan daur ulang untuk memastikan bahwa limbah yang dihasilkan dapat diproses dengan benar. Namun demikian, berdasar analisis yang dilakukan oleh Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) dan Traction Energy Asia menunjukkan beberapa masalah dalam pengumpulan minyak goring Salah satunya adalah belum adanya mekanisme yang memungkinkan minyak jelantah dikumpulkan dari restoran, hotel, dan rumah tangga. Selain itu, fakta bahwa sumber minyak goring bekas tidak tersebar secara pengolahannya, membuat proses transportasi minyak goreng bekas dari masyarakat ke pusat produksi perlu pemikiran lebih lanjut (TNP2K & Traction Energy Asia, 2. Reverse logistics (RL) merupakan salah satu aktivitas yang dapat diterapkan dalam mengatur pengelolaan limbah minyak goreng Aktivitas RL bisa meliputi proses pengumpulan, transportasi, pengolahan, hingga daur ulang, ataupun jika harus ada bagian yang dibuang, maka pembuangan dilakukan dengan Untuk mengimplementasikan operasi reverse logistics, sebagai bagian dari rantai pasok minyak goreng yang berkelanjutan, maka langkah awal yang perlu dilakukan adalah penetapan fasilitas pengumpulan. Penelitian ini merupakan inisiasi, dalam mewujudkan fasilitas pengumpulan minyak goreng bekas, yang selanjutnya dapat digunakan untuk jaringan RL. Tujuan penelitian ini adalah membangun model konseptual faktor pendorong bagi kesediaan pelaku bisinis jasa makanan untuk berperan sebagai fasilitas pengumpulan minyak goreng Penelitian didasarkan pada kajian pustaka tentang faktor-faktor yang mampu mendorong pelaku bisnis dalam mewujudkan aktivitas yang Selanjutnya melalui review terhadap berbagai pustaka tersebut dapat ditentukan faktor pendorong yang sesuai P-ISSN: Volume 11 No 2 Agustus E-ISSN: 2550-083X dengan kondisi pelaku bisnis jasa makanan dalam penanganan minyak goreng bekas. Pada tahap terakhir disusun model konseptual sebagai usulan tentang model yang menggambarkan faktor-faktor pendorong bagi pelaku bisnis jasa makanan untuk bersedia sebagai fasilitas pengumpulan minyak goring TINJAUAN PUSTAKA Rantai pasok merupakan suatu sistem serangkaian aktivitas dan fasilitas yang mengoordinasikan fungsi bisnis, mulai dari pengadaan bahan baku, transformasi bahan baku menjadi produk setengah jadi dan produk akhir, serta distribusi produk kepada konsumen (Latha Shankar et al. , 2013. Simchi-Levi et al. Rantai pasok yang memperhatikan faktor lingkungan dibahas secara lebih mendalam melalui Reverse Logistics (RL). didefinisikan sebagai proses perencanaan, implementasi, dan pengendalian aliran bahan baku, persediaan, produk jadi dan informasi, dari titik konsumsi atau pembuangan barang ke titik asal, untuk memulihkan nilai yang tersisa atau menyediakan pembuangan yang sesuai (Sellitto, 2. Aspek fungsional yang penting dalam praktik RL adalah collection, inspection, preprocessing, dan network design. Collection merupakan tahapan awal dalam recovery process, yaitu produk disortir, ditempatkan, dikumpulkan, dan diangkut ke fasilitas untuk proses remanufacturing, sedangkan inspeksi yaitu proses menyortir produk yang dilakukan pada saat proses pengumpulan atau pada proses selanjutnya di fasilitas remanufacturing (Srivastava, 2. Pengelolaan rantai pasok pada RL secara efisien dapat dilakukan melalui perancangan konfigurasi jaringan rantai pasok, termasuk di dalamnya perancangan lokasi fasilitas pengumpulan (Omrani & Ghiasi. Pada implementasi RL, kerjasama dan kolaborasi antar pihak sangat dibutuhkan untuk mewujudkan pelestarian lingkungan. Salah satu bentuk kerjasama dan kolaborasi tersebut yaitu penyediaan fasilitas pengumpulan. Fasilitas pengumpulan adalah poin penting dalam perwujudan aktivitas RL. Budijati et al. menjelaskan perlunya kerjasama antar pelaku bisnis makanan dalam penyediaan fasilitas pengumpulan minyak goreng bekas atau Used Cooking Oil (UCO) sebagai bentuk JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Website: http://jurnal. id/index. php/jisi aktivitas RL. Hal ini dilakukan agar terwujud kelestarian lingkungan dan dukungan sosial, tidak hanya karena keuntungan ekonomi. Penelitian terkait pengelolaan UCO dilakukan oleh Matuinec et al. , yang menunjukkan bahwa implementasi RL pada limbah UCO di Republik Ceko terkendala karena jaringan pengumpulan yang tidak terorganisir dengan baik. Penelitian terkait jaringan RL untuk UCO juga dilakukan oleh Matavel et al. Usulan jaringan RL dilakukan melalui beberapa skenario model Sementara itu. Loizides et al. mengusulkan sistem RL sosial, yang disebut InnovOleum untuk mengumpulkan dan mendaur ulang UCO domestik melalui sekolah. Sebelum merancang konfigurasi jaringan RL, perlu dipastikan terlebih dahulu kesediaan stakeholders untuk berpartisipasi. Kesediaan stakeholders untuk melakukan praktik RL, termasuk di dalamnya menjadi fasilitas pengumpulan dan pengelolaan, diduga dipengaruhi oleh berbagai faktor pendorong. Semakin pentingnya RL juga dirasakan oleh perusahaan Fast Moving Consumer Goods (FMCG). Implementasi aktivitas RL diyakini dapat meningkatkan daya saing perusahaan (Makaleng & Hove-Sibanda, 2. Untuk itu diteliti terkait pengaruh strategi dalam RL terhadap daya saing perusahaan. Berdasarkan analisis didapatkan hasil bahwa strategi RL berpengaruh positif signifikan terhadap daya saing perusahaan. Keh et al. , . menambahkan bahwa implementasi RL dapat peningkatan daya saing perusahaan, mampu mengatasi permasalahan lingkungan dan kepatuhan terhadap kebijakan lingkungan, dan menciptakan lapangan kerja. Pelaku bisnis mulai mengalami tekanan berkaitan dengan kepatuhan terhadap peraturan dan standar keamanan lingkungan. Hal tersebut mendasari pentingnya praktik RL. Di dalam praktik RL terdapat sejumlah faktor yang dapat memotivasi atau mendorong suatu bisnis untuk Menurut Nakiboglu . , tidak semua faktor pendorong memiliki kepentingan yang sama, sehingga perlu digali faktor mana yang dominan menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil menunjukkan bahwa obligatory reasons, customer demand dan enhancing corporate P-ISSN: 2355-2085 E-ISSN: 2550-083X image merupakan faktor pendorong yang paling utama dalam praktik RL. Praktik RL juga mulai didorong untuk diterapkan UKM. Peya-Montoya et al. mengusulkan maturity model yang diadopsi untuk mengukur tingkat kematangan aspek RL pada sejumlah UKM di Columbia. Maturity model dikaitkan dengan faktor pendorong yang digunakan sebagai acuan untuk melihat tingkat kematangan aspek RL. Faktor pendorong tersebut di antaranya adalah kemampuan ketersediaan finansial untuk berinvestasi pada infrastruktur dan pelatihan, dan adanya tanggung jawab dan nilai-nilai etika untuk memenuhi peraturan yang berlaku. Penelitian serupa dilakukan Fikru . yang menganalisis praktik RL pada botol plastik minuman di Ethiopia. Model penelitian yaitu kualitatif-kuantitatif dengan hasil membuktikan masyarakat kurang memiliki pengetahuan tentang praktik RL, tidak ada rencana strategis perusahaan terkait RL dan kurangnya komitmen top management dan sumber daya yang memadai. Abdissa et al. , . yang melakukan studi untuk mengetahui peran RL dalam daur ulang botol plastik bekas dan pengelolaan limbah di Ethiopia. Hasil remanufacturing sangat jarang dilakukan. Beberapa faktor pendorong yang memiliki kontribusi signifikan untuk aktivitas RL pada daur ulang botol plastik adalah adanya peraturan dan kebijakan pemerintah, kebijakan perusahaan, etika profesi, dan penurunan biaya bahan baku yang baru. Chileshe et al. mengembangkan model konseptual untuk mengukur pengaruh faktor pendorong RL yaitu faktor ekonomi, lingkungan, dan sosial terhadap implementasi RL. Hasil menunjukkan faktor lingkungan dan ekonomi terbukti dapat memprediksi 34% variasi dalam implementasi RL. Mwanza et al. juga menggunakan ketiga faktor tersebut untuk dianalisis pengaruhnya terhadap implementasi RL di perusahaan minuman berbotol plastik di Zambia. Sementara itu. Younas et al. mengkategorikan 4 faktor pendorong RL, yaitu economic, legislation, corporate citizenship, dan management yang terkait dengan komitmen top management. Bentuk komitmen top management yaitu penyediaan fasilitas yang memadai dan tenaga kerja terampil (Bouzon, 2015. Ho et al. , 2012. JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Website: http://jurnal. id/index. php/jisi Roni et al. , 2017. Sirisawat & Kiatcharoenpol. Legislation factor terkait dengan penegakan peraturan dan undang-undang lingkungan, yang juga dijelaskan dalam Sirisawat & Kiatcharoenpol . Sedangkan economic factor yaitu ketersediaan modal untuk investasi dan operasionalisasi, keuntungan ekonomi melalui daur ulang atau memberikan nilai tambah produk, dan keunggulan kompetitif (Eltayeb & Suhaiza, 2011. Ho et al. Younas et al. , 2. Untuk faktor pendorong pada corporate citizenship terdiri dari keberlanjutan jangka panjang, kesadaran dan tekanan publik, dan pembuangan zat berbahaya dengan benar (Govindan & Bouzon. Yee & Jalil, 2022. Younas et al. , 2. Berdasarkan studi literatur yang sudah dilakukan, terkait faktor yang dapat mendorong pelaku bisnis dalam melakukan praktik RL sudah banyak dilakukan. Secara umum, praktik RL banyak dilakukan di luar negeri, tetapi masih sangat jarang dilakukan di Indonesia. Penelitian khususnya terkait praktik RL pada UCO di Indonesia masih sangat terbatas. Salah satunya Jachryandestama et al. melakukan analisis risiko rantai pasok UCO untuk biodiesel. Metode yang digunakan adalah Group-Analytical Hierarchy Process (G-AHP) untuk membuat model konsensus antar pelaku rantai pasok. Risiko yang paling banyak menyebabkan ketidakpastian dalam rantai pasokan adalah risiko desain rantai pasokan, risiko pemasok utama, dan risiko sumber Oleh karena itu, penelitian ini sebagai salah satu upaya mengisi kekurangan penelitian tentang analisis faktor pendorong untuk berperan sebagai fasilitas pengumpulan UCO pada bisnis jasa makanan. Dengan demikian, kebaruan penelitian ini terletak pada lingkup permasalahan yang diteliti. METODE PENELITIAN Penelitian menggunakan metode kajian literatur yang dijelaskan pada Gambar 3. Tahap awal yang dilakukan dalam kajian literatur ini adalah proses penyusunan protokol berdasarkan hasil identifikasi masalah. Selanjutnya, tahapan pengumpulan data dilakukan melalui proses pencarian hasil penelitian terdahulu yang telah dipublikasikan dalam jurnal maupun prosiding. Proses pencarian ini dilakukan melalui database Google scholar. EBSCOhost. Elsevier. Volume 11P-ISSN: No 2 Agustus E-ISSN: 2550-083X Emerald. ProQuest. Sage Journals. Springerlink, dan Taylor & Francis yang merupakan database yang seringkali digunakan sebagai rujukan bagi para peneliti dari berbagai disiplin ilmu (Xiao and Watson, 2. Kata kunci yang digunakan dalam proses pencarian ini adalah Aureverse logisticAy OR Auused cooking oilAy OR Aucoorporate environmental practiceAy OR Augreen supply chainAy OR Aureverse logistic driversAy OR Aureverse logistic motivating factorAy. Proses pencarian dibatasi dengan menetapkan batasan tahun publikasi dari tahun 2009 hingga 2023. Berdasarkan data artikel yang telah dikumpulkan, kemudian tahapan selanjutnya yaitu proses screening. Screening dilakukan dengan melakukan review terhadap judul dan juga abstrak dari setiap artikel. Selanjutnya, pengkajian lebih lanjut dilakukan guna mendapatkan faktor-faktor pendorong dalam RL. Berikutnya ditentukan faktor pendorong yang sesuai dengan kondisi pelaku bisnis jasa makanan akan kesediaan sebagai fasilitas pengumpulan minyak goreng bekas. Model berdasarkan hasil dari kajian literatur yang telah Tahapan akhir dalam penelitian ini adalah pengembangan hipotesis untuk model konseptual yang telah terbentuk. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kajian Pustaka Kajian mendapatkan sejumlah faktor yang diduga mampu mendorong niat dari pelaku bisnis jasa Penyediaan fasilitas pengumpulan minyak goreng bekas merupakan salah satu bentuk aspek fungsional yang penting dalam praktik RL, yaitu tahapan awal dalam recovery process (Srivastava, 2. Pada implementasi RL, kerjasama dan kolaborasi antar pihak sangat dibutuhkan untuk mewujudkan pelestarian lingkungan, termasuk dalam hal penyediaan fasilitas pengumpulan (Omrani & Ghiasi. Hal ini dilakukan agar terwujud kelestarian lingkungan dan dukungan sosial, tidak hanya karena keuntungan ekonomi (Budijati et al. , 2. Untuk itu diperlukan identifikasi faktor apa saja yang dapat mendorong niat pelaku bisnis jasa makanan JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Website: http://jurnal. id/index. php/jisi P-ISSN: 2355-2085 E-ISSN: 2550-083X untuk bersedia sebagai fasilitas pengumpulan minyak goreng bekas. Berdasarkan kajian pustaka tahap pertama yang dilakukan, didapatkan hasil pengelompokan 13 faktor pendorong niat pelaku bisnis jasa makanan untuk bersedia sebagai fasilitas pengumpulan minyak goreng Ketiga belas faktor pendorong tersebut terbentuk berdasarkan sejumlah sumber referensi, seperti ditunjukkan pada Tabel 1. Hasil kajian pustaka tahap pertama ditinjau kembali untuk disesuaikan dengan kondisi pelaku bisnis jasa makanan yang ada di lapangan terkait dengan niat untuk bersedia sebagai fasilitas pengumpulan minyak goreng Wawancara dengan pelaku bisnis jasa makanan dilakukan untuk memastikan faktor pendorong yang terpilih. Berdasarkan kajian pustaka tahap kedua, 13 faktor yang didapatkan dari tahap pertama berkurang sebanyak 8 faktor sehingga tersisa menjadi 5 faktor, yaitu faktor environmental, economic, regulation, social responsibility, dan management commitment. Berdasarkan 5 faktor pendorong yang sudah terpilih, dilakukan kajian kembali terhadap sumber referensi yang akan digunakan sebagai acuan untuk merumuskan indikator untuk menyusun item kuesioner. Hasil kajian pustaka tahap ketiga menunjukkan bahwa terdapat beberapa sumber referensi yang dihapus dari kelima faktor pendorong seperti ditunjukkan pada Tabel 2. Gambar 3. Tahapan Penelitian Tabel. 1 Hasil Kajian Pustaka Tahap Pertama No. Faktor 1 Environmental factor Public health and safety Economic factor Regulation factor No. Faktor Referensi Eltayeb & Zailani . Nordin et al. Foo et al. Kumar et al. Kudlak . Meyer et al. Chileshe et al. Govindan & Bouzon . Keh et al. Nakiboglu . Pena-Montoya et al. Hernomo . Sari et al. Abdissa et al. Foo et al. Kumar et al. Mollenkopf & Closs . Ongondo & Williams . Ho et al . Voronova et al. Bouzon . Foo et al. Kumar et al. Meyer et al. Mwanza et al . Tansel . Chileshe et al. Gopal et al. Govindan & Bouzon . Sellitto . Younas et al. Fikru . Pena-Montoya et al. Tesfaye & Kitaw . Sari et al. Abdissa et al. Eltayeb & Zailani . Ho et al. Voronova et al. Beleya et . Meyer et al. Roni et al. Chileshe et al. Gopal et al. Govindan & Bouzon . Sirisawat & Kiatcharoenpol . Younas et al. Bouzon et al. Fikru . Pena-Montoya et al. Sari et al. Tesfaye & Kitaw . Abdissa et al. Makaleng & Hove-Sibanda . Yee & Jalil . Referensi JISI:JURNAL JURNAL INTEGRASI JISI: INTEGRASISISTEM SISTEMINDUSTRI INDUSTRI Website: http://jurnal. id/index. php/jisi Corporate citizenship Longterm sustainability Effective recovery Public participant Strategic leadership Social responsibility Management commitment Knowledge related issues Functional Volume 11 NoP-ISSN: 2 Agustus E-ISSN: 2550-083X Meyer et al. Chileshe et al. Govindan & Bouzon . Nakiboglu . Fikru . Gopal et al. Govindan & Bouzon . Fikru . Ongondo & Williams . Tansel . Roni et al. Govindan & Bouzon . Shekdar . Ongondo & Williams . Gopal et al. Govindan & Bouzon . Shekdar . Beleya et al. Roni et al. Gopal et al. Govindan & Bouzon . Eltayeb & Zailani . Govindan & Bouzon . Chileshe et al. Van der Haar et al. Popescu & Popescu . Younas et al. Farooqui & Abbas . Bouzon et al. Abdissa et al. Ho et al. Ye et al. Bouzon . Roni et al. Sirisawat & Kiatcharoenpol . Van der Haar et al . Younas et al. Bouzon et al. Pena-Montoya et al. Tesfaye & Kitaw . Govindan & Bouzon . Bouzon et al. Govindan & Bouzon . Nakiboglu . Tesfaye & Kitaw . Tabel. 2 Hasil Kajian Pustaka Tahap Ketiga Faktor Definisi Faktor 1 Environmental Kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan untuk melakukan dukungan atau upaya dalam membantu terkait akibat minyak goreng bekas 2 Economic 3 Regulation Atribut Pertanyaan Partisipasi untuk melindungi masalah lingkungan menjadi tanggung jawab perusahaan Dukungan untuk menghilangkan kerugian yang ditimbulkan padaf Aktivitas dampak negatif bagi lingkungan Aktivitas kepedulian terhadap lingkungan Peningkatan Keuntungan ekonomi secara langsung dan tidak langsung bagi Suatu bentuk keuntungan ekonomi dan dukungan finansial yang diperoleh/ Dukungan akses bantuan modal goreng bekas dan sumber finansial dari pihak Modal/ penyediaan fasilitas dan pelatihan SDM. Aturan, dan Regulasi kebijakan pemerintah yang perusahaan menekan tanggung jawab melakukan aktivitas yang kelestarian Inspeksi atau audit pemerintah lingkungan dalam hal berdasar peraturan lingkungan minyak yang berlaku Kebijakan pemerintah sebagai goreng bekas Referensi Keh et al. Nordin et al. Kudlak . Nakiboglu . Pena-Montoya Abdissa et al. Chileshe et al. Younas et al. Fikru . Bouzon Mwanza et al Henriques & Catarino Pena-Montoya et al. Younas et al. Ho et al . Abdissa et al. Beleya et al. Makaleng & HoveSibanda . Younas et al. Eltayeb & Zailani . Sirisawat Kiatcharoenpol . Roni et al. Ho et al . JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Website: http://jurnal. id/index. php/jisi P-ISSN: 2355-2085 E-ISSN: 2550-083X Ketetapan sanksi/ ancaman dalam peraturan lingkungan Hukum yang memotivasi 4 Social 5 Management Tanggung perusahaan/ bisnis jasa makanan untuk berperan mengurangi dampak sosial kesejahteraan sosial Komitmen manajemen perusahaan/ bisnis jasa makanan dalam minyak goreng bekas, seperti sumber daya yang memadai dan investasi yang mendukung dalam goreng bekas Pertimbangan kesejahteraan sosial untuk memperluas lapangan Nilai mendukung tanggung jawab Sikap jujur kepada masyarakat Ketersediaan investasi dalam penyediaan sumber daya Ketersediaan SDM yang memadai Ketersediaan Ketersediaan SDM pengetahuan dan keterampilan yang sesuai 2 Pengembangan Model Konseptual Penelitian Hasil akhir dari kajian pustaka yang telah dilakukan, digunakan sebagai dasar dalam mengembangakan model konseptual. Model konseptual yang dikembangkan, terdiri atas kelima faktor yang merupakan variabel independen, yaitu Environmental. Economic. Regulation. Social Responsibility, dan Management Commitment. Variabel dependen yang digunakan adalah niat dari perusahaan atau bisnis jasa makanan untuk bersedia sebagai fasilitas pengumpulan minyak goreng bekas. Menurut Ajzen . , seorang individu akan melakukan perilaku tertentu berdasarkan niat yang dimiliki. Model konseptual yang dibangun dapat dilihat pada Gambar 4. Variabel independen dan variabel dependen yang ada di dalam model konseptual memiliki hubungan positif. Hal tersebut berarti, apabila faktor pendorong memiliki nilai yang tingi maka diduga niat yang dimiliki oleh bisnis jasa makanan juga akan tinggi. Hipotesis yang Yee & Jalil . Younas et al. Bouzon et al. Chileshe et al. Eltayeb & Zailani . Abdissa et al. Popescu Popescu Ye et al. Bouzon . Ho et al . Sirisawat & Kiatcharoenpol . Roni et al. Ho et al . digunakan dalam penelitian adalah sebagai H1( ): faktor lingkungan berpengaruh positif signifikan terhadap niat untuk bersedia sebagai fasilitas pengumppulan minyak goreng bekas. H2( ): faktor ekonomi berpengaruh positif signifikan terhadap niat untuk bersedia sebagai fasilitas pengumppulan minyak goreng bekas. H3( ): faktor regulasi berpengaruh positif signifikan terhadap niat untuk bersedia sebagai fasilitas pengumppulan minyak goreng bekas. H4( ): faktor tanggung jawab sosial berpengaruh positif signifikan terhadap niat untuk bersedia sebagai fasilitas pengumppulan minyak goreng bekas. H5( ): faktor komitmen manajemen berpengaruh positif signifikan terhadap niat untuk bersedia sebagai fasilitas pengumppulan minyak goreng bekas. JISI: INTEGRASI SISTEM INDUSTRI JISI:JURNAL JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Website: http://jurnal. id/index. php/jisi Volume 11 P-ISSN: No 2 Agustus E-ISSN: 2550-083X penelitian ini, dengan kontrak Nomor: 0294/SP3/LPPM-UAD/Vi/2023. Gambar 4. Model Konseptual Penelitian KESIMPULAN Dari hasil kajian literatur dapat disimpulkan bahwa terdapat lima faktor pendorong yang sesuai dengan kondisi para pelaku bisnis jasa makanan untuk bersedia sebagai fasilitas pengumpulan minyak goreng bekas, yaitu: . Environmental Factor, . Economic Factor, . Regulation Factor, . Social Responsibility, dan . Management Commitment. Lima faktor pendorong tersebut kemudian digunakan sebagai variabel bebas dalam model konseptual yang dibangun. Sedangkan niat berperan sebagai lokasi atau fasilitas pengumpulan minyak goreng bekas digunakan sebagai variabel terikat, dengan hipotesis yang bernilai positif. Model konseptual tersebut dapat dijadiakan acuan untuk penelitian lanjutan tentang niat dan perilaku para pelaku bisnis jasa makanan dalam kesediaannya sebagai fasilitas pengumpulan minyak goreng bekas. Diharapkan dari penelitian lanjutan akan dapat diperoleh faktorfaktor yang secara signifikan mendorong kesediaan para pelaku bisnis jasa makanan untuk bertindak sebagai lokasi atau fasilitas pengumpulan minyak goreng bekas. Hasil penelitian lanjutan akan dapat dimanfaatkan oleh para pemangku kepentingan untuk merancang pengelolaan minyak goreng bekas yang mendukung kelestarian lingkungan dan kepedulian sosial, serta tetap memberikan keuntungan ekonomi bagi para pelaku. UCAPAN TERIMAKASIH