AL-KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat , 2022, 1-6 Available at: https://w. id/index. php/khidmah/index Pendampingan edukasi psikososial anak pasca erupsi Gunung Semeru Nanang Qosim1*. Izza Lailiya2 Universitas Islam Zainul Hasan Genggong. Indonesia e-mail: qosimatik99@gmail. *Corresponding Author. Received: 25 Mei 2022. Revised: 7 April 2022. Accepted: 20 April 2022 Abstrak: Kegiatan pendampingan ini dilakukan di desa Sumber Wulu. Lumajang. Jawa Timur pasca bencana erupsi Gunung Semeru. Dengan adanya erupsi tersebut, warga Sumber Wulu mengalami beberapa trauma, salah satunya adalah trauma. Untuk melakukan pendampingan pasca erupsi Gunung Semeru menggunakan beberapa metode, yaitu: . Trauma healing . engurangi kecemasan dan memperbaiki kondisi emos. , . Play therapy . erapi bermai. , . Psychoanalytic therapy . erapi psikoanalisi. Dalam pelaksanaan pendampingan psikososial untuk pendidikan anak pasca erupsi Gunung Semeru tidak cukup dalam waktu yang singkat. Setelah pelaksanaan pendampingan psikososial pendidikan anak pasca erupsi Gunung Semeru, warga Sumber Wulu mengalami pemulihan yang cukup sehingga dapat kembali beraktivitas seperti sedia kala. Kata Kunci: pendidikan, psikososial, erupsi gunung. How to Cite: Qosim. , & Lailiya. Pendampingan edukasi psikososial anak pasca erupsi Gunung Semeru. Al-Khidmah: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2. , 1-6. https://doi. org/10. 55210/khidmah. Pendahuluan Fenomena alam, terutama bencana alam yang dahsyat, dapat membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk ekonomi, sosial, dan budaya. Dampak dari bencana alam seperti erupsi gunung berapi dapat merusak infrastruktur, yang pada gilirannya mengubah pola hidup Selain menyebabkan korban jiwa, cedera, dan kehilangan tempat tinggal, bencana juga dapat menghancurkan komunitas yang sudah terbentuk dengan baik. Kerusakan lingkungan yang parah, termasuk hutan yang hancur, menambah penderitaan yang dialami oleh penduduk yang terkena Erupsi Gunung Semeru yang terjadi pada 4 Desember 2021 di Desa Sumber Wulu. Kecamatan Lumajang, merupakan salah satu tragedi terbesar yang pernah dialami oleh daerah tersebut. Bencana ini masih menyisakan kesedihan dan trauma yang mendalam di benak penduduk setempat. Tidak ada tanda-tanda peringatan seperti suara gemuruh yang biasanya mendahului erupsi, sehingga penduduk tidak sempat melakukan persiapan atau evakuasi yang memadai. Akibatnya, banyak korban jiwa dan kerugian harta benda yang signifikan, menjadikan erupsi ini sebagai salah satu bencana alam terburuk dalam sejarah wilayah tersebut (Ulfah, 2. Selain itu. Kecamatan Lumajang dan khususnya Desa Sumber Wulu sering mengalami hujan lebat, yang semakin menambah kecemasan dan kekhawatiran penduduk terhadap kemungkinan terjadinya erupsi susulan. Trauma yang dialami oleh penduduk sangat bervariasi. beberapa individu mungkin hanya mengalami trauma ringan, sementara yang lain mengalami trauma sedang hingga Kemampuan masing-masing individu dalam menghadapi dan mengatasi trauma sangat bervariasi, tergantung pada daya tahan dan dukungan yang mereka terima (Rahman, 2. Banyak korban erupsi yang mengalami trauma mendalam karena kehilangan orang-orang tercinta serta harta benda yang mereka miliki. Kondisi di tempat pengungsian yang padat dan tidak This is an open access article under the CCAeBY license. https://doi. org/10. 55210/khidmah. AL-KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2. , 2022, 1-6 Nanang Qosim. Izza Lailiya memadai juga berkontribusi terhadap buruknya kondisi psikologis para pengungsi. Jumlah pengungsi yang terus bertambah membuat situasi semakin sulit dan meningkatkan tekanan psikologis yang mereka alami (Siregar & Husmiati, 2. Trauma yang berkepanjangan dapat menghambat kemampuan korban untuk kembali menjalani aktivitas sehari-hari secara normal. Oleh karena itu, sangat penting untuk memberikan terapi pemulihan trauma . herapy healin. bagi mereka yang terkena dampak. Terapi ini sangat diperlukan untuk membantu korban pulih secara total dan kembali menjalani kehidupan normal. Berbagai metode terapi dapat digunakan untuk mengatasi trauma, termasuk pemberian obat-obatan dan terapi bermain (Play Therap. khususnya untuk anak-anak (Rahman, 2. , serta Terapi psikoanalisis (Psychoanalytic therap. untuk membangunkan alam bawah sadar guna meningkatkan kesadaran diri, kesehatan emosional, dan pertumbuhan korban. Menurut American Psychiatric Association, trauma yang disebabkan oleh kejadian traumatis dapat mengakibatkan gangguan emosional dan psikologis yang serius. Kondisi ini dapat menimbulkan ketakutan yang merusak mental dan menghambat pertumbuhan serta perkembangan psikologis Dampak dari trauma ini dapat mempersulit korban untuk menjalani kehidupan secara normal dan mengganggu kesehatan mental mereka (Rahayu et al. , 2. Kesimpulannya, fenomena alam seperti erupsi Gunung Semeru membawa perubahan besar dan menimbulkan trauma pada masyarakat yang terkena dampaknya. Bencana ini tidak hanya memakan korban jiwa dan menyebabkan kerugian harta benda yang signifikan, tetapi juga menimbulkan gangguan psikologis yang mempengaruhi kesejahteraan emosional dan mental individu. Oleh karena itu, penanganan dan pemulihan psikososial sangat penting untuk membantu masyarakat yang terkena dampak agar dapat kembali beraktivitas dan menjalani kehidupan secara normal. Pendampingan edukasi psikososial, khususnya untuk anak-anak, menjadi sangat krusial dalam proses pemulihan ini, karena anak-anak adalah kelompok yang paling rentan terhadap dampak jangka panjang dari trauma bencana. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan dapat memberikan kontribusi nyata dalam membantu anak-anak yang terdampak bencana untuk pulih secara psikologis dan sosial, serta kembali menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih baik. Metode Metode penelitian yang diusulkan akan menggunakan pendekatan ABCD (Asset Based Communities Developmen. , yang berfokus pada mengidentifikasi, memperkuat, dan memanfaatkan aset yang ada dalam komunitas untuk memperbaiki kualitas hidup. Melalui proses partisipatif dengan komunitas Desa Sumber Wulu, akan diidentifikasi aset-aset yang dimiliki oleh komunitas, seperti pengetahuan lokal, keterampilan, jaringan sosial, dan sumber daya lainnya yang dapat digunakan untuk mendukung pendampingan edukasi Pendekatan ABCD akan melibatkan partisipasi aktif dari semua pihak yang terlibat, termasuk anak-anak, orang tua, pendamping psikososial, dan anggota komunitas lainnya, dalam merencanakan dan melaksanakan program pendampingan. Observasi partisipatif akan dilakukan untuk memantau dan mendukung pengembangan inisiatifinisiatif yang berbasis pada aset komunitas. Focus Group Discussions (FGD) akan digunakan untuk mendiskusikan potensi dan tantangan dalam memanfaatkan aset komunitas, serta untuk merumuskan strategi kolaboratif untuk meningkatkan efektivitas pendampingan edukasi psikososial. Analisis data akan difokuskan pada evaluasi dan pemantauan terhadap perkembangan aset komunitas, serta dampak dari pendampingan edukasi psikososial terhadap penguatan aset dan kualitas hidup komunitas secara keseluruhan. AL-KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat. ISSN 2776-0901 . | 2807-7024 . AL-KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2. , 2022, 1-6 Nanang Qosim. Izza Lailiya Dengan menggunakan pendekatan ABCD, penelitian ini akan mendorong pemberdayaan komunitas dan pembangunan berkelanjutan yang didasarkan pada kekuatan dan potensi yang dimiliki oleh komunitas itu sendiri. Berikut adalah tabel yang menyajikan jumlah korban yang mengalami trauma pasca erupsi Gunung Semeru dengan klasifikasi berdasarkan kelompok usia. Tabel 1. Jumlah korban dengan trauma pasca erupsi Gunung Semeru Kelompok Usia Jumlah Korban Trauma Anak-anak Remaja Orang Tua Lansia Jumlah Hasil dan Pembahasan Setelah dilakukan kegiatan pendampingan edukasi psikososial anak pasca erupsi Gunung Semeru, terlihat adanya perubahan yang signifikan dalam kondisi psikososial masyarakat tersebut. Therapy healing dan edukasi perlindungan anak yang dilaksanakan bertujuan untuk menyembuhkan trauma pada anak-anak pasca bencana membutuhkan waktu yang cukup lama dan berkelanjutan. Meskipun kegiatan ini dilakukan dalam waktu yang relatif singkat, namun pesan-pesan yang disampaikan berhasil diterima dengan baik oleh anak-anak. Hal ini terlihat dari kembalinya senyuman mereka dan peningkatan dalam kemampuan mereka untuk menghadapi kehidupan di masa depan dengan lebih positif dan ideal. Dengan demikian, kegiatan pendampingan ini tidak hanya memberikan bantuan dalam penyembuhan trauma, tetapi juga membangun fondasi yang kuat untuk pemulihan psikososial yang berkelanjutan bagi masyarakat terdampak. Gambar 1. Proses penerapan therapy healing Selain itu, pendampingan pasca bencana erupsi Gunung Semeru juga melibatkan terapi bermain . lay therap. yang meliputi aktivitas seperti bernyanyi, menari, dan bercerita, yang dikombinasikan dengan materi perlindungan anak. Tujuan utama dari terapi bermain ini adalah untuk menjaga kesehatan mental anak-anak agar tetap normal dan stabil. Bermain merupakan salah satu bentuk media psikoterapi yang dikenal sebagai terapi bermain. Mengapa anak-anak perlu bermain? Karena melalui bermain, anak-anak memiliki kesempatan untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan mereka dengan lebih bebas, sehingga membantu mereka menjadi lebih kreatif. Selain itu, bermain juga memiliki peran penting dalam melatih kognisi atau kemampuan belajar anak-anak berdasarkan apa yang mereka alami dan amati dari sekitar mereka. Dengan demikian, terapi bermain merupakan komponen penting dalam pendampingan pasca bencana ini karena tidak hanya membantu anak-anak AL-KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat. ISSN 2776-0901 . | 2807-7024 . AL-KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2. , 2022, 1-6 Nanang Qosim. Izza Lailiya mengatasi trauma, tetapi juga memperkuat kemampuan mereka dalam menghadapi tantangan psikososial di masa mendatang. Gambar 2. Proses penerapan play therapy Di samping itu, pendampingan pasca bencana erupsi Gunung Semeru juga melibatkan Psychoanalytic Therapy, atau yang dikenal sebagai terapi psikoanalisis. Terapi ini memiliki tujuan utama untuk membantu individu yang mengalami masalah mental atau emosional, dengan fokus pada pengurangan gejala negatif yang muncul serta peningkatan rasa percaya diri. Pendekatan psikoanalisis ini dilakukan melalui pembicaraan yang mendalam antara terapis dan klien, di mana klien diberikan kesempatan untuk menjelajahi dan memahami akar penyebab dari masalah mereka secara lebih Dengan demikian, terapi psikoanalisis memberikan ruang bagi individu untuk mengeksplorasi dan mengatasi konflik internal yang mungkin menjadi penyebab dari gangguan psikologis yang mereka alami, sehingga membantu mereka menuju pemulihan yang lebih baik. Gambar 2. Proses penerapan psychoanalitic therapy Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan sebelumnya yang menunjukkan efektivitas berbagai jenis terapi dalam pemulihan psikososial pasca bencana. Misalnya, penelitian oleh Johnson et al. menemukan bahwa terapi healing telah terbukti efektif dalam mengurangi gejala PTSD dan meningkatkan kesejahteraan psikologis pada korban bencana alam. Selain itu, penelitian oleh Smith dan Jones . menyoroti pentingnya terapi bermain dalam membantu anak-anak mengatasi trauma dan memperkuat kesehatan mental mereka. Hasil penelitian ini juga mendukung temuan sebelumnya oleh Brown et al. , yang menunjukkan bahwa terapi psikoanalisis dapat membantu individu mengatasi masalah mental atau emosional dengan lebih efektif. Dengan demikian, hasil penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi terhadap pemahaman tentang efektivitas pendampingan edukasi psikososial pasca bencana, tetapi juga memperkuat temuan yang telah ada dalam literatur sebelumnya. Melalui integrasi pendekatan berbasis aset dan berbagai AL-KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat. ISSN 2776-0901 . | 2807-7024 . AL-KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2. , 2022, 1-6 Nanang Qosim. Izza Lailiya jenis terapi, masyarakat terdampak dapat mendapatkan dukungan yang lebih holistik dan berkelanjutan dalam pemulihan mereka. Kesimpulan Setelah dilakukan pendampingan edukasi psikososial anak pasca erupsi Gunung Semeru di masyarakat Sumber Wulu Lumajang Jawa Timur, hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat, khususnya anak-anak, mengalami pemulihan secara berkala. Melalui pendekatan yang meliputi therapy healing, play therapy, dan psychoanalytic therapy, terlihat adanya penurunan tingkat kecemasan dan peningkatan kondisi emosional pada anak-anak yang terdampak. Namun, perlu dicatat bahwa proses pemulihan ini memerlukan waktu yang cukup lama, mengingat kompleksitas dan kedalaman rasa trauma yang dialami oleh anak-anak pasca bencana. Meskipun demikian, kesimpulan dari pendampingan ini adalah bahwa pendekatan edukasi psikososial memiliki dampak yang positif dalam membantu anak-anak mengatasi trauma dan menuju pemulihan yang lebih baik serta kondisi normal kembali. Referensi