p-ISSN 2089-4422 e-ISSN 2808-3784 TAAoDIB: Jurnal Pemikiran Pendidikan Vol. No. September 2025 https://journal. id/index. php/tdb/index Manajemen Kepala Sekolah dalam Mengintegrasikan Nilai Budaya Gayo pada Pelajaran Muatan Lokal di MAN 1 Aceh Tengah Abidah1. Evanirosa2 Hardi Nova3 abidahabdurrahmangayo@gmail. IAIN Takengon evanirosa@gmail. IAIN Takengon hardinova@gmail. IAIN Takengon DOI: 10. 54604/tdb. Diajukan: 12/10/2025 Diterima: 30/10/2025 Copyright A 2023 Diterbitkan: 31/10/2025 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai budaya Gayo yang relevan serta strategi dan manajemen kepala sekolah dalam mengintegrasikannya ke dalam pelajaran Muatan Lokal di MAN 1 Takengon. Aceh Tengah. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah berperan penting dalam merancang dan mengimplementasikan integrasi nilai-nilai budaya melalui penguatan kurikulum, pelibatan tokoh adat, serta kegiatan ekstrakurikuler berbasis budaya seperti saman dan didong. Nilai-nilai utama yang diintegrasikan meliputi kejujuran, gotong royong, dan penghormatan terhadap orang tua yang berkontribusi pada pembentukan karakter siswa. Meskipun terdapat kendala seperti keterbatasan bahan ajar dan pelatihan guru, kepala sekolah mampu mengelola strategi berkelanjutan melalui supervisi, pelatihan, dan kolaborasi dengan masyarakat. Penelitian ini menegaskan bahwa manajemen kepala sekolah yang efektif berperan penting dalam menjaga keberlanjutan dan relevansi nilai-nilai budaya lokal di tengah tantangan globalisasi pendidikan. Kata Kunci: manajemen kepala sekolah, nilai budaya Gayo, muatan lokal, pendidikan karakter. ABSTRACT This study aims to analyze relevant Gayo cultural values as well as the strategies and management applied by the principal in integrating them into Local Content (Muatan Loka. subjects at MAN 1 Takengon. Central Aceh. Using a qualitative descriptive approach, data were collected through observation, interviews, and documentation. The findings indicate that the principal plays a vital role in designing and implementing cultural value integration through curriculum strengthening, involvement of local cultural figures, and culture-based extracurricular activities such as saman and didong. The main values integrated include honesty, cooperation, and respect for parents, which contribute to studentsAo character formation. Despite challenges such as limited teaching materials and teacher training, the principal effectively manages sustainable strategies through supervision, training, and community collaboration. This study highlights that effective school management is crucial in maintaining the sustainability and relevance of local cultural values amid the challenges of educational Keywords: principal management. Gayo cultural values, local content, character education, * Korespondensi Author: Abidah, abidahabdurrahmangayo@gmail. [AUTHOR NAME] Manajemen Kepala Sekolah dalam Mengintegrasikan Nilai Budaya Gayo pada Pelajaran Muatan Lokal di MAN 1 Aceh Tengah PENDAHULUAN Manajemen pendidikan merupakan proses penting dalam mengatur, mengarahkan, dan mengendalikan seluruh sumber daya sekolah agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan Fayol . mengemukakan bahwa manajemen terdiri dari fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian, sementara Drucker . menekankan pentingnya efektivitas dan inovasi dalam kepemimpinan organisasi. Dalam konteks pendidikan, manajemen berperan sebagai fondasi bagi terlaksananya kegiatan belajar mengajar yang berkualitas. Kepala sekolah sebagai manajer pendidikan memiliki tanggung jawab besar untuk mengkoordinasikan seluruh elemen sekolah agar bekerja menuju visi dan misi pendidikan yang telah ditetapkan. Kepemimpinan kepala sekolah, sebagaimana dijelaskan Bush & Glover . , tidak hanya mencakup aspek administratif, tetapi juga kepemimpinan instruksional dan budaya. Kepala sekolah berperan sebagai motivator, inovator, dan mediator dalam menciptakan iklim belajar yang kondusif. Model kepemimpinan seperti kepemimpinan transformasional dan kepemimpinan servis menjadi relevan karena mendorong kepala sekolah untuk menginspirasi, melayani, dan memberdayakan guru serta siswa agar mampu beradaptasi dengan perubahan pendidikan dan sosial. Dalam konteks pendidikan madrasah di Indonesia, kepala madrasah memegang peran strategis dalam mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal ke dalam kurikulum. Integrasi budaya ke dalam pembelajaran bertujuan untuk memperkuat karakter, memperkaya wawasan kebangsaan, dan menjaga keberlanjutan identitas budaya di tengah arus globalisasi. Pendidikan yang berbasis pada nilai budaya lokal dapat memperkuat identitas peserta didik serta meningkatkan toleransi dan pemahaman antarbudaya (Banks, 1. Oleh karena itu, kepala sekolah perlu mampu memimpin proses integrasi nilai-nilai budaya lokal dengan pendekatan manajerial yang efektif, inovatif, dan partisipatif. Budaya Gayo yang berasal dari dataran tinggi Aceh Tengah memiliki kekayaan nilai seperti gotong royong, musyawarah, penghormatan terhadap guru, dan kebersamaan. Nilai-nilai tersebut tidak hanya terwujud dalam perilaku sosial masyarakat, tetapi juga tercermin dalam bahasa yang mereka gunakan sebagai media pewarisan budaya. Bahasa Gayo, sebagai bahasa daerah yang kaya akan warisan budaya, memiliki sistem fonem yang menarik untuk dikaji karena di dalamnya tersimpan pola bunyi yang merefleksikan identitas dan cara pandang masyarakat penuturnya (Salam & Zulfikar, 2. Pemahaman terhadap karakteristik dalam Bahasa Gayo tidak hanya penting bagi kajian linguistik, tetapi juga memiliki implikasi edukatif dalam upaya mengintegrasikan nilai-nilai budaya Gayo pada pelajaran muatan lokal. Melalui pengenalan bahasa dan unsur fonologisnya, peserta didik dapat mengenal lebih dekat akar budayanya, memahami kekhasan daerahnya, serta menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas lokal yang tercermin dalam bahasa yang mereka warisi. Selama ini, sejumlah penelitian tentang budaya Gayo lebih banyak berfokus pada aspek linguistik (Salam & Zulfikar, 2. , serta penelitian lain menunjukkan bahwa kearifan lokal Gayo telah dikaji dalam konteks pendidikan pesantren dan pendidikan karakter (Husaini, 2019. Juwandi et al. , 2. Penelitianpenelitian tersebut memberikan kontribusi pentingnya penggunaan bahasa Gayo yang diadopsi dalam Akan tetapi implementasi Bahasa Gayo masih terbatas pada konteks pesantren dan penguatan pendidikan karakter secara umum, belum menyentuh tataran praktis manajemen sekolah formal dalam mengintegrasikan nilai budaya Gayo ke dalam pelajaran Muatan Lokal. Padahal, dalam sistem pendidikan formal, kepala sekolah memiliki posisi strategis sebagai manajer pendidikan yang bertanggung jawab dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi kebijakan pembelajaran yang berorientasi pada penguatan karakter berbasis budaya daerah. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian yang berfokus pada analisis nilai-nilai budaya Gayo yang relevan serta strategi dan manajemen kepala sekolah dalam mengintegrasikannya ke dalam pelajaran Muatan Lokal. Penelitian ini [AUTHOR NAME] Manajemen Kepala Sekolah dalam Mengintegrasikan Nilai Budaya Gayo pada Pelajaran Muatan Lokal di MAN 1 Aceh Tengah diharapkan dapat mengisi kekosongan kajian empiris mengenai praktik manajemen kepala sekolah berbasis kearifan lokal di Aceh Tengah, sekaligus memberikan model pengelolaan pendidikan yang berakar pada identitas budaya daerah. Dalam konteks pendidikan formal, keberhasilan integrasi nilai budaya daerah tidak hanya bergantung pada kurikulum, tetapi juga pada efektivitas manajemen sekolah dalam menerjemahkan nilainilai tersebut ke dalam praktik pembelajaran. Kepala sekolah berperan penting sebagai pembuat kebijakan, penyedia sumber daya, motivator, sekaligus evaluator dalam memastikan nilai-nilai budaya Gayo terintegrasi secara berkelanjutan ke dalam kurikulum muatan lokal. Melalui strategi manajerial yang tepat, seperti pelatihan guru, kolaborasi dengan tokoh masyarakat, serta evaluasi berkelanjutan. Kepala sekolah dapat menjadikan sekolah sebagai pusat pelestarian dan internalisasi nilai-nilai budaya daerah. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai budaya Gayo yang relevan serta strategi dan manajemen kepala sekolah dalam mengintegrasikan dan menjaga keberlanjutan nilai-nilai tersebut dalam pelajaran muatan lokal di MAN 1 Aceh Tengah. II. METODOLOGI Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tujuan untuk memahami secara mendalam strategi dan manajemen kepala sekolah dalam mengintegrasikan nilai-nilai budaya Gayo ke dalam kurikulum di MAN 1 Aceh Tengah. Pendekatan kualitatif dipilih karena memungkinkan peneliti menggali makna, pengalaman, serta pandangan para informan secara naturalistik. (Waruwu, 2. Penelitian jenis ini menekankan proses, konteks, dan makna dari fenomena sosial yang diteliti, sehingga hasilnya diharapkan mampu memberikan kontribusi terhadap pengembangan teori sosial dan praktik pendidikan berbasis budaya lokal. Penelitian dilaksanakan di MAN 1 Takengon. Aceh Tengah, yang dipilih secara purposif karena sekolah ini menunjukkan kualitas output yang baik sekaligus menghadapi tantangan dalam mempertahankan nilai-nilai budaya Gayo di lingkungan pendidikan formal. Waktu penelitian disesuaikan dengan kalender akademik dan kegiatan sekolah agar pengumpulan data berlangsung secara alami dalam konteks kegiatan pembelajaran. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. (Waruwu, 2. Observasi digunakan untuk mengamati secara langsung praktik manajemen kepala sekolah dan proses pembelajaran yang memuat unsur budaya Gayo, seperti penggunaan material budaya lokal, interaksi guru-siswa, dan kegiatan pembelajaran berbasis budaya. Wawancara dilakukan secara terstruktur dengan kepala sekolah, guru, dan pihak terkait untuk memperoleh informasi mengenai strategi, tantangan, serta keberlanjutan integrasi budaya Gayo dalam kurikulum. Dokumentasi digunakan untuk menelaah berbagai dokumen sekolah seperti rencana pembelajaran, arsip kegiatan budaya, serta laporan pelaksanaan muatan Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri . uman instrumen. , yang berperan dalam merancang, mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasi data. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara kualitatif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan tetap menjaga validitas data melalui triangulasi sumber dan teknik. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian berdasarkan temuan umum menunjukkan bahwa MAN 1 Aceh Tengah memiliki potensi besar dalam mengintegrasikan nilai-nilai budaya Gayo ke dalam pembelajaran, khususnya dalam mata pelajaran muatan lokal dan Pendidikan Agama Islam (PAI). Sejarah panjang sekolah, visi yang menekankan keseimbangan antara IMTAQ dan IPTEK, serta dukungan fasilitas pendidikan menjadi landasan kuat bagi pengembangan kurikulum berbasis kearifan lokal. Kepemimpinan yang adaptif, keterlibatan komunitas, dan partisipasi aktif guru serta siswa memperkuat implementasi nilai-nilai budaya dalam konteks pendidikan karakter. Sementara temuan khusus yang didapatkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut. [AUTHOR NAME] Manajemen Kepala Sekolah dalam Mengintegrasikan Nilai Budaya Gayo pada Pelajaran Muatan Lokal di MAN 1 Aceh Tengah Identifikasi Nilai-Nilai Budaya Gayo yang Relevan Kepala sekolah di MAN 1 Aceh Tengah mengidentifikasi nilai-nilai budaya Gayo melalui pendekatan kolaboratif dengan melibatkan tokoh adat, guru, dan komunitas lokal. Nilai-nilai utama yang diangkat meliputi kejujuran, gotong royong, rasa hormat, serta tradisi seperti saman dan didong. Proses identifikasi dilakukan melalui kajian literatur, observasi budaya masyarakat, dan diskusi dengan pemangku Pemilihan nilai-nilai ini tidak hanya didasarkan pada keberadaan nilai tersebut dalam masyarakat Gayo, tetapi juga pada justifikasi pedagogis untuk memperkuat karakter siswa. Yang pertama nilai Gotong Royong dipilih secara spesifik karena secara langsung mendukung pengembangan collaboration skill siswa, yang merupakan kompetensi kunci abad ke-21. Selanjutnya, tradisi Saman dan Didong diintegrasikan bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan sebagai media untuk menanamkan disiplin, kekompakan, dan ketaatan pada pemimpin, yang secara sinergis mendukung pencapaian visi sekolah untuk menghasilkan siswa yang agamis dan berbudaya. Nilai-nilai yang dipilih disesuaikan dengan visi-misi sekolah serta diarahkan untuk memperkuat karakter siswa. Keterlibatan komunitas lokal menjadi faktor penting untuk memastikan keaslian dan relevansi nilai-nilai yang diintegrasikan. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menegaskan bahwa pelestarian budaya lokal dapat dilakukan melalui penguatan pendidikan karakter peserta didik dengan menanamkan nilai-nilai nasionalis, religius, gotong royong, mandiri, dan integritas yang diinternalisasikan dalam sikap serta perilaku sehari-hari (Iswatiningsih, 2. Dalam konteks ini, integrasi nilai budaya Gayo tidak hanya memperkuat aspek kognitif siswa, tetapi juga menjadi sarana membentuk karakter sosial dan spiritual sesuai dengan prinsip pendidikan karakter nasional. Selain itu, hasil penelitian lain menunjukkan bahwa media seni tradisional seperti Didong memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar hiburan. Didong berperan sebagai wahana pendidikan moral dan sosial karena di dalamnya terkandung pesan adat, syariat, dan kisah-kisah hikmah yang bernilai kebaikan. Nilai-nilai yang tercermin dalam seni Didong mencakup mukemel, tertib, setie, semayang-gemasih, mutentu, amanah, genap-mupakat, alang-tulung, dan bersikekemelen (Daniah, 2. Nilai-nilai tersebut menjadi dasar pembentukan karakter siswa yang kontekstual dengan budaya lokal, sekaligus memperkuat jati diri sebagai bagian dari masyarakat Gayo. Strategi Kepala Sekolah dalam Integrasi Nilai Budaya Gayo Strategi yang diterapkan oleh kepala sekolah berfokus pada pendekatan partisipatif dan sistematis. Pelibatan guru dilakukan sejak tahap perencanaan hingga implementasi melalui rapat koordinasi dan Nilai-nilai budaya Gayo diintegrasikan ke dalam RPP dan modul pembelajaran berbasis budaya, serta diperkuat melalui kegiatan proyek dan ekstrakurikuler seperti pementasan saman dan didong. Kepala sekolah juga menerapkan supervisi rutin untuk memastikan integrasi berjalan efektif, sementara guru berperan sebagai fasilitator yang kreatif dalam menyampaikan materi agar relevan dengan kehidupan siswa. Tantangan utama yang dihadapi adalah keterbatasan bahan ajar tertulis dan rendahnya minat siswa terhadap materi budaya lokal. Untuk mengatasi hal tersebut, kepala sekolah dan guru berinovasi melalui kolaborasi dengan tokoh adat, penggunaan media interaktif, serta kegiatan berbasis proyek. Evaluasi dilakukan secara menyeluruh melalui observasi perilaku siswa, hasil belajar, dan umpan balik dari guru, orang tua, dan Strategi integrasi budaya Gayo yang diterapkan oleh Kepala Sekolah MAN 1 Aceh Tengah dapat dianalisis secara struktural menggunakan kerangka Fungsi Manajemen Pendidikan yang memperlihatkan sistematisasi tata kelola sekolah. Dalam fase Perencanaan (Plannin. , strategi partisipatif diterapkan dengan melibatkan tokoh adat dan guru dalam identifikasi nilai-nilai budaya gayo yang relevan. fase ini menggunakan strategi partisipatif yang diterapkan dengan melibatkan tokoh adat dan guru, sejalan dengan hasil penelitian (Poli et al. , 2. bahwa Sinergi antara pemangku kepentingan menjadi kunci dalam membangun sistem pendidikan yang berakar pada komunitas budaya lokal. Keterlibatan ini krusial karena output dari perencanaan ini adalah transformasi nilai-nilai dan praktik budaya lisan Gayo ke dalam bentuk kurikulum tertulis . odul ajar dan RPP) yang diakui secara formal dalam pendidikan, menunjukkan keberhasilan manajemen dalam mengoperasionalkan identitas lokal. Fase Pengorganisasian (Organizin. [AUTHOR NAME] Manajemen Kepala Sekolah dalam Mengintegrasikan Nilai Budaya Gayo pada Pelajaran Muatan Lokal di MAN 1 Aceh Tengah diwujudkan melalui pembagian tugas spesifik guru sebagai fasilitator budaya dan penetapan alokasi waktu mata pelajaran muatan lokal. Pelaksanaan (Actuatin. dicapai melalui inovasi pembelajaran . edia interakti. dan penguatan ekstrakurikuler, memastikan nilai-nilai Gayo benar-benar tertanam. Terakhir, fungsi Pengawasan (Controllin. diimplementasikan melalui supervisi rutin Kepala Sekolah, evaluasi holistik . bservasi perilaku, hasil belajar, umpan bali. , serta upaya mengatasi tantangan. Kerangka ini menegaskan bahwa integrasi nilai budaya bukan sekadar aktivitas sporadis, melainkan bagian dari manajemen perubahan kurikulum yang terstruktur dan terukur. Efektivitas pendekatan partisipatif dalam strategi ini dapat direfleksikan melalui lensa Teori Kepemimpinan Pendidikan, khususnya model Kepemimpinan Budaya dan Kepemimpinan Transformasional. Pendekatan partisipatif, yang melibatkan guru dan komunitas lokal dalam pengambilan keputusan kurikulum, secara efektif mengatasi tantangan implementasi kurikulum. Pendekatan tersebut berpijak pada peran strategis kepala sekolah sebagai pemimpin yang mampu mengarahkan serta memotivasi seluruh pemangku kepentingan untuk terlibat aktif dalam pengembangan kurikulum sesuai konteks dan kebutuhan sekolah. Melalui kepemimpinan yang sensitif terhadap karakteristik dan kemampuan pengikut, kepala sekolah dapat memastikan proses kolaboratif berjalan efektif, sehingga tujuan sekolah dapat dicapai secara berkelanjutan (Andriani, 2. Manajemen Keberlanjutan Integrasi Budaya Gayo Manajemen kepala sekolah dalam memastikan keberlanjutan program integrasi dilakukan melalui pendekatan kolaboratif, evaluatif, dan inovatif. Kepala sekolah menetapkan dokumen resmi yang mencantumkan nilai-nilai budaya Gayo dalam kurikulum muatan lokal dan mengadakan pelatihan rutin bagi guru. Pelibatan pemangku kepentingan, termasuk guru, siswa, orang tua, dan komunitas lokal menjadi strategi kunci untuk menjaga relevansi dan keberlanjutan program. Evaluasi tahunan dilakukan untuk menyesuaikan materi ajar dengan perkembangan zaman. Selain itu, kepala sekolah aktif mengembangkan sumber daya pendidikan melalui kerja sama dengan tokoh adat dan pemanfaatan teknologi digital, seperti video pembelajaran dan platform daring berbasis budaya Gayo. Tantangan berupa minimnya literatur budaya diatasi dengan mendokumentasikan tradisi lisan dan mengubahnya menjadi sumber belajar formal. Tabel 1. Praktik Manajemen Keberlanjutan Integrasi Nilai Budaya Gayo di MAN 1 Aceh Tengah Aspek yang Diobservasi Penggunaan Material Budaya Metode Pengajaran Lingkungan Kelas Deskripsi Observasi Catatan Guru menggunakan buku referensi tentang budaya Gayo dalam pembelajaran. Terdapat juga materi ajar yang berisi nilai-nilai budaya Gayo seperti gotong royong dan musyawarah. Guru menggunakan metode cerita rakyat dan permainan tradisional untuk menyampaikan nilainilai budaya. Terdapat juga pementasan seni tradisional seperti tari Saman dan didong. Dekorasi kelas mencakup poster dan gambar yang menggambarkan budaya Gayo. Terdapat juga pameran kecil tentang sejarah dan tradisi Gayo. Buku referensi ini dikembangkan bersama tokoh adat setempat untuk memastikan keaslian dan relevansi nilai-nilai budaya. Metode ini membuat pembelajaran lebih menarik dan relevan bagi siswa, memperkuat pemahaman mereka tentang budaya lokal. Lingkungan mendukung pembelajaran berbasis budaya membantu siswa merasa lebih terhubung dengan warisan lokal mereka. Kegiatan ini memperkuat identitas budaya siswa dan memberikan berpartisipasi aktif dalam tradisi Interaksi ini membantu siswa memahami dan menginternalisasi Aktivitas Budaya Kegiatan ekstrakurikuler seperti lomba didong dan pementasan saman diadakan secara rutin. Siswa aktif terlibat dalam kegiatan ini. Interaksi GuruSiswa Guru memberikan contoh langsung dari nilainilai budaya dalam interaksi sehari-hari, seperti menghormati orang tua dan gotong royong. [AUTHOR NAME] Manajemen Kepala Sekolah dalam Mengintegrasikan Nilai Budaya Gayo pada Pelajaran Muatan Lokal di MAN 1 Aceh Tengah Evaluasi dan Penilaian Keterlibatan Komunitas Pengaruh terhadap Sikap dan Perilaku Siswa Evaluasi siswa mencakup penilaian terhadap pemahaman mereka tentang nilai-nilai budaya Gayo, baik melalui ujian tertulis maupun observasi perilaku. Tokoh adat dan budayawan sering diundang sebagai narasumber atau juri dalam kegiatan Orang tua juga terlibat dalam kegiatan Siswa menunjukkan penghargaan yang lebih tinggi terhadap budaya lokal, terlihat dari partisipasi aktif mereka dalam kegiatan budaya dan sikap yang lebih menghormati tradisi. nilai-nilai kehidupan sehari-hari. Evaluasi ini memastikan bahwa siswa tidak hanya memahami teori tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai budaya dalam praktik. Keterlibatan memperkuat hubungan antara sekolah dan masyarakat, serta autentisitas program. Perubahan sikap ini menunjukkan bahwa integrasi budaya dalam kurikulum berhasil memperkuat identitas budaya siswa. Manajemen keberlanjutan integrasi budaya Gayo di MAN 1 Aceh Tengah dicapai melalui upaya institusionalisasi program dan penguatan kemitraan strategis. Keberlanjutan tidak hanya dilihat dari durasi program, melainkan dari sejauh mana praktik tersebut telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kurikulum dan budaya sekolah. Berdasarkan hasil observasi diperoleh bahwa aspek Keterlibatan Komunitas dan Pengembangan Sumber Daya menjadi kunci. Kemitraan dengan Tokoh Adat memastikan otentisitas materi budaya yang tertuang dalam buku referensi, sehingga menjaga keaslian nilai Gayo yang diajarkan dari waktu ke waktu. Praktik manajemen yang berkelanjutan ini terbukti menghasilkan dampak yang terukur terhadap siswa. Melalui Inovasi Pedagogi . etode cerita rakya. dan Institusionalisasi Program . kstrakurikuler Saman dan Didong yang ruti. , sekolah berhasil mentransformasikan nilai menjadi praktik. Hal ini terefleksi dalam perubahan sikap dan perilaku siswa, di mana partisipasi aktif dalam kegiatan budaya menunjukkan internalisasi identitas lokal dan penghargaan yang tinggi terhadap warisan tradisi. Penekanan pada Evaluasi dan Penilaian yang mencakup hasil observasi menunjukkan bahwa sekolah memiliki mekanisme akuntabilitas yang kuat untuk memastikan bahwa integrasi nilai tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga afektif dan Salah satu pilar keberlanjutan yang paling penting adalah adanya Mekanisme Akuntabilitas dan Monitoring. Dengan memasukkan observasi perilaku dan penerapan nilai budaya Gayo sebagai bagian dari penilaian formal. Kepala Sekolah memastikan adanya pengendalian internal terhadap implementasi kurikulum. Sistem evaluasi yang holistik ini, didukung oleh Kemitraan Strategis . elibatkan orang tua dan masyaraka. , memungkinkan adanya umpan balik yang komprehensif untuk perbaikan kurikulum secara berkala, sebuah indikator kunci dari manajemen program yang berkelanjutan Hal tersebut menunjukkan bahwa integrasi nilai-nilai budaya Gayo dalam kurikulum di MAN 1 Aceh Tengah telah dilakukan dengan baik. Guru menggunakan berbagai metode kreatif untuk menyampaikan nilai-nilai budaya, dan lingkungan kelas mendukung pembelajaran berbasis Keterlibatan komunitas lokal dan partisipasi aktif siswa dalam kegiatan budaya menunjukkan bahwa program ini berhasil memperkuat identitas budaya siswa dan meningkatkan penghargaan mereka terhadap warisan lokal. Integrasi nilai-nilai budaya Gayo di MAN 1 Aceh Tengah dilakukan melalui pendekatan kolaboratif antara kepala sekolah, guru, tokoh adat, dan komunitas lokal. Kepala sekolah berperan sebagai pemimpin transformasional yang mengidentifikasi nilai-nilai budaya seperti gotong royong, kejujuran, rasa hormat, dan tradisi seperti didong dan saman untuk diintegrasikan ke dalam kurikulum. Nilai-nilai tersebut [AUTHOR NAME] Manajemen Kepala Sekolah dalam Mengintegrasikan Nilai Budaya Gayo pada Pelajaran Muatan Lokal di MAN 1 Aceh Tengah dipilih berdasarkan relevansinya terhadap pembentukan karakter siswa dan kesesuaiannya dengan visi-misi Proses integrasi dijalankan melalui penyusunan modul pembelajaran berbasis budaya, pengembangan mata pelajaran muatan lokal, serta kegiatan proyek dan ekstrakurikuler seperti pementasan seni tradisional. Kepala sekolah menerapkan strategi manajemen yang sistematis melalui perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi program. Guru berperan penting sebagai fasilitator dalam mengaitkan nilai-nilai budaya dengan pembelajaran, sedangkan komunitas lokal berperan sebagai sumber autentik yang memperkaya materi ajar. Meskipun demikian, masih terdapat tantangan, terutama kurangnya bahan ajar tertulis dan terbatasnya pelatihan guru. Untuk mengatasinya, sekolah melakukan inovasi dengan melibatkan tokoh adat dalam pembuatan materi, mengembangkan dokumentasi budaya lokal, serta memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran. Evaluasi dilakukan secara berkelanjutan melalui observasi perilaku siswa, penilaian hasil belajar, serta umpan balik dari guru, orang tua, dan masyarakat. Dalam aspek keberlanjutan, kepala sekolah memastikan program tetap berjalan melalui dokumentasi formal, pelatihan guru secara rutin, serta penyediaan sumber daya dan anggaran khusus. Kegiatan budaya juga dijadikan bagian dari program ekstrakurikuler dan pembentukan karakter siswa. Evaluasi tahunan dan pelibatan pemangku kepentingan menjadi kunci untuk menjaga relevansi dan efektivitas program seiring perkembangan zaman. Secara keseluruhan, integrasi nilai-nilai budaya Gayo di MAN 1 Aceh Tengah terbukti memperkuat identitas budaya siswa, meningkatkan sikap sosial, dan menumbuhkan kebanggaan terhadap warisan lokal. Pendekatan kolaboratif dan manajemen yang berbasis budaya menjadikan sekolah ini model yang relevan bagi penerapan pendidikan kontekstual dan karakter berbasis kearifan lokal di lingkungan madrasah. IV. SIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menunjukkan bahwa kepala sekolah di MAN 1 Aceh Tengah telah berhasil mengidentifikasi dan mengintegrasikan nilai-nilai budaya Gayo ke dalam kurikulum sekolah melalui pendekatan kolaboratif dan berbasis data. Proses identifikasi melibatkan diskusi dengan tokoh adat, guru, dan komunitas lokal, serta kajian literatur dan observasi langsung. Kriteria yang digunakan untuk menentukan relevansi nilai-nilai budaya mencakup kesesuaian dengan visi-misi sekolah, potensi penerapan dalam kehidupan sehari-hari siswa, dan kontribusinya terhadap pembentukan karakter siswa. Tantangan utama yang dihadapi adalah kurangnya bahan ajar yang terstruktur dan terbatasnya pelatihan guru, namun kepala sekolah dan guru berhasil mengatasinya melalui kerja sama dengan komunitas lokal dan pendekatan kreatif dalam pembelajaran. Integrasi ini berdampak positif pada pembentukan karakter siswa, meningkatkan penghargaan mereka terhadap budaya lokal, dan memperkuat identitas budaya Strategi yang diterapkan oleh kepala sekolah dalam mengintegrasikan nilai-nilai budaya Gayo ke dalam kurikulum sekolah meliputi penyusunan modul pembelajaran berbasis budaya, integrasi ke mata pelajaran muatan lokal, dan kegiatan proyek seperti pementasan saman atau didong. Kepala sekolah memastikan keberlanjutan pengintegrasian nilai-nilai budaya Gayo dalam kurikulum di masa yang akan datang meliputi dokumentasi formal, pelatihan rutin bagi guru, dan kegiatan ekstrakurikuler berbasis SARAN Peningkatan Sumber Daya: Sekolah perlu terus meningkatkan ketersediaan sumber daya seperti buku referensi dan materi ajar yang berbasis budaya Gayo. Ini dapat dilakukan melalui kerja sama dengan lembaga budaya lokal atau melalui pengembangan materi oleh guru-guru yang kompeten. Pelatihan Guru: Pelatihan rutin bagi guru harus terus dilakukan untuk memastikan mereka memiliki kemampuan dan pengetahuan yang cukup untuk mengintegrasikan nilai-nilai budaya ke dalam Pelatihan ini juga harus mencakup metode pengajaran inovatif yang dapat menarik minat siswa. [AUTHOR NAME] Manajemen Kepala Sekolah dalam Mengintegrasikan Nilai Budaya Gayo pada Pelajaran Muatan Lokal di MAN 1 Aceh Tengah Keterlibatan Komunitas: Keterlibatan komunitas lokal harus diperkuat melalui kegiatan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. Ini bisa melalui program-program yang melibatkan tokoh adat sebagai narasumber atau juri dalam kegiatan sekolah. Evaluasi dan Penyesuaian: Evaluasi berkala terhadap program integrasi budaya harus dilakukan untuk memastikan relevansi dan efektivitasnya. Penyesuaian berdasarkan hasil evaluasi ini penting untuk menjaga program tetap sesuai dengan perkembangan zaman. Pemanfaatan Teknologi: Penggunaan teknologi seperti video pembelajaran dan platform digital harus terus dikembangkan untuk memperluas aksesibilitas materi berbasis budaya bagi siswa. REKOMENDASI UNTUK PENELITI SELANJUTNYA Studi Longitudinal: Penelitian longitudinal dapat dilakukan untuk melihat dampak jangka panjang dari integrasi nilai-nilai budaya Gayo terhadap perkembangan karakter dan prestasi akademik siswa. Perbandingan Antar Sekolah: Penelitian yang membandingkan implementasi integrasi budaya di berbagai sekolah di Aceh Tengah dapat memberikan gambaran yang lebih luas tentang keberhasilan dan tantangan yang dihadapi. Pengaruh Globalisasi: Penelitian lebih lanjut dapat mengeksplorasi bagaimana globalisasi mempengaruhi persepsi dan minat siswa terhadap budaya lokal, serta strategi yang efektif untuk menyeimbangkan keduanya. Pengembangan Kurikulum: Penelitian tentang pengembangan kurikulum yang lebih terintegrasi dengan nilai-nilai budaya lokal dapat memberikan panduan praktis bagi sekolah-sekolah lain yang ingin mengadopsi pendekatan serupa. Keterlibatan Siswa: Penelitian yang melibatkan perspektif siswa tentang integrasi budaya dalam kurikulum dapat memberikan wawasan yang berharga tentang bagaimana mereka menerima dan menginternalisasi nilai-nilai tersebut. Dengan demikian, penelitian ini memberikan dasar yang kuat untuk pengembangan pendidikan berbasis budaya di Aceh Tengah, dan rekomendasi ini dapat membantu memperkuat dan memperluas implementasi program serupa di masa depan. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada Kepala Madrasah Aliyah Negeri 1 Aceh Tengah beserta seluruh dewan guru dan peserta didik yang telah memberikan dukungan, kerja sama, serta informasi berharga selama pelaksanaan penelitian. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada para tokoh adat dan budayawan Gayo yang telah berkontribusi dalam memberikan wawasan mendalam mengenai nilai-nilai budaya lokal. Penulis juga mengucapkan apresiasi kepada Kementerian Agama Kabupaten Aceh Tengah atas izin dan fasilitas yang diberikan selama kegiatan penelitian berlangsung. Tidak lupa, penulis menyampaikan terima kasih kepada para dosen pembimbing dan rekan sejawat yang telah memberikan arahan, masukan, serta motivasi hingga artikel ini dapat terselesaikan dengan baik. REFERENSI