Tahun . Vol. Nomor . Bulan (Novembe. Halaman . https://doi. org/10. 53544/sapa/v10i2. Pembinaan Spiritualitas ALMA Puteri dan Pendampingan Bagi Pengasuh Untuk Pelayanan Kepada Anak-Anak Berkebutuhan Khusus Di Bhakti Luhur Malang Rosalia Ina Kii 1* Tomas Lastari Hatmoko2 Sekolah Tinggi Pastoral Yayasan IPI Malang Abstrak Penulis koresponden Nama : Rosalia Ina Kii Surel : rosaliaakii@gmail. ManuscriptAos History Submit : September 2025 Revisi : Oktober 2025 Diterima : November 2025 Terbit : November 2025 Kata-kata kunci: Kata kunci 1 Pelayanan ABK Kata kunci 2 Pendampingan Pengasuh Kata kunci 3 Pembinaan Spiritualitas Copyright A 2025 STP- IPI Malang Kehidupan modern membawa implikasi besar bagi moralitas, spiritualitas, dan identitas manusia, termasuk dalam konteks pelayanan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Di Yayasan Bhakti Luhur, pembinaan spiritual menjadi aspek penting yang membantu para pengasuh menyadari bahwa pelayanan mereka merupakan bentuk pengabdian kepada Yesus yang hadir dalam diri anak-anak miskin dan Meski demikian, berbagai tantangan muncul, seperti tindakan kekerasan, rendahnya komitmen, serta penggunaan waktu yang tidak efektif akibat distraksi media sosial. Penelitian ini bertujuan menilai efektivitas pembinaan spiritual ALMA Puteri serta pendampingan pengasuh dalam menjalankan pelayanan tersebut. Menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, penelitian menemukan bahwa pembinaan telah dilakukan sejak awal, tetapi dampaknya belum optimal. Pelayanan menjadi lebih bermakna ketika pengasuh mampu menghayati bahwa karya mereka ditujukan kepada Kristus dan dijalankan dalam semangat kebersamaan komunitas melalui kegiatan seperti makan, doa, dan percakapan bersama. Hambatan utama terletak pada motivasi awal pengasuh yang cenderung berorientasi pada pendidikan dan ijazah. Karena itu, pembinaan spiritual yang lebih intensif dan konsisten dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas pengasuhan dan memperdalam komitmen pelayanan Abstract Corresponding Author Name : Rosalia Ina Kii E-mail : Rosaliaakii@gmail. ManuscriptAos History Submit : September 2025 Revision : October 2025 Accepted : November 2025 Published : November 2025 Keywords: Keyword 1 Caregiver Accompaniment Keyword 2 Service for Children with a Special Needs Keyword 3 Spiritual Formation Copyright A 2025 STP- IPI Malang Modern life brings significant implications for human morality, spirituality, and identity, including within the context of serving children with special needs. At the Bhakti Luhur Foundation, spiritual formation plays an essential role in helping caregivers recognize that their service is an act of devotion to Jesus, who is present in the poor and suffering children they accompany. However, various challenges arise, such as incidents of violence, low commitment, and ineffective use of time due to distractions from social media. This study aims to evaluate the effectiveness of the ALMA Puteri spiritual formation and caregiver accompaniment in carrying out this service. Using a descriptive qualitative method through interviews, observations, and documentation, the study found that spiritual formation has been provided from the beginning, yet its impact is not fully optimal. Service becomes more meaningful when caregivers understand that their work is directed toward Christ and is lived out in community life through shared meals, communal prayer, and regular conversations. The main obstacle lies in caregiversAo initial motivation, which is often oriented toward obtaining education and certificates. Therefore, more intensive and consistent spiritual formation is needed to enhance caregiving quality and deepen commitment to service. https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Rosalia Ina Kii | Pembinaan Spiritualitas ALMA Puteri Pendahuluan Tantangan yang dihadapi dalam kehidupan modern memiliki dampak yang cukup besar bagi manusia. Globalisasi yang melibatkan berbagai peradaban, agama, dan sektor telah membawa perubahan signifikan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, di sisi lain, globalisasi juga dapat menjerumuskan manusia ke dalam sekularisme, penurunan moral dan spiritual, serta kekejaman intelektual. Hal ini mengakibatkan krisis identitas dan hilangnya hati nurani, yang berujung pada kemunduran rasa kemanusiaan, moralitas, dan integritas jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Selain itu, konsekuensi dari globalisasi ini juga mempengaruhi kejernihan spiritual individu, termasuk anak-anak, yang mengalami perubahan yang signifikan (Faiz & Kurniawaty, 2. Dalam menghadapi tantangan yang ditimbulkan di era globalisasi ini, pendidikan Kristiani memiliki tanggung jawab dan kesempatan untuk mempersiapkan diri menghadapi perubahan yang terjadi di masyarakat. Esensi dari Pendidikan Kristiani adalah untuk mendewasakan setiap orang, membimbing mereka menjadi lebih serupa dengan Kristus sebagaimana yang diajarkan dalam Kitab Suci. Hal ini agar penggunaan media digital dalam pendidikan Kristiani menjadi penting dalam mengembangkan spiritualitas seseorang. Spiritualitas ini diperlukan agar orang dapat menghadapi disrupsi digital tanpa terpengaruh oleh perilaku negatif dan buruk yang muncul akibat akses informasi teknologi yang sangat bebas (Duha et al. , 2. Ketika seseorang memiliki semangat spiritualitas yang tumbuh dan berkembang, hal ini akan menjadi motivasi utama dalam pelayanan. Spiritualitas yang kuat mendorong seseorang untuk melayani dengan penuh kasih, kesabaran, dan keikhlasan. Pelayanan kepada orang lain, khususnya kepada mereka yang membutuhkan, merupakan salah satu cara untuk mengekspresikan dan mengaplikasikan nilai-nilai spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari (Adisusanto et al. , 2. Spiritualitas yang bertumbuh melalui pelayanan tentunya berakar pada relasi dengan Allah. Membaca Kitab Suci dan merenungkan firman-Nya menjadi cara untuk mendengarkan suara-Nya dan memperkuat hubungan yang mendalam dengan Tuhan. Hubungan dengan Allah yang dibangun melalui Yesus Kristus menunjukkan kehendak-Nya untuk terlibat secara aktif dalam kehidupan manusia. Keterlibatan aktif dalam kehidupan manusia dengan mengambil bagian dalam pelayanan merupakan buah dari spiritualitas kristiani yang dihidupi (Hadrys, 2. Pentingnya pelayanan ditekankan dengan merujuk kepada pola perutusan Kristus, yang datang bukan untuk menerima pelayanan, melainkan untuk memberikan pelayanan. Tuhan Yesus sendiri dengan bijak menggunakan kata-kata yang menggambarkan bahwa tujuan kehadiran-Nya di dunia ini bukanlah untuk menerima pelayann melainkan untuk memberikan pelayanan (Matius 20:. Rasul Paulus juga memandang tugasnya sebagai suatu "diakonia," yang berarti pelayanan, dan dirinya sebagai "diakonos," yang berarti pelayan bagi Kristus . Korintus 11:. Semangat dalam pelayanan yang dijalankan mencerminkan semangat pelayanan Kristus sendiri sebagai pusat dan tujuan iman kristiani (Lio et al. , 2. https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Rosalia Ina Kii | Pembinaan Spiritualitas ALMA Puteri Gereja yang berpihak pada orang-orang kecil mengambil bagian dalam pelayanan yang menekankan sisi dimensi kemanusiaan yang paling luhur. Dalam hal ini, tak ada satu manusiapun yang menginginkan hidupnya tidak sempurna. Demikian juga mereka yang mengalami keterhambatan mental, fisik dan emosi atau yang sering disebut anak atau orang yang berkebutuhan khusus. Istilah "berkebutuhan khusus" secara jelas merujuk kepada anakanak yang dianggap memiliki perbedaan atau penyimpangan dari kondisi anak normal pada Perbedaan atau penyimpangan dapat terlihat dalam aspek fisik, mental, maupun karakteristik perilaku sosial. Konteks fisik mencakup gangguan seperti masalah penglihatan . una netr. , gangguan pendengaran . una rung. , gangguan bicara . una wicar. , dan gangguan fungsi anggota tubuh . una daks. Sementara itu, anak-anak dengan kebutuhan di aspek mental bisa mencakup mereka dengan kemampuan mental yang sangat tinggi . uper norma. , yang dikenal sebagai anak berbakat atau unggul. Sebaliknya, mereka dengan kemampuan mental yang sangat rendah . dikenal sebagai tuna grahita. Anak-anak dengan gangguan dalam aspek sosial adalah mereka yang mengalami kesulitan menyesuaikan perilaku mereka dengan lingkungan sekitar, sering disebut sebagai tunalaras (Efendi, 2. Dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Hak-Hak Penyandang Disabilitas, pasal 5 ayat 3, disebutkan bahwa penyandang disabilitas adalah mereka yang mendapatkan perawatan dan pengasuhan dari keluarga atau keluarga pengganti guna memastikan pertumbuhan dan perkembangannya secara optimal. Sedangkan, istilah "pengasuh" berasal dari kata "asuh," yang berarti menjaga . erawat dan mendidi. , serta membimbing . embantu dan melati. Dengan demikian, seorang pengasuh memainkan peran krusial dalam mendidik, membina, melatih, dan merawat anak dengan penuh kasih Seperti halnya seorang ibu, pengasuh bertindak sebagai pendidik yang bertanggung jawab dalam mengarahkan anak asuh untuk mencapai perkembangan yang lebih baik. Kehadiran mereka secara khusus memberikan suatu pengalaman, aspirasi, keterampilan dan nilai-nilai bagi anak berkebutuhan (Kalofonos, 2. Selain itu, peran pengasuh sebagai pembimbing melibatkan tugas untuk mengarahkan, menjaga, dan membimbing anak agar dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal (Goa, 2. Bhakti Luhur merupakan yayasan yang resmi didirikan pada tanggal 5 Agustus 1959 oleh Prof. Dr. Paulus Hendrikus Janssen. Adapun motto dari yayasan Bhakti Luhur yaitu AuCinta Kasih Membangun Dunia BaruAy. Dunia baru yang dimaksudkan oleh yayasan ini yakni bergerak di bidang sosial yang terbuka untuk umum, memberikan perhatian secara luas kepada penyandang difabel yang miskin, terlantar dan terpinggirkan dari masyarakat (Derung, 2. Di dalam Yayasan Bhakti Luhur, para pengasuh didampingi secara khusus untuk memberikan pelayanan yang baik kepada anak-anak yang diasuh dengan corak hidup serumah, sekamar, semeja makan, sehati dan sejiwa. Para pengasuh mengambil bagian dalam kehidupan anak-anak berkebutuhan khusus yang dilayani. Pengasuh bertanggungjawab terhadap anak yang dipercayakan penuh selama ia berada di yayasan Bhakti Luhur dengan memberikan pembinaan baik secara kognitif maupun spiritual, sesuai dengan spiritualitas yang terdapat di dalam ALMA (Statuta, 2. https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Rosalia Ina Kii | Pembinaan Spiritualitas ALMA Puteri Berdasarkan penelitian terdahulu kehadiran pengasuh bagi anak berkebutuhan khusus menunjukkan suatu perwujudan yang nyata bagaimana kasih Yesus hadir melalui para Kehadiran para pengasuh bukan dimaknai sebagai kewajiban atau tugas sematamata (Selatang et al. , 2. Mengingat pentingnya peran pengasuh sebagaimana diuraikan di atas, maka mereka biasanya didampingi oleh para pendamping atau pembina yang adalah anggota ALMA. Di setiap unit rumah selalu ada pendamping yang bertanggung jawab dalam pembinaan dan pendampingan. Pengasuh yang didampingi dan dimaksudkan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah para siswi yang sudah menyelesai pendidikan di SMK Bhakti Luhur. Mereka menempuh pendidikan selama 3 tahun dan akan mengabdi dalam pelayanan kepada anak berkebutuhan khusus selama 3 tahun. Mereka menjadi rekan kerja ALMA yang dengan penuh kesadaran mau melayani dan bergabung di Yayasan Bhakti Luhur Malang. Dalam mendampingi atau melayani anak-anak ini, para pengasuh ini dibina secara khusus baik melalui pendidikan formal maupun pendidikan non formal. Pendidikan formal berupa pelajaran dari para guru di sekolah tentang bagaimana mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus. Sedangkan pendidikan non formal diberikan oleh para pembina atau pendamping di asrama tempat para pengasuh tinggal. Pendidikan formal dan non formal diberikan kepada para pengasuh agar mereka dapat meningkatkan pelayanan kepada anak berkebutuhan khusus. Selain pendidikan dalam penanganan kepada anak berkebutuhan khusus, para pengasuh juga didampingi secara khusus oleh para pendamping untuk meningkatkan relasi yang erat dengan Tuhan melalui ekaristi, doa bersama dan kegiatan rohani lainnya. Para Suster ALMA dan pengasuh beserta anak-anak berkebutuhan khusus akan tinggal dalam satu komunitas sebagai satu keluarga. Suster ALMA bersama dengan pengasuh sebagai rekan kerja, berusaha mewujudkan dan mengimplementasikan panggilan melalui kegiatan pelayanan yang penuh kasih. Seperti ragi yang menyatu dengan adonan, mereka berupaya untuk menjiwai segala aspek kehidupan dengan semangat Injil, dengan tujuan memperkuat dan memperluas Tubuh Kristus (Puteri, 2. Dalam menghayati spiritualitas ALMA Puteri, para pengasuh diharapkan dapat meningkatkan komitmen mereka terhadap pelayanan bagi anak-anak berkebutuhan khusus karena di dalam diri anak-anak yang dilayani hadirlah Yesus seperti dikatakan dalam Kitab Suci (Mat. Mereka patut menyadari bahwa yang mereka layani di sana adalah Yesus sendiri yang hadir dalam diri orang miskin, hina dan menderita. Selain itu, pelayanan yang diberikan selalu bersumber dari Yesus sendiri yang melayani tanpa mengenal waktu. Sehubungan dengan hal ini, peneliti yang pernah hidup bersama dengan pengasuh dan anak berkebutuhan khusus serta menjadi pendamping dari beberapa pengasuh yang ada di Bhakti Luhur, melihat dan mengalami bahwa masih ada saja para pengasuh melakukan tindakan kekerasan pada anak berkebutuhan khusus, dan tidak sepenuh hati melayani anakanak yang dipercayakan. Pengasuh yang melakukan pelayanan tidak sampai pada masa atau waktu yang ditentukan, bahkan ada juga pengasuh yang pergi tanpa pamit bahkan tidak menyelesaikan studi dan masa kontraknya. https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Rosalia Ina Kii | Pembinaan Spiritualitas ALMA Puteri Hal demikian dialami juga oleh Regio Malang IV, yang para rekan atau pengasuhnya melakukan pelayanan kepada anak berkebutuhan khusus. Selain itu, ada keluhan lain bahwa pelayanan yang dilakukan seringkali terabaikan karena para perawat atau pengasuh lebih banyak menghabiskan waktu di depan handphone untuk bermain game daripada mendampingi anak dan cuek ketika ditegur oleh para pembina. Dalam hal lain, observasi anak dan pengisian buku administrasi asrama sering tidak dilaksanakan akibat kesibukan pribadi dari para pengasuh. Berdasarkan paparan dan persoalan di atas, penelitian ini akan mengeksplorasi mengenai hal-hal yang dibutuhkan dalam pendampingan yang tepat bagi para pengasuh. Studi akan spiritualitas ALMA Puteri menjadi pokok perhatian dan berlanjut pada analisis lapangan bagi model pendampingan dan pengasuhan yang tepat. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Metode kualitatif adalah pendekatan yang digunakan untuk meneliti situasi atau objek secara alami, di mana peneliti berperan sebagai instrumen utama. Data dikumpulkan dengan berbagai teknik yang saling melengkapi, analisis data dilakukan secara deduktif, dan penekanan utama adalah pada pemahaman makna daripada upaya untuk menghasilkan generalisasi (Sugiyono, 2. Penelitian kualitatif bertujuan untuk mendalami dan memahami secara mendalam fenomena tertentu, mengeksplorasi, memahami, meresapi, serta menginterpretasikan dan menyimpulkan hasilnya sesuai dengan konteksnya. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan mencapai kesimpulan yang objektif dan alami sesuai dengan karakteristik subjektivitas fenomena dalam konteks yang diberikan (Harahap, 2. Pendekatan deskriptif analitik digunakan untuk memperoleh informasi melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi (Jaya, 2. Peneliti mencoba menggali bagaimana pembinaan spiritualitas ALMA Puteri dan pendampingan pengasuh untuk meningkatkan pelayanan bagi anak berkebutuhan khusus di Bhakti Luhur Malang. Pemilihan jenis penelitian ini dilatarbelakangi oleh upaya peneliti dalam mengumpulkan data yang mencakup pandangan dari responden atau informan dalam bentuk narasi yang detail, serta data yang berasal dari observasi lapangan. Hasil dan Pembahasan Pembinaan Spiritualitas ALMA Puteri bagi Pengasuh Spiritualitas ALMA Puteri berakar pada misi dan kreativitas rohani Romo Paul Janssen. CM, yang terinspirasi dari tiga tokoh yaitu St. Vinsensius a Paulo. Santa Teresa dari Kalkuta, dan Jean Vanier. Ketiga tokoh ini memiliki kesamaan dalam misi pelayanan yaitu kepada orang miskin, lemah, dan terpinggirkan, melihat mereka sebagai kehadiran Yesus Kristus di Spiritualitas ALMA menekankan "spiritualitas orang-orang kecil," yang berarti kesederhanaan dan ketidakpentingan akan pengakuan dunia luar, serta sikap batiniah yang rendah hati (Rosmawaty, 2. https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Rosalia Ina Kii | Pembinaan Spiritualitas ALMA Puteri Para informan memiliki pemahaman yang konsisten mengenai Spiritualitas ALMA Puteri. Mereka memandang spiritualitas ini sebagai semangat pelayanan yang berpusat pada kaum miskin dan berkebutuhan khusus, sesuai dengan teladan Santo Vinsensius a Paulo. Konsep utama yang ditekankan adalah hidup bersama dalam satu komunitas, termasuk tinggal serumah, sekamar, dan semeja makan dengan anak-anak yang dilayani. Praktik ini dianggap sebagai cara untuk memberikan perhatian penuh dan langsung, serta membentuk ikatan keluarga. Spiritualitas ALMA juga dipahami sebagai perwujudan misi iman dan misi kasih. Misi iman adalah mewartakan kasih Allah kepada setiap orang, sementara misi kasih adalah mewujudkan kasih tersebut melalui pelayanan nyata. Para pengasuh diajak untuk selalu menyadari bahwa dalam melayani anak-anak, mereka sesungguhnya melayani Yesus Kristus sendiri yang hadir dalam diri yang kecil dan terpinggirkan. Kesadaran ini menjadi fondasi kekuatan dan motivasi dalam pelayanan, seperti yang dikatakan dalam kitab suci (Lukas 17:. Yesus mengatakan bahwa seseorang yang menjaga nyawanya akan kehilangan Sebaliknya, seseorang yang siap untuk mengorbankan dirinya demi hal-hal yang lebih besar, seperti nilai-nilai moral atau pengabdian kepada Tuhan, akan mendapatkan keselamatan yang lebih besar dalam hidup rohani. Dengan kata lain, pesan ini mengajarkan pentingnya pengorbanan dan mengutamakan nilai-nilai spiritual daripada kepentingan diri Dalam melukiskan pengorbanan sebagai hakikat kasih. Yesus menunjukan esensi cinta dengan mengorbankan diriNya sendiri (Tarkowska, 1. Adapun dasar-dasar spiritualitas pelayanan ALMA Puteri yang dihidupi oleh para pengasuh meliputi Lima Pokok Dasar Hidup Rohani dan Delapan Keutamaan. Lima pokok tersebut adalah renungan harian, bacaan Kitab Suci. Ekaristi dan doa resmi Gereja, pemeriksaan batin, serta wawancara komunitas. Sementara itu, delapan keutamaan adalah kerendahan hati, kesederhanaan, kelembutan, mati raga, penyelamatan jiwa, rukun, gembira, dan kasih pelayanan. Kedua hal ini, baik praktik harian maupun sifat batin, dijalankan secara seimbang untuk memastikan pelayanan yang mereka berikan sungguh-sungguh mencerminkan semangat Santo Vinsensius a Paulo (Statuta, 2. Pentingnya Spiritualitas bagi Pengasuh Menurut para informan, spiritualitas ALMA Puteri sangat penting bagi pengasuh. Spiritualitas ini berfungsi sebagai pedoman yang membantu mereka bertanggung jawab dan berkomitmen penuh dalam pelayanan. Kehadiran Tuhan dalam diri mereka menjadi sumber kekuatan utama, dan memampukan mereka untuk melayani dengan sukacita dan ketulusan. Spiritualitas juga memiliki peran penting dalam menciptakan keharmonisan dan kesejahteraan dalam kehidupan komunitas. Dengan menghidupi spiritualitas ini, pengasuh dapat memastikan setiap anak mendapatkan perhatian dan bimbingan yang dibutuhkan. Ketika seseorang mengimplementasikan spiritualitas ke dalam hidupnya, ia tidak hanya melakukan sesuatu karena kewajiban. Sebaliknya, ia mencari tujuan yang lebih dalam di balik setiap tindakan. https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Rosalia Ina Kii | Pembinaan Spiritualitas ALMA Puteri Bagi seorang pengasuh, pandangan ini mengubah tugasnya dari sekadar rutinitas menjadi panggilan suci. Dengan pemahaman ini, mereka akan merasa lebih terdorong untuk memberikan bimbingan yang menyeluruh tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik dan emosional anak, tetapi juga mendampingi perkembangan spiritual mereka karena kehidupan spiritual merupakan fondasi yang sangat penting bagi perkembangan yang dilayani. Meskipun spiritualitas dipandang sebagai fondasi penting, ada kesenjangan antara teori dan praktik di lapangan. Beberapa informan menyatakan bahwa pelayanan pengasuh sudah berjalan baik dan penuh tanggung jawab. Namun, informan lain menemukan bahwa beberapa pengasuh masih melayani dengan terpaksa, hanya karena jadwal piket. Pada intinya, spiritualitas adalah kekuatan yang mengubah cara pandang pengasuh, dan hal itu dimulai dari dalam diri mereka sendiri. Cara pandang ini kemudian mempengaruhi bagaimana mereka berinteraksi dengan anak-anak. Dengan menerapkan nilai-nilai spiritual dalam hidup, pengasuh tidak hanya memberi perhatian, tetapi juga menanamkan fondasi yang kokoh agar anak-anak tumbuh menjadi individu yang penuh empati, memiliki karakter kuat, dan mampu menciptakan harmoni di tengah masyarakat. Keharmonisan itu tercermin dalam diri Yesus Kristus yang sungguh hadir dan nyata dalam kehidupan manusia (Hadrys. Tantangan dan Realita Lapangan Pendampingan kepada pengasuh sangat penting untuk memastikan pelayanan yang Wawancara menunjukkan bahwa pendampingan yang ideal harus melibatkan komunikasi yang efektif, keterlibatan aktif, dan sikap yang merangkul para pengasuh. Pendamping diharapkan dapat bertindak sebagai figur ibu atau kakak, yang mampu menjadi teladan dan menginspirasi, serta mampu membimbing, mengayomi dan mengarahkan dengan bijaksana. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan oleh Muthie dan Sugito bahwa pendampingan sebagai jenis dukungan dan pertolongan serta pembimbingan secara berkelanjutan untuk mencapai hal-hal yang positif dan mencegah yang negatif (Muthie & Sugito, 2. Namun, observasi menunjukkan adanya inefektivitas dalam pendampingan. Ada temuan bahwa beberapa wisma kurang terkontrol, sehingga pengasuh menjadi kurang fokus dalam melayani. Wawancara juga mengungkapkan bahwa pendamping yang kurang dewasa atau yang hampir sebaya dengan pengasuh seringkali kurang efektif, karena mereka tidak dapat menjadi figur yang mengayomi dan didengarkan. Hal ini menunjukkan bahwa sangat penting adanya panduan khusus untuk para pendamping, sehingga mereka tidak hanya mengandalkan pemikiran pribadi, melainkan memiliki pedoman yang jelas dan terstruktur. Observasi peneliti juga mengungkapkan adanya kasus tindakan berlebihan seperti mencubit anak, yang disebabkan oleh kurangnya kesabaran pengasuh. Hal ini sering terjadi ketika anak-anak sulit diatur atau ketika mereka melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri atau orang lain, seperti membenturkan kepala ke dinding. Respons yang diberikan pengasuh cenderung berupa nada keras dan tindakan fisik. https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Rosalia Ina Kii | Pembinaan Spiritualitas ALMA Puteri Fenomena ini menunjukkan bahwa pemahaman teoritis tentang spiritualitas tidak selalu selaras dengan realitas emosional dan psikologis yang dialami pengasuh. Perbedaan suku dan bahasa juga memperburuk situasi, di mana kesalahpahaman dapat terjadi hanya karena intonasi suara yang berbeda. Hal ini menunjukkan perlunya pembinaan yang tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga praktis dan psikologis. Peran Doa dalam Penguatan Spiritualitas Untuk memperkuat iman dan pelayanan, pembinaan spiritualitas melalui doa menjadi sangat penting. Doa menjadi kekuatan utama dan kebutuhan pokok bagi semua orang di Ekaristi harian, khususnya, dianggap sebagai sumber kekuatan rohani. Menerima Komuni Kudus adalah menerima Kristus itu sendiri. Realitas ini memberikan para pengasuh kekuatan spiritual yang tak terbatas untuk melayani (KWI, 2. Dokumentasi menunjukkan bahwa kegiatan doa dan Ekaristi berperan dalam membangun kesadaran para pengasuh untuk memperlakukan semua anak dengan adil, tanpa pilih kasih, dan bekerja sama dengan penuh tanggung jawab. Doa membantu para pengasuh menyadari kehadiran Tuhan dalam pelayanan mereka. Tindakan kasih, pengorbanan, dan kebersamaan yang dilakukan para pengasuh menemukan maknanya yang paling dalam dalam Ekaristi, di mana seluruh Gereja bersatu dalam satu persembahan kepada Bapa. Pendampingan bagi Pengasuh di Bhakti Luhur Malang Pendampingan adalah proses dukungan dan bimbingan untuk membantu pengasuh menjadi lebih terampil dan efektif dalam pelayanan. Tujuan utamanya adalah menciptakan kemitraan antara pendamping dan pengasuh untuk membangun lingkungan yang mendukung perkembangan anak (Rosmawaty, 2. Sebagai pendamping, ada beberapa tugas penting yang harus dilakukan. Pertama, ada AuPelantikan dan PembekalanAy, di mana pengasuh dilantik secara khusus melalui perayaan Ekaristi sebagai bentuk komitmen sebelum memulai pelayanan. Kedua, pendamping memberikan Bimbingan dan Pelatihan tentang cara merawat, mendidik, dan berinteraksi dengan anak berkebutuhan khusus. Ini mencakup pelatihan praktis seperti memandikan, berpakaian, membaca huruf Braille, dan bahasa isyarat. Ketiga, melalui Pengembangan Kemitraan dan Keterampilan, pendampingan bertujuan membangun kerja sama tim, berbagi pengetahuan, dan meningkatkan kemampuan bersama melalui sesi pelatihan dan Keempat, tugas pemantauan dan evaluasi dilakukan secara berkala untuk memantau kemajuan anak dan menilai efektivitas strategi yang telah diterapkan. Terakhir, pendamping juga memberikan Dukungan Emosional kepada pengasuh dengan mendengarkan secara aktif dan memberikan dorongan motivasi agar mereka tidak merasa sendirian dalam menghadapi tantangan. Yayasan Bhakti Luhur membekali para pengasuh dengan beragam keterampilan praktis untuk meningkatkan kualitas perawatan bagi anak berkebutuhan. Pelatihan yang diberikan tidak hanya mencakup pada hal-hal medis dan praktis, melainkan juga mencakup dimensi terapeutik dan rohani. Keterampilan yang diajarkan sangat bervariasi, seperti memasak https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Rosalia Ina Kii | Pembinaan Spiritualitas ALMA Puteri makanan sehat untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak, menggunakan bahasa isyarat dan Braille agar dapat berkomunikasi dengan anak berkebutuhan khusus, serta teknik khusus untuk meningkatkan konsentrasi pada anak autis. Selain itu, pengasuh juga dilatih fisioterapi dasar untuk membantu anak-anak dengan kondisi fisik seperti cerebral palsy. Keterampilan praktis lainnya, seperti menjahit, membatik, dan membuat tempe, juga diajarkan karena memiliki nilai terapeutik. Para pengasuh juga dibekali dengan keterampilan problem-solving untuk mampu menangani masalah perilaku anak, serta keterampilan rohani untuk membimbing anak-anak dalam kegiatan keagamaan seperti memimpin doa, ibadat dan terlibat dalam nyanyian. Faktor-faktor Pendukung dan Penghambat Pembinaan Spiritualitas ALMA Puteri dan Pendampingan Pengasuh Dalam buku spiritualitas ALMA yang ditulis oleh Romo Janssen, ditemukan beberapa faktor penghambat seperti stigma dan diskriminasi yang membuat orang merasa terisolasi dan tidak terima. Faktor lainnya adalah lingkungan yang kurang mendukung dalam komunitas dan adanya sukuisme yang memberikan perhatian yang lebih kepada kelompok suku tertentu yang menyebabka pelayanan dalam ALMA dan Bhakti Luhur dapat terpecah belah (Janssen, 1. Selain itu, ada faktor dari dalam diri yang menjadi penghambat, seperti motivasi yang tidak murni yaitu memperoleh pendidikan gratis dan memperoleh Adanya komitmen tanggung jawab yang rendah sehingga menyebabkan pelayanan menjadi tidak konsisten, dan ketidakstabilan dalam mengolah emosi, serta tidak mampu menjadi contoh yang positif. (Janssen, 2. Dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti ditemukan beberapa faktor penghambat, di antaranya. pengasuh yang membawa masalah pribadi dan memiliki motivasi yang salah atau tidak tulus. Hal ini berdampak pada perilaku menyimpang pada anak yang diasuh, sekaligus menunjukkan adanya hubungan timbal balik antara motivasi pengasuh dan kesejahteraan anak. Ada juga pendamping yang tidak mampu menjadi teladan yang baik. Para pengasuh cenderung tidak memiliki panutan yang kuat. Kurangnya figur ibu yang dewasa dan mengayomi di wisma juga dapat menyebabkan rasa tidak diterima dan ketidakcocokan, sehingga berpotensi menjadi sasaran pelampiasan amarah bagi anak-anak. Selain itu, baik pengasuh maupun pendamping memiliki banyak pekerjaan di waktu yang hampir bersamaan. Beban ini menyebabkan mereka lelah dan kurang fokus, yang pada akhirnya berdampak pada kualitas pendampingan dan interaksi dengan anak. Perbedaan suku dan bahasa dapat menjadi hambatan komunikasi, yang memicu kesalahpahaman, konflik, dan ketidakkeharmonisan komunitas. Peneliti juga menemukan bahwa penggunaan HP dan media sosial yang berlebihan menjadi faktor penghambat yang signifikan, karena dapat mengalihkan fokus pengasuh dari pelayanan dan interaksi dengan anak-anak. Penggunaan media sosial mempengaruhi pengasuh pada kondisi mental dan emosinya yang tidak stabil (Perdana & Binawan, 2. Meskipun terdapat berbagai penghambat, ada juga faktor pendukung yang dikemukakan oleh Romo Janssen. Kebersamaan dalam komunitas, makan dan doa bersama menjadi salah https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Rosalia Ina Kii | Pembinaan Spiritualitas ALMA Puteri faktor yang membuat komunitas menjadi komunitas yang memiliki kekuatan dalam saling mendukung dan merangkul satu sama lain (Janssen, 1. Faktor pendukung yang ditemukan dalam penelitian ini dan mampu memperkuat pelayanan yaitu lingkungan wisma yang nyaman dan fasilitas yang memadai. Hal ini membuat pengasuh betah dan dapat melayani dengan baik. Rekoleksi bulanan dan retret tahunan menjadi momen penting bagi pengasuh untuk refleksi dan menguatkan kembali motivasi serta komitmen rohani mereka. Kegiatan ini membantu mereka kembali menaruh harapan kepada Tuhan dan mengingat tujuan sejati dari pelayanan. Untuk menunjang pelayanan yang baik, komunitas Bhakti Luhur mengadakan kegiatan seperti ziarah, rekreasi, perayaan ulang tahun, dan kelompok doa bersama. Harapannya adalah kegiatan-kegiatan ini dapat mempererat tali persaudaraan, menciptakan komunikasi yang terbuka, dan menyediakan ruang yang aman untuk berbagi cerita, serta mencari solusi. Para pengasuh juga memiliki semangat yang tinggi ketika pendamping memberikan kepercayaan dan tanggung jawab kepada mereka, yang dapat meningkatkan rasa kepemilikan dan komitmen terhadap pelayanan. Pemberian kepercayaan dan tanggung jawab kepada pengasuh tidak hanya meningkatkan semangat dan motivasi mereka, tetapi juga berkontribusi pada kualitas pelayanan yang diberikan kepada anak-anak. Hal ini menciptakan lingkungan yang lebih baik untuk perkembangan anak dan meningkatkan kepuasan semua pihak yang terlibat (Syukur, 2. Secara keseluruhan, komunitas Bhakti Luhur perlu bersama-sama berusaha untuk mengatasi hambatan-hambatan ini dan memperkuat faktor-faktor pendukung. Usaha-usaha tersebut dalam hal spiritualitas dapat membantu setiap orang, baik anak, pengasuh, maupun pendamping, dekat dengan Tuhan dan menghidupi persekutuan kasih Allah (Poespowardojo. Analisis dan Pembahasan Temuan Temuan Fakta-fakta Lapangan Dari penelitian yang dilakukan ditemukan fakta-fakta lapangan sebagai berikut spiritualitas ALMA Puteri berfungsi sebagai fondasi komitmen bagi pengasuh. Namun, realitanya tidak semua pengasuh menghidupi dan menghayati nilai-nilai ini secara konsisten, terutama yang bertugas berdasarkan jadwal piket. Di sisi lain Terdapat kesenjangan antara ajaran spiritualitas tentang kasih dan kelembutan dengan realitas di lapangan, di mana ditemukan kasus-kasus kekerasan fisik terhadap anak. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman kognitif tidak selalu diterjemahkan ke dalam tindakan, terutama dalam situasi yang menantang secara emosional. Lebih dari itu perbedaan suku, bahasa, dan latar belakang pengasuh dan anak-anak menjadi tantangan yang signifikan dalam pelayanan. Kesalahpahaman yang timbul dari perbedaan ini dapat memicu konflik dan mengurangi efektivitas pelayanan. Ini merupakan temuan penting yang menunjukkan bahwa pembinaan harus mencakup aspek lintas budaya. https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Rosalia Ina Kii | Pembinaan Spiritualitas ALMA Puteri Model Pembinaan Holistik untuk Pengasuh Berdasarkan analisis kesenjangan, penelitian ini mengusulkan pengembangan model pembinaan holistik bagi pengasuh. Model ini melengkapi pembinaan spiritualitas ALMA yang sudah ada dengan menambahkan elemen-elemen psikologis dan teknis yang lebih kuat. Model ini terdiri dari tiga pilar utama yaitu Pertama. Pilar Spiritualitas. Pilar ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman dan penghayatan pengasuh terhadap Lima Pokok Dasar Hidup Rohani dan Delapan Keutamaan. Hal ini mencakup kegiatan doa. Ekaristi, dan renungan yang lebih mendalam dan personal. Kedua. Pilar Psikologis. Pilar ini menyediakan pelatihan manajemen emosi, resolusi konflik, dan komunikasi efektif. Tujuannya adalah membantu pengasuh mengelola stres dan frustrasi yang timbul dari interaksi dengan anak berkebutuhan khusus, sehingga mereka dapat menghindari respons kekerasan. Ketiga. Pilar Teknis dan Fungsional. Pilar ini mengintensifkan pelatihan keterampilan teknis dalam merawat anak . isalnya, teknik terapi perilaku, komunikasi alternatif seperti bahasa isyarat, dan penanganan kasu. Pelatihan ini harus praktis dan berbasis studi kasus nyata yang sering terjadi di wisma. Dengan mengintegrasikan ketiga pilar ini, diharapkan para pengasuh tidak hanya memiliki pondasi spiritual yang kuat, tetapi juga dilengkapi dengan keterampilan praktis dan kecerdasan emosional untuk mengatasi tantangan sehari-hari secara efektif. Pendampingan yang ideal tidak hanya berfokus pada perkembangan spiritual, tetapi juga pada pembentukan karakter, kemampuan teknis, dan kesehatan mental para pengasuh. Temuan Baru dalam Penelitian ini Temuan baru dalam penelitian ini adalah konsep "Spiritualitas Tindakan Sejati". Berdasarkan data, spiritualitas tidak hanya dimanifestasikan melalui ritual keagamaan . Ekarist. tetapi juga harus tercermin dalam tindakan nyata, terutama dalam menghadapi tantangan yang paling sulit. Spiritualitas Tindakan Sejati adalah kondisi di mana, setiap tindakan pelayanan . embantu anak makan, memandikan, atau mengelola emosi merek. dianggap sebagai bentuk doa yang hidup dan persembahan kepada Tuhan. Meskipun menghadapi kesulitan, pengasuh mampu merespons dengan sabar dan kelembutan, melihat anak sebagai perwujudan Kristus yang memerlukan kasih tanpa syarat. Tidak ada lagi pelayanan yang bersifat "piket" atau terpaksa, melainkan menjadi komitmen sukarela yang konsisten. Spiritualitas Tindakan Sejati ini melampaui konsep spiritualitas yang hanya bersifat afektif . atau kognitif . Ini menuntut transformasi diri yang mendalam, di mana keyakinan spiritual sepenuhnya menyatu dengan perilaku sehari-hari, bahkan dalam situasi yang paling menantang. Penelitian ini menegaskan bahwa Spiritualitas ALMA Puteri merupakan fondasi yang kuat bagi pelayanan di Bhakti Luhur Malang. Namun, untuk menjamin efektivitas dan keberlanjutan pelayanan, pembinaan spiritualitas harus diperkuat dengan pendekatan yang mencakup aspek psikologis dan teknis. https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Rosalia Ina Kii | Pembinaan Spiritualitas ALMA Puteri Temuan penelitian ini memberikan implikasi teoretis yang penting bahwa teori spiritualitas harus relevan dan praktis dalam menghadapi realitas lapangan yang penuh Pembinaan spiritual tidak dapat berdiri sendiri. Pendampingan harus diintegrasikan dengan ilmu psikologi dan ilmu sosial untuk menghasilkan perubahan yang lebih mendalam pada individu. Spiritualitas sebagai Aksi mendefinisikan ulang spiritualitas sebagai sesuatu yang dihidupi melalui tindakan, bukan hanya diyakini secara teoritis. Hal ini menantang komunitas untuk tidak hanya fokus pada ritual, tetapi juga pada pembentukan karakter dan perilaku yang sesuai dengan ajaran. Secara keseluruhan, penelitian ini menggarisbawahi bahwa pelayanan yang tulus dan efektif di Yayasan Bhakti Luhur adalah hasil dari interaksi dinamis antara pembinaan spiritualitas, pendampingan yang berkualitas, dan faktor pendukung yang kuat. Dalam hal ini diperlukan pendekatan yang holistik, tidak hanya berfokus pada pelatihan teknis dan rohani, tetapi juga pada pembinaan psikologis dan penciptaan lingkungan yang suportif untuk menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik. Dengan demikian, pengasuh dapat menjadi teladan yang sesungguhnya bagi anak-anak yang dilayani dengan mewujudkan motto dari Yayasan Bhakti Luhur"Cinta Kasih Membangun Dunia Baru" melalui tindakan yang konsisten dan penuh kasih Simpulan Pembinaan spiritualitas ALMA Puteri bagi pengasuh untuk pelayanan kepada anakanak berkebutuhan khusus di Bhakti Luhur Malang dirancang untuk memperkuat komitmen dan profesionalisme dalam pelayanan kepada anak-anak berkebutuhan khusus. Program ini mencakup kegiatan rohani seperti retret dan rekoleksi yang bertujuan memperdalam hubungan pribadi dengan Tuhan, memperkuat iman, serta merefleksikan hidup dan pelayanan yang dilakukan. Fokus utamanya adalah mendukung pelayanan para pengasuh kepada anak-anak berkebutuhan khusus. Integrasi 5 pokok hidup rohani ALMA dan 8 keutamaan dalam pelayanan menjadi prinsip dasar pembinaan, bertujuan membentuk pengasuh yang penuh kasih dan bertanggung jawab. Doa. Ekaristi, serta sharing dan pendalaman Kitab Suci dilakukan secara teratur di setiap wisma dan kelompok pembinaan, memungkinkan para pengasuh untuk menghidupi komunitas bersama dengan anak-anak yang mereka layani. Meski demikian, penelitian mengungkapkan adanya tantangan dalam penerapan spiritualitas yang melibatkan hidup serumah, sekamar, semeja makan, sehati, dan sejiwa dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Oleh karena itu, pembinaan spiritualitas pengasuh perlu berakar kuat pada ajaran dan teladan Yesus Kristus, yang mengajarkan untuk melayani dengan kasih dan membawa keselamatan bagi mereka yang tertindas, menderita, dan Di sisi lain pendampingan bagi pengasuh untuk pelayanan kepada anak-anak berkebutuhan khusus di Bhakti Luhur Malang bertujuan mendukung, memperkuat, dan meningkatkan kapasitas mereka dalam menjalankan tugas melayani anak-anak berkebutuhan Oleh karena itu, diperlukan perbaikan dalam aspek pendampingan dan dukungan bagi pengasuh untuk memastikan pelayanan yang lebih baik dan sesuai dengan harapan. https://doi. org/10. 12568/sapa/v10i2. Rosalia Ina Kii | Pembinaan Spiritualitas ALMA Puteri Ucapan Terima Kasih Terima kasih kepada Dr. Tomas Lastari Hatmoko yang telah membantu memberikan masukan dan revisi penulisan ini sehingga dapat selesai dengan baik. Referensi