PEMIKIRAN ETIKA MURTADA MUTHAHHARI Muammar A. Wahid. Hamzah Harun UIN Alauddin Makassar Email: muammarabidinwahid@gmail. Hamzahharun62@gmaiil. Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis pemikiran Murtada Muthahhari. Murtadha Muthahhari adalah seorang ulama, pemikir, dan intelektual Muslim asal Iran yang sangat berpengaruh pada abad ke-20. Muthahhari dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan pemikiran Islam modern dan revolusi Islam di Iran. Pemikiran Murtadha Muthahhari tentang filsafat keadilan sangat mendalam dan menjadi salah satu kontribusi pentingnya dalam dunia pemikiran Islam modern. Bagi Muthahhari, keadilan bukan sekadar konsep normatif yang abstrak, melainkan nilai fundamental yang menjadi inti dari kehidupan sosial, politik, dan agama. Pemikiran Muthahhari tentang Islam dan modernitas menegaskan bahwa Islam bukan agama masa lalu yang harus ditinggalkan demi kemajuan, melainkan agama yang mengandung prinsip-prinsip yang bisa membimbing umat manusia dalam menjawab persoalan-persoalan modern. Kata Kunci: Pemikiran. Etika,Murtadha Muthahhari Abstract This study aims to analyze the thoughts of Murtada Muthahhari. Murtadha Muthahhari is a Muslim scholar, thinker, and intellectual from Iran who was very influential in the 20th Muthahhari is known as one of the important figures in the development of modern Islamic thought and the Islamic revolution in Iran. Murtadha Muthahhari's thoughts on the philosophy of justice are very profound and are one of his important contributions to the world of modern Islamic thought. For Muthahhari, justice is not just an abstract normative concept, but a fundamental value that is the core of social, political, and religious life. Muthahhari's thoughts on Islam and modernity emphasize that Islam is not a religion of the past that must be abandoned for the sake of progress, but a religion that contains principles that can guide humanity in answering modern problems. Keywords: Thoughts. Ethics. Murtadha Muthahhari JURNAL SULESANA PENDAHULUAN Pemikiran Islam kontemporer merujuk pada perkembangan intelektual dan filsafat dalam dunia Islam yang muncul seiring dengan tantangan zaman modern. Berbagai permasalahan yang dihadapi dunia Muslim, baik yang bersifat internal seperti krisis intelektual dan sosial, maupun eksternal seperti dampak globalisasi, kolonialisme, dan perubahan teknologi, telah mendorong lahirnya beragam pendekatan baru dalam pemikiran Islam. Pemikiran ini tidak hanya berfokus pada aspek religius, tetapi juga memperhatikan dinamika sosial, politik, dan budaya yang mempengaruhi masyarakat Muslim. Murtadha Muthahhari seorang tipikal muslim yang banyak menelorkan pemikiran dan gagasan 1Pemikiran Murtadha Mutahhari sangat dipengaruhi oleh dua hal utama pertama, pembacaannya terhadap teks-teks klasik Islam, seperti al-Qur'an dan Hadis, serta pemahaman filosofis yang mendalam tentang filsafat Islam, dan kedua, pengalaman hidupnya yang sangat terkait dengan perubahan sosial-politik yang terjadi di Iran pada abad ke-20. Mutahhari sering kali menekankan pentingnya integrasi antara dimensi spiritual dan rasional dalam kehidupan manusia, serta pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai dasar dalam Islam sebagai solusi bagi tantangan-tantangan modernitas. Murtadha Mutahhari adalah salah satu pemikir dan ulama besar dalam tradisi Islam kontemporer, khususnya di kalangan Muslim Syiah. Beliau memiliki peranan yang sangat penting dalam mengembangkan pemikiran Islam modern di Iran, dan ia dikenal sebagai seorang filsuf, teolog, dan juga pemimpin gerakan sosial-politik yang progresif. Sebagai seorang murid dari Ayatollah Khomeini dan seorang penggerak utama Revolusi Islam Iran, pemikiran Mutahhari menggabungkan elemen-elemen tradisional dalam Islam dengan kebutuhan akan pembaruan dan reformasi sosial dalam konteks zaman modern. Sebagai seorang pemikir yang kritis terhadap modernisme Barat. Mutahhari mengajukan ideide baru mengenai konsep-konsep seperti kebebasan, hak asasi manusia, dan peran wanita dalam masyarakat, namun tetap berpegang pada prinsip-prinsip ajaran Islam. Ia juga banyak menulis Barsihannor. Murtadha Muthahhari. Jurnal Al-Hikmah. Vol. XII. No. , h. JURNAL SULESANA mengenai peran agama dalam membentuk etika dan moralitas dalam kehidupan sehari-hari serta pentingnya pendidikan untuk membangun masyarakat yang lebih adil dan beradab. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kepustakaan. Penelitian kepustakaan . ibrary researc. mengacu pada proses melakukan penelitian menggunakan sumber daya perpustakaan. 2 Sumber-sumber tersebut bisa berupa buku, jurnal ilmiah, artikel, laporan penelitian, dokumen hukum, ensiklopedia, skripsi, tesis, disertasi, maupun media daring yang bersifat akademis dan kredibel. Dalam konteks ini, perpustakaan bukan hanya merujuk pada ruang fisik tempat koleksi buku berada, tetapi juga mencakup perpustakaan digital dan berbagai repositori ilmiah yang dapat diakses secara daring. Penelitian kepustakaan bertujuan untuk memperoleh teori, konsep, dan pemahaman mendalam mengenai suatu topik yang sedang diteliti. Berbeda dengan penelitian lapangan yang mengandalkan observasi langsung, wawancara, atau survei, penelitian kepustakaan lebih menekankan pada kajian teoritis dan analisis kritis terhadap informasi yang sudah tersedia sebelumnya. PEMBAHASAN Biografi Murtadha Muthahhari Murtadha Muthahhari lahir 2 Februari 1919 di Fariman, sebuah kota propinsi Khurasan Iran Timur Laut. Ayahnya. Syekh Mohammad Hussien Muthahhari, seorang ulama terkemuka yang banyak terinspirasi oleh karya tradisionalis Mulla Baqir Majilisi, sangat dihomati dan disegani oleh seluruh lapisan masyarakat, baik di Khurasan maupun Iran pada umumnya. Meski dilahirkan di lingkungan tradisionalis. Muthahhari rupanya lebih tertarik kepada persoalan teosufi yang dikembangkan Mulla Sadra. Meski demikian. Muthahhari tetap menghormati dan sangat mencintai ayahnya, yang juga guru pertamanya. Ia mempersembahkan kepada ayahnya salah satu karya termasyhurnya. Dastan Rastan (Epik Sang Sale. , sebuah karya yang pertama kali terbit tahun 1960 dan terpilih oleh Komite Nasional Iran untuk Unisco tahun 1965. Murthada Muthahhari adalah salah seorang arsitek ulama kesadaran baru dan filosof komtemporer asal Iran yang sekaligus dikenal sebagai ideologi Revolusi Islam di negeri itu. Abdurrahman. Metode Penelitian Kepustakaan Dalam pendidikan Islam. Jurnal Adabuna. Vol. No. , h. Barsihannor. Murtadha Muthahhari. Jurnal Al-Hikmah, h. JURNAL SULESANA Muthahhari dikenal sebagai salah satu tokoh yang berusaha menghidupkan kembali dan memperbarui filsafat Islam dengan mengadaptasi pemikiran-pemikiran modern. Dia menanggapi tantangan-tantangan yang dihadapi oleh dunia Islam, terutama dalam konteks kolonialisme dan pemikiran Barat, yang dianggap oleh banyak pemikir Islam sebagai ancaman bagi identitas dan integritas agama. Dia memadukan pemikiran tradisional dengan pemikiran baru, dan menekankan pentingnya menciptakan pendekatan yang dapat mengharmonisasikan agama dengan ilmu pengetahuan dan rasionalitas. Sebagai seorang ulama dan filsuf. Muthahhari tidak hanya fokus pada kajian teori, tetapi juga aktif dalam konteks sosial dan politik. Ia sangat mendukung gerakan revolusi Islam di Iran, dan seiring dengan perjuangan tersebut, ia mengajarkan pentingnya peran intelektual dalam membangun masyarakat yang adil dan bermoral. Bagi Muthahhari, negara yang berdasarkan prinsip-prinsip Islam harus menjunjung tinggi keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh umat, tanpa mengabaikan nilai-nilai spiritual dan moralitas. Di bidang pendidikan. Muthahhari sangat mementingkan pentingnya pendidikan yang berbasis pada ilmu pengetahuan dan nilai-nilai agama. Ia menekankan bahwa generasi muda harus dididik untuk berpikir kritis dan memahami dunia melalui pandangan yang mendalam tentang Islam. Salah satu kontribusinya yang signifikan adalah pengembangan kurikulum yang menggabungkan ajaran agama dengan ilmu pengetahuan modern, agar para pelajar dapat mengembangkan diri secara Di sisi lain. Muthahhari juga menyadari bahwa dunia Islam pada masa itu tengah menghadapi tekanan besar dari pengaruh Barat. Dalam karyanya, ia mengajak umat Islam untuk berpikir terbuka, menerima kemajuan ilmiah Barat, tetapi juga tetap menjaga identitas dan prinsip-prinsip ajaran Islam. Menurutnya, dialog antara dunia Islam dan Barat sangat penting, bukan untuk mengadopsi semua yang datang dari Barat, tetapi untuk menemukan titik temu yang bermanfaat bagi kedua belah pihak. Awalnya Murtadha Muthahhari bersetuhan dengan dunia pendidikan dari Ayahnya yang bernama Hujjatul Islam Muhammad Husein Muthahhari. 5 Ayahnya. Hujjatul Islam Muhammad Husein Muthahhari, adalah seorang ulama yang cukup dihormati di kalangan masyarakat. Sebagai seorang ayah dan guru, beliau memberikan pengaruh besar dalam perjalanan intelektual Haidar Bagir. Buat Apa Shalat?!,(Bandung: PT Mizan Pustak. , h. Ahmad RofiAousmani. Ekslopedia Tokoh Islam,Cet. 1,(Bandung: Mizan, 2. , h. JURNAL SULESANA Muthahhari. Dalam konteks ini. Muthahhari tumbuh dalam lingkungan yang sangat menghargai ilmu pengetahuan, terutama dalam tradisi agama Islam. Dari kecil. Muthahhari telah terpapar dengan pelajaran agama yang mendalam. Ayahnya mempersiapkan beliau untuk mendalami ilmuilmu agama sejak usia dini, mengajarkan dasar-dasar tafsir, fiqih, dan akhlak. Muthahhari tidak hanya menerima pendidikan agama secara formal, tetapi juga menumbuhkan rasa keingintahuan yang tinggi terhadap filsafat, teologi, dan logika. Ayahnya memiliki peran penting dalam mengenalkan Muthahhari pada dunia intelektual dan memotivasi dia untuk terus mencari kebenaran melalui pemikiran kritis. Muhammad Husein Muthahhari mengajarkan bahwa agama Islam harus dipahami bukan hanya sebagai tradisi yang diterima begitu saja, tetapi sebagai suatu sistem yang logis dan rasional. Ini adalah dasar pemikiran yang membentuk karakter intelektual Muthahhari, dan suatu prinsip yang kemudian sangat kental dalam karya-karyanya yang lebih maju. Melalui bimbingan ayahnya. Muthahhari belajar untuk tidak hanya menerima ajaran agama secara pasif, tetapi untuk menggali lebih dalam, bertanya, dan berpikir secara kritis. Dalam hal ini, pendidikan yang diterima Muthahhari dari sang ayah memiliki dampak yang sangat besar terhadap perjalanan hidupnya, baik dalam konteks pemikiran agama, filsafat, maupun dalam kontribusinya terhadap pergerakan intelektual Islam di Iran dan dunia Islam secara lebih luas. Di usianya yang ke 12 tahun. Murtadha Muthahhari mulai belajar ilmu- imu agama di Huzah Ilmiyah di Masyhad . usat belajar dan ziarah kaum syiAoah yang besar di Iran Timu. Di tempat itulah Murtadha Muthahhari semakin tertarik dengan dunia filsafat, teologi, dan irfan. Di antara guru yang sangat berkesan di Masyhad ialah sosok pribadi dan pemikiran Mirzan Mahdi Syahid Razavi, yang menganjarkan tentang filsafat Ilahiyah di Pusat kajian ini. Mirza Mahdi Syahid Razavi adalah salah seorang tokoh utama dalam tradisi filsafat Islam, khususnya dalam aliran filsafat Peripatetik . dan filsafat Ilahiyah yang berkaitan erat dengan pemikiran metafisika dan teologi Islam. Ketika Muthahhari belajar di Masyhad, ia mendapat kesempatan untuk mendalami ajaran-ajaran dan pemikiran-pemikiran beliau. Syahid Razavi terkenal dengan kedalaman ilmunya dalam berbagai disiplin filsafat, tetapi yang paling mempengaruhi Muthahhari adalah pengajaran mengenai ontologi, epistemologi, dan metafisika Abdul Basit. Filsafat Sejarah Menurut Murtadha Muthahhari. Jurnal: Studi Islam dan Budaya (IBDAA. Vol. No. 1, . , h. JURNAL SULESANA Ilahiyah, yang berhubungan langsung dengan pemahaman tentang hakikat Tuhan, alam semesta, dan manusia dalam pandangan Islam. Dasar pemikiran filsafat Murtadha Muthahhari Muthahhari dikenal sebagai seorang ulama dan intelektual muslim yang handal. Dia mempelajari semua ilmu pengetahuan keagamaan (Isla. yang ada pada masanya, dengan penekanan pada segi-segi filosofis dan mistikalnya. Dalam hal ini, selain mencintai ilmu-ilmu agama Islam, dia juga sangat tertarik dengan filsafat Ilahiyah. Ketertarikanya tersebut, sehingga ia tidak suka memikirkan masalah-masalah lain dalam waktu luangnya sebelum berhasil memecahkan berbagai masalah yang berkaitan dengan topik Ilahiyah. Dia mempelajari dasar-dasar bahasa Arab, fiqh, ushul dan mantiq. Selain itu. Muthahhari juga mempelajari dan menguasai masalah filsafat materialis, bahkan dia mendalami akar-akar masalah secara filosofis dan memaparkannya dengan logika yang kuat tentang sifat kontardiktif dan hipotetik sewenang-wenang prinsip Marxisme. Ilmu lain yang dikuasainya adalah tasawwuf, sosiologi dan sejarah. Ia belajar dari ulama dan guru yang memiliki spiritualitas dan intelektualitas yang tinggi serta ahli dalam bidangnya masing-masing. Semua itu berbekas dalam dirinya dan menimbulkan kemauan serta kemampuan yang kuat untuk memecahkan kemusykilan dan menjawab pertanyaan- pertanyaan sekitar persoalan Islam di zaman modern. Dalam pandangan Muthahhari, filsafat Islam bukan hanya studi abstrak atau spekulatif Ia meyakini bahwa filsafat memiliki peran penting dalam memperkuat dasar-dasar iman seseorang, terutama dalam menghadapi tantangan ideologi modern seperti materialisme, ateisme, sekularisme, dan liberalisme Barat. Menurutnya, akal adalah karunia Ilahi yang harus digunakan untuk memahami hakikat kebenaran dan realitas. Oleh karena itu. Muthahhari menolak dikotomi yang memisahkan antara akal dan wahyu. baginya keduanya harus berjalan seiring. Salah satu tema sentral dalam pemikirannya adalah tentang keadilan. Ia banyak menulis dan berbicara mengenai konsep keadilan sosial dalam Islam. Dalam pandangannya, keadilan bukan hanya isu sosial, tetapi juga merupakan prinsip teologis dan metafisis. Tuhan itu adil, dan sistem sosial yang ideal dalam Islam harus mencerminkan keadilan Ilahi itu. Dalam konteks ini. Mawardi Ahmad. Pemikiran Murtadha Muthahhari tentang Keadilan Ilahi. Al-Fikra: Jurnal Ilmiah Keislaman. Vol. No. 2, . , h. Murtadha Muthahhari. Al-AoAdl al-Ilahiy, (Kum: Al-Khiyam, 1405 H), h. JURNAL SULESANA Muthahhari juga sangat kritis terhadap sistem kapitalisme dan marxisme. Ia menolak materialisme historis ala Marxis yang menganggap konflik kelas sebagai penggerak sejarah. Baginya, sejarah manusia tidak semata-mata digerakkan oleh pertentangan ekonomi, tetapi oleh nilai, keyakinan, dan kehendak spiritual manusia. Dalam kitab Al-AoAdl al-Ilahi. Muthahhari mengemukakan empat maksud penggunaan AukeadilanAy, yaitu Keadaan sesuatu yang seimbang Persamaan dan penafian terhadap segala bentuk diskriminasi pemeliharaan hak-hak individu dan pemberian hak kepada yang berhak menerimanya Pemeliharaan hak bagi kelanjutan eksistensi atau mencegah kelanjutan eksistensi dan peralihan rahmat sewaktu terdapat kemungkinan untuk eksis serta melakukan transformasi9 Pengertian keadilan pertama dan keempat berkaitan dengan penciptaan alam semesta dan makhluk-makhluk yang ada di dalamnya. Allah menciptakan alam semesta ini dengan keseimbangan yang sempurna, setiap makhluk memiliki hak untuk memperoleh karunia yang akan membawanya kepada pertumbuhan dan perkembangan menuju kesempurnaan wujudnya, sesuai dengan kadar dan potensi yang dimilikinya. Kalau di alam ini dalam kenyataannya terdapat fenomena-fenomena yang pada lahirnya memperlihatkan ketidak adilan, seperti rupa yang buruk, cacat jasmani dan lain sebagainya, maka hal itu mesti dilihat dalam konteks keseluruhan penciptaan, bukan secara terpisah. Misalnya, kalau kita melihat bentuk sebuah organ tubuh yang dirinya tampak jelek dan buruk, tetapi bila dilihat dalam kaitannya dengan sistem keseluruhan tubuh manusia maka ia menampakkan keserasian dan kesempurnaan. Muthahhari juga dikenal sebagai pembela gagasan ijtihad. Ia melihat bahwa Islam adalah agama yang hidup, dan karena itu harus selalu terbuka terhadap pemikiran dan pembaruan selama tidak keluar dari kerangka wahyu. Ia menolak fanatisme tradisional, namun juga waspada terhadap liberalisme yang tidak berbasis pada nilai-nilai Islam. Inilah yang membuatnya menempati posisi tengah antara kaum konservatif dan kaum reformis. Pandangan Muthahhari tentang manusia juga sangat mendalam. Ia tidak melihat manusia semata-mata sebagai makhluk biologis atau makhluk sosial, melainkan sebagai entitas spiritual Mawardi Ahmad. Pemikiran Murtadha Muthahhari tentang Keadilan Ilahi. Al-Fikra: Jurnal Ilmiah Keislaman, h. Murtadha Muthahhari. Al-AoAdl al-Ilahiy,h. JURNAL SULESANA yang memiliki tujuan transenden. Dalam pandangan ini, manusia adalah makhluk yang diberi kehendak bebas dan tanggung jawab. Ia membahas konsep takdir dan kebebasan dengan pendekatan yang seimbang, menjelaskan bahwa Islam memberikan ruang yang luas bagi peran kehendak manusia dalam sejarah, tanpa menafikan peran Tuhan. Pemikirannya mengenai perempuan juga cukup maju untuk ukuran zaman dan konteks Dalam bukunya tentang hak-hak perempuan dalam Islam. Muthahhari menolak pandangan Barat yang memaksa kesetaraan dalam segala aspek secara mutlak. Ia justru menekankan pada keadilan berdasarkan fitrah, bukan kesetaraan yang seragam. Meskipun demikian, ia tetap menekankan pentingnya penghargaan terhadap martabat dan hak-hak perempuan dalam kerangka Islam. Pemikiran Murtadha Muthahhari tentang Islam Modernitas Islam yang dihadapi Muthahhari secara riil dan langsung adalah masyarakat Iran, yang situasi dan kondisinya dapat digambarkan sebagai berikut: salah satu kemalangan kita ini adalah karena kita berdiam di suatu negara yang ekonominya tidak dipusatkan pada landasan sosial yang Masyarakat pada saat itu dilukiskan sebagai masyarakat yang menjauhi kebudayaannya yang asli dan menjelma menjadi sebuah masyarakat yang memiliki dan mengalami metamorfosis . erubahan bentu. dan kehilangan identitas. Pusat keagamaan kehilangan efektifitasnya. Slogan kolonial tentang pemisahan agama dari politik mulai mengakar dalam masyarakat. Universitas menjadi asing dari agama. Pemikiran Murtadha Muthahhari tentang Islam dan modernitas merupakan hasil dari perenungan filosofis, teologis, dan sosiologis yang mendalam dalam konteks perubahan zaman dan tantangan modern. Sebagai seorang ulama dan pemikir besar dari Iran yang hidup di abad ke20. Muthahhari mencoba menjembatani antara nilai-nilai tradisional Islam dengan tuntutan zaman modern, tanpa mengorbankan esensi ajaran Islam. Menurut Muthahhari. Islam adalah agama yang bersifat universal dan abadi. Ia meyakini bahwa prinsip-prinsip dasar Islam tetap relevan dan dapat menjawab tantangan zaman kapan pun dan di mana pun. Namun, ia juga menekankan bahwa bentuk-bentuk pelaksanaan ajaran Islam bisa berubah sesuai konteks sosial dan historis. Dalam hal Irfan Sanusi. Pemikiran Muthahhari tentang Manusia Masa Depan sebagai Subyek Dakwah. Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 6 No. 19, . , h. JURNAL SULESANA Muthahhari tidak melihat modernitas sebagai ancaman, tetapi sebagai peluang bagi Islam untuk menunjukkan fleksibilitas dan daya adaptasinya, selama esensinya tidak disimpangkan. Muthahhari menolak keras pemisahan antara agama dan kehidupan sosial-politik. Bagi dia. Islam bukan hanya soal ibadah ritual, tetapi mencakup sistem kehidupan yang lengkap, termasuk moral, hukum, politik, dan ekonomi. Ia juga mengkritik keras pandangan yang menganggap modernitas harus berarti sekularisasi atau pengikisan nilai-nilai spiritual. Dalam pemikirannya, modernisasi harus dibedakan dari westernisasi. Modernisasi yang sejati menurut Muthahhari adalah pengembangan rasionalitas, ilmu pengetahuan, keadilan sosial, dan kebebasan berpikir yang tetap berakar pada nilai-nilai Islam. Dalam pemikiran filsafat Muthahhari berusaha mengintegrasikan filsafat Islam dengan pemikiran rasional modern. Ia memanfaatkan metode filsafat Mulla Sadra serta pendekatan kritis terhadap pemikiran Barat. Muthahhari menekankan pentingnya akal (Aoaq. dalam memahami wahyu, dan ia melihat akal bukan sebagai lawan wahyu, melainkan sebagai mitra. Hal ini menjadi dasar dari pendekatannya dalam menafsirkan ajaran Islam yang dinamis dan tidak beku. Pemikiran Muthahhari tentang Islam dan modernitas menegaskan bahwa Islam bukan agama masa lalu yang harus ditinggalkan demi kemajuan, melainkan agama yang mengandung prinsip-prinsip yang bisa membimbing umat manusia dalam menjawab persoalan-persoalan modern, selama pendekatannya bersifat kritis, kontekstual, dan berpijak pada akal sehat serta spiritualitas yang mendalam. Ia menolak anggapan bahwa untuk mencapai kemajuan dan modernitas, umat Islam harus meninggalkan agamanya atau menyesuaikan Islam secara paksa dengan pola pikir Barat yang sekular. Muthahhari menegaskan bahwa Islam adalah sistem nilai yang hidup, yang mampu berinteraksi dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan perubahan sosial tanpa kehilangan identitasnya. Ia percaya bahwa jika esensi Islam dipahami secara mendalam dan kontekstual, maka Islam justru bisa menjadi kekuatan pendorong kemajuan, bukan hambatan. JURNAL SULESANA KESIMPULAN Murtadha Muthahhari adalah seorang ulama, pemikir, dan intelektual Muslim asal Iran yang sangat berpengaruh pada abad ke-20. Muthahhari dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan pemikiran Islam modern dan revolusi Islam di Iran. Dia tidak hanya seorang ahli teologi dan filsafat Islam, tetapi juga seorang guru besar dan aktivis yang berperan besar dalam membentuk ideologi politik dan sosial. Pemikiran Murtadha Muthahhari tentang filsafat keadilan sangat mendalam dan menjadi salah satu kontribusi pentingnya dalam dunia pemikiran Islam modern. Bagi Muthahhari, keadilan bukan sekadar konsep normatif yang abstrak, melainkan nilai fundamental yang menjadi inti dari kehidupan sosial, politik, dan agama. Muthahhari memandang keadilan sebagai prinsip moral dan sosial yang harus dijunjung tinggi agar tercipta kehidupan yang harmonis dan seimbang. Pemikiran Muthahhari tentang Islam dan modernitas menegaskan bahwa Islam bukan agama masa lalu yang harus ditinggalkan demi kemajuan, melainkan agama yang mengandung prinsip-prinsip yang bisa membimbing umat manusia dalam menjawab persoalan-persoalan Islam adalah agama yang mampu menjawab tantangan zaman. Islam tidak berhenti pada satu pemikiran saja. DAFTAR PUSTAKA