Makna Simbolik Bentuk Fisik (Rup. Rebab Sunda Euis Karmila1. Jaeni B Wastap2. Sukmawati Saleh3 Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung Jl. Buah Batu No. Cijagra. Kec. Lengkong. Kota Bandung. Jawa Barat 40265 e5@gmail. com, 2jaeni@isbi. id, 3sukmawatisaleh@isbi. ABSTRACT This article aims to find out the symbolic meaning of the physical form . of Rebab in Sundanese The unpublished symbolic meaning is the basis for writing this article. The interview was conducted as supporting reference material for the search for the meaning of symbols in Sundanese Rebab. The research method is qualitative based on data obtained from interviews, literature studies, and observation of objects through documentation. Hans-Georg GadamerAos hermeneutic theory is a theoretical basis in the interpretation of the physical form . of Sundanese Rebab that interpret through the context of experience. As a result of this research, it can be concluded that the physical form of the Sundanese Rebab symbolically represents human organs symbolizing women. The meaning is taken from empirical experience, as a symbol that learning rebab requires a process of cultivating a taste for a long time. Rebab is interpreted as a change of problem, a change of part, or a change of state, as a symbolic meaning related to the technique of playing the rebab which experiences repetition, it is related to the primordial pattern that exists in Sundanese society. Keywords: Sundanese Rebab. Symbolic Meaning. Physical Form. Hermeneutics ABSTRAK Artikel ini bertujuan untuk mengetahui makna simbolik bentuk fisik . Rebab pada masyarakat Sunda. Makna simbol yang belum terpublikasi menjadi dasar penulisan artikel wawancara yang dilakukan sebagai bahan pendukung referensi pencarian makna simbol pada Rebab Sunda. Metode penelitian yang dilakukan yakni kualitatif berdasarkan data yang diperoleh dari wawancara, studi pustaka, serta pengamatan terhadap objek melalui dokumentasi. Teori hermenutika Hans-Georg Gadamer sebagai landasan teori dalam pemaknaan bentuk fisik . Rebab Sunda yang memaknai melalui konteks Hasil dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa bentuk fisik Rebab Sunda secara simbolik merupakan sebuah representasi dari organ tubuh manusia simbol dari perempuan. Makna yang diambil dari pengalaman empirik, sebagai simbol bahwa mempelajari rebab membutuhkan proses mengolah rasa dengan waktu yang lama. Rebab diartikan sebagai pergantian masalah, pergantian bagian, atau pergantian keadaan, sebagai makna simbolik berhubungan dengan teknik bermain rebab yang mengalami pengulangan, hal tersebut berkaitan dengan pola primordial yang ada pada masyarakat Sunda. Kata kunci: Rebab Sunda. Makna Simbol. Bentuk Fisik. Hermeneutika Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 8 No. 1 Juni 2023 PENDAHULUAN teori, interpretasi dan penjelasan yang telah, sedang terjadi, yang diformulasikan dengan linguistik (Jamaludin, 2022, hlm. Makna simbolik bentuk fisik Rebab Sunda AoAoadaAoAo pada filsafat Sunda, yakni dari yang awalnya kosong kemudian AoAomengadaAoAo melalui proses menjadi ada. Menurut Sumardjo, kosmologi Sunda terdiri dari dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah atau disebut juga pola tiga. Pola tiga identik dengan simbol-simbol paradoks berupa AoAodunia tengahAoAo untuk mengharmonikan hal-hal yang bersifat dualistik-antagonistik . 4, hlm. Simbol yang digunakan pada masyarakat primordial Sunda dominan mengambil konsep dari Tritangtu Sunda, yakni tekad . , ucap . , lampah . yang merupakan manifestasi dari suwung yang artinya keberadaan yang tidak diketahui oleh manusia (Sumardjo, 2019, hlm. Simbol sebagai tanda segala sesuatu yang bermakna, memiliki makna referential. Fungsi dan makna suatu benda yang mengalami pergeseran nilai. Mondialisasi atau dikenal dengan istilah globalisasi bukanlah suatu hal yang baru bagi orang Sunda . 1: . Suatu simbol mengacu pada sesuatu yang lain, sedangkan tanda tidak mengacu pada apa-apa. Sebuah tanda pada dasarnya Aotidak bermaknaAo tetapi dia mempunyai nilai. Nilai ini lahir jika tanda berada dalam konteks. Tanpa konteks, tanda tidak bernilai. Berbeda dengan simbol, yang masih bisa bermakna walaupun konteksnya tidak ada, walaupun kita tidak tahu makna mana yang diacu, karena makna suatu simbol pada suatu waktu dan ruang tertentu, selalu tergantung pada konteksnya juga . Menurut R. Koesoemadinata Rebab masuk ke Indonesia berasal dari pengaruh Persia yang dibawa oleh pedagang Islam . 9, hlm. Rebab juga disebut Lengek, orang yang sedang memainkan rebab disebut ngalengek artinya ngarebab/merebab, yang sering membawakan lagu-lagu AoAongalengisAoAo, yakni lagu-lagu yang menyayat hati . 5, hlm. Walaupun sedih sebagai konotasi yang Maksud ngalengis disini adalah persoalan dinamika. Karena rebab sunda pada saat ini, dalam memainkannya sangat atraktif seperti pada rebaban gaya topeng Bekasi. Rebab secara fungsinya terdiri atas dua suku kata dari Bahasa Jawa. Yakni Re dan Bab. Re yang artinya Kembali/ mengulang/ pergantian, serta Bab artinya masalah/problem/bagian/keadaan. Jadi pada intinya rebab diartikan sebagai pergantian masalah, pergantian bagian, atau pergantian keadaan (Yudoyono, 1984. Sesuai dengan pengertian rebab diatas, dalam pertunjukannya memiliki konsep pengulangan motif. Selain itu. Rebab Sunda dalam fungsinya sebagai pengiring lagu dan pamburba lagu memiliki ciri khas dari segi organologi. Organologi Rebab Sunda berbeda dengan Rebab Jawa, walaupun dari segi bentuknya mempunyai kemiripan, akan tetapi nama dari setiap organologinya tidak sama. Menurut K. Frank dalam Kepes . menyebutkan bahwa pada hakikatnya memiliki nilai simbolik sejarah, narasi simbolik seperti mitos serta legenda yang berkaitan dengan masa lampau serta menjadi ciri atau tanda bahwa hidup manusia dikuasai oleh harapan dan memori, kemudian diekspresikan ke dalam berbagai jenis kepercayaan dan Karmila. Wastap. Saleh: Makna Simbolik Bentuk Fisik (Rup. Rebab Sunda marengan, muntutan, mapaesan. Euis Karmila, membahas tentang fungsi Rebab dalam penyajian Celempungan, makna ragam hias, dan teknik ornamentasi. Dimana makna disini mengambil konsep dari makna yang sudah ada pada Rebab Jawa yang secara fisik . memiliki Kajian-kajian terdahulu belum ada yang spesifik membahas tentang makna simbolik organologi Rebab Sunda, kebanyakan kajian tentang kreativitas gaya pengrebab dan istilah ornamentasi dalam rebab Oleh karena itu, tujuan penulisan jurnal ini sebagai gambaran makna simbol fisik rebab sunda yang tidak terlepas dari nilai-nilai kearifan lokal. Nilai suatu benda atau karya yang memiliki simbol, serta tidak akan terlepas dari aspek pengindraan maupun aspek rasa atau intuisi. Keindahan . tersebut diletakan pada suatu benda . , ciptarasa maupun jagad raya. Ada beberapa kajian terdahulu yang membahas tentang Rebab Sunda, diantaranya membahas tentang teknik menabuh dasar Rebab Sunda gaya Priangan, yang ditulis oleh Pandi Upandi dkk. tahun 1992, menjelaskan tentang fungsi rebab secara umum, dasardasar penjarian, aturan dalam bermain rebab, dan pengenalan organologi. Koesoemadinata tahun 1969, membahas tentang bagaimana nama organologi rebab dan bahannya secara gambaran, namun di luar konteks organologi ada pembahasan lain seperti pembahasan mengenai posisi, cara memainkan, laras dan penjarian. Penulisan mengenai organologi ini tidak begitu dikupas mendalam. Caca Sopandi yang membahas mengenai istilah ornamentasi dalam teknik memainkan Rebab Sunda. Rian Permana membahas tentang metode pembelajaran Rebab Sunda yang meliputi teknik dasar tengkepan dan teknik dasar gesekan. Rian Permana, juga membahas tentang fungsi Rebab Sunda dalam pertunjukan karawitan Sunda diantaranya merean, mangkatan, nganteur. Metode Metode yang digunakan dalam penelitian ini bersifat kualitatif. Syaodih . menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang ditujukan untuk mendiskripsikan dan aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, individual maupun kelompok. Pendapat lain yang disampaikan Moleong . menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alami dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah . 6, hlm. Langkahlangkah dalam penelitian kualitatif adalah sebagai berikut. Pengumpulan data, dilakukan dengan berbagai cara seperti terjun langsung wawancara secara mendalam dengan Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 8 No. 1 Juni 2023 subjek survey, survey dokumenter, dan literatur review. Untuk mencari data yang relevan. Wawancara ini dilakukan bukan hanya pada seniman atau praktisi rebab Sunda, juga pada seniman atau praktisi rebab Jawa. Karena penelitian serupa mengenai simbol sekilas sudah ada di rebab Jawa. Reduksi dan klarifikasi data, ini dilakukan untuk menyaring data mentah dan memilih data yang relevan sebagai pendukung data. Penarikan kesimpulan, merupakan langkah terakhir dari prosedur penelitian kualitatif. informasi yang telah dikumpulkan, direduksi dan diklarifikasi datanya, kemudian ditarik kesimpulan yang relevan atau ditarik benang merahnya. kondisi desentralisasi manusia. Manusia bukan lagi sebuah subjek dari semesta atau pusat dari sejarah. Dengan kata lain, manusia bukan sebuah subjek dari pemaknaan realitas (Sumaryono, 1993. Maka, pembicaraan manusia sudah dibicarakan sebagai objek dari ilmu pengetahuan, khususnya setelah fase logosentris. Hermeneutika Gadamer adalah sebuah proses dialektika antara teks, pengarang, dan pembaca untuk mendapatkan sebuah sintesis pemahaman. Dalam konteks pemahaman sebuah bentuk fisikal . isik reba. , maka konteks yang akan dipergunakan adalah membaca simbol . sebagai penanda dan petanda, dan melibatkan keinginan dari desainer bentuk rebab, sekaligus resepsi pemirsanya. Dialektika dari ketiga unsur tersebut yang kemudian disimpulkan untuk menerjemahkan sekaligus menjelaskan dan mengekspresikan pemaknaan atau nilai filosofis dari bentuk fisik rebab Sunda. HASIL DAN PEMBAHASAN Premis Rebab Sunda Sebagai Simbol Perempuan Aristoteles menyebut kearifan lokal sebagai phronesis, yang berdasarkan pengetahuan yang konkrit. Bentuk fisik Landasan Teori Hermeneutika Gadamer Hermeneutika Gadamer adalah dasar pijakan yang digunakan dalam proses Karena itu teori ini merupakan serangkaian klaim ontologis perihal daya dan cara kerja dari apa yang disebut dalam metafisika tradisional dengan Aujiwa manusiaAy (Geistmannlic. Hermeneutika filosofis menyibukkan diri dengan apa yang membuat pemahaman jadi mungkin dan kenapa pemahaman itu bisa mungkin . 0, hlm. Diskursus perspektif Hans-Georg Gadamer dimulai dengan penolakan antroposentris, atau Gambar 1. Bentuk tubuh manusia, diunduh pada tanggal 1 Mei 202 oleh Ven Tour (Sumber: w. Karmila. Wastap. Saleh: Makna Simbolik Bentuk Fisik (Rup. Rebab Sunda Menurut teori hermeneutika Gadamer, menyatakan bahwa dalam metafisika tradisional dengan Aujiwa manusiaAy (Geistmannlic. , pada konsep AoAopengalamanAoAo historis dan dialektis. Bentuk tubuh perempuan yang disimbolkan dalam bentuk rebab Sunda hadir dalam resepsi pemirsanya. Beberapa wawancara yang disebutkan sebelumnya menunjukkan bahwa pemirsa, dan desainer . ang juga praktisi reba. memiliki pandangan yang sama. Visi yang dihadirkan dalam bentuk tubuh perempuan adalah sebuah imaji dari suara perempuan yang mampu menyampaikan hal-hal yang liris dalam bentuk melodis. Meski rebab dimainkan oleh laki-laki, hal yang sama masih tetap terasa dalam resepsi para praktisi rebab ketika mendengar suara Berkaitan pengalaman memahami makna simbolik rebab sunda dilihat dari estetika paradoks . stetika primordia. Jakob Sumardjo, yakni membaca fenomena budaya artefak dari perspektif pola. Masyarakat Sunda, memiliki pedoman tritangtu atau tiga Tri Tangtu dapat disimbolkan oleh kepercayaan masyarakat Sunda terhadap asal-usul semesta berdasarkan manifestasi Sang Hyang ke 3 Batara (Kersa. Kawasa, dan Karan. Tritangtu atau pola hubungan tiga sebagai salah satu aspek dasar filosofis budaya Sunda yang dapat ditemukan dalam naskah Sunda lama. Sanghyang Siksakandang Karesian tahun 1518 M. Konsep Tritangtu yang mengandung bayu, sabda, hedap atau yang sekarang kita sebut sebagai tekad, ucap, dan lampah (Sumardjo, 2019, hlm. Dalam Naskah Sunda Kuno Sanghyang Siksakang Karesian. BAB XXVI, membahas tentang tritangtu yang berbunyi: Gambar 2. Bentuk Fisik Rebab Sunda (Dokumentasi: Euis Karmila, 2. Rebab secara simbolik merupakan sebuah representasi dari organ tubuh manusia. Mulyana . mengatakan bahwa. Rebab teh bentuk na siga jelema atawa manusa. Rebab teh simbol istri, yang artinya Rebab itu bentuknya seperti orang atau manusia. Rebab itu simbol perempuan . awancara, 30 Januari 2. Dari gambar tersebut, dapat dilihat bahwa interpretasi bentuk fisik rebab sunda bisa dikatakan benar karena dari bentuk secara eksplisit terlihat bahwa rebab Sunda menggambarkan perempuan. Hal tersebut sesuai dengan budaya masyarakat Sunda yang memandang perempuan sebagai sosok yang memiliki kedudukan penting yang perlu dihormati, dihargai dengan baik, terutama bagi perempuan dengan status menikah, atau Ibu, yang menjadi pelindung bagi anak atau keluarganya (Perempuan, 2. Dalam masyarakat Sunda, dikenal dengan peribahasa. AuIndung tunggul rahayu, bapa tangkal darajatAy yang berarti kesejahteraan dan kebahagiaan anak bergantung pada ridho atau kerelaan seorang ibu, dan doAoa atau kerelaan dari seorang Perempuan Sunda atau perempuan pasundan, memiliki sifat mandiri dan mampu menjaga serta mempertahankan eksistensinya dengan laki-laki. Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 8 No. 1 Juni 2023 AoAoIni ujar sang sadu basana mahayu Ini tri-tangtu di bumi. Bayu kita pina/h/ka prebu, sabda kita pina/h/ka rama. dap kita pina/hka resi. Ya tritangtu di bumi, ya kangken pineguh ning bwana ngara. AoAo Artinya: Ini ujar sang budiman waktu menyentosakan pribadinya. Inilah tiga ketentuan di dunia. Kesentosaan kita ibarat raja, ucap kita ibarat rama, budi kita ibarat resi. Itulah tritangtu di dunia, yang disebut peneguh dunia. disilangkan dan pandangan hanya fokus pada Rebab Sunda . awancara, 18 Maret Manusia yang disebut Pardiman tidak mengarah ke perempuan maupun lelaki, namun lebih universal. Maka, hipotesis Pardiman masih dianggap bukan sebuah antitesis dari pernyataan yang menyebutkan bahwa bentuk fisik rebab masih menyimbolkan seorang perempuan. Rebab Sunda dalam Mitologi Sunda termasuk kedalam pola tiga, karena menjadi satu kesatuan yang harmoni. Rebab melambangkan dualitas tunggal yaitu lakilaki dan perempuan. Dalam waditra atau organologi Rebab terdapat tiga kesatuan kosmik yaitu langit, dunia manusia, bumi. Perempuan dalam Rebab Sunda bertumpu pada dunia bawah. Perempuan dengan bumi menyatu, laki-laki dengan langit Posisi di Sunda, perempuan yang harusnya diatas justru bertopang di dunia Sebaliknya laki-laki bertopang di dunia atas. Perempuan melambangkan langit, dunia atas justru bertumpu di Tetapi di jawa, laki-laki dasarnya langit dan perempuan dasarnya bumi. Mengapa demikian? Karena masyarakat Sunda hidup dari hasil berladang. Sehingga tumbuh-tumbuhan itu, tumbuh dari Sedangkan orang Jawa hidup dari bersawah, tumbuh-tumbuhan itu tumbuh jika ada mata air . yang berasal dari Tanah itu bagi orang Jawa adalah Ibu pertiwi, jadi tanah bagi orang Jawa adalah Sedangkan di Sunda, langit justru perempuan, jadi kalau di Sunda itu perempuan diatas bumi itu dibawah. Lakilaki sebagai bapak kuasa. Oleh sebab itu perempuan di Sunda sangat dominan. Sunda, semakin bawah semakin sakral, dan semakin atas semakin sakral. Wahyu simbol dalam bagian rebab diantaranya: Sumardjo Rebab secara bentuk fisik melambangkan Ini dilihat dari organologi secara bentuk fisik serta mitologi Sunda yang menyatakan bahwa tanah Sunda, dimana langit adalah sebagai simbol perempuan dan bumi adalah simbol lakilaki. Berbeda dengan Jawa, langit adalah laki-laki dan bumi adalah perempuan. Oleh sebab itu, pertiwi dalam bahasa Sansekerta artinya ibu bumi, artinya perempuan sebagai simbol bumi . awancara, 8 September 2. Pardiman menyatakan bahwa Rebab merupakan simbol manusia sedang bertapa atau semedi karena kedua kaki Gambar 3. Posisi duduk saat bermain Rebab Sunda (Dokumentasi: Euis Karmila, 2. Karmila. Wastap. Saleh: Makna Simbolik Bentuk Fisik (Rup. Rebab Sunda Bagal tepus pada organologi Rebab Sunda zaman dahulu memiliki garis 3, yaitu simbol dari pola 3. Di Sunda hanya ada di keraton Jawa. Galuh. Pajajaran. Hidupnya dari bersawah. Karena Istana tidak boleh hidup berpindah-pindah berbeda dengan Pola 3 mengharmonikan dualitas yang berlawanan atau paradoksal. Akan tetapi pada saat ini, garis pada bagian bagal tepus sudah tidak terpatok lima tetapi sesuai kreativitas pengrajin rebab Sunda. Lingkaran garis bagal tepus sebagai simbol bahwa dalam proses mempelajari rebab membutuhkan waktu yang tidak sedikit, setiap orang mempunyai waktu yang berbeda-beda dalam mengolah rasa untuk mempelajari dan menguasai rebab hingga bisa menjadi seorang ahli (Pardiman, wawancara, 18 Maret 2. Sopandi menyatakan bahwa salah satu waditra yang dikategorikan sebagai waditra yang memiliki kesulitan paling tinggi serta memiliki posisi sebagai tempat tertinggi dalam wilayah peran dan fungsi dalam karawitan Sunda adalah Rebab (Sopandi, 2017, hlm. Penyebabnya adalah, peranan dan fungsi seorang pengrebab selain menguasai melodi haruslah mengetahui arkuh lagu, posisi lagu dan sebagaimana fungsi rebab dalam karawitan Sunda di antaranya, mangkatan, merean, nungguan, marengan, nganteur, muntutan . (Permana, 2019, hlm. Karena secara teknik memainkan, rebab tidak memiliki grip seperti halnya gitar, ataupun alat tradisi lainnya seperti kecapi, suling, gambang sudah memiliki posisi memainkan dengan jelas, sudah pasti posisinya. Sedangkan rebab sekalipun sudah diberikan titik atau tanda, nadanya bisa saja bergeser bisa karena pengaruh kawat, tumpang sari, ataupun kulit Untuk fungsi rebab dalam pertunjukan karawitan sunda sebetulnya hanya mempunyai tiga fungsi yaitu merean, marengan dan muntutan. Merean yang dimaksud mencakup mangkatan, merean Marengan di dalamnya terdapat nganteur sinden, nungguan sinden, muntutan didalamnya terdapat mapaesan. Gambar 4. Bagal Tepus buatan zaman dahulu koleksi rebab Agus Sofyan Pengrajin Rebab asal Ciater Subang (Dokumentasi: Euis Karmila, 2. Wangkis dan Batok Wangkis merupakan bidang muka yang terbuat dari selaput tembolok kerbau atau lembu. Selaput ini disebut wangkis Masalah asasoris pucuk telinga kiri dan kanan simbol kebenaran/kejujuran, turun kebatok bentuknya hati harus bersih pemikiran jangan terpengaruh dengan suara yang lain, kesetan harus bisa ngimbangin rasa. Steman/nyurupin nada harus cun/ngepas jangan sampai sumbang/ Dalam arti harus hati-hati sebelum bicara dikeluarkan, bicaralah didalam hati Makanya tugas rebab harus bisa ngimbangin sinden dan surupan gamelan . awancara, 1 Oktober 2. Makna Simbolik Bentuk Fisik Rebab Perspektif Budaya Sunda Bagal Tepus Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 8 No. 1 Juni 2023 Batokan Rebab Sunda, di dalamnya merupakan simbol dualitas, antara lakilaki dan perempuan. Yang kemudian di harmonikan oleh udel atau lubang Wangkis yang berbentuk hati sevara implisit didalam tubuh manusia terdapat organ hati sebagai tempat Wangkis dan batok yang berbentuk hati adalah langit, di Sunda langit adalah perempuan, sedangkan di Jawa adalah laki-laki. atau babat. Badan raras tersebut terdiri dari separuh atau setengah tempurung nyiur . atok kelap. yang pada bibirnya dibentangi wangkis itu. Wangkis inilah yang menjadi bidang muka badan raras rebab itu. Wangkis dan batok yang berbentuk daun sirih, dalam istilah Sunda disebut dengan AoAongadaun seureuhAoAo. Wangkis dan batok, juga berbentuk seperti hati, memiliki makna simbol bahwa ngeset atau memainkan rebab harus dari hati . Tihang Tihang Rebab Sunda umumnya terbuat dari bahan kayu nangka, sonokeling, dan Menurut Sumardjo. Tihang adalah simbol laki-laki. Karena tihang bentuk penghubung antara dunia atas dan bawah (Sumardjo, 2. Hal ini dinyatakan Sumardjo untuk memperkuat teorisasinya tentang hubungan antara fisik rebab dengan pola tiga yang mendasari Sunda. Laki-laki adalah dunia atas, yang kemudian bertumpu pada perempuan yang menjadi bagian bawah rebab. Namun bila menafsirkannya dengan pandangan hermeneutik Gadamer, maka rebab adalah penyimbolan fisik manusia . secara utuh. Maka bagian tihang ini merupakan penyimbolan dari tubuh manusia, dimana sumber-sumber tenaga diolah, dilatih, dirasakan, dan dikeluarkan dalam bentuk bunyi. Gambar 5. Bentuk batok rebab sebelum diwangkis, koleksi Rebab Agus Sofyan pengrajin rebab asal Ciater Subang, (Dokumentasi: Euis Karmila, 2. Gambar 7. Tihang Rebab Sunda. Koleksi Agus Sofyan pengrajin Rebab Sunda asal Ciater Subang, (Dokumentasi: Euis Karmila, 2. Gambar 6. Wangkis . atok yang sudah dilapisi kulit binatan. (Dokumentasi: Euis Karmila, 2. Karmila. Wastap. Saleh: Makna Simbolik Bentuk Fisik (Rup. Rebab Sunda kawat yang rarasnya Lima/Nem (Mani. bersama Rara Nangis (Perawan menangi. atau Istri . stri/Wanita/wanod. Interval antara raras kedua kawat kawat itu ialah interval kempyung . sebesar 706 cents. Jika kawat djindra . awat djele. dan kawat rara nangis . awat istr. itu digesek atau dipetik rampak . Bersam. , maka terdengar indah. Dapat dikatakan bahwa kawat djindra dan kawat rara nangis itu Ngempjung rarasnya, artinya runtut atau sieup . armonis dan memuaska. , seperti seorang pria dan seorang Wanita yang baru kawin. Maka karena itu, kawat djaler dan kawat istri yang sudah diraras . isieup=ditalaka. itu disebut Panganten Anyar . empelai bar. 9, hlm. Dalam penyajian karawitan Sunda, nada yang Aubergerak atau dinamisAy diibaratkan melodi, sedangkan nada yang AoAomati AoAodiibaratkan dengan nada yang tetap . iam atau stati. Secara fungsional dalam karawitan Sunda, fungsi nada melodis dan statis akan selalu berdampingan atau berpasangan. Dapat dilihat dalam permainan gamelan salendro, fungsi nada yang bersifat melodis dapat dilihat pada tabuhan saron, peking, rebab, serta vokal sinden/alok (Herdini, 2012, hlm. Dalam perspektif hermeneutika, maka senar lebih terkesan sebagai pakaian yang berada di luar tubuh. Hal ini yang digunakan untuk memperindah, sekaligus simbol dari etika dan kesopanan. Bila dikaitkan dengan penyimbolan tubuh seorang perempuan, maka senar menjadi penutup tubuh yang melindungi sekaligus memperindah seorang perempuan. Senar/ kawat Sumardjo berpendapat bahwa senar atau kawat merupakan penghubung bumi dan langit. Senar melambangkan dualitas laki-laki dan perempuan. Nada rendah adalah laki-laki dan tinggi adalah perempuan (Sumardjo, 2. Gambar 8. Senar atau Kawat Rebab dari bahan Kuningan (Dokumentasi: Euis Karmila, 2. Gambar 9. Rebab Sunda (Dokumentasi: Euis Karmila, 2. Teknis sebelum memainkan Rebab Sunda, kedua senar Rebab harus dilaras atau menyetem . terlebih dahulu, bisa dengan diselaraskan dengan alat musik melodis seperti dengan gamelan, gambang, kecapi atau alat melodis lainnya. A Koesoemadinata menyebutkan bahwa, nada yang digunakan di senar 1 . /Da/baran. , dan senar 2 . /ti /galime. Kawat yang rarasnya Pangasih/Gulu itu Namanya Djindra atau Djaler . , sedang Tumpang sari Tumpang sari berfungsi sebagai penyangga, menjaga jarak dari rapat Tumpang sari yang mendukung suara rebab menjadi lebih baik terbuat dari kayu jati yang di amplas tipis untuk Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 8 No. 1 Juni 2023 Dampit Dampit adalah bagian organologi Sunda disisipkan setelah tulang/sisir. Inilah yang membedakan Rebab Jawa dan Sunda, karena di Jawa tidak memakai dampit. Dampit ini pada zaman dahulu dibuat dari bahan yang sederhana seperti potongan sendal jepit yang kemudian disisipkan setelah tumpang sari. Namun, pada saat ini, dampit terbuat dari sendal yang digulung kain lalu dijahit, serta gulungan kain yang dibalut lalu disatukan kemudian dijahit. Dampit menggambarkan bibir atau mulut . 5, hlm. menyangga senar agar bisa menghasilkan Bagian ini lebih bersifat fungsional ketimbang simbolik. Gambar 10. Tumpang sari (Dokumentasi: Euis Karmila, 2. Tulang/ sisir Dampit, sisir/tulang, dan tumpang sari Ketiganya adalah simbol kesatuan kosmik pola tiga. Sisir ini biasanya terbuat dari tulang sapi sisa-sisa dari tulang daging yang telah di masak. Akan tetapi, pada zaman sekarang sisir bukan hanya diambil dari sisa-sisa tulang, melainkan dari bahan plastik, kayu. Sama seperti tumpang sari, bagian ini juga lebih bersifat fungsional ketimbang menunjang simbolisasi rebab. Hal ini bisa juga dipertimbangkan sebagai tambahan aksesoris yang digunakan seorang manusia, yang bisa membuatnya lebih cantik dan anggun, bila masih dikaitkan dengan penyimbolan rebab sebagai tubuh seorang perempuan. Gambar 12. Dampit yang terbuat dari sandal jepit yang digulung kain (Dokumentasi: Euis Karmila, 2. Tali Rarawit Tali ini berfungsi untuk mengikat dua senar dalam Rebab Sunda. Pada zaman sekarang tali rawit terbuat dari benang yang kemudian dikatkan pada kawat atau senar Rebab. Gambar 11. Sisir yang terbuat dari tulang (Dokumentasi: Euis Karmila, 2. Gambar 13. Tali Rawit dari benang (Dokumentasi: Euis Karmila, 2. Karmila. Wastap. Saleh: Makna Simbolik Bentuk Fisik (Rup. Rebab Sunda Pucuk dan Pureut Pureut pada fungsi zaman dahulu sebelum mengalami modifikasi bentuk fisik, fungsinya sebagai bagian untuk melaras rebab, nayaga Karawitan Sunda biasa menyebut dengan sebutan nyurupkeun. Pureut itu sendiri sebagai simbol telinga manusia yang fungsinya untuk mendengar. Seorang pengrebab harus jeli, peka nada, terutama dalam mengolah rasa. Pucuk dan Pureut merupakan simbol pola tiga tritangtu atau trisula/ sanghyang Tidak akan ada pucuk jika tidak ada pureut yang saling terhubung. Bagian atas rebab terdiri dari dua Pucuk adalah mata air sebagai Pucuk pada zaman sekarang, sudah banyak modifikasi motif. antaranya yakni, motif kujang, trisula, serta kombinasi bentuk dari yang sudah ada. Pureut pada zaman dahulu digunakan sebagai pengatur laras atau bagian pelarasan, untuk menyetem rebab agar nada yang dihasilkan tidak sumbang . Pureut menggambarkan daun telinga serta secara fungsi pureut zaman dahulu dipakai sebagai pelarasan atau tempat menyetem rebab agar tidak fals atau sumbang. Jika diinterpretasi sebagai pengrebab harus mempunyai pendengaran yang tajam agar bisa mengharmonikan setiap bagian dari gending atau lagu yang disajikan menjadi selaras dan penjiwaan yang bisa menyampaikan maksud dari lagu yang Pucuk menggambarkan sanggul atau hiasan Wanita . 5, hlm. Pucuk sebagai mahkota dalam Rebab Sunda, menjadi daya tarik tersendiri ketika dipasang dengan pucuk, sehingga terlihat gagah, cantik, indah, dan estetik. Oleh karena itu Mulyana . mengatakan bahwa: mun ngarebab teh pasangkeun jeung pucuk pureutna, pureut nu ngagambarkeun ceuli, mun jelema teu aya ceulian teu alus katempo na? Mun teu make pucuk kumaha mun euweuh huluan. Hartina sagala bagian tina rebab miboga fungsinya masing-masing, ngan zaman ayeuna mah ku alesan ribet teu dipasangkeun mun selain manggung eta oge aya nu teu make, padahal dina latihan oge kudu dipake sebagai bentuk ngahargaan ka leluhur anu geus nyiptakeun ieu Rebab . awancara, 30 januari Gambar 14. Pucuk Pureut Bentuk Lama (Dokumentasi: Euis Karmila, 2. Artinya: Jika merebab itu harus dipasangkan pucuk dan pureutnya, pureut yang menggambarkan telinga, ketika manusia tidak ada telinga apakah terlihat baik? Jika tidak memakai pucuk, bagaimana kalau tidak punya kepala. Artinya semua bagian dari Rebab mempunyai fungsinya masingmasing. Hanya saja saat ini pucuk dan peurut jarang digunakan karena tidak memiliki fungsi langsung kecuali memperindah bentuk rebab. ada banyak pengrebab yang tidak menggunakan keduanya tentu dengan Gambar 15. Pucuk Pureut Modifikasi bentuk baru (Dokumentasi: Euis Karmila dan Agus Sofyan, 2. Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 8 No. 1 Juni 2023 alasan efisiensi waktu, sebab keduanya tidak memiliki dampak pada suara rebab. Sedangkan beberapa pengrebab yang lain mengakui bahwa dua bagian ini sudah harus dipasangkan sejak latihan, sebagai bentuk menghargai kepada para leluhur yang sudah menciptakan Rebab ini . awancara, 30 Januari 2. Suku / betis Gambar 17. Suku/betis Rebab Sunda. Koleksi Rebab Agus Sofyan. (Dokumetasi: Euis Karmila, 2. Dodot Dodot yakni pembungkus wangkis, yang merupakan simbol keindahan kain . akaian atau busan. yang dikenakan oleh Wanita. Dodot sebagai kain pembungkus rebab Sunda, pada saat ini pengrajin Rebab dominan menggunakan kain bahan bludru. Adapun yang memakai kain batik atau kain yang cantik atau indah dilihat. Memberikan kain cantik sebagai pembungkus rebab adalah bentuk pengrebab merawat waditra atau penghargaan yang sudah dianggap sebagai alat musik kesayangan atau sesuatu yang disukai harus dijaga dan dirawat dengan baik agar terlihat indah dipandang. Suku atau betis Rebab zaman berbeda dengan sekarang mengalami modifikasi Suku dalam Bahasa Sunda artinya Jadi suku atau betis menggambarkan Hal ini juga sesuai dengan fungsi utama bagian suku ini yang ditujukan untuk menjadi penyangga bagi rebab agar bisa berdiri. Pemaknaan ini lebih disesuaikan dengan fungsi dari suku pada Beuti cariang Gambar 18. Beuti cariang (Dokumentasi: Euis Karmila, 2. Beuti cariang zaman dahulu memiliki 3 garis melingkar di setiap sekatnya. Dalam perspektif pola tiga garis tersebut merupakan simbol dari pola tiga. Sebagai dasar filosofis sunda yang disebut tritangtu, yakni tekad ucap, lampah. Gambar 16. Dodot (Kain yang membalut bato. (Dokumentasi: Euis Karmila, 2. Karmila. Wastap. Saleh: Makna Simbolik Bentuk Fisik (Rup. Rebab Sunda Beuheung gereng Beuheung gereng memiliki kegunaan dan fungsi sebagai tempat menyisipkan pucuk dan pureut sehingga terlihat estetik ketika Tanpa adanya lubang yang tersedia pada beuheung gereng pucuk dan pureut tidak dapat dibentangkan. Beuheung gereng menggambarkan leher. Leher sebagai penghubung kepala dan badan, seperti penghubung pucuk dan tihang. Beuheung gereng sebagai siger tengahnya. Sebagai benda di luar AutubuhAy rebab, maka arpus bisa dimaknai sebagai kosmetik atau alat mempercantik diri bagi seorang Selain disesuaikan dengan fungsinya, pemaknaan ini juga didasari dengan fakta bahwa arpus tidak menyatu dengan tubuh rebab. Demper Demper sama seperti arpus, yang bisa terpisah diluar rebab. Demper bisa dikatakan tidak memiliki makna secara simbolik, namun secara kegunaan dan fungsi sangat membantu Rebab Sunda, yakni demper digunakan untuk meredam suara atau sebagai peredam, ketika suara yang dihasilkan terlalu cempreng. Biasanya demper disisipkan di bawah dampit, adapula yang di tengah wangkis, dibelakang sisir dan dampit. Pangeset Pangeset biasanya terbuat dari bahan kayu nangka, jati, asem, bahkan rotan. Bentuk ukiran congo dan ganca ini biasanya terinspirasi dari sejenis ikan-ikanan, yang kemudian di interpretasi oleh masingmasing pengrajin Rebab. Pangeset ini bentuk nya menyerupai gondewa, yang merupakan gambaran atau simbol dari lengan/ tangan wanita cantik, karena bentuk dari ganca dan congo yang indah. Dalam peribahasa Sunda AoAopanangan anu ngagondewaAoAo artinya menggambarkan lengan atau tangan Wanita yang cantik . 5, hlm. SIMPULAN Rebab Sunda secara makna simbolik melambangkan perempuan, bila dilihat dalam perspektif hermeneutika Gadamer. Dapat diinterpretasikan bahwa dalam proses mempelajari rebab sunda, yang disimbolkan melalui garis melingkar pada bagal tepus, pureut, pucuk, beuheung gereng, beuti cariang, merupakan gambaran sulitnya memahami rebab. Mempelajari dan memahami rebab membutuhkan kegigihan, kefokusan, jiwa yang bersih agar mampu menyampaikan pesan lewat suara rebab pada pendengar atau penonton. Hal tersebut hanya bisa dilakukan dengan olah rasa yang daria . Bagian-bagian tertentu pada rebab Sunda memiliki makna secara implisit. Seperti bagal tepus, beuheung gereng, membentuk putaran atau lingkaran memiliki arti yang berkaitan dengan teknis bahwa belajar rebab membutuhkan waktu yang lama, melingkar berarti tidak memiliki Arpus Arpus ini mirip dengan rosin yang biasa digunakan dalam biola . lat musik bara. atau sebutan gondorukem yang biasa dipakai dalam Rebab Jawa. Arpus ini memiliki kegunaan untuk membantu pangeset atau membuat kasar pangeset, ketika bulu ekor kuda atau nylon sudah licin. Karena ketika licin rebab tidak akan menghasilkan suara yang optimal . Agar gesekan yang dihasilkan optimal bunyinya, maka arpus ini dapat membantu memfasilitasi apabila terjadi licin saat memainkan rebab. Arpus ini terbuat dari hasil olahan getah batang tusam . yang kemudian disuling agar dapat menghasilkan terpenting serta sisa hasil destilasi tersebut berupa arpus sebutan untuk rebab Sunda atau gondorukem sebutan untuk Rebab Jawa. sudut yang artinya secara teknis belajar rebab tidak ada batas selesai, karena setiap pengrebab mempelajari hal baru. Pureut dalam fungsinya dulu sebagai pengatur laras, namun pada saat ini berfungsi hanya sebagia estetika visual saja yang artinya memandang dengan keindahan bentuk saja atau hiasan. Suku atau bitis artinya kaki dalam rebab, jika tidak ada suku atau bitis mengurangi nilai estetika pada rebab. Dodot dimaknai sebagai pakaian manusia. Jika tidak ada pakaian, bentuk fisik rebab akan mengurangi nilai estetika pada Hal-hal tersebut juga memperkuat penafsiran dan pemaknaan rebab, dari bentuk fisiknya, merupakan simbolisasi seorang perempuan. Ada pandangan bahwa di dalamnya terdapat dualitas antara laki-laki dan perempuan yang kemudian diharmonisasi. Dalam perspektif pola atau estetika paradoks dikenal dengan sebutan pola tiga yang mengambil dasar filosofis masyarakat Sunda yang dikenal dengan tritangtu, yakni tekad, ucap, lampah yang tertulis dalam Naskah Kuno Sanghyang Siksakandang Karesian pada tahun 1518 Masehi. Sumaryono. Hermeneutika Sebuah Metode Filsafat. Kanisius. Yogyakarta. Haq. Aprianti. and Djunatan, , 2023. Eksistensi Perempuan Sunda Berdasarkan Dimensi Sunan Ambu dalam Epos Lutung Kasarung. Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama, 6. , pp. Herdini. Heri. Estetika Karawitan Sunda. Jurnal Seni dan Budaya Panggung Vol. 22 No. , 225-350. Heryana. , 2012. Mitologi Pe r e m p u a n Sunda. Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research, 4. Jamaludin. Estetika Sunda. Penerbit: PT Dunia Pustaka Jaya. Karmila. Rebab Dalam Celempungan: Fungsi. Makna Dan Teknik. Paraguna, 9. Pp. Koesoemadinata. Seni Raras. Djakarta: Pradnjaparamita. Kubarsah. Ubun. Waditra: Mengenal Alat- Alat Kesenian Daerah Jawa Barat. Bandung: Beringin Sakti Permana. , 2016. Dasar-Dasar Belajar Rebab Sunda. JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Sen. , 1. Daftar Pustaka