EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN IBU HAMIL DENGAN PREEKLAMPSIA DI RSUD ABDUL WAHAB SJAHRANI SAMARINDA PERIODE JANUARI-DESEMBER 2020 Rizka Hadi Maisarah1. Triswanto Sentat1. Husnul Warnida1 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda E-mail : riskasarah17@gmail. ABSTRAK Preeclampsia is a form of hypertension in pregnancy accompanied by proteinuria, a multisystem disorder that occurs after 20 weeks of pregnancy. This study aims to determine the description of antihypertensive in pregnant women patients and to know the accuracy of the use of antihypertensive drugs in pregnant women patients at Abdul Wahab Sjahrani Samarinda Regional General Hospital reviewed the right aspects indications, precise patients, appropriate drugs and appropriate doses with reference standards (National Guidelines for Medical Service. on the diagnosis and management of Preclampsia in 2016. This type of research belongs to a non-experimental type of This study was conducted on an observational basis whose data was taken retrospectively and analyzed in a deceptively non-analytical manner. The samples in this study were pregnant women with preeclampsia diagnosis and using antihypertensive The method used is totally sampling by considering the criteria of inclusion and The sample of research included in the inclusion criteria is as many as 50 medical records patients. The data obtained were then compared with the 2016 standards national preeclampsia guideline. The results showed the use of antihypertensive drugs nifedipine as many as 33 patients . %), methyldopa as many as 2 patients . %), and combination therapy nifedipin and methyldopa as many as 15 patients . %). Evaluation of the use of antihypertensive drugs based on the right patients . %), precise indications . %), appropriate drugs . %) and appropriate dose . %). Keywords : Antihypertensive. Pregnant Women. Preeclampsia. Abdul Wahab Sjahrani Samarinda Regional General Hospital PENDAHULUAN Angka kematian ibu di Indonesia masih sangat tinggi dimana tahun 2015 angka kematian ibu (AKI) di Indonesia adalah 305 000 kelahiran hidup. Penyebab kematian ibu sebagian besar dikarenakan pendarahan, infeksi dan preeklampsia. Prevelensi preeklampsia di negara maju adalah 1,3- 6% sedangkan di negara berkembang adalah 1,8 -18%. Kejadian Indonesia 273/tahun atau sekitar 5,3%. Angka kematian ibu di Provinsi Kalimantan Timur pada tahun 2015 berkisar 100 kasus kematian ibu, dan kembali turun pada tahun 2016 menjadi 95 kasus kematian ibu, namun kembali meningkat pada tahun 2017 menjadi 110 kasus kematian ibu. Pada tahun 2018 terjadi penurunan angka kematian ibu sebanyak 74 kasus dan kembali terjadi peningkatan pada tahun 2019 yaitu 79 Penyebab kasus kematian ibu di Kalimantan Timur sebagian besar di karenakan pendarahan 22 kasus, hipertensi dalam kehamilan 18 kasus, infeksi 2 kasus, gangguan sistem pendarahan 6 kasus dan gangguan metabolik 1 kasus. Persatuan Obsteri Ginekologi Indonesia (POGI) antihipertensi pada preeklampsia pilihan pertama adalah nifedipin oral short parenteral serta alternatif pemberian nitrogliserin, metildopa, dan labetolol. Terapi hipertensi pada kehamilan harus memiliki perhatian khusus karena dapat mempengaruhi baik ibu maupun janinya, serta dapat berkembang menjadi eklampsia. Pemilihan obat yang digunakan harus aman, efektif dan rasional untuk menghasilkan efek yang diinginkan. Terapi dengan obat pada masa kehamilan memerlukan perhatian khusus karena ancaman efek teratogenik obat dan perubahan fisiologis pada ibu sebagai respon terhadap kehamilan. Obat dapat menembus sawar plasenta dan masuk ke dalam sirkulasi janin. Pemilihan obat-obatan selama kehamilan harus mempertimbangkan rasio manfaat dan resiko bagi ibu maupun janin untuk menghasilkan terapi yang aman dan rasional. Penelitian yang dilakukan oleh Amri . tentang studi penggunaan obat antihipertensi pada pasien preeklampsia berat di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit X Surakarta tahun 2014 menunjukan bahwa 49,19% tepat indikasi, 81,35% tepat obat, 86,44% tepat dosis dan 40,67% tepat pasien dan persentase kasus pengobatan yang rasional adalah 40,67%. hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa masih terdapat ketidakrasionalan penggunaan obat antihipertensi pada pasien preeklampsia. Berdasarkan latar belakang di atas mendorong pentingnya penelitian dalam gambaran penggunaan obat antihipertensi dan ketepatan penggunaan Obat antihipertensi pada ibu hamil dengan preeklampsia di RSUD Abdul Wahab Sjahrani Samarinda berdasarkan tepat pasien, tepat indikasi, tepat obat dan tepat dosis. Dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang lengkap terkait informasi obat dan masalah ketidaktepatan penggunaan obat yang bisa terjadi dalam terapi METODE PENELITIAN Penelitian ini termasuk jenis penelitian non-eksperimental, karena tidak memberikan perlakuan apapun pada subyek penelitiannya. Penelitian ini dilakukan secara observasional yang datanya diambil secara retrospektif dan dianalisis secara deksritif. Sampel yang digunakan pada penelitian ini diambil dengan melakukan pertimbangan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan sebagai Kriteria inklusi : . Pasien preeklamsia yang menjalani rawat inap di RSUD Abdul Wahab Sjahrani Samarinda Periode Januari-Desember 2020. Pasien dengan diagnosis preeklampsia yang mendapatkan terapi antihipertensi. Pasien mempunyai data rekam medik lengkap, sekurang-kurangnya meliputi : nama pasien, umur pasien, usia kehamilan, tekanan darah pasien, data Kriteria Eksklusi : . Pasien preeklampsia yang disertai penyakit lain, yaitu diabetes mellitus dan . Pasien preeklampsia yang meninggal pasca diagnosis dan tata laksana preeklampsia Diperoleh data 106 rekam medik pasien ibu hamil dengan Preeklampsia mendapatkan terapi antihipertensi dan pasien yang mempunya data rekam medik lengkap. Jumlah data yang sebanyak 50 rekam medik. dipstick dan berdasarkan diagnosis. Berdasarkan data penelitian pada pasien preeklampsia berdasarkan usia pada tabel 1 paling tertinggi berdasarkan usia dewasa awal dengan rentang usia 26-35. Teknik digunakan adalah sampling total, yaitu teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai Data dianalisis menyesuaikan gambaran pengguaan obat antihipertensi dan menyesuaikan ketepatan pasien, ketepatan indikasi, ketepatan dosis, ketepatan obat sesuai dengan pedoman PNPK (Pedoman Nasional Pelayanan Kedoktera. tentang diagnosis dan tata laksana preeklampsia tahun 2016. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada penelitian ini dilakukan evaluasi penggunaan obat antihipertensi pada ibu hamil dengan preeklampsia di instalasi rawat inap RSUD Abdul Wahab Sjahrani Samarinda periode Januari-Desember parameter tepat pasien, tepat indikasi, tepat obat, dan tepat dosis berdasarkan pedoman PNPK (Pedoman Nasional Pelayanan Kedoktera. Tabel 1. Data Karakteristik Pasien Preeklampsia Jumlah Pasien Persentase Kategori Remaja Akhir . -25 Tahu. Dewasa Awal ( 26-35 Tahu. Dewasa Akhir . -45Tahu. Trimester I . -14 Mingg. Trimester II . -28 Mingg. Trimester i . -42 Mingg. Riwayat Penyakit HT Dahulu Riwayat Penyakit HT Keluarga Tidak Memiliki Riwayat HT -30 m. Preeklampsia Ringan Preeklampsia Berat Kriteria Usia (Tahu. (Depkes RI, 2. Usia Kehamilan Riwayat Hipertensi Proteinuria (Pemeriksaan Dipstic. Diagnosis Hal ini sesuai dengan penelitian Dian penelitiannya usia sampel paling banyak pada rentang usia 20-35 tahun sebanyak Hal ini berarti bahwa dari seluruh kasus, kelompok usia yang dominan adalah kelompok usia dewasa awal 2635 tahun. Umumnya pada usia 26-35 merupakan reproduksi yang baik yakni periode yang paling baik untuk hamil, melahirkan, dan menyusui. Pada hasil penelitian ini dimana periode 2020 mendominasi adalah 26-35 tahun. Secara teori preeklampsia lebih sering didapatkan pada masa awal dan akhir usia reproduktif yaitu (<20 tahun dan >35 tahu. Sedangkan kehamilan di usia 26-35 tahun masih belum bisa dikatakan aman karena di usia 21-35 tahun masih bisa terkena preeklampsia apabila keluarga pernah mengalami preeklampsia atau memiliki riwayat hipertensi atau ibu hamil kurang melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC) secara rutin, dan kurang mengkonsumsi makanan bergizi saat kehamilan. Berdasarkan data penelitian pada pasien preeklampsia berdasarkan usia kehamilan pada tabel 1 sering terjadi berdasarkan usia kehamilan trimester i yaitu pada usia kehamilan 28-42 minggu sebanyak 98%. Hasil ini sesuai dengan penelitian Dian . ibu hamil dengan preeklampsia terjadi pada kehamilan trimester i sebanyak 60%. Hal ini dikarenakan hipertensi pada kehamilan muncul pada >20 minggu setelah kehamilan. Secara fisiologis kehamilan normal, arteria spiralis yang terdapat pada desidua mengalami endovaskuler yang akan menjamin tetap terbukanya lumen untuk memberikan aliran darah tetap, nutrisi cukup dan oksigen seimbang. Proses pergantian sel ini seharusnya pada trimester pertama, yaitu minggu ke-16 dengan perkiraan pembentukan plasenta telah berakhir. Invasi endovaskuler trofoblas terus berlangsung pada trimester kedua dan masuk kedalam arteria miometrium. Hal ini menyebabkan pelebaran dan tetap terbukanya arteri sehingga kelangsungan aliran darah, nutrisi, dan oksigen tetap Hal tersebut dibutuhkan janin dalam rahim. Invasi trimester kedua pada preeklampsia tidak terjadi sehingga terjadi hambatan pada saat memerlukan memberikan nutrisi dan oksigen dan menimbulkan situasi Auiskemia region uteroplasenterAy pada sekitar minggu ke20. Pada keadaan ini dapat menerangkan bahwa preeklampsia baru akan terjadi mulai minggu ke-20 kehamilan. Dari penelitian yang telah didapat pada tabel 1 faktor resiko terjadinya preeklampsia berdasarkan riwayat penyakit hipertensi lebih tinggi yang tidak mempunyai riwayat penyakit hipertensi sebanyak 58%. Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Umar mempunyai faktor riwayat hipertensi sebanyak 54,1% sedangkan yang tidak memiliki riwayat hipertensi sebanyak 45,9%, dan membuktikan bahwa ibu hamil dengan riwayat hipertensi memiliki kemungkinan 6 kali lebih besar dibanding dengan ibu hamil yang tidak memiliki riwayat hipertensi. Selain itu. Elisabeth . yang mempunyai riwayat hipertensi sebanyak 72,7% sedangkan yang tidak memiliki riwayat hipertensi 27,3%, dan membuktikan bahwa kemungkinan 5,3 kali lebih besar ibu hamil dengan riwayat hipertensi dapat mengalami preeklampsia. Hal ini bisa terjadi karena ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi seperti faktor usia, pemeriksaan dipstick, faktor usia kehamilan dan ibu hamil kurang melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC) secara rutin, dan kurang mengkonsumsi makanan bergizi saat kehamilan. Berdasarkan data penelitian yang telah didapat pada tabel 1 berdasarkan proteinuria pemeriksaan dipstick yang paling banyak pada kadar proteinuria 3 yaitu 48%, kadar proteinuria 2 yaitu 34% dan kadar Interpentasi hasil dari proteinuria dengan metode dipstick apabila kadar 1 kadar proteinurianya adalah 0,3-0,45 g/L, 2 kadar proteinuria 0,45-1 g/dL dan proteinuria 3 kadar proteinuria adalah 1-3 g/L. Pasien yang mengalami preeklampsia ringan apabaila tekanan darah sistolik dan diastolik Ou140/90 mmHg serta ditandai dengan kadar proteinuria Ou300 mg/24 jam atau proteinuria 1 dengan metode dipstick. Pasien yang mengalami preeklampsia berat ditandai dengan tekanan darah sistolik dan diastolik Ou160/90 mmHg, kadar proteinuria Ou5 g/jumlah urin selama 24 jam. Pemeriksaan proteinuria pada mendeteksi kelainan ginjal serta hipertensi dalam kehamilan yang tidak begitu berat. Faktor yang berperan dalam muculnya proteinuria yaitu filtasi glomelurus dan reabsorsi protein Pada preeklampsia proteinuria muncul karena kecepatan filtrasi glomerulus menurun. Pada keadaan ini abnormal disertai protein dengan berat molekul kecil biasanya difiltrasi namun kemudian diabsorsi sehingga ditemukan di dalam urin. Pada keadaan tidak hamil protein dengan berat molekul besar tidak dapat melewati filtrasi glomerulus meskipun beberapa protein dengan berat molekul kecil yang biasanya lolos dari filtrasi kemudian akan direabsobsi kembali, sehingga tidak ditemukan urin. Proteinuria adanya bahaya pada janin, berat badan lahir rendah, dan meningkatnya resiko kematian parinatal. Dari penelitian yang telah dilakukan pada pasien preeklampsia berdasarkan diagnosis pada tabel 1 didapatkan diagnosis preeklampsia berat sebanyak 40 pasien . %) sedangkan preeklampsia ringan sebanyak 10 pasien . %). Preeklampsia berat dengan tekanan darah Ou 160/110 mmHg disertai proteinuria Ou 5 g/24 jam atau pemeriksaan disptick Ou 3 . Sedangkan preeklampsia ringan dengan tekanan darah Ou 140/90 mmHg disertai proteinuria Ou 300 mg/24 jam, atau pemeriksaan dipstick Ou 1 . Pasien preeklampsia berat banyak terjadi pada ibu bersalin karena kurangnya kesadaran kehamilan, sehingga pasien tidak menyadari bahwa dirinya mengalami preeklampsia yang akan menyebabkan dari preeklampsia ringan menjadi preeklampsia berat. Gambaran Penggunaan Obat Antihipertensi Gambaran preeklampsia dengan menggunakan obat-obat antihipertensi sebagai berikut: Dari penelitian yang telah dilakukan pada tabel 2 hasil penggunaan obat antihipertensi pada ibu hamil yang sering digunakan yaitu nifedipin 66%, dan metildopa 4%. Menurut POGI . yaitu nifedipin merupakan salah satu CCB yang sudah digunakan sejak dekade terakhir untuk mencegah persalinan prematur dan sebagai Nifedipin merelaksasi otot polos vaskular sehingga mendilatasi arteri koroner dan perifer. Tabel 2. Gambaran penggunaan obat antihipertensi Nama Obat Jumlah Pasien Obat Tunggal Nifedipin Metildopa Obat Kombinasi Nifedipin Metildopa Jumlah Nifedipin lebih berpengaruh dalam pembuluh darah dan kurang Mekanisme kerja nifedipin yang tidak mendilatasi pembuluh darah tanpa menurunkan aliran darah uteroplasenta dan tidak menyebabkan abnormalitas Sedangkan metildopa agonis reseptor alfa yang bekerja disistem saraf pusat. Metildopa digunakan pada wanita hamil dengan hipertensi kronis. Metildopa merupakan terapi utama dari hipertensi pada ibu hamil karena dinilai paling aman dan tidak menimbulkan efek samping pada ibu dan janin. Metildopa mempunyai efek vasodilatasi dengan menghalangi peningkatan nonepinefrin pada reseptor otot polos. Terapi kombinasi pada ibu hamil yang sering digunakan yaitu nifedipin metildopa yaitu 30%. Penggunaan terapi kombinasi nifedipin dan metildopa terbukti dapat mengatasi preeklampsia ringan sampai berat serta efektif dalam mencegah eklampsia. Persentase Penggunaan terapi kombinasi untuk pasien preeklampsia dilakukan apabila monoterapi sudah dilaksanakan tetapi tidak menunjukan perbaikan tekanan darah sehingga digunakan terapi kombinasi, dan juga dapat dilihat dari tingkat keparahan pasien. Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Preeklampsia Dalam penelitian ini dilakukan evaluasi penggunaan obat antihipertensi dengan meninjau dari segi tepat pasien, tepat indikasi, tepat obat dan tepat dosis. Menurut World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa lebih dari separuh dari seluruh obat yang diresepkan, diberikan, dan dijual dengan cara yang tidak tepat dan separuh dari pasien menggunakan obat secara tidak Evaluasi penggunaan obat antihipertensi ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 3. Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi Tepat Tidak Tepat Kriteria Jumlah Pasien Jumlah Pasien Ketepatan Pasien Ketepatan Indikasi Ketepatan Obat Ketepatan Dosis Evaluasi ketepatan pasien pada penelitian ini didapatkan hasil 100% dalam penelitian ini adalah dilihat dari kontraindikasi obat antihipertensi yang digunakan dan dibandingkan dengan riwayat penyakit pasien serta dilihat dari aman atau tidaknya obat diberikan harus sesuai dan aman untuk ibu hamil, karna obat tidak hanya terdistribusi pada ibu melainkan juga terhadap janin yang dikandung, sehingga keaman dan ketepatan pemilihan obat untuk pasien harus sesuai. Dari hasil penelitian yang didapat yaitu ketepatan pasien sudah sesuai dengan teori yang dilakukan. Pemberian obat nifedipin dan metildopa pada ibu hamil sudah sesuai karena aman dan tidak terkontraindikasi dengan Nifedipin dikontraindikasikan pada keadaan syok kardiogenik, stenosis aorta lanjut dan porfiria. Metildopa termasuk dalam kategori B merupakan obat yang tidak menimbulkan resiko pada janin sedangkan nifedipin masuk kedalam kategori C dimana perlu adanya pertimbangan penggunaan nifedipin memberikan manfaat yang lebih besar dari pada resiko yang terjadi pada janin. Nifedipin mempunyai onset yang cepat, biovailabilitas dari nifedipin relatif lebih cepat terlepas dan menyebar sekitar 84%-89% dalam darah, dapat diberikan per oral dan efektif menurunkan tekanan darah tanpa menyebabkan efek samping yang berbahaya. Ketepatan pasien disesuaikan kondisi klinis pasien berdasarkan dan keluhan pasien. Evaluasi ketepatan indikasi dalam penelitian ini dilihat dari ketepatan berdasarkan diagnosis penyakit. Tepat antihipertensi yang diberikan pada pasien sudah sesuai baik pada pasien dengan preeklampsia ringan dan preeklampsia berat. Penggunaan obat memperhatikan rasio manfaat dan Obat dapat digunakan jika manfaat diperoleh dengan penggunaan obat tersebut jauh lebih besar dari resiko yang ditimbulkan. Dari hasil penelitian ini didapatkan tepat indikasi pada seluruh pasien preeklampsia. Pelaksanaan terapi memenuhi kriteria tepat indikasi karena obat antihipertensi yang diberikan sesuai dengan diagnosa yang ditegakan oleh Obat antihipertensi yang diresepkan yaitu antihipertensi tunggal yaitu nifedipin dan metildopa yang dapat menurunkan preeklampsia ringan dan berat pada ibu hamil. Diberikan antihipertensi kombinasi yaitu nifedipin dan metildopa pada ibu hamil dengan preeklampsia berat dengan tekanan darah sistolik Ou160 mmHg dan tekanan darah diastolik Ou110 mmHg serta adanya proteinuria Ou3 . Ketepatan obat adalah ketepatan pemilihan jenis obat berdasarkan pertimbangan manfaat dan resiko berdasarkan keefektifan obat. Menilai ketepatan obat ini dilihat dari tekanan darah, nilai proteinuria dan pemilihan jenis obat antihipertensi. Evaluasi ketepatan obat dalam penelitian ini dibandingkan dengan standar acuan PNPK preeklampsia 2016. Ketepatan obat yang telah dilakukan dalam penelitian ini sebanyak 50 pasien . %) sudah memenuhi kriteria tepat Obat antihipertensi tunggalyang diberikan yaitu nifedipin peroral yaitu obat golongan calcium channel blocker (CCB) dan merupakan first line terapi pada pasien ibu hamil dengan Penggunaan nifedipin lebih banyak digunakan karena dapat memiliki aksi yang cepat. Penggunaan nifedipin untuk mencapai penurunan tekanan darah secara bertahap dan berkelanjutan sehingga mencegah terjadinya komplikasi seperti pendarahan otak dan eklampsia, serta memberikan efek tekolitik pada ibu. Pada penelitian ini juga pasien mendapat obat antihipertensi tunggal golongan Agonis Reseptor 2 Sentral yaitu metildopa yang menangani pasien preeklampsia ringan. Metildopa bekerja disistem saraf pusat, namun juga memiliki efek perifer yang akan menurunkan tonus simpatis dan tekanan darah arteri. Metildopa mempunyai safety margin yang luas . aling ama. Pada penelitian ini pasien juga diberikan terapi antihipertensi kombinasi yaitu nifedipin dan metildopa pada menurut Queensland Health (Hypertensive of pregnanc. tahun 2013 terapi kombinasi antara obat antihipertensi diberikan apabila pasien hipertensi sudah memasukiberat/akut, yaitu tekanan darah diastolik >160 dan tekanan darah sistolik 100 mmHg, pemberian obat antihipertensi pada pasien preeklampsia berat/akut secara bersamaan dapat menurunkan tekanan darah secara efektif. Ketepatan ketepatan pemberian obat dengan dosis yang sesuai dengan rentang dosis terapi yang telah ditentukan, tidak under dose atau over dose. Pemberian dosis yang berlebihan, khususnya untuk obat dengan rentang terapi sempit, akan sangat beresiko timbulnya efek samping. Sebaliknya dosis yang terlalu kecil tidak akan menjamin tercapainya kadar terapi yang diharapkan. Ketetapan dosis dari penelitian ini dibandingkan dengan standar acuan PNPK preeklampsia 2016. Ketepatan dosis yang telah dilakukan peneliti yaitu sebanyak 49 pasien . %) masuk dalam kriteria tepat dosis yaitu mendapatkan nifedipin dengan dosis 10 mg dan metildopa dengan dosis 250-500 mg. Terdapat 1 pasien . %) yang tidak masuk ke dalam tepat dosis dapat dilihat dalam lampiran no 45 yaitu pasien mendapatkan terapi antihipertensi yaitu nifedipin dengan dosis 5 mg 3 x 1dan metyldopa 250 mg 3 x 1 dengan tekanan darah 163/110 dan proteinuria 3 termasuk ke dalam preeklampsia berat. Menurut standar acuan PNPK preeklampsia 2016, penggunaan obat antihipertensi nifedipin peroral short acting adalah 10-30 mg perhari. Sedangkan metildopa biasanya dimulai pada dosis 250-500 mg per oral 2 atau 3 kali sehari, dengan maksimum 3 g per hari. Pemberian besaran dosis antihipertensi harus tepat karena ketidaktepatan dosis dapat berpengaruh pada keberhasilan terapi. SIMPULAN Penggunaan anithipertensi pada ibu hamil terapi tunggal nifedipin sebanyak 33 pasien . %), metildopa sebanyak 2 pasien . %), dan terapi kombinasi nifedipin dan metildopa sebanyak 15 pasien . %). Penggunaan obat antihipertensi berdasarkan tepat pasien . %), tepat indikasi . %), tepat obat . %) dan tepat indikasi . %). DAFTAR PUSTAKA