Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 9 Nomor 4 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Integrasi Prinsip Catur Paramita Dalam Pembelajaran Berdiferensiasi Pada Pendidikan Agama Hindu: Studi Kasus Di SMAN 4 Mataram I Wayan Rudiarta Institut Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram iwayanrudiarta@iahn-gdepudja. Abstract Differentiated learning can be interpreted as learning that seeks to provide maximum learning services to students. This learning is often referred to as learning that favors students because its implementation refers to mapping students based on learning readiness, learning interests and learning profiles. The implementation of differentiated learning in Hindu Religious Education and Budi Pekerti subjects at the high schools level in Mataram city is still very rare, and one of the schools that implement it is Senior High School 4 Mataram. This study aims to critically analyze the implementation of differentiated learning in Hindu Religious Education and Budi Pekerti subjects at Senior High School 4 Mataram by adopting the Catur paramita approach which comes from the concept of Hinduism. This research was conducted using a descriptive qualitative approach with data collection using observation, interview, and documentation The collected data were then analyzed through the process of data reduction, data presentation and conclusion drawing. Based on this research, differentiated learning in Hindu Religious Education and Budi Pekerti subjects at SMAN 4 Mataram which is applied to the aspects of process differentiation and product differentiation can maintain student motivation, concentration and learning focus. Through the implementation of differentiated learning with the implementation of the values of catur paramita teachings, the learning process can be more effective. Keywords: Differentiated Learning. Hindus Religious Education. Catur Paramita Abstrak Pembelajaran berdiferensiasi dapat dimaknai sebagai pembelajaran yang berupaya untuk memberikan pelayanan pembelajaran kepada siswa secara maksimal. Pembelajaran ini sering disebut sebagai pembelajaran yang berpihak kepada siswa karena penyelenggaraannya mengacu pada pemetaan siswa berdasarkan kesiapan belajar, minat belajar dan profil belajar. Pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti pada jenjang SMA/SMK di kota Mataram masih sangat jarang, dan salah satu sekolah yang menerapkan adalah SMAN 4 Mataram. Penelitian ini bertujuan untuk untuk menganalisis secara kritis pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi pada mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMAN 4 Mataram dengan mengadopsi pendekatan Catur paramita yang bersumber dari konsep ajaran Agama Hindu. Penelitian ini dilaksanakan dengan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang sudah terkumpul kemudian dianalisis melalui proses reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan penelitian ini, pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMAN 4 Mataram yang diterapkan pada aspek diferensiasi proses dan diferensiasi produk dapat menjaga motivasi, konsentrasi dan fokus belajar siswa. Melalui pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi dengan implementasi nilai-nilai ajaran catur paramita proses https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH pembelajaran berlangsung secara humanis dengan para guru berupaya mengakomodasi kebutuhan belajar siswa sesuai gaya belajar, profil belajar dan minat belajar. Hal ini berimplikasi pada tercapainya capaian pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti sebagaimana yang tertuang dalam kurikulum. Kata Kunci: Pembelajaran Berdiferensiasi. Pendidikan Agama Hindu. Catur Paramita Pendahuluan Pembelajaran berdiferensiasi merupakan paradigma pembelajaran lama yang kembali dipopulerkan untuk pelaksanaan dari Kurikulum Merdeka pada jenjang pendidikan dasar dan menengah (Purba et al. , 2. Konsep Pembelajaran berdiferensiasi, diperkenalkan oleh Tomlinson yang memberikan pemahaman bahwa pembelajaran berdiferensiasi merupakan pendekatan sistematik dalam perencanaan kurikulum untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang mengakomodasi kebutuhan belajar siswa (Tomlinson & Eidson, 2. Pembelajaran berdiferensiasi bukanlah hanya tentang mengelompokkan siswa berdasarkan kesamaan potensi, melainkan memberikan siswa peluang untuk belajar pada level yang tepat (Tomlinson, 2. Pembelajaran berdiferensiasi yang diterapkan pada kurikulum merdeka secara umum dilakukan dengan pola perencanaan, pelaksanaan dan kemudian diakhiri dengan evaluasi (Khasanah & Alfiandra, 2023. Yuono et al. , 2. Tahap perencanaan memegang peranan yang cukup penting, karena dengan perencanaan yang baik, pelaksanaan dan evaluasi juga akan bisa dilakukan dengan baik. Perbedaan mendasar dalam pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi ini adalah adanya perencanaan asesmen diagnostik baik asesmen diagnostik dalam aspek kognitif maupun asesmen diagnostik dalam aspek non kognitif (Wahyuni et al. , 2. Pembelajaran berdiferensiasi diterapkan dengan menekankan pada upaya pemenuhan kebutuhan belajar siswa dari aspek kesiapan belajar, minat dan profil belajar (Purba et al. , 2. Dengan mengakomodasi kebutuhan belajar siswa tersebut, diharapkan penerapan pembelajaran berdiferensiasi mampu meningkatkan kualitas pembelajaran baik dari aspek motivasi maupun ketercapaian capaian pembelajaran (Avivi et al. , 2023. Pratiwi & Maftujianah, 2023. Simanjuntak et al. , 2. Hal ini tidak terlepas dari penerapan berbagai diferensiasi dalam pembelajaran yang mencakup diferensiasi konten, diferensiasi proses, diferensiasi produk, dan diferensiasi lingkungan belajar (Wahyuni et al. , 2023. Yuono et al. , 2. Pembelajaran berdiferensiasi dipandang sebagai solusi atas pola pembelajaran agar mampu mengajar sesuai kebutuhan siswa. Pembelajaran berdiferensiasi lebih sering digunakan dalam mata pelajaran umum yang tentunya memiliki rekomendasi agar pembelajaran berdiferensiasi ini bisa diterapkan dalam pembelajaran lain ke depannya, sebagaimana pada mata pelajaran PPKN pembelajaran ini dapat menjadi sebuah solusi atas kanekaragaman siswa (Ramadhan et al. , 2. Begitu juga ketika diterapkan dalam mata pelajaran IPA, pembelajaran berdiferensiasi mampu membantu siswa dalam menjaga motivasi belajarnya (Pratiwi & Maftujianah, 2. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi juga akan mampu memberikan dampak yang serupa apabila diterapkan dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti. Beberapa penelitian relevan yang berkaitan dengan penerapan pembelajaran berdiferensiasi adalah Penelitian Sukmawati yang menuliskan bahwa pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam secara umum ditempuh melaui tiga tahap, yaitu perencanaan melalui pemetaan siswa, pelaksanaan pembelajaran dengan diferensiasi konten, proses dan produk serta melakukan evaluasi (Sukmawati, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH 2. Sementara itu, penelitian Sopianti menuliskan bahwa dalam mata pelajaran Seni Budaya pembelajaran berdiferensiasi dilakukan melalui pemetaan kebutuhan belajar, perencanaan dengan membuat strategi diferensiasi konten, proses dan produk serta melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi (Sopianti, 2. Selanjutnya penelitian Khasanah dan Alfiandra menuliskan bahwa dalam upaya meningkatkan motivasi belajar siswa, pembelajaran berdiferensiasi dilakukan melalui pemetaan kemampuan siswa, membuat perencanaan, melaksanakan proses pembelajaran dan melakukan evaluasi (Khasanah & Alfiandra, 2. Ketiga penelitian di atas secara hasil memiliki kemiripan yang mana terurai bahwa dalam mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi dilakukan melalui tahap perencanaan . , pelaksanaan dan evaluasi. Akan tetapi dari ketiga penelitian tersebut belum ada yang melakukan kajian dengan objek mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti. Dalam penelitian ini, peneliti akan melakukan penelitian dengan objek mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti serta mengintegrasikan prinsip catur paramita dalam konteks pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi dari perencanaan hingga evaluasi. Hal ini berkaca dari keberhasilan integrasi prinsip catur paramita dalam pembelajaran dengan model discovery learning (Dewi & Sujana, 2. Integrasi prinsip catur paramita dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu juga bisa digunakan dalam pembelajaran dengan model project based learning, metode role-playing, diskusi kelompok dan praktek reflekti, yang bermuara pada munculnya sikap empati, toleransi, keseimbangan emosi, dan kesadaran moral (Sentana, 2. Penerapan pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti ternyata tidak terlalu popular di kalangan para guru. Hal ini nampak dari hasil survey sederhana dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi pada sekolah jenjang SMA/SMK di Kota Mataram terkhusus untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti, tercatat hanya 33% guru yang menerapkan pembelajaran Salah satu sekolah yang secara aktif melakukan pembelajaran berdiferensiasi adalah SMAN 4 Mataram. Tiga penelitian terdahulu yang diuraikan di atas menekankan pada pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi dengan prinsip umum, berbeda halnya dengan pembelajaran berdiferensiasi pada pembelajaran Pendidikan Agama Hindu di SMAN 4 Mataram yang mengintegrasikan prinsip catur paramita dalam konteks pembelajaran. Hal ini merupakan sesuatu hal yang baru dan perlu dikaji secara Berdasarkan fenomena gap serta research gap yang telah diuraikan, dapat dirumuskan masalah . bagaimana implementasi diferensiasi proses dan diferensiasi produk dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMAN 4 Mataram? dan . bagaimana integrasi prinsip catur paramita dalam pembelajaran berdiferensiasi di SMAN 4 Mataram? Bersesuaian dengan rumusan masalah tersebut, tujuan pelaksan penelitian ini adalah melakukan analisis kritis terkait pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi dengan integrasi prinsip catur paramita pada mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMAN 4 Mataram. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang dimaksudkan untuk mengeksplorasi permasalahan terkait penerapan pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti dengan pengumpulan data melalui observasi non partisipan, wawancara mendalam dan studi dokumen. informan yang diwawancara dalam penelitian ini adalah berjumlah 3 orang guru dan 10 orang siswa. Pada penelitian kualitatif ini, peneliti berperan sebagai instrumen utama. Peneliti secara langsung terlibat dalam proses pengumpulan data, pengamatan, wawancara, analisis data, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH dan penarikan kesimpulan. Peneliti tidak hanya menggunakan alat bantu . edoman waswancara dan observas. , tetapi pengetahuan, pengalaman, dan interpretasi peneliti sendiri menjadi hal penting dalam memahami fenomena yang diteliti. Pelaksanaan wawancaran dilakukan dengan menggunakan panduan berupa daftar pertanyaan terbuka untuk melakukan wawancara mendalam. Pengumpulan data kualitatif dilakukan menggunakan wawancara mendalam . n depth intervie. kepada para informan dengan berpedoman pada daftar pertanyaan terbuka yang akan dijawab oleh para informan. Data yang telah diperoleh kemudian dilakukan uji keabsahan melalui . uji kredibilitas untuk memastikan bahwa data yang ditemukan dalam penelitian dapat dipercaya dan valid yang dilakukan melalui perpanjangan pengamatan, triangulasi data . aik triangulasi waktu, triangulasi sumber dat. , serta diskusi dengan rekan sejawat. Uji transferabilitas untuk memastikan bahwa hasil penelitian dapat diterapkan atau dipindahkan ke konteks lain. Uji ini dilakukan dengan menyajikan hasil penelitian secara jelas. Uji dependabilitas untuk memastikan bahwa penelitian dapat diulang oleh orang lain dengan hasil yang sama atau serupa. Uji konfirmabilitas bertujuan untuk memastikan bahwa hasil penelitian bersifat objektif dan tidak dipengaruhi oleh bias peneliti. Selanjutnya, data yang sudah terkumpul dianalisis secara kualitatif menggunakan tahapan reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data serta pengkodean dan pengkategorisasian untuk menemukan tematema hasil penelitian, dan setelahnay data disajikan secara naratif deskriptif dengan beberapa dokumen pendukung berupa foto dan table. Hasil dan Pembahasan Implementasi Diferensiasi Proses dan Diferensiasi Produk dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Pembelajaran berdiferensiasi yang dilaksanakan pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMAN 4 Mataram terlaksana dalam dua aspek, yaitu diferensiasi proses dan diferensiasi produk. Diferensiasi proses dilakukan oleh guru dengan memetakan kemampuan siswa melalui assesmen diagnostik, kemudian dengan hasil assessmen tersebut guru menerapkan proses pembelajaran melalui beberapa teknik, siswa yang masuk dalam kategori kurang akan lebih intensif mendapat pendampingan dari guru, siswa yang sudah masuk dalam kategori sedang akan diberikan materi untuk dipelajari secara mandiri, sementara siswa yang masuk dalam kategori mahir, materi akan diberikan permasalahan untuk dipecahkan. Asesmen diagnostik sangat efektif digunakan untuk mempersiapkan siswa dalam mengikuti pembelajaran berdiferensiasi (Wulandari et al. , 2. Efektivitas asesmen ini terletak pada kemampuannya membantu guru memetakan kesiapan dan potensi siswa. Dengan demikian, strategi pembelajaran yang dirancang tidak bersifat seragam, melainkan mampu mengakomodasi variasi kemampuan dan kesiapan belajar. Ini menjadikan proses pembelajaran lebih adaptif dan bermakna. Asesmen diagnostik kognitif maupun non-kognitif dapat memberikan informasi kepada guru terkait dengan keadaan, kesiapan, minat dan gaya belajar siswa. Informasi yang diperoleh dari kedua jenis asesmen tersebut memberikan pemahaman yang komprehensif bagi guru. Tidak hanya aspek akademik, tetapi juga aspek afektif dan personal siswa ikut terpetakan. Dengan pemahaman tersebut, guru dapat menyusun strategi yang lebih tepat sasaran dan selaras dengan kondisi riil di kelas. Dengan informasi tersebut, guru dapat merancang proses pembelajaran yang sesuai kebutuhan siswa (Azis & Lubis, 2. Rancangan pembelajaran berbasis hasil asesmen akan lebih kontekstual dan terarah. Guru tidak lagi membuat perencanaan berdasarkan asumsi umum, melainkan berdasarkan data konkret yang mendeskripsikan karakteristik belajar siswa secara spesifik. Hal ini meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses belajar-mengajar. Dengan mengetahui karakteristik siswa, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH guru dapat menyesuaikan strategi dan metode pembelajaran yang harus dilakukan sehingga dapat mengakomodasi kebutuhan belajar siswa (Azrina & Prasetyo, 2023. Marmoah et al. , 2. Berkaitan dengan hal tersebut. Komang Purnawati. Guru Agama Hindu Kelas X dalam wawancaranya pada tanggal 18 Juli 2023 mengatakan sebagai Pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi disini cukup menyenangkan untuk anak-anak. Kalau disini dalam pembelajaran berdiferensiasi, guru itu sebagai fasilitator, pendamping. Jadi yang sudah kelompok mahir nanti bisa menjadi tutor teman sejawat. Dan dalam pelaksanaannya, saya menerapkan metode belajarnya sama, tetapi prosesnya yang berbeda. Karena misalnya menggunakan model Discovery Learning, pada kelompok mahir sudah tahu nih, cukup diberikan penjelasan terkait langkah-langkahnya saja. Tetapi pada kelompok yang kurang, pendampingannya akan lebih intensif. Petikan wawancara di atas menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi di SMAN 4 Mataram berlangsung dalam suasana yang cukup menyenangkan dan mendapatkan sambutan hangat dari para siswa sepertik halnya dalam pelaksanaan diferensiasi proses. Diferensiasi proses dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMAN 4 Mataram dilakukan setelah memetakan siswa menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok A . iswa yang sudah memaham. , kelompok B . iswa cukup memaham. , dan kelompok C . iswa belum memaham. Dari tiga kelompok guru akan memberikan cara belajar yang berbeda, kelompok C akan didampingi secara intensif, sehingga mereka belajar dengan menyimak PPT yang telah disiapkan guru. Sementara untuk kelompok A dan B, mereka duduk berkelompok dan memproses informasi materi pelajaran yang telah disiapkan dalam bentuk video. Diferensiasi proses yang dilaksanakan pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMAN 4 Mataram juga dilaksanakan berdasarkan perencanaan yang disusun. Dengan demikian, setiap proses belajar yang terjadi di kelas bukanlah spontanitas, melainkan bagian dari skema pembelajaran yang dirancang matang. Diferensiasi proses ini menjadi bentuk nyata implementasi asesmen diagnostik dalam praktik kelas. Diferensiasi proses dimaksudkan bahwa guru memberikan metode belajar yang berbeda pada tiap kelompok siswa sesuai dengan gaya belajarnya untuk mencapai Capaian Pembelajaran (Syifa et al. , 2024. Tanduklangi, 2. Tujuannya adalah agar semua siswa, terlepas dari gaya belajar dan tingkat kesiapan mereka, dapat mencapai standar kompetensi yang telah ditetapkan. Berbagai metode seperti diskusi kelompok, eksplorasi mandiri, maupun pendekatan kreatif lainnya dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan pencapaian tersebut. Melalui proses pembelajaran yang terdiferensiasi, pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti tidak disertai dengan diferensiasi konten. Hal ini dimaksudkan bahwa dalam materi yang sama dapat digunakan strategi dan metode yang berbeda. Kejenuhan kerapkali dialami oleh siswa dalam mengikuti aktivitas pembelajaran, olehnya guru seringkali menggunakan platform digital untuk meningkatkan antusias siswa, seperti melalui padlet. com, quizizz, kahoot! . ampak pada gambar 1 dan gambar . , wordwall, dan mentimeter. Melalui penggunaan pelatform digital tersebut siswa yang merasa lebih tertantang dan termotivasi untuk mengikuti, karena konten yang disajikan dalam platform tersebut lebih menekankan pada aktivias belajar sambil bermain. Upaya guru untuk mempertahankan motivasi dan peran serta siswa dalam aktivitas pembelajaran juga terkadang tidak sesuai dengan harapan. Guru belum mampu mengakomodasi minat dan gaya belajar siswa secara keseluruhan. Berkaitan dengan hal tersebut Kadek Artadi, guru Pendidikan Agama Hindu Kelas XI dalam wawancara pada tanggal 26 Juli 2023 menyampaikan sebagai berikut. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Kendala kami dalam mengimplementasikan kurikulum merdeka khususnya pembelajaran berdiferensiasi salah satunya adalah belum mampu mengakomodasi minat siswa secara keseluruhan. Walaupun dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu siswanya tidak sebanyak mata pelajaran umum lainnya, tetapi kami guru belum bisa 100% memenuhi kebutuhan belajar siswa. Ada saja siswa yang tidak mampu mengikuti aktivitas pembelajaran secara maksimal. Gambar 1. Pembelajaran Berbantukan Kahoot! (Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2. Gambar 2. Hasil Siswa Belajar Dengan Kahoot! (Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2. Pernyataan Kadek Artadi menunjukkan kesungguhan guru dalam berupaya menoptimalkan pembelajaran di kelas. Melalui penerapan diferensiasi proses dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti, guru mampu memberikan layanan pembelajaran yang lebih terfokus dan sesuai dengan kebutuhan individu siswa. Pendekatan ini mendorong guru untuk mengenali dan memahami karakteristik unik setiap siswa, termasuk minat, gaya belajar, dan profil belajar mereka, yang kemudian digunakan sebagai dasar untuk menyesuaikan strategi pengajaran yang efektif. Dengan mengakomodasi keragaman ini, proses belajar mengajar menuju ke arah inklusif dan responsif, sehingga yang nampak tidak hanya peran serta siswa dalam kegiatan pembelajaran, tetapi juga memperdalam pemahaman mereka terhadap materi pelajaran serta membangun nilai-nilai dan sikap yang selaras dengan ajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti. Melalui diferensiasi ini, guru juga membantu siswa mengembangkan potensi individu mereka dalam konteks pendidikan karakter dan spiritualitas, menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna dan berdaya guna. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Berdasarkan diferensiasi proses yang dilakukan dalam pembelajaran, guru berupaya mendorong siswa agar mampu mengahasilkan output yang berbeda dari aktivitas pembelajaran yang diikuti. Diferensiasi produk adalah ukuran keberhasilan siswa dalam mengikuti pembelajaran. diferensiasi produk ini dimaksudkan bahwa siswa dengan kemampuan yang berbeda akan menghasilkan output yang berbeda dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Dewa Gangga, salah seorang siswa kelas X mengatakan. Audalam pembelajaran biasanya saya lebih suka project. Project ini sangat penting saat ini dikaitkan dengan CP-nya harus melakukan analisis. Hal ini dipandang penting karena akan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMAN 4 Mataram menerapkan diferensiasi produk berdasarkan pada pemetaan profil belajar siswa. Untuk siswa dengan profil belajar visual diminta produk dalam bentuk mind map, kemudian siswa dengan profil belajar audio diminta produk dalam bentuk jawaban lisan serta siswa dengan profil belajar konestetik diminta produk dalam bentuk presentasi di depan kelas. Tetapi tidak lepas kemungkinan juga siswa dibebankan peda produk lain, seperti kliping, infografis, video, dan produk lainnya. Proses pembelajaran yang berbeda berdasarkan gaya belajar, profil belajar dan minat belajar siswa juga berimplikasi pada produk atau hasil pembelajaran yang dilakukan oleh siswa. Dalam diferensiasi produk, siswa diberi keleluasaan untuk menunjukkan pemahaman mereka melalui berbagai cara. Ini mendorong kreativitas dan ekspresi diri, yang pada akhirnya membuat proses belajar menjadi lebih hidup dan Adanya diferensiasi produk menunjukkan adanya kreatifitas siswa dalam belajar sehingga meminimalisir kepasifan siswa dalam belajar (Nasrodin et al. , 2. Adanya diferensiasi produk juga menunjukkan siswa telah mampu memahami materi yang diajarkan oleh guru (Misnawati et al. , 2. Pemahaman tersebut tercermin dari keunikan dan kualitas produk yang dihasilkan. Hal ini menjadi indikator bahwa siswa tidak hanya menghafal, tetapi mampu merekonstruksi dan mengkomunikasikan pengetahuan dengan cara yang sesuai dengan kekuatan mereka masing-masing. Berikut adalah diferensiasi yang dilakukan mengacu pada kesiapan belajar siswa, minat belajar, serta profil belajar. Tabel 1. Contoh Strategi Pembelajaran Berdiferensiasi Kesiapan Belajar Minat Profil Belajar Diskusi kelas dengan Diskusi kelas dengan Diskusi kelas dengan pertanyaan yang berbeda pertanyaan yang berbeda chatting di media online, level kesulitannya sesuai minat peserta didik. podcast, talk show. Tutor sebaya Tutor sebaya yang Tutor sebaya di kelompok menjelaskan teman yang memiliki minat yang sama. , kecil . lewat video, gambar, lagu. Tugas dengan Tugas menggunakan RAFT yang dimainkan menggunakan RAFT RAFT yang berbeda dalam Role play . ermain (Role Audience Format topiknya sesuai minat Topi. yg berbeda level peserta didik. Think Ae Pair Ae Share Jigsaw . xpert group Pameran berjalan . allery berdasarkan mina. Dadu berpikir yang level Dadu berpikir yang Dadu berpikir yang kesulitan tugasnya berbeda pertanyaannya berbeda tugasnya sesuai dengan minat peserta didik auditori, visual, atau kinestetik. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Kontrak Belajar untuk kegiatan berdasarkan kesiapan peserta didik. Kontrak belajar kegiatan berdasarkan minat peserta didik. Kontrak belajar sesuai dengan gaya belajar auditori, visual, atau Asesmen dengan berbagai gaya belajar Papan Pilihan dengan Belajar mandiri sesuai kegiatan yang berbeda dengan minat peserta (Sumber: Purba et al. , 2. Pilihan belajar diberikan oleh guru kepada para siswa, demikian juga dalam diferensiasi produk. Keleluasaan yang diberikan oleh guru dalam bentuk hasil pembelajaran yang beragam menunjukkan bahwa penerapan diferensiasi produk dapat membuka peluang yang luas bagi siswa untuk mengekspresikan kreativitas mereka secara lebih mendalam. Dengan memberikan pilihan kepada siswa dalam menentukan bentuk akhir atau produk pembelajaran, seperti proyek, presentasi, atau karya kreatif lainnya, guru mendorong siswa untuk terlibat lebih aktif dan personal dalam proses belajar. Diferensiasi produk memungkinkan siswa menyalurkan ide, bakat, serta perspektif unik mereka, yang tidak hanya membuat pembelajaran terasa lebih relevan dan memuaskan, tetapi juga mendorong mereka untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan Dengan ini, siswa bukan hanya mengikuti instruksi, melainkan menciptakan pembelajaran yang bermakna dan sesuai dengan diri mereka, yang pada akhirnya meningkatkan rasa memiliki terhadap proses dan hasil pembelajaran itu sendiri. Melalui pendekatan ini, guru berhasil menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif, adaptif, dan berpusat pada siswa, di mana setiap individu merasa diberdayakan dan termotivasi untuk mengeksplorasi potensi mereka secara optimal. Pelaksanaan pembelajaran yang mengupayakan tetap terjaganya motivasi belajar siswa dengan pembelajaran berdiferensiasi ini tentunya tidak terlepas dari aktivitas perencanaan yang dilaksanakan oleh guru. Guru terlebih dahulu mendesain kegiatan pembelajaran dengan menyusun modul ajar yang berisikan langkah-langkah pembelajaran, strategi, metode, media, bentuk evaluasi hingga materi yang akan diajarkan kepada siswa. Adanya modul ajar menjadi prasyarat yang harus dimiliki oleh guru untuk dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan efektif. Berkaitan dengan hal itu. Puji Asrini, guru Agama Hindu kelas XII dalam wawancaranya pada tanggal 30 Agustus 2023 mengatakan sebagai berikut. Dalam modul ajar ini sudah tercantum langkah-langkah pembelajaran, tujuan pembelajaran asesmen dan lain sebagainya. Perbedaan mendasar RPP dengan Modul Ajar adalah pada awal pembelajaran diisi pertanyaan pemantiknya, ada pemahaman bermaknanya, yang tentunya juga kita kalau di dalam kurikulum merdeka itu, khusus dalam pembelajaran Agama Hindu ada lima elemen kecakapan dan lima elemen konten. Pernyataan Puji Asrini menunjukkan bahwa melalui perencanaan yang matang dan terstruktur, implementasi pembelajaran berdiferensiasi dimungkinkan untuk terlaksana dengan baik serta dengan acuan yang jelas. Perencanaan ini mencakup penentuan diferensiasi proses dan produk yang telah dipikirkan oleh guru sebelum proses pembelajaran dimulai, sehingga setiap langkah yang diambil dalam pengajaran memiliki landasan yang kuat dan tujuan yang terarah. Guru mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk perbedaan gaya belajar, minat, dan kemampuan siswa, sehingga proses pembelajaran dapat disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan individu. Dalam diferensiasi proses, guru merancang kegiatan belajar yang bervariasi agar siswa dimungkinkan belajar sesuai dengan profil mereka, sementara dalam diferensiasi produk, siswa diberi pilihan dalam menunjukkan pemahaman mereka melalui berbagai bentuk hasil karya, seperti https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH proyek, presentasi, atau produk kreatif lainnya. Dengan perencanaan yang telah disusun sebelumnya, guru memiliki peta yang jelas untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang fleksibel, di mana setiap siswa mampu mengaktualisasikan potensi dan keunikan mereka masing-masing. Perencanaan ini memastikan bahwa pembelajaran tidak hanya terfokus pada penyampaian materi, tetapi juga pada pengembangan keterampilan berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif siswa, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan lebih efektif dan bermakna. Hal penting lainnya yang dilakukan oleh guru dalam pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti adalah evaluasi pembelajaran. Pada pembelajaran berdiferensiasi, evaluasi dilakukan oleh guru bukan semata-mata untuk mengetahui nilai yang diperoleh siswa, melainkan guru berusaha mengetahui kemampuan siswa secara holistic. Guru melihat perkembangan kemampuan siswa setelah dan sebelum dilakukannya pembelajaran. Hal ini senada dengan pernyataan Komang Purnawati. Guru Agama Hindu kelas X dalam wawancaranya pada tanggal 18 Juli 2023 yang menyampaikan sebagai berikut. Terkait dengan evaluasi pembelajaran biasanya guru memakai kriteria, yaitu memberikan penilaian kualitatif, mana yang tuntas, belum tuntas, atau lainnya. tetapi ada juga berdasarkan nilai, ada juga pembobotan yang biasanya dilakukan melalui tes tulis. Kalau nilai lebih aman karena secara kuantitatif bisa dilihat Namun yang terpenting dalam evaluasi pada pembelajaran berdiferensiasi ini adalah guru mengetahui dan mengenal siswa secara utuh. Pernyataan Komang Purnawati mengisyaratkan bahwa pengenalan siswa secara utuh menjadi kunci penting dalam keberhasilan pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMAN 4 Mataram. Dengan mengenal siswa secara utuh, guru bisa menentukan pendekatan, metode dan strategi yang akan digunakan yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Pencapaian Capaian Pembelajaran (CP) memang menjadi indikator yang termuat dalam kurikulum untuk melihat keberhasilan belajar siswa, namun dengan mengenal siswa secara utuh akan membantu proses tercapainya CP mata pelajaran. Jumlah siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti yang tidak terlalu banyak memberikan ruang lebih besar bagi guru untuk lebih mengenal siswanya. Dan langkah ini terbukti mampu memberikan peningkatkan hasil belajar pada siswa tidak hanya pada ranah kognitif, tetapi juga pada ranah afektif dan psikomotor. Pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti berimplikasi pada terjaganya motivasi belajar siswa. Salah satu siswa atas nama Ni Putu Dewi Candra Wangi dalam wawancara tanggal 26 Juli 2023 menyampaikan sebagai berikut. Saat ini saya merasa ada peningkatan motivasi dalam belajar. Kalau saya yang dulu lebih malas dalam belajar, tetapi sekarang saya lebih semangat belajar. Ini tidak terlepas dari cara mengajar yang dilakukan oleh guru. Selain motivasi, konsentrasi dan fokus belajar siswa juga dapat diupayakan oleh guru. Siswa lain atas nama Ni Nengah Lena Pradyantari dalam wawancara tanggal 10 Agustus 2023 menuturkan sebagai berikut. Konsentrasi saya dalam belajar cukup baik, hal ini membuat saya merasa nyaman dalam mengikuti pelajaran. Bapak guru selalu asyik dalam mengajar sehingga kebosanan belajar yang saya rasakan perlahan hilang. Pernyataan Dewi dan Lena menunjukkan bahwa dalam implementasi diferensiasi proses dan diferensiasi produk pada pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMAN 4 Mataram mengindikasikan bahwa guru sudah berupaya untuk memberikan pelayanan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa. Upaya ini https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH mencerminkan profesionalisme guru dalam merancang pembelajaran yang berkeadilan. Guru tidak hanya berfokus pada materi, tetapi juga pada bagaimana materi itu dapat diakses dan dipahami oleh semua siswa dengan pendekatan yang relevan. Hal ini sangat sesuai dengan konsep pembelajaran humanisme yang dikembangan oleh Arthur W. Combs bahwa dalam aktivitas belajar yang dikedepankan adalah memanusiakan manusia. Guru tidak dibenarkan untuk memaksakan siswa belajar dengan cara yang tidak disukai (Sani, 2. Paksaan dalam metode belajar justru dapat menurunkan motivasi siswa. Sebaliknya, memberi ruang bagi siswa untuk belajar dengan cara yang sesuai akan menciptakan pengalaman belajar yang positif dan produktif. Dalam belajar guru mengedepankan adanya pemahaman atau makna dari proses pembelajaran, sebagaimana Arthur menyebutnya dengan istilah AumeaningAy (Anwar, 2. Dengan konsep AumeaningAy dan pembelajaran yang berpihak kepada siswa, hal ini mampu meningkatkan kenyamanan siswa dalam belajar sehingga mampu menjaga motivasinya (Aisyah & Bustam, 2. Memberikan kebebasan pada siswa dalam belajar dengan memperhatikan minat, bakat, dan potensinya akan memberikan kesempatan lebih luas kepada para siswa untuk dapat berkembang. Menerapkan pembelajaran berdiferensiasi pada Pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti menjadi bukti nyata keberpihakan guru pada siswa dalam Guru juga berupaya untuk melakukan pembelajaran dengan mengedepankan prinsip Auteaching at the right levelAy. Melalui akomodasi kebutuhan belajar siswa tentunya pembelajaran akan semakin bermakna dan memberikan impact yang lebih maksimal bagi kemajuan belajar siswa. Integrasi Prinsip Catur Paramita dalam Pembelajaran Berdiferensiasi Hal penting lainnya yang nampak dari proses pembelajaran berdiferensiasi yang dilaksanakan pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan budi Pekerti di SMAN 4 Mataram adalah integrasi prinsip catur paramita dalam pembelajaran. Catur paramita merupakan salah satu konsep ajaran Hindu yang menitikberatkan pada etika. Catur paramita sendiri dimaknai sebagai empat sifat dan sikap yang utama dan terdiri dari maitri, karuna, mudita serta upeksa. Maitri dimaknai sebagai sikap berteman, karuna sebagai sikap kasih sayang, mudita dimaknai sebagai sikap simpati dan upeksa sebagai bentuk toleransi atau tenggang rasa (Rudiarta, 2. Pembelajaran berdiferensiasi dilaksanakan dengan pendekatan catur paramita dimaksudkan agar para siswa dapat melaksanakan pembelajaran dalam situasi yang Konsep ajaran catur paramita ini sangat efektif digunakan dalam upaya penanaman karakter positif bagi para siswa (Paramita et al. , 2. Pendekatan ini sangat tepat diterapkan dalam lingkungan pendidikan untuk membangun budaya positif dalam aktivitas belajar mengajar, tidak terkecuali dalam pembelajaran berdiferensiasi di SMAN 4 Mataram (Mahendra & Setyaningsih, 2021. Satria et al. , 2. Disamping itu, prinsipprinsip ajaran dalam catur paramita sangat relevan dengan konsep belajar yang diyakini oleh kaum humanis. Empat landasan utama dalam betingkah laku ini akan menyemai sifat-sifat kemanusiaan agar mengakar kuat dalam mengembangkan minat, bakat dan potensi siswa. Melalui penerapan prinsip-prinsip Catur paramita, pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMAN 4 Mataram memberikan dampak yang positif bagi kultur belajar yang terlihat dari motivasi belajar, konsentrasi dan fokus siswa dalam belajar. Hal ini menguatkan temuan sebelumnya oleh (Khasanah & Alfiandra, 2023. Ripal et al. , 2. yang menyebutkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH a. Maitri sebagai Fondasi dalam Implementasi Cooperative Learning Prinsip maitri begitu nampak dalam implementasi pembelajaran berdiferensiasi pada Pendidikan Agama Hindu di SMAN 4 Mataram. Hasil observasi menunjukkan bahwa prinsip maitri dilaksanakan dengan membangun suasana keakraban di tiap siswa. Diferensiasi proses yang dilakukan oleh guru yang disertai dengan pemetaan siswa diupayakan untuk tidak menimbulkan kecemburuan diantara siswa. Guru berupaya agar para siswa bisa saling berbagi dan berdiskusi terkait dengan materi yang sedang Canda gurau diantara guru dan siswa juga sering dibangun sebagai upaya menjalin sinergi anatar guru dan siswa, sehingga guru akan dapat lebih mengenal siswa secara utuh. Siswa mau terbuka untuk menyampaikan permasalahan belajar yang Konsep Maitri dalam konteks implementasi pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMAN 4 Mataram dimaknai sebagai sikap berteman, penuh persahabatan, dan saling menghargai, hal ini menjadi fondasi penting dalam menciptakan suasana pembelajaran yang kolaboratif (Sentana, 2. Nilai ini sejalan dengan prinsip dasar dari pendekatan cooperative learning, yakni pembelajaran yang menekankan kerja sama antar siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran bersama (Anwar, 2. Guru di SMAN 4 Mataram secara aktif memetakan kemampuan dan gaya belajar siswa melalui asesmen diagnostik. Berdasarkan pemetaan tersebut, siswa dikelompokkan ke dalam kategori A . B . , dan C . , dengan profil belajar visual, auditori, dan kinestetik (Lukitaningtyas, 2. Proses diferensiasi yang dilakukan guru memerlukan partisipasi aktif siswa dalam kelompok yang homogen maupun heterogen. Dalam pelaksanaannya, kelompok siswa dengan gaya belajar yang sama diarahkan untuk bekerja sama secara efektif, berbagi peran, serta saling membantu dalam memahami materi pelajaran yang disampaikan (Asmani, 2. Hal ini menuntut adanya sikap saling menghormati, tidak saling meremehkan, dan mampu menerima perbedaan sebagai kekuatan bersama. Nilai maitri tercermin dalam suasana pembelajaran yang mendukung sinergi Guru menciptakan ruang di mana siswa merasa aman dan nyaman untuk berdiskusi, bertanya, dan belajar dari satu sama lain (Hanaris, 2. Dalam metode discovery learning, siswa dalam kategori mahir tidak hanya belajar untuk diri mereka sendiri, tetapi juga menjadi tutor sebaya bagi siswa yang mengalami kesulitan. Peran ini tidak dapat berjalan efektif tanpa adanya dasar sikap persahabatan yang dilandasi oleh nilai maitri (Asmani, 2. Informan guru menjelaskan bahwa keakraban antarsiswa dijaga agar tidak muncul kecemburuan ketika pendampingan diberikan secara berbeda sesuai kebutuhan (Simatupang et al. , 2. Ini menunjukkan bahwa guru tidak hanya mengelola pembelajaran secara teknis, tetapi juga membangun relasi sosial yang harmonis di antara siswa sebagai wujud dari nilai-nilai spiritual Hindu. Implementasi nilai maitri dalam cooperative learning juga membantu meminimalkan kompetisi yang tidak sehat di antara siswa. Dalam suasana yang penuh keakraban, siswa tidak merasa terbebani oleh perbedaan kemampuan, melainkan didorong untuk saling menguatkan. Bahkan penggunaan metode digital interaktif seperti Kahoot!. Quizziz, dan Padlet dilakukan tidak semata-mata untuk meningkatkan antusiasme siswa, tetapi juga sebagai sarana membangun kebersamaan dalam proses belajar yang menyenangkan (Rahayuni, 2. Intergrasi nilai maitri bukan sekadar etika dalam hubungan antarpribadi, tetapi menjadi dasar yang menghidupkan pembelajaran berdiferensiasi berbasis cooperative Dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti, implementasi nilai-nilai spiritual seperti maitri tidak hanya mendukung pencapaian capaian https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH pembelajaran (CP), tetapi juga membentuk karakter siswa agar mampu hidup dalam harmoni dengan sesama. Lingkungan belajar yang dilandasi oleh persahabatan dan kerja sama ini menjadi modal penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara sosial dan spiritual. Karuna sebagai Landasan Berpihak pada Siswa Prinsip karuna dalam pembelajaran berdiferensiasi pada Pendidikan Agama Hindu di SMAN 4 Mataram dilaksanakan oleh guru dengan tidak pilih kasih kepada Bahkan kepada para siswa yang secara kemampuan kurang guru tetap memberikan Dari hasil observasi ditemukan bahwa tidak jarang guru melakukan pendekatan di luar jam pelajaran untuk berupaya meningkatkan motivasi belajar siswa. Sejalan dengan itu. Komang Purnawati. Guru Agama Hindu Kelas X dalam wawancaranya pada tanggal 18 Juli 2023 mengatakan sebagai berikut. Dalam pembelajaran peran saya secara tidak langsung memberikan bimbingan tidak hanya pada saat pembelajaran, tetapi juga pada saat di luar jam pelajaran. Pernyataan Komang Purnawati menunjukkan bahwa peran di luar jam pelajaran ini menjadi salah satu indikasi bahwa guru memiliki kasih sayang yang tinggi kepada para Para guru memiliki harapan yang besar bahwa para siswa tidak hanya unggul secara nilai, tetapi juga akhlak dan karakter. Karuna dalam ajaran Hindu dimaknai sebagai kasih sayang dan welas asih yang tulus terhadap sesama. Dalam konteks pendidikan, karuna menjadi prinsip moral dan spiritual yang mengarahkan guru untuk berpihak pada siswa, yaitu dengan memahami, menghargai, dan memenuhi kebutuhan belajar setiap individu secara penuh cinta dan tanggung jawab (Sentana, 2. Di SMAN 4 Mataram, prinsip karuna ini tampak jelas dalam praktik pembelajaran berdiferensiasi yang diterapkan pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti. Hasil Observasi menunjukkan bahwa guru-guru di SMAN 4 Mataram memiliki kepedulian yang tinggi terhadap keberhasilan belajar siswa, tidak hanya dalam aspek kognitif, tetapi juga dalam ranah afektif dan psikomotorik. Pemetaan siswa melalui asesmen diagnostik tidak hanya berfungsi sebagai instrumen akademik, tetapi juga menjadi dasar bagi guru untuk memahami karakteristik dan kebutuhan personal setiap Berdasarkan pemetaan ini, guru menyusun proses pembelajaran yang tidak seragam, melainkan disesuaikan dengan tingkat penguasaan materi dan gaya belajar masing-masing siswa. Guru memperlakukan siswa bukan sebagai objek pasif, tetapi sebagai subjek aktif dalam pembelajaran yang harus dibantu, dibimbing, dan difasilitasi agar berkembang optimal (Faiz et al. , 2022. Startyaningsih et al. , 2. Sikap berpihak ini tampak pada cara guru memberikan perhatian lebih kepada siswa dalam kategori AukurangAy melalui pendampingan intensif. Guru tidak membiarkan siswa tertinggal, tetapi justru memberikan perlakuan khusus yang penuh empati agar mereka dapat mengejar ketertinggalan dengan nyaman dan percaya diri (Ridha, 2. Seorang guru bahkan menyampaikan bahwa ia sering melakukan bimbingan di luar jam pelajaran sebagai bentuk kepedulian terhadap siswa yang mengalami hambatan belajar. Tindakan ini adalah wujud nyata dari nilai kasih sayang yang menolak untuk membiarkan siswa gagal. Lebih jauh, penerapan diferensiasi produk juga menjadi representasi keberpihakan pada siswa. Siswa tidak dipaksa untuk menghasilkan produk belajar dalam format yang seragam, melainkan diberikan pilihan sesuai profil belajar mereka, mind map bagi siswa visual, jawaban lisan bagi siswa auditori, dan presentasi bagi siswa kinestetik. Bahkan, siswa juga diperbolehkan mengekspresikan pemahaman melalui kliping, infografis, atau Kebebasan ini menunjukkan bahwa guru tidak sekadar ingin menuntaskan materi, tetapi sungguh-sungguh ingin siswa memahami, menjiwai, dan menginternalisasi materi sesuai kekuatan dan gaya mereka masing-masing. Hal ini juga sejalan dengan pernyataan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH salah satu guru bahwa pembelajaran seharusnya tidak hanya menekankan penguasaan materi, tetapi juga pembentukan karakter dan nilai spiritual. Sikap guru menjadikan karuna sebagai landasan berpikir dan bertindak, membuat guru di SMAN 4 Mataram menjauhkan dari pendekatan pengajaran yang kaku dan Guru tidak mengedepankan metode yang disukai pribadi, tetapi memilih metode yang paling dibutuhkan oleh siswa (Wahyudi et al. , 2. Inilah esensi keberpihakan yang sesungguhnya, memfasilitasi proses belajar yang humanis, adaptif, dan Melalui sikap ini, guru tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menjadi teladan welas asih yang menumbuhkan kepercayaan, kenyamanan, dan semangat belajar pada diri siswa. Praktik pembelajaran berdiferensiasi yang berlandaskan karuna ini turut berkontribusi dalam menciptakan ekosistem belajar yang inklusif dan ramah, di mana siswa tidak merasa diabaikan atau dibandingkan, melainkan dihargai dan diberdayakan sesuai potensi mereka. Hal ini sangat penting dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti, karena tujuan utamanya bukan hanya membentuk siswa yang cerdas, tetapi juga yang berbudi luhur dan welas asih terhadap sesama. Mudita sebagai Kunci Mencapai Keberhasilan Belajar Hasil observasi menunjukkan bahwa prinsip mudita dalam pembelajaran berdiferensiasi pada Pendidikan Agama Hindu di SMAN 4 Mataram dilaksanakan dengan membangun simpati diantara siswa. Para siswa dibimbing untuk mau selalu berbagi dan Melalui metode tutor sebaya dalam pembajaran, guru kerapkali meminta siswa yang sudah AumahirAy dalam materi untuk berbagi dengan siswa lain yang masih kurang dalam memahami materi. Mudita dalam ajaran Catur paramita dimaknai sebagai kemampuan untuk turut berbahagia atas keberhasilan orang lain. Berbeda dengan rasa iri atau dengki, mudita menumbuhkan sikap simpati dan semangat saling mendukung dalam hubungan sosial (Sentana, 2. Dalam konteks pembelajaran berdiferensiasi, nilai mudita memiliki peran strategis dalam membentuk budaya belajar yang sehat, harmonis, dan inklusif. Hal ini tercermin dalam praktik pembelajaran di SMAN 4 Mataram, khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti. Penelitian ini menemukan bahwa meskipun siswa mengikuti proses pembelajaran yang berbeda, baik dari sisi gaya belajar, strategi belajar, maupun hasil produk belajar. Hal tersebut tidak menimbulkan kecemburuan atau perpecahan di antara mereka. Justru sebaliknya, siswa menunjukkan sikap saling menghargai dan mendukung satu sama lain. Ketika seorang teman berhasil menyelesaikan tugas dalam bentuk video atau mind map, siswa lainnya memberi apresiasi. Tidak ada celaan terhadap siswa yang menempuh proses belajar yang lebih sederhana, karena semua siswa memahami bahwa mereka memiliki kebutuhan dan cara belajar yang berbeda. Inilah esensi dari mudita, sikap positif dan simpatik yang menciptakan iklim belajar yang penuh semangat dan persaudaraan (Cetiya. Lonto et al. , 2. Guru di SMAN 4 Mataram secara sadar membangun suasana kelas yang menanamkan nilai mudita. Dalam kegiatan cooperative learning yang menjadi bagian dari strategi diferensiasi proses, guru membentuk kelompok belajar berdasarkan profil belajar yang serupa. Di dalam kelompok tersebut, siswa dilatih untuk saling membantu, menyemangati, dan berbagi cara belajar yang efektif. Siswa tidak bersaing secara negatif, melainkan berproses bersama dalam semangat kerja sama. Bahkan ketika ada siswa yang lebih cepat memahami materi, mereka didorong untuk menjadi mentor sebaya, bukan untuk menunjukkan keunggulan, tetapi sebagai bentuk partisipasi dalam keberhasilan bersama (Ramadan et al. , 2. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Lebih lanjut, penerapan diferensiasi produk tidak memunculkan rasa minder bagi siswa yang menghasilkan karya sederhana (Kusuma et al. , 2. Karena adanya atmosfer mudita, siswa tidak merasa rendah diri, justru merasa dihargai atas upayanya. Siswa belajar untuk merayakan keberagaman hasil belajar sebagai kekayaan bersama, bukan sebagai alat pembanding atau penghakiman. Kelas menjadi ruang yang aman untuk berekspresi, mencoba, dan belajar dari satu sama lain tanpa rasa takut gagal atau dinilai Nilai mudita ini berkontribusi signifikan terhadap tercapainya tujuan Ketika siswa merasa dihargai dan didukung, motivasi intrinsik mereka Mereka tidak belajar karena takut hukuman atau ingin bersaing, tetapi karena merasa menjadi bagian dari komunitas belajar yang positif dan peduli. Hal ini selaras dengan prinsip-prinsip pendidikan Hindu yang menekankan tat tvam asi, yaitu sebuak prinsip kesamaan rasa dalam membangun relasi sosial (Donder, 2. Sikap guru menjadikan mudita sebagai kunci keberhasilan belajar. SMAN 4 Mataram tidak hanya mampu mengembangkan kompetensi akademik siswa, tetapi juga membentuk karakter spiritual yang luhur. Dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti, hal ini menjadi sangat relevan karena tujuan akhir pembelajaran adalah menciptakan insan yang berpengetahuan, berperilaku mulia, dan mampu hidup harmonis dengan sesama. Upeksa sebagai Bentuk Pengendalian Ego Ajaran Catur paramita menempatkan upeksa sebagai sikap seimbang, penuh toleransi, dan terbebas dari keterikatan emosional berlebihan terhadap suka maupun duka. Nilai ini mencerminkan kemampuan seseorang untuk menahan ego, tidak merasa paling benar, serta mampu menerima perbedaan secara bijaksana (Sentana, 2. Dalam konteks pembelajaran berdiferensiasi, upeksa menjadi landasan penting untuk menumbuhkan rasa hormat dan toleransi di antara siswa yang memiliki perbedaan gaya belajar, minat, dan kemampuan. Berdasarkan hasil observasi, prinsip upeksa dalam pembelajaran berdiferensiasi pada Pendidikan Agama Hindu di SMAN 4 Matarama terlaksana melalui konten pembelajaran yang selalu berupaya menanamkan nilai-nilai moderasi atau toleransi sebagai di SMAN 4 Mataram siswanya tidak hanya Hindu, melainkan ada siswa Muslim. Kristen dan beberapa siswa beragama Budha. Dengan penanaman nilai toleransi dan tenggang rasa ini, suasana sekolah menjadi bersahaja dan saling menjaga. Hal ini menunjukkan bahwa siswa telah menumbuhkan sikap toleran terhadap proses belajar yang beragam. Meski menjalani pembelajaran yang berbeda baik dari sisi metode maupun produk akhir, tidak terlihat adanya kecenderungan saling merendahkan atau membandingkan diri secara negatif (Kriswanto & Fauzi, 2. Sikap ini mencerminkan keberhasilan guru dan lingkungan sekolah dalam menanamkan nilai upeksa sebagai bagian dari budaya belajar. Pengelompokan siswa berdasarkan asesmen diagnostik memungkinkan terjadinya pembelajaran yang sesuai kebutuhan. Namun perbedaan pendekatan ini tidak menimbulkan kecemburuan atau superioritas di antara Sebaliknya, setiap siswa belajar menerima bahwa keberagaman cara belajar adalah bagian dari perjalanan menuju keberhasilan bersama. Sikap tidak memaksakan satu cara sebagai yang terbaik menunjukkan pengendalian ego yang kuat, baik dari siswa maupun guru (Kriswanto & Fauzi, 2023. Wahyudi et al. , 2. Sikap guru yang menghargai setiap proses belajar dan memberi ruang untuk refleksi turut memperkuat nilai upeksa ini. Guru tidak sekadar menilai dari hasil akhir, melainkan juga memberi makna pada proses yang dijalani siswa. Upaya ini menghindarkan siswa dari tekanan untuk menyamakan diri dengan standar tertentu, dan mengarahkan mereka untuk memahami kekuatan dan potensi masing-masing. Kondisi ini menunjukkan bahwa https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH pembelajaran berdiferensiasi tidak hanya berhasil secara teknis, tetapi juga secara etis dan Nilai upeksa berperan sebagai pilar penting agar pembelajaran berlangsung adil, harmonis, dan saling menghargai. Penerapan nilai ini di SMAN 4 Mataram menjadi contoh nyata bagaimana spiritualitas Hindu dapat menyatu dengan strategi pendidikan modern dalam membentuk karakter peserta didik yang inklusif dan berintegritas. Integrasi prinsip Catur paramita dalam praktik pembelajaran berdiferensiasi di SMAN 4 Mataram sangat relevan dengan teori konstruktivisme sosial. Nilai maitri . mendukung pembelajaran sosial melalui kerja kelompok yang saling menghargai, di mana siswa belajar bersama teman sebaya yang memiliki gaya belajar Karuna . asih sayan. menjadi fondasi keberpihakan guru terhadap kebutuhan belajar siswa, yang tercermin dalam penerapan zona perkembangan terdekat (ZPD), saat guru hadir memberi bimbingan sesuai tahapan perkembangan siswa, bukan sekadar menyelesaikan materi ajar. Pendekatan ini menciptakan suasana belajar yang inklusif dan responsif terhadap keragaman individu. Sementara itu, mudita . ebahagiaan atas keberhasilan orang lai. mendukung masa magang kognitif, di mana siswa menunjukkan empati dan saling menyemangati meski melalui proses belajar yang berbeda. Upeksa . oleransi dan pengendalian eg. selaras dengan prinsip scaffolding, yakni pendampingan yang proporsional agar siswa mampu memecahkan masalahnya sendiri (Cahyo, 2. Di SMAN 4 Mataram, sikap saling menghormati dan tidak membandingkan kemampuan siswa memperkuat terciptanya lingkungan belajar yang adil dan harmonis. Integrasi nilainilai luhur Hindu dengan teori pendidikan modern ini memperlihatkan bahwa pembelajaran tidak hanya soal kognisi, tetapi juga transformasi sikap dan karakter. Integrasi prinsip catur paramita dalam pembelajaran berdiferensiasi pada Pendidikan Agama Hindu secara ringkas dapat disajikan dalam tabel berikut. Tabel 2. Integrasi Prinsip Catur paramita dalam Diferensiasi Kesiapan Belajar Kesiapan Belajar Integrasi Prinsip Catur Paramita Diskusi kelas dengan Maitri tercermin dalam suasana diskusi yang bersahabat pertanyaan yang berbeda dan inklusif. Karuna tampak ketika guru menyusun level kesulitannya pertanyaan sesuai kesiapan siswa. Mudita tumbuh dari partisipasi aktif dan saling menguatkan. Upeksa hadir melalui penghargaan terhadap beragam media komunikasi. Tutor sebaya Maitri terwujud dalam ikatan persahabatan antar siswa. menjelaskan teman yang Karuna muncul dari kesediaan membantu teman yang Mudita tumbuh dari rasa senang berbagi ilmu. Upeksa terlihat dari penggunaan berbagai gaya belajar dalam kelompok tanpa diskriminasi. Tugas dengan Maitri berkembang melalui pilihan topik yang menggunakan RAFT memfasilitasi ketertarikan siswa. Karuna hadir dalam (Role Audience Format penyesuaian tingkat kesulitan. Mudita terlihat dalam Topi. yg berbeda level ekspresi kreatif saat bermain peran. Upeksa terwujud dalam penerimaan terhadap keragaman cara menyampaikan Think Ae Pair Ae Share Maitri tampak dalam kolaborasi yang hangat antarsiswa. Karuna muncul saat siswa saling mendukung dalam memahami materi. Mudita tumbuh dari keberhasilan kelompok dan apresiasi karya teman. Upeksa dijaga melalui kesempatan yang sama untuk berkontribusi. Dadu berpikir yang level Maitri tampak dalam penghargaan atas perbedaan minat kesulitan tugasnya dan gaya berpikir. Karuna terlihat pada pemberian beban tugas yang sesuai kesiapan. Mudita hadir saat siswa https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH menikmati Upeksa termanifestasi dalam penyusunan tugas yang adil bagi semua tipe belajar. Kontrak Belajar untuk Maitri terlihat dalam dialog pembelajaran yang terbuka dan kegiatan berdasarkan penuh kasih. Karuna mewujud dalam penyusunan kontrak kesiapan peserta didik. berdasarkan kebutuhan individual. Mudita hadir saat siswa merasa dihargai. Upeksa tercermin dalam fleksibilitas dan keadilan terhadap cara belajar yang berbeda. Papan Pilihan dengan Maitri tercermin dalam penyediaan pilihan belajar yang kegiatan yang berbeda ramah dan inklusif. Karuna hadir dalam perhatian terhadap perbedaan kemampuan. Mudita tampak ketika siswa bebas mengekspresikan potensi. Upeksa dijaga melalui kesempatan yang seimbang bagi semua untuk dinilai secara Tabel 2 menunjukkan bahwa prinsip catur paramita dapat diintegrasikan pada setiap kesiapan belajar siswa. Hal ini mengindikasikan bahwa prinsip catur paramita menjadi jiwa dalam setiap aktivitas pembelajaran yang dilakukan sehingga capaian pembelajaran dapat dicapai melalui pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensi terealisasi dalam pembelajaran berdiferensiasi sebagai proses menyesuaikan konten . pa yang diajarka. , proses . agaimana siswa belaja. , produk . asil belaja. , dan lingkungan belajar agar sesuai dengan kebutuhan, kesiapan, minat, dan gaya belajar siswa (Tomlinson, 2. Tomlinson menekankan pentingnya penyesuaian konten, proses, produk, dan lingkungan belajar berdasarkan kesiapan, minat, dan profil siswa secara individual. Ketika dianalisis melalui sudut pandanng nilai-nilai Catur paramita dalam tradisi Hindu, maitri . , karuna . asih sayan. , mudita . mpati atas kebahagiaan orang lai. , dan upeksa . eseimbangan bati. terlihat bahwa prinsip-prinsip etika spiritual ini memperkuat dimensi afektif dan moral dalam penerapan diferensiasi. Maitri mendukung penciptaan iklim kelas yang inklusif dan ramah. karuna mendorong respons pedagogis terhadap kebutuhan siswa yang beragam secara empatik. mudita menumbuhkan apresiasi terhadap keberhasilan teman sebaya sebagai bagian dari komunitas belajar. upeksa menjadi dasar refleksi dan keadilan dalam evaluasi tanpa bias. Integrasi Catur paramita memberikan dimensi etis yang melengkapi fondasi psikopedagogis teori Tomlinson, menjadikan pembelajaran berdiferensiasi tidak hanya responsif secara akademik, tetapi juga humanis dan spiritual. Kesimpulan Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMAN 4 Mataram dilaksanakan dengan pendekatan catur paramita yang merupakan salah satu konsep ajaran Hindu yang sarat dengan nilai etika. Penelitian ini menemukan bahwa pembelajaran berdiferensiasi dalam bentuk diferensiasi proses dan diferensiasi produk dapat menjaga motivasi, konsentrasi dan focus belajar Implikasi praktis dari temuan ini adalah pentingnya penerapan pembelajaran berdiferensiasi untuk dapat melaksanakan pembelajaran pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti yang berpihak pada kebutuhan siswa. Keberhasilan aktivitas pembelajaran tidak hanya dilihat dari nilai kognitif siswa, tetapi guru mampu mengenal siswa secara utuh sehingga bisa memberikan perlakuan . yang tepat bagi siswa. Dalam proses penelitian, penelitian ini terbatas pada mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti yang jumlah siswanya tidak terlalu besar, sehingga memberikan kemudahan bagi guru melakukan diferensiasi. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Daftar Pustaka