p-ISSN 2550-0627 e-ISSN 2656-9442 IMTIYAZ: Jurnal Ilmu Keislaman KEPEMIMPINAN KIAI DALAM MENGUATKAN SIKAP MODERASI SANTRI PONDOK PESANTREN RAUDLATUL MUTAAoALIMI WONOASIH PROBOLINGGO *Agung Agus Setiawan. Benny Prasetiya Institut Ahmad Dahlan Probolinggo Email: agoeng. setiawan15@gmail. Abstract This research aims to evaluate several aspects, namely: . How the role of Kiai leadership can strengthen the moderation attitude of students at the Raudlatul Muta'alimin Islamic Boarding School, . Concrete actions taken by Kiai leadership, . How Kiai leadership evaluates this process. The research method used is a qualitative approach with case studies. The data collection process involved interviews, observation, and document analysis. Data analysis was carried out through the steps of data condensation, data presentation, and drawing conclusions. Data validity is tested through the credibility, dependability and certainty of the data. The results of the research reveal several things, including: first. Kiai Pondok Pesantren Raudlatul Muta'alimin carries out his role as a leader with four main functions, including as a direction setter, agent of change, spokesperson and coach. Kiai use situational leadership styles, such as delegation, guidance, and direction, to achieve leadership effectiveness. Second. Kiai's efforts to form a moderation attitude among students involve studying the yellow book and emphasizing the curriculum. Third, the implementation of Kiai's leadership in strengthening the santri's moderation attitude at the Raudlatul Muta'alimin Islamic Boarding School went without significant obstacles, in line with Kiai's expectations, and the santri succeeded in internalizing the moderation attitude in their daily lives. Keywords: Islamic Moderation. Islamic Boarding School Leader. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi beberapa aspek, yaitu: . Bagaimana peran kepemimpinan Kiai dapat memperkuat sikap moderasi santri di Pondok Pesantren Raudlatul MutaAoalimin, . Tindakan konkret yang diambil oleh kepemimpinan Kiai, . Bagaimana kepemimpinan Kiai mengevaluasi proses tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi kasus. Proses pengumpulan data melibatkan wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Analisis data dilakukan melalui langkah-langkah kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Validitas data diuji melalui kredibilitas, ketergantungan, dan kepastian data. Hasil penelitian mengungkapkan beberapa hal, antara lain: Kiai Pondok Pesantren Raudlatul MutaAoalimin menjalankan perannya sebagai pemimpin dengan empat fungsi utama, termasuk sebagai penentu arah, agen perubahan, juru bicara, dan Kiai menggunakan gaya kepemimpinan situasional, seperti pendelegasian, bimbingan, dan pengarahan, untuk mencapai efektivitas kepemimpinan. Kedua, upaya Kiai dalam membentuk sikap moderasi santri melibatkan pengkajian kitab kuning dan penekanan pada Ketiga, implementasi kepemimpinan Kiai dalam memperkuat sikap moderasi santri di Pondok Pesantren Raudlatul MutaAoalimin berjalan tanpa kendala signifikan, sesuai dengan harapan Kiai, dan santri berhasil menginternalisasi sikap moderasi dalam kehidupan sehari-hari Kata kunci: Moderasi Islam. Pemimpin Pondok Pesantren. IMTIYAZ. Volume 7 Nomor 1. Maret 2023 | 93 Agung Agus Setiawan, etc. Kepemimpinan Kiai Dalam Menguatkan Sikap ModerasiA PENDAHULUAN Moderasi adalah kunci untuk menciptakan harmoni, perdamaian, dan toleransi baik di antara agama maupun di antara komunitas keagamaan . Dalam mengadopsi sikap moderat, seseorang harus memiliki pengetahuan agama yang luas dan akhlak yang baik. Dengan akhlak yang baik, seseorang akan menjunjung tinggi sikap toleransi dan humanisme, menyebabkan kecenderungan untuk dengan mudah memberi maaf, bersikap ramah, dan tidak dengan mudah melepaskan emosi. Moderasi memiliki empat indikator: komitmen nasional, toleransi, anti-kekerasan, dan akomodasi terhadap budaya lokal. Pesantren, lembaga pendidikan Islam, menyebarkan Islam yang moderat dan berfungsi sebagai langkah pencegahan terhadap radikalisme . Umumnya, setiap pesantren memiliki lima elemen utama: Kiai . endekiawan Isla. , pondok . , santri . , masjid, dan pengajaran buku-buku Islam tradisional . Kiai adalah elemen sentral dengan pengaruh signifikan dalam kehidupan pesantren karena mereka adalah pilar utama yang mendukung sistem pendidikan di pesantren Kepemimpinan Kiai melibatkan segala tindakan yang diambil oleh Kiai untuk mengkoordinasikan dan memberikan panduan kepada individu atau kelompok dalam kerangka tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dampak dari kepemimpinan Kiai tergantung pada peran yang dimainkan mengungkapkan bahwa seorang pemimpin harus memiliki empat peran pokok: menetapkan arah, menjadi agen perubahan, juru bicara, dan pelatih Untuk memaksimalkan peran mereka, seorang pemimpin harus memiliki gaya kepemimpinan. Gaya kepemimpinan yang sesuai sangat efektif dalam mempengaruhi bawahan untuk berperilaku sesuai dengan harapan pemimpin. Gaya kepemimpinan paling efektif adalah kepemimpinan situasional, yang mempertimbangkan kekuatan yang dimiliki, kompleksitas tugas, dan kematangan bawahan (Sugiono, 2. Pesantren, sebagai bentuk khas pendidikan agama di Indonesia, memiliki keunikan tersendiri dalam menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai moderasi Seperti yang dijelaskan oleh Mastuhu, pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tradisional yang terlibat dalam kegiatan seperti mempelajari, memahami, mengeksplorasi, mendidik, menginternalisasi, dan mengamalkan ajaran Islam sambil menekankan aspek moral dan keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari. Istilah "pesantren" berasal dari "santri," dengan awalan "pe" dan akhiran "an," menunjukkan tempat tinggal bagi santri . Pesantren muncul dalam masyarakat sebagai komunitas yang memiliki kemampuan untuk terlibat dalam kegiatan pendidikan alternatif yang menggabungkan konsep pendidikan, pengajaran, dan pengembangan masyarakat. Pada intinya, pesantren telah menjadi identitas pendidikan Islam di Indonesia yang hidup berdampingan dengan keragaman dan pluralisme keagamaan tanpa bertentangan dengan mereka (Sugianto & Diva, 2. 94 | IMTIYAZ. Volume 7 Nomor 1. Maret 2023 Agung Agus Setiawan, etc. Kepemimpinan Kiai Dalam Menguatkan Sikap ModerasiA Melihat fenomena perkembangan saat ini, kita mungkin terkejut. Bagaimana mungkin ideologi radikal menemukan tempat di Indonesia dan berkembang dengan cara seperti ini Beberapa pesantren Islam modern menerapkan praktik-praktik moderasi keagamaan di dalam lembaga mereka, mengikuti model pesantren Islam tradisional. Pesantren-pesantren modern ini menekankan peningkatan kurikulum, sistem pengajaran, fakultas, dan para siswa. Dalam hal kurikulum, memang fokusnya adalah pendidikan agama, namun hal tersebut tidak mengesampingkan mata pelajaran umum lainnya (Nisa Nur et al. , n. Semua komponen yang ada. Pemerintah, lembaga pendidikan atau sekolah, keluarga, masyarakat, dan lembaga non-formal lain dianggap mampu berkontribusi untuk melawan radikalisme ini. Pesantren, sebagai salah satu unit pendidikan agama dan masyarakat, memainkan peran strategis dalam mengawasi program ini. Pesantren dianggap memposisikan moderasi agama lebih sebagai nilai sosio-etika. Namun, pesantren seringkali tidak terpengaruh oleh penduduk pesantren tradisional . dan modern . , yang sebagian besar menginternalisasi moderasi agama secara formal. Seperti yang diindikasikan oleh penelitian penanaman moderasi agama di pesantren cenderung bersifat formal. Namun, di lapangan, pesantren yang diteliti sedikit berbeda dengan menginstitusionalisasikan nilai-nilai teologis sebagai landasan paradigmatik untuk tindakan moderasi agama bagi seluruh komunitas pesantren. Salah satu implikasinya adalah penciptaan pemikiran, sikap, dan kegiatan yang diwarnai oleh nilainilai toleransi, saling menghormati, dan empat. Isu-isu terorisme, ekstremisme, dan radikalisme seringkali dikaitkan dengan dunia pesantren. Di Indonesia, pesantren berfungsi sebagai ikon fondasi pendidikan Islam, memberikan bukti nyata pendidikan dan pembinaan masyarakat lokal menjadi warga yang berakhlak baik. Perdebatan tentang radikalisme di pesantren terus muncul dan tetap menjadi topik panas dalam wacana publik, menimbulkan kegelisahan dalam masyarakat. Namun, penting untuk tidak menggeneralisasi bahwa semua pesantren . ekolah berasrama Isla. mengikuti keyakinan radikal dan ekstremis. Beberapa Kiai . emimpin pesantre. atau pendiri lembaga-lembaga ini membimbing dan mendidik para siswanya untuk menjadi generasi yang berkomitmen pada keyakinan agama mereka, namun modern dan moderat dalam apresiasi keagamaan mereka. Pesantren Islam, sebagai tempat untuk mempelajari ajaran Islam dengan prinsip rahmatan lil'alamin . embawa kemakmuran dan kasih sayang kepada seluruh umat manusia dan alam semest. , memainkan peran penting ketika moderasi keagamaan diintegrasikan ke dalam kurikulum. Inklusi ini membantu mengantisipasi infiltrasi interpretasi dan praktik agama yang ekstrem dan radikal, baik dari ekstrem kanan maupun kiri. Radikalisme, ekstremisme, dan terorisme berpotensi memecah-belah komunitas Islam, menyebabkan konflik, dan merusak persatuan IMTIYAZ. Volume 7 Nomor 1. Maret 2023 | 95 Agung Agus Setiawan, etc. Kepemimpinan Kiai Dalam Menguatkan Sikap ModerasiA Republik Indonesia yang memiliki keragaman suku, etnis, agama, kewarganegaraan, dan Pesantren Islam harus berfungsi sebagai garis pertahanan terdepan dalam menjaga Islam yang moderat. Harapannya adalah bahwa moderasi keagamaan dipraktikkan dalam kerangka Islam, dan para siswa . di pesantren Islam dapat menjadi agen perdamaian dengan karakter yang moderat, non-ekstremis, dan seimbang. Hal ini melibatkan ketaatan terhadap Syariah dan ajaran Islam tanpa melibatkan ekstremisme, karena semua agama mendorong perdamaian dan melarang kekerasan (Rozaq, 2. Era globalisasi membawa tentang keterhubungan antara masyarakat dan aliran ide-ide melintasi batas. Dalam konteks ini, masuknya ideologi Islam transnasional ke Indonesia merupakan tantangan bagi pesantren, karena dapat menyebabkan persaingan ideologis dan potensi konflik antara berbagai interpretasi Islam. Pendirian lembagalembaga pendidikan yang terafiliasi dengan ideologi Islam transnasional dapat memengaruhi langkap ideologis di Indonesia, berpotensi menciptakan ketegangan dengan kelompok-kelompok moderat yang sudah ada. Tantangannya terletak pada menjaga keseimbangan antara mempertahankan nilai-nilai tradisional pesantren Salafi dan mengatasi pengaruh ideologi transnasional, semuanya sambil memupuk kerukunan dalam lanskap keagamaan yang beragam di Indonesia (Hafidz, 2. Pesantren yang mengikuti tradisi menghadapi berbagai tantangan, terutama dengan masuknya gagasan-gagasan Islam transnasional ke Indonesia. Ideologi Islam transnasional yang memasuki Indonesia sering kali mendirikan lembaga-lembaga pendidikan sebagai dasar doktrin mereka dan pembibitan kader-kader mereka. Dengan meningkatnya prevalensi ideologi Islam transnasional di Indonesia dan pendirian lembaga-lembaga pendidikan yang terafiliasi dengan ideologi-ide ini, ini mengancam eksistensi kelompok-kelompok moderat (Zahrah, 2. Dalam konteks ini, pesantren Islam modern dapat memainkan peran penting dalam mengatasi tantangan moderasi keagamaan. Pesantren modern dapat berfungsi sebagai pusat pembelajaran dan pemahaman prinsip keagamaan yang moderat, memberikan panduan mengenai kesederhanaan, keberagaman, dan perdamaian dalam praktik keagamaan. Sekolah-sekolah ini dapat mengajarkan siswa untuk memahami agama dengan benar berdasarkan prinsip-prinsip moderat dan toleran. Selain itu, pesantren modern dapat menawarkan pendidikan holistik dan terintegrasi, tidak hanya fokus pada aspek keagamaan tetapi juga mengatasi dimensi lain. Pendekatan ini membantu siswa memahami pentingnya toleransi, menghargai perbedaan, dan membudayakan saling penghargaan di antara mereka. Pesantren dapat menjadi tempat di mana siswa belajar merangkul pandangan keagamaan yang moderat dan toleran (Dewi et , 2. 96 | IMTIYAZ. Volume 7 Nomor 1. Maret 2023 Agung Agus Setiawan, etc. Kepemimpinan Kiai Dalam Menguatkan Sikap ModerasiA Salah satu ajaran Islam adalah moderasi, yang menganjurkan jalan tengah, menghindari fanatisme atau kelebihan dalam pemikiran dan tindakan. Ajaran ini menekankan pentingnya keseimbangan, menjauhi kutub ekstrem, baik dalam pemahaman maupun praktik Islam. Moderasi dalam Islam juga mendorong inklusivitas, persaudaraan, toleransi, perdamaian, dan Islam sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia. Melalui moderasi, komunitas Muslim dianggap sebagai "ummatan wasathan," sebuah komunitas yang mencintai perdamaian dan menentang kekerasan. Dengan sikap damai ini, komunitas Muslim memprioritaskan misi perdamaian, non-kekerasan, dan toleransi. Misi ini menjadi jelas ketika Islam disebarkan di seluruh dunia bahkan mereka terlibat dalam akulturasi dan kontekstualisasi ajaran Islam dengan budaya lokal. Dalam proses pembelajaran, pengembangan sikap moderat dilakukan dalam bidang-bidang studi Islam, yaitu Al-Quran. Hadis. Sejarah Kebudayaan Islam. Aqidah . , dan Akhlak . Dalam pelajaran-pelajaran ini, para guru menekankan karakteristik ajaran Islam yang mendorong nilai-nilai seperti persatuan, bantuan bersama dalam kebaikan, kerjasama, dan toleransi. Penanaman nilai-nilai ini bertujuan untuk memupuk hubungan harmonis di antara para siswa, dan setelah lulus dari pesantren, mereka menjadi elemenelemen yang kokoh dalam masyarakat Muslim yang beragam. Demikian pula, pembelajaran nilai-nilai moderat disertakan dalam proses pendidikan dengan menekankan pentingnya toleransi terhadap keragaman agama, aliran pemikiran . , dan keyakinan. Pengembangan sikap ini tercermin dalam berbagai cara, seperti penanaman toleransi melalui aktivitas pendidikan seperti studi hadis (Solichin. Mengingat pentingnya moderasi keagamaan, sangat penting untuk menanamkannya pada anak-anak melalui cara-cara praktis yang mudah diterima oleh pikiran-pikiran muda. Pendidik dan orang tua dapat membentuk sikap moderasi keagamaan melalui berbagai kegiatan, seperti upacara bendera, memperkenalkan keragaman agama di Indonesia, mengenalkan anak-anak pada pahlawan-pahlawan kemerdekaan Indonesia, menanamkan cinta pada tanah air, dan membentuk sikap nasionalis terhadap bangsa. Dengan menggabungkan praktik-praktik ini, pendidik dan orang tua dapat menciptakan dasar bagi anak-anak untuk memahami dan merangkul moderasi keagamaan sejak usia dini. Kegiatan praktis seperti upacara bendera dapat meningkatkan rasa persatuan dan patriotisme, sementara memperkenalkan keragaman agama dapat memupuk toleransi dan pemahaman. Mengenali pahlawan-pahlawan kemerdekaan Indonesia dapat menanamkan rasa bangga nasional, dan menanamkan cinta pada tanah air dan sikap nasionalis dapat memberikan kontribusi pada masyarakat yang harmonis dan moderat (Fahrun Nisak et al. , 2. IMTIYAZ. Volume 7 Nomor 1. Maret 2023 | 97 Agung Agus Setiawan, etc. Kepemimpinan Kiai Dalam Menguatkan Sikap ModerasiA Organisasi pendidikan agama Islam di Indonesia dilakukan dengan memperkenalkan pesantren dan madrasah diniyah sebagai pelopor institusi Islam dengan konsep rahmatan lil'alamin, menggunakan pendekatan berdasarkan uswatun hasanah . eladan yang bai. Pemerintah mengharapkan institusi-institusi ini memberikan pendidikan Islam kepada masyarakat Muslim, memastikan bahwa individu benar-benar menginternalisasi dan mengamalkan nilai-nilai Islam. Budaya di dalam pesantren dan madrasah diniyah, yang menekankan nilai-nilai spiritual, juga seharusnya diamalkan oleh siswa di luar lingkungan sekitar mereka, misalnya ketika berinteraksi dengan masyarakat atau berada di ruang publik seperti jalan atau pasar. Mereka diharapkan menjadi perwujudan akhlak mulia sebagai bagian dari pakaian sehari-hari mereka. Tingkat spiritualitas yang tinggi yang ditanamkan dalam institusi-institusi ini tidak dapat dicapai dalam semalam. itu memerlukan waktu yang cukup dan lingkungan yang kondusif agar karakter Islam benar-benar menguat. Oleh karena itu, artikel ini berfokus pada dua topik utama: sikap dan nilai-nilai yang ditanamkan oleh pesantren dalam membentuk moderasi keagamaan (Maskuri et al. , 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Fokus penelitian berada pada penyelidikan mendalam terhadap suatu program, peristiwa, aktivitas, proses kelompok, atau individu dalam suatu konteks tertentu. Kasus yang menjadi objek penelitian ini dibatasi oleh waktu dan aktivitas tertentu. Peneliti berupaya mengumpulkan informasi secara menyeluruh dengan menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data selama periode waktu yang telah ditetapkan sebelumnya. Proses pemilihan informan penelitian dilakukan melalui teknik purposive sampling, di mana peneliti secara sengaja memilih informan yang dianggap memiliki relevansi dan keberagaman informasi terkait dengan tujuan penelitian. Dalam konteks ini, informan penelitian terdiri dari Pengurus Pesantren Raudlatul Muta'alimin dan beberapa asaatidz senior yang dianggap memiliki pengetahuan yang valid mengenai lembaga dan sistem pendidikan di Pesantren Raudlatul Muta'alimin. Pemilihan informan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa mereka memiliki pemahaman mendalam tentang Pesantren Raudlatul Muta'alimin, mampu menyampaikan sifat moderasi agama yang ditekankan, serta memahami sistem pendidikan dan pengajaran yang diterapkan di pesantren tersebut. HASIL DAN PEMBAHASAN Moderasi Keagamaan menjadi semboyan dan juga prinsip panduan dalam program-program dan kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama. Hal ini 98 | IMTIYAZ. Volume 7 Nomor 1. Maret 2023 Agung Agus Setiawan, etc. Kepemimpinan Kiai Dalam Menguatkan Sikap ModerasiA sejalan dengan gagasan bahwa Indonesia adalah bangsa yang heterogen dengan berbagai etnis, budaya, tradisi, dan kearifan lokal. Oleh karena itu, nilai-nilai keagamaan dalam hal ritual keagamaan dapat diintegrasikan secara harmonis dengan saling pengertian dan Moderasi mengacu pada keadaan atau tindakan yang moderat, tidak berlebihan atau kurang. Istilah ini juga terkait dengan kendali diri, kemampuan untuk mengatur perilaku untuk menghindari kelebihan atau kekurangan. Menurut bahasa Inggris, istilah "moderation" biasa dipakai untuk menggambarkan nilai moderat, nilai esensi, standar, atau netralitas . idak memiha. Moderasi agama adalah konsep yang menekankan untuk saling menghormati dan tolerans di antara beberapa agama. Konsep tersebut mengajarkan bahwa setiap seseorang mempunyai kuasa untuk menentukan dan melakukan agamanya sendiri-sendiri tanpa tekanan atau intimidasi dari orang lain. Modernisasi agama adalah proses di mana agama beradaptasi dengan perubahan sosial dan budaya dalam masyarakat Ini melibatkan berbagai konsep dan dimensi yang dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kategori: Rasionalisasi Diri: Upaya untuk meningkatkan hasil produksi dengan menggunakan sistem manajemen yang lebih efektif dengan menguasai pengetahuan dan Contohnya, penggunaan mesin canggih untuk menghemat energi manusia. Pluralisme: Pengakuan dan penghargaan terhadap keberagaman keyakinan dan Modernisasi agama membutuhkan agama untuk mempertimbangkan perbedaan dalam budaya dan keyakinan serta mencari cara untuk hidup berdampingan dengan agama lain. Modernisasi Teknologi: Melibatkan penggunaan teknologi modern untuk menyebarkan pesan agama dan mempercepat penyebaran informasi keagamaan. Contohnya termasuk situs gereja, aplikasi seluler untuk membaca teks suci, dan media sosial untuk berbagi informasi keagamaan. Toleransi: Melibatkan gagasan bahwa agama harus dapat hidup berdampingan dengan kepercayaan dan agama lain, menghormati perbedaan dan keberagaman Perubahan Sosial: Melibatkan perubahan nilai, norma, dan praktik dalam Agama harus dapat beradaptasi dengan perubahan sosial dan budaya dalam masyarakat modern agar tetap relevan dan dapat dimengerti oleh masyarakat umum. Keterbukaan: Melibatkan konsep bahwa agama harus terbuka terhadap gagasan dan pengalaman baru dalam kehidupan modern. Ini berarti bahwa agama harus dapat IMTIYAZ. Volume 7 Nomor 1. Maret 2023 | 99 Agung Agus Setiawan, etc. Kepemimpinan Kiai Dalam Menguatkan Sikap ModerasiA menerima perubahan, gagasan baru, dan pemikiran dalam mengembangkan dan menyampaikan ajaran keagamaan. Keadilan Sosial: Melibatkan gagasan tentang keadilan dalam konteks sosial. Modernisasi agama juga mencakup konsep mempromosikan keadilan sosial dalam masyarakat (Sugianto & Diva, 2. Peran Kiai Terhadap Pondok Pesantren Setiap pemimpin pasti memiliki gaya atau model yang melekat pada diri mereka. Ini akan memengaruhi apakah itu memengaruhi bawahan atau perkembangan lembaga atau organisasi yang mereka pimpin (Supriani et al. , 2. kehadiran seorang "kiai" . emimpin agama Isla. sebagai pimpinan pesantren dapat diamati melalui peran dan tanggung jawab mereka. Legitimasi kepemimpinan seorang kiai secara langsung berasal dari penilaian komunitas, tidak hanya didasarkan pada keahlian mereka dalam pengetahuan agama tetapi juga pada dasar otoritas atau karisma kiai yang berasal dari pengetahuan, kemampuan spiritual, kepribadian, atau bahkan garis keturunan. Kehadiran seorang kiai sebagai pemimpin dalam sebuah pesantren diakui secara luas karena dampak signifikannya dalam meningkatkan kualitas pesantren di mata masyarakat luas. Reputasi pesantren sering tercermin dalam kiai-nya, terutama jika mereka adalah pendiri pesantren Pesantren membutuhkan seorang kiai sebagai simbol identitas kepemimpinan, sementara kiai bergantung pada pesantren sebagai platform untuk memperkuat identitas mereka sebagai pemimpin masyarakat dan kepala lembaga pendidikan Islam. Pada dasarnya, kepemimpinan pesantren, dalam praktiknya, mencerminkan kemajuan dan kemunduran pesantren sebagai lembaga dengan karakteristik khas Indonesia (Bloom & Reenen, 2. Posisi seorang Kiai sebagai pemimpin di pesantren menuntut ketaatan yang kuat terhadap nilai-nilai mulia yang menjadi pedoman dalam sikap, perilaku, dan perkembangan pesantren. Nilai-nilai mulia ini adalah prinsip-prinsip panduan dalam kehidupan seorang Kiai, dan menyimpang atau bertentangan dengan nilai-nilai tersebut saat memimpin pesantren dapat secara langsung atau tidak langsung menggerus kepercayaan masyarakat terhadap Kiai atau pesantren. Keyakinan Kiai pada nilai-nilai mulia ini begitu mendalam sehingga setiap penyimpangan dari nilai-nilai tersebut dianggap merusak kepercayaan yang dimiliki masyarakat terhadap Kiai atau pesantren. Sungguh, nilai-nilai mulia ini, yang diyakini oleh Kiai dan masyarakat Muslim, dipandang sebagai inti . ekuatan spiritua. yang dianggap sebagai karunia dan anugerah dari Allah SWT (Pembinaan & Pesantren, n. 100 | IMTIYAZ. Volume 7 Nomor 1. Maret 2023 Agung Agus Setiawan, etc. Kepemimpinan Kiai Dalam Menguatkan Sikap ModerasiA Dalam sebuah lembaga pendidikan khususnya pesantren. Pesantren Raudlatul Muta'allimien memperluas relasi dengan kiai dan santri, mulai relasipaternalisme menajdi relasi lebih fungsional. tawaduk taAodim kepada kiyai atau guru sudah di bimbing supaya toleransi dan selalu merawat kerukunan setiap umat beragama Tentunya di lingkungan masyarakat umum maupun tetangga sekitar pondok pesantren Raudlatul Muta'allimien. kiai tidak terlalu intervensi mengurusi dalam hal pesantren. Kepengurusan pesantren Raudlatul Muta'allimien sudah ada yang mengelolanya sendiri. Untuk saat ini Pengurus dari pesantren Raudlatul Muta'allimien Merupakan Generasi Keturunan kiai yang telah lama Menjalani Pendidikan di pesantren Utama Yakni (Pondok pesantren Genggong,Nurul Jadid. Dalwa dan Sidogir. Anak kiai sudah dibekali ilmu yang cukup dan memiliki jiwa kepemimpinan. Lalu pesantren Raudlatul Muta'allimien sebagai yayasan antisipasi supaya pesantren terus berlanjut meskipun meniggalnya kiai, jika ahli waris tidak bisa atau tidak ingin meneruskan Peran orang tua mereka. Di pondok pesantren Raudlatul Muta'allimien ini mengikuti aliran Nahdlatul Ulama (NU) disini santri di bimbing agar bisa independent serta Islam tidak menginterprestasi seluruh agama itu sama akan tetapi Islam mengedukasi supaya berperilaku sama terhadap seluruh agama. Pengembangan Pesantren Raudlatul Muta'allimien Ekspolitasi sumber daya manusia perlu diarahkan menuju model yang dapat mengoptimalkan potensi penuh sumber daya manusia tersebut untuk kepentingan bersama dan masa depan bangsa. Dengan kata lain, harus diarahkan pada upaya yang mampu menggali potensi untuk memberikan kontribusi positif sesuai dengan tujuan Pondok Pesantren Raudlatul Muta'alimin mengelola sumber daya siswanya dengan pendidikan agama yang disesuaikan dengan kemampuan dan tingkat pendidikan yang tersedia. Karena perubahan zaman dan konflik yang muncul dalam masyarakat akibat perbedaan agama, diperlukan pengembangan nilai-nilai moderasi keagamaan bagi para siswa. Pondok Pesantren Raudlatul Muta'alimin berfungsi sebagai pintu gerbang bagi siswa untuk lebih mendalami pengetahuan agama sebagai persiapan untuk keterlibatan mereka di masyarakat setelah meninggalkan pesantren. Oleh krena itu, salah satu tujuan utama Pondok Pesantren Raudlatul Muta'alimin adalah memberikan prioritas pada pendidikan agama agar siswa memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang agama yang dapat bermanfaat di masyarakat. Selain itu, pendidikan agama di pesantren didasarkan pada visi pendidikan agama yang ditetapkan oleh para pengasuh, guru, dan Mereka bertanggung jawab untuk mengevaluasi apakah pendidikan agama di pesantren berkembang sesuai dengan hasil yang diinginkan. Jika ada hambatan, guru dan administrator mencari pendapat dan saran dari manajemen untuk memastikan bahwa pendidikan agama sejalan dengan visi yang ditetapkan. IMTIYAZ. Volume 7 Nomor 1. Maret 2023 | 101 Agung Agus Setiawan, etc. Kepemimpinan Kiai Dalam Menguatkan Sikap ModerasiA Pondok Pesantren Raudlatul Muta'alimin memiliki kualifikasi dan standar sendiri untuk pendidikan agama, menekankan pada kecakapan pengetahuan agama, perkembangan pribadi, dan moral/etika. Seleksi guru . mengikuti metode tradisional, seringkali memilih lulusan pesantren terkemuka seperti Lirboyo Kediri, yang dikenal karena keunggulan dalam pendidikan agama, nilai-nilai moral, dan disiplin. Guru tidak hanya diharuskan memenuhi tugas mereka secara profesional tetapi juga untuk menyampaikan pengetahuan dengan efektif kepada siswa. Selama proses rekrutmen, lulusan pesantren terkemuka mendapat prioritas, tetapi beberapa guru juga dapat menjadi alumni Pondok Raudlatul Muta'alimin sendiri, asalkan memenuhi kriteria yang Pesantren Raudlatul Muta'alimin mengimplementasi moderasi agama pada lembaganya, mengikuti gaya praktek dari pesantren tedahulu. Pesantren modern lebih perbaikan kurikulum, sistem pengajaran, pengajar, dan para santri secara itu sendiri. Meninjau segi kurikulum, fokusnya pada pendidikan agama, tanpa mengabaikan mata pelajaran umum lainnya. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Bab 1 Pasal 1 Ayat . menyatakan bahwa Pesantren, juga dikenal sebagai pesantren salaf. Pondok Pesantren. Dayah. Surau. Meunasah, atau sebutan lainnya, adalah lembaga berbasis masyarakat yang dibangun secara individu, yayasan, organisasi kemasyarakatan Islam, maupun masyarakat. Lembaga-lembaga ini bertujuan menanamkan iman dan taqwa kepada Allah SWT, mewujudkan akhlak mulia, dan menegakkan ajaran Islam sebagai rahmat bagi alam semesta, tercermin dalam kerendahan hati, toleransi, keseimbangan, moderasi, dan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia melalui pendidikan, dakwah Islamiyah, perilaku teladan, dan pemberdayaan masyarakat dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di Indonesia, konsep "moderasi Islam" perat dipertanyakan oleh umat Islam sendiri. Perspektif mereka. Islam moderat adalah Islam tanpa radikalisme. Menurut bahasa Arab, moderasi dikenal dengan istilah "wasath" atau "wasathiyah," ialah bersinonim dengan "tawasuth" . , "i'tidal" . , dan "tawazun" . idak memiha. Mereka yang mempraktikkan wasathiyah dapat dikenal sebagai "wasith. " Terlepas dari terminologi yang digunakan, semuanya mengandung makna yang sama: keadilan, yang dalam konteks ini berarti memilih posisi tengah di antara opsi yang diciptakan dengan dasar landasan paradigma bersifar horizontal dan moderat. Tidak condong terhadap hal tertentu. Konsep yang sudah tertera dalam Surah Al-Baqarah ayat 143. Pesantren, moderasi telah membentuk karakteristik yang inklusi pada lembaga itu sendiri serta santri , termasuk pimpinan, ustadz, dan para santri. Mereka telah menerapkan moderasi dalam urusan keagamaan sejak awal, sebagaimana 102 | IMTIYAZ. Volume 7 Nomor 1. Maret 2023 Agung Agus Setiawan, etc. Kepemimpinan Kiai Dalam Menguatkan Sikap ModerasiA diwujudkan oleh cara Wali Songo menyebarkan Islam di Indonesia. Pendidikan merupakan aspek lain di mana ada pesantren modern mengimplementasi prinsip moderasi agama terhadap lembaganya, mengikuti model dari pesantren terdahulu. Pesantren ini lebih condong terhadap perbaikan kurikulum, sistem pengajaran, pengajar, dan para santri itu sendiri. Dari segi kurikulum, fokusnya pada pendidikan agama, tanpa mengabaikan mata pelajaran umum lainnya (Nisa Nur et al. , n. Pesantren seperti diatas menggabungkan elemen pesantren tradisional dengan gaya pendidikan formal dengan membangun unit-unit pendidikan seperti SD/MI. SMP/MTs. SMA/SMK/MA, hingga tingkat Kurikulum yang digunakan seringkali berdasarkan kurikulum pesantren salaf yang disesuaikan dengan kurikulum pendidikan Islam yang disponsori oleh Kementerian Agama di sekolah-sekolah (Madrasa. Sementara itu, kurikulum khusus pesantren dialokasikan dalam muatan lokal atau melalui kebijakan sendiri. Aspek lain dari kurikulum adalah distribusi waktu belajar, di mana para siswa mempelajari ilmu pengetahuan sesuai dengan kurikulum selama jam kuliah. Sisa waktu digunakan untuk studi intensif keislaman khas pesantren, seperti kajian kitab klasik Dalam proses pengajaran secara keseluruhan di Pondok Pesantren Raudlatul Muta'alimin, ada tiga tahap utama: persiapan sebelum mengajar, proses pengajaran itu sendiri, dan evaluasi setelahnya. Persiapan mengajar: Guru harus selalu mempersiapkan diri secara mental, menjaga ketulusan, dan meninjau materi yang akan diajarkan. Mereka berkolaborasi dalam merencanakan pelajaran untuk menstandardisasi kosakata dan informasi yang diberikan kepada siswa. Proses pengajaran: Guru membimbing siswa dalam menghafal pelajaran, memberi petunjuk untuk membaca dan menjelaskan materi, memberikan arti, menjelaskan konten, merangkum informasi, dan mengawasi kegiatan siswa di luar kelas. Guru tidak hanya menjadi pendidik tetapi juga menjadi contoh dan pengawas. Evaluasi: Siswa harus menunjukkan pemahaman menyeluruh tentang pendidikan agama untuk lulus. Evaluasi melibatkan ujian tertulis dan lisan, mencakup mata pelajaran seperti pengetahuan agama, praktik sehari-hari, dan hafalan Quran. Untuk menjaga kualitas pengajaran. Pondok Pesantren Raudlatul Muta'alimin memilih guru dari pesantren terkemuka atau lulusan mereka sendiri yang memenuhi kriteria yang dibutuhkan. Penekanannya tidak hanya pada pengajaran di dalam kelas tetapi juga pada memberikan contoh positif, memberikan panduan, dan memotivasi siswa IMTIYAZ. Volume 7 Nomor 1. Maret 2023 | 103 Agung Agus Setiawan, etc. Kepemimpinan Kiai Dalam Menguatkan Sikap ModerasiA di luar lingkungan pengajaran formal karena pondok pesantren, yang dikenal sebagai sekolah agama Islam tertua di Indonesia agar selalu eksis telah berkembang sejak penyebaran Islam dan telah memainkan peran penting dalam memberikan pencerahan kepada masyarakat. Sejalan dengan perkembangan tersebut, pondok pesantren menunjukkan bahwa lembaga ini tetap hadir dan konsisten dalam mendidik Masyarakat. Tujuan utamanya adalah menghasilkan individu yang berkepribadian kuat dengan pondasi pengetahuan agama yang kokoh. Dalam hal kelulusan, siswa menjalani berbagai ujian tertulis dan lisan, termasuk ujian pengetahuan agama dan praktik sehari-hari. Evaluasi ini memastikan bahwa siswa meninggalkan pesantren dengan pemahaman mendalam tentang prinsip-prinsip agama, yang dianggap penting untuk peran mereka di Sesuai dengan itu, sesi diskusi agama yang teratur yang dipimpin oleh Kyai Ibnu AthoAoillah berkontribusi pada pengembangan sikap moderat di kalangan siswa, mendorong toleransi dan kehidupan bersama yang damai dalam Pondok Pesamtren. Kegiatan Pesantren Yang Mencakup Nilai Moderasi Yaitu adalah sikap moderat yang berpusat pada prinsip hidup yang menegaskan pentingnya bertindak adil dan jujur dalam kehidupan bersama. Ini adalah sikap yang ramah terhadap keberagaman dan menghindari sikap ekstrem. Pendekatan ini memungkinkan seseorang menghargai kebaikan dan kebenaran dari berbagai kelompok, memungkinkan pengikut Ahlussunnah waljama'ah tetap berada di tengah-tengah. Nilainilai ini ditanamkan pada para siswa di Pondok Pesantren Raudlatul Muta'alimin melalui pembentukan sikap selama pembelajaran kitab suci, diskusi, salat berjamaah, dan Dengan demikian, dalam kehidupan sehari-hari, para siswa dari berbagai daerah dapat bersikap adil dan moderat. Selain itu, para siswa di Pondok Pesantren Raudlatul Muta'alimin yang tidak tinggal secara permanen di sana, karena institusi ini tidak hanya mempertahankan ajaran Islam tradisional tetapi juga memberikan pendidikan formal, memiliki lebih banyak interaksi dengan masyarakat umum. Bagi siswa yang tidak tinggal di pesantren, nilai-nilai moderat dan i'tidal dapat dilihat dalam pendidikan formal. Selama pembelajaran kelompok, materi sering kali dirancang untuk mendorong partisipasi saling antar siswa, secara tidak langsung mengajarkan mereka untuk bersikap adil dan moderat terhadap sesama mereka. Selain itu, guru sering menyarankan agar siswa berperilaku jujur dan berintegritas dalam berinteraksi dengan masyarakat. Tasamuh Tasamuh adalah sikap penerimaan terhadap perbedaan, terutama dalam masalah agama, khususnya yang melibatkan perbedaan dalam hukum Islam . hilafiyyah atau 104 | IMTIYAZ. Volume 7 Nomor 1. Maret 2023 Agung Agus Setiawan, etc. Kepemimpinan Kiai Dalam Menguatkan Sikap ModerasiA furu') atau masalah-masalah dalam masyarakat dan budaya. Ini adalah sikap merangkul keragaman dan menerima kehidupan sebagai manifestasi dari keragaman. Ini melibatkan kemampuan untuk menerima pendapat yang berbeda dan menghadapinya dengan sikap Toleransi adalah sikap yang teguh dan seimbang, dan Tasamuh . sangat bermanfaat untuk pluralisme pemikiran. Berbagai ide yang muncul dalam masyarakat Muslim telah mendapat pengakuan yang menghargai. Keterbukaan yang luas terhadap berbagai pendapat memungkinkan Aswaja memiliki kemampuan untuk meredam berbagai konflik internal dalam komunitas Muslim. Pola ini sangat terlihat dalam wacana pemikiran hukum Islam. Sikap toleran yang ada di Pondok Pesantren Raudlatul Muta'alimin tercermin melalui integrasi dan penghargaan terhadap komunitas non-Muslim di sekitar pondok. Tidak hanya santri yang tidak menetap didorong untuk bersikap mempertimbangkan, tetapi selama perayaan nonIslam, mereka diinstruksikan untuk tidak mengganggu ketertiban, bahkan diwajibkan untuk menunjukkan rasa hormat. Sikap ini juga terlihat dalam kehidupan sehari-hari para siswa ketika, selama musyawarah, mereka diajarkan untuk menghargai pendapat sesama Ini merupakan bentuk penanaman sikap toleransi di Pondok Pesantren Raudlatul Muta'alimin. Tawazun Tawazun mengimplikasikan karakter dan sikap moderasi. Sikap moderat ini berkomitmen pada isu-isu keadilan, kemanusiaan, dan kesetaraan, dan berarti tidak memiliki perspektif. Mereka menginternalisasi sifat tegas meskipun tidak keras karena selalu condong pada posisi moderat, meskipun keberpihakannya dibuat tanpa berdampak orang lain. Keseimbangan adalah perspektif yang mengsikapi segala hal secara moderat, bukan berlebihan atau kurang, bukan ekstrem. Adapun Pondok Pesantren Raudlatul Muta'alimin adalah pesantren yang, selain memberikan pendidikan formal, juga menawarkan pendidikan non-formal. Oleh karena itu, para siswa diwajibkan mengikuti semua aturan di pesantren. Selain itu, karena para siswa tidak memiliki tempat tinggal tetap, mereka harus memiliki sikap tawazun, karena hal ini secara tidak langsung menjadi suatu tantangan bagi para siswa dalam menyeimbangkan semua kegiatan pembelajaran dan sosialisasi. Dalam sikap tawazun siswa di Raudlatul Muta'alimin terdapat rasa peduli terhadap sesama siswa ketika ada yang sakit dan dikirim ke rumah sakit. Mereka juga tidak dengan mudah menjelek-jelekkan sesama siswa ketika ada masalah. KESIMPULAN Pola kepemimpinan Kiai dalam mengatur dan mengelola pondok pesantren Raudlatul Muta'alimin didasarkan pada kepemimpinan karismatik-demokratis. Kepemimpinan Kiai ditandai dengan tanggung jawab, perhatian penuh, karisma, dan IMTIYAZ. Volume 7 Nomor 1. Maret 2023 | 105 Agung Agus Setiawan, etc. Kepemimpinan Kiai Dalam Menguatkan Sikap ModerasiA pengaruh yang signifikan terhadap para santri dalam pengelolaan pondok pesantren. Sikap, perilaku, dan tindakan Kiai diamati, ditiru, dan diartikan oleh para santri dalam kehidupan sehari-hari. Kiai senior membimbing, mendidik, dan melindungi Kiai junior, dan Kiai junior menghormati Kiai senior. Pola kepemimpinan Kiai di pondok pesantren Raudlatul Muta'alimin mengikuti budaya feodal dan paternalistik yang selalu mengikuti garis keturunan ayah. Strategi pengembangan Pondok Pesantren Raudlatul Muta'alimin dari berdirinya hingga saat ini, selalu mengikuti perkembangan dan kebutuhan zaman. Strategi ini menjadi cara bagi pengurus pondok pesantren Raudlatul Muta'alimin untuk meningkatkan output dan hasil pondok pesantren. Strategi pembelajaran melibatkan keteladanan, pembiasaan, pelatihan, dan pendidikan yang berorientasi pada pembelajaran salaf dan modern Pondok pesantren Raudlatul Muta'alimin mengelola pembelajaran tradisional melalui sistem sorogan, wetonan, halaqah, dan bahtsul masa'il untuk masa lalu, sedangkan untuk masa sekarang, menggunakan metode pembelajaran modern dan Tantangan yang dihadapi Pondok Pesantren Raudlatul Muta'alimin merupakan bagian dari permasalahan kehidupan bermasyarakat. Faktor pendukung pembelajaran meliputi: . kurangnya kesadaran, kemauan, kompetensi, dan keahlian para Kiai senior dalam meningkatkan dan mengembangkan manajemen pondok pesantren, . menjaga karakter mulia dengan nilai-nilai keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah Islamiyah, dan nilai-nilai spiritual, dan . hubungan antara Kiai, santri, dan masyarakat yang ditandai dengan adanya tradisi yang matang. Faktor penghambat meliputi: . kurangnya sarana dan prasarana pendukung, . anggaran pendidikan yang terbatas, . keterbatasan pembelajaran lokal dan rekomendasi untuk fasilitas pembelajaran, dan . manajemen pondok pesantren yang lemah dan masa studi yang cukup lama. Dalam mengelola pembelajaran salaf dan modern di pondok pesantren Raudlatul Muta'alimin terus dilakukan upaya untuk mengatasi kendala-kendala Solusinya melibatkan: . Kiai, dengan kepemimpinan karismatik-demokratis, terus membangun komunikasi dan kerjasama dengan pemangku kepentingan lainnya, . pengelola pondok pesantren Raudlatul Muta'alimin perlu mengembangkan upaya kreatif berwirausaha untuk memungkinkan pertumbuhan pondok pesantren Raudlatul Muta'alimin . memperkuat kepengurusan pondok pesantren Raudlatul Muta'alimin . kerjasama antara Kiai senior, pengurus dan lembaga terkait seperti ikatan alumni, dalam upaya pengembangan dan peningkatan mutu pondok pesantren, dan . Kiai senior dan pengelola pendidikan membatasi aliran informasi yang diedarkan kepada peserta didik, dengan menekankan penguatan nilai-nilai agama dan pengetahuan umum. 106 | IMTIYAZ. Volume 7 Nomor 1. Maret 2023 Agung Agus Setiawan, etc. Kepemimpinan Kiai Dalam Menguatkan Sikap ModerasiA DAFTAR PUSTAKA