273 Suci Amalia. Salmi Wati PELAKSANAAN PEMBELAJARAN TAHFIDZ DENGAN METODE ONE DAY ONE AYAT DI MTI TARUSAN KAMANG Suci Amalia1. Salmi Wati2 Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Indonesia ARTICLE INFO Correspondence Suci Amalia Email: suciamaliabintizulasri@gmail. Salmi Wati Email: salmiwati73@gmail. ABSTRAK Penelitian ini mempunyai tantangan yaitu masih banyaknya mahasiswa yang belum memenuhi syarat setoran hafalan sehingga mengakibatkan penundaan batas waktu penyelesaian dari satu semester yang ditentukan. Menentukan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program tahfidz Al-Qur'an bagi santri di MTI Tarusan Kamang menjadi tujuan penelitian ini. Metodologi penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan. Sumber data penelitian ini adalah panitia penyelenggara program tahfidz di MTI Tarusan Kamang, pengajar tahfidz, santri MTI Tarusan Kamang, dan pendukung lainnya. Metode pengumpulan data yang digunakan meliputi wawancara, observasi, dan dokumentasi. Metode pengolahan data bersifat kualitatif dan deskriptif. Yang digunakan dalam analisis data adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sebaliknya, teknik keabsahan data menggunakan triangulasi yang melibatkan pemanfaatan berbagai sumber, termasuk dokumentasi dan wawancara dengan banyak informan yang dilakukan peneliti. Hasil penelitian yang diperoleh dari lapangan terdiri dari penemuanpenemuan yang luas dan spesifik. Kesimpulan menyeluruh berkaitan dengan profil MTI Tarusan Kamang. Sementara penemuan khusus awal berkaitan dengan penyelenggaraan program tahfidz Al-Qur'an bagi santri di MTI Tarusan Kamang. Perencanaan yang dilaksanakan terlihat sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam pedoman program tahfidz Al-Qur'an di MTI Tarusan Kamang. Lebih lanjut, terkait dengan pelaksanaan program tahfidz Al-Qur'an bagi mahasiswa MTI Tarusan Kamang, meskipun sebagian besar pelaksanaannya telah berhasil, namun masih terdapat kendala yang menyebabkan tertundanya penyampaian di luar jangka waktu yang dijadwalkan. Tantangan yang muncul di lapangan antara lain guru yang menjabat sebagai pengawas tahfidz terlalu disibukkan dengan kewajiban profesionalnya, guru yang mengundurkan diri pada masa peralihan status pengawas tahfidz, kesulitan dalam melaksanakan program tahfidz, dan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menghafal titipan bagi siswa. yang bergelut dengan Al-Qur'an. Evaluasi internal dan evaluasi eksternal merupakan komponen ketiga yang berkaitan dengan penilaian. Untuk melakukan evaluasi internal, yayasan berkonsultasi dengan instruktur mengenai tantangan yang mereka hadapi dan memikirkan solusi untuk semester berikutnya. Saat ini tidak ada evaluasi eksternal yang sedang berlangsung. Kata Kunci: Implementation. Learning. Al-Quran Pendahuluan Al-QurAoan merupakan mukjizat terbesar yang dianugerahkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, karena keagungan dan kesempurnaannya melampaui seluruh karya manusia. Al-QurAoan disebut Suci Amalia. Salmi Wati sebagai kalamullah yang kesucian dan keasliannya senantiasa terpelihara dari perubahan dan penyelewengan sepanjang masa (Syamsudin, 2007:. Sebagai wahyu yang diturunkan secara bertahap kepada Rasulullah SAW. Al-QurAoan menjadi bukti nyata kebesaran Allah SWT serta menjadi petunjuk bagi umat manusia dalam seluruh aspek kehidupan. Keberadaan Al-QurAoan yang abadi tidak hanya menunjukkan kemukjizatannya dalam aspek bahasa dan kandungan, tetapi juga dalam sistem pelestariannya yang unik dan terjamin sepanjang sejarah. Sebagai landasan utama doktrin Islam. Al-QurAoan memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai pedoman hidup dan sumber hukum bagi seluruh umat Islam. Ayat-ayatnya memuat prinsip-prinsip moral, sosial, dan spiritual yang dapat diterapkan di segala waktu dan tempat. Allah SWT sendiri telah menjamin kelestarian Al-QurAoan melalui firman-Nya dalam surah Al-Hijr ayat 9, yang menyatakan bahwa Dia sendirilah yang akan menjaga kemurniannya. Salah satu bentuk nyata dari penjagaan tersebut adalah tradisi tahfidzul QurAoan atau menghafal Al-QurAoan, yang telah menjadi bagian penting dari warisan keilmuan Islam. Melalui penghafalan, setiap generasi muslim turut serta dalam menjaga kemurnian wahyu Allah dari perubahan dan Menurut Ramli Abdul Wahid. Al-QurAoan diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk bagi kehidupan manusia dan sebagai kitab suci umat Islam. Hal senada diungkapkan oleh Hasan Zaini dan Radhiatul Hasnah yang menegaskan bahwa Al-QurAoan adalah kalamullah yang memiliki nilai ibadah ketika dibaca dan dihafalkan. Wahyu ini diturunkan secara mutawatir dan terkodifikasi dalam mushaf mulai dari surat Al-Fatihah hingga An-Nas (Hasan Zaini, 2010:. Kajian terhadap Al-QurAoan memiliki beberapa tingkatan, dimulai dari membaca dengan benar sesuai kaidah tajwid, memahami makna ayat-ayatnya, hingga menghafalkannya sebagai bentuk pengamalan mendalam terhadap firman Allah. Kegiatan menghafal Al-QurAoan merupakan bentuk ibadah yang sangat mulia, karena berfungsi tidak hanya sebagai upaya menjaga kemurnian wahyu, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter dan spiritualitas umat Islam. Al-QurAoan menjadi sumber inspirasi dan motivasi dalam menjalani kehidupan sehari-hari, serta menjadi dasar pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Qardhawi . 9:187-. menegaskan bahwa pengkajian, pemahaman, dan penghafalan Al-QurAoan merupakan proses yang saling berkaitan. Meskipun menghafal lebih mudah dilakukan di usia kanak-kanak, orang dewasa pun memiliki tanggung jawab untuk terus memperdalam pemahaman dan hafalan mereka, meski dihadapkan pada kesibukan dan tantangan kehidupan. Menghafal Al-QurAoan telah menjadi metode universal dalam menjaga keutuhan kitab suci ini. Orang-orang yang berpartisipasi dalam kegiatan tahfidz dianggap istimewa karena mereka menjadi bagian dari penjaga Al-QurAoan. Namun, tantangan besar muncul ketika harus menanamkan semangat ini kepada generasi muda. Tidak sedikit orang tua yang menganggap hafalan sebagai tugas berat, padahal sebenarnya hal tersebut merupakan investasi spiritual yang besar. Oleh sebab itu, diperlukan dukungan lingkungan dan sistem pendidikan yang dapat memfasilitasi serta menumbuhkan semangat menghafal sejak dini, baik di rumah maupun di lembaga pendidikan formal dan nonformal. Dalam sejarah Islam, banyak ilmuwan besar yang memulai perjalanan intelektual mereka dengan menghafal Al-QurAoan. Imam SyafiAoi, pendiri mazhab SyafiAoiyah yang berpengaruh di Indonesia, telah menghafal Al-QurAoan pada usia tujuh tahun. Begitu pula Ibnu Sina, seorang ilmuwan besar dalam bidang kedokteran dan filsafat, telah menuntaskan hafalannya pada usia sembilan tahun. Fakta ini menunjukkan bahwa tahfidzul QurAoan bukan hanya menjadi dasar pendidikan agama, tetapi juga menjadi fondasi bagi Vol 1 No 03 . : Riset Islamika DOI : https://doi. org/10. 1852/ri. Suci Amalia. Salmi Wati pengembangan ilmu pengetahuan lainnya. Dengan demikian, kegiatan tahfidz seharusnya menjadi bagian integral dalam sistem pendidikan Islam, karena berfungsi menanamkan nilai kedisiplinan, ketekunan, dan keikhlasan dalam diri peserta didik. Di MTI Tarusan Kamang, pelaksanaan Program Tahfidz Al-QurAoan menjadi salah satu program wajib bagi seluruh peserta didik. Program ini tidak hanya menjadi kegiatan tambahan, tetapi juga menjadi syarat untuk mengikuti ujian kenaikan kelas dan wisuda. Penilaian terhadap keberhasilan siswa dalam program ini meliputi kelancaran hafalan, ketepatan tajwid, dan kemampuan dalam mempertahankan hafalan melalui kegiatan murajaAoah. Program ini dilaksanakan secara terstruktur di masjid, musala, dan ruang kelas dengan pengawasan dari pembimbing atau musrif yang telah memenuhi kriteria tertentu, seperti hafal minimal satu juz dan mahir membaca Al-QurAoan. Pelaksanaan program tahfidz di MTI Tarusan Kamang menggunakan metode One Day One Verse yang diperkenalkan oleh Ammar Machmud. Metode ini bersifat teknis dan terdiri dari sembilan langkah sistematis, mulai dari pengenalan huruf Arab dan Latin, pembacaan ayat oleh guru, pelafalan bersama siswa, hingga tahap penghapalan bertahap dengan bantuan kata kunci. Proses ini menggabungkan pembelajaran auditori, visual, dan kinestetik agar hafalan lebih kuat dan tahan lama. Tahapan program juga meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Dalam tahap evaluasi, siswa diuji dengan melanjutkan potongan ayat yang dibacakan pembina, kemudian dinilai berdasarkan kelancaran, ketepatan bacaan, serta penguasaan tajwid. Namun, dalam pelaksanaannya. Program Tahfidz Al-QurAoan di MTI Tarusan Kamang tidak terlepas dari berbagai kendala. Beberapa siswa menghadapi kesulitan dalam mengatur waktu antara kegiatan belajar akademik dan hafalan. Selain itu, keterbatasan waktu setoran hafalan serta gangguan konsentrasi akibat aktivitas non-akademik juga menjadi hambatan tersendiri. Akibatnya, sebagian siswa tidak dapat menyelesaikan target hafalan dalam waktu yang telah ditetapkan, yang berimbas pada tertundanya pelaksanaan ujian kenaikan kelas. Kondisi ini menuntut adanya perbaikan manajemen waktu, peningkatan motivasi belajar, serta dukungan dari pihak guru dan pembimbing untuk memastikan keberhasilan program secara menyeluruh. Berdasarkan fenomena tersebut, penulis tertarik untuk meneliti lebih dalam implementasi program Tahfidz Al-QurAoan di MTI Tarusan Kamang, terutama dalam penerapan metode One Day One Verse yang digunakan sebagai strategi pembelajaran hafalan. Penelitian ini penting untuk mengetahui sejauh mana metode tersebut efektif dalam meningkatkan kemampuan hafalan siswa, serta bagaimana faktor pendukung dan penghambatnya dalam konteks lembaga pendidikan Islam. Oleh karena itu, penulis mengangkat judul penelitian AuImplementasi Pembelajaran Tahfidz di MTI Tarusan Kamang Menggunakan Metode One Day One VerseAy, sebagai upaya memberikan kontribusi ilmiah terhadap pengembangan model pembelajaran tahfidz yang inovatif dan aplikatif di lingkungan pendidikan Islam. Metode Pelaksanaan Penelitian ini merupakan penelitian lapangan . ield researc. , yaitu penelitian yang dilakukan secara langsung di lokasi penelitian untuk memperoleh data empiris yang berkaitan dengan objek kajian. Penelitian lapangan memiliki karakteristik di mana peneliti sendiri turun ke lapangan untuk mengamati, mencatat, dan menganalisis fenomena yang terjadi di tempat tertentu sesuai fokus penelitian. Dalam hal ini, lokasi penelitian ditetapkan di MTI Tarusan Kamang. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, yakni pendekatan yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Metode kualitatif dipilih karena memberikan gambaran menyeluruh Suci Amalia. Salmi Wati dan mendalam mengenai implementasi pembelajaran tahfidz dengan metode One Day One Ayat di MTI Tarusan Kamang. Melalui pendekatan ini, peneliti berupaya memahami konteks, proses, serta makna yang terkandung dalam pelaksanaan program tahfidz secara natural dan holistik. Lokasi penelitian merupakan tempat di mana peneliti melakukan kegiatan pengumpulan data guna menemukan pemecahan terhadap permasalahan yang diteliti (Sukardi, 2008:. Pemilihan lokasi dilakukan secara cermat dengan mempertimbangkan kesesuaian terhadap tujuan penelitian dan kemudahan akses terhadap sumber data. Adapun lokasi penelitian ini adalah Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Tarusan Kamang yang beralamat di Jorong Halalang. Kamang Magek. Kabupaten Agam. Provinsi Sumatera Barat. Peneliti menetapkan informan utama dalam penelitian ini, yaitu para pengajar tahfidz di MTI Tarusan Kamang, sedangkan siswa berperan sebagai informan pendukung atau sumber sekunder. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tiga metode utama, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi, yang saling melengkapi untuk memperoleh informasi yang akurat dan mendalam. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman yang meliputi empat tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, verifikasi, dan penarikan kesimpulan. Untuk menjamin keabsahan data, peneliti menggunakan uji kredibilitas melalui teknik triangulasi sumber dan triangulasi teknis agar data yang diperoleh valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Hasil dan Pembahasan Hasil Penerapan Pendekatan One Day One Ayat pada Pengajaran Tahfiz di MTI Tarusan Kamang Hasil penelitian penerapan pendekatan satu hari satu ayat pada pembelajaran tahfizd di MTI Tarusan Kamang adalah sebagai berikut: Terlihat dari kegiatan penerapan metode pembelajaran satu hari satu ayat di MTI Tarusan Kamang, langkah awal yang dilakukan adalah: Sebelum mengharuskan siswa menghafalkan ayat-ayat tersebut, instruktur menuliskan ayat-ayat Al-Quran di papan tulis dan memberikan instruksi untuk membaca ayat-ayat tersebut dalam hati. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ammar Machfud bahwa penerapan awal pendekatan One Day One Verse mengharuskan siswa membubuhkan ayat-ayat hafalan . erupa huruf Arab dan Lati. di papan tulis. Pada pelaksanaan metode pembelajaran satu ayat satu hari kedua di MTI Tarusan Kamang, terlihat bahwa pengajar biasanya membacakan ayat tersebut untuk dihafal oleh siswa sebelum dihafalkan. Hal ini sesuai dengan penegasan Ammar Machfud bahwa penerapan metode One Day One Verse yang kedua adalah pengajar membacakan ayat tersebut dengan lantang, jelas, riuh, dan lancar sambil ditiru oleh siswa. Pada pelaksanaan metode pembelajaran satu ayat satu hari ketiga di MTI Tarusan Kamang, terlihat siswa mencapai hasil yang diinginkan dengan mengulang ayat tersebut dengan lantang sambil tetap menjaga kontak mata dengan teks tertulis. Biasanya seluruh santri diwajibkan membaca dan melafalkan ayat tersebut sampai hafal, setelah ustad selesai menyusunnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ammar Machfud bahwa penerapan pendekatan Satu Hari Satu Ayat yang ketiga adalah meminta siswa secara individu untuk mengulangi ayat yang telah dibaca sebelumnya. Pada pelaksanaan metode pembelajaran satu hari satu ayat keempat di MTI Tarusan Kamang, terlihat Ustadz menilai hafalan dengan cara menghapus ayat yang tertulis di papan tulis dan selanjutnya mempertahankan beberapa segmen pendahuluan ayat tersebut. Hal ini memudahkan pembacaan lanjutan Vol 1 No 03 . : Riset Islamika DOI : https://doi. org/10. 1852/ri. Suci Amalia. Salmi Wati ayat tersebut oleh siswa. Ammar Machfud sependapat dengan pendapat tersebut, dengan menyatakan bahwa penerapan metode tersebut adalah sebagai berikut: Hari Pertama Pertama Ayat sebelumnya, kecuali huruf awalnya, tidak ada isinya sama sekali dalam ayat keempat. Pada pelaksanaan metode pembelajaran satu hari satu ayat yang kelima di MTI Tarusan Kamang, terlihat guru tahfidz menghapus ayat tersebut setelah siswa selesai membacanya di papan tulis. Selanjutnya guru meminta siswa untuk membacakan ayat yang telah dihapus tersebut. Terlihat pada pelaksanaan metode pembelajaran satu hari satu ayat keenam di MTI Tarusan Kamang, pengajar menggunakan nada untuk membacakan ayat-ayat yang telah dihafal siswa. Latihan ini memudahkan siswa dalam mengingat ayat-ayat yang akan dihafal. Setelah setiap santri berhasil menghafal ayat tersebut, ustadz akan sering mengulanginya dengan nada-nada yang membantu dalam hafalan. Terlihat bahwa selama pelaksanaan pendekatan pembelajaran satu hari satu ayat ketujuh di MTI Tarusan Kamang, kebosanan dan ketidaktertarikan siswa diatasi melalui penggunaan permainan yang dilakukan instruktur yang menginspirasi siswa untuk mengingat ayat-ayat tersebut. Banyak permasalahan yang muncul dalam proses menghafal, salah satunya adalah rasa bosan. Oleh karena itu, ustad merancang sebuah permainan yang pesertanya menghafalkan ayat-ayat untuk menghilangkan monoton. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ammar Machfud bahwa metode One Day One Verse yang ketujuh adalah melakukan permainan hafalan secara lugas melalui pengulangan. Bila memanfaatkan pendekatan pembelajaran one day one untuk meliput ayat kedelapan atau ayat terakhir di MTI Tarusan Kamang, maka lazimnya pengajar tahfidz menunjuk setiap santri yang sudah hapal materi untuk membacanya. Hal ini memungkinkan instruktur untuk memverifikasi apakah siswa benarbenar menguasai materi atau tidak. hafal atau tidak. Pada tahap kedelapan dan terakhir, instruktur mengevaluasi hafalan seluruh siswa dengan menunjuk mereka secara individu untuk menyimpan hafalannya tanpa menanyakan urutan hafalan materinya. Tantangan yang Dihadapi Instruktur Pendidikan Tahfizd di Mti Tarusan Kamang Banyak tantangan yang muncul selama proses pembelajaran ketika instruktur mencoba menerapkan pembelajaran Tahfidz Al-Quran di MTI Tarusan Kamang. Beberapa siswa masih kesulitan dalam mengartikan ayat-ayat Al-Quran, hal yang sering menjadi tantangan bagi para pengajar Tahfidz di MTI Tarusan Kamang. Sebelum melakukan hafalan, siswa terlebih dahulu harus memiliki kemampuan membaca Al-Quran sesuai dengan kaidah tajwid dan makhorijul huruf yang benar. Sebab, wajib bagi seluruh umat Islam untuk mengucapkan huruf hijaiyah secara akurat sesuai dengan tajwid, untuk mencegah potensi perbedaan makna atau penafsiran setiap kata dalam Al-Qur'an. Hal ini disebabkan karena kesalahan satu huruf saja dapat menyebabkan kebingungan atau salah tafsir terhadap keseluruhan ayat. Jika ada santri yang kurang kemampuan membaca Al-Quran maka ustadz akan memprioritaskan pengajarannya, yang tentunya akan menghambat kemajuan dan mengakibatkan hasil belajar yang kurang maksimal. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan One Day One Ayat pada pembelajaran tahfidz di MTI Tarusan Kamang berjalan secara sistematis dan terarah melalui delapan tahapan pelaksanaan yang efektif dalam membantu siswa menghafal Al-QurAoan secara bertahap dan Setiap tahapan yang dimulai dari penulisan ayat di papan tulis, pembacaan bersama, pengulangan individu, penghapusan bertahap, hingga evaluasi akhir menunjukkan adanya keterlibatan aktif Suci Amalia. Salmi Wati antara pengajar dan siswa dalam proses hafalan. Metode ini tidak hanya menekankan aspek hafalan, tetapi juga pemahaman terhadap bacaan melalui pengajaran tajwid dan pelafalan yang benar. Namun, dalam pelaksanaannya para instruktur menghadapi sejumlah tantangan, terutama kesulitan siswa dalam membaca dan memahami ayat sesuai kaidah tajwid dan makhraj yang tepat. Kondisi ini menuntut pengajar untuk memberikan perhatian khusus kepada siswa yang masih lemah dalam bacaan agar proses hafalan tidak terhambat dan hasil pembelajaran tahfidz dapat tercapai secara optimal sesuai dengan tujuan Daftar Kepustakaan Abdullah. Menjadi hafiz Al-QurAoan dengan otak kanan. Jakarta: Pustaka Ikadi. Abu Anwar. Ulumul QurAoan: Sebuah pengantar. Pekanbaru: Hamzah. Al-Mulham. Menjadi hafiz Al-QurAoan dengan otak kanan. Jakarta: Pustaka Ikadi. Arif. Pengantar ilmu dan metodologi pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Press. Asdar. Metode penelitian pendidikan. Makassar: Azkiya Publishing. Budiono. Efektivitas metode One Day One Ayat (ODOA) dalam meningkatkan hafalan surat pendek dalam Al-QurAoan pada siswa tunanetra di SDLB Putra Manunggal Gombol. Dwija Cendekia: Jurnal Riset Pedagogik. Universitas Sebelas Maret. Catur Ismawati. Upaya meningkatkan daya ingat anak melalui metode One Day One Ayat pada anak kelompok B1 di TK Masyithoh Al Iman Bandung Jetis Pendowoharjo Sewon Bantul (Skripsi. Universitas Negeri Yogyakart. Everline Siregar, dkk. Teori pembelajaran dan pembelajaran. Bogor: Ghali Indonesia. Ginanjar. Menghafal Al-QurAoan dan pengaruhnya terhadap prestasi akademik mahasiswa (Studi kasus pada mahasiswa program beasiswa di MaAohad Huda Islami. Tamansari Bogo. Jurnal Edukasi Islam: Jurnal Pendidikan Islam, 6. Imam Suprayogi & Tabrani. Metodologi penelitian sosial agama. Bandung: Remaja Rosda Karya. Khoirul Anwar & Mufti Hafiyana. Implementasi metode ODOA (One Day One Aya. dalam meningkatkan kemampuan menghafal Al-QurAoan. Jurnal Pendidikan Islam Indonesia, 2. Situbondo: Universitas Ibrahim Sukarejo. Lefudin. Belajar dan pembelajaran. Yogyakarta: Deepublish. Arifin. Ilmu pendidikan (Cet. Jakarta: Bumi Aksara. Meleong. Metodologi penelitian kualitatif. Jakarta: Remaja Rosda Karya. Nana Sudjana. Dasar-dasar proses belajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Nana Syaodih Sukmadinata. Metode penelitian pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya. Rauf. Kiat sukses menjadi hafid Al-QurAoan daAoiyah. Bandung: Syamil Cipta Media. Ridwan Abdullah Sani. Inovasi pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. Riyad. Langkah mudah menggairahkan anak-anak hafal Al-QurAoan. Surakarta: Samudra. SaAodulloh. Cara cepat menghafal Al-QurAoan. Siregar. Metode penelitian kuantitatif: Dilengkapi dengan perbandingan perhitungan manual & SPSS. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Subhan Nur. Energi ilah tilawah. Jakarta: Penerbit Publik. Sugiyono. Metode penelitian pendidikan: Pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. Sukardi. Metode penelitian pendidikan: Kompetensi dan prakteknya. Jakarta: Bumi Aksara. Sulis Afrianti. Musnar Indra Daulay, & Putri Asilestari. Meningkatkan kemampuan kognitif anak dengan permainan ludo. Aulad: Journal on Early Childhood, 1. Tim Pustaka Phoenix. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Bar. Jakarta: Media Pustaka Phoenix. Vol 1 No 03 . : Riset Islamika DOI : https://doi. org/10. 1852/ri. Suci Amalia. Salmi Wati Umar. Implementasi pembelajaran tahfidz Al-QurAoan di SMP IT Lukman Al-Hakim. Tadarus: Jurnal Pendidikan Islam, 6. Wahid. Panduan menghafal Al-QurAoan super kilat. Yogyakarta: DIVA Press. Yopi. Rahma, & Deswalantri. Metode pembelajaran Al-QurAoan Hadis pada MAN 2 Bukittinggi. Islamic Transformatif: Journal of Islamic Studies, 3. , 1Ae10. Yusuf Qardhawi. Berinteraksi dengan Al-QurAoan. Jakarta: Gema Insani Press. Zaini. AoUlum Al-QurAoan. Batusangkar: STAIN Batusangkar Press. Zamani. , & Maksum. Metode cepat menghafal Al-QurAoan. Yogyakarta: Al-Barokah.