JOCE IP Vol. 19 No. September 2025 ISSN: 1978-6875 WARNA: PEMANFAATAN MEMBATIK TIE-DYE SEBAGAI STIMULASI PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS ANAK USIA DINI Eneng Siti Junaeni 1. Hermawati2. Febi Puspita3. Rihatul Jannah4 STKIP Syekh Manshur Pandeglang. Banten E-mail Korespondensi: nengsityjunaeni@gmail. com1, hermawat837@gmail. febipuspita210@gmail. Reehat085@gmail. DOI: https://doi. org/10. 58217/joceip. ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana membatik Tie-dye dapat membantu perkembangan kemampuan motorik halus anak usia dini di taman kanak-kanak, terutama dalam kegiatan pra menulis, seperti memegang pensil yang masih kaku, menjiplak dan mewarnai dengan coretan yang terlihat. Kegiatan membatik sederhana dapat meningkatkan motorik Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah deskriftif, kualitatif. Metode membatik tie-dye sebagai cara untuk mendorong perkembangan motorik halus pada anak-anak di pelajari dalam penelitian ini, yang di lakukan melalui pendekatan deskriftif kualitatif. Metode kualitatif di pilih untuk memperoleh pemahaman mendalam tentang proses, respon anak, dan bagaimana kegiatan membatik mempengaruhi kemampuan motorik halus mereka. Peserta didik berusia 4 hingga 5 tahun yang mengikuti kegiatan pembelajaran berbasis seni di lembaga paud adalah subjek penelitian ini. Observasi partisipatif wawancara semi terstruktur dengan guru pendamping, dan dokumentasi visual adalah metode pengumpulan data. Redaksi, penyajian, dan kesimpulan kesimpulan adalah langkah langkah yang di gunakan dalam analisis data tematik. Untuk memastikan bahwa data yang di kumpulkan selama proses penelitian akurat dan konsisten, validasi data di perkuat melalui tringulasi sumber dan teknik. Kata kunci: keterampilan membatik dasar, kemampuan motorik halus, anak usia dini, membatik tiedye PENDAHULUAN Kualitas sumber daya manusia suatu bangsa sangat ditentukan oleh pendidikan yang diterima sejak usia dini, salah satunya melalui PAUD. Anak-anak pada tahap usia dini, yaitu dari usia 0 sampai 6 tahun, berada perkembangan otak mereka sangatlah pesat. Dengan demikian, untuk mendukung pertumbuhan optimal anak, stimulasi yang tepat melalui kegiatan pendidikan yang terorganisir dan menyenangkan sangat PAUD tidak hanya memperhatikan perkembangan kognitif anak, tetapi juga perkembangan sosial, emosional, fisik, dan moral mereka. Dipercaya bahwa investasi didalam pendidikan anak usia dini ini dapat mempengaruhi kesiapan anak untuk pendidikan selanjutnya dalam jangka panjang serta membentuk karakter yang kuat dalam menghadapi tantangan masa depan. Anakanak usia dini harus distimulasi di setiap fase pembelajaran berbagi. Menurut Pasal 1 Permendikbud No. 146 Tahun 2014, pembelajaranAnak usia dini merupakan kelompok anak yang berada pada jenjang pendidikan sebelum pendidikan dasar, yaitu sejak lahir hingga usia 6 tahun. Pada tahap ini, anak diberikan stimulasi pendidikan untuk mendukung tumbuh kembang fisik maupun mentalnya agar siap memasuki jenjang Tujuan pembelajaran anak usia dini adalah untuk meningkatkan berbagai kemampuan anak sejak dini, termasuk kemampuan untuk mempersiapkan diri untuk hidup dan Pembelajaran anak usia dini harus memperhatikan aspek-aspek berikut: perkembangan kognitif dan perkembangan seni, nilai agama dan moral, dan perkembangan sosial dan emosional. Pertumbuhan motorik adalah salah satu komponen pertumbuhan kemampuan anak-anak (Utami et al. PAUD sangat penting untuk membentuk perkembangan fisik, kognitif, emosional, dan sosial anak. Di tengah perkembangan dunia pendidikan saat ini, peran pendidikan anak usia dini dalam membangun kognitif dan kreativitas anak semakin terlihat krusial (Pranata dkk. Pengembangan anak adalah komponen penting dalam pendidikan anak usia kreativitas dini. Kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru disebut kreatifitas (Farikhah et al. , 2. Perkembangan motorik menjadi salah satu aspek penting yang perlu ditingkatkan sejak usia dini. Selain berkaitan dengan kematangan otot dan saraf, aspek ini juga pertumbuhan anak. Menurut Santrock . , motorik halus merupakan jenis keterampilan yang memerlukan kontrol gerakan yang teratur, seperti menggenggam benda, memasang kancing, dan kegiatan lain yang membutuhkan koordinasi tangan. Sementara itu. Putri et al. menjelaskan bahwa pengembangan motorik halus pada anak lebih mengoordinasikan gerakan kecil, seperti memegang benda menggunakan jari. Tujuan utama dari pengembangan ini ialah membuat jari-jemari anak lebih lentur, mudah digerakkan, serta mampu mengoordinasikan gerakan tangan dan mata saat beraktivitas. Aktivitas membatik sederhana terbukti dapat meningkatkan keterampilan motorik halus anak usia dini. Menurut Ingkir et al. , membatik adalah salah satu aktivitas kreatif yang mampu melatih gerakan motorik halus anak. Dalam prosesnya, anak memerlukan kesabaran untuk menciptakan pola yang menarik. Salah satu kegiatan yang bisa dilakukan adalah menghias kain polos menggunakan tali agar tidak terkena warna. Winarsih . menjelaskan bahwa membatik merupakan kegiatan menjiplak atau menggambar motif khas batik pada kain. Selain itu. Roostin . menambahkan bahwa membatik sederhana dapat menjadi media untuk mengembangkan otak kanan Aktivitas ini memberikan suasana belajar yang menyenangkan dan kesempatan bagi anak untuk melatih keterampilan motorik halusnya. Berbeda dari teknik membatik tradisional, membatik sederhana memberi keleluasaan kepada anak untuk bereksperimen dengan berbagai warna yang aman, sehingga anak bisa lebih bebas berkarya tanpa bergantung pada alat tulis. Berdasarkan hasil observasi di lapangan, diketahui bahwa kemampuan motorik halus anak usia dini masih tergolong Hal ini terlihat dari berbagai aktivitas pra-menulis, seperti memegang pensil yang masih kaku, menyalin bentuk atau garis yang kurang presisi, serta mengalami kesulitan dalam membentuk huruf dan tulisan. Selain itu, beberapa aktivitas lain yang berkaitan dengan keterampilan motorik halus, seperti memberi warna, menggambar, kolase, menempel, dan membatik, juga masih memerlukan pendampingan dan instruksi Aktivitas membatik, meskipun memiliki potensi besar untuk melatih motorik halus, jarang diterapkan karena dianggap kurang efektif dan kurang menarik dengan peralatan yang monoton. Salah satu alternatif untuk meningkatkan keterampilan motorik halus anak adalah melalui kegiatan membatik menggunakan media sederhana seperti kuas dan spidol bekas. Dengan peralatan yang menarik, anak-anak akan lebih antusias berkreasi, sehingga kegiatan pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan bermakna. Selain itu, anak juga dapat mengenal batik sebagai salah satu budaya tradisional Indonesia. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan bagaimana teknik membatik sederhana dapat membantu meningkatkan kemampuan motorik halus anak usia dini. Pelatihan motorik halus perlu dilakukan sejak dini agar anak mampu menggerakkan jarijarinya dengan luwes. Kegiatan membatik ini dapat membantu meningkatkan koordinasi tangan dan mata serta mengoptimalkan perkembangan motorik halus anak. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dengan cara deskriftif kualitatif. penelitian ini berfokus pada penggalian informasi yang bersifat deskriftif, yaitu menjelaskan karakteristik, kualitas, dan objek kegiatan atau Beberapa pengumpulan data seperti observasi, wawancara, mencari objek nyata, dan digunakan dalam penelitian ini untuk memahami secara komprehensif suatu fenomena dalam konteks aslinya. Study ini bertujuan untuk memberikan deskripsi yang mendalam tentang bagaimana dan bagaimana kegiatan eksplorasi warna yang dilakukan dengan membatik tie-dye berdampak pada perkembangan motorik halus anak usia dini. Studi ini dilakukan di salah satu paud. TK Lab School Syekh Manshur, dengan 17 siswa berusia 5 hingga 6 tahun. Metode untuk mengumpulkan data dilakukan melalui observasi langsung, wawancara dengan guru pendamping, serta dokumentasi kegiatan anak selama proses membatik tie-dye. Peneliti mengamati gerakan motorik halus anak, seperti keterampilan menjumput kain, mengikat karet, serta mencelup dan mewarnai kain ke dalam warna yang sudah di siapkan. Hasil dari penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran nyata tentang bagaimana kegiatan eksplorasi warna melalui teknik tie-dye dapat merangsang koordinasi tangan dan jari, serta meningkatkan keterampilan manipulatif anak usia dini dalam konteks bermain sambil belajar. HASIL DAN PEMBAHASAN Aktivitas Membatik Tie-dye Bagi Anak Usia Dini Menurut Ristyadewi Fitria. Hasil menunjukkan bahwa aktivitas seperti membantik menggunakan kain dapat meningkatkan kemampuan motorik halus bagi anak. Mengapa demikian, karena aktivitas seperti batik lipat yang menggunakan kain dan warna yang beragam mampu menarik perhatian melaksanakan pembelajaran ini. Selain itu, dalam kegiatan melipat, menggulung, keterampilan motorik halus anak. Hal ini sejalan dengan penelitian Ristyadewi dan Fitria . yang menyatakan bahwa guru dapat membuat model pembelajaran yang menarik dan bersifat bermain agar anak dapat berantusias selama proses pembelajaran berlangsung. Jika anakanak mengikuti kegiatan membatik dengan ketuntasan, mereka dapat menjadi lebih mandiri dalam menyelesaikan tugas Kajian oleh Iswantiningtyas et . , anak-anak yang mandiri memiliki kemampuan untuk bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugastugasnya baik disekolah maupun Membatik adalah seni menghias kain putih polos dengan mengikat tali untuk memberi warna. Anak harus sabar untuk mendapatkan hasil yang menarik. Metode yang dapat digunakan dalam pengembangan kreativitas anak adalah aktivitas membatik. Astini dkk. mengemukakan bahwa membatik dapat menjadi media efektif untuk merangsang imajinasi dan kreativitas anak-anak. Membatik jumputan sebagai salah satu variasi membatik melibatkan teknik ikat celup yang tidak hanya menghibur tetapi juga membuka peluang bagi anak guna bereksplorasi dengan Proses mengembangkan keterampilan motorik halus, daya imajinasi, serta konsentrasi. Manfaat lainnya yang dapat diperoleh melalui kegiatan membatik peningkatan psikomotorik, stimulasi aktivitas otak, dan pengenalan terhadap budaya (Chayanti & Setyowati, 2. Semua ini kreativitas yang menyeluruh, yang sangat (Probosiwi & Febrian, 2. mengemukakan membatik adalah gaya seni kriya, juga dikenal sebagai Seni rupa terapan yang merupakan salah satu bentuk seni yang telah berkembang di berbagai daerah di Indonesia. Roostin . menyebutkan bahwa teknik membatik sederhana memiliki perbedaan dengan membatik tradisional, di mana proses membatik pada umumnya menggunakan kain dan lilin malam panas untuk membuat pola dengan canting di atas kain. Sebaliknya, pada membatik sederhana untuk anak usia dini, media yang digunakan adalah pewarna makanan yang dicapkan atau diteteskan ke kain polos menggunakan alat cap, sehingga membentuk motif tertentu. Dengan demikian, kegiatan membatik cap sederhana ini menjadi alternatif aktivitas kreatif yang sesuai untuk anak usia dini. Menurut Fatmala & Hartati . , kegiatan membatik untuk anak usia 5Ae6 tahun merupakan salah satu metode yang digunakan guru untuk memberikan aktivitas membubuhkan corak pada bidang datar tanpa memperhitungkan ketebalannya . arya dua dimens. sebagai sarana menuangkan ide kreatif dan perasaan anak melalui pewarnaan, dengan Melalui pembelajaran ini, anak-anak yang sebelumnya belum memahami materi atau belum memiliki keterampilan, setelah mendapatkan bimbingan dari guru, menjadi mampu memahami materi ajar sekaligus memiliki keterampilan tersebut. Keterampilan yang dimaksud mencakup kemampuan koordinasi antara tangan dan Proses dan dampak kegiatan eksplorasi warna melalui teknik membatik tie-dye terhadap pertumbuhan motorik halus pada peserta didik. Studi ini dilaksanakan di salah satu lembaga pendidikan yaitu tk labschool syekkh manshur, dengan subjek penelitian sebanyak 17 anak berusia 5-6 tahun. Metode pengumpulan data termasuk wawancara dengan guru, observasi langsung ke lapangan, dan dokumentasi kegiatan anak selama proses membatik tie-dye. Peneliti mengamati gerakan motorik halus anak, seperti keterampilan menjumput kain, mengikat karet, serta mencelup dan meremas larutan warna ke dalam kain yang sudah di ikat. Hasil memberikan gambaran nyata tentang bagaimana kegiatan eksplorasi warna melalui teknik tie-dye dapat merangsang koordinasi tangan dan jari, serta meningkatkan keterampilan manipulatif pada anak usia dini dalam konteks bermain sambil belajar. Pemanfaatan Membatik Bagi Anak Usia Dini Rahayu . menyatakan bahwa manfaat membatik untuk anak usia dini adalah bahwa anak-anak akan belajar mengenal karya seni, dan mereka juga dapat mencintai dan melestarikan keterampilan membatik, yang merupakan warisan nenek moyang mereka. Pembatikan juga membantu perkembangan motorik anak, termasuk koordinasi antara tangan dan mata. Peserta menyelesaikan tugas dengan tanggung jawab dan mencapai hasil yang diinginkan. Selain itu, kegiatan ini akan memberikan kepercayaan pada diri anak dan membangun pola-pola yang menarik. Pembatikan. Prasetyono Ikawati. Saparahayuningsih, dan Yulidesni . , meningkatkan kepercayaan diri serta meningkatkan koordinasi tangan dan mata, yang merupakan manfaat kegiatan untuk anak usia dini. Pembatik membantu anak usia dini motorik halus mereka, yang melibatkan jarijemari mereka, serta meningkatkan konsentrasi dan kesabaran mereka untuk menghasilkan pola yang baik. Gambar 1 Kegiatan Tie Dye di TK Labschool Menurut Prasetyono . , membatik adalah kegiatan yang membutuhkan koordinasi mata dan tangan, yang merupakan keuntungan bagi anak usia diniMembatik tidak hanya menghasilkan pola yang indah, tetapi juga dapat menumbuhkan rasa percaya diri anak. Roostin . mengungkapkan bahwa membatik sederhana bisa memberikan stimulasi pada otak kanan anak, sehingga Cara dan Langkah-Langkah dalam Kegiatan Membatik Dalam membatik, tahap pertama yang dilakukan adalah persiapan. Guru memulai dengan memberikan penjelasan mengenai teknik pembuatan cap dingin sederhana, sekaligus menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan. Tahap kedua yaitu pelaksanaan kegiatan membatik cap dingin sederhana. Pada tahap ini, guru terlebih dahulu memberikan penjelasan dan contoh cara membuat cap dingin sederhana yang akan dipraktikkan oleh anak-anak. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam kegiatan ini meliputi: Anak-anak diminta berbaris untuk mendapatkan giliran. Guru memberikan contoh cara pelaksanaan kegiatannya. memperaktekkan batik lipat tersebut. dimulai dari melipat, mengikat, mewarnai menggunakan pewarna yang sudah disiaokan oleh guru. Selanjutnya, hasil baju yang sudah diberi warna dimasukkan kedalam pelastik untuk kemudian dijemur sampai Tahap ketiga yaitu penutupan, di anak-anak membersihkan alat dan bahan yang telah Setelah semua peralatan bersih, anak-anak dan guru mencuci tangan bersama. Hasil karya anak-anak kemudian dijemur hingga kering. Motorik Halus Anak Usia Dini Kemampuan fisik motorik harus dikembangkan sejak dini karena merupakan kemampuan dasar yang penting untuk perkembangan dan pertumbuhan anak. Ketika syaraf dan otot tumbuh, kemampuan motorik anak berkembang. Kemampuan motorik kasar mencakup gerakan otot besar seperti berlari, berjalan, melompat, dan sebagainya. Kemampuan motorik halus mencakup gerakan otot kecil seperti menulis, memegang, menempel, dan sebagainya. Wulan . menyebutkan bahwa keterampilan dalam menggerakkan otot tangan, jari-jari, bahu, dan pergelangan tangan termasuk dalam kemampuan motorik Aktivitas seperti makan, merawat diri, menulis, menjiplak, melempar, menangkap, serta menyusun benda kompleks merupakan beberapa contoh keterampilan tangan yang banyak diteliti. Oleh karena itu, motorik halus anak usia dini dapat diartikan sebagai kemampuan anak dalam melakukan aktivitas yang melibatkan otot kecil pada tangan, disertai dengan koordinasi gerakan tangan dan mata. Menurut Sujiono . , pengembangan motorik halus bertujuan agar anak mampu berkreasi melalui aktivitas seperti menulis, menggambar, dan mewarnai, serta dapat menggunakan otot-otot kecil, khususnya gerakan jari, koordinasi antara tangan dan mata, serta kemampuan memegang dan meletakkan benda dengan Dengan begitu, anak akan terbiasa menggerakkan jari-jarinya dengan lentur, sehingga lebih terampil dan teliti dalam menggunakan tangan dan penglihatan dalam aktivitas sehari-hari. Analisis Pemanfaatan Membatik Tie-dye Untuk Mengembangkan Kemampuan Motorik Halus Anak Di Taman KanakKanak Berdasarkan mengenai membatik dan keterampilan motorik halus anak usia dini, dapat disimpulkan beberapa hal. Pertama, kegiatan membatik tie-dye mampu membantu anak motorik halus melalui aktivitas mencap, menempelkan, dan memegang alat membatik. Kedua, membatik cap sederhana bermanfaat dalam melatih anak mencampur warna, mengaduk, serta melakukan gerakan mencap yang dapat melatih otot-otot halus di jarijemari mereka. Dengan melakukan aktivitas tersebut secara berulang, kemampuan otot tangan anak akan semakin terlatih. Selain itu, karena peralatan yang digunakan bersifat aman, mudah diperoleh, dan menarik, kegiatan membatik tie-dye sangat sesuai dijadikan media pembelajaran bagi anak usia Ketiga, aktivitas membatik juga dapat melatih konsentrasi dan kesabaran anak. Lingkungan yang mendukung pengembangan motorik halus akan membuat anak lebih fokus terhadap aktivitas fisik yang berguna dalam membantu mereka menjalankan aktivitas sehari-hari. Selain itu, kegiatan membatik sederhana memberikan pengalaman baru bagi anak serta membiasakan mereka untuk bekerja sama dan aktif bertanya kepada guru selama kegiatan berlangsung. KESIMPULAN Melalui projek tie-dye, perkembangan motorik halus anak usia dini dapat terlatih. Dalam kegiatan ini, anak-anak dilatih untuk sederhana secara berulang, serta berkreasi menggunakan warna-warna pilihan yang sesuai dengan keinginan dan imajinasi Guru dapat menggunakan kegiatan membatik pita ini untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak. Dengan demikian, kegiatan guru dengan anak-anak tidak hanya itu-itu saja. Membatik cap sederhana dengan spidol adalah kegiatan yang menyenangkan untuk anak-anak di mana mereka dapat bermain dengan warna dan mencoba hal-hal baru. Orang tua dapat melakukannya di rumah bersama anak mereka dengan menggunakan cat dan menggunakan alat cap sederhana dari barang bekas di rumah. DAFTAR PUSTAKA