Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. September 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index Pemberdayaan Xemandirian Ekonomi Anak Panti melalui Pelatihan Kewirausahaan: Strategi Memulai dan Mengelola Usaha Kecil di Panti Asuhan Ulil Abshar Sengkaling Malang Murdiono*. Muhammad Yusuf. Muhammad Ainur Roziqi Jurusan Pendidikan Bahasa Arab. Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang. Jawa Timur Korespondensi: : murdiono@umm. Artikel history : Received Revised Published : 28 Agustus 2025 : 11 September 2025 : 30 September 2025 DOI : https://doi. org/10. 29303/pepadu. ABSTRAK Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Panti Asuhan Ulil Abshar Sengkaling. Malang, dengan tujuan utama memberdayakan kemandirian ekonomi anak panti melalui pelatihan Permasalahan yang dihadapi anak panti umumnya terkait keterbatasan keterampilan praktis serta minimnya pengalaman dalam mengelola usaha kecil, sehingga mereka memerlukan pembekalan yang sistematis. Metode pelaksanaan kegiatan mencakup beberapa tahapan, yaitu pemberian materi konseptual mengenai kewirausahaan, pelatihan teknis memulai usaha kecil, serta pendampingan dalam mengelola unit usaha sederhana yang sesuai dengan potensi dan kebutuhan lokal. Selain itu, anak-anak panti didorong untuk mengembangkan kreativitas dalam menciptakan produk bernilai jual dan mempraktikkan strategi pemasaran berbasis teknologi digital. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman anak panti tentang konsep kewirausahaan, kemampuan menyusun perencanaan usaha, serta keterampilan mengelola usaha kecil secara mandiri. Kegiatan ini juga berdampak pada tumbuhnya rasa percaya diri, motivasi untuk berwirausaha, serta kesadaran pentingnya kemandirian ekonomi bagi masa depan mereka. Dengan demikian, pelatihan kewirausahaan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam menyiapkan generasi anak panti yang mandiri, produktif, dan berdaya saing. Keberlanjutan program direncanakan melalui monitoring, pendampingan lanjutan, dan pengembangan jejaring kerja sama dengan berbagai pihak. Kata Kunci: Pemberdayaan Ekonomi. Kewirausahaan. Kemandirian Anak Panti ABSTRACT This community service activity was conducted at Panti Asuhan Ulil Abshar in Sengkaling. Malang, with the primary objective of empowering the economic independence of orphanage children through entrepreneurship training. The main challenges faced by the children include limited practical skills and a lack of experience in managing small businesses, thus necessitating systematic capacity-building The implementation methods involved several stages, including the delivery of conceptual materials on entrepreneurship, technical training on how to start small-scale enterprises, and mentoring in managing simple business units tailored to local potential and needs. Furthermore, the participants were encouraged to develop creativity in producing marketable products and to practice digital-based marketing strategies. The results of the program indicated an improvement in the participantsAo understanding of entrepreneurial concepts, their ability to develop business plans, and their skills in independently managing small businesses. The activity also contributed to enhancing self-confidence, entrepreneurial motivation, and awareness of the importance of economic self-reliance for their future. Therefore, this entrepreneurship training is expected to serve as an initial step in preparing a generation of independent, productive, and competitive orphanage youths. Program sustainability is planned Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. September 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index through continuous monitoring, follow-up mentoring, and the development of collaborative networks with various stakeholders. Kata kunci: Economic Empowerment. Entrepreneurship. Orphanage ChildrenAos Independence PENDAHULUAN Panti Asuhan Ulil Abshar Sengkaling Malang merupakan lembaga sosial yang menaungi anak-anak yatim dan dhuafa dengan tujuan memberikan perlindungan, pendidikan, serta pembinaan moral dan keterampilan hidup. Kehadiran lembaga ini tidak hanya menjadi wadah pengasuhan yang bersifat protektif, tetapi juga memiliki peran strategis dalam menyiapkan anak-anak asuh untuk menghadapi tantangan kehidupan secara mandiri di masa Dalam konteks pembangunan masyarakat, keberadaan panti asuhan tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab sosial untuk melahirkan generasi yang tidak sekadar mampu bertahan secara ekonomi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menciptakan nilai tambah melalui keterampilan produktif (Murdiono & Fatoni, 2. Namun demikian, realitas menunjukkan bahwa saat ini Panti Asuhan Ulil Abshar menghadapi tantangan serius dalam meningkatkan kemandirian ekonomi anak-anak asuhnya. Berdasarkan observasi dan wawancara dengan pengelola, sebagian besar anak panti hanya mengandalkan bantuan donatur untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sehingga keberlangsungan hidup mereka sangat bergantung pada pihak eksternal. Ketergantungan semacam ini, jika dibiarkan berlarut-larut, akan menimbulkan kerentanan yang berdampak pada masa depan anak-anak panti, karena tidak adanya bekal keterampilan yang memadai untuk menapaki kemandirian (Apriani et al. , 2. Minimnya keterampilan kewirausahaan menjadi kendala utama dalam menciptakan peluang ekonomi bagi anak-anak asuh. Padahal, dari segi potensi, anak-anak Panti Asuhan Ulil Abshar menunjukkan semangat belajar yang tinggi serta ketertarikan terhadap bidang usaha kecil, seperti kuliner, kerajinan tangan, dan jasa. Modal sosial berupa antusiasme dan rasa ingin tahu tersebut sejatinya merupakan aset penting yang dapat dikembangkan melalui program pemberdayaan yang tepat. Akan tetapi, keterbatasan akses terhadap pelatihan, minimnya permodalan, serta kurangnya pendampingan dalam pengelolaan usaha membuat potensi tersebut belum dapat dimaksimalkan. Situasi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara potensi dan realisasi, sehingga diperlukan intervensi yang mampu menjembatani keduanya (Achmad et al. , 2. Selain itu, lokasi panti yang berada di daerah Sengkaling. Malang, menawarkan peluang strategis karena berada di kawasan yang dekat dengan pasar lokal, lingkungan wisata, serta pusat akademik dari universitas terdekat. Lingkungan tersebut membuka ruang bagi anak-anak panti untuk memasarkan produk, berjejaring dengan komunitas akademisi maupun pelaku usaha, serta belajar dari praktik bisnis nyata yang berlangsung di sekitar mereka (Noorrizki et al. , 2. Saat ini, belum ada program sistematis di Panti Asuhan Ulil Abshar yang secara khusus fokus pada pengembangan kewirausahaan anak asuh. Kegiatan ekonomi yang ada masih bersifat insidental, misalnya produksi makanan ringan untuk konsumsi internal tanpa perencanaan berkelanjutan. Ketiadaan program yang berstruktur ini membuat anak-anak panti tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman praktis mengenai kewirausahaan secara konsisten. Padahal, pemberian pelatihan yang terstruktur tidak hanya akan meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga melatih sikap mental, kedisiplinan, kreativitas, dan daya juang yang sangat diperlukan dalam dunia usaha (Kurniawati & Khamainy, 2. Dengan demikian, intervensi berupa pelatihan kewirausahaan yang sistematis dan berkelanjutan sangat dibutuhkan agar anak-anak panti memiliki keterampilan memadai untuk memulai dan mengelola usaha kecil secara mandiri, sehingga mereka mampu mengurangi ketergantungan pada bantuan donatur (Craft et al. , 2. Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. September 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index Berdasarkan data yang diperoleh. Panti Asuhan Ulil Abshar saat ini menampung sekitar lima puluh anak asuh dengan rentang usia tujuh hingga delapan belas tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar dua puluh anak berada dalam usia remaja yang secara psikologis dan kognitif sudah siap menerima pelatihan kewirausahaan. Kelompok usia ini sangat potensial untuk menjadi target utama program pemberdayaan, karena pada fase remaja mereka sedang membangun identitas diri, minat, serta keterampilan yang akan memengaruhi masa depan mereka (Mubarok et al. , 2. Sayangnya, keterbatasan dalam hal keterampilan bisnis masih menjadi tantangan yang signifikan, di mana mayoritas anak belum memiliki pengalaman dalam produksi maupun pemasaran produk. Ketiadaan pengalaman ini tentu menghambat mereka untuk mengekspresikan kreativitas dalam bentuk usaha nyata, sekaligus menurunkan kepercayaan diri untuk bersaing di ranah ekonomi (Arumsari et al. , 2. Jika ditinjau dari aspek bisnis, kondisi mitra menunjukkan adanya beberapa kelemahan Pertama, dari sisi bahan dan produksi, panti belum memiliki unit usaha yang mapan. Beberapa anak memang memiliki keterampilan dasar dalam membuat produk sederhana, seperti makanan ringan, tetapi belum dikembangkan dalam skala komersial. Kedua, dari segi proses dan produk, hasil yang pernah dibuat masih terbatas pada jajanan sederhana untuk konsumsi internal, tanpa adanya strategi produksi yang berorientasi pasar. Ketiga, aspek distribusi dan manajemen masih sangat lemah, karena tidak ada sistem distribusi yang jelas, sementara manajemen usaha masih bersifat tradisional dan tidak terdokumentasi (Permana. Keempat, dalam bidang pemasaran, pengetahuan anak-anak maupun pengelola tentang pemasaran digital maupun promosi konvensional sangat minim, sehingga produk tidak mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Kelima, dari sisi sarana dan aksesibilitas, panti sebenarnya memiliki ruang yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan produksi, tetapi keterbatasan alat dan bahan membuat ruang tersebut belum difungsikan secara optimal (Trisna et al. , 2. Melihat kondisi tersebut, urgensi program pemberdayaan ekonomi berbasis kewirausahaan semakin jelas. Pemberdayaan dalam konteks ini tidak hanya dipahami sebagai peningkatan keterampilan teknis semata, tetapi juga sebagai proses membangun kesadaran, motivasi, dan kemandirian pada anak-anak panti. Pemberdayaan yang berhasil akan menghasilkan individu-individu yang tidak hanya mampu memproduksi barang atau jasa, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengelola usaha, memahami strategi bisnis, serta mengembangkan jejaring pasar(Murdiono. Ahmad Fatoni, 2. Dengan kata lain, pelatihan kewirausahaan harus dipandang sebagai strategi komprehensif untuk membekali anak-anak asuh dengan modal pengetahuan, keterampilan, dan mentalitas wirausaha. Hal ini sejalan dengan paradigma pembangunan masyarakat yang menekankan pentingnya transformasi sosial melalui pendidikan keterampilan hidup . ife skills educatio. (Mangundjaya et al. , 2. Lebih jauh, intervensi pelatihan kewirausahaan di Panti Asuhan Ulil Abshar diharapkan dapat memberikan dampak jangka panjang. Pertama, secara individual, anak-anak akan memperoleh bekal keterampilan praktis yang dapat digunakan untuk menciptakan peluang usaha di kemudian hari. Kedua, secara institusional, panti asuhan dapat mengembangkan unit usaha yang berfungsi sebagai sumber pendapatan alternatif, sehingga mengurangi ketergantungan pada donatur. Ketiga, secara sosial, keberhasilan program ini dapat meningkatkan citra panti sebagai lembaga yang produktif, berdaya, dan inovatif, sehingga menarik lebih banyak dukungan dari masyarakat maupun lembaga lain (Sartika & Ratnawati. Dengan demikian, program pelatihan kewirausahaan bukan hanya sekadar solusi jangka pendek, melainkan juga investasi sosial yang dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi anak-anak asuh dan lembaga panti secara keseluruhan. Dengan memperhatikan kompleksitas permasalahan serta peluang yang tersedia, pelatihan kewirausahaan melalui strategi memulai dan mengelola usaha kecil di Panti Asuhan Ulil Abshar Sengkaling Malang menjadi sangat relevan untuk diimplementasikan. Program ini akan berfokus pada peningkatan keterampilan produksi, pengelolaan manajemen usaha. Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. September 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index pemahaman distribusi, serta strategi pemasaran yang sesuai dengan perkembangan zaman, termasuk pemanfaatan teknologi digital. Pendekatan ini diharapkan mampu mengoptimalkan potensi anak-anak asuh, mengatasi keterbatasan yang ada, serta menumbuhkan budaya wirausaha di lingkungan panti. Dengan demikian, pengabdian masyarakat dalam bentuk pelatihan kewirausahaan tidak hanya memenuhi kebutuhan praktis anak-anak panti, tetapi juga selaras dengan visi pembangunan berkelanjutan yang menekankan pemberdayaan kelompok rentan melalui peningkatan kapasitas ekonomi (T & Chandra, 2. METODE KEGIATAN Waktu dan Tempat kegiatan Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Dusun Jetis. Desa Mulyoagung. Kecamatan Dau. Kabupaten Malang. Jawa Timur 65151. Indonesia. Kegiatan ini berlangsung selama 2 . bulan mulai bulan Agustus sampai dengan bulan September 2025. Bahan dan Alat Dalam kegiatan pengabdian Pemberdayaan Kemandirian Ekonomi Anak Panti Melalui Pelatihan Kewirausahaan: Strategi Memulai dan Mengelola Usaha Kecil di Panti Asuhan Ulil Abshar Sengkaling Malang, rangkaian pelatihan dibagi ke dalam beberapa sesi. Sesi Materi 1 membahas Konsep Kewirausahaan yang menekankan pada penguatan mindset serta perencanaan bisnis sederhana agar anak panti mampu memahami dasar-dasar wirausaha dan manajemen usaha kecil. Sesi Materi 2 berfokus pada Strategi Pemasaran dengan materi branding dan penjualan digital, termasuk cara memperkenalkan serta menjual produk secara Pada Sesi Produksi, peserta dilatih membuat dua produk olahan, yaitu Macaroni Schootel dan Klappertaart. Bahan utama Macaroni Schootel meliputi makaroni sedani, susu UHT fullcream, daging sapi Vitalia, keju Wincheese, margarin Palmboom, bumbu pelengkap, saus tomat dan cabai Del Monte, serta kemasan aluminium foil. Sedangkan Klappertaart menggunakan susu UHT, degan, air degan, tepung maizena, gula, telur, cream of tartar, vanila bubuk, susu kental manis, kayu manis bubuk, almond, kismis, buah stroberi/ceri, dan keju Alat produksi yang digunakan mencakup kompor, wajan teflon besar, sutil silikon, pisau, chopper, baskom, talenan, mixer, oven, sendok, kamera untuk dokumentasi kegiatan, serta alat tulis menulis untuk mendukung pencatatan materi dan perencanaan usaha. Objek/sasaran/mitra Objek atau sasaran dalam kegiatan pengabdian Pemberdayaan Kemandirian Ekonomi Anak Panti Melalui Pelatihan Kewirausahaan: Strategi Memulai dan Mengelola Usaha Kecil di Panti Asuhan Ulil Abshar Sengkaling Malang adalah anak-anak Panti Asuhan Ulil Abshar Dau Sengkaling Malang dengan jumlah peserta sebanyak 50 orang. Sebagian besar anak panti berasal dari luar Jawa dan sedang menempuh pendidikan di tingkat SMP serta SMA. Mereka menjadi mitra utama kegiatan ini dengan tujuan agar memperoleh bekal keterampilan kewirausahaan sejak dini, mampu memahami konsep bisnis sederhana, serta memiliki pengalaman langsung dalam produksi dan pemasaran produk sebagai upaya membangun kemandirian ekonomi. Metode pelaksanaan kegiatan Metode pengabdian dalam kegiatan Pemberdayaan Kemandirian Ekonomi Anak Panti Melalui Pelatihan Kewirausahaan: Strategi Memulai dan Mengelola Usaha Kecil di Panti Asuhan Ulil Abshar Sengkaling Malang dilaksanakan secara bertahap dan terstruktur. Tahapan diawali dengan persiapan dan koordinasi dengan mitra panti, dilanjutkan sosialisasi program kepada anak dan pengelola. Selanjutnya diberikan pelatihan dasar kewirausahaan untuk membangun mindset bisnis. Anak-anak kemudian mengikuti pelatihan produksi makanan Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. September 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index ringan berupa Macaroni Schootel dan Klappertaart, serta pengenalan teknologi bisnis melalui keuangan digital. Setelah itu, dilakukan pelatihan pemasaran digital berbasis branding dan media sosial. Tahap akhir berupa implementasi usaha kecil oleh peserta, disertai pendampingan dan monitoring usaha secara berkelanjutan. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dalam kegiatan Pemberdayaan Kemandirian Ekonomi Anak Panti Melalui Pelatihan Kewirausahaan: Strategi Memulai dan Mengelola Usaha Kecil di Panti Asuhan Ulil Abshar Sengkaling Malang dilakukan melalui beberapa teknik. Pertama, observasi langsung terhadap proses pelatihan untuk melihat partisipasi, keterampilan, dan interaksi Kedua, wawancara dengan anak panti dan pengelola guna menggali pengalaman, kebutuhan, serta harapan mereka terkait program kewirausahaan. Ketiga, angket/kuesioner diberikan untuk mengukur pemahaman peserta sebelum dan sesudah pelatihan. Keempat, dokumentasi berupa foto, video, dan catatan lapangan sebagai bukti kegiatan. Semua data dikumpulkan untuk dianalisis dalam menilai efektivitas program. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan Pemberdayaan Kemandirian Ekonomi Anak Panti Melalui Pelatihan Kewirausahaan: Gambar 1. Dokumentasi koordinasi awal bersama pengelola panti Gambar 2. Sosialisasi program Gambar 3. Pelatihan dasar kewirausahaan Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. September 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index Strategi Memulai dan Mengelola Usaha Kecil di Panti Asuhan Ulil Abshar Sengkaling Malang telah dilaksanakan secara bertahap dan terstruktur sesuai dengan rancangan metode Setiap tahap dirancang untuk membangun keterampilan, pengetahuan, serta mental kewirausahaan pada anak-anak panti sehingga mereka dapat memiliki bekal kemandirian ekonomi di masa depan. Persiapan dan Koordinasi dengan Mitra Panti Tahap persiapan diawali dengan pertemuan tim pengabdian bersama pengelola Panti Asuhan Ulil Abshar. Koordinasi ini penting untuk menyamakan persepsi mengenai tujuan, teknis pelaksanaan, serta bentuk dukungan yang diperlukan. Dari hasil koordinasi, diputuskan jumlah peserta sebanyak 50 anak yang terdiri dari siswa SMP dan SMA. Sebagian besar peserta berasal dari luar Jawa dengan latar belakang keluarga yang sederhana. Dalam tahap ini, tim pengabdian juga menyiapkan bahan, alat, serta modul pelatihan. Selain itu, pembagian peran panitia dilakukan agar pelaksanaan kegiatan dapat berjalan lancar. Sosialisasi Program kepada Anak dan Pengelola Sosialisasi dilakukan dalam bentuk pertemuan bersama anak-anak panti dan pengelola. Tujuannya adalah mengenalkan program, menjelaskan tahapan kegiatan, serta memotivasi peserta untuk aktif berpartisipasi. Anak-anak terlihat antusias saat dijelaskan bahwa mereka tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik langsung membuat produk kuliner yang bisa dijadikan peluang usaha. Pelatihan Produksi Makanan Ringan Tahap selanjutnya adalah pelatihan produksi kuliner berupa dua produk makanan ringan: Macaroni Schootel dan Klappertaart. Kedua produk ini dipilih karena mudah dibuat, bahan baku terjangkau, dan memiliki nilai jual cukup tinggi di pasaran. Peserta dibagi menjadi dua kelompok besar, masing-masing bertugas membuat salah satu produk. Dengan bimbingan instruktur, anak-anak belajar mulai dari persiapan bahan, teknik memasak, hingga proses Hasilnya, peserta berhasil membuat Macaroni Schootel dan Klappertaart dengan rasa dan tampilan yang cukup baik. Produk tersebut kemudian dicicipi bersama untuk evaluasi rasa dan kualitas. Gambar 4. Proses produksi Macaroni Schootel Gambar 5. Proses produksi Klappertaart Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. September 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index Tabel 1. Hasil Produksi Peserta Produk Macaroni Schootel Klappertaart Jumlah Produksi 100 loyang kecil Kualitas Rasa Kualitas Tampilan Enak, gurih Rapi Catatan Perbaikan Perlu variasi topping 100 cup Manis seimbang Menarik Perlu pengemasan lebih kuat Pelatihan Pemasaran Digital Tahap berikutnya adalah pelatihan strategi pemasaran digital. Peserta dikenalkan pada konsep branding dan media sosial sebagai sarana promosi. Mereka belajar membuat konten sederhana berupa foto produk, caption menarik, hingga cara mengunggah ke platform Instagram dan WhatsApp Business. Peserta juga dilatih untuk menghitung strategi harga promosi dan membangun komunikasi dengan calon pembeli secara daring. Gambar 6. Pelatihan pemasaran digital Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan tema Pemberdayaan Kemandirian Ekonomi Anak Panti Melalui Pelatihan Kewirausahaan: Strategi Memulai dan Mengelola Usaha Kecil di Panti Asuhan Ulil Abshar Sengkaling Malang merupakan sebuah upaya nyata untuk memberikan keterampilan kewirausahaan bagi anak panti. Program ini dirancang secara sistematis dengan metode pelaksanaan yang bertahap dan terstruktur. Melalui metode tersebut, anak panti tidak hanya diberikan pengetahuan teoritis, tetapi juga diarahkan untuk memiliki pengalaman praktis dalam mengelola usaha kecil. Tahap awal dari kegiatan ini adalah persiapan dan koordinasi dengan mitra panti. Proses ini dilakukan untuk memastikan keselarasan antara tim pengabdian dan pihak pengelola panti terkait tujuan, sasaran, serta mekanisme pelaksanaan kegiatan. Dalam koordinasi, ditentukan jumlah peserta sebanyak 50 anak dengan rentang pendidikan SMP dan SMA, yang sebagian besar berasal dari luar Jawa. Fakta ini menunjukkan bahwa mereka memiliki latar belakang sosial yang cukup beragam dan memerlukan pendekatan inklusif. Koordinasi ini juga membahas teknis penyediaan bahan pelatihan, alat produksi, serta pembagian peran fasilitator agar pelaksanaan program dapat berjalan sesuai rencana. Tahapan ini sangat penting karena Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. September 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index keberhasilan sebuah program pengabdian sangat ditentukan oleh kesiapan awal, komunikasi yang jelas, serta keterlibatan aktif mitra. Setelah persiapan dilakukan, tahap berikutnya adalah sosialisasi program kepada anak dan pengelola panti. Sosialisasi bertujuan untuk memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai tujuan program, manfaat yang diharapkan, serta tahapan yang akan dilalui oleh Anak-anak panti diberikan motivasi bahwa kegiatan ini bukan sekadar pelatihan, melainkan bekal keterampilan yang dapat membantu mereka mandiri di masa depan. Sosialisasi juga berfungsi untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap program sehingga peserta lebih termotivasi mengikuti setiap sesi. Respons yang muncul dari anak-anak menunjukkan antusiasme yang tinggi, karena mereka tertarik dengan pengalaman langsung yang akan diperoleh melalui kegiatan produksi makanan ringan dan pemasaran digital. Tahap berikutnya adalah pelatihan dasar kewirausahaan, yang berfokus pada penguatan mindset serta pemahaman perencanaan bisnis sederhana. Peserta diajak untuk menyadari pentingnya kemandirian ekonomi, kreativitas, serta keberanian mengambil risiko. Materi pelatihan mencakup pengenalan konsep usaha kecil, peluang pasar, perhitungan modal, dan estimasi keuntungan. Melalui metode simulasi, anak-anak dilatih membuat perhitungan harga pokok produksi dan menentukan harga jual yang sesuai. Hal ini penting karena kemampuan menghitung biaya dan menentukan harga yang tepat merupakan keterampilan dasar dalam menjalankan usaha. Dari pelatihan ini terlihat bahwa sebagian besar peserta mampu memahami logika sederhana mengenai bagaimana usaha kecil dapat berkembang jika dikelola dengan Lebih jauh, mereka juga belajar bahwa kegigihan, kedisiplinan, dan kreativitas merupakan kunci penting dalam kewirausahaan. Tahap inti dari kegiatan ini adalah pelatihan produksi makanan ringan berupa Macaroni Schootel dan Klappertaart. Kedua produk ini dipilih karena relatif mudah dibuat, bahan bakunya terjangkau, serta memiliki potensi pasar yang cukup besar. Dalam praktiknya, peserta dibagi menjadi kelompok untuk memproduksi kedua jenis makanan tersebut. Instruktur memberikan arahan mulai dari persiapan bahan, cara mengolah, teknik memasak, hingga proses pengemasan. Anak-anak terlihat sangat antusias mengikuti setiap tahapan produksi karena mereka dapat langsung melihat hasil kerja mereka dalam bentuk produk yang nyata. Selain itu, kegiatan ini juga melatih kerja sama tim, kedisiplinan waktu, serta keterampilan praktis dalam mengelola alat masak. Evaluasi terhadap hasil produksi menunjukkan bahwa rasa dan tampilan produk cukup baik, meskipun masih ada beberapa catatan untuk perbaikan, misalnya variasi topping dan pengemasan yang lebih menarik. Proses produksi ini membuktikan bahwa dengan arahan yang tepat, anak-anak panti mampu menghasilkan produk bernilai ekonomi. Tahap selanjutnya adalah pengenalan teknologi bisnis melalui keuangan digital. Di era digital, keterampilan mengelola keuangan menggunakan aplikasi merupakan kebutuhan penting bagi pelaku usaha. Anak-anak diperkenalkan pada cara pencatatan transaksi sederhana melalui aplikasi smartphone, penggunaan e-wallet, hingga simulasi transfer dana. Pelatihan ini bertujuan membekali peserta dengan kemampuan dasar pengelolaan keuangan yang lebih transparan dan efisien. Dengan adanya pemahaman tentang keuangan digital, diharapkan mereka dapat mengelola modal, keuntungan, serta pengeluaran usaha dengan lebih tertib. Meskipun sebagian peserta masih memerlukan pendampingan intensif karena keterbatasan akses perangkat, kegiatan ini telah membuka wawasan mereka mengenai pentingnya teknologi dalam bisnis. Berikutnya adalah pelatihan pemasaran digital berbasis branding dan media sosial. Pada tahap ini, peserta belajar bagaimana membangun citra produk melalui identitas merek dan strategi promosi. Anak-anak dilatih untuk membuat konten sederhana seperti foto produk dengan tampilan menarik, menulis deskripsi singkat yang persuasif, serta mengunggahnya ke platform media sosial seperti Instagram. WhatsApp Business, dan Facebook. Pelatihan ini juga Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. September 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index membahas cara berkomunikasi dengan konsumen secara daring, strategi harga promosi, serta pentingnya konsistensi dalam menjaga kualitas produk dan pelayanan. Dengan memanfaatkan media sosial, anak-anak panti dapat memasarkan produk mereka ke jangkauan yang lebih luas tanpa memerlukan biaya besar. Hasil dari pelatihan ini menunjukkan bahwa peserta mulai memahami perbedaan antara menjual produk secara konvensional dengan strategi pemasaran digital yang lebih efektif dan efisien. Tahap akhir dari kegiatan ini adalah implementasi usaha kecil oleh peserta, disertai pendampingan dan monitoring usaha. Anak-anak diarahkan untuk mencoba menjalankan usaha kecil secara berkelompok dengan menjual produk hasil pelatihan, yaitu Macaroni Schootel dan Klappertaart. Penjualan dilakukan di lingkungan sekitar panti, sekolah, serta melalui media Respon masyarakat cukup positif, terutama terhadap Macaroni Schootel yang cepat habis terjual. Dari pengalaman ini, anak-anak belajar langsung bagaimana menghadapi konsumen, mengatur produksi, serta mencatat keuntungan. Pendampingan dilakukan oleh tim pengabdian dengan memberikan bimbingan, masukan, serta evaluasi berkala. Monitoring meliputi evaluasi kualitas produk, strategi pemasaran, pengelolaan keuangan, serta kendala yang dihadapi peserta. Tantangan yang muncul di antaranya keterbatasan modal produksi, kurangnya pengalaman dalam mencatat transaksi keuangan, serta konsistensi dalam mempromosikan produk. Namun demikian, anakanak menunjukkan semangat tinggi untuk terus mencoba dan memperbaiki kekurangan. Dengan adanya monitoring berkelanjutan, diharapkan usaha kecil yang dijalankan dapat berkembang secara lebih stabil. Secara keseluruhan, hasil kegiatan pengabdian ini menunjukkan bahwa pendekatan yang bertahap dan terstruktur mampu membekali anak panti dengan keterampilan praktis dan mental kewirausahaan. Mereka tidak hanya mendapatkan pengetahuan tentang konsep usaha, tetapi juga pengalaman langsung dalam memproduksi, memasarkan, dan mengelola usaha Hal ini menjadi bekal penting untuk kemandirian mereka di masa depan, terutama ketika sudah tidak lagi tinggal di panti. Pembahasan dari pelaksanaan kegiatan ini dapat dirangkum ke dalam beberapa poin Pertama, penguatan mindset kewirausahaan merupakan fondasi utama yang harus ditanamkan sebelum anak-anak terjun ke dunia usaha. Kedua, keterampilan produksi kuliner menjadi bekal nyata yang bisa langsung diterapkan dan memiliki nilai jual. Ketiga, pemahaman teknologi digital, baik dalam hal keuangan maupun pemasaran, merupakan kebutuhan mendesak di era modern yang tidak bisa diabaikan. Keempat, implementasi usaha nyata memberikan pengalaman berharga tentang dinamika bisnis kecil, sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri. Terakhir, pendampingan dan monitoring berkelanjutan menjadi faktor penting agar semangat anak-anak tetap terjaga dan usaha mereka dapat berkembang lebih baik. Dengan demikian, program pengabdian ini tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek berupa keterampilan praktis, tetapi juga manfaat jangka panjang berupa kemandirian ekonomi, kepercayaan diri, serta pola pikir wirausaha yang kuat. Kegiatan ini sekaligus menjadi model bahwa pemberdayaan anak panti melalui pelatihan kewirausahaan dapat menjadi solusi strategis dalam mempersiapkan generasi muda yang mandiri, kreatif, dan berdaya saing di tengah tantangan ekonomi yang semakin kompleks. KESIMPULAN DAN SARAN Kegiatan pengabdian tentang Pemberdayaan Kemandirian Ekonomi Anak Panti Melalui Pelatihan Kewirausahaan: Strategi Memulai dan Mengelola Usaha Kecil di Panti Asuhan Ulil Abshar Sengkaling Malang telah berjalan dengan baik dan sesuai rencana. Melalui tahapan persiapan, sosialisasi, pelatihan kewirausahaan, produksi makanan ringan berupa Macaroni Schootel dan Klappertaart, hingga pengenalan teknologi keuangan digital dan pemasaran berbasis media sosial, anak-anak panti menunjukkan antusiasme tinggi serta Jurnal Pepadu e-ISSN: 2715-9574 Vol. No. September 2025 https://journal. id/index. php/pepadu/index peningkatan keterampilan. Implementasi usaha kecil juga memberikan pengalaman nyata dalam mengelola bisnis sederhana, dengan dukungan pendampingan dan monitoring yang Sebagai saran, program serupa perlu dilakukan secara berkesinambungan dengan menambahkan variasi produk, memperluas jejaring pemasaran, serta meningkatkan pendampingan jangka panjang. Dukungan dari pihak mitra, masyarakat, dan pemerintah juga diharapkan agar hasil yang dicapai tidak hanya bersifat sementara, melainkan mampu mewujudkan kemandirian ekonomi yang berkelanjutan bagi anak panti. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Universitas Muhammadiyah Malang atas dukungan moril dan fasilitasi yang diberikan sehingga kegiatan ini dapat berjalan Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada Direktorat Riset. Teknologi, dan Pengabdian Masyarakat (DRTPM) Dikti melalui program hibah PKM Tahun 2025, yang telah memberikan dukungan baik secara moril maupun materi dalam pelaksanaan kegiatan ini. DAFTAR PUSTAKA