Inggita, dkk / Tropical Animal Science 7. :246-261 pISSN 2541-7215 eISSN 2541-7223 Tropical Animal Science. November 2025, 7. :246-261 DOI: 10. 36596/tas. Tersedia online pada https://ejournal. id/index. php/tas PENGARUH PEMBERIAN ONGGOK FERMENTASI TERHADAP KONDISI SALURAN PENCERNAN ITIK PEKING FASE FINISHER UMUR 90 HARI THE INFLUENCE OF THE ONGGOK FERMENTATION ON THE CONDITION OF THE DIGESTIVE TRACT OF DUCKS PEKINGESE FINISHER AGED 90 DAYS Azzahra Astrid Inggita1. Eudia Christina Wulandari2*. Purwadi2 Mahasiswa Program Studi Peternakan. Fakultas Pertanian dan Peternakan. Universitas Boyolali. Boyolali. Indonesia 2Program Studi Peternakan. Fakultas Pertanian dan Peternakan. Universitas Boyolali. Boyolali. Indonesia E-mail korespondensi: eudia1990. christina@gmail. ABSTRAK Penelitian bertujuan mengetahui adanya interaksi antara pemberian onggok fermentasi yang berbeda dalam ransum terhadap pH saluran pencernaan. Materi yang digunakan dalam penelitian adalaj 100 DOD itik peking. Bahan yang digunakan yaitu konsentrat dari New Hope Indonesia, onggok aren yang halus, ragi tempe (Rhizopus s. dan air. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan menggunakan 3 perlakuan dan 6 Parameter yang diamati adalah pH esofagus, pH tembolok, pH proventrikulus, pH ventrikulus, pH duodenum, pH jejunum, pH ileum, pH usus besar dan pH sekum. Data hasil penelitian diolah secara stastistik dengan analisis ragam dan apabila berpengaruh nyata (P<0,. antar perlakuan dilakukan Uji Duncan pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian onggok fermentasi berbeda level pada ransum tidak terdapat interaksi yang nyata (P>0,. terhadap pH saluran pencernaan. Simpulan penelitian adalah pemberian level T0 mengandung protein kasar 19,1%. T1 mengandung protein kasar 19,151% dan T2 mengandung protein kasar 19,202%. Sehingga T2 mengandung protein kasar paling tinggi diantara T0 dan T1. Kata Kunci: Itik Peking. Onggok Fermentasi. Saluran pencernaan unggas ABSTRACT The study aims to determine the interaction between the provision of different fermented cassava pulp in the ration on the pH of the digestive tract. The materials used in the study were 100 DOD of Peking The materials used were concentrated from New Hope Indonesia, fine cassava pulp, tempeh yeast (Rhizopus s. , and water. The experimental design used was a Completely Randomized Design (CRD) using 3 treatments and 6 replications. Proximate Test Results of fermented cassava pulp: Water 72. Ash 40%. LK 1. SK 3. 20% and PK 1. The parameters observed were esophageal pH, crop pH, proventriculus pH, ventriculus pH, duodenal pH, jejunum pH, ileum pH, large intestine pH, and cecum The research data were processed statistically with analysis of variance and if there was a significant effect (P<0. between treatments. Duncan's Test was carried out at the 5% level. The results showed that Inggita, dkk / Tropical Animal Science 7. :246-261 the provision of fermented cassava at different levels in the ration did not have a significant interaction (P>0. on the pH of the digestive tract. The study concluded that the provision of level T0 contained 19. crude protein. T1 contained 19. 151% crude protein and T2 contained 19. 202% crude protein. So T2 contains the highest crude protein between T0 and T1. Keywords: Peking Duck. Fermented Onggok. Poultry digestive tract PENDAHULUAN Budidaya peternakan merupakan salah satu usaha yang menjanjikan untuk dikembangkan saat ini. Kelebihan utama dari usaha ini adalah kemudahan dalam memasarkan produknya. Salah satu jenis peternakan yang mulai berkembang adalah peternakan itik pedaging. Meskipun belum sepopuler peternakan ayam, itik pedaging memiliki prospek yang cerah baik sebagai usaha utama maupun sampingan. Daging itik dikenal sebagai sumber protein berkualitas tinggi, sehingga pengembangan usaha diarahkan untuk memproduksi daging dalam jumlah besar dan cepat guna memenuhi kebutuhan konsumen (Febri Ade Irawan. Faktor-faktor seperti pakan, lingkungan sistem perkandangan, dan genetik memiliki pertumbuhan dan ukuran tubuh itik (Setioko et al. , 2. Apabila faktor-faktor ini dikelola dengan baik, maka pertumbuhan ternak dapat (Amaludin et al. , 2. Pakan merupakan salah satu faktor krusial dalam peternakan, karena pemenuhan kebutuhan pakan berkualitas dan cukup akan dampak langsung pada produk, kesehatan, dan proses metabolisme dalam tubuh ternak (Sudiyono dan Purwatri, 2. Peternak umumnya menggunakan kombinasi pakan buatan sendiri dan pakan komersial untuk memenuhi kebutuhan ternak. Onggok memiliki keterbatasan sebagai pakan ternak karena kandungan proteinnya rendah dan kandungan serat kasarnya tinggi. Penelitian Marsetyo penambahan onggok fermentasi dalam ransum dapat mempengaruhi pH esofagus. Penggunaan onggok dalam ransum ternak memiliki batasan tertentu yaitu 5% untuk unggas, 25-30% untuk babi dan 40% untuk ruminansia (Jayanegara, 2. Industri rumah tangga pengolahan aren di Dusun Bendo menghasilkan tepung aren dan limbah ampas onggok yang mencapai 600-700 kg/hari. Limbah ini berpotensi mencemari lingkungan, namun dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak melalui fermentasi menggunakan kapang (Rhizopus s. Limbah onggok dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak melalui palatabilitas, dan kesehatan itik. Dengan teknik fermentasi yang tepat, onggok menjadi sumber pakan efisien dan berkelanjutan. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian onggok fermentasi terhadap kondisi saluran pencernaan itik peking fase finisher umur 90 hari. MATERI DAN METODE Penelitian pemberian onggok fermentasi dengan dosis yang berbeda terhadap pH saluran pencernaan terhadap itik peking umur 90 hari dilaksanakan pada bulan Februari-mei 2025. Penelitian ini dilaksanakan dikandang itik milik Azzahra di Dukuh Tombol. Desa Dalangan. Kecamatan Tulung. Kabupaten Klaten. Inggita, dkk / Tropical Animal Science 7. :246-261 Materi penelitian ini adalah itik peking DOD sebanyak 100 ekor. Bahan yang digunakan antara lain konsentrat dari PT. New Hope Indonesia. Onggok aren halus, ragi tempe dan Kandungan nutrisi konsentrat dari PT. New Hope Indonesia. Ditampilkan pada tabel Perlengkapan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain tempat pakan dan minum, tempat fermentasi, timbangan digital Scale 1-2000 dengan ketepatan 0,1 gr, pH meter, pita meter dengan ketepatan 1mm dan alat tulis. Tabel 1. Kandungan Nutrisi Ransum AuNew HopeAy Komposisi Kandungan Kadar Air Protein Lemak Serat Kasar Abu Kalsium Fosfor Urea 18,0% 3,0% 5,0% 8,0% 0,80%-1,20% 0,60% Non Detection% 25 Ug/Kg Keterang Maks Min Min Maks Maks Min Aflaktosin Maks Total Asam Amino: Min Liain 1,00% Min Metionin 0,37% Min Metionin siti 0,70% Min 0,16% Min Triptofan 0,60% Treonin Sumber : PT. New Hope Indonesia . Penelitian dilakukan dalam tiga tahap yaitu persiapan, adaptasi dan perlakuan. Tahap persiapan dilakukan pembuatan fermentasi onggok, dengan cara menampur 1kg onggok aren halus dengan 2 gram Rhizopus sp. Proses fermentasi dilakukan selama 3 hari. Tahap adaptasi dilakukan dengan mengandangkan. DOD itik peking selama 11 hari sebelum perlakuan dimulai ini. Hal ini bertujuan untuk mengurangi stress akibat perubahan lingkungan, meningkatkan kemampuan itik untuk menerima pakan dan minum serta menyiapkan sistem pencernaan itik untuk menerima pakan yang akan diberika Tahap perlakuan dilakukan dengan menempatkan itik DOD pada kandang secara acak dan dipelihara selama 90 hari. Pemberian pakan dilakukan 3 kali sehari pada pagi jam 00, siang 13. 00 dan malam jam 19. Tahap pengambilan data dilaksanakan dengan metode exsperimental. Data diambil saat penelitian tepatnya 90hari. Data parameter diambil tepat 90 hari. Pada akhir perlakuan pembedahan pada ternak itik di setiap ulangan untuk mengambil sempel saluran pencernaan selanjutnya dilakukan pengukuran pH saluran jejunum, ileum, usus besar dan sekum, untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap saluran pencernaan. Formulasi perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini adalah T0: 100% konsentrat tanpa tambahan onggok fermentasi . rotein kasar 19,10%). T1: 100% konsentrat dengan tambahan 5% onggok fermentasi . rotein kasar 19,151%) dan T2: 100% konsentrat dengan tambahan 10% onggok fermentasi . rotein kasar 19,202%) Pada tahap persiapan, sebelum pemberian pakan sesuai perlakuan dimulai pada umur 12 hari, yang diletakkan di depan adalah formulasi perlakuan tersebut yaitu T0. T1, dan T2 dengan komposisi pakan yang telah Data yang diperoleh diolah secara statistik dengan Analisis Ragam pada taraf signifikan 5%. Jika terdapat pengaruh perlakuan yang nyata (P<0,. , dilanjutkan dengan uji wilayah berganda Duncan. HASIL DAN PEMBAHASAN Inggita, dkk / Tropical Animal Science 7. :246-261 Berdasarkan menunjukkan bahwa pemberian onggok fermentasi T0. T1 dan T2 tidak berpengaruh nyata (P>0,. terhadap pH esofagus. Hal ini dapat disebabkan karena esofagus merupakan saluran pencernaan yang berfungsi sebagai jalur transportasi makanan dari mulut ke tembolok, dan pH esofagus lebih dipengaruhi oleh pH saliva dan makanan yang masuk ke dalam esofagus daripada oleh komposisi pakan yang diberikan. Onggok fermentasi yang diberikan sebagai pakan mungkin belum cukup mempengaruhi pH saliva atau kondisi lingkungan esofagus secara signifikan, sehingga pH esofagus tetap stabil dan tidak berbeda nyata di antara perlakuan. Menurut Radu Tutuian and Donald O. Castell . menyatakan bahwa esofagus umumnya memiliki pH yang mendekati netral yaitu sekitar 7,0. Esofagus unggas merupakan proventrikulus dengan bagian tengah yang melebar membentuk tembolok sebagai tempat penyimpanan pakan sementara. Unggas memiliki kemampuas unik untuk menoleransi penyimpanan pakan di esofagus melebihi kemampuan mamalia (Proctor and Lynch. Jacqueie et al, 2. Hasil uji proksimat onggok fermentasi Air 72,00%. Abu 0,40%. LK 1,39%. SK 3,20% dan PK 1,02%. Penelitian yang dilakukan oleh Phong et . menunjukkan bahwa fermentasi onggok dengan aspergillus niger dapat meningkatkan kandungan protein kasar dari 2,40% menjadi 9,80% dan protein murni 1,10% menjadi 6,40% sehingga meningkatkan nilai nutrisi onggok secara signifikan. Hasil perlakuan pada perlakuan T0 . % onggok fermentas. : pH esofagus rata-rata 6,36. Perlakuan T1 . % onggok fermentas. : pH esofagus rata-rata 6,56. Perlakuan T2 . % onggok fermentas. : pH esofagus rata-rata 6,04. Kesimpulannya adalah penambahan onggok fermentasi sebesar 5% (T. menghasilkan pH esofagus yang lebih tinggi . dibandingkan dengan T0 . dan T2 . Berdasarkan data, penambahan onggok fermentasi dengan 5% menunjukkan pengaruh yang paling efisien dibandingkan dengan 0% dan 10%. Tabel 2. Rata-rata pH Esofagus Itik Peking Fase Finisher Perlakuan (Eko. Ulangan Rata-rata 6,366667 6,566667 Keterangan: perlakuan T0 = konsentrat tanpa campuran onggok fermentasi, perlakuan T1 = konsentrat dengan campuran onggok fermentasi 5%, perlakuan T2 = Konsentrat dengan campuran onggok fermentasi 10% tidak berpengaruh nyata terhadap pH esofagus (P>0,. Berdasarkan menunjukkan bahwa pemberian onggok fermentasi T0. T1 dan T2 tidak berpengaruh nyata (P>0,. terhadap pH tembolok. Hal ini dapat disebabkan karena tembolok . merupakan bagian dari saluran pencernaan Inggita, dkk / Tropical Animal Science 7. :246-261 yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan . menunjukkan bahwa fermentasi makanan sebelum masuk ke proventrikulus, onggok dengan aspergillus niger dapat dan pH tembolok lebih dipengaruhi oleh pH meningkatkan kandungan protein kasar dari makanan yang masuk dan aktivitas mikroba 2,40% menjadi 9,80% dan protein murni 1,10% yang ada di dalamnya. Makanan yang menjadi 6,40% sehingga meningkatkan nilai diberikan . nggok fermentas. memiliki efek nutrisi onggok secara signifikan. Fermentasi yang sama terhadap kondisi lingkungan juga dapat mengurangi kandungan serat kasar tembolok, sehingga pH tembolok tidak dari 7,20% menjadi 6,80%. berbeda nyata. Onggok fermentasi yang Hasil perlakuan pada T0 menunjukkan diberikan mungkin tidak memiliki efek yang rata-rata pH tembolok 5,41. Perlakuan T1 signifikan terhadap perubahan pH tembolok dengan penambahan onggok fermentasi 5% karena proses fermentasi yang dilakukan tidak menunjukkan rata-rata pH yang lebih tinggi mengubah sifat kimia onggok secara drastis, yaitu 5,48. Sedangkan pada perlakuan T2 sehingga pH tembolok tetap stabil dan tidak dengan penambahan onggok fermentasi 10%, dipengaruhi oleh level onggok fermentasi yang rata-rata pH tembolok kembali ke 5,41. Faktor yang mempengaruhi pH tembolok ini terkait Menurut Lokapirnasari. , & Yulianto, dengan komposisi pakan dan aktivitas . menyatakan bahwa pH normal mikroba dalam tembolok, seperti yang tembolok yaitu 5,5. Tembolok pada unggas dijelaskan dalam beberapa literatur tentang terletak di antara dua esofagus dan berbeda pencernaan unggas. Perbandingan dengan dengan mamalia karena memiliki Sfingter atas maupun bawah (Denbow, 2. penambahan komponen fermentasi dalam Hasil uji proksimat onggok fermentasi Air pakan dapat mempengaruhi kondisi pH di 72,00%. Abu 0,40%. LK 1,39%. SK 3,20% dan PK saluran pencernaan, yang berdampak pada 1,02%. Penelitian yang dilakukan oleh Phong et proses pencernaan dan kesehatan ternak. Tabel 3. Rata-rata pH Tembolok Itik Peking Fase Finisher Perlakuan (Eko. Ulangan Rata-rata 5,416667 5,483333 5,416667 Keterangan: perlakuan T0 = konsentrat tanpa campuran onggok fermentasi, perlakuan T1 = konsentrat dengan campuran onggok fermentasi 5%, perlakuan T2 = Konsentrat dengan campuran onggok fermentasi 10% tidak berpengaruh nyata terhadap pH tembolok (P>0,. Berdasarkan menunjukkan bahwa pemberian onggok fermentasi T0. T1 dan T2 tidak berpengaruh nyata (P>0,. terhadap ph proventrikulus. Hal ini dapat disebabkan karena Proventrikulus merupakan bagian dari saluran pencernaan yang berfungsi sebagai tempat sekresi enzim pencernaan dan asam lambung. Proventrikulus lebih dipengaruhi oleh sekresi asam lambung dan enzim pencernaan yang dihasilkan oleh glandula gastrica daripada oleh komposisi pakan yang diberikan. Onggok Inggita, dkk / Tropical Animal Science 7. :246-261 fermentasi yang diberikan mungkin tidak memiliki efek yang signifikan terhadap sekresi asam lambung dan enzim pencernaan, sehingga pH Proventrikulus tetap stabil dan tidak berbeda nyata di antara perlakuan. Menurut Lokapirnasari. , & Yulianto. menyatakan bahwa pH normal proventrikulus 2,5-3,5 yaitu 5,5. Asam hidroklorik yang dihasilkan memiliki pH yang sangat asam yaitu sekitar 0,7-2,3 yang berperan penting dalam proses pencernaanenzimatik (Proctor and Lynch,1993. Dynce et al. , 2009. Frandson et al. , 2. Hasil uji proksimat onggok fermentasi Air 72,00%. Abu 0,40%. LK 1,39%. SK 3,20% dan PK 1,02Penelitian yang dilakukan oleh Phong et al. menunjukkan bahwa fermentasi onggok dengan aspergillus niger dapat meningkatkan kandungan protein kasar dari 2,40% menjadi 9,80% dan protein murni 1,10% menjadi 6,40% sehingga meningkatkan nilai nutrisi onggok secara signifikan. Fermentasi juga dapat mengurangi kandungan serat kasar dari 7,20% menjadi 6,80%. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan T0 . % onggok fermentas. : pH rata-rata 5,58. Perlakuan T1 . % onggok fermentas. : pH ratarata 5,51. Perlakuan T2 . % onggok fermentas. : pH rata-rata 5,05. Kesimpulannya perlakuan T0 . anpa penambahan onggok fermentas. memiliki pH lebih tinggi dibandingkan T1 dan T2. Tanpa penambahan onggok fermentasi menunjukkan pengaruh yang paling efisien dalam mempengaruhi pH organ pencernaan dibandingkan dengan penambahan 5% dan 10%. Tabel 4. Rata-rata pH Proventrikulus Itik Peking Fase Finisher Perlakuan (Eko. Ulangan Rata-rata 5,583333 5,516667 Keterangan: perlakuan T0 = konsentrat tanpa campuran onggok fermentasi, perlakuan T1 = konsentrat dengan campuran onggok fermentasi 5%, perlakuan T2 = Konsentrat dengan campuran onggok fermentasi 10% tidak berpengaruh nyata terhadap pH proventrikulus (P>0,. Berdasarkan menunjukkan bahwa pemberian onggok fermentasi T0. T1 dan T2 tidak berpengaruh nyata (P>0,. terhadap pH ventrikulus. Hal ini dapat disebabkan karena Ventrikulus . merupakan bagian dari saluran pencernaan yang berfungsi sebagai tempat penggilingan dan penghancuran makanan dengan bantuan grit dan gerakan otot kuat. Menurut Lokapirnasari. , & Yulianto. menyatakan bahwa pH normal ventrikulus yaitu 2,5-3,5. Ventrikulus proventrikulus, yaitu melalui penyempitan yang memisahkan keduannya unggas herbivora dan unggas air. Ventrikulus berbentuk seperti lensa dengan permukaan cembung yang menghadap kesamping. Bagian dalam ventrikulus memiliki tekstur yang memanjang dan membesar di bagian kantung buntu, baik dibagian cranial maupun caudal (Dyce et al. , 2. Ventrikulus Inggita, dkk / Tropical Animal Science 7. :246-261 Fungsi menggantikan peran gigi yang tidak dimiliki unggas yaitu membantu menghanurkan makanan dilambung dengan bantuan grit . atu keci. yang tertelan sehingga memudahkan proses pencernaan. juga berperan dalam pencernaan protein (Dyce et al. , 2009. Jacque et al. , 2. Proses penggilingan makanan dihasilkan oleh kerja dua pasang otot yang berlawanan (Lorenzoni. Hasil uji proksimat onggok fermentasi Air 72,00%. Abu 0,40%. LK 1,39%. SK 3,20% dan PK 1,02%. Penelitian yang dilakukan oleh Phong et al. menunjukkan bahwa fermentasi onggok dengan aspergillus niger dapat meningkatkan kandungan protein kasar dari 2,40% menjadi 9,80% dan protein murni 1,10% menjadi 6,40% sehingga meningkatkan nilai nutrisi onggok secara Selain itu, fermentasi ini juga dapat menurunkan kandungan serat kasar (SK) dari 7,20% menjadi 6,80%. Hasil penelitian perlakuan T0 . % onggok fermentas. : pH rata-rata 5,88. Perlakuan T1 . % onggok fermentas. : pH rata-rata 6,00. Perlakuan T2 . % onggok fermentas. : pH rata-rata 5,43. Kesimpulannya perlakuan T1 . engan penambahan onggok fermentasi 5%) memiliki pH lebih tinggi dibandingkan T0 dan T2. Penambahan onggok fermentasi dengan 5% menunjukkan pengaruh yang paling efisien dalam mempengaruhi pH organ pencernaan dibandingkan dengan 0% dan 10%. Tabel 5. Rata-rata pH Ventrikulus Itik Peking Fase Finisher Perlakuan (Eko. Ulangan Rata-rata 5,883333 5,433333 Keterangan: perlakuan T0 = konsentrat tanpa campuran onggok fermentasi, perlakuan T1 = konsentrat dengan campuran onggok fermentasi 5%, perlakuan T2 = Konsentrat dengan campuran onggok fermentasi 10% tidak berpengaruh nyata terhadap pH ventrikulus (P>0,. Berdasarkan menunjukkan bahwa pemberian onggok fermentasi T0. T1 dan T2 tidak berpengaruh nyata (P>0,. terhadap pH duodenum. Hal ini dapat disebabkan karena duodenum merupakan bagian awal dari usus halus yang berfungsi sebagai tempat pencernaan dan penyerapan nutrisi. pH duodenum lebih dipengaruhi oleh sekresi bikarbonat dari pankreas dan empedu yang berfungsi untuk menetralkan asam lambung yang masuk dari ventrikulus, sehingga pH duodenum relatif stabil dan alkalis. Onggok fermentasi yang diberikan mungkin tidak memiliki efek yang signifikan terhadap sekresi bikarbonat dan empedu, sehingga pH duodenum tetap stabil dan tidak berbeda nyata di antara perlakuan. Selain itu, kemampuan adaptasi dan regulasi pH internal duodenum juga dapat membantu menjaga kestabilan pH, sehingga perubahan kecil dalam komposisi pakan tidak cukup untuk mempengaruhi pH duodenum secara Oleh karena itu, pemberian Inggita, dkk / Tropical Animal Science 7. :246-261 onggok fermentasi dengan level yang berbeda tidak mempengaruhi pH duodenum itik. Menurut Lokapirnasari. , & Yulianto. menyatakan bahwa pH normal duodenum yaitu 5-6. Menurut Gauthier . menyatakan bahwa setiap bagian usus halus memiliki pH yang berbedabeda yaitu Duodenum memiliki pH antara 56. Unggas herbivora memiliki struktur unik dengan dua gumpalan otot tebal yang melekat pada tendon pusat dan otor tipis yang membungkus kantung buntu (Dyce et al. Membran mukosa yang elastis dan tipis menghasilkan sekre untuk melindungi permukaan dalam usus. Sekresi membentuk lapisan pelindung yang disebut kolin yang terdiri dari kompleks karbohidrat dan protein, dan dapat diperbarui jika rusak. Warna kuning kehijauan pada kolin berasal dari empedu yang mengalir dari duodenum menunjukkan peran penting empedu dalam proses pencernaan . randson et al. , 2. Hasil uji proksimat onggok fermentasi Air 72,00%. Abu 0,40%. LK 1,39%. SK 3,20% dan PK 1,02%. Penelitian yang dilakukan oleh Phong et al. menunjukkan bahwa fermentasi onggok dengan aspergillus niger dapat meningkatkan kandungan protein kasar dari 2,40% menjadi 9,80% dan protein murni 1,10% menjadi 6,40% sehingga meningkatkan nilai nutrisi onggok secara Fermentasi juga dapat mengurangi kandungan serat kasar dari 7,20% menjadi 6,80%. Hasil penelitian perlakuan T0 . % onggok fermentas. : pH rata-rata 5,71. Perlakuan T1 . % onggok fermentas. : pH rata-rata 5,86. Perlakuan T2 . % onggok fermentas. : pH rata-rata 5,65. Kesimpulannya perlakuan T1 . engan penambahan onggok fermentasi 5%) memiliki pH lebih tinggi dibandingkan T0 dan T2. Penambahan onggok fermentasi dengan 5% menunjukkan pengaruh yang paling efisien dalam mempengaruhi pH organ pencernaan dibandingkan dengan 0% dan 10%. Tabel 6. Rata-rata pH Duodenum Itik Peking Fase Finisher Perlakuan (Eko. Ulangan Rata-rata 5,716667 5,866667 5,65 Keterangan: perlakuan T0 = konsentrat tanpa campuran onggok fermentasi, perlakuan T1 = konsentrat dengan campuran onggok fermentasi 5%, perlakuan T2 = Konsentrat dengan campuran onggok fermentasi 10% tidak berpengaruh nyata terhadap pH duodenum (P>0,. Berdasarkan menunjukkan bahwa pemberian onggok fermentasi T0. T1 dan T2 tidak berpengaruh nyata (P>0,. terhadap pH jejunum. Hal ini dapat disebabkan karena jejunum merupakan bagian dari usus halus yang berfungsi sebagai tempat penyerapan nutrisi. pH jejunum dipengaruhi oleh sekresi enzim pencernaan dan absorpsi nutrisi, serta oleh kondisi lingkungan usus yang relatif stabil. Onggok fermentasi yang diberikan mungkin tidak memiliki efek yang signifikan terhadap sekresi enzim pencernaan dan absorpsi nutrisi di jejunum, sehingga pH jejunum tetap stabil dan tidak berbeda nyata di antara perlakuan. Kemampuan adaptasi mikroba usus dan regulasi pH internal jejunum juga dapat membantu menjaga kestabilan pH, sehingga Inggita, dkk / Tropical Animal Science 7. :246-261 perubahan kecil dalam komposisi pakan tidak cukup untuk mempengaruhi pH jejunum secara signifikan. Oleh karena itu, pemberian onggok fermentasi dengan level yang berbeda tidak mempengaruhi pH jejunum itik. Menurut Lokapirnasari. , & Yulianto. menyatakan bahwa pH normal jejunum yaitu 6,5-7. Menurut Gauthier . menyatakan bahwa setiap bagian usus halus memiliki pH yang berbeda-beda yaitu jejunum memiliki pH antara 6,5-7. Jejenum adalah bagian terpanjang dari usus halus unggas, dengan struktur yang mirip dengan mamalia, membentuk gulungan longgar di sepanjang tepi mesenterium dan memiliki dinding tipis yang memperlihatkan isi perut berwarna kehijauan. Jejenum memiliki iri khas berupa diventrikulum vitelline atau divertikulum meckel yang merupakan sisa hubungan dengan kantung kuning telur saat masih embrio dan diyakini berperan dalam sistem imun unggas. struktur jejunum dapat bervariasi tergantung pada jenis unggas, seperti pada bebek dan angsa yang membentuk lengkungan berbentuk U sedangkan pada burung dara berbentuk tumpukan kerucut dengan putaran tertentu. Unggas yang memakan serangga dan buah jejunum enderung lebih pendek dan lebar. (Dyce et al. , 2009. Frandson et al. , 2009. Jacquie et al. , 2. Hasil uji proksimat onggok fermentasi Air 72,00%. Abu 0,40%. LK 1,39%. SK 3,20% dan PK 1,02%. Penelitian yang dilakukan oleh Phong et al. menemukan bahwa proses fermentasi onggok menggunakan aspergillus niger dapat meningkatkan kandungan prtein kasar dan protein murni secara signifikan, kandungan protein kasar meningkat dari 2,40% menjadi 9,80%, protein murni meningkat dari 1,10% mwnjadi 6,40%. Fermentasi kandungan serat kasar dari 7,20% menjadi 6,80%. Hasil penelitian perlakuan T0 . % onggok fermentas. : pH rata-rata 5,91. Perlakuan T1 . % onggok fermentas. : pH rata-rata 5,56. Perlakuan T2 . % onggok fermentas. : pH rata-rata 5,43. Kesimpulannya data menunjukkan bahwa pH pada T0 lebih tinggi dibandingkan T1 dan T2. Tabel 7. Rata-rata pH Jejunum Itik Peking Fase Finisher Perlakuan (Eko. Ulangan Rata-rata 5,916667 5,566667 5,433333 Keterangan : perlakuan T0 = konsentrat tanpa campuran onggok fermentasi, perlakuan T1 = konsentrat dengan campuran onggok fermentasi 5%, perlakuan T2 = Konsentrat dengan campuran onggok fermentasi 10% tidak berpengaruh nyata terhadap pH jejunum (P>0,. Berdasarkan menunjukkan bahwa pemberian onggok fermentasi T0. T1 dan T2 tidak berpengaruh nyata (P>0,. terhadap pH ileum. Hal ini dapat disebabkan karena ileum merupakan bagian akhir dari usus halus yang berfungsi sebagai tempat penyerapan nutrisi yang belum diserap di bagian sebelumnya. ileum dipengaruhi oleh kondisi lingkungan usus, aktivitas mikroba, dan proses absorpsi nutrisi yang terjadi di dalamnya. Onggok fermentasi yang diberikan mungkin tidak Inggita, dkk / Tropical Animal Science 7. :246-261 memiliki efek yang signifikan terhadap kondisi lingkungan usus dan aktivitas mikroba di ileum, sehingga pH ileum tetap stabil dan tidak berbeda nyata di antara Selain itu, ileum memiliki kemampuan untuk mengatur pH internalnya sendiri dan menjaga kestabilan lingkungan usus, sehingga perubahan kecil dalam komposisi pakan tidak cukup untuk mempengaruhi pH ileum secara signifikan. Oleh karena itu, pemberian onggok fermentasi dengan level yang berbeda tidak mempengaruhi pH ileum itik. Menurut Lokapirnasari. , & Yulianto. menyatakan bahwa pH normal Ileum yaitu 7-7,5. Menurut Gauthier . menyatakan bahwa setiap bagian usus halus memiliki pH yang berbeda-beda yaitu ileum memiliki pH antara 7-7,5. Ileum yang relatif pendek berakhir di usus besar dengan batas yang jelas, ditandai oleh adannya sepasang sekum pada unggas domestik. Sekum ini berupa kantung buntu yang muncul dari kolon, dengan panjang yang bervariasi tergantung pada jenis unggas. Bebek, ayam dan kalkun memiliki panjang 24cm sedangkan pada angsa memiliki panjang 22-24cm. Bagian ileum diketahui memiliki populasi mikroba yang signifikan. Ruminococci. Bacteroides. Clostridia. Streptooci. Enterpcpcci. Lactobacilli dan E. coli dengan jumlah sekitar 108-108 CFU/g (Yadav dan Jha, 2. Hasil uji proksimat onggok fermentasi Air 72,00%. Abu 0,40%. LK 1,39%. SK 3,20% dan PK 1,02%. Penelitian yang dilakukan oleh Phong et al. menemukan bahwa proses fermentasi onggok menggunakan aspergillus niger dapat meningkatkan kandungan prtein kasar dan protein murni secara signifikan, kandungan protein kasar meningkat dari 2,40% menjadi 9,80%, protein murni meningkat dari 1,10% menjadi 6,40%. Fermentasi kandungan serat kasar dari 7,20% menjadi 6,80%. Hasil penelitian perlakuan T0 . % onggok fermentas. : rata-rata 5,93. Perlakuan T1 . % onggok fermentas. : rata-rata 6,1. Perlakuan T2 . % onggok fermentas. : ratarata 5,98. Tabel 8. Rata-rata pH Ileum Itik Peking Fase Finisher Perlakuan (Eko. Ulangan Rata-rata 5,933333 5,983333 Keterangan : perlakuan T0 = konsentrat tanpa campuran onggok fermentasi, perlakuan T1 = konsentrat dengan campuran onggok fermentasi 5%, perlakuan T2 = Konsentrat dengan campuran onggok fermentasi 10% tidak berpengaruh nyata terhadap pH ileum (P>0,. Berdasarkan menunjukkan bahwa pemberian onggok fermentasi T0. T1 dan T2 tidak berpengaruh nyata (P>0,. terhadap pH usus besar. Hal ini dapat disebabkan karena usus besar pembentukan feses, dan pH usus besar dipengaruhi oleh aktivitas mikroba yang mendominasi proses fermentasi. Onggok fermentasi yang diberikan mungkin sudah mengalami proses fermentasi sebelumnya, sehingga tidak memberikan efek yang signifikan terhadap aktivitas mikroba di usus Selain itu, kemampuan adaptasi Inggita, dkk / Tropical Animal Science 7. :246-261 mikroba usus besar juga dapat membantu menjaga kestabilan pH, sehingga perubahan kecil dalam komposisi pakan tidak cukup untuk mempengaruhi pH usus besar secara Oleh karena itu, pemberian onggok fermentasi dengan level yang berbeda tidak mempengaruhi pH usus besar itik, karena faktor-faktor yang lebih dominan dalam menentukan pH usus besar tidak Menurut Lokapirnasari. , & Yulianto. menyatakan bahwa pH normal usus besar yaitu 5-6. Usus besar pada unggas memiliki struktur yang khas, yaitu saluran memanjang dengan diameter dua kali lebih besar daripada usus halus yang berakhir di kloaka (North, 1. Bagian belakang usus besar terdiri dari rektum yang pendek, yang terhubung langsung dengan kloaka (Akoso. Usus besar memiliki peran penting dalam proses reabsorbsi air yang membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh unggas dan memastikan kadar air dalam sel tubuh tetap optimal (North, 1. Hasil uji proksimat onggok fermentasi Air 72,00%. Abu 0,40%. LK 1,39%. SK 3,20% dan PK 1,02%. Onggok adalah residu padat yang dihasilkan dari proses produksi tapioka dari ubi kayu, yang mencapai 2/3 hingga 3/4 dari total bahan baku singkong. Bahan ini memiliki nilai energi metabolis yang tinggi, yaitu antara 3000-3500 Kkal/kg, namun kandungan protein kasarnya relatif rendah, yaitu sekitar 1,6-2,5%. Penelitian yang dilakukan oleh Phong et al. menemukan bahwa proses fermentasi onggok menggunakan aspergillus niger dapat meningkatkan kandungan prtein kasar dan protein murni secara signifikan, kandungan protein kasar meningkat dari 2,40% menjadi 9,80%, protein murni meningkat dari 1,10% mwnjadi 6,40%. Fermentasi juga dapat mengurangi kandungan serat kasar dari 7,20% menjadi 6,80%. Hasil penelitian perlakuan T0 . % onggok fermentas. : pH rata-rata 5,91. Perlakuan T1 . % onggok fermentas. : pH rata-rata 6,1. Perlakuan T2 . % onggok fermentas. : pH rata-rata 5,8. Kesimpulannya perlakuan T1 . engan penambahan onggok fermentasi 5%) memiliki pH lebih tinggi dibandingkan T0 dan T2. Penambahan onggok fermentasi dengan 5% menunjukkan pengaruh yang paling efisien dalam mempengaruhi pH organ pencernaan dibandingkan dengan 0% dan 10%. Tabel 9. Rata-rata pH Usus Besar Itik Peking Fase Finisher Perlakuan (Eko. Ulangan Rata-rata 5,916667 5,883333 Keterangan : perlakuan T0 = konsentrat tanpa campuran onggok fermentasi, perlakuan T1 = konsentrat dengan campuran onggok fermentasi 5%, perlakuan T2 = Konsentrat dengan campuran onggok fermentasi 10% tidak berpengaruh nyata terhadap pH usus besar (P>0,. Berdasarkan menunjukkan bahwa pemberian onggok fermentasi T0. T1 dan T2 tidak berpengaruh nyata (P>0,. terhadap pH sekum. Hal ini dapat disebabkan karena sekum merupakan tempat fermentasi yang didominasi oleh mikroba, dan pH sekum dipengaruhi oleh aktivitas mikroba yang memfermentasi serat Inggita, dkk / Tropical Animal Science 7. :246-261 dan komponen lainnya. Onggok fermentasi yang diberikan mungkin tidak memberikan tambahan substrat yang signifikan bagi mikroba di sekum, atau mungkin mikroba di sekum sudah cukup adaptif terhadap pemberian onggok fermentasi, sehingga pH sekum tetap stabil dan tidak berbeda nyata di antara perlakuan. Kemampuan regulasi pH internal sekum dan aktivitas mikroba yang kompleks juga dapat membantu menjaga kestabilan pH, sehingga perubahan kecil dalam komposisi pakan tidak cukup untuk mempengaruhi pH sekum secara signifikan. Oleh karena itu, pemberian onggok fermentasi dengan level yang berbeda tidak mempengaruhi pH sekum itik. Menurut Lokapirnasari. , & Yulianto. menyatakan bahwa pH normal sekum yaitu 6,9. Unggas domestik dan liar yang memakan biji-bijian, sepasang sekum berfungsi sebagai tempat pencernaan menghasilkan asam lemah terbang yang kemudian diserap oleh sekum. Ayam domestik yang diberi pakan mudah dicerna, peran sekum dalam pencernaan relatif kecil (Frandson et al. , 2. Hasil uji proksimat onggok fermentasi Air 72,00%. Abu 0,40%. LK 1,39%. SK 3,20% dan PK 1,02%. Penelitian yang dilakukan oleh Phong et al. menemukan bahwa proses fermentasi onggok menggunakan aspergillus niger dapat meningkatkan kandungan prtein kasar dan protein murni secara signifikan, kandungan protein kasar meningkat dari 2,40% menjadi 9,80%, protein murni meningkat dari 1,10% mwnjadi 6,40%. Fermentasi kandungan serat kasar dari 7,20% menjadi 6,80%. Hasil penelitian perlakuan T0 . % onggok fermentas. : pH rata-rata 6. Perlakuan T1 . % onggok fermentas. : pH rata-rata 6,2. Perlakuan T2 . % onggok fermentas. : pH rata-rata 5,6. Kesimpulannya T1 . engan penambahan onggok fermentasi 5%) memiliki pH lebih tinggi dibandingkan T0 dan T2. Penambahan onggok fermentasi dengan 5% menunjukkan pengaruh yang paling efisien dalam mempengaruhi pH organ pencernaan dibandingkan dengan 0% dan 10%. Tabel 10. Rata-rata pH Sekum Itik Peking Fase Finisher Perlakuan (Eko. Ulangan Rata-rata 6,083333 6,216667 5,633333 Keterangan : perlakuan T0 = konsentrat tanpa campuran onggok fermentasi, perlakuan T1 = konsentrat dengan campuran onggok fermentasi 5%, perlakuan T2 = Konsentrat dengan campuran onggok fermentasi 10% tidak berpengaruh nyata terhadap pH sekum (P>0,. KESIMPULAN Penambahan onggok fermentasi dengan level berbeda tidak berpengaruh terhadap kondisi pH organ saluran pencernaan . sofagus, ventrikulus, duodenum, jejenum, ileum, usus besar dan seku. Kondisi pH perlakuan menunjukkan kisaran normal sehingga proses berjalan dapat berjalan normal. DAFTAR PUSTAKA