ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA PASIEN HALUSINASI PENDENGARAN BERBASIS MODEL TEORI OREM SELF CARE: STUDI KASUS Roy Wilson Sihaloho1,*. Ristika Julianty Singarimbun2 Program Studi Diploma i Keperawatan. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Darmo. Medan *Penulis Korespondensi: kentzu. 3103@gmail. ABSTRAK Skizofrenia merupakan salah satu penyakit gangguan mental yang paling sering terjadi berkaitan dengan gangguan Persepsi Sensori, khususnya halusinasi pendengaran Halusinasi pendengaran adalah gangguan persepsi sensori yang dialami pasien karena mendengar suara Ae suara tanpa adanya stimulus eksternal yang nyata. Tujuan dilakukannya studi kasus ini adalah untuk mengimplementasikan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan persepsi sensori halusinasi pendengaran pada Tn. M di RS. Jiwa Prof. Dr. Ildrem. Penyusunan asuhan keperawatan berdasarkan model teori self-care Orem. Setelah 5 hari dilakukan asuhan keperawatan didapatkan hasil pasien mampu mengontrol halusinasi, berpartisipasi secara aktif pada kegiatan harian yang telah dijadwalkan serta mampu melakukan pemenuhan kebutuhan sehari Ae hari. Kata Kunci: Halusinasi pendengaran, self-care. Orem baik suara Ae suara tersebut familiar atau Halusinasi pendengaran sering ditemukan sebagai gejala utama gangguan psikotik dengan tingkat prevalensi 60 Ae 80% pada gangguan spektrum Skizofrenia (Lim et al. , 2. Halusinasi pendengaran merupakan salah satu gejala positif Skizofrenia, yang berdampak buruk terhadap mental seseorang, meningkatkan gejala depresi dan terkadang menyebabkan perilaku bunuh diri. Berdasarkan data dari RISKESDA menyatakan data prevalensi gangguan mental berat, termasuk Skizofrenia 0 per 1000 populasi. Angka ini Pendahuluan Gangguan merupakan salah satu gejala utama dari gangguan Skizofrenia. Dari berbagai jenis gangguan persepsi, halusinasi merupakan salah satu gejala yang paling mengganggu dan sering terjadi dengan tingkat prevalensi diprediksi mencapai 80% diantara pasien Skizofrenia (Aleksandrowicz et al. , 2. Halusinasi pendengaran didefenisikan sebagai pengalaman tanpa adanya stimulus eksternal, individu menganggap suara Ae suara berbeda dari pikiran mereka sendiri, menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan data RISKESDA sebelumnya pada tahun 2013 yang menyatakan prevalensi hanya 1. 7 per 1000 populasi. Data RISKESDA Tahun 2018 menyatakan tingkat prevalensi tertinggi Provinsi Bali 1% sedangkan provinsi Sumatera Utara dengan tingkat prevalensi gangguan mental berat 6. 3% (Andriani et , 2024. Kemenkes RI, 2. Skizofrenia signifikan pada perubahan persepsi dan Salah satu gejala utama Skizofrenia adalah halusinasi. Halusinasi menunjukkan bentuk disorientasi realita dimana seseorang mempersepsikan atau merespon stimulus yang tidak ada secara objek pada Indera mereka (Andriani et al. Cahayatiningsih & Rahmawati. Halusinasi adalah persepsi atau pengalaman sensorik yang tidak nyata. Halusinasi ditandai dengan perubahan persepsi sensori, termasuk persepsi yang salah terhadap pendengaran, penglihatan, pengecapan, sentuhan atau penciuman yang mencerminkan persepsi pasien terhadap stimulus fiktif (Andriani et al. , 2024. Pratiwi et al. , 2. Berdasarkan teori Orem, kebutuhan pasien diidentifikasi dan intervensi direncanakan sesuai kebutuhan. Berbagai strategi dilakukan, seperti menawarkan sesi konseling dan pengajaran yang memotivasi pasien untuk berpikir berbeda. Teori selfcare Orem bertujuan untuk mengklarifikasi perawatan diri dan kebutuhan perawatan diri pada pasien. Teori self-care Orem membantu pasien untuk meningkatkan kemampuan perawatan diri sesuai dengan kebutuhan pasien setiap hari. Teori selfcare Orem yang diterapkan . da pasien skizofrenia dapat meningkatkan kualitas pengobatan, kualitas hidup dan fungsi sosial pasien (Sheng & Meng, 2. Metode Desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan studi kasus. Kasus yang ditentukan adalah pasien dengan Skizofrenia. Metode studi kasus dipilih unutk mengatasi masalah keperawatan yang dialami pasien dan memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif pada pasien kelolaan dengan menggunakan teori model keperawatan self-care Orem. Peneliti melakukan studi kasus pada 1 . orang pasien dengan skizofrenia yang dirawat inap di ruang Sorik Marapi RS. Jiwa Prof. Dr. Ildrem Medan. selama 2 minggu. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, peemriksaan fisik dan studi literatur. Hasil Pengkajian dilakukan pada Tn. berusia 47 tahun, jenis kelamin laki Ae laki, masuk ke RS Jiwa Prof. Dr. Ildrem pada tanggal 12 Juli 2024, diantar oleh keluarganya dengan keluhan klien sering berbicara sendiri dan sering mendengar suara Ae suara, sering marah Ae marah dan sulit mengontrol emosi serta sering Berdasarkan sebelumnya, pasien sebelumnya sudah pernah di rawat di Rumah Sakit Jiwa dan progam pengobatan yang tidak berhasil karena klien tidak teratur minum obat, pernah mengkonsumsi Narkoba dan dikucilkan keluarga. Hasil Pengkajian wawancara dengan klien ditemukan bahwa klien mengatakan sering mendengar suara Ae suara berbicara kepadanya, merasa tidak diperdulikan lagi oleh keluarganya, pengkajian Universal self-care requisite didapatkan sebagai berikut. Pemeriksaan Fisik Tekanan Darah 120/75 mmHg. Pols: 85 kali/ menit dengan pulsasi kuat dan cepat, frekuensi Pernafasan 22 kali/ menit dan Suhu 36,20 C. Tinggi Badan 163 cm dan Berat Badan 52 Kg. Klien berpenampilan tidak rapi, rambut acak Ae acak, kuku panjang dan kotor serta bau. Hasil skoring Barthel Indeks adalah mandi . %) dapat dilakukan klien tanpa dibantu, berpakaian . %) harus dibantu perawat, serta perawatan diri seperti memotong kuku, menyisir rambut dan perawatan mulut . %) harus dibantu perawat, makan dan minum . %) dapat dilakukan secara mandiri tetapi harus diperintah oleh perawat, kebutuhan eliminasi BAB dan BAK dapat dilakukan secara mandiri. Hasil Developmental self-care requisite, pasien berada pada tahap perkembangan dewasa akhir yang kebutuhan perawatan diri akibat gangguan jiwa yang dialaminya. Berdasarkan hasil pengkajian Health deviation self-care requisite diketahui pasien membutuhkan bantuan dan kebutuhan sehari Ae hari karena klien mengalami gangguan persepsi atau opini tentang lingkungan tanpa adanya objek yang jelas atau stimulus. Berdasarkan pemeriksaan skor Barthel Indeks, pasien mengalami ketergantungan sedang (Skor Barthel Indeks adalah . karena harus dibantu perawat dan diberikan perintah untuk melaksanakan perawatan diri. Pasien Skizofrenia Paranoid Episode Berulang dengan gejala utama halusinasi pendengaran. Adapun terapi yang diberikan adalah Clozapine . x25 m. Risperidon . x2 m. Trihexyphenidyl . x2 m. Diagnosa Keperawatan Perumusan Diagnosa Keperawatan berdasarkan Buku Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia yang diterbitkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia. Berdasarkan hasil pengkajian pada pasien Tn. M, maka dapat dirumuskan diagnosa keperawatan, yaitu Gangguan Persepsi Sensori (Pendengara. dengan gangguan pendengaran (D. Harga Diri Rendah Kronik berhubungan dengan gangguan psikiatri (D. Ketidakpatuhan berhubungan dengan program terapi kompleks dan lama (D. dan Defisit Perawatan Diri berhubungan dengan gangguan psikotik (D. Luaran Penyusunan luaran atau hasil yang akan dicapai didasarkan kepada Buku Standar Luaran Keperawatan Indonesia yang diterbitkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia. Pada Diagnosa Keperawatan Gangguan Persepsi Sensori (Pendengara. gangguan pendengaran, setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 5 hari maka Persepsi Sensori Membaik (L. mendengar bisikan menurun . , distorsi sensori menurun . , perilaku halusinasi menurun . dan respon sesuai stimulus membaik . Diagnosa Keperawatan Harga Diri Rendah Kronik berhubungan dengan gangguan psikiatri, setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 5 hari maka harga diri membaik dengan kriteria hasil. Harga Diri Meningkat (L. dengan kriteia hasil: penilaian diri positif meningkat . , perasaan memiliki kelebihan atau kemampuan positif meningkat . , perasaan bersalah menurun . , perasaan tidak mampu melakukan apapun menurun . Diagnosa Keperawatan Ketidakpatuhan berhubungan dengan program terapi kompleks dan lama, setelah dilakuakan intervensi keperawatan selama 5 hari maka Tingkat Kepatuhan Meningkat (L. , dengan kriteria hasil: verbalisasi kemauan mematuhi program perawatan atau pengobatan meningkat . , verbalisasi mengikuti anjuran meningkat . , perilaku mengikuti program perawatan/ pengobatan meningkat . dan perilaku menjalankan anjuran meningkat . Diagnosa Keperawatan Defisit Perawatan Diri berhubungan dengan gangguan psikotik, setelah dilakukan intervensi keperawatan maka Perawatan Diri Meningkat (L. , dengan kriteria hasil: kemampuan mandi meningkat . , kemampuan mengenakan pakaian meningkat . , verbalisasi keinginan melakukan perawatan diri meningkat . dan minat melakukan perawatan diri meningkat . Intervensi Penyusunan intervensi keperawatan pada kasus ini berdasarkan Buku Standar Intervensi Keperawatan Indonesia oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia dan teori self-care Orem. Pada Standar Intervensi Keperawatan Indonesia, tindakan keperawatan terdiri dari observasi, terapeutik, edukasi dan kolaborasi. Diagnosa Keperawatan Gangguan Persepsi Sensori (Pendengara. dengan gangguan pendengaran dilakukan Manajemen Halusinasi (I. , yaitu tindakan observasi berupa monitor perilaku yang mengindikasikan halusinasi, monitor isi halusinasi. Tindakan terapeutik berupa pertahankan lingkungan yang aman, diskusikan perasaan dan respon terhadap halusinasi dan hindari perdebatan tentang validasi halusinasi. Tindakan edukasi berupa anjurkan memonitor sendiri situasi terjadinya halusinasi, anjurkan bicara pada orang lain yang dipercaya untuk memberi dukungan dan umpan balik korektif terhadap halusinasi dan anjurkan melakukan distraksi atau melakukan aktivitas dan teknik relaksasi. Tindakan kolaborasi berupa pemebrian obat Diagnosa Keperawatan Harga Diri Rendah Kronik berhubungan dengan gangguan psikiatri dilakukan intervensi Manajemen Perilaku (I. , yaitu tindakan observasi berupa identifikasi harapan untuk mengendalikan perilaku. Tindakan terapeutik berupa diskusikan tanggung jawab terhadap perilaku, kemampuan, bicara dengan nada rendah dan tenang, cegah perilaku pasif dan agresif, beri penguatan positif terhadap keberhasilan mengendalikan perilaku, hindari bersikap menyudutkan dan menghentikan pembicaraan. Tindakan edukasi berupa informasikan keluarga bahwa keluarga sebagai dasar pembentukan Diagnosa Keperawatan Ketidakpatuhan berhubungan dengan program terapi kompleks dan lama dilakukan intervensi Dukungan Kepatuhan Program Pengobatan (I. , yaitu tindakan observasi berupa identifikasi kepatuhan menjalani program pengobatan. Tindakan terapeutik berupa buat komitmen menjalani program pengobatan dengan baik, diskusikan hal Ae hal yang dapat mendukung dan menghambat berjalannya program pengobatan, libatkan keluarga untuk mendukung program pengobatan yang dijalani. Tindakan edukasi berupa informasikan program pengobatan yang harus dijalani, informasikan manfaat yang akan diperoleh jika teratur menjalani program pengobatan, anjurkan keluarga untuk mendampingi dan merawat pasien selama menjalani program pengobatan. Diagnosa Keperawatan Defisit Perawatan Diri berhubungan dengan gangguan psikotik dilakukan intervensi Dukungan Perawatan Diri (I. Dukungan Perawatan Diri: Berpakaian (I. dan Dukungan Perawatan Diri: Mandi (I. Tindakan observasi berupa identifikasi kebiasaan aktivitas perawatan diri sesuai usia, identifikasi usia dan budaya dalam membantu berpakaian dan berhias, monitor kebersihan tubuh . ambut, mulut dan kuk. , identifikasi kebutuhan alat bantu kebersihan diri. Tindakan terapeutik berupa siapkan keperluan mandi, seperti sabun mandi, sikat gigi, pasta gigi perawatan diri, sediakan pakaian pada tempat yang mudah dijangkau, berikan pujian terhadap kemampuan berpakaian secara mandiri, fasilitasi menggosok gigi, pertahankan kebiasaan kebersihan diri. Tindakan melakukan perawatan diri secara konsisten sesuai kemampuan, ajarkan mengenakan pakaian, jelaskan manfaat mandi dan dampak tidak mandi terhadap kesehatan. Implementasi Pada Keperawatan Gangguan Persepsi Sensori (Pendengara. gangguan pendengaran telah dilakukan tindakan keperawatan dalam bentuk Strategi Pertemuan (SP) sebanyak 4 kali (SP1 Ae SP. Pada SP 1 yaitu membina hubungan saling percaya dengan pasien, menidentifikasi jenis, isi dan waktu halusinasi, faktor pencetus terjadinya Pada SP 2 yaitu mengajarkan cara mengontrol halusinasi. Pada SP 3 yaitu membuat jadwal kegiatan harian pasien dan mengikutsertakan pasien dalam kegiatan Terapi Aktivitas Kelompok (TAK). Pada SP4 yaitu mengevaluasi kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasi serta mengevaluasi umpan bail dari pasien tentang pemahaman halusinasi. Pada Keperawatan Harga Diri Rendah Kronik berhubungan dengan gangguan psikiatri telah direncanakan Strategi Pertemuan sebanyak 2 kali (SP1 Ae SP. Pada SP 1 yaitu mengidentifikasi aspek positif yang dimiliki klien, membantu pasien untuk memilih kegiatan yang akan dilatih dan memberikan reinforcement positif terhadap kemampuan yang dicapai pasien. Pada SP 2 yaitu mengevaluasi pemahaman pasien dimilikinya dan mengikutsertakan pasien dalam kegiatan TAK bersama dengan pasien lainnya. Diagnosa Keperawatan Ketidakpatuhan berhubungan dengan program terapi kompleks dan lama telah direncanakan Strategi Pertemuan sebanyak 2 kali (SP1 Ae SP. Pada SP1 yaitu menjelaskan jenis pengobatan yang harus dijalani pasien, menjelaskan pengobatan harus dijalani pasien sampai dengan tuntas untuk mendukung penyembuhan pasien serta menanyakan kesediaan pasien secara verbal maupun perilaku dalam kesediannya mengikuti pengobatan. pada SP2 yaitu mengevaluasi kemmapuan pasien dalam menjalani pengobatan dan perawatan di Rumah Sakit. Diagnosa Defisit Perawatan Diri berhubungan dengan gangguan psikotik direncanakan Strategi Pertemuan sebanyak 3 kali (SP1 Ae SP. Pada SP 1 yaitu pentingnya menjaga kebersihan diri, menjelaskan jenis Ae jenis kebersihan diri serta cara mengenakan pakaian dan cara berhias. Pada SP2 yaitu melatih pasien untuk melakukan kebersihan diri, mengenakan pakaian serta cara Pada SP 3 yaitu mengevaluasi kemampuan pasien dalam perawatan diri, mengenakan pakaian yang sesuai dan cara Evaluasi Setelah keperawatan melalui SP1 Ae SP4 selama 5 Keperawatan Gangguan Persepsi Sensori (Pendengara. berdasarakan hasil evaluasi keperawtaan menyatakan mendengar bisikan menurun, distorsi sensori menurun, perilaku halusinasi menurun dan respon sesuai stimulus membaik. Diagnosa keperawatan Harga Diri Rendah Kronik berhubungan dengan gangguan psikiatri telah teratasi melalui tindakan keperawatan yang dilakukan berupa SP1 Ae SP2 selama 5 hari berdasarkan hasil evaluasi keperawatan yang menyatakan pasien memiliki penilaian diri positif meningkat, perasaan memiliki kelebihan atau kemampuan positif meningkat, perasaan bersalah menurun serta perasaan tidak mampu melakukan apapun menurun. Diagnosa Ketidakpatuhan berhubungan dengan program terapi kompleks dan lama telah teratasi melalui tindakan keperawatan yang dilakukan berupa SP1 Ae SP2 selama 5 hari berdasrakan hasil evaluasi keperawatan yang ditemukan pasien menyatakan komitmen untuk mematuhi program perawatan atau pengobatan meningkat, perilaku mengikuti program perawatan/ pengobatan meningkat dan perilaku menjalankan anjuran meningkat. Diagnosa Defisit Perawatan Diri berhubungan dengan gangguan psikotik telah teratasi melalui tindakan keperawatan berupa SP1 Ae SP3 selama 5 hari, berdasarkan hasil evaluasi keperawatan yang didapatkan menyatakan kemampuan pasien mandi meningkat, melakukan perawatan diri meningkat dan Intervensi Keperawatan Indonesia yang diterbitkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia dan konsep teori Selfcare Orem. Sistem pemberian asuhan keperawatan pada teori self-care Orem meliputi Wholly Compensatory System. Partially Compensatory System dan Supportive Educative System. Wholly Compensatory System adalah tindakan keperawatan dengan memberikan bantuan ketidakmampuan pasien dalam mengatasi Partially Compensatory System adalah memberikan tindakan keperawatan dengan bantuan sebagian kepada pasien. Sedangkan Supportive Educative System adalah pemebrian tindakan keperawatan berupa dukungan edukasi sehingga pasien mampu untuk melakukan tindakna untuk mengatasi Tindakan keperawatan menurut teori Orem berupa guidance, teach, support dan providing development environment. Sedangkan pada Standar Intervensi Keperawatan Indonesia, tindakan keperawatan terdiri dari observasi, terapeutik, edukasi dan kolaborasi. Skizofrenia merupakan salah satu penyakit gangguan mental yang paling sering terjadi berkaitan dengan gangguan Persepsi Sensori, khususnya halusinasi pendengaran dengan persentase sekitar 70% pada semua penderita skizofrenia. Setelah antipsikotik sekitar 50% pasien selanjutnya akan mengalami halusinasi pendengaran berulang (Jiang et al. , 2022. Silfia & Suryawantie, 2. Mendengar suara Ae Pembahasan Asuhan keperawatan yang dilakukan pada kasus ini menggunakan Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia. Standar Luaran Keperawatan Indonesia dan Standar suara pada halusinasi sering menyebabkan sifat cepat marah pada individu dan berdampak negatif terhadap hubungannya dnegan orang lain, perawatan diri dan pendengaran menyebabkan peningkatan tingkat cemas dan menyebabkan depresi dan isolasi sosial individu, menyebabkan mereka untuk mencederai diri sendiri dan orang lain dan kualitas hidup yang buruk (Chiang et al. , 2018. Khotimah et al. , 2023. Koyanagi et al. , 2. Pengobatan pada pasien dengan halusinasi dapat dilakukan melalui kombinasi psikofarmakologi dan intervensi psikososial seperti psikoterapi, terapi keluarga, terapi ekspresi. Tindakan keperawatan pada pasien halusinasi difokuskan kepada aspek fisik, intelektual, emosional dan sosiospiritual (Rusdi & Kholifah, 2. Pemberian intervensi pada gangguan persepsi sensori . dengan wholly compensatory system. Intervensi yang diberikan bertujuan agar verbalisasi mendengar bisikan menurun, distorsi sensori menurun, perilaku halusinasi menurun dan respon sesuai stimulus Tindakan berupa metode guidance yaitu monitor perilaku yang menindikasikan halusinasi, monior isi Metode teach yaitu anjurkan bicara pada orang lain yang dipercaya untuk memberi dukungan dan umpan balik korektif terhadap halusinasi dan anjurkan melakukan distraksi atau melakukan aktivitas dan teknik relaksasi. Metode support yaitu pemberian obat antipsikotik, diskusikan perasaan aman dan respon terhadap halusinasi. Metode providing pertahankan lingkungan yang aman. Setelah 5 hari dilakukan tindakan keperawatan melalui SP1 Ae SP4, didapatkan hasil pasien menyatakan mendengar bisikan menurun, distorsi sensori menurun, perilaku halusinasi menurun dan respon sesuai stimulus Pemberian intervensi pada Harga Diri Rendah Kronik compensatory system. Intervensi diberikan bertujuan untuk penilaian diri positif meningkat, perasaan memiliki kelebihan atau kemampuan positif meningkat, perasaan bersalah menurun, perasaan tidak mampu melakukan apapun menurun. Metode metode guidance yaitu identifikasi harapan untuk mengendalikan perilaku. Metode teach yaitu informasikan keluarga bahwa keluarga sebagai dasar pembentukan Metode support yaitu diskusikan tanggung jawab terhadap perilaku, kemampuan, beri penguatan positif terhadap keberhasilan mengendalikan perilaku dan hindari bersikap menyudutkan dan menghentikan pembicaraan. Setelah 5 hari tindakan keperawatan dilakukan melalui SP1 Ae SP2 didapatkan hasil pasien memiliki penilaian diri positif meningkat, kemampuan positif meningkat, perasaan bersalah menurun serta perasaan tidak mampu melakukan apapun menurun. Intervensi pada Ketidakpatuhan dengan partially compensatory system. Intervensi yang diberikan bertujuan untuk verbalisasi kemauan mematuhi program perawatan atau pengobatan meningkat, verbalisasi mengikuti anjuran meningkat, perilaku mengikuti program perawatan/ pengobatan meningkat dan perilaku menjalankan anjuran meningkat. Metode identifikasi kepatuhan menjalani program Metode teach yang dilakukan adalah informasikan program pengobatan yang harus dijalani, infimasikan manfaat yang akan diperoleh jika menjalani pengobatan secara teratur, anjurkan keluarga untuk mendampingi dan merawat pasien selama menjalani pengobatan. Metode support yang dilakukan adalah membuat komitmen dengan pasien untuk menjalani program pengobatan, libatkan keluarga untuk mendukung program Setelah 5 hari dilakukan tindakan keperawatan melalui SP1 Ae SP2, didapatkan hasil pasien menyatakan komitmen untuk mematuhi program perawatan atau pengobatan meningkat, perilaku mengikuti program perawatan/ pengobatan meningkat dan perilaku menjalankan anjuran meningkat. Intervensi keperawatan pada Defisit Perawatan Diri diberikan secara partially compensatory system. Intervensi yang diberikan bertujuan untuk kemampuan verbalisasi keinginan melakukan perawatan diri meningkat dan minat melakukan perawatan diri meningkat. Beberapa intervensi yang diberikan menggunakan metode guidance yang dilakukan adalah identifikasi kebiasaan aktivitas perawatan diri, monitor kebersihan tubuh . ambut, mulut dan kuk. , identifikasi kebutuhan alat bantu kebersihan diri, berpakaian dan Intervensi dengan metode teach adalah ajarkan melakukan perawatan diri secara konsisten, ajarkan mengenakan pakaian, jelaskan manfaat mandi dan dampak bagi kesehatan. Intervensi dengan metode support adalah siapkan keperluan mandi . eperti: sabun mandi, sampo, pasta gigi dan sikat gig. , jadwalkan rutunitas perawtaan diri, sediakan pakaian pada tempat yang mudah dijangkau, pertahankan kebiasaan kebersihan diri. Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 5 hari melalui SP1 Ae SP3, didapatkan hasil kemampuan pasien mandi meningkat, melakukan perawatan diri meningkat dan Kesimpulan Pengkajian dilakukan menggunakan format pengkajian keperawatan jiwa untuk memperoleh data untuk dianalisis. Penyusunan Asuhan Keperawatan pada kasus ini menggunakan Buku Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia. Buku Standar Luaran Keperawatan Indonesia dan Buku Standar Intervensi Keperawatan Indonesia serta berdasarkan model teori self-care Orem. Selama pelaksanaan asuhan keperawatan terdapat perubahan yang signifikan perawatan dirinya. Untuk itu disarankan agar pelaksanaan asuhan keperawatan pada menggunakan ketiga buku tersebut dan didasarkan kepada teori self-care Orem. in patients with schizophrenia: A three-month follow-up. Archives of Psychiatric Nursing, 32. https://doi. org/10. 1016/j. Daniel. The history of Respiratory Medicine, 100. https://doi. org/10. 1016/j. Daniel. The history of Respiratory Medicine, 100. , 1862Ae1870. https://doi. org/10. 1016/j. Jiang. Cai. Bin. Sun. Yin, . Goerigk. Brunoni. Zhao, . Mayes. Zheng. , & Xiang. Adjunctive tDCS for treatment-refractory auditory hallucinations in schizophrenia: A meta-analysis of randomized, doubleblinded, sham-controlled studies. Asian Journal Psychiatry, 73(Marc. , https://doi. org/10. 1016/j. Kemenkes RI. Laporan Nasional Riskesdas. In Lembaga Penerbit Balitbangkes. Khotimah. Haliza. Viona. Milkhatun. Thoha. , & Turut. Analysis Of Stimulatory Terapy Interventions Contacting Hallusinations In Patients With Sensor Perspective Disorder : Hearing Hallucinations. Journal of Nursing, 1. , 32Ae62. Referensi