Halaman 108-128 NURSING INFORMATION JOURNAL Volume: 4. Nomor : 2, 2025 Original Research Article e-ISSN 2809-0152 DOI https://doi. org/10. 54832/nij. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN OKUPASI TERAPI BERBASIS KEWIRAUSAHAAN UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP, MOTIVASI DAN HARGA DIRI PADA PASIEN SKIZOFRENIA: PENDEKATAN KUALITATIF Siti Khadijah1. Endang Caturini Sulityowati2. Dwi Ariani Sulityowati3. Sarka Ade Susana4. Sutejo5 1,2,3 Jurusan Keperawatan. Poltekkes Kemenkes Surakarta. Indonesia Jurusan Keperawatan. Poltekkes Kemenkes Yogyakarta. Indonesia *Correspondence: Siti Khadijah Email: khadije1704@gmail. ABSTRAK Pendahuluan: Skizofrenia adalah gangguan mental berdampak signifikan pada kualitas hidup pasien. Salah satu intervensi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup, motivasi dan harga diri pasien adalah melalui okupasi terapi berbasis kewirausahaan . Okupasi terapi bertujuan untuk membantu pasien mengembangkan kemampuan fungsional, sosial, dan kognitif sehingga dapat hidup mandiri di masyarakat. Pendekatan kewirausahaan dalam okupasi terapi dapat memberikan peluang bagi pasien untuk memulai usaha dan mencapai kemandirian ekonomi, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup, motivasi dan harga diri mereka. Tujuan penelitian mengidentifikasi kebutuhan okupasi terapi berbasis kewirausahaan yang dapat meningkatkan kualitas hidup, motivasi, dan harga diri pasien Skizofrenia. Metode: Kualitatif deskriptif. Teknik sampling menggunakan purposive sampling, kriteria inklusi dengan pasien skizofrenia, usia produktif. Pasien rehabilitasi. Mampu berkomunikasi dan kooperatif. Sampel 8 pasien skizofrenia, 8 keluarga, dan 6 tenaga Kesehatan. Pengumpulan data menggunakan wawancara semi terstruktur dengan Focus Group Discussion. Analisis deskripsi makna tema Hasil: pertama tema pasien meliputi persepsi, minat, pengalaman, tantangan, dan solusi dari kendala yang ditemukan, kedua tema keluarga meliputi dukungan keluarga, dukungan dari luar, peran, keterlibatan pengambilan keputusan, komunikasi, dampak, tantangan, strategi, harapan dan rencana, ketiga Tema tenaga kesehatan meliputi adanya proses rekruitmen, menggali potensi, kelayakan terapi. Pemasaran, monitoring dan evaluasi. Kesimpulan: Kebutuhan Okupasi terapi berbasis kewirausahaan dalam meningkatkan kualitas hidup, motivasi, dan harga diri menunjukkan pentingnya persepsi positif baik dari diri sendiri, orang lain, dukungan keluarga, minat, dan optimism pasien, serta keterlibatan tenaga Kesehatan dalam perekrutan, menggali potensi dan evaluasi terapi. Rekomendasi untuk keberlanjutan perlu ada pelatihan dan lembar monitoring dan evaluasi pengelolaan Kata Kunci: Kebutuhan Okupasi Terapi. Kewirausahaan. Skizofrenia. Keluarga. Tenaga Kesehatan ABSTRACT Introduction: Schizophrenia is a mental disorder that has a significant impact on the patient's quality of life. One of the interventions that can be done to improve the quality of life, motivation and self-esteem of patients is through entrepreneurship-based occupational NURSING INFORMATION JOURNAL | VOL. Maret 2025 | 108 Halaman 108-128 NURSING INFORMATION JOURNAL Volume: 4. Nomor : 2, 2025 Original Research Article e-ISSN 2809-0152 DOI https://doi. org/10. 54832/nij. Occupational therapy aims to help patients develop functional, social, and cognitive abilities live independently in society. An entrepreneurial approach in occupational therapy can provide opportunities for patients to start a business and achieve economic independence, thereby improving their quality of life, motivation and self-esteem. Research objectives identify the need for occupational entrepreneurship-based therapy that can improve the quality of life, motivation, and self-esteem of Schizophrenia patients. Method: Qualitative descriptive. The sampling technique uses purposive sampling, inclusion criteria with schizophrenia patients, productive age, rehabilitation patients, able to communicate and cooperative. The sample was 8 schizophrenia patients, 8 families, and 6 health workers. Data collection used semi-structured interviews with Focus Group Discussion. Analyze the description of the meaning of the theme. Results: first, the patient's theme includes perceptions, interests, experiences, challenges, and solutions to the obstacles found, second, the family theme includes family support, outside support, roles, decision-making involvement, communication, impact, challenges, strategies, expectations and plans, and third, the theme of health workers includes the recruitment process, exploring potential, feasibility of therapy, marketing, monitoring and Conclusion: The need for entrepreneurship-based occupational therapy in improving quality of life, motivation, and self-esteem shows the importance of positive perceptions both from oneself and others, family support, interests, and optimism of patients, as well as the involvement of health workers in recruiting, exploring potential, and evaluating therapy. Recommendations for sustainability must include training and financial management monitoring and evaluation sheets. Keywords: Occupational Therapy Needs. Entrepreneurship. Schizophrenia. Family. Health Workers. PENDAHULUAN Skizofrenia termasuk jenis psikosis yang menempati urutan atas dari seluruh gangguan jiwa yang ada. Skizofrenia diseluruh dunia menjadi masalah serius. Skizofrenia dapat mempengaruhi kualitas hidup dan fungsi social penderitanya karena distorfi kognitif dengan memperburuk emosi, pikiran, dan perilakunya (Mardiah. Rahmawati. Aliim, , & Humaedi, 2. Adapun data WHO, didunia saat ini 21 juta yang terkena Berbagai factor biologis, psikologis, dan social jumlah kasus gangguan jiwa terus bertambah yang berdampak pada penambahan beban negara dan penurunan produktivitas manusia untuk jangka Panjang (Afconneri & Puspita, 2. Menurut data Kemenkes RI, . , didapatkan prevalensi bahwa 7 dari 1000 rumah tangga terdapat anggota keluarga dengan skizofrenia dan data di Jawa Tengah prevalensi skizofrenia sebesar 8,7 per 1000 rumah tangga dan yang paling tinggi berada di provinsi Bali sebesar 11,1 per 1000 rumah tangga menderita skizofrenia (Kemenkes RI, 2. Berdasarkan data gangguan jiwa di Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Arif Zainudin Surakarta selama 3 tahun terakhir yaitu tahun 2021 terdapat 1798, tahun 2022 terdapat 2246 dan pada tahun 2023 terdapat 1812 penderita (RSJD dr Arif Zainudin Surakarta, 2. Singh et al. , . , menjelaskan hasil penelitiannya tentang Studi menunjukkan bahwa orang yang menderita skizofrenia memiliki kemampuan pemeliharaan yang buruk, kebersihan pribadi mereka, kehilangan minat dalam bertemu orang-orang yang pada waktu sakit, hasil dalam keterampilan komunikasi yang buruk . aik defisit keterampilan ). Skor juga menunjukkan bahwa mereka kehilangan keterampilan kerja mereka sejak mengidap penyakit skizofrenia. Perawatan rawat inap dan hilangnya produktivitas akibat tingginya pengangguran masing-masing mewakili 33% dan 29% dari total biaya (Evensen et al. Penatalaksanaan pada skizofrenia ada banyak hal. Terapi Elektro NURSING INFORMATION JOURNAL | VOL. Maret 2025 | 109 NURSING INFORMATION JOURNAL Volume: 4. Nomor : 2, 2025 Original Research Article e-ISSN 2809-0152 DOI https://doi. org/10. 54832/nij. Halaman 108-128 Konvulsi (TEK). Psikoterapi dan Rehabilitasi yang didalamnya terdapat terapi okupasi (Singh. Singh. , 2. Berdasarkan riset Ercan Dou et al. , . , menjelaskan terjadinya peningkatan yang lebih besar dalam skor kinerja atau kepuasan pada kelompok rehabilitasi psikososial yaitu kombinasi holistic terapi okupasi dan pelatihan ketrampilan social pada orang dengan skizofrenia dapat meningkatkan fungsionalitas dan partisipasi social mereka. Hasil sistematik review ditemukan sebagian besar literatur menyatakan ada efek signifikan dari terapi okupasi terapi pada tingkat fungsi, kesejahteraan atau kualitas hidup pasien skizofrenia (Anggraini. Wahyudi. Intan Larasati. , & Yusuf, 2. Studi lain menemukan model okupasi terapi self efikasi merupakan model yang berguna untuk memfasilitasi kembalinya individu yang hidup dengan skizofrenia ke dunia kerja (Soeker et al. , 2. Penelitian program terapi okupasi berbasis kewirausahaan berdampak pada kualitas hidup, motivasi, dan self esteem masih minim dan belum ada riset tentang kebutuhan okupasi terapi kewirausahaan sehingga peneliti tertarik meneliti mengidentifikasi kebutuhan okupasi terapi berbasis kewirausahaan. Tujuan penelitian ini: untuk mengidentifikasi kebutuhan okupasi terapi berbasis kewirausahaan pada pasien, keluarga dan tenaga kesehatan. METODE Penelitian ini menggunakan desain kualitatif deskriptif. Sampel dengan purposive sampling dengan kriteria inklusi pasien skizofrenia. Pasien Rehabilitasi, usia Produktif menurut WHO 15-54 tahun, mampu berkomunikasi dengan baik dan kooperatif. Sampel 8 orang pasien, 8 orang keluarga pasien, dan 6 orang tenaga Kesehatan Pengumpulan data dilakukan menggunakan wawancara semi terstruktur dengan Fokus Group Discussion (FGD) pada pasien, keluarga, dan tenaga Kesehatan meliputi perawat, terapi okupasi, dan psikolog dengan waktu yang berbeda agar pasien, keluarga menceritakan dengan lebih leluasa, setelah terkumpul data dari pasien dan keluarga, peneliti melakukan FGD pada tenaga Kesehatan. Alat yang disiapkan kertas, alat tulis dan kuesioner semi terstruktur. Analisis dokumen dilakukan secara sistematis untuk mengidentifikasi tema-tema utama terkait kebutuhan okupasi terapi berbasis kewirausahaan. Pendekatan fenomenologi deskriptif mengungkapkan arti dan makna pengalaman hidup manusia berdasarkan perspektif partisipan (Sugiyono, 2. , sehingga mendiskripsikan tema yang ditemukan. Penelitian ini telah melakukan Uji Ethical Clearance di komite etik RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada 19 Maret 2024 dengan nomer sertifikat 741 / i / HERC 2024. HASIL Tabel 1. Karakteristik Responden Kode Partisipan Jenis Kelamin Laki-laki Laki-laki Perempuan Laki-laki Laki-laki Laki-laki Perempuan Perempuan Usia Berdasarkan table 1 Karakteristik jenis kelamin pasien 5 orang laki-laki, dan 3 orang perempuan, dengan rentang usia 22 sampai 44, terbanyak terjadi pada usia kategori dewasa muda yaitu 22- 40 tahun. NURSING INFORMATION JOURNAL | VOL. Maret 2025 | 110 NURSING INFORMATION JOURNAL Volume: 4. Nomor : 2, 2025 Original Research Article e-ISSN 2809-0152 DOI https://doi. org/10. 54832/nij. Halaman 108-128 Tema yang dihasilkan dari Pasien Skizofrenia: Persepsi pada penyakitnya dan persepsi pada terapi okupasi kewirausahaan Tabel 2. Tema persepsi pada penyakitnya dan persepsi pada terapi okupasi Tema Persepsi terhadap penyakit dan terapi Subtema Persepsi terhadap Persepsi terhadap terapi okupasi Kategori Pemahaman pasien tentang Pemahaman pasien tentang dampak penyakit pada aktivitas sehari-hari Pemahaman tentang proses Pemahaman tentang tantangan menghadapi penyakit Persepsi pasien tentang pandangan orang lain Meningkatkan semangat Menambah kreatif Mental menjadi baik dan halusinasi berkurang Memiliki pekerjaan Kemandirian finansial Berdasarkan table 2 hasil wawancara persepsi pada penyakitnya. Pasien mengatakan Ausaya mengetahui penyakit saya, walaupun awalnya saya sulit untuk menerima sakit saya dan sekarang saya tahu bahwa skizofrenia adalah bagian dari hidup saya, dan saya harus belajar menghadapinyaAy Au Saya khawatir akan pandangan orang lain terhadap saya, terkadang saya tidak nyaman dengan cara orang-orang memperlakukan saya setelah mengetahui kondisi saya, saya merasa seperti mereka menjauhkan diri padahal saya juga ingin diterima oleh merekaAy. Au Kesembuhan sakit saya ini membutuhkan proses panjang dan penuh tantangan, terkadang saya merasa frutasi tetapi saya tahu bahwa saya harus terus berusahaAy. AuPenyakit ini mempengaruhi aktivitas sehari-hari saya, dan pekerjaan, yang tidak bisa bekerja di kantoran atau Persepsi pada terapi okupasi kewirausahaan. Pasien mengatakan Ausaya merasa terapi ini membuat saya lebih semangat dan bisa lebih kreatif, dulu saya merasa malas dan bingung apa yang mau dilakukan, dan dulu sering berhalusinasi tetapi sekarang menjadi halusinasi tidak muncul lagi, dengan terapi ini saya menjadi memiliki pekerjaan dan mempunyai penghasilan sendiri, memiliki uang sendiri, mandiri dan bisa membantu orang tua. Minat pada terapi, pengalaman mengikuti kewirausahaan, dan tantangan, kendala dalam kewirausahaan Tabel 3. Tema minat pada terapi, pengalaman mengikuti kewirausahaan, dan tantangan, kendala dalam kewirausahaan Tema Minat dan pengalaman dalam Subtema Semangat meski memiliki keterbatasan fisik dan Minat dan motivasi dalam Kategori Fisik yang mudah lelah Mental dalam mengelola stress dan emosi Memiliki minat untuk berwirausaha sesuai Motivasi untuk mandiri dan berpenghasilan NURSING INFORMATION JOURNAL | VOL. Maret 2025 | 111 NURSING INFORMATION JOURNAL Volume: 4. Nomor : 2, 2025 Original Research Article e-ISSN 2809-0152 DOI https://doi. org/10. 54832/nij. Halaman 108-128 Pengalaman berwirausaha secara mandiri dan bersama pihak lain Kepuasan dalam Tantangan dan kendala dalam berwirausaha Mampu menjalankan wirausaha baik mandiri maupun bersama pihak lain Memiliki penghasilan sendiri Sangat senang karena memiliki Bisa membeli hal-hal yang diinginkan Merasa nyaman dan menikmati Merasa lebih berguna Kendala modal yang kurang Tubuh yang mudah capek dan mengantuk Kesulitan menyiapkan pesanan tepat waktu Jualan masih dibantu keluarga Tantangan harus keliling mencari pembeli Menghadapi pesaing dalam bisnis Berdasarkan table 3 hasil wawancara minat pada terapi Pasien mengatakan Ausaya memiliki minat dan semangat dalam berwirausaha, meski kadang merasa putus asa dengan kondisi fisik dan keterbatasan saya. Terapi ini membuat saya merasa lebih semangat karena masih bisa melakukan sesuatu yang berguna dan menghasilkan uangAy. Pengalaman mengikuti kewirausahaan. Pasien mengatakan Ausaya sudah punya pengalaman berwirausaha, baik ikut dengan orang lain maupun mandiri, saya sangat senang karena sekarang saya bisa memiliki penghasilan, dan itu bisa membuat saya bisa untuk membeli hal-hal yang saya inginkan. Saya merasa nyaman dan menikmati setiap kegiatan kewirausahaan, rasanya seperti menemukan hal yang membuat saya merasa lebih bergunaAy. Tantangan dan Kendala dalam kewirausahaan. Pasien mengatakan Ausaya menghadapi beberap kendala seperti modal yang kurang, tubuh saya yang mudah Lelah dan mengantuk, dan kalau jualan tidak laku saya harus keliling untuk mencari pembeli, jualan yang segar seperti kue basah dan lain-lain mudah basi, terkadang kesulitan dalam menyiapkan pesanan tepat waktu, selain itu juga harus menghadapi pesaing dalam bisnis, dan untuk saat ini saya belum bisa berjualan mandiri masih dibantu keluarga dalam menjalankannyaAy. Perasaan dalam pencapaian tujuan. Kesejahteraan emosional dan kemampuan dalam mengelola stress. Tabel 4. Perasaan dalam pencapaian tujuan, kesejahteraan emosional dan kemampuan dalam mengelola stress Tema Perasaan dalam pencapaian tujuan. Kesejahteraan Subtema Merasa senang dalam pencapaian tujuan Kesejahteraan Kategori Memiliki penghasilan sendiri. Bisa mengurangi beban keluarga . rang tu. Bangga bisa membantu keuangan Termotivasi untuk segera menikah Memiliki kesibukan yang bernilai Lebih bahagia Lebih percaya diri Lebih berarti, dan bermanfaat Lebih tenang , tidak mudah emosi Mampu mengontrol diri Halusinasi tidak muncul lagi Hidup lebih berkualitas NURSING INFORMATION JOURNAL | VOL. Maret 2025 | 112 NURSING INFORMATION JOURNAL Volume: 4. Nomor : 2, 2025 Original Research Article e-ISSN 2809-0152 DOI https://doi. org/10. 54832/nij. Halaman 108-128 Lebih berhasil daripada Berani bergaul dengan orang lain Meningkatkan motivasi dalam Kehidupan menjadi lebih baik Memiliki perasaan positif pada Tuhan Mampu mengontrol stres Berani konsultasi ke RSJ sendiri Mampu minum obat tanpa Berdasarkan table 4 hasil wawancara Perasaan dalam pencapaian tujuan. Pasien mengatakan Ausaya merasa senang karena bisa mengurangi beban orang tua, dan mulai mandiri, saya termotivasi untuk segera menikah agar bisa lebih mandiri. Kehidupan saya semakin baik, karena saya merasa lebih Bahagia, lebih percaya diri, dan lebih berarti dalam memenuhi kehidupan sehari-hari saya, hidup lebih berkualitas, hal ini juga meningkatkan motivasi saya. Saya juga merasa lebih tenang karena tidak lagi berhalusinasi. Saya rmerasa telah berhasil dari pada sebelumnya, merasa bangga saya bisa membantu keuangan keluarga serta lebih percaya diri berani dalam bergaul dengan orang lain, semakin meningkatkan taqwa saya. dan jika ada kekecewaan atau tidak sesuai harapan dalam berwirausaha tetap berusaha selagi ada waktu . etap menawarkan juala. Kesejahteraan emosional dan kemampuan dalam mengelola stress. Pasien mengatakan AuSaya merasakan motivasi yang baru. Motivasi itu seperti untuk bisa hidup mandiri, karena kegiatan ini membuat saya percaya diri, bermanfaat untuk saya dan keluarga, dan juga saya merasa lebih berharga dalam diri sendiri, keluarga saya, dan masyarakat sekitar saya. Selain itu saya juga merasakan perasaan positif kepada Tuhan, saya menjadi lebih percaya diri untuk berinteraksi dengan teman-teman, dan saya menjadi lebih bersyukur. Kegiatan ini bagi saya juga mampu mengontrol stress saya, karena ide/keinginan saya dalam berjualan dapat tersalurkan, saya menjadi punya kesibukan, saya tidak mudah emosi, saya mampu mengontrol diri, dan saya juga sudah berani konsultasi ke RSJ sendiri dan minum obat tanpa perlu diingatkanAy Kemanfaatan dan harapan Tabel 5. Tema kemanfaatan dan harapan Tema Kemanfaatan dan Subtema Kemanfaatan Harapan Kategori Sangat bermanfaat memiliki penghasilan Mampu berhitung Menambah pengalaman berjualan Menambah semangat dan percaya diri Keuangan keluarga terbantu Memperlancar berinteraksi dengan orang lain Kegiatan berwirausahan tetap berlanjut Bisa diikuti oleh banyak orang Memiliki tempat jualan mandiri Terapi berjalan terus dan semakin kreatif Berdasarkan table 5 hasil wawancara Kemanfaatan. Pasien mengatakan Ausaya merasakan kegiatan ini sangat bermanfaat bagi saya, karena saya jadi punya penghasilan dengan waktu kerja nya yang bebas tanpa ada tuntutan. Kegiatan ini juga NURSING INFORMATION JOURNAL | VOL. Maret 2025 | 113 NURSING INFORMATION JOURNAL Volume: 4. Nomor : 2, 2025 Original Research Article e-ISSN 2809-0152 DOI https://doi. org/10. 54832/nij. Halaman 108-128 membuat saya mampu berhitung dengan lancar, menambah pengalaman saya dalam berjualan, memperlancar berinteraksi dengan orang lain, menambah semangat dan percaya diri saya, dan keuangan saya juga keluarga terbantuAy Harapan. Pasien mengatakan AuSaya berharap kegiatan seperti ini itu makin banyak diikuti orang-orang dan semoga semakin meriah, saya juga berharap adanya tempat berjualan mandiri dan terapi ini semoga berjalan terus dan semakin kreatif kegiatan dan jualannya. Ay Tingkat kepuasan Tabel 6. Tema tingkat kepuasan Tema Tingkat kepuasan Subtema Sangat puas Kadang kurang puas Kategori Mendapat bantuan bahan berwirausaha Mendapat bantuan modal awal Mendapat dukungan keluarga Jika mengalami kekurangan modal untuk membeli Pesanan yang datang belum sesuai yang diinginkan Keuntungan yang dihasilkan kadang sedikit Berdasarkan table 6 hasil wawancara Pasien mengatakan Ausaya merasa sangat puas dengan kegiatan ini. Saya mendapat bantuan bahan-bahan dan modal awal sehingga bisa berjualan dan menghasilkan uang. Pada saat datang, saya juga sudah disediakan tempat saat berjualan. Saya juga mendapat dukungan dari keluarga dalam Namun terkadang saya merasa kurang puas karena kekurangan modal untuk membeli bahan, pesanan yang datang tidak sesuai yang saya inginkan, dan juga keuntungan yang saya hasilkan tidak selalu sama, kadang sedikit dan kadang juga banyakAy Tema yang dihasilkan dari keluarga pasien Dukungan keluarga dan dukungan luar Tabel 7. Tema dukungan keluarga dan dukungan luar Tema Dukungan keluarga dan dukungan luar Subtema Dukungan keluarga Dukungan Luar yang diperoleh Kategori Keluarga selalu memberi Selalu menemani setiap Membantu pasien berjualan Membantu membelikan barang yang akan dijual Membantu pasien menyiapkan Organisasi keagamaan Berdasarkan table 7 hasil wawancara Dukungan keluarga. Keluarga pasien mengatakan Aukami selalu memberikan dukungan kepada pasien, dengan cara menemani setiap prosesnya dari meluangkan waktu untuk membantu pasien berjualan dan membantu membelikan barang yang akan dijual. Sebelum berjualan kami juga membantu pasien menyiapkan dagangannya. Dengan bantuan yang kami berikan, pasien menjadi lebih bersemangat karena adanya support dari keluarga. Kami merasa dukungan kami ini membuat pasien semangat dan berhasil, karena jualan ini keluarga kami sendiri yang buat, dan tidak lupa kami selalu meberikan motivasi. Terapi JUMINTEN ini karena menurut kami sangat bermanfaatAy NURSING INFORMATION JOURNAL | VOL. Maret 2025 | 114 NURSING INFORMATION JOURNAL Volume: 4. Nomor : 2, 2025 Original Research Article e-ISSN 2809-0152 DOI https://doi. org/10. 54832/nij. Halaman 108-128 Dukungan luar. Keluarga mengatakan Aukami dan pasien tidak memiliki dukungan dari orang-orang luar atau organisasi luar. kami tidak tahu untuk mendapat bantuan dari organisasi luar itu bagaimana caranya, kami juga belum pernah mendengar dan tidak tahu cara mendapat informasi bantuan. Selama ini kami dan pasien berjualan dengan uang dan bahan dari milik kami sendiri. kami dan pasien berorganisasi luar hanya ikut dalam kegiatan rohani/keagaaman dan dukungan pasien selama ini untuk tetap semangat berjualan dan sembuh dari sakit dari motivasi di organisasi tersebutAy Peran Keluarga dan terlibat dalam pengambilan keputusan Tabel 8. Tema peran keluarga dan terlibat dalam pengambilan keputusan Tema Peran keluarga dan terlibat dalam Subtema Peran keluarga Pengambilan keputusan Kategori Keluarga meluangkan waktu untuk ikut Membantu memberikan modal Membantu membelikan bahan jualan Membantu proses mengolah bahan jualan Membantu mengantar dan menjemput pasien saat jualan Memberikan motivasi untuk tidak pantang Membantu pasien dalam mengambil Keluarga ikut terlibat mengambil keputusan dengan memberi masukan pada pasien Berdasarkan table 8 hasil wawancara peran Keluarga. Keluarga mengatakan Aukami membantu dalam meluangkan waktu untuk ikut berjualan, membantu memberikan modal, dan membelikan bahan jualan. kami membantu pasien menghantarkanya saat jualan dan nanti saat kegiatan telah selesai kami menjemputnya. Kami juga selalu memberikan motivasi pada pasien untuk tidak pantang menyerah jika terdapat kegagalan, kami mampu membantu pasien dalam membelikan bahan dan Kemudian pasien hanya tinggal menjual dagangannya ke pasar sendiri. Ay Terlibat dalam pengambilan keputusan. Keluarga mengatakan AuPada saat pasien mengambil keputusan, kami ikut terlibat dengan memberikan sedikit masukan mengenai keputusannya, contohnya keputusan seperti apakah kegiatan ini sudah sesuai yang diinginkan pasien dan seperti diawal dahulu mengenai produk apa yang akan dijual Kami memberikan masukan agar produk yang dijual sesuai dengan kemampuan/keahlian pasienAy Komunikasi dalam keluarga Tabel 9. Tema komunikasi dalam keluarga Tema Komunikasi dalam keluarga Subtema Selalu diskusi dan Komunikasi dengan Bahasa yang halus Kategori Pasien bisa bercerita Pasein tidak menutupi perasaan Pasien mengungkapkan keluh kesahnya Tidak menyakiti perasaan pasien Pasien bisa lebih tenang Komunikasi yang membuat lebih dekat dan baik Berdasarkan table 9 hasil wawancara Keluarga mengatakan Aukami dan pasien saat berdiskusi selalu terbuka dan tanpa menutupi perasaan. Saat kami berbicara NURSING INFORMATION JOURNAL | VOL. Maret 2025 | 115 NURSING INFORMATION JOURNAL Volume: 4. Nomor : 2, 2025 Original Research Article e-ISSN 2809-0152 DOI https://doi. org/10. 54832/nij. Halaman 108-128 dengan pasien, kami harus menggunakan bahasa yang halus dan tetap tenang agar tidak menyakiti perasaanya dan membuat tambah pikirannya. Komunikasi yang kami terapkan tersebut mampu membuat hubungan kami dan pasien lebih dekat dan baik, karena pasien jadi lebih sering mengungkapkan keluh kesahnya dan apa yang diinginkan daripada sebelumnya. Tantangan dan strategi Tabel 10. Tema tantangan dan strategi Tema Tantangan dan strategi Subtema Tantangan Strategi Kategori Modal usaha Berupaya Jualan bahan makanan terjual habis agar tidak basi dan busuk . eminimalkan rug. Kesulitan dalam komunikasi pasien untuk menawarkan jualannya Keluarga selalu memulai berbicara dari topik bicara yang disukai Memberi dukungan Keluarga selalu bekerja sama tetap antusias saat diskusi dengan Selalu memberi motivasi untuk melangkah maju Pasien tidak memendam sendiri dengan selalu bercerita pada Harus sabra dan tetap berkata baik Aktif mencari pelatihan untyuk pasien Berdasarkan table 10 hasil wawancara tantangan. Keluarga mengatakan Autantangan yang kami rasakan yaitu dari modal usaha, kami menjual buah fresh sehingga terdapat banyak resiko. Ketika buah yang kami jual tidak laku/tidak habis terjual, maka terdapat kerugian dari situ. Terdapat juga kesulitan dalam komunikasi pasien saat menawarkan jualannya, sehingga kami harus siap membantu pasien dalam menawarkan dan menjelaskan mengenai produk dan harga jualan kamiAy. Strategi. Keluarga mengatakan Aukami menerapkan strategi dengan selalu memulai mengajak berbicara, topik bicara yang saya pilih saya sesuaikan dengan kesenangan pasien sehingga saya mampu menyampaikan dukungan saya. Saya dan keluarga berkerjasama tetap antusias saat berdiskusi agar pasien tetap semangat, selalu memberikan motivasi untuk melangkah maju dengan menghadapi masalah bersama dan tidak memendam sendiri. Saya selalu sabar dan tetap berkata baik, saya berusaha aktif mencari pelatihan untuk pasien baik dari handphone atau secara langsung, saya juga membantu pasien berkeliling bangsal saat jualan tidak lakuAy Dampak ekonomi dan kesejahteraan psikologis keluarga Tabel 11. Tema dampak ekonomi dan kesejahteraan psikologis keluarga Tema Dampak terapi Subtema Ekonomi Kesejahteraan psikologis keluarga Kategori Memberi dampak positif keuangan keluarga Membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari Mempunyai tabungan masa depan pasien Hubungan keluarga menjadi lebih erat Pasien menjadi lebih peduli dengan anggota keluarga Meningkatkan kualitas hidup karena pasien puas dan menjadi mandiri Pasien menjadi tidak minder / malu dengan kondisinya Lebih percaya diri Meningkatkan motivasi pasien NURSING INFORMATION JOURNAL | VOL. Maret 2025 | 116 NURSING INFORMATION JOURNAL Volume: 4. Nomor : 2, 2025 Original Research Article e-ISSN 2809-0152 DOI https://doi. org/10. 54832/nij. Halaman 108-128 Berdasarkan table 11 hasil wawancara dampak ekonomi. Keluarga mengatakan Aukami merasakan terapi ini memberikan dampak positif pada keuangan keluarga kami karena menambah pemasukan, keuntungan kami gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan juga tabungan masa depan untuk pasienAy Kesejahteraan psikologis keluarga. Keluarga mengatakan AuKami merasakan bahwa kegiatan ini membuat hubungan kami dan pasien menjadi lebih erat, bisa dilihat dari perkembangan pasien yang menjadi lebih peduli dengan anggota keluarga kami. Pasien mampu memiliki rasa prihatin dengan bertanya kondisi orang lain. Menurut saya, terapi ini berpengaruh pada kesejahteraan dan kualitas hidup karena mampu menambah penghasilan, mampu membuat pasien merasa puas, dan menjadi mandiri. Saya dan pasien merasa tidak minder, percaya diri, dan termotivasi bahwa riwayat penyakit pasien bukan menjadi penghalang kesuksesanAy. Harapan, dan Rencana keluarga Tabel 12. Tema harapan dan rencana keluarga Tema Harapan dan rencana Subtema Harapan Rencana keluarga Kategori Pasien menjadi mandiri Mempunyai penghasilan mandiri Kegiatan ini sering diadakan Kegiatan ini bisa menjadi lebih besar berkembang maju Kegiatan ini diberi fasilitas memadai Pasien bisa lebih focus menata masa depan Terdapat edukasi/penyuluhan No stigma di masyarakat kepada pasien Tetap mendukung kegiatan ini Membuatkan usaha untuk pasien dan menetap Berusaha mencarikan / memberikan modal pada pasein Berdasarkan table 12 hasil wawancara Keluarga mengatakan Aukami berharap kegiatan ini dapat membantu pasien menjadi mandiri dan mempunyai penghasilan mandiri melalui berjualan, terlebih berjualan di UMKM RSJD. Saya harap kegiatan ini lebih sering diadakan, saya juga akan terus mendukung pasien untuk melanjutkannya. Semoga kegiatan ini menjadi besar dan fasilitas yang diberikan memadai. Saya berharap pasien mampu lebih fokus menata masa depan dengan kegiatan ini. Saya berharap terdapat penyuluhan di daerah kami agar tidak memunculkan fikiran negatif dari warga terhadap keluarga kami terutama kepada pasien yang memiliki gangguan Rencana keluarga. Keluarga mengatakan Aukami kedepannya tetap mendukung pasien hingga pasien mampu mandiri dan sampai menikah, dukungan akan kami berikan semaksimal/sebisa mungkin. Kami berencana membuatkan pasien usaha untuk dirinya sendiri dan menetap, kami akan selalu mengusahakan modal untuk mendukung pasienAy Tema tenaga kesehatan Menggali potensi pasien, rekruitmen pasien dan pertimbangan kelayakan terapi Tabel 13. Menggali potensi, rekruitmen pasien dan pertimbangan kelayakan terapi Tema Menggali potensi pasien, rekruitmen pasien dan pertimbangan kelayakan Subtema Menggali potensi Menggali kemampuan Rekruitmen dan pertimbangan kelayakan Kategori Dilakukan skrining bakat minat Apakah pasien mampu melakukan Pertimbangan utama belum ada Pertimbangan yang sudah berjalan secara kognitif NURSING INFORMATION JOURNAL | VOL. Maret 2025 | 117 Halaman 108-128 NURSING INFORMATION JOURNAL Volume: 4. Nomor : 2, 2025 Original Research Article e-ISSN 2809-0152 DOI https://doi. org/10. 54832/nij. Pertimbangan penyakit dengan penilaian skrining format rehabilitasi Kestabilan emosi pasein Jarak rumah ke RSJ Dukungan keluarga Berdasarkan table 13 hasil wawancara Menggali Potensi Pasien. Tenaga kesehatan mengatakan AuTerapi ini mampu menggali potensi pasien dengan tahapan skrining potensi, dengan melihat bakat-minat dan menggali kemampuan apakah pasien mampu/dapat melakukannyaAy. Rekruitmen pasien dan Pertimbangan kelayakan terapi. Tenaga kesehatan mengatakan AuDari kami mengenai pertimbangan utama belum ada, untuk sementara hanya berupa kognitif dan pertimbangan penyakit pasien menggunakan penilaian skrining dan terdapat format di Rehabilitasi khusus sesuai terapi. Kami melihat kestabilan emosi pasien. Jarak rumah mereka terjangkau atau tidak, dan dukungan keluarga mereka menjadi dasar kelayakan terapi iniAy. Pemecahan masalah Tabel 14. Tema pemecahan masalah Tema Pemecahan masalah Subtema Modal berwirausaha berupa Masalah Kesehatan mental Kategori Adanya bantuan dari Lembaga Zakat (Unit Pengelola Zaka. dana dari institusi RSJ Adanya bantuan melalui program BPR Berkah (Bantuan Peduli Rehabilitan Untuk Berkarya Mandiri dan Amana. yang merupakan dana dari BAZNAS Provinsi Jateng Adanya bantuan baksos dari Ada waktu konsultasi setelah selesai terapi kewirausahaan Difasilitasi konsultasi via Berdasarkan table 14 hasil wawancara Tenaga kesehatan mengatakan AuKami, memfasilitasi berbagai cara mengenai pemecahan masalah. Untuk keterbatasan modal, kami memberikan fasilitas dengan adanya bantuan dari Lembaga Zakat (Unit Pengelola Zaka. dana dari institusi RSJ, pasien bisa mengajukan permohonan peralatan wirausaha sesuai dengan minat dan bakat. Kedua, dengan adanya bantuan melalui program BPR Berkah (Bantuan Peduli Rehabilitan Untuk Berkarya Mandiri dan Amana. yang merupakan dana dari BAZNAS Provinsi Jateng. Alokasi dana tersebut tidak berupa uang tetapi sarana prasarana berupa alat agar bisa digunakan seterusnya, karena jika berupa uang maka sifatnya dapat langsung habis. Ketiga, terdapat baksos dari binrohis dan bukan dari zakat, setahun 2 kali dilakukan di desa dampingan. Setiap UPD daerah punya Desa Dampingan dan untuk keluhan permasalahan medis akan ditangani langsung oleh kami tenaga medisAy. Aukami juga memfasilitasi pemecahan masalah dari aspek Kesehatan mental, setaip selesai terapi okupasi wirausaha pasien dan keluarga diberi kesempatan untuk konsultasi Kesehatan mental, dan juga memfasilitasi konsultasi via whatsapp. NURSING INFORMATION JOURNAL | VOL. Maret 2025 | 118 NURSING INFORMATION JOURNAL Volume: 4. Nomor : 2, 2025 Original Research Article e-ISSN 2809-0152 DOI https://doi. org/10. 54832/nij. Halaman 108-128 Pengelolaan hasil penjualan, monitoring dan evaluasi Tabel 15. Tema pengelolaan hasil penjualan, monitoring dan evaluasi Tema Pengelolaan hasil penjualan. Monitoring dan Subtema Keuntungan dari hasil terapi diberikan seluruhnya pada Belum maksimal melakukan monitoring dan evaluasi keuangan dan laba Kategori Pengelolaan keuangan diserahkan pada keluarga Monitoring baru sebatas produl yang laku berapa Setiap seleai terapi berwirausaha pasien dan keluarga dikumpulkan dilakukan evaluasi Berdasarkan table 15 hasil wawancara Pengelolaan hasil penjualan. Tenaga kesehatan mengatakan AuUntuk keuntungan dan hasil dari terapi berkarya yang kami berikan ini seluruhnya diberikan kepada pasienAy. Monitoring dan evaluasi. Tenaga kesehatan mengatakan AuKami belum melakukan monitoring keuangan dan laba, monitoring yang sudah kami jalankan adalah monitoring penjualan yaitu produk yang laku berapa. Kami hanya memberikan saran berupa jangan memproduksi terlalu berlebih, karena dalam setiap jual-beli pasti ada resiko tidak laku dan terapi ini masih bertahap. Setiap selesai kegiatan terapi kewirausahaan semua pasien dan keluarga kami kumpulkan untuk melakukan evaluasi. Proses terapi yang kami berikan tetap memerlukan monitoring dan evaluasi dari kewirausahaan yang sudah mereka lakukanAy Pemasaran dengan Promosi Tabel 16. Tema pemasaran dengan promosi Tema Pemasaran dengan Promosi Subtema Fasilitas promosi dan pemasaran dari RSJ Promosi dilakukan mandiri oleh Kategori Online (Media sosial ): Instagram, dan Whatsapp grou. Offline : kegiatan besar perayaan ulang tahun RSJ. Ulang tahun Provinsi Jateng Secara mandiri mepromosikan melalui pameran di UMKM Secara mandiri mepromosikan melalui pameran di Pameran festival Berdasarkan table 16 hasil wawancara Tenaga kesehatan mengatakan AuKami memberikan fasilitas promosi yang dibantu juga oleh pihak RSJ Surakarta baik melalui media social (Instagram, dan Whatshap grou. dan secara offline seperti kegiatan besar perayaan Ulang Tahun RSJ. Ulang Tahun Provinsi Jateng. Promosi juga dilakukan secara individu, terdapat pasien kami yang sudah mampu mandiri dan mengikuti acara pameran di UMKM, dan Pameran festival kulinerAy. PEMBAHASAN Karakteristik responden Responden Mayoritas laki-laki, dalam hal ini banyak terjadi pada laki-laki karena lakilaki jati diri mencari nafkah dan bisa bekerja untuk masa depan maupun untuk keluarganya, akan tetapi dengan pasca menderita skizofrenia dan mengalami pengangguran menimbulkan kekambuhan pada pasien tersebut, hal ini didukung penelitian terdahulu yang NURSING INFORMATION JOURNAL | VOL. Maret 2025 | 119 Halaman 108-128 NURSING INFORMATION JOURNAL Volume: 4. Nomor : 2, 2025 Original Research Article e-ISSN 2809-0152 DOI https://doi. org/10. 54832/nij. menyebutkan prevalensi skizofrenia lebih tinggi pada laki-laki daripada perempuan terutama pada usia dewasa muda , laki-laki mengalami gejala yang lebih berat, serta dengan prognosis lebih buruk daripada perempuan (Abel. Drake. , & Goldstein, 2. , banyak terjadi pada laki-laki karena terjadi pengangguaran, penyesuaian kerja yang buruk (Neill et al. , 2. Partisipan banyak pada usia dewasa muda, dalam hal ini karena usia tersebut merupakan usia produktif dengan ideal diri yang tinggi, hal ini didukung (Williams, . Smith. , & Park, 2. , menjelaskan onset skizofrenia banyak terjadi pada usia dewasamuda hinga pertengahan, dimana individu mulai mengalami adanya tekanan social dan lingkungan yang lebih intens. Tema pada pasien skizofrenia Persepsi terhadap penyakit dan terapi okupasi kewirausahaan. Pasien menyadari dampak penyakit skizofrenia terhadap kehidupan social mereka, terutama bagaimana penerimaan orang lain, masih tinggi stigma Kesehatan mental. Persepsi positif terhadap penyakit atau kondisi Kesehatan pasien mampu mengatasi hambatan fisik maupun psikologis. Sebaliknya, persepsi negatif cenderung menurunkan motivasi, memperburuk kualitas hidup, dan berpotensi menimbulkan perasaan rendah diri atau putus asa, hal ini didukung dari penelitian terdahulu yang menyebutkan adanya hubungan antara persepsi penyakit dengan kualitas hidup (Holmlund et al. , 2. Stigma internal yang dialami pasien skizofrenia dapat menurunkan kualitas hidup dan fungsi social mereka. Stigma ini muncul ketika pasien merasa malu, rendah diri, atau berfikir negative mengenai apa penyakit yang mereka alami. Akibatnya, pasien menjadi menarik diri dari lingkungan, kehilangan motivasi, serta kesulitan untuk membangun relasi sosial yang sehat, hal ini sesuai dengan (Liu et al. , 2. , ditemukan dampak stigma diri pada kualitas hidup dan diperlukan terapi pendekatan rehabilitatif untuk meningkatkan kualitas hidup sehingga mengurangi stigma diri terutama peningkatan harga diri. Persepsi terhadap terapi okupasi kewirausahaan. Fakta ditemukan adanya persepsi positif terhadap terapi okupasi kewirausahaan, pasien merasa lebih semangat, kreatif, dan membuat mempunyai pekerjaan dan penghasilan sendiri serta bisa membantu keluarga. Persepsi yang positif terhadap suatu kegiatan akan membuat seseorang lebih bersemangat karena mampu menghilangkan emosi negatif seperti malas dan meneghadirkan sikap yang positif. Ketika pasien memiliki pandangan optimis terhadap aktivitas yang dijalani, dapat merangsang munculnya motivasi dan semangat, yang akhirnya membantu pasien untuk tetap fokus dan produktif, hal ini didukung penelitian terdahulu menjelaskan persepsi positif dapat membuat sikap yang lebih baik terhadap pengobatan (Rmadi et al. , 2. Hasil temuan ini didukung dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa terapi okupasi khususnya berbasis kewirausahaan dapat menjadi salah satu solusi efektif dalam membantu pasien skizofrenia mengatasi tantangan social dan psikologi yang dihadapi. Hal ini terbukti bahwa seseorang dengan skizofrenia dapat mencapai dan mempertahankan pekerjaan yang sukses dengan intervensi kerja sosial yang memadai meskipun ada tantangan seperti stigma yang disebabkan oleh penyakit mental yang serius ini (Sahu, 2. Namun mereka juga memahami bahwa terapi okupasi kewirausahaan dapat membantu mereka mencapai kemandirian finansial dan meningkatkan kreartifitas. Hal ini didukung penelitian Ferreira-Neto et al. , . ditemukan tentang niat berwirausaha mempengaruhi semangat, kreatifitas, dan efikasi Terapi ini memberikan pasien rasa percaya diri, semangat dalam beraktifitas, hal ini mengurangi gejala negatif seperti halusinasi dan meningkatkan kualitas hidup mereka, sebagaimana ditemukan hasil sistematik review Abidin et al. , ditemukan terapi pekerjaan dengan dukungan terpadu merupakan program pekerajaan paling efektif untuk skizofrenia dan penyakit mental lainnya. Terapi okupasi NURSING INFORMATION JOURNAL | VOL. Maret 2025 | 120 Halaman 108-128 NURSING INFORMATION JOURNAL Volume: 4. Nomor : 2, 2025 Original Research Article e-ISSN 2809-0152 DOI https://doi. org/10. 54832/nij. signifikan dalam meningkatkan fungsi kognitif, sosial, pekerjaan, kesejahteraan, dan berkontribusi terhadap kualitas hidup pasien (Khadijah et al. , 2. Rehabilitasi vokasional meningkatkan fungsi social dan wawasan penderita skizofrenia dengan mendorong kemampuan mereka (Wang. Zhang. Tsui. , & Li, 2. Minat, pengalaman, dan tantangan dalam kewirausahaan Meskipun pasien sering menghadapi kesulitan seperti keterbatasan modal dan fisik yang mudah Lelah, akan tetapi mereka menunjukkan minat yang tinggi dalam Minat yang kuat terhadap suatu kegiatan membantu pasien memandang sebagai aktivitas menyenangkan, bukan sekadar kewajiban. Ketika dipenuhi semangat, perasaan negatif seperti rasa malas atau bosan dapat berkurang, digantikan dorongan untuk mencapai hasil positif. hal ini didukung riset yang menemukan terapi okupasi kewirausahaan yang melibatkan pasien dalam aktifitas memilih sendiri lebih efektif daripada dipilih oleh terapis (Shitole. , & Sarang, 2. Pengalaman positif dalam memperoleh penghasilan dan kemampuan membeli barang yang diinginkan meningkatkan kualitas hidup mereka, hal ini didukung Novianti et al. , . , menjelaskan bahwa pendapatan yang lebih besar seringkali dikaitkan dengan peningkatan kebahagiaan karena memberikan akses terhadap pilihan hidup yang lebih luas, keamanan finansial, serta kemampuan untuk mengejar tujuan personal dan sosial yang diinginkan. Namun tantangannya mereka masih bergantung pada keluarga dalam menjalankan kewirausahaan. Hal ini didukung Syulthoni & Gunadi, . menjelaskan bahwa pasien masih bergantung dengan keluarga dalam membantu pasien mengelola kebutuhan sehari-hari mereka, yang sangat penting untuk menjaga kestabilan mental dan memungkinkan mereka untuk terlibat dalam kegiatan produktif, termasuk kewirausahaan. Perasaan terhadap pencapaian dan kesejahteraan emosional Terapi ini meningkatkan kesejahteraan emosional pasien, membantu mengelola stress, dan mencegah munculnya halusinasi. Rasa percaya diri dan kemampuan bersosialisasi juga meningkat. Hal ini didukung Anggraini et al. , . , menjelaskan efek signifikan dari terapi okupasi pada tingkat fungsi, kesejahteraan atau kualitas hidup pasien dengan skizofrenia atau penyakit mental. Dengan adanya rasa pencapaian, pasien merasa lebih mandiri dan termotivasi untuk meningkatkan kualitas hidup, serta memberikan dampak positif terhadap stabilitas emosi. Ketika pasien merasakan kemajuan, dapat memperkuat keyakinan diri dan menumbuhkan rasa kontrol atas hidup Dengan demikian, perasaan pencapaian ini tidak hanya berdampak pada peningkatan kesejahteraan fisik, tetapi juga pada kestabilan emosi, membantu pasien mengelola stres, dan memperbaiki mood secara keseluruhan. Hal ini didukung Kawitri et , . menjelaskan bahwa Kualitas hidup yang berkaitan dengan kesehatan tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi fisik tetapi juga aspek psikologi seperti penerimaan diri, dukungan sosial, dan kemampuan mengelola emosi. Ini menunjukkan bahwa perasaan pencapaian dan kemandirian dapat sangat memengaruhi stabilitas emosi pasien dan mendorong mereka untuk hidup lebih baik. Dengan kemandirian membuat rasa percaya diri meningkat. Studi Lee et al. , . menemukan efikasi diri social berkorelasi signifikan dengan kualitas hidup yang lebih tinggi dan fungsi komunitas, serta ketidaknyamanan emosional menjadi lebih rendah. Kepercayaan diri yang lebih besar dalam melakukan perilaku social dan kehidupan sehari-hari mempengaruhi kualitas hidup melalui pengurangan tekanan emosional. Manfaat dan Harapan Terapi ini memiliki potensi besar meningkatkan rasa mandiri, kepercayaan diri, dan kualitas hidup pasien. Dengan terlibat dalam kegiatan wirausaha, pasien bisa memperoleh keterampilan praktis, belajar mengelola waktu dan sumber daya, serta meningkatkan interaksi sosial. Hal ini membantu mereka merasa lebih produktif dan NURSING INFORMATION JOURNAL | VOL. Maret 2025 | 121 Halaman 108-128 NURSING INFORMATION JOURNAL Volume: 4. Nomor : 2, 2025 Original Research Article e-ISSN 2809-0152 DOI https://doi. org/10. 54832/nij. Pasien merasa terapi kewirausahaan ini sangat bermanfaat, terutama dalam meningkatkan ketrampilan social, finansial. Hal ini didukung penelitian ditemukan dengan adanya pelatihan ketrampilan hidup signifikan meningkatkan kemandirian dalam kehidupan sehari-hari, menunjukkan efek positif pada fungsi pasien (Abaolu et al. Mereka berharap terapi ini dapat berkembang lebih luas dan diikuti lebih banyak orang serta ada bantuan modal. Hal ini didukung Efendi & Nugraha, . menjelaskan bahwa terapi harapan pasien skizofrenia sering berfokus pada peningkatan kemandirian dalam kehidupan sehari-hari, pengelolaan gejala, dan kemampuan untuk berinteraksi Penelitian juga menunjukkan bahwa pemulihan yang didukung oleh komunitas dan kegiatan sosial dapat memperbaiki tingkat kepuasan hidup mereka secara Terapi ini membantu pasien mengelola gejala psikotik dan mengurangi stres, yang pada gilirannya berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan mereka. Tingkat Kepuasan Pasien skizofrenia merasa puas dengan adanya terapi kewirausahaan, pasien dapat merasa lebih mandiri karena mereka dilatih untuk menjalankan usaha kecil, mengambil keputusan, dan menciptakan sesuatu yang bernilai ekonomi. Pasien yang berhasil dalam program kewirausahaan merasa puas ketika mereka dapat memperoleh penghasilan, meskipun dalam jumlah kecil. Hal ini didukung Tiandini & Khairina, . menjelaskan bahwa program terapi kewirausahaan efektif dalam meningkatkan keterampilan dan produktivitas pasien skizofrenia, program ini juga mendorong pemenuhan kebutuhan dasar serta memberikan rasa percaya diri dan kepuasan hidup yang lebih tinggi. Selain itu juga berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan psikososial mereka, seperti perasaan memiliki tujuan hidup dan pengakuan dari Tema pada Keluarga pasien skizofrenia Dukungan keluarga dan dukungan dari luar Keluarga memerankan peran penting dalam meredam kestabilan emosi pasien, membantu menyiapkan bahan dan modal untuk terapi kewirausahaan. Keluarga yang mendukung aktif pasien dalam setiap Langkah terapi mampu meningkatkan semangat pasien, terapi ini juga memberi peluang bagi pasien merasa lebih mandiri dan produktif, hal ini didukung riset yang menjelaskan pembentukan kepatuhan pasien skizofrenia, terapi keluarga perlu dimasukkan dalam program perawatan dan rehabilitasi lembaga psikiatri (Alieva & Solokhina, 2. Dukungan eksternal dari komunitas luar tidak ada, dukungan keluarga menjadi faktor utama dalam rehabilitasi dan perbaikan fungsi sosial pasien skizofrenia. Keluarga yang memahami kondisi pasien dan memberikan dukungan emosional serta praktis dapat membantu pasien kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih baik, didukung riset Rohmi et al. , . Stewart et al. , . , bahwa dukungan eskternal sangat bermanfaat dalam proses kewirausahaan pasien. Dukungan yang berfokus pada pekerjaan termasuk membantu orang untuk mengelola kehidupan sehari-hari dengan penyakit mental. terlibat dalam kegiatan sosial. dan terlibat dalam kegiatan yang Dukungan yang berfokus pada lingkungan mencakup akses ke keamanan keamanan akomodasi. dan komunitas pilihan. Selain jenis dukungan, peserta menyoroti pentingnya kualitas dukungan termasuk kebutuhan untuk dukungan yang tepat waktu. dan tanpa menghakimi. Dukungan social erat hubungannya dengan kepatuhan pengobatan . hin Altun et al. , 2. Fakta keluarga pasien mengungkapkan pasien hanya mendapatkan dukungan spiritual melalui kegiatan keagamaan. Aktivitas keagamaan, seperti berdoa bersama, mengaji, atau mengikuti ritual keagamaan, seringkali menjadi cara keluarga memberikan ketenangan batin, baik bagi pasien maupun bagi mereka sendiri. Kegiatan keagamaan NURSING INFORMATION JOURNAL | VOL. Maret 2025 | 122 Halaman 108-128 NURSING INFORMATION JOURNAL Volume: 4. Nomor : 2, 2025 Original Research Article e-ISSN 2809-0152 DOI https://doi. org/10. 54832/nij. positif berkaitan dengan penyesuaian psikologis lebih baik terhadap stressor dan merupakan factor protektif (N. H & S. , 2. Peran Keluarga Keluarga membantu dalam pengambilan keputusan terkait produk yang akan dijual dan menyediakan fasilitas pendukung seperti transportasi. Keterlibatan keluarga sangat mendukung pasien dalam mencapai tujuan terapi. Hal ini dudukung riset Fakhriyah et , . , bahwa peran keluarga dan petugas kesehatan dalam mendukung program pengobatan klien skizofrenia sangat berpengaruh karena berdampak pada motivasi dan kepatuhan kontrol ulang untuk kesembuhan Komunikasi dalam Keluarga Keluarga menggambarkan pentingnya komunikasi yang efektif dalam merawat pasien skizofrenia. Dengan menggunakan bahasa yang halus, tenang, dan menghindari sikap yang menekan atau menghakimi, keluarga menciptakan suasana yang aman dan nyaman bagi pasien untuk berkomunikasi. Hal ini menjadikan pasien merasa dihargai dan didengarkan, yang pada akhirnya membuka ruang bagi mereka untuk lebih terbuka mengungkapkan perasaan, keluh kesah, serta harapan yang mungkin sebelumnya sulit Hal ini didukung Cempaka, . menjelaskan bahwa keluarga memainkan peran utama dalam perawatan pasien skizofrenia. Teknik komunikasi yang tenang, empatik, dan jelas dapat menciptakan suasana yang nyaman. Hal ini membantu pasien merasa didengar dan lebih terbuka dalam mengungkapkan perasaannya, seperti keluhan atau harapan yang dimilikinya Tantangan dan Strategi Keluarga menghadapi tantangan dalam mengelola modal usaha dan komunikasi dengan pasien. Untuk mengatasi hal ini, keluarga menggunakan strategi seperti dukungan emosional dan mengajak pasien berbicara tentang hal-hal yang mereka sukai, serta aktif mencari pelatihan kewirausahaan. Rehabilitasi merupakan aspek terpenting yang harus ada guna mendukung pelaksanaan terapi bagi pasien skizofrenia saat mereka keluar dari rumah sakit jiwa dan kembali ke keluarga dan masyarakat (Dharma & Beo, 2. Dampak Ekonomi dan Psikologis Dampak ekonomi positif karena memberikan tambahan penghasilan dan meningkatkan kualitas hidup. Secara psikologis kegiatan ini memberikan hubungan keluarga, mengurangi stress, dan meningkatkan rasa percaya diri pasien. Hal ini didukung riset dengan temuan dibandingkan dengan kelompok kontrol, skor pasien untuk harga diri, efikasi diri, dan koping menjadi positif (Zheng, 2. Harapan dan Rencana Keluarga Keluarga berharap terapi ini dapat berlanjut dengan dukungan yang lebih baik, dan mereka juga berencana mendukung pasien untuk mencapai kemandirian penuh dalam kehidupan social dan ekonomi sehingga dapat meningkatkan kestabilan emosi pasien, karena kewirausahaan menawarkan rasa pencapaian, kendali, dan tujuan. Hal ini didukung riset yang menjelaskan terjadinya peningkatan kemandirian fungsional pasien skizofrenia akut melalui terapi okupasi dini (Tanaka et al. , 2. Tema pada tenaga Kesehatan Rekruitmen. Menggali Potensi Pasien. Dan Kelayakan Terapi Proses rekrutmen pasien dalam terapi kewirausahaan bergantung pada kestabilan emosi, jarak rumah, serta dukungan keluarga. Menggali potensi pasien dengan melakukan skrining menilai bakat minat dan kemampuan mereka. Proses ini bertujuan untuk memastikan bahwa terapi yang diterapkan sesuai dengan kapasitas pasien, hal ini sesuai dengan riset terdahulu yang menjelaskan McGee & Peterson, . , terdapat hubungan antara efikasi diri dengan kinerja kewirausahaan. Penilaian kelayakan terapi NURSING INFORMATION JOURNAL | VOL. Maret 2025 | 123 Halaman 108-128 NURSING INFORMATION JOURNAL Volume: 4. Nomor : 2, 2025 Original Research Article e-ISSN 2809-0152 DOI https://doi. org/10. 54832/nij. saat ini lebih berfokus pada aspek kognitif, kondisi medis, akan tetapi skrining ini belum mencakup lebih menyeluruh seperti kesiapan mental untuk kewirausahaan. Pemecahan Masalah Pemecahan masalah dalam terapi kewirausahaan ini, tenaga kesehatan memberikan fasilitas berupa modal, sarana prasarana, seperti alat usaha, yang sifatnya berkelanjutan, bukan dalam bentuk uang supaya tidak cepat habis, agar program ini semakin efektif, perlu adanya pendampingan berkelanjutan untuk memastikan pasien benar-benar mampu mengelola alat usaha tersebut dan mencapai kemandirian. Selain itu menunjukkan adanya keterikatan antara aspek kesehatan, ekonomi, dan sosial, di mana pasien tidak hanya mendapatkan perawatan medis tetapi juga dukungan ekonomi untuk meningkatkan kemandirian mereka. Hal ini didukung Morin & Franck, . menunjukkan bahwa intervensi yang memadukan rehabilitasi kognitif, seperti pelatihan keterampilan kognitif dan sosial, dapat membantu pasien dengan skizofrenia untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam mengambil keputusan, merencanakan, serta mengelola tugas-tugas sehari-hari yang diperlukan dalam kewirausahaan. Hal ini didukung Nurhaeni et al. , . menunjukkan bahwa bantuan keuangan dan peluang wirausaha secara signifikan menurunkan gejala stres dan kecemasan karena mereka memberikan peluang ekonomi yang meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan Program ini juga membantu pasien dengan gangguan mental dalam pemulihan mereka melalui kegiatan produktif yang meningkatkan rasa percaya diri dan meningkatkan harapan untuk mandiri. Monitoring Dan Evaluasi Monitoring terhadap kewirausahaan dan evaluasi aspek keuangan dan keuntungan belum diterapkan, hal ini dijelaskan riset terdahulu yang menjelaskan dalam proses terapi rehabilitasi yaitu kewirausahaan harus ada pengukuran Newman et al. , . Nihayati et al. , . yang mana dengan mengembangkan instrumen untuk digunakan sebagai alat ukur dalam rangka mengevaluasi terapi rehabilitasi yang diberikan. Pemasaran dan Promosi Upaya promosi dan pemasaran dilakukan melalui media sosial (Instagram, grup WhatsAp. dan acara offline seperti pameran, dan peringatan hari-hari besar nasional. Hal ini sesuai dengan riset yang menjelaskan promosi kewirausahaan secara online sangat membantu karena lebih efektif dan efesien (Vankov et al. , 2. Sebuah promosi dan pemasaran yang baik akan memberikan dan meningkatkan keberhasilan kewirausahaan pasien, dan akan mengembangkan kemampuan pasien berwirausaha dalam skala yang lebih besar SIMPULAN Kebutuhan okupasi terapi berbasis kewirausahaan untuk meningkatkan kualitas hidup, motivasi, dan harga diri penderita skizofrenia dari pasien dan keluarga yaitu dibutuhkan persepsi positif dari pasien, tidak ada stigma, minat yang kuat, adanya pengalaman, optimis dalam menghadapi tantangan dan diperolehnya solusi kendala, dukungan keluarga, terdapat manfaat dan harapan yang berdampak pada ekonomi dan psikologi terutama kualitas hidup, motivasi dan harga diri. Kebutuhan dari tenaga Kesehatan dalam terapi ini yaitu terdapat rekruitmen, menggali potensi pasien, kelayakan terapi, monitoring dan evaluasi, melakukan upaya pemasaran dan promosi baik secara offline maupun online. Rekomendasi untuk keberlanjutan perlu ada pelatihan dan lembar monitoring dan evaluasi pengelolaan UCAPAN TERIMA KASIH