HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TERHADAP KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI PUSKESMAS PAGAMBIRAN Annisa Namirah Nasution1. Maimunah R2. Nopita Yanti Sitorus3 STIKes Flora Email: annisanamirah96@gmail. ABSTRAK Stunting adalah masalah kekurangan nutrisi kronik yang ditandai dengan tinggi badan menurut umur yang berada <-2 SD sesuai median standar pertumbuhan anak. Stunting menyebabkan buruknya kualitas sumber daya manusia yang akan menurunkan produktivitas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu terhadap kejadian stunting pada balita di Puskesmas Pagambiran Kota Padang. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Pagambiran Kota Padang pada bulan November 2021- Desember 2022. Sampel penelitian adalah ibu dan anak yang berusia 24-59 bulan sebanyak 174 orang. Pengambilan sampel menggunakan Stratified Random Sampling. dan Simple Random Sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Uji statistik yang digunakan yaitu Chi square. Hasil penelitian univariat ibu yang berpengetahuan rendah sebanyak 63 orang . ,2%). Hasil penelitian bivariat dengan analisis chi square diperoleh p value pengetahuan ibu . =0,. Kesimpulan penelitian adalah terdapat hubungan pengetahuan ibu terhadap kejadian stunting pada balita di Puskesmas Pagambiran Kota Padang. Kata Kunci: Stunting. Pengetahuan Ibu PENDAHULUAN serta kekurangan zat gizi mikro terutama anemia yang masih menjadi tantangan besar (Vinet & Zhedanov, 2. Indonesia merupakan salah satu negara dengan dibandingkan negara-negara berpendapatan menengah lainnya (Kemenkes RI & BPS. Tahun 2019 prevalensi stunting secara global adalah 21,3% . anak usia di bawah 5 tahun mengalami stunting (UNICEF, 2. Sedangkan pada tahun 2020 prevalensi stunting sebanyak 22% ( 149,2 jut. (UNICEF, 2. Asia sekitar 54% anak usia dibawah 5 tahun mengalami stunting dan dua per lima dengan prevalensi 40% tinggal di Afrika (UNICEF, 2. Prevalensi stunting di Timor Leste sebanyak 48,8% dan di Indonesia sebanyak 31,8% (UNICEF, 2. Stunting malnutrisi secara global yang sampai saat ini masih mendapatkan perhatian dunia (Sudikno et al. , 2. Pada tahun 2020. COVID-19 pangan dan memperburuk kondisi kesehatan yang ada di antara anak-anak. (UNICEF, Stunting adalah kondisi dimana balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan umur. Kondisi ini diukur dengan panjang atau tinggi badan yang kurang dari minus dua standar deviasi median standar pertumbuhan anak dari WHO (Kemenkes RI, 2. lndonesia masih mengalami beban ganda masalah gizi yaitu masih tingginya prevalensi stunting, wasting dan obesitas Prevalensi stunting di Indonesia selama periode 5 tahun mengalami penurunan sebesar 6,4% di tingkat nasional, yaitu dari 37,2% dari tahun 2013 menjadi 30,8% pada tahun 2018 (Kemenkes RI & BPS, 2. Pada tahun 2019 angka prevalensi stunting 27,67% (Kemenkes RI. Sedangkan pada tahun 2020 angka prevalensi stunting 32,8% (UNICEF 2. Stunting pada tahun 2019 di provinsi Sumatera Barat dengan kasus angka kejadian stunting 27,47%. Prevalensi stunting di kota Padang tahun 2019 adalah 20,92 % (Kemenkes RI & BPS, 2. Berdasarkan peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting maka salah satu lokasi stunting yang berada di Sumatera Barat adalah kota Padang (Perpres, 2. Data laporan Dinas Kesehatan Kota Padang tahun 2020, terdapat 2943 balita Puskesmas dengan kejadian prevalensi tertinggi tahun 2020 terdapat di Puskesmas Seberang Padang yaitu 16,4% namun mengalami penurunan prevalensi dalam waktu tiga tahun terakhir. Puskesmas Pagambiran salah satu puskesmas tertinggi peningkatan dalam tiga tahun terakhir. Tahun 2018, prevalensi kejadian stunting di Puskesmas Pagambiran 5. 65%, tahun 2019 5%, dan tahun 2020 sebanyak yaitu 12,3%. (Profil Kesehatan Padang. Masa kehamilan membutuhkan berbagai unsur gizi yang lebih banyak. Gizi pada ibu hamil selain diperlukan untuk memenuhi kebutuhan ibu sendiri, diperlukan juga untuk pertumbuhan dan perkembangan janin yang ada dalam kandungannya (Moehji. Permasalahan diperhatikan sejak masih dalam kandungan. Riwayat status gizi ibu hamil menjadi faktor penting terhadap keadaan kesehatan dan Gangguan pertumbuhan dalam kandungan dapat menyebabkan berat badan lahir rendah yang berisiko mengalami stunting (WHO, 2. Stunting merupakan masalah gizi kronis yang disebabkan oleh multi-faktorial dan bersifat antar generasi. Faktor yang menyebabkan terjadinya stunting adalah kekurangan gizi yang dialami ibu saat hamil, kemiskinan dan kehamilan ibu dibawah umur. IUGR, kelahiran belum cukup bulan atau prematur, serta bayi yang lahir dengan berat badan lahir rendah (UNICEF, 2. Penelitian di Burundi tingkat pendidikan ibu, pengetahuan ibu tentang penilaian status gizi anak dan pemberian fasilitas kesehatan merupakan prediktor stunting anak (Nkurunziza et al. , 2. Penelitian yang dilaksanakan di Lampung Tengah juga melaporkan hasil bahwa status gizi ibu selama kehamilan berhubungan secara signifikan dengan kejadian stunting pada balita usia 6-59 bulan (Alfarisi et al. Hal yang sama berkaitan dengan hal tersebut terdapat penelitian hubungan antara status gizi ibu saat hamil dengan kejadian stunting pada balita usia 6-36 bulan (Sukmawati et al. , 2. Alasan pengambilan usia 24-59 bulan karena pada usia 24-59 bulan jika sudah terjadi stunting maka tidak bisa dikembalikan dalam kondisi normal atau jika sudah berusia 24-59 bulan balita yang mengalami stunting tidak akan bisa dicegah lagi, sedangkan pada usia 0-23 bulan seperti yang kita ketahui periode tersebut merupakan periode emas. Kemudian alasan lain adalah kecepatan pertumbuhan pada balita usia 24-59 bulan sudah melambat jika dibandingkan dengan pertumbuhan 0-23 bulan (Rahayu et al. , 2. United Nations ChildrenAos Emergency Fund (UNICEF) menyatakan kekurangan makanan dan penyakit adalah penyebab langsung kekurangan gizi. Sementara makanan dan penyakit juga memiliki faktor penyebab, yaitu kekurangan makanan pada rumah tangga, pengasuhan dan makanan untuk anak yang kurang memadai, serta lingkungan yang tidak sehat, termasuk kurangnya akses ke fasilitas kesehatan (BPS, 2. Dampak dari stunting pada anak mulai dari awal kehidupan dan akan berlanjut pada siklus berikutnya. Stunting berdampak buruk terhadap perkembangan Pada menyebabkan perlambatan dan pengurangan jumlah dan pengembangan sel otak dan organ lainnya (Supariasa, 2. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah segi sampelnya seluruh balita, kemudian karakteristik wilayah yang berbeda, serta fokus penelitian ini untuk melihat dari segi faktor ibunya dikarenakan faktor awal penentu perkembangan anak. Puskesmas Pagambiran merupakan salah satu puskesmas dengan prevalensi kejadian stunting tertinggi pada tahun 2020 dan mengalami peningkatan prevalensi stunting dari tahun 2018 hingga 2020. Dari beberapa hal yang telah dipaparkan diatas menarik minat peneliti untuk melakukan peneltian tentang Hubungan Pengetahuan Ibu Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Pagambiran Kota Padang. adalah ibu yang bersedia menjadi responden, ibu yang mempunyai buku KIA dan pengisian buku KIA lengkap, anak tidak mempunyai kelainan bawaan, dan anak yang dilahirkan cukup bulan dan lajang. Sedangkan kriteria eksklusinya adalah ibuibu yang tidak dapat bertemu tiga kali berturut-turut. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode proporsional randoms ampling sehingga diperoleh hasil setiap desa yaitu Desa Pagambiran 64 sampel. Desa Pampangan 41 sampel. Desa Batuang Taba 31 sampel . Desa Kampuang Jua 19 sampel dan Desa Gerbang 19 sampel. Teknik menggunakan teknik simple random Pengumpulan data dilakukan selama dua bulan, yaitu pada bulan Agustus hingga September 2022. Pengumpulan data dilakukan dengan mengukur tinggi dan berat badan anak serta melakukan wawancara dan observasi terhadap ibu-ibu dengan menggunakan Data menggunakan SPSS untuk uji univariat untuk mengetahui distribusi frekuensi. Analisis bivariat menggunakan chi-square. HASIL PENELITIAN Distribusi Karakteristik Pagambiran METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan menggunakan desain crosectional. Penelitian dilakukan di tol Puskesmas Pagambiran Kota Padang pada bulan November sampai Desember 2022. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak usia 24-59 bulan beserta ibu di tol Puskesmas Pagambiran Kota Padang. Sampel penelitian berjumlah 174 responden dan sampel tersebut harus memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang telah Kriteria inklusi penelitian ini Karakteristik Responden Umur 20 Ae 25 Tahun >35 Tahun Pendidikan Ibu Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Ibu Tidak Bekerja Bekerja Frekuensi Responden Berdasarkan Puskesmas PEMBAHASAN Karakteristik Responden di Puskesmas Pagambiran Tabel 1 menunjukkan bahwa responden dalam penelitian ini adalah 174 ibu yang mempunyai balita usia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Pagambiran. Distribusi frekuensi usia ibu menunjukkan distribusi tertinggi . %) pada usia 20-35 tahun, artinya sebagian besar responden berada pada usia optimal untuk hamil dan Hasil menunjukkan tidak ada ibu yang berusia <20 tahun, dan sebanyak 8% ibu berusia >35 tahun. Kedua kelompok umur tersebut berisiko. Tabel 2 menunjukkan bahwa sebanyak 74 orang . ,5%) balita umur 24-59 bulan di Puskesmas Pagambiran Kota Padang mempunyai tinggi badan Pendidikan mempengaruhi seseorang dengan cenderung makin mudah untuk menerima informasi yang ia dapat seakan membentuk tindakan dan perilaku seseorang. Tingkat pendidikan formal ibu dalam penelitian ini paling banyak adalah kelompok pendidikan dasar dan menengah pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan dan sikap SLTA/sederajat . ,9%) SLTP/sederajat . ,1%). Pendidikan formal dari ibu sering kali mempunyai hak yang Berdasarkan Tabel 1 menerangkan bahwa sebagian besar ibu dalam penelitian ini berada pada kelompok umur 20-35 tahun sebanyak 160 orang . %), untuk umur > 35 tahun sebnayak 14 orang . %) dan tidak terdapat ibu pada kelompok umur < 20 Sebagian besar ibu memiliki tingkat pendidikan sebagai tamat SLTA/sederajat sebanyak 146 orang . ,9%). Selanjutnya pada tingkat pekerjaan, mayoritas pekerjaan ibu adalah ibu rumah tangga sebanyak 170 orang . ,7%). Disribusi Frekuensi Kejadian Stunting Pada Balita umur 24-59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Pagambiran Kejadian Stunting Stunting Normal Total Frekuensi . Persen (%) 42,5 % 57,5 % Berdasarkan tabel 2 menerangkan bahwa sebagian besar anak dalam penelitian ini berada pada kelompok umur 36-47 bulan sebanyak 58 orang . ,3%). Sebagian besar anak berjenis kelamin laki-laki sebanyak 91 orang . ,3%). Hasil Analisis Bivariat Hubungan Pengetahuan Ibu Terhadap Kejadian Stunting Di Puskesmas Pagambiran Berdasarkan Tabel 3 menerangkan bahwa persentase kejadian stunting paling banyak terjadi pada ibu dengan pengetahuan rendah yaitu 24,7%. Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,001 . <0,. Berdasarkan disimpulkan bahwa ada terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Pagambiran Kota Padang. Total Stunting Tidak Pengeta Ibu Rendah Tinggi Total positif dengan pengembangan pola-pola konsumsi makanan dalam keluarga. Semakin tinggi tingkat pendidikan ibu maka semakin baik pengetahuan gizi dan semakin bisa dalam memperhitungkan jenis dan pengolahan makanan serta jumlah makanan yang dipilih untuk dikonsumsi sehari-hari (Musni et al. , 2. Persentasenya hampir semua ibu . ,7%) tidak bekerja dan beraktivitas sebagai ibu rumah tangga. Ibu yang bekerja hanya sebanyak 2,3%. Ibu yang bekerja pengetahuannya disebabkan pengalaman dan pergaulan serta interaksi sosial yang lebih luas daripada ibu yang tidak bekerja (Notoatmodjo,2. Tabel 5. 9 menyatakan bahwa sebanyak 63 . ,2%) dari total responden 174 balita memiliki pengetahuan rendah. Hasil uji statistik di dapatkan p value 0,001 yang artinya terdapat hubungan yang sangat signifikan antara tingkat pengetahuan ibu dengan kejadian stunting pada balita di Puskesmas Pagambiran. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Darmini. Fitriana and Vidayanti tahun 2022 menyatakan ada hubungan pengetahuan dengan kejadian stunting. Hasil uji statistik chi square didapatkan p value = 0,000 < . artinya terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu tentang gizi seimbang dengan kejadian stunting pada balita usia 2-5 tahun di Puskesmas Kintamani V. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Gea. Putri and Damailia, 2021 di Kecamatan Cikulur Lebak Banten Tahun menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan gizi ibu dengan stunting. Penelitian Amalia. Lubis Khoeriyah menyatakan ada hubungan hubungan antara pengetahuan ibu tentang gizi dengan kejadian stunting pada balita di Puskesmas Saptosari yang ditunjukkan dengan hasil sig. 0,000 < 0,05 . Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Fitriani and Darmawi tahun 2022 hubungan antara pengetahuan ibu dengan kejadian balita stunting dengan hasil p-value = 0,698. Penelitian yang dilakukan (Sitanggang et al. , 2. menjelaskan tidak ada pengetahuan terhadap kejadian stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Perdagangan . = 0,606 >0,. Kemudian, penelitian yang dilakukan (Fatimah et al. , 2. mengatakan bahwa tidak ada hubungan pengetahuan ibu terhadap kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Pekauman Kota Banjarmasin dengan p = 0,481 > 0,05. Notoadmodjo dalam bukunya pada tahun 2016 mengatakan bahwa tingkat pengetahuan individu dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi kemampuan individu dalam memahami . tentang obyek yang diketahui tidak sekedar mampu untuk menyebutkan tetapi juga harus dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar hal tersebut diperoleh dari jenjang pendidikan atau pola pikir yang dipengaruhi oleh budaya dan lingkungan dalam tatanan masyarakat (Notoadmodjo, 2. Rendahnya pengetahuan seseorang diakibatkan karena faktor eksternal yaitu kurangnya keterpaparan oleh media massa tentang informasi kesehatan, baik media cetak, media elektronik yang kaitannya berhubungan dengan informasi tentang gizi ibu dan balita seperti stunting salah satu contohnya (Notoadmodjo, 2. Asumsi peneliti, pengetahuan adalah modal utama bagi ibu untuk mengetahui suatu hal itu baik atau tidak, sehingga akan berdampak pada ibu untuk dapat pemenuhan gizi termasuk gizi untuk balita. Ibu dengan pengetahuan tinggi cenderung memilih makanan yang bergizi untuk kebutuhan dirinya dan keluarga, dengan berbagai pengelolaan makanan yang sesuai. Penemuhan makanan gizi seimbang sangat dibutuhkan pada 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupa. mengingat banyaknya faktor langsung maupun tidak langsung yang mempengaruhi kejadian stunting berupa tinggi badan ayah, penyakit infeksi, sosial budaya, demografi , pendapatan perkapita. KESIMPULAN Kesimpulannya terdapat hubungan pengetahuan ibu yang rendah sebanyak 43 orang . ,7%) terhadap kejadian stunting pada balita di Puskesmas Pagambiran DAFTAR PUSTAKA Book Dinas Kesehatan Kota Padang. Profil Kesehatan Tahun 2020: Dinas Kesehatan Kota Padang. Profil Kesehatan Padang, 283. Direktorat Gizi Masyarakat. Panduan Pelaksanaan Pemantauan Pertumbuhan di Posyandu untuk Kader dan Petugas Posyandu. Direktorat Gizi Masyarakat, https://infeksiemerging. id/do cument/download/DyEObL06QN Fikawati. , & Syahfiq. Gizi Ibu dan Bayi. PT. RAJA GRAFINDO PERSADA. Hanum. Khomsan. , & Heryatno. Hubungan Asupan Gizi dan Tinggi Badan Ibu dengan Status Gizi pada Balita. Jurnal Gizi Dan Pangan, 9. , 1Ae6. Hannum. NH . Hubungan Tinggi Badan Ibu dan Pemberian Riwayat MPASI dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 24-59 Bulan. Nutrisi Amerta, 3. , 78Ae84. https://doi. org/10. 2473/amnt. Kemenkes RI. Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan: Situasi Balita Pendek di Indonesia. Kementerian Kesehatan RI, 20. Kemenkes RI, & BPS. Laporan Pelaksanaan Integrasi Susenas Maret 2019 dan SSGBI Tahun 2019. Kominfo. Bersama Perangi Stunting. Di Direktorat Jenderal Informasi dan KomunikasiPublik. http://indonesiabaik. SARAN