JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. STRATEGI PENINGKATAN KUALITAS PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN DALAM IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK DI SMA NEGERI 6 BURU 1,2,3 Lailan Talahatu1. Edy Joko Purwanto2. Suandi Silalahi3 Pascasarjana Manajamen. Universitas Bina Bangsa. Serang. Indonesia Email: pascasarjanauniba@gmail. Abstract Improving the quality of teachers and education personnel is a critical factor in the development of innovative and adaptive learning models at SMA Negeri 6 Buru. This study aims to examine strategies to enhance the competence of these educational actors in supporting the implementation of project-based learning (PBL). Employing a qualitative approach with a case study method, the research involved 15 teachers, 5 education personnel, 1 principal, and 30 students. Data were collected through interviews, observations, and document analysis, and analyzed using the interactive model of Miles and Huberman. The findings reveal that although many teachers demonstrate adequate pedagogical skills, they face challenges in implementing PBL due to insufficient professional training, limited infrastructure, and lack of policy support. Similarly, education personnel have not fully optimized their roles in supporting learning activities due to limited understanding of educational administration technologies. Recommended strategies include competency-based training, structured mentoring programs, collaboration with higher education institutions, empowerment of education personnel, and technological integration in teaching. Successful implementation of these strategies requires collective support from stakeholders, including local government and the wider Keywords: Teacher Quality. Education Personnel. Learning Model Abstrak Peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan merupakan faktor krusial dalam mengembangkan model pembelajaran yang inovatif dan adaptif di SMA Negeri 6 Buru. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan dalam mendukung penerapan model pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning/PBL). Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus, penelitian ini melibatkan 15 guru, 5 tenaga kependidikan, 1 kepala sekolah, dan 30 siswa. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi, serta dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun sebagian guru memiliki kompetensi pedagogik yang memadai, mereka masih menghadapi kendala dalam mengimplementasikan PBL karena terbatasnya pelatihan profesional, sarana-prasarana yang kurang memadai, serta minimnya dukungan kebijakan. Di sisi lain, tenaga kependidikan belum optimal dalam menjalankan peran pendukung pembelajaran karena keterbatasan pemahaman terhadap teknologi administrasi pendidikan. Strategi yang direkomendasikan meliputi pelatihan berbasis kompetensi, program pendampingan terstruktur, kolaborasi dengan perguruan tinggi, pemberdayaan tenaga kependidikan, serta integrasi teknologi dalam proses JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. Implementasi strategi ini memerlukan dukungan menyeluruh dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat. Kata Kunci: Kualitas Guru. Tenaga Kependidikan. Model Pembelajaran *** PENDAHULUAN Pendidikan memegang peranan sentral dalam pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas. Di dalamnya, pendidik dan tenaga kependidikan menjadi aktor strategis yang menentukan keberhasilan proses belajar-mengajar (Ristianah & MaAosum. Di tengah arus globalisasi dan pesatnya perkembangan teknologi, ekspektasi terhadap mutu pendidik semakin tinggi. Guru tidak hanya dituntut untuk menguasai kompetensi pedagogik, tetapi juga mampu menciptakan model pembelajaran yang inovatif dan relevan dengan tuntutan zaman (Arisanti et al. , 2024. Radinal, 2. Kondisi ini menjadi tantangan nyata bagi sekolah, termasuk SMA Negeri 6 Buru, dalam meningkatkan kapasitas SDM pendidik dan tenaga kependidikan demi terciptanya sistem pembelajaran yang adaptif dan bermutu. Data dari Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi (Kemendikbudriste. menunjukkan bahwa peningkatan kualitas tenaga pendidik masih menjadi persoalan yang merata di berbagai wilayah, khususnya di daerah dengan keterbatasan akses terhadap sumber daya pendidikan (Aranda, 2024. Maulana, 2021. Noegroho & Zahra, 2024. Tintingon et al. , 2. SMA Negeri 6 Buru, sebagai sekolah yang berada di wilayah kepulauan, menghadapi beragam kendala dalam upaya mengembangkan model pembelajaran yang efektif. Keterbatasan pelatihan, minimnya sarana-prasarana, serta rendahnya penerapan teknologi dalam pembelajaran menjadi hambatan utama. Merujuk pada Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, seorang pendidik idealnya memiliki empat kompetensi utama: pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian (Nur & Mannuhung, 2022. Syarnubi, 2. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua pendidik memiliki kesempatan untuk mengembangkan kompetensi tersebut secara optimal. Hambatan seperti minimnya pelatihan berkelanjutan, rendahnya motivasi profesional, dan keterbatasan akses terhadap JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. bahan ajar terkini menjadi penyebab stagnasi kualitas guru (Mulyasa, 2021. Prilianti. Dari sisi pendekatan pedagogis, model pembelajaran yang digunakan seharusnya menyesuaikan kebutuhan peserta didik dan perkembangan teknologi pendidikan. Berdasarkan teori konstruktivisme yang dikembangkan oleh Piaget dan Vygotsky, proses belajar yang ideal adalah ketika siswa aktif membangun pengetahuannya sendiri melalui pengalaman dan interaksi sosial (Sugrah, 2019. Widayanthi et al. , 2. Oleh karena itu, pendidik dituntut untuk mengadopsi metode pembelajaran yang aplikatif dan kontekstual (Kadir, 2. Namun, penerapan pendekatan seperti Project-Based Learning (PBL) atau integrasi teknologi pembelajaran di SMA Negeri 6 Buru masih sangat terbatas. Sejumlah penelitian menyatakan bahwa peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan berkorelasi positif dengan capaian akademik siswa (Fajri et al. , 2019. Trisnawati et al. , 2. Studi Darling-Hammond . menunjukkan bahwa sekolah dengan guru yang kompeten dan terlatih secara berkelanjutan menghasilkan siswa dengan prestasi yang lebih tinggi (Oktaviana, 2. Sayangnya, program pengembangan profesional guru belum terstruktur secara sistematis di banyak sekolah, termasuk SMA Negeri 6 Buru. Pelatihan yang berbasis pada kebutuhan nyata dan praktik langsung di lapangan menjadi kunci dalam pengembangan profesionalisme guru (Mahendra et al. Mahendra & Rahmia, 2. Pelatihan yang bersifat teoritis cenderung tidak memberikan dampak signifikan apabila tidak disertai dengan penerapan yang kontekstual (Wulandari et al. , 2. Kolaborasi dengan perguruan tinggi, pendampingan oleh praktisi, serta integrasi teknologi digital dalam proses pembelajaran dapat menjadi strategi efektif untuk meningkatkan kapasitas guru. Selain guru, tenaga kependidikan juga memainkan peran penting dalam mendukung administrasi dan operasional sekolah. Tanpa dukungan manajemen yang solid, proses pembelajaran tidak dapat berjalan secara optimal (Mahendra, 2024. Mahendra et al. , 2. Profesionalisme dalam sistem manajemen sekolah merupakan fondasi penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Dengan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan di SMA Negeri 6 Buru guna menunjang pengembangan model pembelajaran berbasis proyek. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi berbasis kebutuhan nyata di sekolah. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. sekaligus memperkaya referensi kebijakan dalam penguatan mutu pendidikan di era METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk menggali secara mendalam strategi peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan dalam mendukung pengembangan model pembelajaran berbasis proyek di SMA Negeri 6 Buru. Pendekatan ini dipilih karena mampu menangkap dinamika, pengalaman, dan persepsi subjek penelitian dalam konteks yang nyata dan kompleks. Subjek dalam penelitian ini terdiri atas 15 guru, 5 tenaga kependidikan, 1 kepala sekolah, serta 30 siswa. Seluruh subjek dipilih secara purposif dengan mempertimbangkan keterlibatan aktif mereka dalam kegiatan pembelajaran dan manajemen sekolah. Pendekatan ini bertujuan memperoleh data yang relevan dengan fokus penelitian. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik utama: wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Wawancara dilakukan untuk memahami pengalaman, tantangan, serta pandangan guru dan tenaga kependidikan dalam menerapkan model pembelajaran berbasis proyek. Observasi dilakukan di dalam kelas dan ruang administrasi guna mengamati langsung praktik pembelajaran dan koordinasi Sementara itu, studi dokumentasi digunakan untuk menelaah kebijakan sekolah, catatan pelatihan guru, serta dokumen evaluasi pembelajaran. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif dari Miles dan Huberman, yang mencakup tiga tahapan: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Data dari berbagai sumber dikategorikan berdasarkan tema-tema utama, seperti kompetensi pendidik, efektivitas pelatihan, peran tenaga kependidikan, serta dukungan infrastruktur pembelajaran (Mulyawan et al. , 2023. Mahendra et al. , 2023. Nartin et al. , 2024. Wahidmurni, 2. Validitas data dijaga melalui teknik triangulasi sumber dan metode untuk memastikan keakuratan serta konsistensi temuan. HASIL DAN PEMBAHASAN Tantangan Utama dalam Implementasi Pembelajaran Berbasis Proyek di SMA Negeri 6 Buru Temuan awal penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi model pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning/PBL) di SMA Negeri 6 Buru JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. masih menghadapi berbagai kendala, baik dari sisi pendidik maupun tenaga Meskipun sebagian besar guru telah menunjukkan kompetensi pedagogik yang memadai, mayoritas dari mereka belum memiliki kesiapan penuh dalam mengadopsi pendekatan pembelajaran inovatif seperti PBL. Berdasarkan wawancara dengan 15 pendidik, diketahui bahwa 10 di antaranya belum pernah mengikuti pelatihan intensif mengenai strategi pembelajaran berbasis proyek. Hal ini menyebabkan mereka masih mengandalkan metode konvensional seperti ceramah dalam aktivitas pembelajaran di kelas. Observasi yang dilakukan di ruang-ruang kelas juga memperkuat temuan ini. Guru-guru cenderung mengutamakan penyampaian materi secara satu arah tanpa memberikan ruang eksplorasi proyek yang mendorong keaktifan dan kreativitas siswa. Padahal, pendekatan PBL menuntut guru untuk menjadi fasilitator pembelajaran yang memungkinkan siswa mengembangkan solusi atas permasalahan nyata secara Dari sisi tenaga kependidikan, tantangan tidak kalah signifikan. Dari lima tenaga kependidikan yang diwawancarai, tiga orang mengaku belum memahami secara optimal bagaimana mendukung proses pembelajaran berbasis proyek melalui layanan administrasi dan dukungan teknis. Salah satu kendala yang paling dominan adalah keterbatasan dalam mengoperasikan sistem administrasi berbasis digital yang seharusnya menjadi fondasi dalam mendukung pengelolaan pembelajaran modern. Fasilitas penunjang juga menjadi faktor krusial dalam keberhasilan implementasi PBL. Sekolah sebenarnya telah memiliki beberapa fasilitas seperti laboratorium komputer dan jaringan internet. Namun, hasil observasi menunjukkan bahwa pemanfaatannya belum maksimal. Beberapa guru mengaku belum terbiasa menggunakan perangkat teknologi dalam proses pembelajaran, sehingga fasilitas yang tersedia belum mendukung pembelajaran berbasis proyek secara optimal. Minimnya koordinasi antara pendidik dan tenaga kependidikan juga menjadi hambatan dalam membangun ekosistem pembelajaran yang kolaboratif. Beberapa guru menyatakan bahwa dukungan administratif, seperti penyediaan bahan ajar berbasis digital atau pendokumentasian hasil proyek siswa, belum berjalan efektif karena kurangnya komunikasi lintas peran. Temuan ini menguatkan pernyataan Bala . dan Sani . bahwa keberhasilan inovasi pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh kemampuan guru dalam menyampaikan materi, tetapi juga oleh kesiapan sistem pendukung, termasuk SDM JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. administratif dan infrastruktur pembelajaran. Hal ini sejalan pula dengan pandangan Ahmadi et al. dan Sukmawati et al. yang menekankan pentingnya literasi digital dalam mendukung proses pembelajaran yang berbasis teknologi dan proyek. Faktor Penyebab Kesenjangan Kualitas Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kesenjangan kualitas antara kompetensi yang dimiliki oleh pendidik dan tenaga kependidikan dengan tuntutan implementasi pembelajaran berbasis proyek di SMA Negeri 6 Buru disebabkan oleh sejumlah faktor struktural dan kultural yang saling Salah satu penyebab utama adalah terbatasnya akses terhadap program pelatihan profesional yang relevan. Data dari wawancara menunjukkan bahwa pelatihan yang diterima oleh guru masih bersifat sporadis dan belum menyasar pada kebutuhan riil dalam penerapan PBL. Sebagian besar pelatihan yang diikuti lebih menitikberatkan pada teori pembelajaran tanpa disertai praktik aplikatif yang sesuai dengan konteks sekolah. Akibatnya, banyak guru merasa kesulitan untuk menerjemahkan materi pelatihan ke dalam praktik pembelajaran di kelas. Hal ini diperparah oleh tidak adanya mekanisme pendampingan atau mentoring setelah pelatihan, yang membuat pengetahuan baru yang diperoleh guru tidak berkembang menjadi kompetensi yang berkelanjutan. Kepala sekolah dalam wawancaranya juga mengakui bahwa meskipun sekolah telah bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi untuk mengadakan pelatihan, hambatan seperti keterbatasan waktu guru dan beban administrasi yang tinggi menjadi kendala utama dalam partisipasi aktif mereka. Ketiadaan sistem evaluasi yang sistematis terhadap dampak pelatihan juga menyebabkan sekolah kesulitan dalam menilai efektivitas program pengembangan profesional yang telah dijalankan. Di sisi lain, tenaga kependidikan juga menghadapi hambatan yang tidak kalah kompleks. Kurangnya pelatihan dalam penggunaan sistem manajemen administrasi berbasis digital menjadi salah satu faktor yang menghambat efektivitas dukungan teknis dalam pembelajaran. Keterbatasan ini tidak hanya berdampak pada aspek administratif, tetapi juga pada kelancaran koordinasi dengan guru, terutama dalam mendukung kegiatan pembelajaran berbasis proyek yang memerlukan dokumentasi, logistik, dan manajemen sumber daya secara efisien. Minimnya motivasi internal dan dukungan kebijakan sekolah juga memperkuat kesenjangan kualitas tersebut. Guru yang tidak mendapatkan insentif atau pengakuan atas upaya inovatif mereka cenderung tetap berada pada zona nyaman pembelajaran JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. Sementara itu, kebijakan sekolah belum sepenuhnya mendorong integrasi teknologi dan pendekatan proyek dalam kurikulum, sehingga perubahan pembelajaran berjalan lambat dan tidak menyeluruh. Secara teoritis, situasi ini mengafirmasi temuan Mahendra et al. bahwa peningkatan kompetensi tenaga pendidik membutuhkan ekosistem yang mendukung, baik melalui kebijakan, kepemimpinan sekolah, maupun sinergi antaraktornya. Mulyasa . juga menegaskan bahwa pelatihan yang tidak berbasis kebutuhan nyata dan tidak ditindaklanjuti dengan implementasi akan kehilangan efektivitasnya dalam jangka Dalam konteks SMA Negeri 6 Buru, ketiga elemen tersebutAipelatihan, motivasi, dan kebijakanAimasih belum saling mendukung secara optimal. Strategi Peningkatan Berbasis Temuan Lapangan Berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan studi dokumentasi, terdapat sejumlah strategi peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan di SMA Negeri 6 Buru yang dinilai relevan dan aplikatif untuk mendorong implementasi pembelajaran berbasis proyek secara efektif. Strategi-strategi ini dikembangkan dari kebutuhan nyata di lapangan dan sejalan dengan berbagai temuan dalam penelitian ini. Pertama, diperlukan penguatan program pelatihan berbasis kompetensi yang disesuaikan dengan konteks sekolah dan kemampuan guru. Mengingat mayoritas guru belum mendapatkan pelatihan intensif tentang Project-Based Learning, pelatihan harus didesain dengan pendekatan praktik langsung, bukan sekadar teori. Selain itu, pelatihan perlu difokuskan pada pengembangan keterampilan dalam merancang proyek pembelajaran, mengelola dinamika kelas berbasis aktivitas, dan mengintegrasikan teknologi digital sebagai media pendukung pembelajaran. Hal ini sesuai dengan rekomendasi Mahendra et al. dan Wulandari et al. yang menekankan efektivitas pelatihan kontekstual berbasis praktik. Kedua, strategi mentoring dan pendampingan profesional menjadi sangat penting, terutama bagi guru-guru yang baru mulai mengadopsi pendekatan pembelajaran inovatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak adanya dukungan setelah pelatihan membuat sebagian guru kesulitan untuk menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh. Dengan menghadirkan program mentoringAibaik dari sesama guru yang lebih berpengalaman maupun melalui kerja sama dengan perguruan tinggiAiproses penguatan kompetensi dapat berjalan lebih sistematis dan berkelanjutan. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. Ketiga, penelitian ini merekomendasikan pengembangan kemitraan strategis dengan lembaga pendidikan tinggi dan komunitas profesional. Kolaborasi semacam ini dapat membuka akses terhadap sumber daya ilmiah, narasumber ahli, dan praktik-praktik terbaik dalam penerapan PBL. Beberapa guru yang pernah mengikuti pelatihan melalui kerja sama eksternal bahkan menunjukkan peningkatan signifikan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang lebih kreatif dan interaktif. Keempat, optimalisasi peran tenaga kependidikan menjadi komponen penting dalam menunjang efektivitas sistem pembelajaran. Untuk itu, perlu diselenggarakan pelatihan administrasi berbasis digital yang mencakup pengelolaan data pembelajaran, dukungan logistik proyek siswa, hingga pemanfaatan platform pembelajaran daring. Temuan lapangan menunjukkan bahwa keterbatasan pemahaman terhadap sistem administrasi digital masih menjadi hambatan utama dalam mendukung kelancaran PBL di sekolah. Kelima, integrasi teknologi pembelajaran secara lebih luas harus menjadi bagian dari strategi sekolah dalam mengembangkan budaya belajar yang inovatif. Penerapan Learning Management System (LMS), penyediaan modul pembelajaran interaktif, dan peningkatan literasi digital bagi guru dan siswa merupakan langkah strategis yang dapat menjembatani kesenjangan antara tuntutan pembelajaran abad ke-21 dan kondisi riil di Ini sejalan dengan pandangan Ahmadi et al. dan Sukmawati et al. yang menekankan urgensi transformasi digital dalam sistem pendidikan. Agar strategi-strategi ini dapat berjalan efektif, diperlukan dukungan penuh dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk kepala sekolah, dinas pendidikan, pemerintah daerah, serta masyarakat. Seperti yang diungkapkan dalam temuan Maisaroh dan Untari . , keberhasilan program peningkatan mutu pendidikan sangat dipengaruhi oleh sinergi antara internal sekolah dan lingkungan eksternal. Implementasi strategi yang sistematis dan berbasis kebutuhan riil akan memungkinkan SMA Negeri 6 Buru untuk tidak hanya meningkatkan kapasitas SDM-nya, tetapi juga membentuk budaya pembelajaran yang lebih kreatif, kolaboratif, dan relevan dengan zaman. Implikasi dan Evaluasi Kesiapan Implementasi Pembelajaran Berbasis Proyek Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa kesiapan SMA Negeri 6 Buru dalam mengadopsi pembelajaran berbasis proyek masih berada pada tahap awal dan memerlukan berbagai intervensi strategis. Implikasi dari kondisi ini sangat penting untuk JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. dipertimbangkan, baik dalam konteks pengambilan keputusan di tingkat sekolah, perumusan kebijakan pendidikan daerah, maupun dalam pengembangan model pelatihan guru yang lebih responsif terhadap kebutuhan lokal. Dari segi internal, sekolah perlu membangun sistem manajemen pembelajaran yang lebih adaptif dan kolaboratif. Penguatan peran kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran . nstructional leade. menjadi kunci dalam menciptakan budaya inovasi di lingkungan sekolah. Kepala sekolah harus mampu mendorong guru untuk keluar dari pola pembelajaran konvensional dan memberi ruang yang lebih luas bagi eksperimen pedagogis berbasis proyek. Dalam hal ini, keberadaan tenaga kependidikan yang kompeten dan proaktif dalam mendukung kebutuhan administratif dan teknis pembelajaran akan sangat menentukan keberlanjutan inovasi. Di sisi lain, dukungan dari eksternal sekolah juga sangat menentukan. Pemerintah daerah dan dinas pendidikan perlu memperhatikan kebutuhan kontekstual sekolah-sekolah di wilayah terpencil atau kepulauan, seperti SMA Negeri 6 Buru. Penyediaan pelatihan berbasis praktik, fasilitas teknologi yang memadai, serta alokasi anggaran untuk pengembangan profesional harus menjadi bagian dari kebijakan pendidikan yang lebih merata dan inklusif. Hal ini penting agar disparitas kualitas pendidikan antarwilayah dapat dikurangi secara nyata. Implikasi penting lainnya adalah perlunya reformulasi pendekatan pelatihan guru yang tidak hanya bersifat top-down atau instruksional, melainkan berbasis pada pengalaman lapangan . xperiential learnin. dan refleksi profesional. Pelatihan semacam ini memungkinkan guru untuk membangun pemahaman yang kontekstual terhadap PBL dan mengembangkannya sesuai dengan karakteristik peserta didik dan lingkungan sekolah masing-masing. Evaluasi berkala terhadap efektivitas pelatihan dan pencapaian implementasi PBL juga perlu diterapkan sebagai bagian dari sistem pengembangan mutu yang berkelanjutan. Lebih jauh, temuan penelitian ini juga memberikan sinyal bahwa kolaborasi lintas peranAiantara guru, tenaga kependidikan, kepala sekolah, dan pihak eksternalAi merupakan prasyarat penting bagi terciptanya transformasi pembelajaran yang bermakna. Tanpa adanya komunikasi dan koordinasi yang intensif, strategi peningkatan kualitas yang telah dirancang berisiko tidak berdampak secara maksimal. Dengan demikian, hasil penelitian ini tidak hanya merekomendasikan strategi teknis peningkatan kapasitas, tetapi juga menggarisbawahi pentingnya membangun sistem pembelajaran yang partisipatif. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. kolaboratif, dan kontekstual. Kesiapan implementasi PBL di SMA Negeri 6 Buru perlu terus ditingkatkan melalui pendekatan yang sistematis, holistik, dan didukung oleh kebijakan yang progresif. KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan merupakan faktor penentu dalam keberhasilan pengembangan model pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learnin. di SMA Negeri 6 Buru. Meskipun sebagian besar guru telah memiliki kompetensi pedagogik yang memadai, mereka masih menghadapi berbagai kendala dalam menerapkan pendekatan pembelajaran yang inovatif, seperti terbatasnya pelatihan profesional, minimnya sarana dan prasarana, serta kurangnya dukungan kebijakan internal sekolah. Sementara itu, tenaga kependidikan juga belum sepenuhnya berperan optimal dalam mendukung pembelajaran akibat keterbatasan dalam penggunaan teknologi administrasi dan lemahnya koordinasi dengan guru. Temuan lapangan menunjukkan bahwa strategi yang dapat diimplementasikan untuk menjawab tantangan tersebut meliputi pelatihan berbasis kompetensi yang kontekstual dan aplikatif, program mentoring berkelanjutan, penguatan kemitraan dengan lembaga pendidikan tinggi, pemberdayaan tenaga kependidikan melalui pelatihan digital, serta integrasi teknologi pembelajaran ke dalam sistem pengajaran. Namun, implementasi strategi-strategi ini memerlukan dukungan menyeluruh dari kepala sekolah, dinas pendidikan, pemerintah daerah, hingga masyarakat, agar ekosistem pembelajaran yang kolaboratif dan progresif dapat terbangun. Lebih jauh, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan individu guru sebagai penggerak perubahan, tetapi juga menuntut adanya sistem manajemen sekolah yang mendukung, kepemimpinan transformasional, serta sinergi yang kuat antarperan di lingkungan pendidikan. Dalam konteks ini. SMA Negeri 6 Buru perlu terus mengembangkan budaya belajar yang terbuka terhadap inovasi, memperkuat komunikasi lintas fungsi, dan mendorong partisipasi aktif dari seluruh pemangku kepentingan. Dengan pendekatan yang sistematis dan berkelanjutan, sekolah ini diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga siap menghadapi dinamika pendidikan dan kehidupan di era digital. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 3. Nomor 2. Juli-Desember 2024 https://jigm. DAFTAR PUSTAKA