Jurnal Prespektif Pendidikan - Vol. 19 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau SIMBOL DI BALIK BENDA-BENDA DALAM PROSESI LAMARAN TRADISI DUSUN BATU URIP LUBUK LINGGAU Een Rosmalina1. Satinem2 Universitas PGRI Silampari. Lubuklinggau. Indonesia ARTICLE INFORMATION A B S T R A C T Received: 17 April 2025 Revised: 5 Mei 2025 Available online: 17 Juni 2025 Penelitian ini berjudul Simbol di Balik Benda-Benda dalam Prosesi Lamaran Tradisi Dusun Batu Urip Lubuk Linggau. Melalui penelitian ini, penulis berupaya mengkaji lebih dalam makna yang tersimpan di balik benda-benda dalam prosesi lamaran tradisional. Adapun tujuan khusus dari penelitian ini meliputi: . Mendeskripsikan jenis-jenis benda yang digunakan dalam prosesi lamaran tradisional, . Mengidentifikasi nilai-nilai budaya, kesungguhan, dan harapan yang tersirat dalam penggunaan benda-benda tersebut, . Menganalisis makna simbolik benda-benda tersebut dalam konteks adat dan pandangan masyarakat setempat. Subjek pada penelitian ini adalah Masyarakat Dusun Batu Urip. Lubuk Linggau khususnya para pelaku, tokoh adat, dan anggota keluarga yang terlibat dalam prosesi lamaran Objek Penelitian:Benda-benda yang digunakan dalam prosesi lamaran tradisi Dusun Batu Urip beserta makna simbolik yang terkandung di dalamnya, yang merepresentasikan kesungguhan dan harapan dalam konteks adat pernikahan. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah observasi, wawancara, studi kepustakaan, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa benda-benda yang digunakan dalam prosesi lamaran tidak semata-mata berfungsi sebagai aksesoris ritual, melainkan juga mengandung makna mendalam. Secara khusus, penelitian ini menunjukkan bahwa benda tersebut memiliki nilai budaya, harapan dan peran masyarakat. KEYWORDS Simbol Benda. Prosesi Lamaran. Batu Urip CORRESPONDENCE E-mail: rosmalinaeen1@gmail. INTRODUCTION Budaya adalah warisan tak benda yang hidup dalam simbol, ritual, dan praktik sosial Dalam konteks prosesi lamaran di Kota Lubuk Linggau, khususnya di Kelurahan Batu Urip Taba, simbol-simbol benda yang digunakan memiliki makna filosofis dan nilai budaya yang Simbol-simbol ini tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap upacara, tetapi juga sebagai media komunikasi budaya yang menyampaikan harapan, doa, dan restu dari kedua belah pihak Namun, seiring berkembangnya zaman dan masuknya pengaruh budaya luar, nilai-nilai budaya yang melekat pada prosesi ini mulai tergerus. Generasi muda cenderung melihat prosesi lamaran sebagai formalitas belaka, tanpa memahami makna di balik benda-benda yang disajikan. Hal ini juga diperjelas dengan minimnya dokumentasi mengenai makna simbolik dari benda-benda Peneliti mengacu pada teori simbolik budaya dan teori perubahan sosial untuk memahami fenomena ini. Jurnal Prespektif Pendidikan - Vol. 19 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Wina Anriani Harahap . Asriani Alimuddin . , dan Muhamad Alif . , dapat dilihat bahwa simbol dalam prosesi adat berfungsi sebagai pengikat nilai, identitas, dan norma sosial suatu komunitas. Maka dari itu, pergeseran makna akibat modernisasi dapat menyebabkan disorientasi budaya dan melemahnya identitas lokal. Acara lamaran merupakan momen sakral dalam perjalanan menuju pernikahan, acara ini dibuat agar kedua keluarga bertemu secara resmi untuk mengikat komitmen antara calon Biasanya, acara ini diawali dengan perbincangan antara keluarga kedua belah pihak, yang mencerminkan keseriusan hubungan serta restu dari orang tua. Lamaran sering kali dilakukan di rumah calon pengantin guna menciptakan suasana yang nyaman dan intim. Selain sebagai simbol komitmen, prosesi ini juga menjadi kesempatan bagi keluarga besar untuk saling mengenal lebih dekat sebelum melangkah ke jenjang pernikahan. Dalam prosesi lamaran di kelurahan Batu Urip Taba. Kota Lubuk Linggau, berbagai benda digunakan sebagai simbol dalam pernikahan. Setiap benda yang dipersembahkan memiliki arti filosofis yang menggambarkan harapan, doa, dan restu dari kedua belah pihak keluarga. Simbolsimbol ini tidak hanya sekadar pelengkap, tetapi juga menjadi bentuk komunikasi budaya yang mengandung nilai-nilai luhur dan kearifan lokal masyarakat Lubuk Linggau. Seiring dengan perkembangan zaman dan pengaruh budaya luar, pemahaman terhadap makna dari simbol-simbol benda dalam acara lamaran semakin berkurang. Generasi muda cenderung melihat prosesi ini sebagai formalitas tanpa memahami nilai historis dan budaya yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menggali dan memahami makna dari simbol benda yang digunakan dalam acara lamaran di Kota Lubuk Linggau, serta bagaimana masyarakat mempertahankan tradisi ini di tengah modernisasi. RESEARCH METHOD Jenis penelitian ini adalah menggunakan metode pendekatan kualitatif. Menurut Sugiyono . menyatakan bahwa pendekatan kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, . ebagai lawannya adalah eksperime. di mana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi . Sejalan dengan itu. Nasution . menyatakan bahwa pendekatan kualitatif pada hakekatnya ialah mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha Jurnal Prespektif Pendidikan - Vol. 19 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya. Metode penelitian yang digunakan adalah etnografi. Meotde ini bertujuan untuk mendapatkan deskripsi dan analisis mendalam tentang kebudayaan berdasarkan penelitian lapangan yang memungkinkan peneliti untuk terlibat langsung dalam kehidupan sosial masyarakat, mengamati, serta mendokumentasikan praktik budaya secara Menurut Ramdiani . menyatakan bahwa suatu bentuk penelitian yang berfokus pada makna sosiologi melalui observasi lapangan tertutup dari fenomena sosiokultural. Penelitian etnografi termasuk bahasa, ritual, struktur ekonomi dan politik, tahap kehidupan, interaksi dan gaya Untuk memahami pola etnografis suatu kelompok, etnografer biasanya menghabiskan waktu yang cukup lama untuk melakukan wawancara, mengamati, dan mengumpulkan dokumen tentang kelompok tersebut untuk memahami budaya mereka termasuk berbagai perilaku, keyakinan dan bahasa yang digunakan oleh kelompok tersebut. Melalui pendekatan ini, peneliti dapat menangkap nilai-nilai, makna simbolik, serta perspektif masyarakat lokal yang sering kali tidak tertulis namun hidup dalam tradisi. Penelitian ini menekankan pada pemahaman makna dari dalam . , yaitu bagaimana masyarakat sendiri memaknai benda-benda yang digunakan dalam prosesi lamaran sebagai bagian dari warisan budaya dan identitas kolektif mereka. RESULTS AND DISCUSSION Bagian ini menyajikan hasil penelitian mengenai makna simbolik dari benda-benda yang digunakan dalam prosesi melamat perempuan di Batu Urip. Setiap benda yang disertakan dalam prosesi lamaran memiliki nilai budaya dan filosofi tersendiri yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. Pemahaman terhadap makna ini diperoleh melalui wawancara mendalam dengan tokoh adat, sesepuh kampung, serta pelaku budaya yang terlibat langsung dalam prosesi Makna Daun Sirih Daun sirih melambangkan niat yang suci dan tulus dari pihak keluarga lelaki untuk melamar calon pengantin perempuan. Kehadirannya menyiratkan bahwa tujuan lamaran adalah mulia dan Jurnal Prespektif Pendidikan - Vol. 19 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau penuh keikhlasan. Hal ini menunjukkan penghormatan terhadap adat dan tradisi serta cara keluarga lelaki menegaskan bahwa mereka datang dengan tata krama, sopan santun, dan mengikuti adat istiadat yang berlaku. Daun sirih dipilih sebagai simbol penghormatan dari pihak laki-laki dalam acara pertunangan karena memiliki nilai tradisi yang tinggi dan makna budaya yang mendalam. Dalam adat Melayu dan banyak budaya Nusantara lainnya, sirih bukan hanya sekadar tanaman, melainkan lambang kesopanan, kehalusan budi, dan niat baik. Pihak lelaki datang dengan penuh tata krama dan menjunjung tinggi adat serta kehormatan keluarga perempuan. Sirih junjung ini menjadi tanda bahwa lamaran yang disampaikan bukan sekadar keinginan pribadi, tetapi telah melalui pertimbangan matang dan melibatkan restu keluarga. Selain itu, daun sirih juga dipercaya membawa energi positif dan keberkahan. Saat diberikan kepada keluarga perempuan, sirih menjadi perlambang harapan agar hubungan yang dibina dapat berlangsung dengan rukun, damai, dan diridhai oleh Tuhan. Bentuknya yang hijau segar mencerminkan kesuburan dan kehidupan baru. Hal ini selaras dengan tujuan pertunangan yang merupakan langkah awal menuju kehidupan rumah tangga. Dengan menyerahkan daun sirih, pihak lelaki menunjukkan rasa hormat, kesungguhan, dan harapan tulus untuk membina hubungan yang harmonis dan penuh berkah. Makna cincin Cincin merupakan pengikat, simbol janji antara dua insan. Cincin lamaran tidak hanya menjadi simbol ikatan, tetapi juga menggambarkan penyatuan dua hati dalam satu tujuan. Dalam adat Jurnal Prespektif Pendidikan - Vol. 19 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau kelurahan Batu Urip Taba ketika cincin telah diberikan kepada seorang perempuan, itu berarti dirinya telah terikat secara batin dengan lelaki yang meminangnya. Cincin tersebut menjadi tanda bahwa dirinya bukan lagi milik sendiri, melainkan telah menjadi bagian dari komitmen bersama. Oleh karena itu, setelah cincin diberikan pada waktu proses lamarana maka secara adat dan etika, perempuan tersebut tidak lagi pantas untuk menerima perhatian atau menyukai laki-laki lain. Hal ini mencerminkan kesetiaan dan penghormatan terhadap ikatan yang telah dibangun, sebagai awal dari perjalanan suci menuju pernikahan yang sah dan penuh tanggung jawab. Makna Pisau Dalam adat masyarakat Kelurahan Batu Urip. Lubuklinggau, pisau yang disertakan dalam prosesi lamaran memiliki makna filosofis yang mendalam. Pisau melambangkan bahwa calon suami diharapkan menjadi sosok pelindung bagi istri dan keluarganya kelak. Ia harus mampu menjadi pemimpin yang tangguh, pencari nafkah yang bertanggung jawab, serta pribadi yang siap menghadapi segala bentuk rintangan dan cobaan dalam kehidupan rumah tangga. Pisau juga menjadi simbol bahwa kehidupan pernikahan membutuhkan ketegasan, keberanian, dan kesiapan mental dalam menjalani setiap prosesnya. Lebih dari sekadar benda tajam, pisau dalam hantaran bukanlah lambang kekerasan, melainkan simbol kekuatan yang diiringi kasih sayang dan kebijaksanaan. Ia mencerminkan harapan bahwa laki-laki yang melamar mampu menjaga dan merawat istrinya dengan sepenuh hati, baik secara lahir maupun batin. Dalam makna adat, penyerahan pisau menjadi bentuk komitmen dan kesiapan laki-laki untuk memikul tanggung jawab besar sebagai kepala rumah tangga, serta menunjukkan bahwa niat lamaran ini bukan main-main, melainkan benar-benar serius dan penuh tekad. Makna Sapu Tangan Dalam prosesi lamaran tradisional masyarakat Desa Batu Urip, sapu tangan memiliki makna simbolik yang menyentuh sisi emosional budaya. Sapu tangan melambangkan sebuah kain yang secara filosofi merujuk pada kain pertama yang digunakan oleh seorang ibu saat merawat anaknya sejak lahir. Dengan demikian, sapu tangan menjadi simbol kasih sayang, perlindungan, dan pengorbanan seorang ibu, yang turut menyertai niat suci dalam membangun rumah tangga. Pemberian sapu tangan dalam prosesi lamaran dimaknai sebagai bentuk restu dan juga pengingat akan peran ibu Jurnal Prespektif Pendidikan - Vol. 19 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau sebagai sosok pertama yang membimbing, menyayangi, dan merawat sejak bayi. Sapu tangan juga mengandung harapan agar rumah tangga yang akan dibina memiliki nilai kelembutan, ketulusan, dan cinta kasih sebagaimana cintanya seorang ibu kepada anaknya. Makna Uang Dalam prosesi lamaran di Desa Batu Urip, uang yang diserahkan bukan hanya sebagai bentuk materi atau nilai tukar, tetapi memiliki makna simbolik yang penting. Uang dalam prosesi lamaran menandakan kesanggupan, kesiapan, dan tanggung jawab dari pihak laki-laki untuk membina rumah tangga. Uang sebagai mas kawin dalam prosesi lamaran memiliki makna yang lebih dari sekadar bentuk pemberian materi. Mas kawin . tau maha. merupakan simbol kesungguhan, tanggung jawab, dan penghargaan seorang laki-laki kepada perempuan yang akan dinikahinya. Selain itu juga, uang sebagai mas kawin dalam proses lamaran dimaknai sebagai: Tanda Kesungguhan dan Keikhlasan Mas kawin menunjukkan bahwa pihak laki-laki benar-benar serius dan ikhlas ingin membina rumah tangga, serta siap memikul tanggung jawab sebagai suami. Bentuk Penghargaan terhadap Perempuan Uang mas kawin bukan harga seorang perempuan, melainkan bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap nilai dirinya, serta simbol penghormatan kepada keluarga besar pihak Doa dan Harapan untuk Kehidupan yang Layak Uang mas kawin juga mengandung harapan agar kehidupan rumah tangga ke depan diberkahi dengan rezeki, kelapangan, dan kemakmuran. CONCLUSION Proses lamaran yang dilakukan di kota Lubuklinggau tentu tak lepas dari benda-benda yang memiliki simbol. Makna daun sirih melambangkan niat yang suci dan tulus dari pihak keluarga lelaki untuk melamar calon pengantin perempuan. Dengan menyerahkan daun sirih, pihak lelaki menunjukkan rasa hormat, kesungguhan, dan harapan tulus untuk membina hubungan yang harmonis dan penuh berkah. alam adat kelurahan Batu Urip Taba ketika cincin telah diberikan kepada seorang perempuan, itu berarti dirinya telah terikat secara batin dengan lelaki yang Jurnal Prespektif Pendidikan - Vol. 19 No. Available online at : https://ojs. stkippgri-lubuklinggau. id/index. php/JPP Jurnal Perspektif Pendidikan | ISSN (Prin. 0216-9991 | ISSN (Onlin. 2654-5004 | DOI: https://doi. org/10. 31540/jpp. Penerbit : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau Cincin tersebut menjadi tanda bahwa dirinya bukan lagi milik sendiri, melainkan telah menjadi bagian dari komitmen bersama. Kemudian pisau melambangkan bahwa calon suami diharapkan menjadi sosok pelindung bagi istri dan keluarganya kelak. Ia harus mampu menjadi pemimpin yang tangguh, pencari nafkah yang bertanggung jawab, serta pribadi yang siap menghadapi segala bentuk rintangan dan cobaan dalam kehidupan rumah tangga. sapu tangan menjadi simbol kasih sayang, perlindungan, dan pengorbanan seorang ibu, yang turut menyertai niat suci dalam membangun rumah tangga. Pemberian sapu tangan dalam prosesi lamaran dimaknai sebagai bentuk restu dan juga pengingat akan peran ibu sebagai sosok pertama yang membimbing, menyayangi, dan merawat sejak bayi. Yang terakhir adalah uang. Benda satu ini dalam prosesi lamaran menandakan kesanggupan, kesiapan, dan tanggung jawab dari pihak laki-laki untuk membina rumah tangga. Upaya kelestarian prosesi lamaran yang menggunakan benda-benda tersebut agar terus digunakan supaya dikenal dan diwariskan secara turun temurun. Karena penyimbolan benda-benda tersebut memiliki makna kehidupan yang baik. Selain itu juga, pemerintah hendaknya terus mensosialisasikan prosesi lamaran ini sebagai identitas budaya kota Lubuklinggau ke daerah lain. REFERENCES