4411 JCI Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. No. Juli 2023 PENGETAHUAN DAN SIKAP PETERNAK SAPI POTONG TERHADAP TEKNOLOGI PENGOLAHAN LIMBAH PERTANIAN SEBAGAI PAKAN TERNAK Oleh Himmatul Hasanah1. Kiagus Muhammad Zain Basriwijaya2 1Jurusan Biologi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Yogyakarta 2Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Samudra Email: 2zainkiagus@gmail. Article History: Received: 23-05-2023 Revised: 17-06-2023 Accepted: 24-06-2023 Keywords: Attitude. Crop Residue. Knowledge. Farmer. Technology Abstract: This study was conducted using 24 beef cattle farmers which were choosen through purposive sampling. The aim of this research was to know the level of knowledge and attitude of beef cattle farmers and constraints towards adoption of crop residu technology for animal feeding in Klaten Regency. Central Java Province. The study revealed that the majority of beef cattle famers . %) had moderate level of knowledge and favourable attitude . ,3%) towards adoption of crop residu technology for animal feeding. The major contraints in adopting the technology were lack of inputs, capital, labour, knowledge, and motivation. Collaboration among beef cattle farmers as stake holders, local animal husbandry service, extension workers and financial institution support is definitely required PENDAHULUAN Pengembangan sapi potong di suatu daerah perlu usaha untuk memanfaatkan limbah pertanian, mengingat penyediaan rumput dan hijauan pakan lainnya sangat terbatas. Limbah pertanian yang berasal dari limbah tanaman pangan seperti jerami jagung, jerami padi dan lain-lain ketersediaannya sangat dipengaruhi oleh pola pertanian tanaman pangan di suatu wilayah (Febriani dan Liana, 2. Menurut Basriwijaya . , jerami padi adalah salah satu limbah pertanian yang sering dipakai untuk pakan ternak, tetapi beberapa peternak belum memanfaatkannya secara optimal. Upaya pengawetan hijauan makanan ternak dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dalam bentuk hay dan silase. Pengawetan makanan dengan cara dikeringkan atau biasa disebut dengan hay. Hay adalah hijauan makanan ternak yang sengaja dipotong potong dan dikeringkan dengan bantuan sinar matahari atau dengan panas buatan hingga kadar airnya berkisar antara 10 -15%. Pemberian hay untuk ternak sapi dapat dilakukan secara langsung tanpa pemberian apa apa. Pemberiannya dapat dilakukan sepanjang hari. Perbandingan antara hay dan rumput segar adalah 1 : 7 artinya 1 kg hay setara dengan 7 kg rumput segar (UPTD,2. Menurut Megawati . , pemanfaatan jerami padi sebagai pakan ternak masih sangat rendah yaitu berkisar antara 34-39%, sedangkan sisanya dibakar atau dikembalikan ketanah sebagai kompos. Ditambahkan oleh Rosidana . , permasalahan pada pemanfaatan jerami padi adalah rendahnya nilai gizi dan koefisien cerna padi yang a. http://bajangjournal. com/index. php/JCI JCI Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. No. Juli 2023 merupakan pembatas selain palatabilitas yang rendah. Untuk meningkatkan nilai gizi, kecernaan sekaligus palatabilitasnya dapat dilakukan melalui proses fermentasi. Rosmaiti et . mengatakan bahwa jerami yang difermentasi dengan urea, dapat meningkatkan berat badan ternak. Ali dan Noerjanto dalam Balai Pengkajian Teknologi Pertanian . menambahkan bahwa pemberian jerami hingga 50% dalam ransum dapat meningkatkan pertambahan bobot badan sapi Madura sebesar 0,597 kg/ekor/hari. Kebutuhan ternak ruminansia akan pakan dapat dipenuhi dari pakan hijauan . umput atau kacang-kacanga. sebagai pakan basal . dan konsentrat sebagai pakan penguat. Dalam rangka terus membina pengembangan ternak, maka perlu dikenalkan berbagai teknologi tepat guna kepada masyarakat. Salah satu teknologi dibidang pakan ternak adalah penggunaan urea molases blok (UMB) sebagai pakan suplemen pada ternak ruminansia. Menurut Sinta . UMB dapat meningkatkan berat badan . ,2-0,45 k. dan efisiensi penggunaan ransum . 2 Ae 2. , tetapi tidak meningkatkan konsumsi ransum. Kecamatan Karang Anom merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Klaten dimana sektor pertaniannya memegang peranan penting dalam perekonomian masyarakat. Penduduknya kebanyakan adalah petani peternak, terutamanya ternak sapi potong. Masalah yang dihadapi adalah ketersediaan pakan dimusim kemarau. Kebanyakan jerami padi yang berlebihan dimusim panen, hanya dikeringkan dan ditimbun di tempat penyimpanan untuk pakan ternak sapi potong, dan sebagian jerami padi dibakar. Tujuan penelitian ini adalah: Mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap peternak sapi potong terhadap teknologi pengolahan limbah pertanian sebagai pakan ternak. Mengetahui hambatan yang dihadapi peternak sapi potong terhadap adopsi teknologi pengolahan limbah pertanian sebagai pakan ternak. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di desa Tinggen. Kecamatan Karanganom. Kabupaten Klaten. Propinsi Jawa Tengah. Lokasi ini ditentukan secara purposive sebagai tempat dilaksanakannya penyebaran informasi tentang teknologi pengolahan limbah pertanian sebagai pakan ternak melalui penyuluhan dan demonstrasi. Sampel sebanyak 24 peternak sapi potong diambil secara purposive. Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Data diperoleh melalui observasi dan wawancara tatap muka dengan peternak sapi potong. Data yang diperoleh dianalisa secara deskriptif (Sugiyono, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengukuran variabel pengetahuan dan sikap peternak sapi potong Pengetahuan Pengetahuan peternak sapi potong terhadapteknologipengolahanlimbahpertanian diukur dengan pertanyaan sederhana. Jumlah pertanyaan untuk pengetahuan ada 10 dan diberi skor tidak tahu dan tahu. Rumus tingkat pengetahuan peternak sapi potong (Lavania dan Umar, 2. ycEyceycuyciyceycycaEaycycaycu = Total skor ycu100 a. http://bajangjournal. com/index. php/JCI JCI Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. No. Juli 2023 Sikap terhadap pakan ternak hasil pengolahan limbah pertanian Untuk mengukur sikap peternak sapi potong terhadap pakan ternak hasil pengolahan limbah pertanian, diberi skor 5, 4, 3, 2, dan 1 untuk sangat setuju, setuju, netral, tidak setuju dan sangat tidak setuju. Untuk mendapatkan nilai sikap, maka jawaban dijumlah dan diklasifikasikan menjadi 3 kelompok yaitu: kurang berminat, berminat dan sangat berminat. Tingkat pengetahuan dan sikap peternak sapi potong terhadap teknologi pengolahan limbah pertanian sebagai pakan ternak dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. menunjukkan bahwa sebagian besar peternak sapi potong . %) mempunyai pengetahuan yang sedang terhadap penyuluhan dan demonstrasi teknologi pengolahan limbah pertanian dalam bentuk silase. UMB dan pakan komplit. Tabel 2. Distribusi peternak sapi potong terhadap pengetahuan dan sikap terhadap No. Variabel dan kategori Peternak sapi potong Jumlah Persen Rendah Sedang Tinggi Tidak Berminat Berminat Sangat berminat Pengetahuan tentang pakan ternak hasil pengolahan limbah pertanian (UMB, silase, pakan kompli. Sikap terhadap pakan hasil pengolahan limbah pertanian (UMB, silase dan pakan kompli. Berdasarkan sikap peternak sapi potong terhadap pakan ternak hasil pengolahan limbah pertanian dalam bentuk silase. UMB dan pakan komplit menunjukkan bahwa sebagian peternak . ,3%) berminat. Hampir 1/8 dari peternak sapi potong . ,5%) berada pada kategori sangat berminat. Hanya 4,2% peternak sapi potong yang tidak berminat terhadap pakan ternak hasil pengolahan limbah pertanian dalam bentuk silase. UMB dan pakan komplit. Hal ini berarti bahwa secara umum peternak sapi potong berminat terhadap pakan hasil teknologi limbah pertanian dalam bentuk silase. UMB dan pakan komplit. Oleh karena itu, pelatihan dan demonstrasi sangat penting dilakukan secara kontinyu. Hambatan peternak sapi potong terhadap adopsi pakan ternak hasil pengolahan limbah pertanian Berdasarkan Tabel 2 dapat diketahui bahwa masalah utama yang dihadapi peternak sapi potong . ,5%) adalah ketersediaan sarana, terutama ketersediaan kantong plastik, urea dan drum plastik. Untuk mendapatkan bahan ini, peternak harus menempuh kurang lebih 2 jam perjalanan darat dari Kabupaten Klaten ke kota Yogyakarta. Urutan kedua adalah kurang biaya . ,2%). Hal ini dapat dimaklumi karena peternak sapi potong di kabupaten Klaten memelihara dalam skala kecil, disamping itu ases mendapatkan fasilitas kredit masih Urutan ketiga adalah kekurangan tenaga kerja . ,7%). Penyebabnya adalah karena para peternak merangkap menjadi petani. Hambatan keempat adalah kurang pengetahuan a. http://bajangjournal. com/index. php/JCI JCI Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. No. Juli 2023 . ,5%). Ini disebabkan karena frekuensi penyuluhan atau kunjungan penyuluh ke peternak sapi potong tidak intensif. Peternak sapi potong kurang motivasi menduduki urutan terakhir atau ke lima . ,1%). Menurut Nguyen . , hambatan utama peternak tidak mengadopsi jerami yang telah difermentasi urea adalah: ketidaknyamanan dalam merubah kegiatan rutin, faktor psikis dan pertimbangan sosial ekonomi. Basriwijaya et al. menambahkan, hambatan adopsi untuk silase adalah kurang alat pemotong jerami dan mahal. Tabel 2. Hambatan yang dihadapi peternak sapi potong dalam mengadopsi pakan Masalah Jumla Perse Rangki Kurang sarana Kurang biaya Kurang tenaga kerja i Kurang pengetahuan Kurang motivasi Selanjutnya Mudzengi et al. , mengatakan bahwa peternak tidak mengadopsi UMB karena kurang tenaga kerja, kurang monitoring penyuluh dan ases yang sulit mendapatkan pupuk urea. Jack . mengatakan bahwa hambatan adopsi teknologi pertanian di negara berkembang terdiri dari: eksternaliti, input dan output inefisien pasar, inefisien pasar tanah, inefisien pasar tenaga kerja, inefisien pasar kredit, inefisien pasar resiko, dan inefisien informasi. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pengetahuan dan sikap peternak sapi potong di desa Patalasang kecamatan Klaten Timur, kabupaten Klaten Jawa Tengah terhadap teknologi pengolahan limbah pertanian termasuk kategori AusedangAy dan AuberminatAy. Hambatan dalam adopsi teknologi pengolahan limbah pertanian sebagai pakan ternak adalah kurang sarana, kurang biaya, kurang tenaga kerja, kurang pengetahuan dan kurang motivasi. SARAN Disarankan ada kerjasama antara peternak sapi potong, dinas peternakan setempat, penyuluh dan lembaga keuangan. Disamping perlu dilakukan penyuluhan/pelatihan dan demonstrasi yang lebih intensif, penyediaan fasilitas kredit serta sarana untuk meningkatkan adopsi teknologi pengolahan limbah pertanian sebagai pakan ternak. DAFTAR PUSTAKA