Toaleang Marusu: Konsep Kreativitas Perekaciptaan Tari Inspirasi dari Jejak Peradaban Manusia Leang-leang Maros di Sulawesi Selatan Toaleang Marusu: Konsep Kreativitas Perekaciptaan Tari Inspirasi dari Jejak Peradaban Manusia Leangleang Maros di Sulawesi Selatan Ilham Haruna1. Rahma M2. Nurwahidah3. Syakhruni4. Sukmawati Saleh5 1, 2, 3, 4 Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung Jl. Dg. Tata Raya. Parangtambung. Makassar Email: Ilhamharuna16@gmail. ABSTRACT Toaleang Marusu is a choreography was created using evidence of the Toalean prehistoric human civilization unearthed at the Leang-Leang. Maros archaeological sites. The creation of this dance choreography aims to give a new reading to the artifacts found. This is to produce a transformation and reinterpretation of visual ideas and artistics in the form of Toaleang Marusu dance. The research was conducted with a qualitative method and elaborated the General model of the creative process by Zeng, namely analysis, idea generation, evaluation, and implementation. MintonAos dance composition approach which consists of five stages, namely, inspiration, responsiveness, incubation, evaluation, and The embodiment of this praxis began with pre-imagination, abstract imagination, and then produced concrete imagination. The exploration of the prehistoric Toalean human culture became a reflection of a transfer of vehicles embodied in a Toaleang Marusu dance repertoire as a concrete image. The results of this artistic transformation also have an impact on the continuity of the creative process, producing other works of art, and most importantly, preserving the ecology and existence of the prehistoric leang-leang sites in Maros. South Sulawesi. Keywords: Dance creativity. Toalean Maros. Dance choreography. Toaleang Marusu ABSTRAK Koreografi Tari Toaleang Marusu diciptakan berdasarkan penemuan arkeologis di Leang-Leang. Maros, yang menunjukkan adanya peradaban manusia prasejarah Toalean. Perekaciptaan koreografi tari ini bertujuan untuk memberikan pembacaan baru pada tinggalan-tinggalan artefak yang ditemukan. Hal ini untuk menghasilkan transformasi dan reinterpretasi gagasan visual serta artistika dalam wujud Tari Toaleang Marusu. Riset dilakukan dengan metode kualitatif dan mengelaborasi pendekatan kreativitas General model of the creative process oleh Zeng yaitu analisis, penggagasan ide, evaluasi, dan implementasi. Pendekatan pengkomposisian tari dari Minton yang terdiri lima tahapan yaitu, inspirasi, responsif, inkubasi, evaluasi, dan Pengejawantahan praksis ini, dimulai dari pra-imajinasi, imajinasi abstrak, dan kemudian menghasilkan imajinasi konkret. Penjajakan budaya manusia prasejarah Toalean menjadi refleksi alih wahana yang tertuang pada sebuah repertoar Tari Toaleang Marusu sebagai imaji konkret. Hasil transformasi seni ini berdampak pula pada keberlanjutan proses kreatif, menghadirkan produk seni lainnya, dan yang utama adalah menjaga kelestarian dan eksistensi ekologi situs-situs prasejarah leang-leang Maros Sulawesi Selatan. Kata Kunci: Kreativitas tari. Toalean Maros. Koreografi tari. Toaleang Marusu Jurnal Panggung V35/N4/12/2025 Ilham Haruna. Rahma M. Nurwahidah. Syakhruni. Sukmawati Saleh PENDAHULUAN Menurut Hakim . 2, hlm. manusia Maros merupakan daerah yang ada di Toalean telah beradaptasi pada lingkungan Sulawesi Selatan dengan lanskap perbukitan yang mereka tinggali, sehingga mampu kapur yang menjulang tinggi hasil ekologi bertahan dengan cara memanfaatkan bahan- alami alam yang terbentuk ribuan tahun silam. bahan makanan yang ada di sekitarnya. Gugusan karts inilah yang memiliki ekologi Aktivitas eksentrik dan wilayah ini pula yang memiliki gua/leang-leang sebagai tempat bermukimnya yang dihuni dalam hal ini, berburu hewan manusia prasejarah, mereka adalah manusia Toalean zaman holosen, kelompok ini yang seperti kerang-kerang baik dari laut maupun membangun peradaban pada zaman pra sungai yang berada dalam tataran pulau neolitik, dan hingga sekarang jejak tinggalan sulawesi, terkhusus di Sulawesi Selatan, arkeologinya banyak ditemukan di wilayah Maros (Perston, 2021, hlm. Bahan-bahan tersebut sehingga tempat bersejarah inipun tersebut kemudian diolah untuk dijadikan telah dijadikan warisan ekologi dari UNESCO sebagai bahan makanan agar dapat bertahan Global Park (Bulbeck, 2008, hlm. Nur, hidup di leang-leang. Masyarakat Toalean juga 2017, hlm. Alfitri, 2023, hlm. menciptakan perkakas batu sebagai alat untuk Manusia Toalean yang dapat ditelisik dari jejak-jejak peradaban dan tinggalan kebudayaan di kawasan leang, kali pertama mengolah makanan . erpihan batu yang menyerupai alat potong/penghancu. Riset berkesinambungan yang dilakukan oleh arkeolog Suryatman . 0, hlm. sekitar tahun 1902 ketika menelisik artefak menemukan data-data secara berkala bahwa batu lancipan, serpih-bilah dari batu dan masyarakat Toalean yang pernah menghuni alat tulang pada penggaliannya di sebuah gua-gua di sepanjang kawasan leang-leang ceruk daerah pedalaman terpencil sekitar Maros Sulawesi Selatan, menggambarkan Lamoncong-Maros (Suryatman, 2019, hlm. telah banyak menggunakan alat-alat teknologi 1-. Pertemuan dengan penghuni gua-gua canggih seperti batu lancipan sebagai alat di tataran Maros-Pangkep menjadi cikal-bakal untuk mengolah hasil buruan, seperti daging dikenalnya masyarakat Toalean. Pertalian mentah yang telah dikumpulkan sebagai ini untuk merujuk pada bahan makanan, sebagai sumber kehidupan seperti berburu, mengumpulkan makanan, dalam keberlangsungan kelompok tersebut (Perston, 2021, hlm. Sarasin Sulawesi Selatan. Manusia inilah yang telah Jejak peradaban masyarakat Toalean memiliki kekhasan teknologi pada peradaban juga meninggalkan artefak berupa lukisan- masyarakat leang-leang waktu itu. lukisan di leang-leang yang menjadi simbol- Peradaban masyarakat Toalean yang Lukisan hidup di Maros pada zaman ini digambarkan dinding gua ini menampilkan sosok manusia dengan tangan dan jari-jemari yang terangkat Jurnal Panggung V35/N4/12/2025 gua/leang. Toaleang Marusu: Konsep Kreativitas Perekaciptaan Tari Inspirasi dari Jejak Peradaban Manusia Leang-leang Maros di Sulawesi Selatan Gambar 1. Lukisan-lukisan tangan manusia pada dinding gua di leang-leang Maros. (Sumber: Ilham, 2. Gambar 2. Temuan-temuan arkeologi berupa artefak batu, tengkorak hewan, dan kerang-kerang pada daerah leang-leang Maros yang telah di letakkan di Museum. (Sumber: Ilham, 2. berburu dan mengumpulkan makanan baik ke atas, seolah sedang menari atau berdoa. yang dari laut, sungai, serta hutan-hutan di Gambar-gambar ini merupakan simbolisme sekitar gua sebagai tumpuan dalam mengolah yang bergulir dan menjadi ekspresi manusia imaji kreatif. Toalean yang dapat diinterpretasikan sebagai Temuan-temuan dari tinggalan budaya bentuk penghormatan kepada alam dan yang menjadi bukti aktivitas dari peradaban penguasa makrokosmos. Selain itu, temuan masyarakat Toalean ini, baik itu lukisan yang pada taman prasejarah ini berupa motif garis- berada pada dinding gua, artefak kerang, dan garis melengkung yang sering muncul dalam alat-alat serpih dari batu menjadi gagasan lukisan dapat melambangkan air, baik itu air laut maupun air sungai yang menjadi sumber untuk menghasilkan reka cipta tari sebagai kehidupan, hal ini menjadi temuan yang konstelasi dalam mengajak khalayak untuk signifikansinya menggambarkan kebudayaan mengenal dan menelusuri kembali jejak-jejak yang berlaku pada masyarakat Toalean peradaban dan budaya masyarakat. Hal ini tersebut (Gazali, 2017, hlm. Mallawi, bertujuan untuk menjaga keberlangsungan 2023, hlm. ekologi dari situs-situs bersejarah terutama di Masyarakat Toalean sebagai manusia wilayah Maros Sulawesi Selatan. Melalui simbolisasi bahasa tari yang dengan aktivitas yang ditemukan oleh para arkeolog berupa temuan sampah-sampah hasil olahan seperti kerang-kerang, tulang- leang-leang Maros, kita dapat memberikan tulang fauna endemik seperti Babi Rusa dan Anoa yang banyak ditinggalkan pada teras- tinggalan-tinggalan budaya tersebut melalui teras leang-leang (Brumm, 2018, hlm. bahasa estetis tari (Nurwahida, 2023, hlm. Fakhri, 2021, hlm. Bukti-bukti artefak Toaleang Marusu merupakan entitas karya tersebut menjadi landasan untuk menjadikan dengan menelisik temuan-temuan arkeologis bagian aktivitas masyarakat Toalean seperti situs-situs sisa-sisa Jurnal Panggung V35/N4/12/2025 Ilham Haruna. Rahma M. Nurwahidah. Syakhruni. Sukmawati Saleh manusia Toalean Maros dengan menggunakan medium bahasa nonverbal. Entitas dari reka cipta tari ini berupaya menghadirkan sentuhan yang lain dari data-data yang telah tersaji, perekaciptaan koreografi tari ini juga sebagai perwujudan idiom baru untuk temuan-temuan bersumber dari situs-situs sejarah arkeologi leang-leang Maros yang kemudian diadaptasi Gambar 3. Proses observasi pada lokasi leang-leang Maros yang dilakukan dalam mengumpulkan data-data sebagai bahan inspirasi pada reka cipta koreografi tari Toaleang Marusu. (Sumber: Ilham, 2. artistik dan estetika. Bentuk-bentuk yang dihadirkan dalam ekspresi artistik ini menjadi wahana baru bagi apresiator dalam membaca tinggalan-tinggalan kebudayaan dari situs- situs purbakala melalui sajian estetika seni. Gagasan-gagasan yang diolah untuk menghasilkan produk seni juga bersentuhan dengan perjalanan artistik dan pengalamanMETODE pengalaman yang telah dilakukan dalam Penciptaan karya koreografi tari Toaleang Marusu membentuk sebuah konsep kreatif yang tahapan-tahapan serupa, pendekatan yang dilalui ini merupakan riset yang mendalam dan dianalisis secara salah satu solusi dalam memecahkan problem kualitatif (Harahap, 2020,hlm. Proses terhadap penciptaan karya seni (Hendriyana, 2018, hlm. Koreografer dalam hal ini data-data melalui observasi pada situs-situs bersejarah tepatnya di kawasan purbakala leang-leang terlibat dalam proses kreativitasnya, teknik- Maros, hasil temuan yang didapatkan melalui teknik kreator dalam merangkai imajinasi, observasi lapangan tersebut kemudian diolah memecahkan masalah, dan menemukan hal- secara tekstual dengan narasi deskriptif hal baru termasuk kemampuannya dalam mengolah riset-riset arkeologi pada situs-situs cipta untuk mewujudkan sebuah karya cipta purbakala di Maros ke dalam entitas reka melalui idiom koreografi tari. Reka cipta tari cipta koreografi tari. ini merupakan kerja kreatif kreator dalam kebaruan/novelty Tahapan-tahapan menghasilkan konklusi yang telah dilalui dari sejalan dengan yang dikemukakan oleh beberapa teknik seperti riset kepustakaan Zeng . 1, hlm. bahwa seorang dan dokumentasi. Hal tersebut menjadi koreografer seyogyanya menjajaki empat bagian signifikan dalam riset-siset dengan teknikal secara signifikan dalam mewujudkan penggunaan metodikal kualitatif. perekaciptaan, berikut tahapan yang telah Perekaciptaan Jurnal Panggung V35/N4/12/2025 Toaleang Marusu: Konsep Kreativitas Perekaciptaan Tari Inspirasi dari Jejak Peradaban Manusia Leang-leang Maros di Sulawesi Selatan secara berkelanjutan entitas karya dapat diejawantahkan dalam hal ini tertuju pada koreografi Tari Toaleang Marusu. Tahap pengaplikasian, dari tahapan-tahapan yang telah dilalui wujud dari sebuah reka cipta ini merumuskan bentuk-bentuk kreatif yang Gambar 4. Tahap-tahap dalam proses kreativitas (Sumber: Zeng, 2. selanjutnya menjadi temuan kebaruan dalam sebuah perekaciptaan. Segala yang terpaut pada kreator sejatinya teraplikasi dalam wujud perekaciptaan, atas dasar pertimbangan dan Tahap pertama terpaut pada bagian analisis, kreator melakukan proses kreatif dalam menelisik temuan-temuan yang telah Data-data yang ditemukan tersebut menjadi acuan dalam menggagas reka cipta, bagian ini mengejawantahkan pemahaman mendalam terhadap fenomena yang ditelisik, dalam hal ini kemampuan kreator dalam menganalisa data dari situs sejarah dan kemudian dikorelasikan ke dalam koreografi Tahap kedua terpaut pada memilin ide, penelisikan yang mendalam agar produk seni dapat dinikmati oleh apresiator. Perekaciptaan koreografi Tari Toaleang Marusu seyogyanya juga melalui penelisikan pada teknik komposisi tari, menurut Minton . 8, hlm. untuk melakukan proses pembuatan koreografi tari tahapan-tahapan kreatif selalu bersifat kolateral. Bagian-bagian melalui pengamatan-pengamatan. Objek-objek prasejarah yang tersaji pada situs purbakala leang-leang Maros yang untuk menemukan kesimpulan yang berlanjut digunakan sebagai basis inspirasi di- pada perekaciptaan koreografi tari agar ranah- gunakan untuk menciptakan sebuah ranah yang mendukung reka cipta dapat koreografi tari. Hasil pengolahan dari dilanjutkan pada tahap selanjutnya. sumber inspirasi ini menjadi dorongan mutlak bagi koreografer agar bahasa-ba- evaluasi, tahapan ini cukup signifikan dalam hasa tari dapat dijalin dengan baik hing- bentuk-bentuk ga ke responden (Caturwati, 2018, hlm. dari koreografi tari tersebut. Evaluasi ini erat kaitanya dengan memecahkan masalah Inspirasi, tahapan ini merupakan cara koreografer menstimulasi kognitifnya Hasil perangkaian ide ini mendorong kreator tahapan yaitu: memilin setiap ide-ide yang telah didapatkan. sebuah koreografi ini setidaknya ada lima bagian ini menjelaskan tentang pereka cipta Tahap 65-. Responsif. Jurnal Panggung V35/N4/12/2025 Ilham Haruna. Rahma M. Nurwahidah. Syakhruni. Sukmawati Saleh sebagai tindakan agar proses nalar didsarkan pada paduan ide pereka cipta terjalin dengan sensitivitas emosionalnya sehingga karya tari dapat Visualisasi, tahapan ini menyangkut diwujudkan dengan maksimal. Pertalian antara proses reasoning dengan tubuh tarian baik berupa busana tari, properti, manusia dapat menghasilkan medium dan arsitektur yang diciptakan dalam yang menghasilkan bahasa-bahasa baru gerakan, hingga pada proses penyajian dalam kebertubuhan tari (Haruna, 2024, 532-. Perwujudan tahapan ini Inkubasi, tahapan ini tidak lain merujuk pada proses eksplorasi dan improvisasi dalam menentukan acuan-acuan yang koreografer dalam menemukan gerak berkelanjutan pada proses artistik dan bentuk-bentuk tiba-tiba estetik di kemudian hari (Christensen, 2021, hlm. arsitektur kebertubuhan yang muncul dengan tema tari yang telah diusung HASIL DAN PEMBAHASAN sehingga entitas karya dapat tercapai Proses Kreatif Perekaciptaan Tari Toaleang dengan baik dalam hal ini tertuju Marusu Perekaciptaan pada repertoar tari Toaleang Marusu (Anggraheni, seyogyanya berkiblat pada sumber inspirasi Borovica, 2020, hlm. yang telah dilakukan melalui pemetaan Evaluasi, riset-riset pada keputusan dan tindak lanjut pendorong untuk menghasilkan sebuah reka cipta tari. Haruna . 4, hlm. juga mengemukakan bahwa gagasan-gagasan yang dalam meramu tari merupakan ranah diusung dalam sebuah penciptaan tari selalu kreativitas kreator seni (Rahma, 2023, berbasis pada penelisikan data-data yang telah 154-. Selain itu pada tahapan ditemukan, proses itu menjadi tumpuan agar ini biasanya koreografer melakukan kreator dapat menentukan tema yang relevan motivasi, negoisasi, dan kurasi gerak dan menginkorporasikan penalarannya secara antara penari sehingga kepekaan estetik dapat tercipta dalam tarian tersebut idiom tari sebagai konklusi dari proses-proses (Syakhruni, 2019, hlm. Pada kreativitas yang dilakukan. Dengan demikian tahapan tersebut vokabuler gerak yang mengacu pada temuan-temuan arkeologis pada situs prasejarah leang-leang Maros, sebagai landasan tematik dalam meramu dan Jurnal Panggung V35/N4/12/2025 ulang sampai pada bagian bagaimana Toaleang Marusu: Konsep Kreativitas Perekaciptaan Tari Inspirasi dari Jejak Peradaban Manusia Leang-leang Maros di Sulawesi Selatan mengkorelasikan reka cipta tari, sehingga merupakan langkah kreatif yang dilakukan memuarakan repertoar Tari Toaleang Marusu oleh pencipta, pose demi pose yang dirangkai sebagai hasil estetika. seyogyanya didasarkan pada data yang telah ditelisik. Seorang koreografer dapat tidak lain mengacu pada melakukan diskusi dengan penari sehingga proses empiris yang terjalin sehingga karya terjadi umpan balik, menciptakan kurasi tersebut dapat terwujud. Proses-proses yang gerak antara koreografer dengan penari, dilakukan dari menggagas ide sebagai awal hal ini dapat terjadi karena tubuh-tubuh dari penciptaan koreografi tari, kemudian sebagai medium yang akan menyampaikan mengolahnya menjadi sebuah repertoar tari. makna dan interpretasi dari perekaciptaan Perwujudan artistik menjadi medium tari Proses kreatif tersebut menjadi bagian ke medium estetika tari merupakan bentuk- yang mutlak dalam ranah pertunjukan yang bentuk inovatif dari pereka cipta, tafsir bersifat artistik-estetik, terciptanya suasana dari kebertubuhan tari yang dientitaskan menjadi jalan untuk menyampaikan tema dari pengembangan koreografi secara menyeluruh sebuah gagasan-gagasan yang telah diusung adalah unsur-unsur dan menjadi ciri khas (Widyastitieningrum, 2023, hlm. yang terjadi dalam reka cipta tari (Sukri, 2022. Idiom Proses kreativitas yang dilakukan oleh pereka cipta senantiasa bersinergi terhadap emosional/cita Setiyastuti, 2024, hlm. Yusup, 2024, hlm. Proses teknik dalam pengkomposisian tari, ranah- gerak dalam koreografi tari Toaleang Marusu mengimprovisasi, jelajah rasa, dan evaluasi seyogyanya telah melalui penelisikan, gerak selalu dilintasi untuk menghasilkan susunan yang dikelin dan sebagai strategi koreografer koreografi yang terstruktur (Smtih-Autard, 2010, hlm. Minton, 2017, hlm. Laku kreatif ini seyogyanya dapat tubuh penari. Aktivitas ini dapat mewujudkan mengejawantahkan setiap gerak-gerak yang sebuah teks-teks kebertubuhan baru dalam menyampaikan budaya masyarakat Toalean unsur-unsur pesan-pesan membangun tari baik yang dilakukan secara situs-situs acak, berulang, dan variatif sejatinya dapat prasejarah di leang-leang Maros. Motif gerak mensahihkan repertoar tari Toaleang Marusu tangan yang banyak digunakan dalam reka yang disajikan kepada apresiator. cipta tari Toaleang Marusu ini tidak lain diadaptasi dari tinggalan-tinggalan arkeologi Praksis Transmisi Konsep dan Ide dalam pada leang-leang Maros, salah satu temuan Perekaciptaan yang ditelisik pada gua Petta Kere misalnya Koreografi Tari Toaleang (Yusriana, 2022, hlm. dalam gua-gua Marusu Mentransmisikan unsur-unsur movement Tari Toaleang Marusu tersebut terdapat lukisan-lukisan tangan dan aktivitas berburu masyarakat Toalean dengan Jurnal Panggung V35/N4/12/2025 Ilham Haruna. Rahma M. Nurwahidah. Syakhruni. Sukmawati Saleh Gambar 5. Mentransmisikan konsep dan ide koreografi kepada penari yang telah melalui tahap diskusi, kurasi, dan evaluasi dalam proses kreatif reka cipta tari Toaleang Marusu. (Sumber: Sinar, 2. Gambar 7. Hasil eksplorasi dan improvisasi dalam menemukan simbol-simbol gerak yang diadaptasi dari lukisan tangan pada dinding gua di leang-leang Maros lalu ditransmisikan kepada penari dalam proses kreatif reka cipta tari Toaleang Marusu. (Sumber: Ilham, 2. kognisinya, pemahaman yang mendalam biasanya ditelisik melalui dasar ontologis Gambar 6. Lukisan tangan pada dinding gua di leang-leang Maros yang menjadi inspirasi gerak kemudian diadaptasi lalu ditransmisikan kepada penari dalam proses kreatif reka cipta tari Toaleang Marusu. (Sumber: Ilham, 2. bahas-bahasa Ditelisik dari tataran pengalaman pereka cipta bahwa empiris dan kultural kreator yang telah melebur dalam konteks koreografi dijejaki tinggalan-tinggalan lukisan di dinding gua Leang-leang Maros, menghadirkan lukisan Babi Rusa. Dengan data-data koreografer bekerja untuk menghadirkan dishahihkan pada repertoar Tari Toaleang Marusu. Trik-trik yang dilakukan oleh pereka cipta dalam proses kreatif sejatinya melintasi Jurnal Panggung V35/N4/12/2025 pemahaman ini merupakan bagian yang telah dikognisikan secara mendalam sebagai sumber reka cipta dalam menghasilkan sebuah Dalam koreografi tari, dasar ontologis ini merupakan tarian sehingga yang menjadi ontologinya adalah keberadaan kultural kepurbakalaan ataupun tinggalan-tinggalan artefak yang telah diabadikan misalnya lukisan-lukisan Toaleang Marusu: Konsep Kreativitas Perekaciptaan Tari Inspirasi dari Jejak Peradaban Manusia Leang-leang Maros di Sulawesi Selatan tangan yang kemudian direpresentasikan dan ditransformasikan ke dalam koreografi tari. Entitas perekaciptaan selanjutnya dapat menghasilkan kedalaman emosional/cita rasa yang dapat dimunculkan pada setiap kosa gerak yang diejawantahkan oleh medium tubuh penari, dalam artian gerak-gerak tersebut memiliki ruh dalam setiap perlakuannya, atau dengan kata lain setiap gerakan yang digerakkan oleh tubuh-tubuh penari memiliki intensitas memikat mata setiap apresiatornya. Hal itu dapat diwujudkan karena telah melalui daya Gambar 8. Pengembangan vokabuler gerak yang didasari pada penjajakan ontologis lalu ditransmisikan kepada penari dalam proses kreatif reka cipta tari Toaleang Marusu. (Sumber: Ilham, 2. reasoning dan penelusuran gagasan secara mendalam termasuk pada aktivitas-aktivitas entitas dalam perekaciptaan tari, lalu bagian Toalean yang menjadi basis ontologis reka ini dibentuk menjadi vokabulari gerak dan cipta tari Toaleang Marusu (Mangoensong, diberikan kualitas movement . ita rasa/emos. 2020, hlm. Perwujudan dari proses ini merupakan hasi Pengejawantahan konsep-konsep gagasan yang dilalui dengan proses penjajakan dari komunikasi kognisi dan empiris kreator (Haruna, 2024, hlm. telah disesuaikan Signifikansi pendukung dalam reka cipta dengan tema yaitu tentang tinggalan kultur tari Toaleang Marusu adalah musik pengiring prasejarah manusia Toalean Maros di Sulawesi Selatan, hal tersebut seyogyanya telah melalui bertujuan untuk memaksimalkan unsur-unsur proses diskusi dan pemahaman antara penari yang membangun respon-respon yang terjadi dalam tarian. Hadirnya emosi/rasa pada tarian diejawantahkan kemudian ditransmisikan ke tidak lepas dari rangsangan musik, pola-pola dalam konteks ide garapan, bentuk-bentuk musik yang dibuat didasarkan pada gagasan movement, eksplorasi, cita rasa, dan visual koreografi Toaleang Marusu, instrumen musik dalam perekaciptaan koreografi tari Toaleang yang di sketsa oleh komposer musik melalui Marusu. Proses transformasi ini mengacu pada teknologi MIDI (Music Instrumental Digital sumber yang terkandung dalam tinggalan Interfac. seyogyanya saling kongruen dengan kultur masyarakat Toalean, simbol-simbol koreografi tarian tersebut, hal ini bertujuan yang dihadirkan pada lukisan di dinding agar korelasi musik dan tari saling terintegrasi gua menyiratkan kehadiran dan proses baik dari segi irama, ketukan, tempo, dan Unsur-unsur realitas/ontologis Pengkomposisian Jurnal Panggung V35/N4/12/2025 Ilham Haruna. Rahma M. Nurwahidah. Syakhruni. Sukmawati Saleh setiap unsur-unsur utama dari luaran musik iringannya, hal itu dapat membuat atmosfer geraknya, keutuhan/unity, dan harmonisasi tari dapat terjalin menjadi sebuah estetika mendalam yang dapat didemonstrasikan kepada apresiator. Argumentasi Saptono . 4, hlm. juga mengejawantahkan Gambar 9. Koreografer dan penari menelisik dan melakukan evaluasi iringan tari secara signifikan dalam proses kreatif reka cipta tari Toaleang Marusu. (Sumber: Sinar, 2. bahwa sebuah idiom musik sebagai iringan koreografi tari yang dibuat, karena bagianbagian itu pasti saling kongruen. Berbicara tata rias dan busana juga memiliki relevansi keutuhan tari Toaleang Marusu. Tarian yang dapat mengejawantahkan sebuah artistikaestetika medium tersebut, korelasi yang terwujud antara busana, makeup, dengan tarian dapat memuarakan interpretasi, membangkitkan atmosfer emosional, menonjolkan tema, dan karakteristik penari sehingga dapat disajikan serta dinikmati oleh penontonnya (Aryani, 2022, hlm. Gambar 10. Wujud busana yang diadaptasi dari segi warna, urat-urat akar, dan mollusca sebagai unsur-unsur dari bentang alam leangleang Maros dalam proses kreatif reka cipta tari Toaleang Marusu. (Sumber: Ilham, 2. Tata rias dan busana dalam reka cipta tari Toaleang Marusu, tetap mengadaptasi warnawarna yang ada pada situs purbakala leangleang Maros. Karakteristik yang dituangkan dalam busana juga menyajikan gambarangambaran alam yang ada di gua tersebut, dan (Fitriani, 2022, hlm. Kiswanto, 2024, kemudian dirangkai serta memperpadukan Ketut, 2024, hlm. kerang-kerang. Busana kreasi terbuat dari bahan karung goni, lalu berdasarkan ide garapan dalam koreografi digabungkan dengan unsur-unsur desain Toaleang Marusu sejatinya dapat mensahihkan lokal daerah seperti menyerupai baju bodo. entitas reka cipta tarian tersebut. Pertalian Pada bagian depan baju diberikan ornamen dari isi karya dapat mengejawantahkan dari kerang. Desain ini digunakan sebagai Iringan Jurnal Panggung V35/N4/12/2025 Toaleang Marusu: Konsep Kreativitas Perekaciptaan Tari Inspirasi dari Jejak Peradaban Manusia Leang-leang Maros di Sulawesi Selatan pijakan dalam membuat busana tari, sehingga identitas kelokalan tetap hadir dalam wujud reka cipta tari. Busana dibuat menyesuaikan warna busana ini dekat dengan warna alam dan nuansa yang dihadirkan menyerupai serat-serat kayu layaknya busana zaman dahulu, kemudian pada riasan wajah penari, diadaptasi dari hewan-hewan endemik yang ada di Sulawesi seperti Anoa, hewan ini merupakan salah satu buruan selain babi. Gambar 11. Makeup yang terinspirasi dari hewan endemik Sulawesi seperti Anoa dan Babi Rusa yanag ditransformasikan pada riasan penari dalam proses kreatif reka cipta tari Toaleang Marusu. (Sumber: Ilham, 2. rusa, dan kerang-kerang yang dijadikan sebagai aksesoris juga merupakan makanan yang dikumpulkan oleh masyarakat Toalean. memaknai bahwa sumber makanan utama Segmen-segmen penyokong garapan karya manusia Tolean berasal dari kerang-kerang. koreografi tari Toaleang Marusu ini didasarkan Tata Tari pada hasil eksplorasi arkeologi yang dijumpai Toaleang Marusu pada lokasi purbakala yang ada di gua Maros, alat-alat kerangka hewan buruan, kerang/ mollusca, alat serpih batu, dan tembikar yang dikonstruksikan dalam perekaciptaan (Wardaninggar, 2019, hlm. , kesemua tari dapat berfungsi secara signifikan terhadap temuan-temuan itu menjadi pijakan dan basis visual tarian tersebut. Basa . 3, hlm. dalam perekaciptaan koreografi tari Toaleang juga mengejawantahkan visualisasi penonton Marusu. dalam apriori tari yang didukung dengan tata Pengejawantahan Interpretasi visual dari busana tarian lighting dapat memformatkan pengalaman Cahaya yang terbias dalam ruang-ruang untuk menciptakan atmosfer purba dan pertunjukan menjadi interpretasi multiplisme penggambaran latar dari lingkungan gua. dari setiap suasana yang terbangun pada Kemudian urat-urat yang menjuntai merepresentasikan jalinan Tari Toaleang Marus disaksikan oleh apresiator. kehidupan masa lalu dan menghadirkan Eksplikasi yang divisualkan dalam reka simbol-simbol koneksi dari alam yang ada cipta Tari Toaleang Marusu juga diejawantahkan di leang-leang Maros. Hadirnya ornamen- melalui penggunaan setting/properti, desain- ornamen moluska sebagai aksesoris, bentuk desain yang dihadirkan dalam pengelolaan manifestasi dari hasil koneksi dari daerah pesisir ataupun wilayah perairan, di mana baru bagi apresiator terhadap sajian yang simbol ini merupakan bukti arkeologis yang dihadirkan dalam ruang-ruang pertunjukan Jurnal Panggung V35/N4/12/2025 Ilham Haruna. Rahma M. Nurwahidah. Syakhruni. Sukmawati Saleh Menurut Hali . 2, hlm. sebuah pertunjukan dapat menghasilkan artistik-estetika pada setiap suasana yang dibangun dalam dramatik tarian, dengan demikian impresi yang dientitaskan dalam perekaciptaan Tari Toaleang Marusu dapat Unsur-unsur dalam artistik reka cipta Tari Toaleang Marusu Gambar 12. Temuan artefak pada leang-leang Maros berupa alat serpih batu yang menjadi bahan inspirasi artistik/properti dalam proses kreatif reka cipta tari Toaleang Marusu. (Sumber: Nur, 2. penelisikan riset, temuan-temuan arkeologi pada tataran leang-leang Maros menjadi basis dihadirkannya artistik/setting ataupun properti tersebut. elemen-elemen pendukung perekaciptaan koreografi tari Toaleng Marusu sehingga dapat menghadirkan manifestasi dan simbol ataupun bahasa-bahasa tari yang sesuai dengan karakteristik tarian. Rustiyanti . 0, 453-. Gambar 13. Artistik/properti yang digunakan dalam proses kreatif reka cipta tari Toaleang Marusu. (Sumber: Ilham, 2. pertunjukan tari baik itu pereka ciptaannya berbasis tradisi, nontradisi, ataupun dalam dapat dimanifestasikan secara mendalam Pengolahan koreografi tari yang telah dilakukan dengan menginkorporasikan segala anasir-anasir tari seperti vokabuler gerak, musik iringan, artistik/properti, makeup, mengejawantahkan reka cipta Tari Toaleang Marusu dan selanjutnya disajikan kepada Setelah usai pertunjukan pun selanjutnya dapat dilakukan evaluasi untuk mendiskusikan keberlanjutan reka cipta tari Jurnal Panggung V35/N4/12/2025 Gambar 14. Menginkorporasikan koreografi dan artistik, setting/properti dalam reka cipta tari Toaleang Marusu. (Sumber: Ilham, 2. Toaleang Marusu: Konsep Kreativitas Perekaciptaan Tari Inspirasi dari Jejak Peradaban Manusia Leang-leang Maros di Sulawesi Selatan Konstelasi itu menjadi basis inspirasi reka cipta tari, proses-proses inkorporasi yang dilalui oleh pereka cipta untuk meramu. Gambar 15. Menginkorporasikan koreografi dan properti batu dalam reka cipta tari Toaleang Marusu. (Sumber: Sinar, 2. mengkreasikan, dan menyajikannya sebagai suatu produk yang menjangkau nilai-nilai estetika seni merupakan bagian dari laku ekspresi manusia. Repertoar tari yang telah dikelindan dengan meleburkan anasir-anasir tari seyogyanya menjadi daya imajinasi Segmentasi Adegan pada Jejak Peradaban Manusia Toalean dari Hasil Reinterpretasi sebagai daya kreativitas dalam Reka Cipta Koreografi Tari Toaleang Marusu Kiblat dari perekaciptaan koreografi Tari Toaleang Marusu seyogyanya telah mengadopsi dan kreativitas yang dapat mensahihkan perekaciptaan koreografi tari Toaleang Marusu. Adapun aktualisasi dari proses kreatif tersebut sebagai hasil luaran yang telah disajikan dalam sebuah pertunjukan tari lihat gambar 16, gambar 17, dan gambar 18. temuan-temuan arkeologi berupa artefakartefak prasejarah masyarakat Toalean, baik itu berupa sisa hasil pengolahan kerang, batu lancipan, dan lukisan-lukisan cap tangan manusia serta lukisan hewan endemik yang merupakan gambar tertua yang ditemukan di dalam gua-gua yang ada di wilayah Maros Sulawesi Selatan. Temuan-temuan ini mejadi bahan baku yang secara eksplisit dapat dianalisis secara ontologis. Misalnya pada cap-cap tangan, hal ini tidak hanya dimaknai sebagi lukisan namun juga lebih mendalam pada proses ritual masyarakat Toalean. Selanjutnya diramu secara kreatif sebagai bentuk interpretasi dan transformasi ke dalam gerak misalnya pada artefak batu, ini bisa dijadikan sebagai gerak-gerak staccato dengan desain lantai melancip/segitiga. Kemudian dari interpretasi gua sebagi tempat tinggal masyarakat Toalean ditransformasikan ke dalam gerak-gerak dengan level bawah dan gestur tubuh meruduk. SIMPULAN Perekaciptaan koreografi tari senantiasa ruang-ruang signifikan sehingga menemukan gagasangagasan ide yang dapat mendorong daya imaji kreatif seorang kreator tari. Pereka cipta yang dapat menginkorporasikan ide dan gagasan menjadi sebuah konsep artistikestetika, hal tersebut merupakan kecakapan dalam mengolah serta mengelaborasi laku kreatifnya sebagai bentuk ekspresi menjadi sebuah produk seni. Kebaruan atau novelty yang dimuarakan dalam hal ini berupa perekaciptaan koreografi Tari Toaleang Marusu sebagai sebuah idiom, proses itu dapat mengejawantahkan praksis-praksis yang telah ditata sedemikian rupa, dimulai dari praimaji, kemudian melintasi imaji abstrak, dan kemudian menghasilkan imaji konkret. Repertoar Tari Toaleang Marusu ini adalah bentuk dari imaji konkret yang Jurnal Panggung V35/N4/12/2025 Ilham Haruna. Rahma M. Nurwahidah. Syakhruni. Sukmawati Saleh telah dientitaskan oleh pereka cipta dalam praksis kreatifnya. Perwujudan artistik dari jejak kebudayaan prasejarah Toalean yang ditemukan di situs-situs purbakala Maros. Sulawesi Selatan tersebut mempresentasikan temuan-temuan Gambar 16. Segmentasi adegan penari dengan simbol-simbol tangan yang terinspirasi dari lukisan cap tangan pada leang-leang Maros dalam reka cipta tari Toaleang Marusu. (Sumber: Ilham, 2. yang digunakan sebagai bahan perenungan utama dalam merancang setiap gerakannya. Manifestasi perekaciptaan tari tersebut dalam reka cipta koreografi Tari Toaleang Marusu menjadi temuan . roblem solve. Ruang-ruang dilakukan dalam mengembangkan sebuah reka cipta tari tidak lain untuk membangun konstruksi pemikiran kreator seni sebagai Penjajakan Budaya manusia Gambar 17. Segmentasi adegan penari sedang memainkan batu, adegan ini terinspirasi dari temuan artefak batu lancipan point di leangleang Maros dalam reka cipta tari Toaleang Marusu. (Sumber: Ilham, 2. prasejarah Toalean menjadi refleksi alih wahana yang tertuang pada sebuah repertoar tari Toaleang Marusu, hal ini sejatinya dapat mensahihkan reka cipta tari tersebut. Hasil transformasi perekaciptaan ini berdampak pula sebagai utilitas dalam keberlanjutan proses kreatif yang sejenis, baik dari seni gerak maupun produk seni lainnya, serta yang utama adalah eksistensi dari ekologi situssitus prasejarah leang-leang Maros ini dapat terawat keberadaanya. *** Gambar 18. Segmentasi adegan penari sedang mengejawantahkan aktivitas masyarakat Toalean dalam reka cipta tari Toaleang Marusu, simbol-simbol dalam pengkomposisian koreografi tari ini terinspirasi dari praksis berburu dan mengumpulkan kerang/mollusca. (Sumber: Ilham, 2. Jurnal Panggung V35/N4/12/2025 Toaleang Marusu: Konsep Kreativitas Perekaciptaan Tari Inspirasi dari Jejak Peradaban Manusia Leang-leang Maros di Sulawesi Selatan DAFTAR PUSTAKA