Vol. No. 1 Mei 2025 ANALISIS KETERKAITAN TINGKAT PENDIDIKAN PEREMPUAN DALAM TRADISI SINAMOT BATAK TOBA DI KECAMATAN SIDIKALANG KABUPATEN DAIRI Sudirman1. Novita Lastaruli Sinaga2 Universitas Negeri Medan novitalastarulisinaga14@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gambaran keterkaitan tingkat pendidikan perempuan dalam tradisi sinamot batak toba di Lingkungan IX. Jalan Batukapur. Kelurahan Sidikalang. Kabupaten Dairi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Hail penelitian menunjukkan bahwa terdapat keterkaitan antara tingkat pendidikan perempuan dan nilai sinamot yang diterima dalam tradisi Pendidikan perempuan dipandang sebagai bentuk investasi keluarga yang mencerminkan nilai-nilai seperti wawasan, tanggung jawab, dan kesiapan mental untuk membangun rumah tangga. Hal ini berpengaruh pada ekspektasi terhadap jumlah sinamot yang diterima. Semakin tinggi tingkat pendidikan seorang perempuan, semakin besar harapan keluarga terhadap nilai sinamot tersebut. Kata kunci: tingkat pendidikan perempuan, tradisi sinamot, dan batak toba Abstract This research aims to analyze the relationship between women's education levels in the sinamot Batak Toba tradition in Environment IX. Jalan Batukapur. Sidikalang Village. Dairi Regency. This research uses qualitative methods. The subjects in this study were 3 people consisting of 1 traditional figure . aja parhat. and 2 parents who had children at different levels of education. Data collection uses interview, observation and documentation techniques. The research results show that there is a relationship between the level of women's education and the sinamot values received in the sinamot Women's education is seen as a form of family investment that reflects values such as insight, responsibility and mental readiness to build a household. This affects expectations regarding the number of cinamot received. The higher a woman's education level, the greater the family's expectations of the value of the sinamot. Keyword : women's education level, sinamot tradition, and toba batak. terdapat tiga nilai utama: harajoan . , hamoraon . , dan hasangapon . , yang membentuk landasan hidup masyarakat Batak Toba. Salah satu tradisi yang sangat penting dalam budaya ini adalah pernikahan, yang mencakup berbagai tahapan adat, termasuk tradisi sinamot . Sinamot merupakan syarat yang harus dipenuhi dalam pernikahan adat Batak Toba, dan nilai sinamot sering dipengaruhi oleh tingkat pendidikan perempuan. Pendidikan perempuan Batak Toba telah menjadi penting seiring dengan perkembangan zaman. Perempuan yang berpendidikan tinggi dianggap lebih PENDAHULUAN Indonesia, sebagai negara yang kaya akan budaya, memiliki berbagai adat dari berbagai suku seperti Batak. Jawa. Bugis. Sasak, dan lainnya. Salah satu adat yang menarik perhatian adalah adat Batak, yang dikenal dengan tradisi, sistem kekerabatan, cara bersosialisasi, dan falsafah hidup yang khas. Berdasarkan data Sensus Penduduk 2020, jumlah penduduk suku Batak mencapai 14,798 juta jiwa, meningkat 74,74% dari 2010, menjadikannya suku terbesar ketiga di Indonesia. Dalam budaya Batak Toba. Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. No. 1 Mei 2025 bernilai dan dihormati, serta tingkat pendidikan ini berpengaruh pada besaran Penelitian menunjukkan bahwa berpendidikan tinggi, seperti sarjana, cenderung lebih besar dibandingkan mereka yang berpendidikan lebih rendah. Meski demikian, tingginya sinamot juga dapat menjadi hambatan bagi pihak lakilaki yang tidak memiliki kemampuan finansial yang memadai. Dalam masyarakat, fenomena ini relevan karena menunjukkan bagaimana pendidikan dapat mempengaruhi nilai-nilai budaya, status sosial, dan praktik adat dalam Berdasarkan tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian berjudul: AuAnalisis Keterkaitan Tingkat Pendidikan Perempuan Dalam Tradisi Sinamot Batak Toba di Lingkungan IX. Jalan Batukapur. Kelurahan Sidikalang. Kabupaten Dairi. Ay wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis daata pada penelitian ini yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Tingkat Pendidikan Perempuan Dalam Tradisi Sinamot Berdasarkan hasil wawancara dan observasi dengan orang tua dan tokoh adat (Raja Parhat. yang terlibat dalam tradisi menggambarkan keterkaitan tingkat pendidikan perempuan dalam tradisi sinamot batak toba. Tradisi Sinamot terbagi atas dua prosesi yaitu marhusip . erbisik-bisi. dan marhata sinamot . usyawarah maha. 1 Tradisi Sinamot pada Keluarga A Marhusip (Bisik-Bisi. Dalam tradisi sinamot Batak Toba. Keluarga A menunjukkan adanya hubungan antara nilai-nilai adat dan teemasuk pendidikan perempuan. Acara Marhusip . isik-bisi. diadakan secara tertutup dan dihadiri oleh keluarga kedua belah pihak serta tokoh adat yang memimpin proses tersebut. Awalnya, pendidikan perempuan bukanlah faktor yang dipertimbangkan dalam menentukan besaran sinamot. Namun, hasil wawancara menunjukkan bahwa keluarga A kini menganggap pendidikan salah satu faktor yang mempengaruhi ekspektasi jumlah Hal ini selaras dengan teori kapital manusia yang dikemukakan oleh Becker . alam Ahmad Syamsul Arifin, 2. , yang menyatakan bahwa pendidikan sebagai investasi jangka panjang yang meningkatkan keterampilan dan kualitas Bagi Keluarga A, pendidikan tinggi tidak hanya meningkatkan nilai sinamot, tetapi juga memberikan bekal kehidupan yang lebih baik bagi anak perempuan mereka. Meskipun pendidikan dianggap sebagai faktor penting, keluarga A tetap menghormati nilai-nilai tradisi METODE Penelitian pendekatan deskriptif kualitatif untuk memperoleh gambaran yang sistematis, faktual, dan akurat tentang keterkaitan tingkat pendidikan perempuan dalam tradisi Sinamot Batak Toba di Lingkungan IX. Jalan Batukapur. Kelurahan Sidikalang. Kabupaten Dairi. Metode penelitian ini sesuai dengan teori yang dijelaskan oleh Walidin. Saifullah & Tabrani . alam Muhammad Rijal Fadli,2. , penelitian kualitatif sebagai suatu metode memahami berbagai fenomena manusia atau sosial. Metode representasi yang komprehensif dan kompleks, yang disampaikan dalam bentuk narasi. Penelitian ini melaporkan pandangan mendalam yang diperoleh dari sumber informan dan dilakukan di dalam konteks alami tempat para informan Teknik pengumpulan data pada penelitian ini yaitu teknik observasi. Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. No. 1 Mei 2025 termasuk tradisi sinamot, menunjukkan adanya keseimbangan antara nilai adat dan kemajuan zaman. Penelitian oleh Utomo dan Sutopo . menegaskan bahwa meskipun pola perkawinan mengalami perubahan, norma sosial masih kuat mempengaruhi keputusan pernikahan, termasuk sinamot. Keluarga pendidikan kini menjadi tolak ukur dalam menentukan sinamot, nilai adat dan kehormatan kedua pihak tetap menjadi landasan utama dalam menentukan besaran sinamot. Sinamot, bagi keluarga A tidak hanya berfungsi sebagai mahar, tetapi juga sebagai simbol dari identitas sosial dan status keluarga yang menghargai adat. Keluarga A menujukkan bahwa meskipun sinamot ditentukan berdasarkan Tingkat Pendidikan Perempuan, masyarakat Batak Toba tetap dapat menentukan sinamot dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi kedua belah pihak. Keluarga A berupaya untuk sepakat antara menjaga tradisi dan memastikan keputusan yang diambil tidak memberatkan salah satu Ini sejalan dengan teori interaksi simbolik oleh Fisher . alam Dadi Ahmad,2. bahwa Interaksi simbolik adalah sebuah teori yang memandang realitas sosial sebagai hasil ciptaan Manusia memiliki kemampuan untuk berinteraksi secara simbolis, yang mencerminkan esensi budaya mereka. Dalam interaksi ini, individu saling masyarakat, dan menghasilkan pemikiran. Setiap bentuk interaksi sosial dimulai dan diakhiri dengan mempertimbangkan diri Artinya, sinamot di tentukan melalui komunikasi dan diskusi oleh pihak-pihak yang terlibat dalam proses marhusip, seperti keluarga kedua pihak dan tokoh adat. penuh penghormatan terhadap adat yang Pertemuan ini berlangsung secara terbuka dan melibatkan seluruh anggota keluarga serta tokoh adat, yang menunjukkan bahwa proses ini bukan hanya sekadar formalitas, tetapi juga merupakan momen penting dalam membangun relasi antara dua keluarga. Dalam prosesi ini, pendidikan perempuan tidak menjadi fokus utama dalam menentukan sinamot. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pendidikan perempuan semakin diakui sebagai nilai sosial dalam masyarakat, pada praktiknya, hal tersebut tidak selalu tercermin dalam proses tradisi seperti marhata sinamot. Sebagaimana diungkapkan dalam penelitian oleh Utomo dan Sutopo . , meskipun terdapat perubahan dalam nilai-nilai sosial, normanorma tradisi masih berperan penting dalam praktik pernikahan, termasuk dalam proses penentuan sinamot Proses marhata sinamot dalam keluarga A menggambarkan adanya kesepakatan yang dicapai melalui musyawarah sebelumnya, yang telah dilakukan pada tahap marhusip. Ini menunjukkan bahwa keputusan mengenai sinamot telah disepakati sebelumnya, dan marhata sinamot berfungsi sebagai bentuk pengumuman kesepakatan yang telah Interaksi sosial dalam budaya tradisional sering kali didasarkan pada musyawarah dan mufakat, di mana kedua kesepakatan yang saling menguntungkan. Hal ini sejalan dengan teori Burhanudin . menyatakan bahwa hukum adat dalam masyarakat Indonesia, menekankan nilai-nilai musyawarah dan mufakat keharmonisan dan menghindari konflik di tengah keragaman budaya. Dengan demikian, sinamot dianggap sebagai bentuk penghargaan yang seimbang terhadap kedua belah pihak dan menghindari permasalahan pada saat acara pernikahan. Keluarga A juga menegaskan Marhata Sinamot Dalam prosesi marhata sinamot, keluarga A melaksanakan tradisi dengan Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. No. 1 Mei 2025 bahwa besar kecilnya sinamot adalah rahasia keluarga dan tidak lagi menjadi bahan perdebatan setelah prosesi marhata Dengan demikian, prosesi marhata sinamot dalam keluarga A mencerminkan keseimbangan antara nilainilai tradisi dan pendidikan. Meskipun pendidikan perempuan dianggap penting, nilai tradisi dan budaya yang paling utama dalam pernikahan. memastikan dukungan keluarga besar dan Pada berpendidikan tinggi, acara Marhata Sinamot lebih megah, dihadiri lebih banyak tamu, dan diadakan di gedung, dengan sinamot dalam bentuk uang dan Saat prosesi, hanya jumlah uang sinamot yang diumumkan, sesuai adat. Situmorang . alam Paulin Marbun. Mawara. , & Damis. mencatat penyederhanaan proses ini karena sinamot sudah disepakati pada Marhusip. Pendidikan perempuan sebagai investasi keluarga terlihat pada sinamot yang lebih tinggi untuk perempuan berpendidikan tinggi, mengangkat status sosial keluarga. Siregar . alam Raden D dan Lilia. R,2. menjelaskan pendidikan sebagai investasi sumber daya manusia yang memberikan manfaat jangka panjang. Bagi perempuan SMA. Marhata Sinamot cenderung lebih pendidikan sebagai simbol status dan penghargaan keluarga atas investasi 2 Tradisi Sinamot Pada Keluarga B Marhusip (Berbisik-Bisi. Dalam keluarga B, pendidikan perempuan menjadi faktor penting dalam menentukan sinamot, yang mencerminkan pengaruh kemajuan zaman pada tradisi Batak Toba. Pendidikan dianggap sebagai ekspektasi sinamot yang lebih tinggi seiring dengan meningkatnya kemampuan perempuan menjalankan perannya dalam keluarga dan masyarakat. Legimin. Feriansyah dan Ubabuddin . memperkuat nilai budaya, mendorong kemajuan pribadi dan sosial. Pada tahap Marhusip, negosiasi sinamot dilakukan hati-hati untuk Menurut Wijayanti dan Jatiningsih . , pendidikan tinggi bermanfaat untuk masa depan. Meskipun anak perempuan keluarga B belum bekerja, pendidikannya tetap jadi acuan sinamot, tidak hanya terkait peluang karier, tetapi juga persiapan membangun rumah tangga yang harmonis. Keluarga B tetap mempertimbangkan kemampuan ekonomi pihak laki-laki, sejalan dengan Pendidikan perempuan pada keluarga B tidak hanya menaikkan sinamot, tetapi juga meningkatkan status sosial keluarga dalam masyarakat. 3 Tradisi Sinamot Pada Keluarga C Marhusip (Berbisik-Bisi. Pada tahap awal negosiasi sinamot, yaitu marhusip atau "berbisikbisik," pendidikan anak perempuan memegang peranan penting dalam menentukan besaran sinamot. Tahap ini melibatkan diskusi antara keluarga perempuan dan laki-laki untuk mencapai kesepakatan yang adil dan tidak memberatkan kedua pihak. Pendidikan dijadikan sebagai tolak ukur, karena dianggap sebagai investasi orang tua yang berusaha memberikan pendidikan terbaik bagi anak perempuan mereka. Meski menekankan pentingnya keseimbangan dan keadilan dalam kesepakatan, sejalan dengan teori keadilan sosial John Rawls . alam Muhammad Taufik, 2. yang Marhata Sinamot Marhata Sinamot adalah tahap pengesahan kesepakatan sinamot dari Marhusip. Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. No. 1 Mei 2025 Menurut Abidin. Huriani, dan Zulaiha . , pendidikan yang berkualitas memahami nilai-nilai budaya lebih dalam. Hal ini menunjukkan bahwa kesuksesan dalam pernikahan tidak hanya bergantung pada status pendidikan, tetapi juga penerapan nilai-nilai kehormatan keluarga. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya menentukan nilai pemahaman yang lebih baik terhadap tradisi serta memperkuat hubungan antar Batak Toba, perempuan dipandang sebagai investasi yang memengaruhi besaran sinamot, khususnya pada tahap Marhusip. Namun, pada tahap Marhata Sinamot, fokus pada pendidikan berkurang, dan acara lebih bersifat formalitas untuk mengesahkan sebelumnya, sambil tetap menghormati nilai-nilai adat. Di sisi lain, keluarga B perempuan sebagai simbol status dan menentukan jumlah sinamot pada tahap Marhusip. Pada tahap Marhata Sinamot, acara diadakan lebih megah untuk anak perempuan berpendidikan tinggi dan lebih sederhana bagi yang berpendidikan SMA, tetap menjaga keseimbangan antara penghargaan terhadap pendidikan dan pelestarian adat. Keluarga C melihat bahwa meskipun tingkat pendidikan perempuan berpengaruh pada jumlah sinamot yang diminta, keseimbangan dan keadilan tetap menjadi nilai utama dalam mencapai kesepakatan, dengan tetap menghormati budaya Batak Toba. Bagi keluarga C, pendidikan mencerminkan kerja keras orang tua dan peningkatan status sosial, tetapi penting untuk tetap mempertahankan nilai-nilai adat dalam keseluruhan proses sinamot. Marhata Sinamot Marhata Sinamot adalah tahap untuk mengesahkan kesepakatan yang telah dicapai dalam marhusip. Meski sinamot, tanggal, dan tempat pernikahan telah disepakati, prosesi ini tetap dilakukan sebagai simbol penerimaan di hadapan Marbun. Mawara, dan Damis . menyatakan bahwa marhata sinamot bukan hanya untuk menetapkan nilai mahar, tetapi juga membahas rencana pernikahan yang melibatkan keluarga besar kedua pihak. Seiring perkembangan, sinamot diberikan dalam bentuk uang dan bisa dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, pekerjaan, dan status sosial calon pengantin perempuan, mencerminkan dikemukakan oleh Silaban, dkk . Pendidikan dianggap sebagai investasi jangka panjang yang dihargai melalui Perempuan berpendidikan tinggi sering mendapatkan sinamot lebih besar, mencerminkan adaptasi masyarakat Batak Toba terhadap perkembangan sosial dan Meskipun demikian, prosedur adat yang sama diikuti tanpa perbedaan perempuan selama proses marhata DAFTAR PUSTAKA