Jurnal Peduli Masyarakat Volume 7 Nomor 3. Mei 2025 e-ISSN 2721-9747. p-ISSN 2715-6524 http://jurnal. com/index. php/JPM EDUKASI DAN PENDIDIKAN KESEHATAN PENGETAHUAN REMAJA TENTANG PENCEGAHAAN HIV/AIDS PADA REMAJA SMA QUBA KOTA SORONG Wahyuni Maria Pasetyo Hutomo*. Irfandi Rahman. Evi Hudriyah Hukom. Baktianita Ratna Etnis. Anisa Amalia Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Papua. Jl. Kanal Victory. Klawalu. Sorong Timur. Sorong. Papua Barat 98412. Indonesia *yunihutomo92@gmail. ABSTRAK Secara dunia HIV/AIDS menjadi masalah utama terdapat sekitar 39,9 juta tertular, diantaranya 1,4 juta anak usia 0-14 tahun. Indonesia pada tahun 2024 yang berada usia dibawah 15 tahun berjumlah 16. HIV/AIDS. Tingginya kasus HIV/AIDS pada remaja masih menjadi masalah serius. Kurangnya pengetahuan dan sikap remaja tentang HIV/AIDS dapat mempengaruhi langkah-langkah pencegahan terhadap HIV/AIDS. Ini menunjukkan bahwa masa transisi dari anak-anak ke remaja adalah masa krisis yang jika tidak dipandu dapat menyebabkan perilaku berisiko. Tujuan edukasi dan pendidikan kesehatan ini untuk meningkatkan pengetahuan remaja tentang pencegahaan HIV/AIDS. Pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan di SMA Quba Kota Sorong, dengan jumlah 12 anak remaja di kelas 10 dan menggunakan metode pre dan post. Tahapan prosedur edukasi dan pendidikan kesehatan meliputi persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Sebelum dilakukan edukasi dan penyuluhan ditemukan sebagian besar pengetahuan pencegahan HIV/AIDS kurang 66. 7 dan setelah dilakukan edukasi dan penyuluhan kesehatan tentang pangetahuan pencegahan HIV/AIDS ada peningkatan 100. Pengetahuan yang baik tentang HIV/AIDS akan menentukan sikap yang benar dalam pencegahan, karena peningkatan pengetahuan dapat menjadi pilar utama dalam pencegahan HIV/AIDS, salah satunya adalah memberikan edukasi tentang HIV/AIDS. Kata kunci: pencegahan HIV/AIDS. HEALTH EDUCATION AND EDUCATION ON ADOLESCENTS' KNOWLEDGE ABOUT PREVENTING HIV/AIDS AMONG ADOLESCENTS OF QUBA HIGH SCHOOL IN SORONG CITY ABSTRACT Globally. HIV/AIDS is a major problem with 39. 9 million infected, including 1. 4 million children aged 014 years. Indonesia in 2024 which is under the age of 15 years amounted to 16,692 HIV/AIDS. The high number of HIV/AIDS cases in adolescents is still a serious problem. The lack of knowledge and attitudes of adolescents about HIV/AIDS can affect preventive measures against HIV/AIDS. This shows that the transition period from children to adolescents is a time of crisis which if not guided can lead to risky The purpose of this health education and education is to increase the knowledge of adolescents about HIV/AIDS prevention. Community service was carried out at Quba High School Sorong City, with a total of 12 teenagers in grade 10 and using the pre and post method. The stages of health education and counselling procedures include preparation, implementation and evaluation. Before education and counselling, it was found that most of the knowledge of HIV/AIDS prevention was 66. 7 and after health education and counselling on HIV/AIDS prevention knowledge there was an increase of 100. Good knowledge about HIV/AIDS will determine the right attitude in prevention, because increasing knowledge can be the main pillar in HIV/AIDS prevention, one of which is providing education about HIV/AIDS. Keywords: attitude. HIV/AIDS prevention. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 3. Mei 2025 Global Health Science Group PENDAHULUAN Penyakit HIV (Human Imunnodefiency Viru. dan AIDS (Acqruired Immunodefiency Syndrom. masih menjadi masalah kesehatan secara global yang utama. HIV disebabkan oleh HPV (Human Papiloma Viru. yang masuk kedalam sel darah putih, dimana HPV merusak struktur sel darah putih yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap infeksi, sehingga terjadi penurunan jumlah sel darah putih yang mengakibatkan sistem kekebalan tubuh menjadi lemah dan penderita mudah terkena penyakit (WHO, 2024. Diperkirakan data WHO di tahun 2023 terdapat 39,9 juta orang hidup dengan HIV/AIDS, diantaranya anak usia 0-14 tahun berjumlah 1,4 juta, sedangkan dewasa usia >15 tahun ada 38,6 juta (WHO, 2024. Menurut data Kemenkes RI 2024 bahwa prevalensi HIV di Indonesia populasi usia >15 dari 2019-2014, sekitar 0. tahun 2019 mengalami penurunan di tahun 2024 sekitar 0. Prevalensi HIV/AIDS pada anak usia dibawah 15 tahun, sekitar 17. 276 tahun 2019 dan menurun menjadi 16. 692 tahun 2024 (KEMENKES RI, 2. UNICEF Indonesia mendukung Pemerintah Papua dan Papua Barat memperkuat PPIA (Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Ana. dan pertama kali diterapkan di kota Sorong di tahun 2012 untuk pengurangan risiko penularan HIV pada anak-anak, melalui pencegahan HIV, diagnosis, dan perawatan diberikan pada remaja perempuan dan remaja dewasa yang memiliki HIV, serta Ibu hamil. Program UNICEF pada tahun 2019 telah berhasil menyelamatkan sekitar 20 anak-anak di kota Sorong dan Manokwari dari infeksi HIV (UNICEF, 2. HIV dapat menyebar dari cair tubuh orang yang terinfeksi, terutama darah, air susu, air mani, dan cairan vagina, serta dapat menyebar dari Ibu ke bayinya. HIV yang tidak diobati dapat berkembang menjadi AIDS. WHO mendefinisikan semua anak di bawah usia 5 tahun yang hidup HIV dianggap memiliki penyakit HIV lanjut (WHO, 2024. HIV/AIDS dapat dicegah salah satu upaya memperkenalkan pada anak remaja, dengan melakukan edukasi dan promosi kesehatan meliputi pencegahan penyakit menular seksual (Martilova, 2020. Wilkins et al. , 2. Sehingga pengetahuan tentang HIV/AIDS dapat mempengaruhi remaja untuk bersikap sesuai pengetahuan yang didapat. Remaja yang tidak memiliki cukup pengetahuan, tidak bisa memahami perilaku berisiko yang dapat meningkatkan kemungkinan infeksi HIV (Tati et al. , 2022. Wilkins et al. Remaja dengan tingkat sikap positif yang baik memiliki tingkat perilaku yang baik. Sikap sangat berkaitan erat dengan tingkat pengetahuan suatu individu. Sikap dan perilaku seseorang terhadap suatu objek menunjukkan tingkat pengetahuan orang tersebut terhadap suatu objek. Berdasarkan teori adaptasi apabila tingkat pengetahuan baik dapat mendorong suatu individu memiliki perilaku yang baik. Keterpaparan sumber informasi berpengaruh terhadap perilaku pencegahan HIV/AIDS hal ini membuktikan bahwa keterpaparan sumber informasi sangat berperan dalam perubahan perilaku pencegahan HIV/AIDS. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS, dan membangun kesadaran tentang pentingnya pencegahan HIV/AIDS METODE Kegiatan pelaksanaan dilakukan di SMA Quba Kota Sorong Papua Barat Daya. Siswa-siswi yang mengikuti edukasi dan pendidikan kesehatan sebanyak 12 orang yang ada di kelas X SMA Quba. Prosedur pelaksanaan pada tabel 1. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 3. Mei 2025 Global Health Science Group Tabel 1. Prosedur Kegiatan Langkah Persiapan Kegiatan Diskusi tim Pembagian tugas Penentuan jadwal kpelaksanaan Mengukur pre & post Penyuluhan tentang HIV/AIDS Peserta siswa-siswi Sesi diskusi Pemberian reward Pelaksanaan Tahap evaluasi Pelaksanaan ini sangat penting dilakukan pada remaja kelas X SMA Quba Kota Sorong. Sehingga dapat meningkatkan pengetahuan remaja khususnya siswa-siswi yang berjumlah 12 tentang pencegahan HIV/AIDS. Agar siswa/siswi tersebut paham akan Metode kegiatan meliputi presentasi, ceramah, diskusi, dan sesi tanya jawab, serta pemberian reward. Sebelum pelaksanaan ada beberapa tahapan mulai persiapan, observasi awal, pemantapan tim, dan persiapan materi untuk mendukung kegiatan seperti leaflet, poster dan materi edukasi dengan bantau LCD. Waktu pelaksanaan 04 Mei 2024. Pukul 10. 00- 12. 00 WIT di kelas X SMA Quba Kota Sorong. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang telah dilakukan di SMA Quba Kota Sorong Provinsi Papua Barat Daya, target kegiatan kepada remaja siswa/siswi yang hadir saat pelaksanaan yang berjumlah 12 orang. Tabel 2. Frekuensi Jenis Kelamin . Kriteria Laki-laki Perempuan Berdasarkan tabel 2 jumlah peserta pengabdian kepada masyarakat berjumlah 12, untuk laki-laki 3% dan perempuan 41. Tabel 3. Distribusi Pengetahuan Pencegahan HIV/AIDS . Pengetahuan Pencegahan HIV/AIDS Kriteria Pengetahuan Baik Pengetahuan Kurang Pre Post Pada tabel 3 bahwa sebelum dilakukan edukasi dan pendidikan kesehatan didapatkan 66. masih kurang tau tentang pengetahuan pencegahan HIV/AIDS. Setelah dilakukan edukasi dan pendidikan kesehatan ada peningkatan pengetahuan pencegahan HIV/AIDS berjumlah 100. kepada anak remaja SMA Quba Kota Sorong. Tabel 4. Hasil Uji Hipotesis Paired Samples Test Paired Differences Variabel Mean Std. Error Mean PretestPostest 0,66667 0,49237 0,14213 Confidence Interval of the Difference Lower Upper 0,35383 0,97950 Sig. 4,690 0,001 Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 3. Mei 2025 Global Health Science Group Berdasarkan tabel 4. dari uji hipotesis dengan menggunakan uji Paired Sample T-Test. Diperolah nilai t-hitung sebesar 4,690 dengan signifikansi 0,001. Maka dari hasil ditemukan ada perbedaan antara tingkat pengetahuan dari sebelum dan setelah dilakukan pelaksanaan edukasi dan pendidikan pencegahan HIV/AIDS. Hasil ditemukan juga nilai signifikan yang diperoleh dari kegiatan pencegahan HIV/AIDS yang dilaksanakan yaitu 0,001 < 0,05, berarti ada pengaruh dari edukasi dan pendidikan pencegahan HIV/AIDS yang artinya terdapat peningkatan pengetahuan yang didapat dari sebelum dan sesudah diberikannya edukasi dan pendidikan. Sesuai dari penelitian sebelumnya ditemukan bahwa terdapat pengaruh edukasi terhadap pengetahuan pencegahan HIV-AIDS. Pentingnya pihak sekolah untuk optimalisasi siswa/siswi dengan mengadakan kegiatan seminar, diskusi remaja dengan metode edukasi dan pendidikan di bawah bimbingan guru BK, serta perlunya memanfaatkan mading dalam penyebaran informasi tentang pencegahan HIV/AIDS pada remaja (Astari & Fitriyani, 2019. Listyana & Rohmah, 2021. Sabhita et al. , 2. Penyuluhan pencegahan HIV pada anak SMA sangat penting, beberapa pertimbangan meliputi : Pendidikan dini: remaja berada pada usia dimana mereka mulai menjelajahi dan memahami seksualitas mereka. Memberikan pendidikan dini tentang HIV dapat membantu mereka membuat pilihan yang lebih bijak dan aman. Pencegahan penyebaran: memahami cara HIV menyebar dan cara mencegahnya dapat membantu mengurangi tingkat penyebarannya di kalangan remaja. Meningkatkan kesadaran: penyuluhan dapat memberikan informasi yang akurat dan memecahkan mitos yang salah tentang HIV bagi banyak remaja. Mengurangi stigma: penyuluhan juga dapat membantu mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap orang yang hidup dengan HIV karena memberikan pemahaman yang lebih baik tentang penyakit ini. Kesehatan reproduksi: pendidikan tentang kesehatan reproduksi yang lebih luas seringkali dikaitkan dengan pemahaman HIV, yang sangat penting bagi remaja. Penguatan karakter: penyuluhan dapat membangun karakter remaja dengan menanamkan nilai-nilai seperti mengambil tanggung jawab, membuat keputusan yang tepat, dan mengambil empati. Gambar 1. Pelaksanaan Kegiatan Berdasarkan gambar 1 melakukan persiapan tim, perlengkapan penyuluhan, dan melakukan komunikasi pihak sekolah ruangan yang akan dipergunakan untuk melakukan edukasi dan promosi kesehatan pencegahan HIV/AIDS. Sekolah menengah pertama dan atas sebagai pusat pengendalian dan pencegahan penyakit untuk mencegah HIV/penyakit menular seksual, kehamilan yang tidak diinginkan, dan perilaku seks bebas (Mason-Jones et al. , 2016. Wilkins et , 2. Maka ada tiga strategi utama meliputi pendidikan kesehatan seksual, layanan kesehatan seksual, dan lingkungan aman dan mendukung (Wilkins et al. , 2. Pendidikan Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 3. Mei 2025 Global Health Science Group pencegahan HIV/AIDS sangat terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan pada siswa, dengan kemajuan teknologi memudahkan untuk penyebaran informasi lebih optimal (Listyana & Rohmah, 2. Gambar 2. Penyuluhan Kegiatan Pada gambar 2 awal kegiatan ada pre-test untuk mengukur pengetahuan pencegahan tentang HIV/AIDS dan dilakukan sesi diskusi. Pelaksanaan penyuluhan tentang bahaya dan pencegahan HIV/AIDS pada remaja SMA. Diakhir kegiatan ada post-test dan sesi diskusi kepada siswa/siswi yang bertujuan menggali pengetahuan mereka dan menanyakan yang belum mereka pahami tentang pencegahan HIV/AIDS. Hal ini didukung beberapa penelitian sebelumnya, bahwa kasus HIV/AIDS pada remaja mengalami peningkatan, karena anak remaja merupakam kelompok rentan yang beresiko untuk penularan HIV/AIDS. Sehingga strategi untuk meningkatkan pengetahuan anak remaja SMA dapat melalui edukasi tentang bahaya dan pencegahan HIV/AIDS (Aryani et al. , 2021. Mardiyah et al. , 2019. Tati et al. , 2. Remaja dapat meningkatkan pengetahuannya dengan lebih optimal sehingga lebih waspada dan mendukung pencegahan HIV/AIDS (Siti Aisyah & Fitria, 2019. Priastana & Sugiarto, 2. Selain itu informasi yang dapat digunakan untuk mendukung pengetahuan anak SMA terhadap HIV/AIDS dapat melalui media sosial (Sitti Aisyah et al. , 2. Gambar 3. Pemberian Reward Dari gambar 3 strategi dilakukan supaya sesi diskusi aktif, tim akan memberikan pemberian reward bagi peserta yang aktif bertanya. Hasil diskusi ini akan dijadakan evaluasi terhadap pengetahan tentang bahaya dan pencegahan HIV/AIDS pada anak remaja SMA. SIMPULAN Kegiatan yang dilaksanakan oleh dosen dan mahasiswa STIKES Papua dengan memberikan edukasi dan pendidikan kesehatan HIV/AIDS, yang menunjukkan bahwa ada peningkatkan pengetahuan remaja tentang pencegahan HIV/AIDS yang dilakukan di sekolah pada siswa/siswi untuk mengenal secara dini tentang penyakit menular. DAFTAR PUSTAKA