JURNAL BIOLOGI PAPUA Volume 6, Nomor 1 Halaman: 31–37 ISSN: 2086-3314 April 2014 Studi Kesesuaian Lahan Budidaya Rumput Laut Berdasarkan Parameter Biofisik Perairan di Yensawai Distrik Batanta Utara Kabupaten Raja Ampat DIRK RUNTUBOI*, YUNUS P. PAULUNGAN2, DAN TRI GUNAEDI1 1PS. Biologi, Jurusan Biologi FMIPA, Universitas Cenderawasih, Jayapura 2PS. Kelautan, Jurusan Biologi FMIPA, Universitas Cenderawasih, Jayapura Diterima: tanggal 27 Maret 2014 - Disetujui: tanggal 10 April 2014 © 2014 Jurusan Biologi FMIPA Universitas Cenderawasih ABSTRACT One of the potential areas for developing mariculture in Raja Ampat Regency is Yensawai. This research aim to determine biophysical parameter for seaweed culture. The parameters were proped in to four classes; high suitable, suitble, currently not suitable and permanently not suitable. The result showed that the cultivation area size were 14 hectares, where Ramon 1 and Ramon 2 Stations were categorized as currently not suitable, while Warkabas and Metabai stations were grouped into suitable for seawed cultivation. Key words: analysis of suitability, seaweed cultivation, Yensawai. PENDAHULUAN Kabupaten Kepulauan Raja Ampat memiliki 610 buah pulau dengan luas perairan laut sekitar 40 km2 atau  87% dan dan sisanya 13% daratan dengan panjang garis pantai 753 km (BPS Kab Raja Ampat, 2013). Kabupaten ini dikenal juga sebagai kawasan yang memiliki keanekaragaman hayati laut yang sangat tinggi dengan kondisi yang relatif masih alami. Sektor perikanan dan wisata bahari merupakan sektor andalan kabupaten Raja Ampat dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tahun 2010-2015. Kabupaten Raja Ampat dan kawasan perairan Yensawai merupakan salah satu kawasan target pengembangan budidaya hasil laut (BAPPEDA, Kab. Raja Ampat, 2011). Berbagai upaya *Alamat korespondensi: Jurusan Biologi FMIPA, Uncen. Jl. Kamp. Wolker Waena, Jayapura, Papua. Kotak Pos: 99351, Telp.: +62967-572116. e-mail: diki_runtuboi@yahoo.com pemberdayaan masyarakat yang beroritentasi pada optimalisasi pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya laut dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat telah dilakukan oleh Pemerintah Daerah (PEMDA) setempat, namun tidak jarang kemudian mengalami berbagai kendala yang berakibat pada kegagalan. Desakan ekonomi yang sangat kuat menjadi salah satu faktor yang memaksa masyarakat lokal di Yensawai untuk menggunakan berbagai cara yang kurang lestari dalam pemanfaatan sumber daya alamnya, seperti penggunaan potassium_sianida untuk penangkapan ikan dan udang. Selain kearifan lokal, masyarakat Yensawai pada umumnya belum mengenal sistim budidaya hasil laut secara baik dan benar. Sebagai contoh keramba ikan dan udang yang dikelola masyarakat hanya berfungsi sebagai penampungan sementara hasil tangkapan dari alam yang selanjutnya akan dijual kepada pengepul (Omkarsba, 2013). Budidaya hasil laut merupakan suatu kegiatan yang sifatnya dapat memilih tempat yang sesuai, tentunya dengan prasyarat yang 32 JU R NA L BI OL O GI PA PU A 6(1): 31–37 ditentukan. Pemilihan metode yang tepat dan komoditas yang diperlukan, akan menentukan tingkat keberhasilannya. Dengan demikian usaha pendistribusian produk dapat disesuaikan dengan permintaaan atau pemanfaatannya. Menurut Hidayat (1990) dan Indriani & Sumiarsih (1991) usaha peningkatan produk laut melalui budidaya perlu mendapat perhatian karena budidaya merupakan kegiatan yang mempunyai sifat pengelolaan yang berbeda dengan pola menangkap atau mengambil dari alam yang dibatasi oleh produk lestari. PEMDA Raja Ampat saat ini sedang menggalakkan kegiatan budidaya hasil laut. Salah satunya adalah budidaya rumput laut (Bartholomeus, 2013). Keberhasilan budidaya rumput laut tidak lepas dari berbagai faktor pendukung. Untuk itu perlu dilakukan suatu studi kelayakan dan pemetaan lahan yang sesuai untuk budidaya, karena hal ini akan memperbesar peluang keberhasilan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan studi kelayakan lahan bididaya rumput laut berdasarkan parameter biofisik. METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di Yensawai Distrik Batanta Utara, Kabupaten Raja Ampat pada bulan September–Oktober 2013. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey. Penelitian ini terdiri dari tiga tahap yaitu, (i) pengumpulan data sekunder meliputi informasi awal yang diperoleh dari instansi terkait (Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Raja Ampat). (ii) survey awal untuk menentukan stasiun pengamatan yang respresentatif (iii) survey utama untuk mengukur parameter biofisik dalam rangka menentukan kesesuaian lahan budidaya rumput laut. Analisis Data Analisis Kesesuaian budidaya rumput laut di Kampung Yensawai Distrik Batanta Utara Kabupaten Raja Ampat dilakukan dengan tiga tahap, yakni: Tahap Pertama, penetapan persyaratan (parameter dan kriteria), pembobotan dan skoring (Tabel 1). Parameter yang menentukan diberikan bobot terbesar sedangkan kriteria (batas-batas) yang sesuai diberikan skor yang tertinggi. Pemberian nilai (skoring) ditujukan untuk menilai beberapa faktor pembatas (parameter) yang menjadi kriteria terhadap evaluasi kesesuaian. Tahap Kedua, penghitungan nilai kesesuaian. Nilai kesesuaian didasarkan pada total hasil perkalian bobot dan skor dibagi dengan nilai bobot dikalikan 100%. Ketiga, pembagian kelas kesesuaian dan nilainya. Dalam penelitian ini, kelas kesesuaian dibagi dalam empat kelas, yakni: Kelas S1 (Sangat Sesuai), lahan tidak mempunyai pembatas yang berat untuk suatu penggunaan tertentu secara lestari, atau hanya mempunyai pembatas yang kurang berarti dan tidak berpengaruh secara nyata terhadap produktivitas lahan tersebut, serta tidak menambah masukan (input) dari pengusahaan lahan tersebut. Semua kriteria biofisik lingkungan dicapai pada tingkat tertinggi (maksimal). Kelas S2 (Sesuai), yaitu lahan mempunyai pembatas yang agak berat untuk suatu penggunaan secara lestari. Pembatas tersebut akan berpengaruh terhadap produktivitas, serta perlu menaikkan masukan untuk mengusahakan lahan tersebut. Kelas S3 (Sesuai Bersyarat), lahan mempunyai pembatas- pembatas sangat berat akan tetapi masih memungkinkan diatasi, artinya masih dapat ditingkatkan menjadi sesuai, jika dilakukan perbaikan dengan tingkat introduksi teknologi yang lebih tinggi atau dapat dilakukan dengan perlakuan tambahan dengan biaya rasional. Kelas N (Tidak Sesuai Permanen), lahan mempunyai pembatas yang sangat berat, sehingga tidak mungkin untuk digunakan bagi suatu penggunaan yang lestari. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Kampung Yensawai Kampung Yensawai merupakan salah satu kampung yang dijadikan sebagai sentra usaha budidaya rumput laut oleh Pemerintah Kabupaten Raja Ampat. Secara geografis kawasan ini terletak pada koordinat 000 48' 152” LS dan 1300 40’ RUNTUBOI et al., Studi Kesesuaian Lahan Budidaya Rumput Laut 33 Tabel 1. Skor dan bobot setiap parameter kesesuaian Parameter 1 Skor 3 5 <0,5 & > 5 1-2,5 2,5-5 2 Satuan Kedalaman perairan m Bobot Keterlindungan Posisi terhadap Tidak Cukup gelombang terlindung Terlindung Terlindung 2 Tinggi gelombang m >30 <10 1 Kecepatan Arus m/detik 0.20-0.30 2 Substrat perairan jenis < 0,1 atau 0,31 – 0,4 atau 0,1 – 0,19 > 0,4 Berlumpur Pasir 10-20. Karang ‰ <15 atau >38 15-27 atau 33-38 28-32 1 2 Suhu 0C <20 & >30 20-24 24-30 2 pH Kecerahan m <7,3 & >8,2 7,3-7,8 <30 30-40 7,8-8,2 > 40 2 1 Kesuburan perairan vegetasi cukup subur Subur 3 Herbivora Ketersediaan Sedang Kurang 1 Salinitas Banyak Keterangan Afrianto & Liviawaty, 1993 Aslan, 1998 Hidayat, 1990 ; Aslan, 1998 Dit. Tata Ruang Laut & P3K, 2002 Dit. Tata Ruang Laut & P3K, 2002 Anggadiredja et al., 2006; Sediadi dan Budihardjo, 2000 Djurjani, 1999; Sediadi & Budihardjo, Aslan, 1998 2000 Ditjen Tata Ruang Laut & P3K, 2002 Indriani & Sumiarsih,1991 1991 Aslan, 1998 Tabel 2. Stasiun dan koordinat stasiun penelitian. No. 1. 2. 3. 4. Nama Stasiun Rumon 1 Rumon 2 Warkarabas Metabai Koordinat S E o 0 48’ 0.1” 130° 40’ 11.8” o 0 48’ 0.33” 130° 40’ 17.6” o 0 49’ 0.84” 130° 39’ 19.9” o 0 47’ 59.7” 130° 40’ 39.2” kurang subur 723”BT, sedangkan secara administratif berada pada Distrik Batanta Utara (BPS Kab Raja Ampat, 2013). Budidaya rumput laut dimulai pada tahun 2009, yakni jenis Euchema cottonii. Metode yang digunakan adalah metode long line. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat setempat terdapat beberapa kendala yang dialami oleh petani rumput laut antara lain: (i) bercak-bercak putih (ice-ice) setelah beberapa hari bibit ditebar, (ii) banyaknya biota pemakan rumput laut, antara lain: ikan siganid, penyu, bulu babi, dugong, dan ikan samandar serta kurangnya pendampingan selama kegiatan budidaya rumput laut berlangsung, (iii) tidak adanya survey awal untuk menentukan lokasi budidaya yang sesuai sehingga hasil yang diperoleh tidak maksimal, (iv) penentuan lokasi budidaya ditentukan sendiri oleh masyarakat dengan memanfaatkan Hak Ulayat Laut (HUL) yang dimiliki masing-masing marga (keret). Penentuan Stasiun Pengamatan Pengukuran parameter biofisik di Kampung Yensawai hanya dilakukan pada empat lokasi yang secara visual memungkinkan untuk dilakukan budidaya rumput laut yaitu JU R NA L BI OL O GI PA PU A 6(1): 31–37 34 Tabel 3. Hasil pengukuran dan pegamatan parameter biofisik di lahan budidaya Yensawai. No. Parameter Satuan 1. 2. Kedalaman Keterlindungan* M Posisi terhadap gelombang 1.5 Cukup Terlindung Hasil Pengukuran dan Pengamatan Rumon 2 Warkabas Metabai 6.5 1.2 1.5 Cukup Cukup Cukup terlindung terlindung Terlindung 3. 4. Tinggi Gelombang Kecepatan Arus M m/detik 0.01 0.06 0.01 0.06 0.01 0.06 0.15 0.06 5. Substrat perairan Jenis Salinitas 0 Pasir berlumpur 30 pasir karang 6. pasir berlumpur 28 32 pasir karang 31 7. Suhu 0 C 30 30 30 30 8. 9. 10. pH Kecerahan Kesuburan perairan M vegetasi 8.12 100% subur 8.14 100% Subur 8.00 100% subur 8.00 100% Subur 11. Herbivora keberadaan Banyak Banyak Banyak Banyak /00 Rumon 1 Sumber: Hasil survey 2013. Ket.: *) Pada saat survey dilakukan sedang berlangsung musim selatan. Rumon_1, Rumon_2, Warkabas dan Metabai (Tabel 1). Beberapa tempat lainnya diabaikan karena parameter kunci kesesuaian perairan tidak dipenuhi, terutama kedalaman yang dangkal dan letak lokasi yang sangat terbuka sehingga terkena dampak langsung dari gelombang laut. Menurut Djurnani (1999) dan Ditjen P3K-DKP (2002) penentuan lokasi dalam usaha budidaya yang berkaitan dengan pengembangan daerah pesisir laut harus dilakukan agar tepat sasaran. Parameter Biofisik Perairan Kedalaman. Kedalaman perairan di Rumon_1 dan Rumon 2 memiliki skor/kategori rendah, yakni 1 dengan kedalaman masing-masing 15 m dan 6,5 m. Sedangkan Warkabas dan Metabai memiliki skore sedang, yakni 3 dengan kedalaman masing-masing 1,2_m dan 1,5 m (Tabel 3). Kedalaman yang sesuai untuk budidaya rumput laut yaitu 0,6–2,1_m. Namun kisaran dengan kedalaman maksimun 2,1_m ini hanya untuk keperluan praktis dalam penanaman, pemeliharaan dan pemanenan. Bila tingkat kedalaman-nya > 2,1 m, sebaiknya menggunakan metode apung (rakit) dengan syarat bahwa parameter lingkungan lainnya seperti, suhu, pH, salinitas, kecerahan ikut mendukung. Kedalaman yang kurang dari kriteria yang ditentukan akan mempengaruhi kualitas pertumbuhan tanaman rumput laut, misalnya rumput laut menjadi sangat mudah dijangkau oleh herbivora bentik atau menjadi kering pada saat surut demikian pula sebaliknnya jika terlalu dalam akan sangat menyulitkan pada proses penanaman, pemeliharaan maupun panen yang berdampak pada meningkatnya biaya operasional atau investasi. Keterlindungan. Stasiun Rumon 1, Rumon 2, Warkabas dan Metabai memiliki skor keterlindungan dalam kategori sedang, yakni 3 atau cukup terlindung pada musim Selatan dan musim Barat berbeda dengan stasiun Metabai yang memiliki keterlindungan dengan kategori sangat rendah yakni 1. Hal ini disebabkan karena perairan stasiun Metabai ter-expose ke arah Utara Timur Laut. Perairan untuk budidaya rumput laut sebaiknya terlindung dari hempasan gelombang besar, hal ini dimaksudkan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kerusakan pada konstruksi budidaya yang pada akhirnya menyebabkan kerugian finansial (Adipu et al., 2013). Tinggi Gelombang. Hasil pengamatan terhadap tinggi gelombang menunjukkan bahwa RUNTUBOI et al., Studi Kesesuaian Lahan Budidaya Rumput Laut ketiga stasiun yaitu Rumon_1, Rumon_2 dan Warkabas memiliki tinggi gelombang yang dapat dikategorikan rendah yaitu 0,01_m, hal tersebut dapat juga dipengaruhi oleh kondisi pada saat survey dilakukan yaitu sedang berlangsung musim Angin Selatan sehingga stasiun-stasiun pengamatan lebih terlindung demikian juga dengan stasium Metabai yang terletak ke arah Timur Laut masuk kategori sedang yaitu 0,15_m. Menurut Ariyati et al. (2007), sebaiknya tinggi gelombang tidak lebih dari 0,5_m. Gelombang sangat diperlukan untuk pertumbuhan rumput laut terutama untuk membantu mempercepat masuknya zat-zat makanan ke dalam sel tanaman. Namun, gelombang yang besar melebihi batas kategori (kriteria) maksimum dapat mengakibatkan kerusakan pada tanaman rumput laut maupun pada konstruksi budidaya serta menyebabkan dasar perairan teraduk sehingga menimbulkan kekeruhan dan menghambat proses fotosintesis. Namun jika gelombang terlalu kecil (kurang dari kriteria) justru dapat menghambat pertumbuhan rumput laut. Kecepatan Arus. Kecepatan arus di semua lokasi memiliki skor yang rendah, yakni hanya sebesar 0.06 m/detik. Hal ini dimungkinkan karena letak lokasi perairan yang berada di dalam teluk dan relatif terlindung. Kecepatan arus yang sesuai untuk lokasi budidaya rumput laut adalah 0,20–0,40 m/dtk (Aslan, 1998; Anggadiredja et al., 2006) karena akan mempermudah penggantian dan penyerapan hara yang diperlukan oleh tanaman, namun tidak merusak tanaman. Arus selain berfungsi untuk membawa nutrisi/hara ke tanaman rumput laut juga diperlukan untuk membersihkan tanaman dari biota-biota penempel. Penyakit bercak putih (ice-ice) merupakan penyakit yang biasanya muncul saat laut tenang dan arus lemah (Serdiati & Widiastuti, 2010). Substrat. Jenis substrat perairan di Rumon 1 dan Rumon 2 memiliki skor yang masuk dalam kategori rendah karena komposisi substrat terdiri dari pasir bercampur lumpur (Tabel 3). Kondisi ini disebabkan lokasi berada di depan mangrove, dan dekat dengan muara sungai. Pada dasarnya subtrat pasir berlumpur kurang sesuai 35 untuk budidaya rumput laut karena partikel lumpur akan cepat menempel pada rumput laut sehingga mudah terserang penyakit. Sedangkan substrat di Warkabas dan Metabai memiliki skor yang masuk dalam kategori sedang dimana komposisi substrat terdiri atas pasir karang. Kondisi subtrat ini tergolong baik bagi pertumbuhan rumput laut (Anggadiredja et al., 2006). Lokasi seperti ini biasanya berarus sedang, sehingga memungkinkan tanaman tumbuh dengan baik dan tidak mudah terancam oleh faktor lingkungan serta konstruksi budidaya dapat dipasang dengan mudah (Aslan, 1998; Adipu et al., 2013). Salinitas. Sebaran salinitas laut dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti suplai air tawar dari sungai, hujan maupun penguapan (Nontji, 1987). Hasil pengukuran salinitas di masing-masing stasiun selama penelitian berlangsung berkisar antara 31–32‰. Kisaran nilai yang diperoleh ini relatif homogen. Hal tersebut dikarenakan pengaruh dari sungai maupun sumber air tawar lainnya sangat sedikit. Nilai salinitas tersebut termasuk ke dalam kategori yang sangat sesuai untuk budidaya rumput laut. Menurut Aslan (1998), salinitas yang sesuai untuk budidaya rumput laut adalah 28–30‰. Sedangkan menurut Sulistijo (1996), salinitas yang paling baik adalah 30-34‰. Namun salinitas 28–34‰ masih merupakan kisaran yang cukup baik untuk budidaya rumput laut terutama jenis Eucheuma. Hasil pengukuran salinitas di Rumon 1, Rumon 2, Warkabas dan Metabai secara berurutan adalah 28‰, 30‰, 32‰ dan 31‰ (Weno & Thenu, 2010; Adipu et al., 2013). Suhu. Suhu di Rumon 1 dan Rumon 2, Warkabas dan Metabai adalah 300C, nilai ini termasuk kategori sangat sesuai sehingga diberikan skor yang tinggi. Menurut Afrianto & Liviawaty (1993), bahwa suhu yang optimal untuk budidaya rumput laut berkisar 26–330C. Sedangkan Anggadiredja et al. (2006) suhu yang optimal untuk tanaman rumput laut antara 260C sampai 300C. Suhu di laut adalah salah satu faktor yang amat penting bagi kehidupan organisme di lautan, karena suhu mempengaruhi baik aktifitas metabolisme maupun perkembangbiakan dari 36 JU R NA L BI OL O GI PA PU A 6(1): 31–37 organisme itu sendiri (Pong-Masak, 2010). Suhu sangat berpengaruh untuk pertumbuhan rumput laut dalam melakukan fotosintesis. Meskipun suhu tidak mematikan namun dapat menghambat pertumbuhan rumput laut, karena jika suhu naik maka kandungan oksigen berkurang, sehingga proses fotosintesis menjadi terhambat (Aslan, 1998; Senoaji, 2009). Derajat Kemasaman (pH). pH di Rumon 1 dan Rumon 2, Warkabas dan Metabai memiliki skor yang tinggi dengan pH masing-masing 8.12, 8.14, 8.00 dan 8.00. pH yang mendukung budidaya rumput laut yakni 8-8,4 (Aslan, 1998; Sirajuddin, 2009; Serdiati & Widiastuti, 2010). Kecerahan. Kecerahan di semua stasiun dikategorikan memiliki skor yang tinggi, yakni 5 dimana kecerahan masih sampai pada dasar perairan. Perairan yang cerah seperti ini akan sangat mendukung penerimaan sinar matahari oleh rumput laut sehingga proses fotosintesis dapat berlangsung dengan baik. Kecerahan perairan merupakan salah satu indikator daya tembus sinar matahari ke dalam air. Cahaya matahari yang masuk ke dalam air akan digunakan untuk fotosintesis rumput laut dan produsen lainnya (Pong-Masak et al., 2010; Neksidin et al., 2013). Kesuburan. Berdasarkan hasil pengamatan, semua stasiun memiliki kesuburan yang baik. Hal itu ditandai dengan tumbuhnya vegetasi tanaman lamun serta berbagai jenis makroalgae di dasar perairan tersebut. Sehingga skor yang diberikan dikategorikan tinggi, yakni 5. Keberadaan Herbivora. Berdasarkan pengamatan serta wawancara dengan masyarakat dan petani rumput laut, dapat disimpulkan bahwa herbivora seperti bulu babi, ikan beronang (Siganidae) dan penyu cukup banyak dijumpai di keempat stasiun. Hal tersebut merupakan suatu faktor penghambat dalam budidaya rumput laut. Salah cara yang umum digunakan untuk permasalahan tersebut adalah budidaya secara massal, hal ini dimaksudkan untuk meminimalisasi efek yang ditimbulkan oleh herbivora yang biasanya memakan rumput laut. KESIMPULAN Kajian di wilayah Yensawai Distrik Batanta Utara sesuai untuk dilakukan kegiatan budidaya rumput laut, dimana luas lahan pada keempat stasiun yang dapat digunakan adalah 14_ha. Stasiun Ramon 1 dan Ramon 2 masuk dalam kategori sesuai bersyarat sedangkan Stasiun Warkabas dan Metabai digolongkan ke dalam kategori sesuai. DAFTAR PUSTAKA Adipu, Y., C. Lumenta, E. Kaligis dan H.J. Sinjal. 2013. Kesesuain Lahan Budidaya di Perairan Kabupaten Bolaang Mangondow Selatan Sulawesi Utara. Jurnal Perikanan dan Kelautan Tropis. 9(1): 19–26. Afrianto dan Liviawaty. 1993. Budidaya rumput laut dan cara pengolahannya. Bhratara, Jakarta. Anggadiredja, J.T., A. Zatnika, H. Purwoto dan S. Istini, 2006. Rumput laut. Pembudidayaan, pengolahan dan pemasaran komoditas perikanan potensial. Penebar Swadaya, Jakarta. Ariyati, R.W., L. Syah’rani, dan E. Arini. 2007. Analisis Kesesuaian Perairan Pulau Karimunjawa dan Pulau Kemujan sebagai Lahan Budidaya Rumput Laut Menggunakan Sistim Informasi Geografis. Jurnal Pasir Laut. 3(1): 27-45. Aslan, L.M., 1998. Budidaya rumput laut. Penerbit Kanisius, Yogyakarta. BAPPEDA (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) Kabupaten Raja Ampat. 2011. Rencana pembangunan jangka menengah daerah Kabupaten Raja Ampat, 20112015. Pemda Kab. Raja Ampat. Bartholomeus, M.L.R., D.Y.P. Runtuboi dan R.H.R. Tanjung. 2013. Konservasi dan pemanfaatan terumbu karang secara tradisonal oleh masyarakat Kampung Saporken Distrik Waigeo Selatan Kabupaten Raja Ampat. Jurnal Biologi Papua. 5(2): 68–76. BPS (Badan Pusat Statistik) Kab Raja Ampat. 2013. Raja Ampat dalam angka. No Katalog 1102001.9108. Ditjen P3K-DKP, Direktorat Tata Ruang Laut, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. 2002. Modul sosialisasi dan orientasi penataan ruang, laut, pesisir dan pulau-pulau kecil. Departemen Kelautan dan Perikanan, Jakarta. Djurnani. 1999. Konsep pemetaan. On the Job Training (OJT) mengenai aplikasi SIG untuk perencanaan dan pengelolaan wilayah pesisir secara terintegrasi di 10 wilayah MCMA. Puspic Fakultas Geografi UGM– Bekerja sama dengan Bakorstanal. Yogyakarta. Hidayat, A. 1990. Budidaya rumput laut. Usaha Nasional, Surabaya. RUNTUBOI et al., Studi Kesesuaian Lahan Budidaya Rumput Laut Indriani, H. dan E. Sumiarsih, 1991. Budidaya, p engelolaan dan p emasaran r umput l aut. Penebar Swadaya, Jakarta. Neksidin, U., K. Pangeran dan Emiyarti. 2013. Studi kualitas air untuk budidaya rumput laut (Kappaphycus alvarezii) di perairan Teluk Kolono Kabupaten Konawe Selatan. Jurnal Mina Laut Indonesia. 3(12): 147–155. Nontji. 1987. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan, Jakarta. Omkarsba. 2013. Konservasi sumberdaya kelautan dalam perspektif kearifan masyarakat kampung Yensawai di Kabupaten Raja Ampat. [Thesis]. Universitas Cenderawasih, Jayapura. Pong-Masak, P.R., A.I.J. Asaad, Hansnawi, A.M. Pirzan, dan M. Lanuru. 2010. Analisis kesesuaian lahan untuk pengembangan budidaya rumput laut di Gusung Batua, Pulau Badi Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Jurnal Ris. Akuakulutur. 5(2): 299–316. Sediadi, A. dan U. Budihardjo, 2000. Rumput laut, Komoditas unggulan. Grasindo, Jakarta. 37 Senoaji, G. 2009. Daya dukung lingkungan dan kesesuaian lahan dalam pengembangan pulai Enggano Bengkulu. Jurnal Bumi Lestari. 9(2): 159–166. Serdiati, N. dan I.M. Widiastuti. 2010. Pertumbuhan dan produksi rumput laut Eucheuma cottonii pada kedalaman penanaman yang berbeda. Media Litbang Sulteng. 3(1): 21–26. Sirajuddin, M. 2009. Informasi awal tentang kulaitas perairan Teluk Waworoada untuk budidaya rumput laut (Echeuma cottonii). Jurnal Akuakultur Indonesia. 8(1): 1–10. Sulistijo, 1996. Perkembangan budidaya rumput laut di Indonesia dalam Atmadja, W.S., Kadi, A., Sulistijo dan Rachmaniar (Eds). Pengenalan jenis-jenis rumput laut Indonesia. Puslitbang Oseanologi-LIPI, Jakarta. Wenno, M.R dan J.L. Thenu. 2010. Kajian pertumbuhan harian, produksi berat kering dan kandungan karaginan dari Eucheuma cottonii pada berbagai bagian thalus, berat bibit dan umur panen. Jurnal Ichthyos. 9(1): 55–59.