Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024. Pages 29-39 ISSN: 2830-5868 (Onlin. ISSN: 2614-7831 (Printe. Journal Homepage: http://ejournal. stit-alkifayahriau. id/index. php/arraihanah Analisis Nilai-Nilai Pendidikan Moral dan Agama Anak Usia Dini dalam Kitab Kuning Maisaroh1. Fitrotul Hikmah2 Info Artikel Abstract Keywords: Early childhood Kitab Kuning Religious Moral Education This article analyzes the values of moral and religious education for early childhood in kitab kuning. In this case, the book in question is At-Tahliyah WatTarhib Fi At-Tarbiyah Wat-Tahdzib by KH. Sayyid Muhammad, then analyzed transliteration and the relevance of religious moral education for early childhood. Religious moral education is a form of instilling moral and religious values, therefore it is very important to give it from an early age because basically children are in a golden age which is experiencing a very rapid growth and development process. The book that is the focus of this research is one of the sources for religious moral education, because it discusses morals, moreover, in this book there are 13 chapters that discuss good morals towards oneself, towards family and social life. This research method uses a qualitative approach with library research methods. For data collection techniques, library studies, observation, documentation and data analysis techniques are used. As a result, there are 15 values of religious moral education that can be used as a reference in the early childhood learning process, including good manners, caring for the body, protecting the rights of the body, morals towards parents, good character, honesty, shame, generous, restraining anger, obeying the government, listening to conversations, speech etiquette, keeping secrets, eating manners, and love of the country Kata kunci: Anak Usia Dini. Kitab Kuning. Pendidikan Moral Agama. Abstrak Artikel ini menganalisis nilai-nilai pendidikan moral dan agama anak usia dini dalam kitab kuning. Dalam hal ini, kitab yang dimaksud adalah At-Tahliyah Wat-Tarhib Fi At-Tarbiyah Wat-Tahdzib karya KH. Sayyid Muhammad, kemudian dianalisis mengenai transliterasi dan keterkaitan pendidikan moral agama terhadap anak usia dini. Pendidikan moral agama adalah bentuk penanaman nilai-nilai moralitas dan keberagamaan, maka dari itu sangat penting diberikan sejak usia dini karena pada dasarnya anak berada dalam masa keemasan yang sedang mengalami proses perkembangan dan pertumbuhan yang sangat pesat. Kitab yang menjadi fokus penelitian ini merupakan salah satu sumber dalam pendidikan moral agama, karena membahas tentang akhlak, lebih dari itu dalam kitab ini terdapat 13 bab yang membahas tentang akhlak terhadap diri sendiri, keluarga, dan kehidupan Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kepustakaan ( library reseac. Untuk teknik pengumpulan data menggunakan studi pustaka, observasi, dokumentasi, dan teknik analisis data. Hasilnya, terdapat 15 nilai-nilai pendidikan moral agama yang dapat digunakan sebagai acuan dalam proses pembelajaran anak usia dini, di antaranya sopan santun, merawat tubuh, menjaga hak-hak tubuh, akhlak kepada orang tua, budi pekerti baik, jujur, malu, murah hati, menahan amarah, mematuhi pemerintah, mendengarkan pembicaraan, tata tertib bicara, menjaga rahasia, adab makan, dan cinta tanah air. 1 Institut Agama Islam (IAI) Al-Qolam Malang. Indonesia Email: maisaroh18@alqolam. 2 Institut Agama Islam (IAI) Al-Qolam Malang. Indonesia Email: fitrotulhikmah@alqolam. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 PENDAHULUAN Pendidikan sebagai upaya untuk mewujudkan insan yang mulia, baik secara akhlak, spiritual keagamaan telah dinyatakan dalam perundang-undangan. Namun keadaan saat ini, krisis moral dan agama masih muncul dalam berbagai bentuk sebab dasar mulia yang diharapkan masih belum terealisasi (Garnika, 2. Menurut Niccolo Machiavelli, pendidikan merupakan kerangka proses manusia untuk penyempurnaan diri sendiri yang harus dilakukan secara terus menerus. Manusia secara kodrati pasti memiliki kekurangan dan kelebihan, untuk itu pendidikan hadir sebagai pelengkap apa yang kurang dari kodratnya dan penyempurnaan kelebihannya (Koesoma, 2. Pendidikan itu sendiri memiliki upaya dalam memajukan budi pekerti dan pemikiran yang keduanya itu tidak dapat dipisahkan. Selain itu, pendidikan bukan hanya sebatas mengajarkan tentang ilmu pengetahuan tetapi juga sebagai upaya bagaimana manusia itu tumbuh dan berkembang sebagaimana manusia yang bermartabat dan berbudaya. Sedangkan pendidikan moral itu sendiri merupakan bentuk penanaman nilai moral dan agama positif juga pengarahan dan bimbingan sesuai nilai moralitas dan keberagamaan. Hal tersebut merupakan urgensi tersendiri yang harus dan penting diberikan sejak usia dini (Mursid, 2. Anak usia dini berdasarkan Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 memiliki pengertian anak yang sejak lahir sampai umur enam tahun. Bronowski mengatakan bahwa anak usia dini sangat tepat diberikan berbagai konsep kehidupan sebagai bekal kehidupan selanjutnya (Maryatun, 2. Usia tersebut merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang menentukan masa depan seorang anak atau bisa disebut juga masa keemasan . he golden Menurut Yuliani Sujono, anak usia dini adalah usia yang sangat menentukan pembentukan moral dan kepribadian serta intelektualnya (Tatminingsih, 2. Moral berasal dari kata latin yaitu AumosAy yang artinya kebiasaan atau adat istiadat, nilainilai sosial dan tata kehidupan. Sebagaimana adat istiadat, moral tumbuh sesuai perilaku yang berkembang di masyarakat tersebut, melihat pelajaran yang terjadi kemudian diolah dalam hati dan ditentukan mana yang baik dan mana yang buruk (Komalasari, 2. Masa usia dini adalah masa yang sangat sesuai untuk mengenyam pendidikan, sebab di masa ini anak masih belum memiliki pengaruh negatif sehingga pendidik termasuk orang tua dapat lebih mudah untuk mengarahkan dan menanamkan nilai moral dan agama (Nurjennah. BNSP telah menetapkan standar tingkat pencapaian perkembangan anak usia dini bahwa pada usia tersebut anak sudah dapat merasakan keberadaan Tuhannya dan mengenal agamanya (Nurjennah, 2. Pendidikan moral dan agama mengajarkan karakter, tabiat, tingkah laku serta kepribadian. Sedangkan pendidikan agama Islam dikenalkan mulai dari berbagai ciptaan Allah tentang alam dan seisinya. Maka dari itu, yang harus dilakukan oleh lembaga pendidikan adalah mampu menanamkan, mengembangkan, serta mengarahkan nilai-nilai kebaikan yang kemudian dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Kitab at-Tahliyah wat-Targhib fi at-Tarbiyah wat-Tahdzyb adalah salah satu sumber dalam pendidikan moral agama, karena dalam kitab ini membahas tentang akhlak atau budi Kitab tersebut merupakan salah satu kitab literatur yang sesuai dengan penelitian ini Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 sebab berisi tentang materi moral agama yang dibutuhkan oleh anak usia dini dalam menanamkan nilai moral agama. Kitab ini merupakan karya dari seorang tokoh karismatik dan produktif yang bernama lengkap KH. Sayyid Muhammad bin Sayyid Alawi bin Abbas bin Abdul Aziz al-Maliki al-Hasani. Beliau mendapatkan pendidikan pertama di Madrasah Al-Falah Makkah. Kemudian pada usia 25 tahun, beliau meraih gelar Doktor ilmu hadis di Universitas Al-Azhar Kairo, beliau merupakan warga Arab Saudi yang pertama dan termuda yang menerima ijazah Ph. D dari Al-Azhar. Di dalam kitab karya Sayyid Muhammad tersebut, terdapat 13 bab yang membahas tentang akhlak baik terhadap diri sendiri, terhadap keluarga, dan akhlak sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Masing-masing pembahasan dilengkapi dengan pemilihan bahasa yang mudah dimengerti dan juga pengarang menambahkan syair di dalamnya sehingga terdapat nuansa seni. Kitab ini memiliki kelebihan berupa antara satu bab dengan yang lain masih saling berkaitan. Contohnya seperti pada bab pertama mengenai pergaulan sesama manusia, di situ juga dijelaskan mengenai hidup bersosial dan bermasyarakat. Pendidikan membutuhkan media pembelajaran untuk lebih mudah mewujudkan tujuan dari pendidikan itu sendiri, termasuk pendidikan moral. Pendidikan moral tersebut tidak hanya bergantung pada pendidik atau guru saja, akan tetapi menjadi tanggung jawab orang tua dan sekitarnya. Terdapat beberapa media yang dapat diterapkan untuk pendidikan moral, salah satunya yaitu kitab yang menjadi fokus penelitian ini. Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan penelitian ini untuk menjawab bagaimana transliterasi dan keterkaitan nilai-nilai pendidikan moral agama anak usia dini dalam kitab at- Tahliyah wat-Targhib fi at-Tarbiyah wat-Tahdzyb. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kepustakaan ( library reseac. yakni dengan pengumpulan data dan informasi menggunakan bahan-bahan yang terdapat dalam kepustakaan. Dalam menetapkan topik penelitian. Nazir menambahkan bahwa studi kepustakaan merupakan langkah yang penting bagi seorang peneliti. Selanjutnya, peneliti akan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari kepustakaan untuk proses mencari landasan teori (Nazir, 1. Sumber data penelitian ini terdapat primer dan sekunder, kitab at-Tahliyah wat-Targhib fi at-Tarbiyah wat-Tahdzyb karya Sayyid Muhammad menjadi sumber data primer. Sedangkan sumber data sekunder mengambil dari buku-buku lain, atau yang memuat konten dan pembahasan yang sama, seperti buku dan jurnal untuk melengkapi data dalam penelitian ini. Teknik penggalian data dalam penelitian ini menggunakan studi pustaka, observasi dan Sedangkan teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis isi. Menurut Weber. Content Analysis adalah metodologi penelitian yang sahih dari pernyataan atau Konten analisis digunakan sebagai teknik untuk menarik kesimpulan melalui usaha menemukan karakteristik pesan dan dilakukan secara obyektif dan sistematis (Soejono and Rahman. Dalam hal ini langkah pertama yang dilakukan oleh peneliti adalah menentukan permasalahan, menyusun kerangka pemikiran, menyusun perangkat metodologi, analisis data, dan kemudian interpretasi data. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Berdasarkan analisis yang telah dilakukan oleh peneliti dalam kitab at-Tahliyah wat-Targhib fi at-Tarbiyah wat-Tahdzyb karya Sayyid Muhammad, peneliti menemukan beberapa nilai-nilai pendidikan moral dan agama dalam kitab tersebut. Kitab ini terdiri dari 13 bab kemudian ditransliterasi sehingga menemukan 15 nilai-nilai pendidikan moral agama yang dapat digunakan sebagai acuan dalam proses pendidikan anak usia dini. Nilai Pendidikan Moral Agama dalam Kitab at-Tahliyah wat-Targhib fi at-Tarbiyah wat- Tahdzyb Setelah melakukan analisis secara mendalam, peneliti kemudian menemukan nilai-nilai pendidikan moral agama dalam kitab at-Tahliyah wat-Targhib fi at-Tarbiyah wat-Tahdzyb karya Sayyid Muhammad. Adapun nilai-nilai pendidikan moral dan agama dalam kitab tersebut adalah sebagai Sopan Santun Sebagai seorang muslim, mempunyai kewajiban menjaga moral yang baik dalam kehidupan masyarakat atau dalam kehidupan pribadi. Sebagaimana dalam kitab at-Tahliyah wat-Targhib fi atTarbiyah wat-Tahdzyb halaman 15: a a AaO a E aC aaE a AaNO a AA a A aN aO Eac aEac aC a eEa aaE aC eEaaI O a a Eacaa a A a AO NEEa aOa a OEaNa aO aa A a AaeE a a A aE NacU aOa aa aE aI aOacU aOaIaca E a C aE aOaOA aa A aEA AE aA A Dari pengertian di atas maka dapat kita simpulkan bahwa seorang anak yang memiliki moral atau berbudi pekerti adalah seorang anak yang memiliki kepribadian dan sopan santun yang baik seperti yang telah diajarkan Nabi Muhammad SAW. Dengan adab yang baik pulalah seorang anak akan diberikan keutamaan oleh Allah dan dicintai oleh Sang baginda kita yaitu Nabi Muhammad. Seperti yang dituliskan oleh seorang penyair yaitu: a a a a a AION NEE aaEaI a aNU a AOa a E aA a a I aC a a acI Aa C aeEaOa aaEOa aC a aNA Aa aa a a A a aA aaNA# A aE I I a CEN aOI I a aaNA Dari syair di atas bisa disimpulkan bahwasanya Allah SWT memuliakan kita dengan memberikan anugerah yang sangat penting kepada makhluknya yaitu akal dan moral. Betapa berharga dan pentingnya moral yang Allah berikan kepada kita karena apabila dalam kehidupan masyarakat seseorang tidak mempunyainya maka ia akan melakukan hal berdasarkan nafsunya yang mengakibatkan ia kehilangan keselarasan dalam bermasyarakat. Dapat diambil kesimpulan bahwa anak-anak juga harus didik sopan santun sejak kecil dimulai dari hal-hal kecil, contohnya menghormati yang lebih tua, tidak berbicara kotor atau kasar, dan saling menyayangi yang lebih muda. Merawat Tubuh Merawat dan menjaga tubuh adalah hal yang harus dilakukan oleh seorang hamba, sebab tubuh yang sehat dapat beraktivitas dengan sempurna, seperti bekerja, beribadah, dan lain Dalam kitab karya Sayyid Muhammad mengutarakan: a a AaNa a a aO aIA a AE aEaOA AaE a E UEA a AI aIa OA a AE Aa aaE Oa NIaa EA a a a A aEaOA a AA ac a aIA a a a aAua acI aaIa a AE aI aA a a ac a eEa aI aaOa acE IaA a AE aaN acI a O aOA a AE a aC O UC OaE aaIA a AU Aa eEa aI EaNa aEaOA aAE a I a aaOa aNEaNA U AaOaaE a aA a A aOaaEIa OIU aOaaE aA Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan untuk merawat tubuh merupakan suatu keharusan bagi setiap individu. Apabila tubuh seorang anak terserang penyakit dapat mengurangi kestabilan dalam melakukan berbagai kegiatan. Begitu juga anak usia dini, pendidik harus mengenalkan sedini mungkin mengenai sistem kerja tubuh untuk menjaga kesehatan, upaya tersebut Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 akan melindungi seorang anak dari terserangnya penyakit sehingga anak akan lebih fokus atau konsentrasi ketika belajar. Menjaga Hak-hak Tubuh Setiap tubuh seorang hamba merupakan sebuah anugerah dari Allah SWT. Jadi menjaga hakhak tubuh sekaligus merawatnya adalah wajib bagi setiap umat manusia. Dalam Kitab at-Tahliyah watTarghib fi at-Tarbiyah wat-Tahdzyb menyatakan: a a AEaOA a Aa aIA A aOacaA a AE aOaIEa aA a aAE aOaI aEIA a aAE aO a a A a AaN aO a I a a aOaI aEaO Ia aN aI aI aEO a a aOE aC a a aOIa a a aIA AE aI a A aa AEA a aA eEA Sayyid Muhammad sangat menjaga kesehatan tubuh dalam menjalani kehidupan sehari-hari, seperti makanan, minuman, tempat tinggal, hingga berolahraga. Memenuhi hak-hak tubuh memiliki tujuan untuk menjadi pribadi yang sehat secara fisik maupun mental. Seorang anak lebih mudah menjalani kegiatan dengan mapan dan terhindar dari penyakit. Akhlak kepada Orang Tua Keluarga merupakan sekumpulan orang yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Berdasarkan pandangan Sayyid Muhammad, menerima nasihat yang diberikan oleh orang tua merupakan hal yang harus dilakukan demi kebaikan bersama. Seperti yang sampaikan dengan jelas dalam Kitab at-Tahliyah wat-Targhib fi at-Tarbiyah wat-Tahdzyb sebagai berikut: a A E aO a a aaEaE aa a N OOA a A acCA ca AA AEA a A E aIA a aAE aOIa aOaA a A aA a AE aO A a A a a a aa a A a AE aO a a aOEaIa aaO a a A a AE Ca aE a A a A acI aacIA a AOOA AEA a A ac aE aOOa aEa aIA a aAE aI I aE aE aI OA a aA aN aO a a aa a Ibu merupakan seorang pahlawan bagi kita semua, beliau sudah bertaruh nyawa demi melahirkan, membesarkan, hingga menjadi pembimbing kita. Jangan sekali-kali menyakiti orang tua kita, sebab tidak ada yang dapat menggantikannya meskipun seluruh dunia menjadi jaminan. Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk memuliakan orang tua. Budi Pekerti yang Baik Sebagai umat Islam kita di ajarkan untuk menghormati sesama manusia, dalam kitab atTahliyah wat-Targhib fi at-Tarbiyah wat-Tahdzyb dijelaskan sebagaimana berikut: aa a a a a AaNOa I a a aIE EIac aa Ea a OE A a AA eEa aOA a A OEaA A CaEa Oa I aOaEa aA a A aOa aaECa E aO N aOCEac EIac aA Oa a a aI O aE Ia aA O a aN I aOa a a AaeO eEaIA a a a ac a CaE OO aIEA a a AE a aEIA a AA A AEA a a aI aOEac E aaeO aOOa aO E aE acE AaOOa aIIa a a a a a a a a A aOOaA a AA aAOa a aE aOaaC acE a a a aE aOOa aN aE aEaOA Aa A a AE aE acEA a aAE aE A a a aAE aOIA a aAE aO aOA a aO aOacIA aAE NEEa aOa a OEaNA Sayyid Muhammad mengungkapkan bahwasanya moral yang baik ketika kita sedang bergaul adalah dengan berusaha menampakkan raut wajah yang riang, berseri-seri dan berbicara dengan baik dan sopan serta tidak terburu-buru. Jika kita dapat meneladani sifat seperti yang diungkapkan oleh beliau maka dengan sebaliknya kita dapat dihargai oleh orang lain juga akan diluaskan rezeki serta dicintai oleh Allah SWT. Dapat diambil kesimpulan bahwa anak-anak harus mempunyai budi pekerti yang baik sejak kecil dimulai dari hal-hal kecil contohnya dalam hal bersalaman, anak-anak sebelum berangkat sekolah dan pulang dari sekolah harus bersalaman kepada orang tuanya. Jujur Jujur merupakan hal yang sangat perlu kita lakukan pada kehidupan sehari-hari karena jujur merupakan suatu kewajiban yang bersifat terpuji. Jujur adalah sebuah sifat yang membutuhkan kesesuaian antara perkataan yang diucapkan serta perbuatan sesuai dengan petunjuk agama. Sayyid Muhammad mendefinisikan dalam kitabnya yaitu: Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 a a AEA aC NOaaEa a aI EA a AA O aO aEaO NA a A EacIa a aO aaE a aN aE aE aIA AE Aa aaE aI aOacaa aa aEA ca AEO aI aOE a C aE aOE aI aOaa aO aA a aa a a a AA AOaEaO aI aN aO aO A AAU a A a a a aIIN OaaEa EA a IINa aOaaE aa aaI aA a IINA a a a a AIINa aOaaE a aOaca a E aI aE IINa aOaaE aOaca a aA Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa jujur merupakan hal yang sangat dianjurkan oleh agama. Sifat jujur adalah seruan agama yang sangat sempurna kualitasnya, akar segala kemuliaan Rasulullah SAW. Sifat siddiq . adalah lawannya dari sifat kidzb . yang mana adalah suatu hal yang hina. Dengan begitu, sudah semestinya kita mengamalkan sifat jujur karena hal itu akan membawa kebaikan pada kita dan orang lain. Sedangkan sifat dusta adalah hal yang sangat tercela dan akan membawa kita kepada keburukan sehingga menjadikan kita orang yang di andalkan oleh masyarakat. Seorang anak harus ditanamkan sifat jujur dimulai sejak kecil supaya tidak berkata dusta . Malu Sayyid Muhammad telah mendefinisikan sifat malu sebagai berikut: a A AaO a aE aIIA. AEA a aA O a aE aIIA: AeEO aEaO aaE a aI O aA a ANEE a a aaE aO aOa a aE aI aI EIA ANEE aa aU a I a I a aEA a a a A aO aOa a aE I I Ia AA,AacA aa a a a a aa a aA acaI aOU acaE aOa aaI a INa a EaOaa O Ia aN aEA a aAE aEaO a aa aN aOaOaIa a aN I I aaIa Ea aN aO a NEa aIacNA a AE a acI NEEa a a IaNa aIA a Aa I aaN aOaIA a A aIaOaNa aI aE U Ia AA a A aI eOOaaEO a IN Ca aI eOEaOA a aAE aEaOO IaA AE aaOaI aaN aOaaC a aaO a aaNA a aA a aN aEA a a a Aa a aaE aaE aaOaAO aEaO aN a Ua a A a aU Dalam kitab ini Sayyid mengatakan bahwa sifat malu itu terbagi menjadi tiga yaitu: malu kepada Allah, malu kepada orang lain, dan malu kepada diri sendiri. Dengan artian bahwa malu kepada Allah berarti menjauhi larangannya dan melaksanakan perintahnya, sedangkan malu kepada orang lain diwujudkan dengan tidak bersikap buruk kepada mereka, dan realisasi dari malu kepada diri sendiri adalah dengan berusaha menjauhi perbuatan yang tidak disenangi oleh sesama manusia baik dalam keadaan sendiri maupun bersama orang lain. Murah Hati Sayyid Muhammad mendefinisikan sifat murah hati dalam kitabnya sebagai berikut: a ANEA a a AEA a a a AaE a I aIA AI aN aO a I A a AE aOa aA aO a I a a aO aE aI a Ca aA a aA EaEaA a AAOa IaU EA a aAE a I aN O aI aEA a a A Ia AA a Aa eEaEA a aA aI aa a aI a eEA a ca AEA aaE a OA a aa A EaE aC aa aEaO aNA a AE aaE aI aCa a A a AaEaOA A aEaO a a aO aE Aa A a ca aAE a aI UaE aaC OEN aEaON A U A a aE E a A aO aEA Sifat murah hati merupakan sifat yang berkaitan dengan kehidupan antar sesama manusia. Nilai-nilai pendidikan akhlak yang terkandung dalam sifat muruah hati dapat di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, yakni dapat mencegah keributan atau pertikaian antar sesama manusia. Caranya adalah dengan memaafkan orang-orang yang berusaha membuat keributan atau membuat Menahan Kemarahan Islam memberikan keutamaan bagi semua pemeluknya yang dapat menahan dan mengendalikan diri ketika marah. Sebagai umat muslim yang taat, betapa indahnya jika kita bisa menahan rasa marah tersebut agar kita dapat mencegah dan tidak sampai berbuat buruk kepada orang lain. Sayyid Muhammad juga menuliskan dalam Kitabnya tentang beberapa corak untuk menahan kemarahan sebagai berikut: a a ANEE Ea aEO aI aEaE IIaEaE aIIaaIA a a a AA a AE a aE aI aA AEA A aA a aANEE aO aa acaI E a aCaa a EA a AE Ca aA a A Aa acaIa Ia aIU aOa a aA Aa a acE Ca aa a A a a U a A aa a aA E A aO OIaA a caAE aU a EacaEA a AA E aCEa OA AA aO aac eEa aI O aE aEacIa aA a aA aEA a a AOE aOaI O aE EIac aA OE aOA a a a aOaOA Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Menahan amarah identik dengan sifat sabar, sedangkan sabar sendiri dapat diartikan sebagai sikap manusia dalam mengendalikan amarah atau emosinya dari keinginan akan kebutuhan. Peserta didik dapat di kategorikan sebagai orang yang bersabar dalam ketaatan beribadah kepada Allah. Karena pada dasarnya mencari ilmu merupakan sebuah ibadah yang memerlukan kesabaran dalam Belajar tidak akan membuat kita mengerti tentang suatu ilmu apabila belajar didasarkan kepada emosi belaka. Mematuhi Pemerintah atau Penguasa Pemerintah atau penguasa merupakan perantara di mana agama bisa ditolong dan ditegakkan, melaksanakan kewajiban kriminalitas serta permusuhan, terjaminnya kesehatan, keadaan negara stabil dan teratur. Hal tersebut merupakan amanah untuk pemerintah memberikan suatu manfaat dan sudah menjadi kewajiban kita untuk membantu, beriringan dengan sejalannya kepatuhan atau ketaatan kepada Allah dan Rasulnya. Hal ini Sayyid Muhammad juga menjelaskan dalam kitabnya yang mengutip dari dalam surah An-nisaAo, 59. Sebagaimana berikut: a AaOaO aNEA AOE aO aOaaE aEa I aaI I aE IA a AaO aI a aIIa Oa aO aOA a AE aA ca ANEE aOa aO aOA aa Surat tersebut menggambarkan bahwa kita sebagai muslim yang bertakwa selain taat kepada Allah dan Rasulnya kita harus melaksanakan suatu yang telah di perintahkan oleh pemerintah, agar terwujud kebaikan secara umum serta mencurahkan jiwa raga bersama pemerintah dalam berbagai hal yang nantinya akan memperbaiki adat istiadat serta memperluas hubungan baik itu dalam bidang pertanian, perindustrian, perdagangan, dan maupun ekonomi. Mendengarkan Pembicaraan Mendengarkan pembicaraan dari seorang teman hendaknya kita menghadap ke wajah pembicara, memperhatikan apa yang dia sampaikan, dan jangan sampai kita melewatkan apa yang dia sampaikan. Selain itu kita tanyakan jika ada hal yang tidak dimengerti, hal yang terpenting jangan sampai kita memotong pembicaraannya. Dalam kitab at-Tahliyah wat-Targhib fi at-Tarbiyah watTahdzyb menjelaskan: a a AeE aO aII a a aO IaE O eI aO EaE a eI eCE EaO aN O aNE OAaO aEE aEA a a Aa eI aeA AE aa aEA a a EaeO aN aeOA a aA aaEOa eaEA a a e ca e a a e a a e a a a a a e a a a a e a e a e ae A e aI aA a a a a a AE aE eIN a a O eI a aNO aEE IN ac E acI aeA aa a A a eI a eO s aa aEA a Aa aI a aOeaaN aO eI a aEA a e a a a a a a a a a e a a a ca AE a eOU a aeIa aE aaEIN aaOe aA e Aa eIA a A aO eI aaE aaeOA a caAE aII aOA AE EaEe aIa aEEaaIA a AacE aEa aINa aEae aNa aEA a AC Ee aE aaEaI aIA e a aeINa a eeOaaE aOIea aNa EA Dari pembahasan di atas dapat digambarkan bahwa adab ketika mendengarkan pembicaraan, kita memperhatikan orang yang berbicara, tidak boleh memotong pembicaraan, sebelum kita diperkenankan untuk menjawab pertanyaan sebaiknya kita jangan menjawab pertanyaan tersebut padahal kita mengerti jawabannya. Tata Tertib Berbicara Berbicara memiliki tata tertib tersendiri, seperti ketika berbicara kita harus memiliki sesuatu yang bermanfaat sekaligus tidak mendatangkan bencana. Jika hal tersebut tidak bisa kita lakukan sebagai berbicara kita akan dilecehkan dan kita akan menampakkan kebodohan dari kita. Hal tersebut KH. Sayyid Muhammad dalam kitabnya memaparkan dari seorang penyair yang berbunyi: a A E aEEaI aEaO IOA AE aI I a a aNIa aA a A aOaE aaE aIA# Aa aNA aa a a a a Syair tersebut memberikan gambaran seorang pembicara dan hal-hal yang harus kita lakukan yaitu berbicara sesuai kondisi dan situasi saat kita menjadi pembicara. Gunakan Bahasa yang singkat Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 yang penuh dengan manfaat, hal tersebut dilakukan agar apa yang kita ucapkan tidak membosankan dan tidak sia-sia. Menjaga Rahasia Menjaga rahasia berarti menyimpan suatu permasalahan yang apabila diketahui akan menghawatirkan kita, maka dari itu kita harus menyimpan rahasia dan jangan sekali-kali menceritakan kepada orang lain agar tidak terjadi hal yang di khawatirkan. Hal tersebut Sayyid Muhammad dalam kitabnya memaparkan dari sabda Nabi Muhammad yang berbunyi: a AE aaEI aO IaO EaO eA a A aeaeIA AI a acI aE acE aIa e aI a aeaI a eOUA a aACA ca AE aEaeO aNA a a a e e a ca AEA aaEa aOA Dari sabda di atas menggambarkan bahwasanya kita harus meminta pertolongan kepada Allah. Adab Makan Makan merupakan suatu kegiatan mengonsumsi dari makan dengan tujuan untuk mendapatkan energi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita. Ketika kita mengonsumsi makanan atau makan hal-hal yang harus diperhatikan adalah yaitu adab makan atau tata cara makan itu sendiri. Hal itu KH. Sayyid Muhammad menjelaskan dalam kitabnya yang berbunyi: a a a a a a AE CaE aEa eE aE ac a aIO NEE aEaO OaeaEa a aO aEOA a A acI E eaEa eE aE aa U OaEe aaIA e e e a a a a a a a AE aOaeIAA a e a eAE a eI aaOa aN aOa eEa aI aa IeI aN a eI a ea aE Oa aOA a a AeaEO Oae aEeO a EOIaI OI A OE OaaE Ee a a A Aa eO aC aI eI aN aO aeAa a aIeIA e a a a a e a a a ca a a a a e a e a a a a a a e a aAE aIeI aEa aOaaEaeI aA e a Eac aaI aOaaE aae aEEaNA e A aaOI aOaaEaa aE aOaaE aeaEA Aa aOaaEaaca e EaeC aI aA Dari penjelasan kitab di atas menggambarkan bahwa adab makan atau tata cara makan sebelum kita makan kita harus membasuh kedua tangan, menyebut asma Allah atau membaca bismillah, mendudukkan salah satu kaki kita dan kaki yang satunya ditegakkan, makan dengan tangan yang kanan, ketika mengunyah bibir dalam keadaan rapat, tidak mengambil duduk orang lain, tidak meniup makanan yang panas, tidak memperhatikan suapan makanan orang lain, tidak terburu-buru dan tidak berbicara saat mulut kita dalam keadaan penuh dengan makanan. Cinta Tanah Air Cinta tanah air merupakan perasaan yang timbul dan muncul dari hati sanubari seorang warga untuk mengabdi, membela, memelihara, melindungi tanah air dari berbagai macam ancaman dan juga Sayyid Muhammad menjelaskan dalam kitabnya yang berbunyi: a aEaOE a aaE Ia eA a eEOa aI aacaEaacEacaI OEeI a AE e aO AaeO aIOaeI a aN eI aOOaea aN eI aOa e aNOaaIA ca AE eaa a aaIaaca a eN aE e aEOe aI aOA ca A a acacIaaI Oae a a aI e aaEIe a aI a aaEA ea a a aea a AeaOaI OeIE aA a aa a e a Dari penjelasan kitab di atas menggambarkan bahwa cinta tanah air dari masa kecil ibaratkan kita taat dalam melaksanakan hal yang diperintahkan orang tua, bertanggung jawab terhadap hal segala urusan, baik itu dalam pendidikan sekalipun etika sarana dan prasarana pendidikan dengan tujuan meningkatkan kualitas tanah air kita. Berdasarkan pembahasan di atas bisa diambil kesimpulan, transliterasi nilai pendidikan moral agama di dalam kitab at-Tahliyah wat-Targhib fi at-Tarbiyah wat-Tahdzyb meliputi: Sopan santun, merawat tubuh, menjaga hak-hak tubuh, akhlak kepada orang tua, budi pekerti yang baik, shiddiq, malu, murah hati, menahan kemarahan, mematuhi pemerintah atau penguasa, mendengarkan pembicaraan, menjaga rahasia, adab makan, cinta tanah air. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Keterkaitan Nilai Pendidikan Moral Agama dalam Kitab at-Tahliyah wat-Targhib fi atTarbiyah wat-Tahdzyb terhadap Pendidikan Anak Usia Dini Kitab at-Tahliyah wat-Targhib fi at-Tarbiyah wat-Tahdzyb Tahdzyb menjelaskan tentang akhlak dan etika zaman dahulu, dan penulis kitab tersebut menjelaskan betapa akhlak anak pada masa itu berbeda dengan keadaan saat ini secara terperinci. Beberapa perbedaan antara masa kini dan masa lalu berkaitan dengan cara orang tua membesarkan anak. Saat ini, fokusnya hanya pada konsep kognitif, dan aspek moral agama semakin diabaikan. Oleh karena itu, anak-anak sekarang sangat sedikit yang mempunyai nilai-nilai agama dan moral yang baik. Penjelasan dalam kitab at-Tahliyah wat-Targhib fi at-Tarbiyah wat-Tahdzyb dijelaskan secara rinci sehingga siapapun dapat dengan mudah memahami isinya. Ketika diperkenalkan sebagai buku referensi pembelajaran dalam dunia pendidikan, buku ini ditulis dan dijelaskan secara rinci, sehingga guru dapat langsung menjelaskan isi buku tersebut, sehingga sangat mudah untuk memahami dan meniru isi buku tersebut. Nilai-nilai pendidikan moral dan agama dijadikan sebagai indikator untuk menunjang keberhasilan pembinaan dan pengembangan pendidikan moral. Nilai pendidikan moral yang berkualitas meningkatkan kualitas sekolah, prestasi akademik, dan hubungan interpersonal. Hubungan antara nilai-nilai moral agama yang terdapat dalam kitab at-Tahliyah wat-Targhib fi at-Tarbiyah wat-Tahdzyb dengan pendidikan anak usia dini dilihat dari tujuan pendidikan agama dan akhlak yaitu pembentukan suatu bangsa tentu saja sangat dekat. Mengingat nilai-nilai moral yang dijiwai keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan Pancasila, maka sangat sulit untuk menjelaskan beberapa pembahasan dalam buku ini tentang hal-hal positif yang perlu diajarkan kepada anak. Selain itu, buku ini juga menjelaskan tentang kewajiban anak untuk menuruti perintah orang tuanya dan membahagiakannya. Selain itu, ketika berbicara tentang percakapan, perhatikan cara kita mendengarkan percakapan teman Anda, lihat wajahnya, perhatikan apa yang mereka katakan, dan cobalah untuk memanfaatkan percakapan tersebut sebaik mungkin tanpa menyela mereka. Oleh karena itu, jika hal ini diajarkan secara menyeluruh, anak akan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Penulis juga menjelaskan sopan santun dalam buku ini. Artinya, kita harus terlihat gembira dan hormat, berbicara sopan, dan tersenyum saat berinteraksi dengan orang lain. Mengajarkan budi pekerti yang baik pada anak usia dini dapat menumbuhkan sikap dan perilaku yang baik, empati dan rasa tanggung jawab di kemudian hari. Anak-anak juga harus mempunyai moral keagamaan yaitu mencintai tanah air dan taat kepada pemerintah dan penguasa. Hal tersebut dapat diungkapkan melalui pembahasan dalam buku tersebut. Artinya, ketika kita masih muda, kita seolah-olah patuh dalam melakukan hal yang diperintahkan oleh kita. Orang tualah yang bertanggung jawab terhadap segala permasalahan, baik pendidikan maupun etika lembaga pendidikan dan sarana prasarana, meningkatkan mutu, mengembangkan segala kemaslahatan bagi negara, memahami segala baik Oleh karena itu, jika nilai-nilai pendidikan agama dan moral yang terkandung dalam buku ini dijadikan acuan, maka buku ini sangat relevan dalam mengajarkan nilai-nilai agama dan moral yang Pendidikan usia dini, nilai-nilai pendidikan moral keagamaan meliputi budi pekerti yang baik, kejujuran, kerahasiaan, gaya berbicara, dan pengendalian amarah. Keterkaitan nilai-nilai pendidikan akhlak agama di atas bertujuan untuk membentuk nilai akhlak agama yang baik, berakhlak mulia serta mampu menggunakan ilmu dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Mengingat pentingnya pendidikan akhlak, maka seseorang dapat mempelajari kandungan akhlak yang terdapat dalam kitab at-Tahliyah wat-Targhib fi at-Tarbiyah wat-Tahdzyb dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. diharapkan menjadi dan mampu menjadi pribadi yang berakhlak mulia. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 menghargai diri sendiri terhadap lingkungan, tanah dan air, dan bertujuan untuk membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohani. KESIMPULAN Setelah melakukan penelitian dengan beberapa data yang diperoleh, maka peneliti menyimpulkan bahwa transliterasi nilai-nilai pendidikan moral agama yang terdapat dalam kitab atTahliyah wat-Targhib fi at-Tarbiyah wat-Tahdzyb terdapat 15 butir, yakni sopan santun, merawat tubuh, menjaga hak-hak tubuh, akhlak kepada orang tua, budi pekerti yang baik, jujur, malu, murah hati, menahan kemarahan, mematuhi pemerintah atau penguasa, mendengarkan pembicaraan, tata tertib berbicara, menjaga rahasia, adab makan, dan cinta tanah air. Selain itu, keterkaitan nilai pendidikan moral agama dalam kitab at-Tahliyah wat-Targhib fi at-Tarbiyah wat-Tahdzyb dengan pendidikan anak usia dini dapat digunakan sebagai acuan di dalam menanamkan pendidikan moral agama pada anak usia dini. Nilai-nilai pendidikan moral agama seperti berbudi pekerti yang baik, jujur, menjaga rahasia, dan lain sebagainya dapat menjadikan anak usia dini memiliki akhlak mulia baik terhadap diri sendiri, terhadap orang tua, terhadap sesama manusia, dan mampu mengabdikan dirinya terhadap lingkungan dan tanah air, serta membentuk manusia yang sehat, baik secara jasmani dan rohani. Pendidikan yang terkandung di dalamnya seperti mematuhi pemerintah atau penguasa akan sangat membantu dalam mencapai tujuan pendidikan. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan perbandingan untuk penelitian sejenis, serta sebagai referensi dan kepustakaan bagi peneliti lain dengan penelitian sejenis. Peneliti berharap hasil penelitian ini digunakan sebagai pijakan dalam mendidik akhlak anak maupun diri sendiri, juga sebagai penambahan wawasan dan pengalaman tentang pendidikan moral agama yang terdapat dalam kitab at-Tahliyah wat-Targhib fi at-Tarbiyah wat-Tahdzyb. DAFTAR KEPUSTAKAAN Garnika. Eneng. Membangun Karakteristik Anak Usia Dini. Tasikmalaya: Edu Publiser. Hal 1. Handayani. Pratiwi & Wirman. Asdi. Pengembangan Nilai Agama dan Moral Anak Usia 5-6 Tahun. Raudhatul Athfal: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Hal. 91 Ae 102. Koesoma. Doni A. Pendidikan Moral. Jakarta: PT Grasindo. Hal 52. Komalasari. Nining. Pendidikan Karakter Anak Usia Dini di PAUD Puspitasari Karangklesem Kecamatan Purwokerto Selatan Kabupaten Banyumas. Skripsi: IAI Purwokerto. Hal 4. Maryatun. Ika Budi. Peran Pendidik PAUD Dalam Membangun Karakter Anak. Jurnal Pendidikan. Hal 747. Mursid. Belajar dan Pembelajaran PAUD. Bandung: PT Remaja Rosda Karya. Hal 1. Nazir. Metode Penelitian. Jakarta: PT Ghalia Indonesia. Hal 27. Nurjennah. Siti. Perkembangan Nilai Agama dan Moral. Jurnal Paramurobbi. Hal 54-56. Soejono & Rahman. Abdur. Metode Penelitian: Suatu Pemikiran dan Penerapan . Jakarta: Rineka Cipta. Hal 13. Tatminingsih. Sri. Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Banten: UT. Hal 13. Wahyuningsih. Wiwit & Rachmadiana. Metha. Mengkomonikasian Moral Kepada Anak. Jakarta: Elex Media Komputindo. Hal 27