DUALITAS DAMPAK DAN FAKTOR MODERATOR MEDIA DIGITAL TERHADAP PERKEMBANGAN BAHASA ANAK USIA DINI: TINJAUAN SISTEMATIS Muhammad Rifki Anggana . Silvia Febrianti 1,2Universitas Mataram e-mail: *1e1c02410105@student. id, 21f02410068@student. Abstrak. Pesatnya penggunaan media digital pada anak usia dini tidak selalu diikuti dengan pemahaman yang komprehensif mengenai dampaknya terhadap perkembangan bahasa, sementara kajian sebelumnya masih bersifat parsial dan belum menyoroti secara sistematis pola dampak serta faktor yang memoderasinya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara kritis dualitas dampak media digital serta mengidentifikasi faktor-faktor moderator yang memengaruhi perkembangan bahasa anak usia dini melalui pendekatan Systematic Literature Review (SLR). Studi ini mengikuti pedoman PRISMA 2020 dengan proses identifikasi, screening, eligibility, dan inklusi terhadap artikel yang diperoleh dari Google Scholar. Sinta, dan Garuda pada rentang tahun 2021Ae2026. Analisis data dilakukan menggunakan sintesis tematik untuk mengkategorikan pola dampak negatif dan positif serta variabel moderator yang muncul dalam studi terpilih. Hasil menunjukkan bahwa paparan media digital secara berlebihan dan tidak terkontrol berkorelasi dengan keterlambatan bahasa, penurunan interaksi verbal, serta munculnya perilaku bahasa agresif. Sebaliknya, penggunaan yang terarah melalui konten edukatif dan pendampingan aktif orang tua terbukti dapat meningkatkan kosakata, pemahaman struktur kalimat, dan kemampuan komunikasi anak. Faktor moderator utama yang diidentifikasi meliputi durasi screen time, jenis konten, serta pola pengasuhan. Selain itu, penelitian ini menemukan kesenjangan berupa keterbatasan studi longitudinal dan minimnya intervensi berbasis konteks budaya lokal. Implikasi penelitian menegaskan pentingnya regulasi penggunaan media digital serta penguatan literasi digital bagi orang tua dan pendidik PAUD untuk mengoptimalkan perkembangan bahasa anak usia dini secara kontekstual dan berkelanjutan. Kata Kunci: media digital, perkembangan bahasa, anak usia dini, tinjauan sistematis, faktor moderator Abstract. The rapid increase in digital media use among early childhood populations has not been accompanied by a comprehensive understanding of its impact on language development, while existing studies remain fragmented and lack systematic synthesis of impact patterns and moderating factors. This study aims to critically analyze the dual impacts of digital media and identify key moderating factors influencing early childhood language development through a Muhammad Rifki Anggana dan Silvia Febrianti Systematic Literature Review (SLR) approach. The study follows the PRISMA 2020 guidelines, including identification, screening, eligibility, and inclusion stages, based on articles retrieved from Google Scholar. Sinta, and Garuda published between 2021 and 2026. Data were analyzed using thematic synthesis to categorize negative and positive impact patterns as well as moderating variables across selected studies. The findings reveal that excessive and uncontrolled digital media exposure is associated with language delays, reduced verbal interaction, and the emergence of aggressive language behavior. In contrast, guided use through highquality educational content and active parental co-viewing enhances vocabulary acquisition, sentence structure comprehension, and communication skills. Key moderating factors include screen time duration, content type, and parenting The review also identifies significant research gaps, particularly the lack of longitudinal studies and culturally grounded intervention approaches. The study highlights the importance of regulating digital media use and strengthening digital literacy among parents and early childhood educators to support optimal and sustainable language development. Keywords: digital media, language development, early childhood, systematic review, moderating factors Pendahuluan Perkembangan bahasa anak usia dini merupakan fondasi krusial bagi kemampuan kognitif, sosial, dan emosional di tahap kehidupan selanjutnya. Pada periode emas usia 0Ae6 tahun, stimulasi bahasa berperan penting dalam membentuk kosakata, fonologi, sintaksis, serta kemampuan komunikasi anak (Wahyuni & Yuwantika, 2. Namun, di tengah pesatnya transformasi digital, lingkungan pemerolehan bahasa anak mengalami perubahan signifikan, di mana interaksi langsung semakin terdisrupsi oleh paparan media digital. Meskipun berbagai penelitian telah mengkaji hubungan antara media digital dan perkembangan bahasa, temuan yang ada masih bersifat parsial, terfragmentasi, dan belum secara sistematis mengungkap pola dampak serta faktor-faktor yang Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan penelitian yang memerlukan sintesis komprehensif berbasis bukti. Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola pengasuhan dan pembelajaran anak usia dini secara global, terutama melalui meningkatnya integrasi perangkat digital dalam aktivitas sehari-hari anak dan interaksi (Meena Muhammad Rifki Anggana dan Silvia Febrianti et al. , 2. Anak-anak kini tumbuh dalam ekosistem digital yang dipenuhi perangkat seperti smartphone, tablet, dan televisi pintar yang menyediakan akses hampir tanpa batas terhadap konten audio-visual, sehingga membentuk ulang pola interaksi, perhatian, dan pengalaman belajar mereka sejak usia dini (Madigan et al. , 2. Paparan ini sering kali menggantikan interaksi tatap muka yang secara tradisional menjadi stimulus utama dalam pemerolehan bahasa. praktiknya, penggunaan gadget sebagai alat penenang anak semakin umum, sehingga mengurangi kesempatan anak untuk terlibat dalam komunikasi dua arah yang bermakna (Aprilia & Thaib, 2. Data nasional menunjukkan bahwa intensitas penggunaan media digital pada anak usia dini di Indonesia tergolong tinggi. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa 33,44% anak usia dini telah menggunakan gawai, dengan angka meningkat hingga 52,76% pada kelompok usia 5Ae6 tahun. Selain itu, akses internet pada anak prasekolah juga terus meningkat, mencerminkan tingginya eksposur digital sejak usia dini (Susilowati et al. , 2. Fenomena ini tidak hanya terjadi di lingkungan rumah, tetapi juga di lembaga PAUD yang mulai memperluas cakupan pengaruhnya terhadap perkembangan bahasa anak. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa paparan media digital yang perkembangan bahasa anak usia dini. Paparan screen time berlebih dikaitkan dengan keterlambatan bicara, terbatasnya kosakata aktif, serta menurunnya kualitas interaksi verbal. Selain itu, konsumsi konten yang tidak sesuai usia dapat memicu munculnya bahasa agresif dan menghambat perkembangan komunikasi sosial anak (Depalina et al. , 2. Kondisi ini semakin diperparah ketika pendampingan dari orang tua. Di sisi lain, media digital juga memiliki potensi sebagai sarana stimulasi bahasa apabila dimanfaatkan secara tepat. Konten edukatif interaktif, seperti Muhammad Rifki Anggana dan Silvia Febrianti digital storytelling dan video pembelajaran, dapat memperkaya kosakata, meningkatkan kemampuan mendengar, serta membantu anak memahami struktur narasi. Efektivitas ini semakin optimal ketika penggunaan media digital disertai dengan co-viewing dan interaksi aktif antara anak dan orang tua (Welsa Agustin et al. , 2. Dengan demikian, media digital memiliki karakter dualistik yang bergantung pada konteks penggunaan dan kualitas interaksi yang Perbedaan temuan tersebut menunjukkan bahwa dampak media digital tidak bersifat tunggal, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor moderator, seperti durasi penggunaan . creen tim. , jenis konten, serta pola pengasuhan. Peran orang tua dan pendidik menjadi krusial dalam menentukan apakah media digital berfungsi sebagai risiko atau justru sebagai peluang dalam mendukung perkembangan bahasa anak (Rohmah & Aziz, 2024. Welsa Agustin et al. , 2. Namun, dalam konteks Indonesia, pemahaman mengenai digital parenting dan literasi media masih belum merata, sehingga berpotensi memperbesar dampak negatif yang muncul. Selain itu, integrasi media digital dalam pendidikan anak usia dini, termasuk dalam Kurikulum Merdeka PAUD, masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan panduan pedagogis dan kurangnya pemahaman tentang dampak jangka panjang terhadap perkembangan bahasa. Kondisi ini diperparah oleh peningkatan penggunaan media digital pasca-pandemi COVID19 yang secara signifikan meningkatkan durasi screen time anak (Sundqvist & Heimann, 2. Oleh karena itu, diperlukan kajian yang mampu mensintesis temuan empiris secara sistematis guna memberikan dasar ilmiah yang kuat bagi praktik pendidikan dan pengasuhan. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara sistematis dualitas dampak media digital terhadap perkembangan bahasa faktor-faktor memengaruhinya melalui pendekatan Systematic Literature Review (SLR). Selain Muhammad Rifki Anggana dan Silvia Febrianti itu, penelitian ini juga bertujuan mengungkap kesenjangan penelitian yang masih ada, khususnya terkait keterbatasan studi longitudinal dan minimnya intervensi berbasis konteks budaya lokal. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis dan praktis bagi pengembangan kebijakan, praktik pendidikan, serta strategi pengasuhan di era digital. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan mengacu pada pedoman PRISMA 2020 (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyse. untuk memastikan proses yang sistematis, transparan, dan replikabel. Pendekatan ini dipilih untuk mensintesis secara komprehensif temuan empiris mengenai dampak media digital terhadap perkembangan bahasa anak usia dini, serta mengidentifikasi pola dampak dan faktor moderator yang memengaruhinya. Proses SLR dilaksanakan melalui empat tahap utama PRISMA, yaitu identifikasi, screening, eligibility, dan inclusion. Pada tahap identifikasi, pencarian artikel dilakukan pada database Google Scholar. Sinta, dan Garuda, serta Semantic Scholar ResearchGate. Tahap screening dilakukan dengan menyaring judul dan abstrak untuk mengeliminasi artikel yang tidak relevan. Selanjutnya, tahap eligibility dilakukan melalui pembacaan full-text untuk memastikan kesesuaian dengan kriteria penelitian. Tahap akhir . menghasilkan artikel yang digunakan dalam sintesis. Alur seleksi artikel didokumentasikan dalam diagram PRISMA untuk meningkatkan transparansi dan keterlacakan proses penelitian. Proses seleksi menghasilkan total 85 artikel pada tahap identifikasi. Setelah penghapusan duplikasi, tersisa 72 artikel untuk tahap screening. Sebanyak 45 artikel dieliminasi karena tidak relevan berdasarkan judul dan abstrak. Pada tahap eligibility, 27 artikel ditelaah secara full-text, di mana 15 artikel dieliminasi karena tidak memenuhi kriteria inklusi. Dengan demikian, sebanyak 12 artikel diinklusi dalam sintesis akhir. Muhammad Rifki Anggana dan Silvia Febrianti Kriteria inklusi meliputi: . artikel yang membahas dampak media digital . adget, screen time, smartphone, atau platform digita. terhadap perkembangan bahasa anak usia 0Ae8 tahun. publikasi tahun 2021Ae2026. relevan dengan konteks Indonesia. berbahasa Indonesia atau Inggris. merupakan penelitian empiris atau kajian literatur ilmiah. Kriteria eksklusi mencakup publikasi non-ilmiah seperti buku, skripsi, tesis, dan disertasi, serta studi yang tidak secara spesifik membahas perkembangan bahasa anak usia dini. Strategi pencarian menggunakan kombinasi kata kunci dengan operator Boolean, yaitu: (Aumedia digitalAy OR gadget OR Auscreen timeAy OR smartphone OR YouTub. AND (Auperkembangan bahasaAy OR Aukemampuan berbahasaAy OR Aulanguage developmentA. AND (Auanak usia diniAy OR PAUD OR Auearly childhoodA. AND Indonesia. Variasi kata kunci digunakan untuk memperluas cakupan pencarian tanpa mengurangi relevansi hasil. Duplikasi artikel dihapus menggunakan perangkat manajemen referensi seperti Mendeley dan Zotero sebelum proses seleksi lanjutan. Penilaian kualitas artikel dilakukan menggunakan instrumen Critical Appraisal Skills Programme (CASP) yang disesuaikan dengan jenis penelitian. Setiap artikel dievaluasi berdasarkan kejelasan tujuan, kesesuaian desain metodologi, validitas data, serta keterbatasan studi. Hasil penilaian menunjukkan bahwa sebagian besar artikel berada pada kategori kualitas sedang hingga tinggi, yang kemudian digunakan sebagai dasar dalam mempertimbangkan kekuatan bukti pada tahap sintesis. Ekstraksi data dilakukan secara sistematis menggunakan tabel sintesis yang mencakup informasi penulis, tahun publikasi, jenis penelitian, karakteristik perkembangan bahasa. Proses ini dilakukan oleh dua peneliti secara independen untuk meningkatkan reliabilitas, dan perbedaan hasil diselesaikan melalui diskusi hingga mencapai konsensus. Muhammad Rifki Anggana dan Silvia Febrianti Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan sintesis tematik. Tahap awal berupa open coding untuk mengidentifikasi unit makna dari setiap temuan Selanjutnya, dilakukan kategorisasi dengan mengelompokkan kode ke dalam tema utama, yaitu dampak negatif, dampak positif, dan faktor moderator. Tahap berikutnya adalah pengembangan tema untuk membangun pola konseptual yang menjelaskan hubungan antara media digital dan perkembangan bahasa anak. Proses analisis dilakukan secara iteratif dan kolaboratif untuk menjaga objektivitas dan kedalaman interpretasi. Hasil sintesis disajikan dalam bentuk narasi tematik, tabel karakteristik studi, serta diagram PRISMA. Pendekatan ini memungkinkan identifikasi pola temuan yang konsisten, perbedaan hasil antar studi, serta kesenjangan penelitian yang relevan untuk pengembangan penelitian selanjutnya. Hasil Penelitian dan Pembahasan Sintesis literatur dalam penelitian ini melibatkan 12 artikel yang memenuhi kriteria inklusi berdasarkan protokol PRISMA 2020. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan sintesis tematik untuk mengidentifikasi pola dampak media digital terhadap perkembangan bahasa anak usia dini serta faktor-faktor yang memoderasinya. Secara umum, hasil menunjukkan adanya dualitas dampak media digital, yaitu sebagai faktor risiko sekaligus sebagai potensi stimulasi bahasa, bergantung pada konteks penggunaan. Tabel 1. Karakteristik dan Temuan Utama Studi yang Diinklusi Indikator Referensi Jenis Studi Temuan Utama Penting 47,7% Screen time berlebih Aprilia & Literature berkorelasi negatif Thaib . Review jam/hari Muhammad Rifki Anggana dan Silvia Febrianti Indikator Referensi Jenis Studi Temuan Utama Penting Konten agresif memicu bahasa Depalina et al. Literature Anak meniru agresif dan . Review bahasa kasar komunikasi sosial Konten edukatif Rohmah & Peningkatan kosakata dan struktur Kualitatif Aziz . Media digital Risiko tinggi Syahralivia et Studi meningkatkan risiko Literatur keterlambatan bahasa jika tanpa kontrol Media edukatif Welsa Agustin et al. Skor CLAMS Empiris . kemampuan bahasa Dampak positif Herwani & Surayya bergantung pada co- Tidak ada data viewing dan kualitas SLR Screen time Irzalinda & berdampak negatif SLR Latifah . Dominan negatif pada well-being dan Muhammad Rifki Anggana dan Silvia Febrianti Indikator Referensi Jenis Studi Temuan Utama Penting Priyoambodo Hubungan negatif Interaksi screen time dan langsung lebih Literature & Suminar Review Dampak campuran Safitri et al. Dipengaruhi pola Kualitatif ositif 40%, negatif Media digital Haura & Positif jika SLR meningkatkan literasi Pranoto . jika interaktif Screen media berlebih Permata et al. Literature Dampak negatif mengganggu bahasa Review dan konsentrasi Screen time Terkait Wirahno et al. SLR Dominasi Dampak Negatif: Perspektif Teori Media dan Pemerolehan Bahasa Sebagian besar studi menunjukkan bahwa paparan media digital yang berlebihan memiliki dampak negatif terhadap perkembangan bahasa anak usia Temuan ini dapat dijelaskan melalui perspektif media effects theory, yang menyatakan bahwa paparan media pasif dalam durasi tinggi dapat mengurangi kualitas interaksi sosial yang esensial bagi perkembangan kognitif dan bahasa. Anak yang terpapar screen time secara berlebihan cenderung menjadi penerima pasif informasi, sehingga menghambat proses internalisasi bahasa. Dari sudut pandang teori pemerolehan bahasa, khususnya pendekatan interaksionis, perkembangan bahasa sangat bergantung pada interaksi dua arah Muhammad Rifki Anggana dan Silvia Febrianti antara anak dan lingkungan sosial. Ketika interaksi ini digantikan oleh media digital, terjadi penurunan kesempatan praktik komunikasi, yang berdampak pada keterbatasan kosakata, gangguan fonologis, serta kesulitan dalam konstruksi Hal ini menjelaskan mengapa studi seperti Aprilia dan Thaib . serta Wirahno et al. menemukan hubungan kuat antara screen time tinggi dan keterlambatan bahasa. Potensi Positif: Perspektif Socio-Cultural Theory Meskipun dominasi dampak negatif cukup kuat, beberapa studi menunjukkan bahwa media digital juga dapat berfungsi sebagai alat stimulasi bahasa yang efektif. Dalam konteks ini, temuan dapat dijelaskan melalui sociocultural theory (Vygotsk. yang menekankan pentingnya peran interaksi sosial dan scaffolding dalam pembelajaran. Media digital yang digunakan secara interaktif dan disertai pendampingan orang tua . o-viewin. dapat berfungsi sebagai Aumediational toolsAy yang membantu anak memahami bahasa melalui konteks visual dan audio. Studi Welsa Agustin et al. menunjukkan peningkatan skor bahasa (CLAMS) ketika media digunakan secara terarah. Hal ini menegaskan efektivitasnya ditentukan oleh kualitas interaksi yang menyertainya. Faktor Moderator: Penentu Dualitas Dampak Sintesis temuan menunjukkan bahwa dampak media digital sangat dipengaruhi oleh faktor moderator, yaitu: . Durasi screen time, paparan >2 jam/hari berisiko tinggi, . Jenis konten, edukatif vs hiburan pasif, . Pola pengasuhan, co-viewing vs penggunaan mandiri. Dalam perspektif teoritis, faktor-faktor ini berfungsi sebagai variabel kontekstual yang menentukan apakah media digital memperkuat atau justru menghambat proses pemerolehan bahasa. Dengan demikian, dualitas dampak yang ditemukan bukanlah kontradiksi, melainkan konsekuensi dari variasi konteks penggunaan. Implikasi Kontekstual di Indonesia Muhammad Rifki Anggana dan Silvia Febrianti Dalam konteks Indonesia, dampak media digital menjadi lebih kompleks karena faktor budaya dan bahasa. Lingkungan multilingual serta dominasi konten digital berbahasa asing berpotensi memengaruhi perkembangan bahasa Indonesia pada anak. Selain itu, rendahnya literasi digital pada sebagian orang tua dan pendidik memperbesar risiko penggunaan media secara tidak terkontrol. Temuan ini menunjukkan pentingnya pengembangan konten digital berbasis kearifan lokal serta penguatan literasi digital sebagai bagian dari kebijakan pendidikan anak usia dini, khususnya dalam implementasi Kurikulum Merdeka PAUD. Dari hasil yang telah di paparkan diatas, penelitian ini memiliki beberapa Pertama, jumlah artikel yang disintesis relatif terbatas . , sehingga belum sepenuhnya merepresentasikan seluruh temuan global. Kedua, penggunaan database yang didominasi sumber nasional berpotensi menimbulkan Ketiga, keterbatasan dalam melakukan generalisasi temuan. Selain itu, minimnya studi longitudinal dalam konteks Indonesia juga membatasi pemahaman mengenai dampak jangka panjang media digital terhadap perkembangan bahasa anak. Berdasarkan sintesis temuan, diperlukan pendekatan berbasis bukti dalam pengelolaan media digital pada anak usia dini. Intervensi yang direkomendasikan meliputi pembatasan durasi screen time, peningkatan kualitas konten edukatif, serta penguatan praktik co-viewing oleh orang tua dan guru. Penelitian selanjutnya perlu mengembangkan desain longitudinal dan eksperimen intervensi, khususnya yang mengintegrasikan media digital dengan pendekatan berbasis budaya lokal seperti sastra tradisional Indonesia. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa media digital memiliki sifat dualistik terhadap perkembangan bahasa anak usia dini, di mana dampaknya sangat ditentukan oleh konteks penggunaan. Paparan yang berlebihan dan tidak terkontrol cenderung berdampak negatif, seperti keterlambatan bahasa. Muhammad Rifki Anggana dan Silvia Febrianti penurunan interaksi verbal, dan munculnya perilaku bahasa yang kurang adaptif. Sebaliknya, penggunaan yang terarah melalui konten edukatif berkualitas dan pendampingan aktif . o-viewin. dapat berkontribusi positif terhadap peningkatan kosakata, struktur bahasa, dan kemampuan komunikasi anak. Faktor moderator seperti durasi screen time, jenis konten, dan pola pengasuhan menjadi penentu utama arah dampak tersebut. Temuan ini menegaskan bahwa media digital bukanlah faktor risiko yang bersifat deterministik, melainkan alat yang efektivitasnya bergantung pada intervensi manusiawi. Oleh karena itu, diperlukan regulasi penggunaan media digital serta penguatan literasi digital bagi orang tua dan pendidik untuk mengoptimalkan perkembangan bahasa anak usia dini secara kontekstual dan berkelanjutan. Ucapan Terimakasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penelitian ini. Khususnya Bapak/Ibu dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Program Studi PG PAUD Universitas Mataram yang telah membimbing penulis secara teori dalam belajar menulis paper. Serta terakhir penulis mengucapkan terimakasih kepada para penulis terdahulu yang papernya kami analisis dan terimakasih kepada diri kami sendiri tealah mampu menyelesaikan penelitian SLR ini. Semoga paper ini bermanfaat bagi para pembaca dan peneliti. Daftar Pustaka