BERSEKUTU DALAM ALLAH TRITUNGGAL DIMULAI DALAM KEHIDUPAN KELUARGA KRISTIANI Benny Suwito Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya bennysuwitopr@gmail. Abstract Trinity is the root of Christian faith. People of God have a calling to embody it in their community. So that, this article would like to explain how the communion of the Holy Trinity can be initiated through the Christian family as the basic cell of community. It will analyse first the Holy Trinity as the origin of the Church for indicating the relationship between the Holy Trinity as the community and the Christian family as the miniature of the Church . cclesia domestic. Afterward, it will demonstrate how the Christian family can endevour to live according to the spirit of the Holy Trinity and also how the Church seeks to its pastoral ministry to accompany the Christian family to be able to express her identity as the image of the Holy Trinity. Keywords: the communion, the Holy Trinity, the Christian Family PENDAHULUAN Gereja senantiasa menegaskan imannya bahwa Trinitas merupakan akar kehidupan iman Gereja (Bdk. KGK . Trinitas merupakan spirit dalam pembangunan jemaat yang selalu menekankan communio dalam seluruh aspek kehidupan Gereja, baik misi maupun karya pastoralnya. Jemaat perdana telah mengupayakan ini dengan senantiasa berkumpul bersama dan berdoa bersama, bahkan merasa satu dengan bersolidaritas dan bersubsidiaritas. Namun, bersekutu dalam Allah Tritunggal dalam kehidupan menggereja tidak bisa tanpa melibatkan peran gereja kecil atau gereja rumah tangga . cclesia domestic. , yaitu keluarga. Dalam tulisan ini penulis hendak memberikan uraian tentang peran keluarga dalam pembentukan persekutuan dalam Gereja untuk mewujudkan misi dan karya pastoral Gereja di tengah masyarakat. Untuk itu, penulis akan menguraikan: . Gereja sebagai Persekutuan Trinitas, . Keluarga: Gereja Rumah Tangga, . Wajah Tritunggal dalam Keluarga, dan . Pembentukan Spiritualitas Trinitaris dalam Keluarga, serta . Pastoral Keluarga Kristiani dengan semangat Trinitas. II. PEMBAHASAN Gereja: Persekutuan Trinitaris Pemahaman umum tentang Gereja sebagai persekutuan senantiasa mengacu kepada Surat Paulus kepada Jemaat di Efesus . :11-. dan terutama kepada jemaat di Korintus . Kor 12:12-. bahwa Gereja adalah Tubuh Mistik Kristus. Namun. Gereja sebagai persekutuan sesungguhnya juga mengacu kepada Misteri Tritunggal Mahakudus. Dalam Konsili Vatikan II, penegasan tentang misteri persekutuan Tritunggal Mahakudus dalam Gereja disampaikan secara jelas melalui penjelasan di awal Konsitusi Dogmatis tentang Gereja. Lumen Gentium, terutama pada artikel 2-4. Dasar utama tentang persekutuan Trinitas ini ditegaskan dengan asal usul dari Gereja itu bukan dari dunia, tetapi dari yang Maha Tinggi . riens ex alt. , yaitu Allah sendiri. Bahkan dalam Konstitusi Pastoral tentang Gereaja di dunia dewasa ini. Gaudium et Spes, mengatkakan AuGereja berasal dari cinta kasih Bapa yang kekal, didirikan oleh Kristus Penebus dalam kurun waktu, dan dihimpun dalam Roh KudusAy (GS . Oleh sebab itu, pada artikel 2 Lumen Gentium. Bapa Konsili mengatakan bahwa Gereja adalah AuRencana BapaAy bukan karena manusia. Disebutkan bahwa sejak awal Allah Bapa telah membuat rencana keselamatan bagi mereka yang percaya. Allah Bapa menetapkan untuk menghimpun mereka yang beriman akan Kristus dalam Gereja kudus . LG . Dengan demikian. Gereja itu berasal dari Allah dan telah direncanakan sejak awal apalagi AuGereja itu sejak awal dunia telah dipralambangkan, serta disiapkan dalam sejarah bangsa Isratel dalam perjanjian lamaAy. Berdasarkan hal tersebut bahwa Gereja adalah karya Allah Bapa maka Allah Bapa mengutus Putra-Nya ke dunia untuk melakukan karya keselamatan. Karya keselamatan ini berasal dari Bapa yang terwujud dalam penegasakan akan Kerajaan Surga yang ada di dunia yang diwartakan oleh Kristus. Maka. Kerajaan Surga yang ada di dunia adalah Gereja sendiri suatu persekutuan yang dibangun oleh Putra bersama Bapa untuk menampilkan kehadiran keselamatan Allah bagi Inilah mengapa Bapa Konsili menyatakan: AuGereja, atau kerajaan Kristus yang sudah hadir dalam misteri, atas kekuatan Allah berkembang secara tampak di duniaAy (LG . Sebagai persekutuan Trinitaris. Gereja yang berasal dari Bapa dan diwartakan oleh Kristus kemudian dikuduskan oleh Roh Kudus. Roh Kudus itu tinggal dalam Gereja. Ia menguduskan Gereja. Ia adalah Roh Kehidupan yang mengarahkan manusia yang percaya untuk mendapatkan kehidupan kekal. Oleh sebab itu. Bapa Konsili menyatkan AuOleh Roh. Gereja diantar kepada segala kebenaran . Yoh 16:. , dipersatukan dalam persekutuan serta pelayanan, diperlengkapi dan dibimbing dengan aneka karunia hierarkis dan karismatis, serta disemarakkan dengan buah-buah-Nya . Ef 4:11-12. 1 Kor 12:4. Gal 5:. Ay (LG . Sebagai Gereja persekutuan Trinitaris. Gereja tidak memiliki tujuan bagi dirinya sendiri tetapi mengarah kepada tujuan dari Tritunggal Maha Kudus. Gereja menggambarkan perbedaan-perbedaan tetapi tetap dalam kesatuan seperti Tritunggal Mahakudus, satu kodrat tetapi tiga pribadi. Dan sebagai gambar dari Tritunggal Mahakudus. Gereja mempunyai misi menjalankan misi Allah Tritunggal . AG . dan mengarahkan dirinya untuk mencapai sukacita yang Allah berikan kepada manusia serta menjadi sarana melayani Allah untuk menuju masa depan ketika Tuhan menjadi segalanya dalam setiap orang dan seluruh dunia. Keluarga: Gereja Rumah Tangga Pemahaman relasi keluarga dengan Tritunggal tidak bisa dipahami tanpa mengerti hubungan antara keluarga dan Gereja. Maka, pertanyaan dasar sebelum menjawab relasi keluarga dengan Tritunggal adalah AuMengapa keluarga itu bisa disebut dengan ecclesia domestica?Ay Dalam tradisi Gereja, pemahaman Auecclesia domesticaAy disebutkan oleh Santo Yohanes Krisostomus dalam homilinya. Baginya, keluarga sebagai ecclesia domestica hendak menegaskan tentang bagaimana keluarga Kristiani itu seharusnya mewujudkan imannya dalam keluarga. Dia berkata: AuPada saat kembali ke rumah . ari Gerej. , marilah kita mempersiapkan dua meja, satu untuk makanan dan satu untuk Sabda Allah di mana suami harusnya mengulangi Sabda yang dikatakan di gereja. Sedangkan seorang istri hendaknya belajar dan anakanak mendengarkan. Rumah haruslah menjadi sebuah gereja karena kalian terhitung untuk keselamatan bagi anak-anak dan para pelayanAy (Homilies on Genesis, 6,. Santo Paulus VI dalam audiensi 11 Agustus 1976 memberikan penjelasan mengapa keluarga itu bisa disebut sebagai Auecclesia domesticaAy. Menurutnya, keluarga adalah ecclesia domestica karena keluarga memiliki dimensi sakramental, yang dihidupi dengan kasih manusiawi yang rapuh tetapi diarahkan menuju kepada kasih ilahi. Selain itu Paus mengatakan bahwa keluarga sebagai ecclesia domestica karena memiliki ikatan dengan Gereja yang satu dan universal, serta merupakan Tubuh Mistik Kristus. Sejalan dengan Santo Paulus VI itu. Santo Yohanes Paulus II dalam Anjuran Apostolik Familiaris Consortio mengatakan bahwa AuKeluarga Kristiani membentuk pewahyuan khusus dan penyataan komunio gerejani, dan karena alasan itu pula keluarga dapat dan seharusnya disebut sebagai AuGereja keluargaAy (FC . Di sini Paus hendak memberikan penjelasan bahwa keluarga itu tidak sekedar persatuan pria, wanita, dan anak-anak. Keluarga Kristiani sejak awal telah dirancang oleh Allah untuk hidup dalam kesatuan. Ketika Kristus hadir dan melembagakan Perkawinan sebagai Sakramen, maka keluarga itu mencerminkan Gereja yang adalah mempelai Kristus sebagaimana Santo Paulus sampaikan kepada jemaat yang meminta agar cinta suami dan istri dibangun dan dibentuk seperti kasih Kristus kepada Gereja-Nya . Ef. 5:2. Akhirnya, keluarga sebagai ecclesia domestica secara hakiki berarti Auikut ambil bagianAy dalam kemempelaian Kristus. Gereja universal yang keduanya diarahkan pada pembangunan Tubuh Mistik Kristus dan karena hubungan yang sakral antara keluarga dan kemempelaian Kristus tersebut, maka panggilan pernikahan Kristiani itu berkembang sepenuhnya . Paus Benediktus XVI). AuSebab dari persatuan suami-istri itu tumbulah keluarga, tempat lahirnya wargawarga baru masyarkat manusia, yang berkat rahmat Roh Kudus karena Baptis diangkat menjadi anak-anak Allah dari abad ke abadAy(LG . Sehingga, keluarga sebagai ecclesia domestica dikarenakan dua hal utama: Kristosentris dalam hubungannya dengan Gereja. Tubuh Kristus dan berdimensi sakramental. Wajah Tritunggal dalam Keluarga Dalam teologi, pemahaman Persekutuan Tritunggal yang ada dalam Keluarga kurang tergarap dengan baik, meskipun Santo Yohanes Paulus II sangat menekankan teologi ini dalam Ensiklik. Seruan Apostolik, dalam homili dan dalam surat-suratnya untuk memberikan pemahaman bahwa Keluarga itu memiliki peran besar dalam persekutuan gereja maupun dalam kehidupan Di bagian ini, penulis akan memberikan beberapa landasan teologis untuk memberikan pemahaman tentang AuBersekutu dalam Allah Tritunggal dimulai dalam KeluargaAy melalui ajaran Kitab Suci, pemikiran beberapa teolog dan ajaran Magisterium yang nantinya menjadi pendasaran dalam karya pastoral Kitab Suci Pemahaman Trinitas dalam Kitab Suci secara jelas ada pada Perjanjian Baru ketika Yesus mengutus para rasul untuk membaptis: AuKarena itu pergilah, jadikan semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh KudusAy (Mat 28:. Namun, jikalau ditelusuri teologi Trinitas yang berhubungan dengan keluarga sudah tampak sejak Kisah Penciptaan dalam Perjanjian Lama. Ketika Allah menciptakan langit dan bumi beserta isinya. Allah Bapa bersama-bersama Sang Sabda dan Roh Kudus melangsungkan karya penciptaanNya. Gambaran ini adalah juga gambaran AuKeluargaAy. Di dalam Kitab Kejadian, dikatakan: AuPada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong. gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan airAy (Kej 1:1-. Dan kemudian Allah bersabda ketika menciptakan satu per satu benda-benda di bumi, binatang dan Berdasarkan hal itu, communio personarum Allah Tritunggal telah tampak, apalagi dalam Kitab Kejadian juga menggunakan kata AuKitaAy ketika Allah menciptakan manusia: AuBaiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumiAy (Kej 1:. Kitab Kejadian juga menorehkan tentang communio personarum yang disebut keluarga. Ketika Allah menciptakan Adam dan kemudian Hawa, yang diambil dari rusaknya, memberikan gambaran tegas makna persekutuan Tritunggal dalam diri manusia yang adalah pria dan wanita, yang kemudian diminta oleh Allah untuk Auberanak cuculah dan bertambah banyakAy (Kej 1:. Di sini wajah Tritunggal tergambar jelas dalam manusia sebagai communio personarum dan terbentuk komunitas kecil, yang kemudian disebut AukeluargaAy. Pemahaman Trinitas dan relasinya dengan keluarga dalam Perjanjian Lama tidak terpampang secara eksplisit dalam Perjanjian Baru (PB), termasuk penjelasan sistematis tentang Trinitas meskipun pernyataan akan Trinitas: Allah Bapa. Putra, dan Roh Kudus tertulis dalam Injil. Meskipun demikian. PB memberikan penjelasan secara implisit tentang keluarga sebagai gambaran atau wajah Tritunggal Maha Kudus dalam Keluarga Kudus (Santo Yosef. Bunda Maria dan Tuhan Yesu. Hal yang bisa dilihat adalah kisah dalam Injil ketika Malaikat Gabriel memberikan kabar kepada Maria dan seketika itu Maria pun mengandung karena Roh Kudus . Luk 1:26-. Misteri Bunda Maria yang mengandung dari Roh Kudus ini menyiratkan akan kehadiran Tritunggal Maha Kudus yang memilih Maria karena kasih-Nya kepada manusia. Malaikat Gabriel datang kepada Maria dan memberi salam serta menyatakan rencana Allah kepadanya untuk mengandung dari Roh Kudus. Peristiwa ini bila dipahami secara teologis mencerminkan Allah Tritunggal yang mewujud dalam peristiwa inkarnasi melalui kehidupan keluarga. Oleh sebab itu, keluarga kudus adalah bentuk communio caritatis . ersekutuan kasi. yang adalah ikon dari Trinitas dan sekaligus menjadi model bagi keluarga Kristiani. Pemikiran Teolog Gambaran Keluarga sebagai icon Allah Tritunggal dijelaskan oleh beberapa teolog untuk memberikan pemahaman relasi kesatuan perkawinan dan Sosok pertama yang pantas disebut adalah Santo Agustinus. memahami bahwa meletakan keluarga sebagai gambaran dari Trinitas tidak bisa diterima secara penuh. Namun, pemikiran Agustinus telah memberikan pemicu untuk merefleksikan lebih jauh secara teologis bagaimana keluarga bisa menjadi ikon dari Tritunggal Mahakudus. Dia mengatakan:A Aubagiku, mereka tampaknya tidak mengajukan pendapat yang mungkin, yang menyatakan bahwa gambaran ilahi Trinitas dalam tiga pribadi yang merupakan bagian dari tatanan natural manusia dapat ditemukan dan dinyatakan dengan gambaran perkawinan dengan kehadiran pria, wanita, dan anak-anakAy (De Trinitate. Book XII. Meskipun demikian. St. Agustinus memberikan arah untuk mendalami lebih lanjut tentang hal ini karena gambaran trinitarian jika dihubungkan dengan perkawinan dan keluarga akan membawa dampak bahwa keluarga lebih berarti daripada sekedar offspring saja. Teolog lain yang juga bisa menjadi referensi tentang pemahaman keluarga adalah ikon Trinitas adalah Bernard Hyring ketika dia memberikan penjelasan tentang adalah batu penjuru teologi sosial. Menurutnya, setiap komunitas mempunyai titik awal di dalam kehidupan Tritunggal Maha Kudus, yang merupakan model dan tujuan akhirA. Keluarga ada komunitas natural kasih yang sangat dekat dan kuat. Kasih yang sejati antara pasangan dan anak-anak merupakan representasi kasih trinitarias yang paling sempurnaAy. Haring juga menegaskanA kasih dalam keluarga cenderung secara kodrati menjadi trinitarian karena kasih itu adalah penegasan kehadiran kreatif Allah dari pasangan saling mencintai dan seharusnya Allah seharusnya memberikan berkat pada kasih pria dan wanita bersama dengan seorang anak. Sosok lain yang membahas relasi keluarga dan trinitas adalah Uskup Fulton Sheen. Ia membahas bahwa Trinitas adalah model yang sempurna bagi Menurutnya, dalam bukunya Three to Get Married, perkawinan yang dilakukan oleh pria dan wanita memiliki tiga elemen yang berbeda, yaitu suami, istri dan kasih itu sendirinya sehingga keluarga adalah trinitarian. Hal tersebut bagi Fulton Sheen berasal dari gambaran Allah Tritunggal Mahakudus yang Audari kasih Bapa dan Putra muncul Pribadi ketiga yang bebeda, yaitu Roh Kudus sehingga dalam cara yang tidak sempurna, dari kasih suami dan istri di sana menghadirkan anak yang terikat pada kesatuan yang memberi kasih kepada keduanya dalam spirit dari keluargaAy . Fulton J. Sheen. Three to Get Married. Bagaimana dengan perkawinan yang tidak memiliki anak? Uskup Fulton menyatakan bahwa perkawinan itu trinitarian, bahkan ketika tidak ada anak yang muncul dari perkawinan tersebut tetapi jika ada anak maka cinta itu berinkarnasi . Fulton J. Sheen, 2. Selain kedua teolog di atas, teolog yang memberikan penjelasan sistematis berdasarkan ajaran Magisterium, terutama dari ajaran Santo Yohanes Paulus II, adalah Marc Cardinal Oullet dalam karyanya. Divine Likeness. Toward a Trinitarian Anthropology of the Family. Dalam bukunya tersebut. Cardinal Oullet ingin memberikan penjelasan tentang landasan antropologis dari gambaran Trinitas dalam keluarga dan dia menunjukan bahwa gambaran Trinitas dalam keluarga merupakan teologi yang masih terus dalam pengembangan. Dia memberikan penjelasan bahwa keluarga sebagai gambar trinitas berarti keluarga adalah gambaran Allah sendiri yang adalah Bapa-Putra dan Roh Kudus. Kemudian. Cardinal Ouellet menegaskan bahwa persekutuan pribadi dalam ecclesia domestica tidak hanya menyatakan kemiripan baru antara Trinitas dan keluarga, tetapi suatu mutual immanence dari dua realitas, semacam perputaran yang melibatkan keluarga dalam relasi trinitarian (Marc Cardinal Oullet, 2. Akhirnya. Cardinal Oullet menegaskan bahwa relasi keluarga dan Tritunggal Maha Kudus memberi penegasan tentang misi keluarga yang berkaitan dengan misi Tritunggal Maha Kudus. Magisterium Pemahaman keluarga sebagai wajah Trinitas tidak banyak dalam Ajaran Magisterium. Meskipun demikian. Magisterium menunjukkan hal ini dalam Katekismus Gereja Katolik dengan menegaskan: AuKeluarga Kristen adalah persekutuan pribadi-pribadi, satu tanda dan citra persekutuan Bapa dan Putera dalam Roh KudusAy (KGK 2. Sebelum itu. Paus Pius XII juga pernah mengutarakan pemahaman tersebut dengan menyatakan: AuKeluarga itu berelasi pada Allah bahkan dalam tingkat kodrati. Keluarga itu suci, karena keluarga adalah melayani Allah, dan kehadiran Allah dalamnya ketika ia lahir, dan dalam pengembangan serta dalam Keluarga itu masih menampakkan lebih mulia jika kita menganggap bahwa keluarga itu gambar Allah dan mirip dengan TrinitasAy (Paus Pius XII. Adresses to enganged couples, 1. Ajaran Magisterium, teologi keluarga yang mengelaborasi sebagai gambaran Trinitas terdapat, terutama dalam tulisan-tulisan Santo Yohanes Paulus II. Salah satu pernyataan yang jelas akan keluarga sebagai gambaran misteri Tritunggal Mahakudus terdapat dalam homilinya kepada Puebla Los Angeles. Meksiko. Paus menyebutkan secara jelas bahwa AuAllah dalam misteri terdalam bukan sendirian tetapi suatu keluaga, karena Dia dalam diri-Nya kebapaan, keputeraan dan hakikat dari keluarga itu adalah cintaAy. (Yohanes Paulus II. Homily to Puebla Los Angeles, 1. Dalam Gratissimam Sane. Sri Paus juga mengatakan: AuDalam terang Perjanjian Baru, dimungkinkan untuk menentukan bagaimana model primordial dari keluarga harus dilihat dalam Allah sendiri, dalam misteri kehidupan Tritunggal Maha KudusAy (Grs, . Penegasan tentang keluarga menggambarkan Trinitarian disampaikan pula oleh Paus Benediktus XVI dalam Angelus, 27 Desember 2009 pada Pesta Keluarga dengan menyatakan: AuAllah itu Tritunggal. Dia itu adalah komunitas kasih, dan keluarga adalah awal dan pengungkapannya kini. Pria dan wanita, diciptakan dalam rupa Allah. Aomenjadi satu tubuhAo (Kej 2:. Ini adalah komunio kasih yang melahirkan kehidupan baru. Dengan demikian, keluarga manusia berdiri sebagai ikon Tritutanggal karena cinta antarpribadi serta misinya untuk menghasilkan kehidupanAy. Seperti halnya para paus di atas. Paus Fransiskus dalam Amoris Laetitia memberikan pernyataan sekaligus menegaskan apa yang disampaikan oleh Paus Yohanes Paulus II bahwa relasi keluarga yang dihidupi oleh suami-istri yang saling mengasihi dan berbuah menggambarkan Allah Tritunggal. Paus mengatakan: Auhubungan pasangan yang subur menjadi gambaran untuk memahami dan menggambarkan misteri Allah sendiri, karena dalam pandangan Kristiani terhadap Trinitas. Allah dikontemplasikan sebagai Bapa. Putra dan Roh Allah Tritunggal merupakan persekutuan cinta, dan keluarga adalah cerminannya yang hidupAy (AL . Oleh sebab itu. Wajah Tritunggal dalam keluarga adalah nyata karena Tritunggal yang adalah communio personarum terealisasikan dalam persatuan relasi suami-istri yang tak terpisahkan dan selalu terbuka pada prokreasi. Pembentukan Spiritualitas Trinitaris dalam Keluarga Bersekutu dalam Allah Tritunggal dapat dihidupi dalam kehidupan Keluarga Kristiani. Sebagaimana keluarga juga disebut sebagai ecclesia domestica, keluarga sebagai gambar Trinitas yang hidup mendapatkan spirit persekutuan dari wajah Allah Trinitas sendiri. Ini berarti keluarga Kristiani dapat membangun kehidupan keluarganya dengan menjadikan Trinitas sebagai model persekutuan yang juga membawa keluarga itu tidak hanya secara ekslusif bagi orang Kristiani, tetapi juga membuka diri bagi sesama. Oleh sebab itu, persekutuan orang Kristen bukan soal persekutuan bersama seluruh Gereja saja, tetapi juga diawali dan dijalani dalam kehidupan keluarga yang mencerminkan Gereja sebagai persekutuan yang dipangil untuk menjadi terang bagi bangsabangsa karena Auseluruh kehidupan Kristen berada dalam persekutuan dengan tiap Pribadi ilahi, tanpa memisah-misahkan merekaAy(KGK . Bagaimana Spiritualitas Trinitaris dalam Keluarga dapat dibentuk? Pembentukan spiritualitas Trinitaris dalam keluarga terwujud dalam pelbagai bentuk, aspek atau dimensi penghayatan kehidupan keluarga terutama melalui edukasi orang tua kepada anak-anak karena edukasi Autidak hanya bertujuan pendewasaan pribadi manusia melainkan hendak mencapai langkah demi langkah makin mendalami misteri keselamatan, dan dari hari ke hari makin menyadari karunia iman yang telah mereka terima. supaya mereka dibina untuk menghayati hidup mereka sebagai manusia baru dalam kebenaran dan kekudusan yang sejati (Ef 4:22-. supaya dengan demikian mereka mencapai kedewasaan penuh, serta tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus . ih Ef 4:. , dan ikut serta mengusahakan pertumbuhan Tubuh MistikAy . Gravissimum Educationis. Pertama, spiritualitas persekutuan trinitaris dalam keluarga diwujudkan melalui kesadaran bahwa keluarga kristiani, tidak hanyak persekutuan kodrati, tetapi juga persekutuan adikodrati . AL . Maka, keluarga yang hidup dengan spiritualitas adikodrati ini menghidupi keluarga dalam kehidupan doa. Doa menjadi bentuk persekutuan karena Audoa adalah hubungan yang hidup anakanak Allah dengan Bapanya yang tidak terhingga baiknya, bersama Putera-Nya Yesus Kristus dan dengan Roh KudusAy (KGK 2. Maka, doa keluarga bukan doa masing-masing pribadi yang berdoa, tetapi berdoa dalam keluarga adalah bentuk komunikasi kasih antara anggota keluarga yang menggambarkan relasi Allah Tritunggal (Bapa-Putra-dan Roh Kudu. yang berkomunikasi satu sama lain dalam ikatan cinta kasih karena kehidupan keluarga adalah kehidupan sakramental di mana Sakramen menjadikan keluarga kristiani itu memiliki Aukekuatan-kekuatanAy yang datang dari Tubuh Kristus, yang tetap hidup dan menghidupkanAy(KGK 1. Keluarga menjadi keluarga yang selalu mengarahkan diri kepada kekudusan. Kedua, bersekutu dalam Allah Tritunggal terwujud dalam kehidupan keluarga dengan penghayatan satu rasa satu hati. Gambaran spiritualitas ini tampak dari hati Tuhan Yesus ketika menghadapi manusia yang berdosa dan bahkan ketika Tuhan harus menderita di salib. Kesatuan Bapa-Putra dan Roh Kudus dalam diri Kristus terwujud ketika keluarga kristiani menyadari bahwa penderitaan dalam keluarga bukan hanya milik dari ayah, ibu atau anak-anak tetapi milik bersama. Paus Fransiskus dalam Amoris Laetitia mengatakan AuSeluruh kehidupan keluarga merupakan suatu Aotanah pengembalaanAo yang penuh belas kasih. Masing-masing dari kita, dengan cermat, melukis dan menulis dalam hidup orang lain: AoKamu adalah surat pujian kami yang tetulis dalam hati kamiA bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidupAo . Kor 3:2-. Kita masing-masing adalah Aopenalan manusiaAo . uk 5:. yang di dalam nama Yesus Aomenebarkan jalaAo . Luk 5:. kepada orang-orang lain, atau sebagai petani yang menggarap tanah segar, yang adalah orang-orang yang dikasihinya, dengan megupayakan untuk menghasilkan yang terbaik dari mereka. Kesuburan perkawinan memiliki arti mengembangkan, karena Aomengasihi seseorang berarti mengahrapkan dirinya sesuatu yang tidak dapat didefinisikan atau pun pada saat yang sama memberinya juga cara-cara untuk memenuhi harapan tersebutAy (AL . Oleh sebab itu, keluarga kristiani memiliki persekutuan yang kuat dalam menghadapi persoalan-persoalan keluarga ketika spiritualitas Trinitas menjadi pondasi dalam kehidupan keluarga sehari-hari. Ketiga. Tritunggal Mahakudus juga menegaskan sisi belas kasih kepada mereka yang berdosa dan bersalah. Spirit ini tentu juga ada dalam kehidupan keluarga kristiani. Ayah dan Ibu serta anak-anak juga bercermin dari belas kasih Allah ini. Dan sebagai persekutuan, seperti Gereja yang memberikan Sakramen Pengampunan Dosa, keluarga Kristiani juga menjalankannya dalam kehidupan Misalnya, ketika suami-istri bertengkar atau orang tua dan anak-anak dalam perselisihan dan membuat sakit hati, pengampunan suami kepada istri. kepada suami. orang tua kepada anak-anak adalah cerminan belas kasih Allah Tritunggal dalam kehidupan keluarga. Keempat, pembentukan spiritualitas Trinitaris dalam keluarga juga dilakukan dengan mengembangkan keutamaan dalam keluarga, baik keutamaan moral . eutamaan kardina. maupun keutamaan teologal. Keutamaan ini dihidupi dalam keluarga sebagai bentuk icon dari Trinitas karena manusia adalah gambar Allah sendiri. Tentu saja, keluarga kristiani dapat meneladan Keluarga Kudus. Santo Yosef. Bunda Maria dan Tuhan Yesus sendiri adalah bentuk bagaimana keutamaan-keutamaan dihidupi. Santo Yosef dan Bunda Maria memulai kehidupan baru mereka dengan berani dan tanpa takut karena mereka sosok yang beriman, berharap, dan penuh kasih sayang. Mereka tidak pernah membayangkan jikalau akhirnya kehidupan mereka itu berubah. Rencana kehidupan keluarga bahagia yang mereka dambakan secara manusiawi bergeser menjadi kehidupan keluarga yang dipenuhi oleh rencana Allah. Mereka dipanggil menjadi keluarga bagi Yesus Kristus. suatu keluarga kudus. Inilah mengapa bahwa hanya keutamaan-keutamaan yang telah mengakar dalam hidup merekalah yang memampukan mereka untuk menjalani hidup sebagai keluarga kudus. Demikianlah pula bagi setiap keluarga kristiani, yaitu masing-masing keluarga dipanggil menuju kepada kekudusan seperti keluarga kudus. Mereka diharapkan menjadi persekutuan yang senantiasa mengupayakan hidup dalam keutamaan . aik manusiawi maupun teologa. sehingga membuat keluarga mampu bukan hanya melakukan sesuatu yang baik saja, tetapi juga menghasilkan buah kekudusan dengan bantuan rahmat Allah. Oleh sebab itu, sebagai keluarga Kristiani yang menghayati keutamaan, terutama keutamaan teologal, akan memiliki relasi yang kuat dengan Allah Tritunggal sendiri . KGK 1. Keluarga Kristiani diundang untuk terus menerus memiliki persekutuan yang penuh dengan Tritunggal, kesatuan yang menganggumkan antara Kristus dan Gereja-Nya . AL . Akhirnya, spiritualitas persekutuan Allah Tritunggal dalam keluarga terwujud pada kehidupan Ekaristis. Gereja selalu menekankan bahwa Ekaristi adalah sumber dan puncak hidup orang kristiani . LG . sehingga Ekaristi dalam hidup keluarga tak terelakkan. Kongregasi Ibadat menegaskan. AuKeikutsertaan dalam kehidupan ilahi dan kesatuan umat Allah membuat Gereja menjadi Gereja. keduanya ditandai dengan penuh arti dan dihasilkan secara menganggumkan oleh EkaristiAy (Eucharisticum myterium, . Maka, keluarga kristiani yang adalah ecclesia domestica dan sekaligus ikon dari Trinitas selalu menghidupi persekutuannya dalam Ekaristi karena Audalam Ekaristi keluarga berjumpa akan kepenuhan persekutuan dan partisipasinyaAy (Puebla, n. dan keluarga Kristiani yang menghidupi persekutuan Allah Tritunggal akan selalu menegaskan pentingnya Ekaristi karena melalui Ekaristi Aumengalirlah rahmat kepada keluarga dan membuat hidup keluarga memperoleh kekudusanAy . Pastoral Keluarga Kristiani Paus Yohanes Paulus II, menegaskan AuKeluarga merupakan sel dasar dari masyarakatAy. Pemahaman ini menjadi dasar bahwa keluarga sebagai persekutuan perlu untuk mendapatkan perhatian besar dalam karya pastoral, apalagi keluarga Kristiani yang dipahami sebagai gambar Trinitas, suatu persekutuan cinta kasih. Untuk itu, jikaulah pembangunan Gereja adalah pembangunan persekutuan maka keluarga adalah langkah awal dalam karya pastoral untuk sampai kepada penghayatan Aupersekutuan Allah TritunggalAy. Kini, pertanyaan yang hendak dijawab di sini adalah AuBagaimana upaya pembangunan keluarga itu dapat dilakukan?Ay Seruan Apostolik dari Yohanes Paulus II. Familiaris Consortio, telah memberi pondasi yang baik, yang dilanjutkan dalam Amoris Laetitia, dari Paus Fransiskus. Kedua dokumen tersebut menunjukan catatan-catatan pastoral yang perlu dikembangkan dalam pastoral keluarga yang juga bertujuan pembangunan Familiaris Consortio menyatakan secara tegas. AuKeluarga, jadilah sebagaimana harusnyaAy. Penegasan ini menyiratkan bahwa keluarga kembali kepada hakikatnya. keluarga mengarah kepada asal usulnya, gambar dan citra Allah Tritunggal. Itulah sebabnya Santo Yohanes Paulus II menyatakan: Aukeluarga mengemban misi untuk makin menepati jatidirinya. yakni: suatu persekutuan kehidupan dan cinta kasih, melalui usaha, yang Ae seperti segala sesuatu yang diciptakan dan ditebus - akan mencapai pemenuhannya dalam Kerajaan AllahAy (FC . Dan hal itu dilakukan dengan empat tugas umum bagi keluarga: . membentuk persekutuan pribadi. mengabdi kepada kehidupan. ikut serta dalam pengembangan masyarakat. berperanserta dalam kehidupan dan misi Gereja. Pertama, keluarga sebagai gambar Allah Tritunggal memiliki tanggung jawab untuk membentuk persekutuan pribadi melalui kesadaran diri akan prinsip perkawinan monogami dan tak terceraikan. Konsekuensinya, karya pastoral dalam keluarga dilakukan dengan mendorong bagaimana formasi keluarga dikuatkan dengan senantiasa mengingatkan dua prinsip perkawinan itu dalam Selain itu, pastoral keluarga juga perlu mengupayakan pendampingan kepada keluarga-keluarga yang mengalami persoalan. Secara konkret, pembentukan tim di paroki, juga di lingkungan-lingkungan paroki perlu digalakan. Maka. Romo Paroki mengupayakan pembinaan pelayan-pelayan pastoral keluarga dengan kerjasama dengan Komisi Keluarga dan Kursus Asisten Konselor Perkawinan yang membantu pendampingan keluarga di paroki, termasuk secara Kedua, keluarga yang bersekutu dengan Allah Tritunggal selalu mendukung gerakkan pro-life. Secara konkret, keluarga kristiani pertama perlu menyadari diri bahwa perkawinan selalu terbuka pada anak . karena anak adalah anugerah Allah bagi keluarga dan anak adalah gambaran keluarga yang terdiri dari suami-istri bersama-anak menyatukan diri dengan Allah Tritunggal, yang adalah communio personarum. Oleh karena itu, keluarga kristiani secara pastoral perlu senantiasa mendapatkan bimbingan bagaimana menghargai kehadiran anak-anak dalam keluarga sebagaimana diserukan oleh Konsili Vatikan II: AuTanpa mengurangi nilai tujuan-tujuan lai pernikahan, pelaksanaan cinta kasih yang sejati oleh suami-istri, dan seluruh makna kehidupan keluarga yang bersumber padanya, mempunyai tujuan berikut: supaya pasangan siap-sedia, untuk dengan teguh hati bekerja sama dengan cinta kasih Sang Pencipta dan Penyelamat, yang melalui mereka bermaksud memperluas dan memperkaya dari hari ke hari keluarga-Nya sendiriAy (GS. FC . Dengan dorongan pemahaman itu, kemudian Keluarga Kristiani mengembangkan dalam kerluarganya Keluarga Berencana Katolik, keluarga yang terlibat dalam rencana keselamatan Allah dengan menolak idiologi Kontrasepsi, yang di Indonesia didengungkan dengan gerakan AuKeluarga BerencanaAy yang pada dasarnya sebenarnya lebih pada promosi kontrasepsi. Untuk itu, paroki-paroki yang menyadari pentingnya peran keluarga dalam persekutuan dengan dasar teologi AuBersekutu dalam Allah TritunggalAy perlu mempersiapkan pelatihan-pelatihan dan gerakkan AuKeluarga Berencana KatolikAy untuk membangun budaya kehidupan di lingkungan Gereja dan Masyarakat. Ketiga. Keluarga Kristiani sebagai ikon Tritunggal Maha Kudus terlibat dalam pembangunan masyarakat sebagaimana Allah yang hadir ke dunia dalam diri Kristus dan memberikan Roh Kudus untuk mendampingi manusia untuk melakukan keselamatan seluruh umat manusia. Maka, orang tua dalam keluarga kristiani memberikan edukasi kepada anak-anak bagaimana mereka juga memperhatikan masyarakat. Orang tua perlu mendidik prinsip-prinsip Ajaran Sosial Gereja . enghargaan pada martabat manusia, solidaritas, dan subsidiaritas, serta keadila. sejak dini kepada anak-anak. Sesuai dengan semangat ini. Paus Fransiskus dalam Amoris Laetitia mendorong agar orangtua membangun pendidikan anak-anak yang lebih baik dengan mengingatkan bahwa orang tua tidak bisa hanya mempercayakan pendidikan kepada sekolah . AL . Maka. Bapa Suci mendorong agar orang tua mengupayakan pembentukan etika dalam keluarga, yang membangun pribadi anak secara integral, termasuk juga pendidikan seksualitas sejak dini. Keempat. Keluarga Kristiani yang bersekutu dalam Allah Tritunggal, memiliki misi yang sama dengan Gereja. Salah satu yang perlu dibangun dalam keluarga Kristiani adalah evangelisasi, termasuk katekese dalam keluarga. Untuk itu, keluarga kristiani perlu belajar dengan dibantu dari Komisi Keluarga untuk mengenal bagaimana dapat menjalankan pewartaan Injil dalam keluarga tersebut dan bagi masyarakat. Keluarga terutama orang tua diundang dan dibekali kemampuan berkatekese pada anak-anak, misalnya menggunakan Youcat for Kids, sarana katekese modern dalam keluarga. Dan, keluarga kristiani perlu menyadari bahwa ia adalah gambaran gereja sehingga dalam keluarga Kristiani menampakkan seluruh aktivitas gereja, yaitu kehidupan sakramental yang berpuncak pada Ekaristi, kehidupan doa secara komunal dalam keluarga antara orang tua dan anak-anak, serta membangun karakter Tri tugas Kristus, yaitu keluarga yang berkarakter nabi, raja dan imam. KESIMPULAN Bersekutu dalam Allah Tritunggal bagi orang Kristiani paling sederhana memang dimulai dalam kehidupan keluarga. Allah yang adalah persekutuan pribadi bisa dirasakan, bisa dipahami dan dihayati dalam kehidupan suami-istri dan anak-anak. Spirit ini akan memudahkan dalam pembangunan umat melalui karya pastoral karena karya pastoral bukan hanya tugas hirarki tetapi keseluruhan umat yang sadar akan jati dirinya, terlebih dalam kehidupan keluarga. Keluarga Kristiani diundang mencontoh dan meneladan Keluarga Kudus (Santo Yosef. Bunda Maria dan Tuhan Yesu. dalam menghayati kehidupan keluarga mereka. Oleh karena itu, persekutuan adalah hakikat dari Gereja dan itu hadir dalam kehidupan keluarga. Persekutuan Tritunggal menjadi pondasi atau model bagaimana persekutuan Gereja seharusnya terbentuk yang dimulai dari kehidupan keluarga Kristiani, yang secara langsung mencerminkan wajah Allah Tritunggal Mahakudus. Keluarga Kristiani membangun spiritualitasnya dan sekaligus kemudian menyadari tugas dan misi sebagai gambar persekutuan dari Allah Tritunggal Maha Kudus. DAFTAR PUSTAKA