Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI) p-ISSN: 2797-2879, e-ISSN: 2797-2860 Volume 5, nomor 4, 2025, hal. Doi: https://doi. org/10. 53299/jppi. Reflective Learning dalam Pembelajaran Mikro: Studi tentang Kemampuan Refleksi Diri Mahasiswa Calon Guru Nurmala Sari*. Destri Yaldi. Sri Wahyuni. Fadilla Ulfah Universitas Jambi. Jambi. Indonesia *Coresponding Author: nurmalasari@unja. Dikirim: 20-11-2025. Direvisi: 15-12-2025. Diterima: 24-12-2025 Abstrak: Kemampuan refleksi merupakan salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki calon guru karena berperan dalam meningkatkan kualitas praktik mengajar dan pengembangan profesional secara berkelanjutan. Namun, kemampuan reflektif mahasiswa dalam pembelajaran mikro masih beragam dan belum banyak dipetakan berdasarkan tingkat Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan refleksi diri mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Jambi dalam praktik pembelajaran mikro berdasarkan kerangka refleksi Hatton dan Smith. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis dokumen. Data berupa 19 dokumen refleksi diri mahasiswa yang dianalisis menggunakan teknik analisis isi kualitatif untuk mengidentifikasi jenis penulisan reflektif yang meliputi descriptive writing, descriptive reflection, dialogic reflection, dan critical reflection. Hasil penelitian menunjukkan bahwa refleksi mahasiswa didominasi oleh descriptive reflection sebanyak 12 dokumen . ,16%), diikuti descriptive writing sebanyak 4 dokumen . ,05%), dan dialogic reflection sebanyak 3 dokumen . ,79%), sedangkan critical reflection belum ditemukan. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa telah mampu memberikan alasan dan evaluasi terhadap pengalaman mengajar, tetapi belum mampu melakukan refleksi kritis yang mengaitkan pengalaman dengan teori maupun konteks yang lebih luas. Oleh karena itu, pembelajaran mikro perlu mengintegrasikan strategi reflective learning secara sistematis melalui jurnal reflektif, pertanyaan pemantik, umpan balik, dan diskusi reflektif untuk mendorong perkembangan kemampuan refleksi menuju tingkat dialogis dan kritis. Kata Kunci: reflective learning. pembelajaran mikro. refleksi diri. calon guru. Abstract: Reflective competence is an essential attribute that pre-service teachers must develop, as it plays a significant role in improving teaching practices and supporting continuous professional development. However, the reflective abilities of pre-service teachers in microteaching remain varied and have not been extensively examined according to levels of reflective thinking. This study aimed to describe the self-reflective abilities of undergraduate students in the Economic Education Study Program. Faculty of Teacher Training and Education. Universitas Jambi, during microteaching practices based on Hatton and SmithAos reflective writing framework. The study employed a qualitative approach using document analysis. The data consisted of 19 student self-reflection documents, which were analyzed through qualitative content analysis to identify four levels of reflective writing: descriptive writing, descriptive reflection, dialogic reflection, and critical reflection. The findings revealed that descriptive reflection was the most dominant category, accounting for 12 documents . 16%), followed by descriptive writing with 4 documents . 05%) and dialogic reflection with 3 documents . 79%). No evidence of critical reflection was These findings indicate that most pre-service teachers were able to justify and evaluate their teaching experiences but had not yet demonstrated critical reflection by connecting their experiences with theoretical perspectives or broader contextual issues. Therefore, microteaching courses should systematically integrate reflective learning strategies, including reflective journals, reflective prompts, feedback, and reflective @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Sari dkk. Reflective Learning dalam Pembelajaran MikroA discussions, to facilitate the development of higher-order reflective thinking from descriptive to dialogic and ultimately critical reflection. Keywords: reflective learning. self-reflection. pre-service teachers. PENDAHULUAN Mengajar adalah proses menantang dan membutuhkan guru dengan kualifikasi dan keterampilan khusus (Nikmah et al. , 2. Beberapa masalah dapat timbul akibat persiapan mengajar yang kurang memadai, seperti ketidakmampuan guru untuk mengatasi tantangan dalam konteks kelas, melemahkan kepercayaan diri calon guru serta mempengaruhi karir mengajar di masa depan (Abubakar et al. , 2. Pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab strategis dalam menyiapkan calon guru yang profesional, adaptif, dan memiliki keterampilan mengajar yang memadai sebelum memasuki dunia kerja. Salah satu mata kuliah yang memiliki peran sentral dalam pembentukan kompetensi pedagogik mahasiswa pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Jambi adalah Pembelajaran Mikro . sebagai mata kuliah wajib fakultas dengan beban 2 SKS. Mata kuliah ini dirancang sebagai wahana latihan terbimbing bagi mahasiswa calon guru untuk mengembangkan keterampilan dasar mengajar, seperti membuka dan menutup pembelajaran, menjelaskan materi, bertanya, memberi penguatan, mengelola kelas, menggunakan media, serta melakukan evaluasi pembelajaran (Fabelico & Afalla, 2023. ynzonur & Kaml, 2. Keterampilan-keterampilan tersebut menjadi bekal dasar yang sangat diperlukan ketika mahasiswa memasuki tahap Praktik Lapangan Persekolahan (PLP), di mana mereka akan berhadapan dengan kondisi kelas yang sesungguhnya, karakteristik peserta didik yang beragam, serta dinamika sekolah yang lebih kompleks. Dalam pelaksanaan pembelajaran mikro di kelas, masih menghadapi berbagai Salah satu persoalan utama yang dihadapi para dosen pengajar adalah keterbatasan waktu perkuliahan yang hanya 100 menit . SKS) setiap minggu. Durasi tersebut sering kali belum cukup untuk memberikan kesempatan praktik mengajar yang optimal kepada seluruh mahasiswa. Dosen harus membagi waktu antara pemberian penguatan teori, pelaksanaan praktik mengajar mahasiswa, observasi, dan pemberian umpan balik. Akibatnya, kesempatan mahasiswa untuk tampil mengajar, memperoleh umpan balik mendalam, serta melakukan perbaikan berulang menjadi terbatas . raktik-nilai-selesa. Di sisi lain, perkembangan paradigma pendidikan guru saat ini menuntut proses pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada praktik, tetapi juga pada metode dan teknik pengjaran yang efektif (Gencer, 2. Refleksi telah diterima sebagai bagian integral dari persiapan calon guru dalam konteks perguruan tinggi, baik dalam hal teoritis untuk memahami pengajaran maupun pendekatan praktis terhadap tindakan di kelas (Beauchamp, 2. Proses reflektif merupakan landasan untuk mengubah pola perilaku yang dapat meningkatkan pengajaran calon guru dengan cara yang lebih efektif dari sebelumnya (Zilka, 2. Artinya, calon guru tidak cukup hanya mampu mengajar, tetapi juga harus mampu menilai dirinya sendiri, menganalisis kelebihan dan kelemahan praktik mengajarnya, serta merancang perbaikan berkelanjutan. Hanya guru reflektif yang mampu menyempurnakan dan memodifikasi praktik mereka untuk pembelajaran yang lebih baik karena mampu mengakomodasi beragam gaya belajar siswa dan berkontribusi dalam proses belajar mengajar yang berkualitas (Khanam, @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Sari dkk. Reflective Learning dalam Pembelajaran MikroA Kemampuan reflektif ini penting untuk membentuk guru pembelajar sepanjang hayat . ifelong learne. Salah satu pendekatan yang relevan untuk menjawab tantangan tersebut adalah dengan praktik reflektif. Model pembelajaran mikro reflektif merupakan metode serupa dengan pengajaran mikro, dimana terdapat lingkungan pengajaran yang terkontrol dimana konsep, keterampilan dan perilaku yang akan diajarkan kepada siswa ditentukan terlebih dahulu dan disajiikan dalam lingkungan kelas yang didukung oleh berbagai alat sebagai umpan balik seperti komputer. CD, dan kamera. Calon guru direkam oleh kamera saat mereka mengajar kemudian mereka diberi kesempatan untuk merefleksikan diri dengan menonton rekaman tersebut (Batman & Saka, 2021. Erdemir & Yeilynar, 2. Husu. Toom dan Patrikainen dalam Lane et al. , . menyatakan bahwa refleksi yang lebih mendalam oleh calon guru dapat dirangsang melalui perekaman video pengajaran mereka, sehingga memungkinkan mereka meninjau kembali dan menafsirkan ulang kejadian-kejadian penting selama praktik Kebutuhan akan kesempatan untuk berlatih keterampilan mengajar calon guru sangat cocok dipenuhi melalui simulasi kelas seperti microteaching. Dalam konteks pembelajaran mikro, praktik reflektif merupakan proses ketika mahasiswa secara berkelanjutan menelaah pengalaman mengajaranya melalui pengamatan dan evaluasi diri, keemudaian merumuskan kembali pertanyaan, pemahaman, sreta langkah perbaikan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran pada praktik berikutnya (Lane et al. , 2. Kegiatan ini memberi calon guru tempat untuk menerapkan dan melatih keterampilan memberi umpan balik dalam lingkungan belajar yang terkontrol, tetapi tetap terasa seperti situasi nyata (Jacobsen et al. , 2. Para peneliti berpendapat bahwa umpan balik yang efektif merupakan bagian penting dari proses pembelajaran karena memungkinkan calon guru untuk merevisi pengetahuan teoritis dan praktik mereka (Akcan & Tatar, 2010. Eki, 2. Studi lain justru menunjukkan bahwa calon guru tampaknya kurang memiliki kemampuan untuk melakukan refleksi secara sistematis(Karlstrym & Hamza, 2. Berdasarkan asumsi bahwa guru seharusnya Aoberteori dari praktik dan mempraktikkan apa yang mereka teorikan (Kumaravadivelu, 2. dengan tujuan melibatkan guru dalam membangun pengetahuan melalui pengalaman mengajar mereka di kelas pada pengajaran mikro. Maka, selain mengalami pengajaran, terdapat kebutuhan besar akan praktik reflektif dalam upaya untuk membangun hubungan timbal balik antara pengetahuan yang diterima dan pengalaman calon guru. Menurut Schon dalam Erdemir & Yeilynar . praktik ini dapat dicapai melalui refleksi pengalaman selama pengajaran . eflection-in-actio. , atau refleksi setelah pengajaran . eflection-on-acttio. oleh calon guru. Dengan cara tersebut, calon guru diarahkan untuk berlatih di kelas, menerima umpan balik dan membangun makna sesuai dengan evaluasi individual dan/atau kolaboratif dari praktik mereka. Kajian mengenai refeleksi guru menunjukkan bahwa perkembagnan refleksi professional seharusnya tidak berhenti pada tahap mendeskripsikan penglaman, tetapi berkembang menuju reefleksi yang bersifat dialogi dan kritis. Hatton & Smith, . mengklasifikasikan refleksi guru ke dalam empat tingkatan, yaitu desciptive writing . endeskripsikan kejadia. , descriptive reflection . enjelaskan penyebab atau alasa. , dialogic reflection . enganalisis dan menawarkan solus. , dan critical refelcion . engaitkan teori, nilai, atau perpektif yang lebih lua. Adapun jenis penulisan reflektif menurut Hatton & Smith, . disajikan dalam Tabel 1 berikut: @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Sari dkk. Reflective Learning dalam Pembelajaran MikroA Tabel 1. Jenis Tulisan Reflektif (Hatton & Smith, 1. Jenis Tulisan Reflektif Penulisan Deskriptif (Tekni. (Descriptive/Technical Writin. Refleksi Deskriptif (Descriptive Reflectio. Refleksi Dialogis (Dialogic Reflectio. Refleksi Kritis Reflectio. (Critical Kriteria Belum termasuk refleksi . on-reflekti. Tulisan hanya berisi deskripsi mengenai peristiwa yang terjadi atau laporan mengenai literatur. Tidak terdapat upaya untuk memberikan alasan, penjelasan, maupun justifikasi terhadap peristiwa atau tindakan yang diuraikan. Telah bersifat reflektif. Tulisan tidak hanya mendeskripsikan peristiwa, tetapi mulai menunjukkan upaya untuk memberikan alasan atau justifikasi terhadap suatu peristiwa maupun tindakan. Namun, alasan tersebut masih disampaikan dalam bentuk pelaporan atau deskripsi, sehingga analisis yang dilakukan belum mendalam. Menunjukkan adanya proses "mengambil langkah mundur" . tepping bac. dari pengalaman atau tindakan yang telah dilakukan sehingga penulis dapat merenungkan pengalaman tersebut secara lebih mendalam. Tulisan memperlihatkan dialog internal . erdiskusi dengan diri sendir. , mengeksplorasi pengalaman, mempertimbangkan berbagai penilaian, serta mengajukan kemungkinan alternatif untuk menjelaskan atau merumuskan hipotesis mengenai pengalaman tersebut. Menunjukkan kesadaran bahwa tindakan dan peristiwa tidak hanya dapat dipahami melalui berbagai sudut pandang, tetapi juga dipengaruhi oleh konteks sejarah, sosial, budaya, politik, dan berbagai faktor struktural lainnya. Penulis mampu mempertimbangkan konteks yang lebih luas yang memengaruhi terjadinya suatu peristiwa atau tindakan. Sumber: Hatton & Smith, . Kerangka tersebut menegaskan bahwa refleksi yang berkualitas tidak hanya berfokus pada penggambaran persitiwa, tetapi juga mencakup terhadap penyebab, pertimbangan berbagai alternatif tindakan, serta pemaknaan berdasarkan nilai-nilai pendidikan yang lebih luas. METODE PENELITIAN Studi ini menggunakan desain penelitian deskriptif kualitatif untuk memberikan gambaran mendalam tentang kemampuan refleksi diri mahasiswa program studi Pendidikan Ekonomi dalam pembelajaran mikro. Desain deskriptif kualitatif dipilih karena studi ini bertujuan untuk meneliti praktik refelektif calon guru sebagai proes yang bergantung pada konteks dan berbaasis pengalalaman dalam pembelajaran Melalui pendekatan kualitatif ini memungkinkan proses reflektif ini ditangkap sebagaimana adanya secara alami, memberikan wawasan yang kaya dan autentik tentang bagaimana calon guru pendidikan ekonomi menuangkan hasil refleksi diri dari praktik micro teaching melalui video rekaman yang telah dilakukan sebelum kelas pembelajaran mikro dan melakukan praktik perbaikan pada sesi praktik nyata. Para partisipan adalah mahasiswa S1 Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Jambi. Mereka dipilih menggunakan metode purposive sampling dari tiga kelas mata kuliah pembelajaran mikro . icro teachin. yang dilaksanakan pada semester 4 . Strategi sampiling ini diterapkan untuk memastikan inklusi @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Sari dkk. Reflective Learning dalam Pembelajaran MikroA partisipan yang memenuhi kriteria yang relevan dengan tujuan penelitian. Pemilihan partisipan didsasarkan pada hasil penilaian praktik micro teaching yang dilakukan pada siklus ke dua, yakni mahasiswa yang memperoleh penilaian praktik dengan skro 80-100 (A). Pada siklus pertama, setelah mahasiwa memperoleh pembahaman materi terkait 9 keramampilan dasar mengajar, mahasiswa diminta melaksanakan praktik pembelajaran mikro secara mandiri melalui rekaman video, selanjutnya mengisi lembar refleksi diri . elf reflectio. dan memperoleh feed back melalui penilaian teman sejawat dan dosen pada lembar observasi. Berdasarkan catatan refeeksi pada sisklus pertama, mahasiswa akan kembali melakukan praktik pembelajaran pada siklus kedua secara offline di lab micro teaching FKIP dan memperoleh feed back dari dosen pengajar dan rekan sejawat. Penilaian praktik menggunakan rubrik observasi yang diadaptasi dari panduan Pembelajaran Mikro FKIP Universitas Jambi meliputi: keterampilan membuka pembelajaran, keterampilan menutup pembelajaran, keterampilan menjelaskan, keterampilan bertanya . robing, prompting dan HOTS), keterampilan memberi penguatan . erbal dan non verba. , keterampilan mengelola kelas, keterampilan mengelola variasi . etode, media, gerak, suar. , keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil, dan keterampilan mengajar kelompok kecil. Pada lembar refleksi, mahasiswa diminta menuliskan catatan untuk setiap keterampilan yang telah Dokumen digunakan sebagai sumber utama dalam penelitian ini untuk menjaga keaslian, kredibilitas, dan kebermakaan data (Morgan, 2. Dokumen hasil refleksi diperoleh dari 19 mahasiswa . perempuan dan 4 laki-lak. , terdiri dari 6 mahasiwa kelas R001, 8 mahasiswa kelas R002, dan 5 mahasiswa kelas R003. Seuruh dokumen refleksi mahasiswa dianonimkan dengan R1 sampai R19. Selanjutnya masing-masing dokumen akan diidentifikasi berdasarkan kerangka refleksi (Hatton & Smith, 1. dengan diberi kode DT . enulisan deskriptif/technica. DR . efleksi deskripti. DGR . efleksi dialogi. , dan CR . efleksi kriti. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan tahapan analitis yang diadaptasi dari (Morgan, 2. , yakni . transkripsi data, menuliskan dan membaca beeruang kali untuk memahami data. membuat kode awal, peneliti memberi. Label pada data yang dianggap bermakna. mengelompokkan kode ke dalam tema-tema . meninjau tema, memeriksa ulang kode dan mengklasifikasikan untuk memastikan validitasnya, . mendefenisikan tema. membuat laporan, menyajikan hasil analisis dan menarik kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Sesuai tujuan penelitian, maka hasil penelitian ini akan medeskripsikan bagaimana kemampuan reflektif mahasiwa Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Jambi dalam praktik pembelajaran mikro . icro teachin. Sembilan belas dokumen refeksi mahasiswa dari 3 kelas pembelajaran mikro diberi kode R1 sampai R19. Berdasarkan dokumen lembar refleksi diri mahasiswa pada pembelajaran mikro, menunjukkan tingkat kemampuan refleksi mulai dari desciptive writing . endeskripsikan kejadia. , descriptive reflection . enjelaskan penyebab atau alasa. , dialogic reflection . enganalisis dan menawarkan solus. , dan belum sampai critical refelcion . engaitkan teori, nilai, atau perpektif yang lebih lua. @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Sari dkk. Reflective Learning dalam Pembelajaran MikroA Berdasarkan hasil analisis dokumen refleksi, tiga dari empat jenis penulisan reflektif telah diidentifikasi dengan dua jenis tulisan yang memenuhi kriteria penulisan Refleksi deskriptif adalah jenis penulisan refektif yang paling umum ditemukan, dengan jumlah 12 dokumen . ,16%), selanjutnya refleksi dialogis 3 dokumen . ,79%) dan penulisan deskriptif 4 dokumen . ,05%) serta tidak ditemukan jenils penulisan pada tingkat refleksi kritis. Adapun temuan jenis refleksi dapat disajikan melalui gambar Grafik 1 berikut ini: Jenis-jenis Tulisan Refektif yang Diidentifikasi REFLEKSI DIALOGIS 15,79% 63,16% REFLEKSI DESKRIPTIF PENULISAN DESKRIPTIF 21,05% 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% Gambar 1. Jenis-jenis Tulisan Refleksi yang Diidentifikasi Penulisan Deskriptif (Descriptive/Technical Writin. Refleksi pada jenis descriptive writing . enulisan deksripti. ditemukan pada 4 dokumen dari sembilan belas tugas refleksi diri . ,05%) yang dituliskan mahasiswa. Dalam kategori ini mahasiswa menunjukkan kemampuan dalam mendeskripsikan kejadian, menceritakan atau melaporkan kembali pengalaman, peristiwa, atau aktivitas yang telah dilakukan tanpa disertai analisis, intrepertasi, alasan ataupun evaluasi terhadap pengalaman tersebut. Mahasiswa umumnya menceritakan jalannya praktik mengajar, seperti urutan pembelajaran, penggunaan media, atau respons siswa secara Seperti terlihat pada dokumen mahasiswa (R. "Saya membuka pelajaran dengan mengucapkan salam kepada siswa, menanyakan kabar, melakukan presensi, membangun suasana yang hangat dengan bercanda bersama siswa, dan memberikan pemantik melalui gambar tentang kebutuhan. " (R. Dalam hal ini, mahasiswa (R. hanya mendeskripsikan urutan kegiatan membuka pembelajaran tanpa analisis efektivitas atau alasan pemilihan strategi. Sejalan dengan hasil refleksi mahasiswa (R. yang juga menyatakan: AuSaya menggunakan metode ceramah, tetapi tetap ada kegiatan presentasi kelompok, dan interaksi dengan siswa. Media yang saya gunakan adalah PowerPoint (PPT). LKPD. Ay (R. Dalam melakukan refleksi mahasiswa (R. hanya sebatas mendeskripsikan metode dan media yang digunakan tanpa melakukan analisis mengenai kelebihan atau Refleksi Deskriptif (Descriptive Reflectio. Berdasarkan dokumen refleksi yang telah dianalisis, ditemukan 12 dokumen . ,16%) pada tingkat refleksi deskriptif. Dalam katergori ini terdapat bukti bahwa @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Sari dkk. Reflective Learning dalam Pembelajaran MikroA mahasiswa telah mencoba memberikan beberapa alasan atau pembenaran untuk peristiwa atau pengalaman yang dibahas. Namun, penalaran ini disajaikan secara Pada tahap ini, mahasiswa tidak lagi sekadar mendeskripsikan apa yang terjadi, tetapi mulai merefleksikan pengalaman dengan memberikan alasan . , penjelasan, atau dasar pemikiran terhadap tindakan yang dilakukan misalnya terlihat pada dokumen refleksi mahasiswa (R. "Penjelasan. menggunakan analogi yang sederhana. namun kecepatan berbicara terkadang terlalu cepat saat saya merasa gugup. " (R. Penulisan refleksi ini menunjukkan adanya evaluasi terhadap kemampuan menjelaskan sekaligus penyebab kelemahan yang dialami. Sejalan dengan hasil refleksi yang dituliskan oleh Mahasiswa (R. AuMedia dan metode yang saya gunakan cukup efektif karena membantu peserta didik memahami materi dengan lebih jelas. PPT memudahkan penyampaian materi secara terstruktur, sedangkan diskusi dan tanya jawab meningkatkan " (R. Dalam refeksi ini mahasiswa telah mampu memberikan penilaian sekaligus alasan mengapa media dan metode dianggap lebih efektif diterapkan dalam praktik pembelajaran mikro . icro teachin. yang telah ia laksanakan. Lebih lanjut hasil refleksi mahasiswa (R. juga menujukkan: memberikan pertanyaan pemantik agar siswa lebih tertarik mengikuti " (R. Mahasiswa tidak hanya menjelaskan kegiatan, tetapi juga memberikan alasan pedagogis penggunaan pertanyaan pemantik dalam pembelajaran. Refleksi Dialogis (Dialogic Reflectio. Jenis tulisan reflektif ini menunjukkan apa yang Hatton & Smith, . katakan sebagai mengambil langkah mundur . tepping bac. yang menunjukkan bahwa pengalaman, peristiwa, dan tindakan dieksplorasi menggunakan penilaian dan tindakan alternatif yang telah dipertimbangkan. Berdasarkan hasil analisis refleksi terdapat 3 dokumen . ,79%) yang memenuhi kategori ini. Indikator penting dari refleksi dialogis adalah kemampuan untuk mempertimbangkan kemungkinan atau pendekatan alternatif yang dapat diambil, sebagaimana hasil refleksi mahasiswa (R. "Jika saya menggunakan video dibandingkan hanya LKPD, kemungkinan siswa akan lebih mudah memahami fenomena ketenagakerjaan karena mereka dapat melihat contoh nyata. Namun, penggunaan video juga memerlukan pengelolaan waktu yang lebih baik agar diskusi tetap berjalan efektif. " (R. Mahasiswa tidak sekadar mengatakan bahwa video lebih baik daripada LKPD, tetapi juga mengajukan sebuah hipotesis . ika saya menggunakan video. memperkirakan dampaknya terhadap pemahaman siswa, serta merefleksikan konsekuensi praktisnya terhadap pengelolaan waktu. Dengan demikian, refleksi tidak lagi hanya berupa evaluasi sederhana seperti pada Descriptive Reflection, tetapi telah berkembang menjadi proses penalaran yang membandingkan pilihan-pilihan tindakan dan mempertimbangkan implikasinya sebelum mengambil keputusan. Senada dengan hasil refleeksi mahasiswa (R. yang menuliskan: @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Sari dkk. Reflective Learning dalam Pembelajaran MikroA "Saya dapat meningkatkan kualitas interaksi dengan memberikan lebih banyak pertanyaan yang mendorong peserta didik untuk berpikir kritis, memberikan kesempatan yang lebih merata kepada seluruh peserta didik untuk berpendapat, serta menciptakan suasana kelas yang lebih komunikatif dan partisipatif. " (R. Mahasiswa mulai mengeksplorasi beberapa alternatif strategi untuk meningkatkan interaksi pembelajaran. Refleksi tidak berhenti pada identifikasi kelemahan, tetapi mempertimbangkan berbagai tindakan yang dapat dilakukan. Demikan pula dengan hasil refleksi mahasiswa (R. yang menuliskan: "Saya perlu memberikan lebih banyak pertanyaan terbuka, menciptakan suasana belajar yang lebih nyaman, serta memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh peserta didik untuk berpartisipasi. Selain itu, saya juga perlu meningkatkan kemampuan mendengarkan dan memberikan umpan balik yang lebih mendalam. Refleksi ini menunjukkan eksplorasi beberapa alternatif tindakan untuk mengatasi masalah peserta didik yang pasif. Penulis tidak hanya menyebutkan kelemahan, tetapi juga mempertimbangkan beberapa strategi yang dapat diterapkan. Studi ini memberikan wawasan menarik tentang memetakan kemampuan reflektif mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi daam praktik pembelajaran mikro . icro teachin. peran reflective learning dalam mengeksplorasi kompetensi keterampilan dasar mengajar mereka. Studi ini juga memproses lebih jauh melalui analisi konten untuk mengidentifikasi jenis-jenis penulisan reflektif yang pada gilirannya menujukkan apakah seorang mahasiswa memproses pengalaman mengajar mikro mereeka pada tingkat teknis . ulisan deskripti. , deskriptif , dialogis, atau kritis. Temuan ini menjelaskan beberapa aspek menarik dari penulisan reflektif. Mengenai penulisan deskriptif . , meskipun jenis penulisan ini tidak bersifat reflektif dan terdiri dari deskripsi peristiwa tanpa alasan (Maclellan, 2. Namun, refleksi teknis dianggap oleh (Hatton & Smith, 1. sebagai Tingkat refleksi pertama dan sangat diperlukan. Oleh karena itu para pendidik dapat mempertimbangkan untuk menggunakan strategi pendidikan yang akan memunculkan kemampuan mahasiswa dalam menguasai refleksi teknis . isalnya menulis essay, narasi singka. sebelum praktik pembelajaran mikro dilaksanakan. Sejalan dengan hasil penelitian Nikmah et , . bahwa praktik reflektif berperan dalam meningkatkan kesadaran profesional, kemampuan mengevaluasi praktik pembelajaran, serta kesiapan calon guru untuk memenuhi kompetensi yang dipersyaratkan dalam profesi guru. Dalam kategori refleksi deskriptif, telah mencakup upaya mahasiswa dalam memberikan justifikasi atas peristiwa atau tindakan pada praktik pembelajaran mikro, tetapi umumnya dengan cara deskriptif. Refleksi deskriptif lebih mudah dikuasai daripada bentuk refleksi dialogis atau kritis (Hatton & Smith, 1. Dengan refleksi deskriptif, ada kesadaran akan keberadaan bukti, tetapi bukti tersebut tidak sepenuhnya dipertimbangkan atau dianalisis (Maclellan, 2. Seperti refleksi teknis, rekfleksi deskriptif merupakan Langkah penting dan perlu dilatih dalam penulisan reflektif. Refleksi tidak hanya memungkinkan calon guru mencatat cara-cara yanga akn mereka ubah dalam praktik mereka, teatpi juga dapat meenawarkan rasa percaya diri dan profesionalisme (Goodley, 2. Akibatnya, mahasisiswa pada tingkat deskriptif harus didukung untuk meninjau hasil refleksi mereka dengan pendekatan membaca, analisis kritis, sintesis, dan integrasi pengetahuan berbasis bukti. @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Sari dkk. Reflective Learning dalam Pembelajaran MikroA Pada tingkat refleksi dialogis yang lebih menantang, pada kategori ini mahasiswa melibatkan diri pada peristiwa dan mengeksplorasi pengalaman menggunakan kuaitas penilaian sambil mempertimbangkan kemungkinan alternatif (Hatton & Smith, 1. Refleksi dialogis menunjukkan bahwa pemahaman mahasiswa dan bukti saling berkaitan (Maclellan, 2. Mahasiswa pada ketegori ini menunjukkan pemahaman objektif tentang praktik pembelajaran mikro . icro teachin. serta mampu mengindentifikasi tindakan alternatif sambil mengenalai kekuatan atau kelemahan dalam praktik pembelajaran yang telah dilaksanakan. Oleh karena belum ditemukan hasil pada kategori refleksi kritis, maka penting dilakukan strategi tambahan seperti pelatihan reflektif, penerapan dalam berbagai konteks pembelajaran, hingga penyesuain modul pembelajaran mikro dan mengintegrasikan praktik reflektif dalam pembelajaran mikro untuk mendukung mahasiswa berada pada tingkat refleksi kritis. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian (Zahid & Khanam, 2. yang menunjukkan bahwa praktik reflektif perlu diintegrasikan secara sistematis ke dalam kurikulum pendidikan guru sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas praktik lapangan dan mendukung pengembangan kompetensi profesional calon guru. Meskipun refleksi kritis memiliki banyak kareakteristik yang sama dengan refleksi dialogis seperti objektivitas dan kemampuan untuk mengenalai alternatif, ciri khas pada refleksi kritis Adalah pada kemampuan mereka untuk mengidentifikasi tindakan, tindakan alternatif dipengaruhi oleh berbagai konteks sekalisus menguraikan bagaimana praktik pembelajaran dapat ditingkatkan (Braun & Clarke, 2006. Maclellan, 2. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan refleksi diri mahasiswa calon guru Program Studi Pendidikan Ekonomi dalam pembelajaran mikro masih didominasi oleh Descriptive Reflection, diikuti oleh Descriptive Writing dan Dialogic Reflection, sedangkan Critical Reflection belum ditemukan. Temuan ini mengindikasikan bahwa sebagian besar mahasiswa telah mampu mengevaluasi pengalaman mengajarnya dengan memberikan alasan, justifikasi, serta mengidentifikasi kelebihan dan kelemahan praktik pembelajaran yang dilakukan. Dominannya refleksi deskriptif menunjukkan bahwa mahasiswa telah memasuki tahap awal praktik reflektif, tetapi masih memerlukan dukungan pedagogis agar mampu mengembangkan kemampuan berpikir reflektif yang lebih tinggi. Sementara itu, keberadaan refleksi dialogis pada sebagian kecil mahasiswa menunjukkan adanya potensi untuk melakukan eksplorasi terhadap berbagai alternatif strategi pembelajaran, meskipun proses penalarannya belum berlangsung secara komprehensif. Tidak ditemukannya refleksi kritis mengindikasikan bahwa mahasiswa belum mampu mengaitkan pengalaman pembelajaran mikro dengan dimensi sosial, budaya, institusional, maupun landasan teoretis yang memengaruhi praktik pembelajaran. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa pembelajaran mikro tidak cukup hanya berfokus pada penguasaan keterampilan mengajar, tetapi juga perlu dirancang sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan reflektif mahasiswa secara bertahap. Pengembangan tersebut dapat dilakukan melalui penerapan model Reflective Learning yang mengintegrasikan penulisan jurnal reflektif, penggunaan pertanyaan pemantik . eflective prompt. , umpan balik dari dosen dan teman sejawat, analisis video pembelajaran, serta diskusi reflektif yang berlandaskan teori. @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Sari dkk. Reflective Learning dalam Pembelajaran MikroA DAFTAR PUSTAKA