GeoScienceEd 7. Jurnal Pendidikan. Sains. Geologi, dan Geofisika http://jpfis. id/index. php/GeoScienceEdu/index Penerapan Teknik Bercerita Dua Arah (Two-Way Storytellin. untuk Meningkatkan Kemampuan Menyimak Anak Kelompok B di TK PGRI 07 Aikmel Fadila Sadida1*. Muhammad Tahir1. Baiq Nada Buahana1. Fahruddin1 1 Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Mataram. Indonesia. DOI: https://doi. org/10. 29303/goescienceed. Article Info: Received Revised Accepted Published : 23 Mei2026 : 28 Mei 2026 : 09 Juni 2026 : 12 Juni 2026 Correspondence: Fadila Sadida Phone: 6287847487974 Abstract: This study aimed to improve the listening skills of Group B children at TK PGRI 07 Aikmel through the implementation of the two-way storytelling technique. The study was motivated by the low listening skills demonstrated by the children, as reflected in their limited attention during storytelling activities, difficulties in answering questions related to the story, and inadequate ability to comprehend and retell information in a sequential manner. This research employed Classroom Action Research (CAR) based on the Kemmis and McTaggart model, consisting of two cycles involving planning, action, observation, and reflection stages. The participants were Group B children of TK PGRI 07 Aikmel. Data were collected through observation and documentation using an assessment instrument covering attention focusing, story comprehension, question answering, relevant responses, and following sequential instructions. The data were analyzed using descriptive qualitative and quantitative techniques, with a classical success criterion of at least The findings revealed a continuous improvement in childrenAos listening skills across the cycles. The percentage increased from 64. 48% in the pre-cycle to 75. in Cycle I and reached 86. 06% in Cycle II, exceeding the predetermined success These findings indicate that the implementation of the two-way storytelling technique is effective in improving the listening skills of early childhood Furthermore, the study highlights the pedagogical value of interactive storytelling in promoting active participation, language development, and meaningful learning experiences among young children. Keywords: Two-Way Storytelling. Listening Skills. Early Childhood Education. Language Development. Classroom Action Research. Citation: Sadida. Tahir. Buahana. , & Fahruddin. Penerapan Teknik Bercerita Dua Arah (Two-Way Storytellin. untuk Meningkatkan Kemampuan Menyimak Anak Kelompok B di TK PGRI 07 Aikmel. Jurnal Pendidikan. Sains. Geologi. Dan Geofisika (GeoScienceEd Journa. , 7. , 2384Ae2392. https://doi. org/10. 29303/goescienceed. Pendahuluan Pendidikan anak usia dini merupakan tahap fundamental dalam proses perkembangan anak karena pada masa ini anak mengalami pertumbuhan yang pesat pada aspek fisik, kognitif, sosial-emosional, moral, dan Pada rentang usia 0Ae6 tahun, anak berada dalam masa keemasan yang sangat menentukan kualitas perkembangan selanjutnya. Salah satu aspek penting yang perlu distimulasi sejak dini adalah perkembangan bahasa, sebab bahasa menjadi sarana utama bagi anak untuk memahami informasi, mengungkapkan gagasan, serta berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, pembelajaran di lembaga PAUD perlu dirancang secara menarik, bermakna, dan sesuai dengan karakteristik anak usia dini agar mampu menstimulasi kemampuan berbahasa secara optimal (Wahidah dkk. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan teknik bercerita dua arah untuk meningkatkan kemampuan menyimak anak kelompok B di TK PGRI 07 Aikmel. Keterampilan Menyimak sangat penting untuk mengembangkan keterampilan berbahasa lainnya. Menyimak adalah keterampilan dasar yang berdampak pada perkembangan keterampilan berbicara, membaca, dan menulis (Wijayanti dkk. , 2. Amirah . ___________ Email: fadila. sadida04@gmail. Copyright A 2026. Sadida. Tahir. Buahana. , & Fahruddin. This open access article is distributed under a (CC-BY License Jurnal Pendidikan. Sains. Geologi dan Geofisika (GeoScienceE. menjelaskan bahwa kemampuan menyimak merupakan kemampuan paling awal sebelum anak bisa berbicara, membaca, dan menulis. Apabila anak terbiasa menyimak, anak akan mendapatkan berbagai informasi yang dapat memudahkan untuk mengembangkan aspek-aspek bahasa lainnya. Anak yang memiliki kemampuan menyimak baik akan lebih mudah memahami pesan, menangkap informasi, mengikuti instruksi, serta memberikan respons yang sesuai dalam kegiatan pembelajaran. Proses menyimak yang efektif memungkinkan anak untuk menerima, mengolah, dan menginterpretasikan informasi dengan baik. Dengan demikian, penguasaan keterampilan menyimak pada usia dini menjadi landasan yang sangat penting untuk keberhasilan belajar anak di jenjang pendidikan dasar dan jenjang pendidikan selanjutnya. Namun, dalam praktik pembelajaran di PAUD, kemampuan menyimak anak masih sering menjadi Berdasarkan pengamatan awal dari guru serta observasi di lapangan yaitu di TK PGRI 07 Aikmel, ditemukan anak-anak kelompok B belum menunjukkan pencapaian optimal dalam kemampuan menyimak. Hal ini terlihat dari kesulitan pada anak-anak dalam fokus saat mendengarkan, menjawab pertanyaan secara terbuka, dan memahami alur cerita yang sederhana. Dari 17 anak, terdapat 10 anak . %) yang belum mampu menyimak dengan baik ketika guru bercerita. Hal ini terlihat dari perilaku anak yang sering tidak pembicaraan guru dengan asik berbicara sendiri, serta kesulitan menjawab pertanyaan terkait isi cerita yang telah disampaikan. Sementara itu, hanya 7 anak . %) yang sudah menunjukkan kemampuan menyimak dengan cukup baik, seperti memperhatikan dengan saksama, merespons isi cerita, dan mampu mengulang kembali bagian-bagian cerita yang didengarkan. Kondisi ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh anak belum memiliki kemampuan menyimak yang optimal, sehingga diperlukan penerapan metode pembelajaran yang lebih menarik dan interaktif, salah satunya melalui teknik bercerita dua arah . wo-way Faktor penyebabnya antara lain kurangnya keterlibatan aktif anak selama kegiatan bercerita dan penggunaan metode yang cenderung satu arah. Kondisi ini menjadi dasar perlunya penerapan metode yang lebih partisipatif. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan menyimak anak adalah metode bercerita. Dalam menerapkan metode bercerita dalam pembelajaran, guru menyampaikan cerita dengan berbicara atau memberikan penjelasan secara lisan, dengan tujuan agar isi cerita dapat tersampaikan dan diterima dengan baik oleh anak-anak (Aulinda. dalam Cahyati dkk. Metode bercerita sesuai dengan karakteristik anak usia dini karena bersifat Agustus 2026. Volume 7. Issue 3, 2384-2392 menyenangkan, imajinatif, dan dekat dengan dunia Melalui cerita, anak dapat memperoleh pengalaman belajar, memahami pesan moral, memperkaya kosakata, serta melatih daya konsentrasi. Penelitian Widasari dan Cahyati . menunjukkan meningkatkan kemampuan menyimak anak hingga mencapai ketuntasan 90,8%. Sementara itu. Ramadhani . juga menemukan bahwa penggunaan metode menyimak anak usia 4Ae5 tahun dari sekitar 46% menjadi lebih dari 80% setelah dilakukan tindakan pembelajaran. Temuan tersebut menunjukkan bahwa bercerita keterampilan menyimak anak. Meskipun demikian, metode bercerita yang diterapkan secara satu arah masih memiliki keterbatasan karena anak hanya berperan sebagai pendengar pasif. Kegiatan bercerita satu arah dapat membuat anak cepat kehilangan fokus, kurang aktif merespons, dan tidak terbiasa menyampaikan pendapat terkait isi cerita. Dalam proses pembelajaran, pendidik mempunyai peran penting dalam membimbing serta memberi bantuan atau rangsangan kepada anak didiknya bila anak mengalami kesulitan pada proses pembelajaran, sehingga hal ini dapat membangkitkan keinginan belajar serta membentuk kepercayaan diri anak dalam belajar (Juzvini, 2. Oleh karena itu, diperlukan teknik bercerita yang lebih komunikatif, yaitu teknik bercerita dua arah atau two-way storytelling. Sari dkk. mengungkapkan bahwa storytelling adalah kegiatan menyampaikan suatu kisah, baik secara lisan maupun tulisan, dengan tujuan menyampaikan pesan moral kepada audiens. Kegiatan ini dapat berbentuk dongeng, pengalaman pribadi, atau narasi lain yang disusun secara menarik. Sudjana dalam Azzahra dkk. , . menjelaskan bahwa komunikasi dua arah adalah komunikasi antara guru dan anak. Adanya interaksi antara guru dan bersama-sama dalam mengemukakan pendapat yang akan disampaikan seperti tanya jawab dan bercakap-cakap dalam proses Dalam penelitian ini, teknik bercerita dua arah dipahami sebagai gabungan antara metode bercerita . dengan prinsip komunikasi dua arah dalam proses pembelajaran. Adapun yang membedakan antara metode storytelling biasa dengan two-way stortytelling ialah kegiatan bercerita tidak hanya dilakukan secara satu arah dari guru pada anak secara monoton dan anak mendengar secara pasif, tetapi kegiatan bercerita dua arah dilaksanakan dengan memberikan ruang bagi anak untuk memberikan tanggapan, bertanya, menjawab pertanyaan, serta mengemukakan ide atau perasaannya terkait isi cerita yang disampaikan. Dengan demikian. Jurnal Pendidikan. Sains. Geologi dan Geofisika (GeoScienceE. bercerita tidak hanya menjadi sarana penyampaian informasi, nilai moral, maupun hiburan, melainkan juga media interaktif yang menumbuhkan kemampuan bahasa, berpikir kritis, serta keterampilan sosial anak. Nabilla dkk. menyatakan bahwa storytelling interaktif dapat menciptakan suasana belajar yang keterlibatan emosional anak, serta memperkuat pemahaman konsep. Dengan demikian, anak tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Teknik bercerita dua arah dipandang relevan untuk meningkatkan kemampuan menyimak anak karena mendorong anak untuk fokus, memahami isi cerita, menjawab pertanyaan, memberikan respons, dan mengikuti alur cerita secara lebih aktif. Irma dkk. menunjukkan bahwa pendekatan storytelling interaktif mampu meningkatkan keterampilan menyimak anak secara nyata melalui peningkatan kemampuan dari tahap pra-tindakan hingga siklus II. Melalui teknik ini, guru dapat membangun interaksi yang lebih hidup, menjaga perhatian anak, serta mengetahui tingkat pemahaman anak secara langsung selama kegiatan bercerita berlangsung. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian tentang penerapan teknik bercerita dua arah penting dilakukan sebagai upaya meningkatkan kemampuan menyimak anak kelompok B di TK PGRI 07 Aikmel. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi guru dalam memilih strategi pembelajaran yang lebih interaktif, menyenangkan, dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan bahasa anak usia dini. Selain itu, hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pengembangan pembelajaran menyimak di lembaga PAUD, khususnya melalui penerapan teknik bercerita dua arah yang menempatkan anak sebagai peserta aktif dalam proses pembelajaran. Metode Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model Kemmis dan McTaggart. Pemilihan metode ini didasarkan pada tujuan penelitian, yaitu untuk meningkatkan kemampuan menyimak anak kelompok B melalui penerapan teknik bercerita dua arah . wo-way storytellin. di TK PGRI 07 Aikmel. Penelitian ini direncanakan dalam dua siklus, terdiri dari dua kali pertemuan dalam satu minggu, dimana setiap pertemuan memiliki alokasi waktu 2x35 menit, sehingga waktu yang dibutuhkan setiap siklus adalah 4 x 35 menit dalam dua kali pertemuan. Kemudian penelitian tindakan kelas ini terbagi menjadi 4 tahapan yaitu perencanaan . , tindakan . , dan pengamatan . , serta refleksi . , yang mana dapat digambarkan sebagai berikut: Agustus 2026. Volume 7. Issue 3, 2384-2392 Gambar 1. Desain PTK Model Kemmis dan McTaggart (Pahleviannur dkk. , 2. Pada tahap perencanaan peneliti dan guru mempersiapkan pelaksanaan tindakan kelas dengan menyusun modul ajar berbasis teknik two-way storytelling, menyiapkan instrumen penelitian . embar observasi dan dokumentas. , menentukan cerita dan media pembelajaran, serta melakukan koordinasi dengan guru kolaborator. Lalu pada tahap tindakan teknik two-way storytelling dengan memilih cerita yang telah ditentukan, menyiapkan media cerita, mengondisikan anak dalam kelas, menyampaikan cerita secara interaktif seperti mengajukan pertanyaan yang mendorong partisipasi anak, menghubungkan cerita dengan pengalaman sehari-hari, melakukan refleksi bersama, serta memberikan apresiasi kepada anak. Kemudian pada tahap pengamatan, peneliti dan guru mengamati pelaksanaan pembelajaran, aktivitas guru, serta respons dan kemampuan menyimak anak selama kegiatan berlangsung. Hasil observasi digunakan untuk menilai keberhasilan tindakan. Pada tahap refleksi, peneliti dan guru menganalisis hasil pengamatan untuk mengidentifikasi keberhasilan, hambatan, dan kekurangan pelaksanaan tindakan. Hasil refleksi menjadi dasar perbaikan dan penyempurnaan tindakan pada siklus berikutnya guna meningkatkan kemampuan menyimak anak. Subjek penelitian adalah 17 anak kelompok B TK PGRI 07 Aikmel yang berusia 5Ae6 tahun pada tahun ajaran 2025/2026. Objek penelitian adalah kemampuan menyimak anak anak kelompok B TK PGRI 07 Aikmel. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan Teknik observasi merupakan teknik pengumpulan data yang digunakan bila penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar (Sugiyono, 2. Adapun teknik dokumentasi digunakan untuk mendukung data Jurnal Pendidikan. Sains. Geologi dan Geofisika (GeoScienceE. penelitian dengan menelusuri informasi historis atau mendokumentasikan kejadian sebelumnya (Nashrullah , 2. Observasi dilakukan untuk memperoleh data mengenai perkembangan kemampuan menyimak anak selama proses pembelajaran, sedangkan dokumentasi digunakan sebagai data pendukung berupa foto kegiatan, perangkat pembelajaran, dan catatan hasil tindakan. Instrumen observasi disusun berdasarkan berdasarkan Permendikbud RI no. 137 tahun 2014, yang menjelaskan bahwa capaian perkembangan berbahasa dalam hal ini kemampuan menyimak anak usia 5-6 tahun termasuk dalam memahami bahasa, yaitu mengerti beberapa perintah sederhana, memahami aturan dalam suatu permainan, mengulang kalimat lebih kompleks, dan senang dan menghargai bacaan. Sebelum digunakan, instrumen divalidasi melalui validitas isi . ontent validit. oleh dua ahli yaitu dua dosen ahli PG-PAUD FKIP Universitas Mataram. Hasil validasi digunakan untuk memperbaiki kejelasan indikator, kesesuaian aspek yang diamati, dan keterukuran butir observasi. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif digunakan untuk menghitung persentase peningkatan kemampuan menyimak anak pada setiap siklus, sedangkan analisis kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan pembelajaran dan respons anak selama kegiatan bercerita dua arah. Keberhasilan tindakan ditentukan berdasarkan indikator keberhasilan klasikal, yaitu apabila kemampuan menyimak anak mencapai persentase minimal 85%. Apabila pada siklus pertama persentase Agustus 2026. Volume 7. Issue 3, 2384-2392 tersebut belum tercapai, maka tindakan dilanjutkan ke siklus berikutnya dengan melakukan perbaikan berdasarkan hasil refleksi. Penetapan indikator keberhasilan sebesar 85% mengacu pada konsep ketuntasan belajar klasikal yang umum digunakan dalam penelitian tindakan kelas (PTK), yaitu tindakan dinyatakan berhasil apabila sekurang-kurangnya 85% peserta didik mencapai kriteria yang ditetapkan. Kriteria ini juga digunakan dalam berbagai penelitian PTK terkini, salah satunya penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh Sukartini . yang menggunakan indikator keberhasilan sebesar 85% dalam PTK penerapan model problem-based learning berbantuan evaluasi Quizizz untuk meningkatkan hasil belajar IPS di kelas ViE Semester I SMP Negeri 3 Semarapura tahun pelajaran 2020/2021 . Hasil dan Diskusi Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan teknik bercerita dua arah . wo-way storytellin. dapat meningkatkan kemampuan menyimak anak kelompok B di TK PGRI 07 Aikmel. Peningkatan terlihat dari hasil observasi pada tahap pra-siklus, siklus I, dan siklus II. Pada tahap pra-siklus, kemampuan menyimak anak masih belum optimal karena sebagian anak belum mampu memusatkan perhatian, menjawab pertanyaan sesuai isi cerita, dan mengikuti instruksi secara Setelah diterapkan teknik bercerita dua arah, anak mulai lebih aktif merespons cerita, menjawab pertanyaan guru, serta menunjukkan keterlibatan dalam kegiatan pembelajaran. Tabel 1. Rekapitulasi Peningkatan Kemampuan Menyimak Anak. Persentase Kemampuan Tahap Penelitian Menyimak Kategori Pra-Siklus 64,48% Cukup Siklus I 75,71% Baik Siklus II 86,06% Sangat Baik Berdasarkan Tabel 1, kemampuan menyimak anak mengalami peningkatan pada setiap tahap Pada pra-siklus, kemampuan menyimak anak sebesar 64,48% dengan kategori cukup. Hasil observasi menunjukkan bahwa sebagian besar anak masih mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian selama kegiatan bercerita. Anak cenderung mudah terdistraksi, berbicara dengan teman, serta belum mampu memahami isi cerita secara utuh. Selain itu, beberapa anak masih kesulitan menjawab Keterangan Belum mencapai indikator Mengalami peningkatan, tetapi belum mencapai indikator keberhasilan Telah mencapai indikator pertanyaan yang berkaitan dengan isi cerita dan mengikuti instruksi yang diberikan guru. Setelah penerapan teknik bercerita dua arah pada siklus I, kemampuan menyimak meningkat menjadi 75,71% dengan kategori baik. Peningkatan ini terlihat dari bertambahnya jumlah anak yang mampu memperhatikan guru saat bercerita dan mulai aktif merespons pertanyaan yang diajukan. Kegiatan tanya jawab yang dilakukan selama proses bercerita membuat anak lebih terlibat dalam pembelajaran dibandingkan Jurnal Pendidikan. Sains. Geologi dan Geofisika (GeoScienceE. saat menggunakan metode bercerita satu arah. Namun demikian, masih terdapat beberapa anak yang kurang percaya diri dalam menyampaikan pendapat dan belum mampu memberikan respons yang relevan secara Pada siklus II, kemampuan menyimak anak meningkat menjadi 86,06% dengan kategori sangat baik dan telah mencapai indikator keberhasilan yang Peningkatan ini terlihat dari semakin banyak anak yang mampu mempertahankan perhatian selama kegiatan berlangsung, memahami isi cerita, menghubungkan cerita dengan pengalaman yang mereka miliki. Anak juga lebih aktif berpartisipasi dalam diskusi sederhana dan mampu mengikuti instruksi guru dengan lebih baik dibandingkan pada siklus sebelumnya. Hasil tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan menyimak tidak hanya terlihat dari kenaikan persentase secara klasikal, tetapi juga dari perubahan perilaku anak selama proses pembelajaran. Melalui teknik bercerita dua arah, anak memperoleh merespons, dan mengungkapkan pendapat secara aktif sehingga proses menyimak menjadi lebih bermakna. Dengan demikian, penerapan teknik bercerita dua arah terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan menyimak anak kelompok B di TK PGRI 07 Aikmel. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelompok B TK PGRI 07 Aikmel dengan tujuan meningkatkan kemampuan menyimak anak melalui penerapan teknik bercerita dua arah . wo-way Pelaksanaan penelitian dilakukan dalam dua siklus, di mana setiap siklus terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan Fokus utama tindakan adalah mengubah pola sebelumnya cenderung satu arah menjadi interaktif dan komunikatif melalui penerapan teknik bercerita dua arah . wo-way storytellin. Pada tahap pra-siklus, kemampuan menyimak anak masih tergolong rendah. Kondisi ini ditunjukkan oleh kurangnya perhatian anak selama kegiatan bercerita, kesulitan memahami isi cerita, serta rendahnya kemampuan dalam menjawab pertanyaan dan menyampaikan kembali informasi yang didengar. Rendahnya kemampuan menyimak tersebut berkaitan dengan pola pembelajaran yang masih berpusat pada guru sehingga anak cenderung menjadi penerima informasi secara pasif. Akibatnya, anak kurang menafsirkan, dan merespons informasi yang diterima. Isnaini dkk. menjelaskan bahwa komunikasi dua arah yang melibatkan proses mendengarkan dan memberikan respons merupakan unsur penting dalam Agustus 2026. Volume 7. Issue 3, 2384-2392 interaksi pendidikan anak usia dini. Setelah diterapkan teknik bercerita dua arah pada siklus I, kemampuan menyimak anak mengalami peningkatan. Peningkatan ini tidak hanya disebabkan oleh penggunaan cerita sebagai media pembelajaran, tetapi juga karena adanya keterlibatan aktif anak selama proses bercerita. Melalui pertanyaan interaktif, diskusi sederhana, dan kesempatan untuk memberikan tanggapan, anak terdorong untuk memusatkan perhatian pada informasi yang disampaikan guru. Keterlibatan tersebut memungkinkan anak memproses informasi secara lebih mendalam sehingga pemahaman terhadap isi cerita menjadi lebih baik. Hal ini sejalan pendapat Nurhayati . yang menjelaskan bahwa prinsip utama bercerita dua arah adalah interaktivitas, yaitu memberikan kesempatan kepada anak untuk merespons, bertanya, dan menyampaikan ide selama kegiatan berlangsung. Gambar 2. Kegiatan Belajar Mengajar dengan Metode Bercerita Dua Arah pada Siklus 1 Secara hasil data juga menunjukkan terdapat peningkatan kemampuan menyimak anak yang sebelumnya pada pra siklus memperoleh persentase klasikal sebesar 64,48%, pada siklus I persentase klasikal kemampuan menyimak anak meningkat menjadi 75,71%. Meskipun demikian, pelaksanaan teknik bercerita dua arah pada siklus I terbilang masih belum optimal. Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I, terlihat guru masih menyesuaikan diri dengan penerapan teknik bercerita dua arah. Hal ini terlihat dari guru yang masih jarang memberikan pertanyaan interaktif di tengahtengah cerita dan lebih sering memberikan pertanyaan interaktif hanya di akhir penyampaian cerita saja. Selain itu, variasi pertanyaan yang digunakan belum sepenuhnya mendorong anak untuk berpikir lebih mendalam atau mengaitkan isi cerita dengan pengalaman pribadi mereka. Di sisi lain, selama proses pembelajaran berlangsung masih terdapat anak yang masih belum bisa fokus menyimak cerita dari guru, masih terdapat anak yang bisa menjawab pertanyaan Jurnal Pendidikan. Sains. Geologi dan Geofisika (GeoScienceE. guru terkait cerita yang telah disampaikan dan terdapat anak yang tidak tertib selama proses storytelling Refleksi pada akhir siklus I menunjukkan bahwa teknik bercerita dua arah belum terlaksana secara Oleh karena itu, pada siklus II dilakukan perbaikan sesuai dengan refleksi pada siklus I. antaranya guru perlu lebih banyak memberikan pertanyaan interaktif selama cerita berlangsung, memberikan jeda pada bagian-bagian tertentu untuk memberi kesempatan anak berpikir dan merespons, serta menggunakan ekspresi, intonasi, dan gestur yang lebih variatif untuk mempertahankan perhatian anak. Selain itu, guru perlu memberikan penguatan positif berupa pujian dan apresiasi setiap kali anak berinisiatif untuk menjawab pertanyaan atau mengemukakan Pada siklus II, penerapan teknik bercerita dua arah dilakukan dengan perencanaan yang lebih matang berdasarkan refleksi siklus I. Pelaksanaan pada siklus II Guru menyampaikan buku cerita berjudul AuMakan Makanan Sehat dan Menjaga Kebersihan DiriAy. dengan intonasi yang lebih ekspresif dan diselingi pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan pengalaman pribadi mereka sehingga membuat anak menjadi lebih aktif dan tertarik dalam menyimak cerita dari guru. Hal ini membuat anak menjadi lebih fokus dengan penyampaian cerita dari guru dan lebih terlibat secara emosional. Siagian dkk. mengungkapkan bahwa pola komunikasi yang interaktif dalam proses pembelajaran dapat mendorong partisipasi aktif anak, meningkatkan pemahamannya, dan mempererat ikatan antara pendidik dan siswa. Selama proses pembelajaran pada pertemuan pertama dan kedua di siklus II juga terlihat bahwa anakanak aktif memberikan respons pada pertanyaanpertanyaan interaktif dari guru dengan jawaban yang Munisah dkk. memaparkan bahwa komunikasi yang dilakukan oleh pendidik dalam pembelajaran memacu anak untuk merespons. Respons anak terhadap informasi yang disampaikan saat pembelajaran itulah yang dimaksud hasil dari stimulasi perkembangan bahasa anak melalui komunikasi. Sejalan dengan pendapat tersebut Isnaini dkk. menjelaskan bahwa komunikasi yang efektif dalam pembelajaran, yang melibatkan mendengarkan aktif dan merespons secara tepat, dapat membantu anak menguasai bahasa dengan lebih baik. Melalui interaksi yang konsisten dan terbuka, anak-anak mendapatkan kesempatan untuk belajar berbagai struktur kalimat, arti kata-kata baru, serta bagaimana mengekspresikan diri secara verbal. Selain itu, guru sering memberikan pujian dan apresiasi pada anak-anak yang menjawab pertanyaan- Agustus 2026. Volume 7. Issue 3, 2384-2392 pertanyaan interaktif dan berani mengemukakan Isnaini dkk. menjelaskan bahwa memberikan pujian dan penguatan positif sangat penting dalam proses komunikasi dua arah. Ketika anak berhasil berkomunikasi dengan baik atau menunjukkan perkembangan dalam keterampilan sosial dan kognitif, pujian yang tulus dari orang tua atau pendidik akan meningkatkan kepercayaan diri mereka. Penguatan positif ini mendorong anak untuk terus berinteraksi dan berpartisipasi dalam percakapan, mempercepat perkembangan kemampuan berbahasa, sosial, dan kognitif mereka. Gambar 3. Kegiatan Belajar Mengajar dengan Metode Bercerita Dua Arah pada Siklus 2 Berdasarkan hasil data penelitian tindakan pada siklus II juga menunjukkan peningkatan kemampuan menyimak anak. Sebelumnya, hasil observasi data kemampuan menyimak pada siklus I memperoleh persentase klasikal sebesar 75,71%, pada siklus II persentase klasikal kemampuan menyimak anak meningkat menjadi 86,06%. Peningkatan kemampuan menyimak dalam penelitian tindakan ini dapat di analisis disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya Pertama, penerapan teknik bercerita dua arah meningkatkan perhatian dan konsentrasi Kegiatan bercerita yang interaktif merupakan strategi pembelajaran yang efektif karena melibatkan anak secara aktif dalam proses penceritaan, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan partisipatif, serta memfasilitasi tumbuhnya kemampuan berpikir naratif dan logis (Syariat dkk. , 2. Anak usia dini memiliki rentang perhatian yang relatif terbatas sehingga mudah kehilangan fokus. Penerapan komunikasi dua arah dalam kegiatan bercerita seperti pemberian pertanyaan interaktif, variasi intonasi suara, serta penggunaan gestur membantu mempertahankan perhatian anak Metode Jurnal Pendidikan. Sains. Geologi dan Geofisika (GeoScienceE. pembelajaran lebih menarik dan tidak monoton, sehingga anak mampu menyimak cerita secara lebih konsisten. Kedua, penerapan teknik bercerita dua arah meningkatkan motivasi dan keterlibatan aktif anak dalam proses pembelajaran. Keterlibatan anak dalam menjawab pertanyaan dan perasaan dihargai serta dilibatkan dalam Kondisi meningkatkan motivasi anak untuk mengikuti kegiatan belajar. Syariat dkk. menjelaskan dalam penelitiannya bahwa kegiatan storytelling yang bersifat interaktif mendorong partisipasi aktif anak melalui dialog, tanya jawab, dan ekspresi verbal yang mendukung perkembangan aspek bahasa secara menyeluruh. Ketiga, komunikasi interaktif antara guru dan anak dalam kegiatan bercerita seperti pemberian pertanyaan pemantik sebelum memulai kegiatan bercerita, dan pemberian pertanyaan interaktif di tengah dan di akhir kegiatan bercerita menstimulasi anak untuk memberikan perhatian dan konsentrasi terhadap cerita yang disampaikan guru. Asih . memaparkan bahwa penerapan metode tanya jawab pada pembelajaran memiliki kelebihan, di antaranya: dapat mendorong murid lebih aktif dan bersungguh-sungguh, serta pertanyaan dapat memusatkan perhatian siswa sekalipun saat itu siswa sedang ribut. Selain itu. Hamidah dkk. dalam penelitiannya menerangkan bahwa penerapan metode tanya jawab dalam pembelajaran dapat dijadikan solusi untuk meningkatkan motivasi belajar dan mengaktifkan peserta didik dalam proses pembelajaran. Lebih lanjut Hamidah menjelaskan bahwa metode tanya jawab memiliki kelebihan di antaranya ialah memotivasi siswa untuk mempersiapkan diri dan mengikuti pembelajaran secara aktif dan mendorong siswa untuk berfikir kritis dan memperkaya pemahaman terhadap materi yang diajarkan. Keempat. Pemberian penguatan positif berupa pujian dan apresiasi membuat anak lebih berani menyampaikan jawaban maupun Hal ini berdampak pada meningkatnya rasa percaya diri dan keberanian berbicara anak serta menciptakan lingkungan belajar yang suportif sehingga anak terdorong untuk menyimak dengan tujuan dapat memberikan respons yang tepat. Respons yang positif dan penuh perhatian Agustus 2026. Volume 7. Issue 3, 2384-2392 membantu anak mengembangkan rasa keterikatan yang lebih mendalam dengan Ketika pendidik merespons dengan penuh perhatian, anak-anak merasa dicintai dan diterima, yang memperkuat ikatan emosional dan mereka akan lebih terbuka dalam berbagi pikiran dan perasaan mereka (Isnaini dkk. , 2. Kelima, keterlibatan emosional dalam pembelajaran memperkuat daya tangkap anak terhadap isi cerita. Ini disebabkan karena pola komunikasi dua arah dapat menciptakan kedekatan antara guru dan anak didik sehingga anak didik dengan mudah mengerti dan memahami pelajaran yang diajarkan (Amir dkk. , 2. Lebih jauh, komunikasi dua arah yang efektif juga mendukung hubungan yang lebih kuat antara anak dan orang dewasa di sekitarnya. Ketika anak merasa bahwa orang tua atau pendidiknya memberikan perhatian penuh dan merespons secara tepat, mereka akan merasa lebih dekat dan terikat secara emosional. Kedekatan ini membangun rasa percaya diri pada anak. Dalam konteks ini, komunikasi tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk perkembangan bahasa, tetapi juga sebagai sarana untuk membangun ikatan emosional yang dalam (Isnaini dkk. , 2. Menurut teori belajar Thorndike . alam Hamruni, 2. , menyatakan bahwa belajar merupakan proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah segala sesuatu yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal yang dapat ditangkap melalui alat indera, dimunculkan siswa ketika belajar, baik berupa pikiran, perasaan, maupun tindakan (Hamruni, 2. Dalam kegiatan pembelajaran dengan teknik bercerita dua arah, cerita dan pertanyaan yang disampaikan guru berperan sebagai stimulus yang diterima anak melalui indera pendengaran, sehingga mendorong anak untuk informasi yang disampaikan. Respons tersebut terlihat dari kemampuan anak dalam mendengarkan cerita, menjawab pertanyaan, dan mengungkapkan kembali isi cerita, yang menunjukkan adanya perubahan perilaku belajar yang dapat diamati berupa peningkatan kemampuan menyimak anak. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa penerapan metode bercerita dua arah . wo-way storytellin. memberikan dampak yang signifikan dalam peningkatan kemampuan menyimak anak kelompok B TK PGRI 07 Aikmel. Penerapan teknik bercerita dua arah secara bertahap memperlihatkan peningkatan keterlibatan anak dalam menyimak penyampaian cerita Jurnal Pendidikan. Sains. Geologi dan Geofisika (GeoScienceE. dari guru. Melalui tindakan tepat yang dilakukan pada setiap siklus, seperti pemberian pertanyaan interaktif, peningkatan interaksi selama cerita berlangsung, serta penggunaan ekspresi dan intonasi yang lebih variatif, anak menjadi lebih terlibat dan aktif dalam kegiatan Anak tidak hanya mendengarkan cerita, tetapi juga mulai aktif merespons dan memahami isi cerita dengan lebih baik. Hal ini menggambarkan bahwa pembelajaran yang bersifat interaktif dan komunikatif menyimak anak secara lebih optimal. Kesimpulan Berdasarkan disimpulkan bahwa penerapan teknik bercerita dua arah . wo-way storytellin. dapat meningkatkan kemampuan menyimak anak kelompok B di TK PGRI 07 Aikmel. Peningkatan tersebut terlihat dari kemampuan anak dalam memusatkan perhatian, memahami isi cerita, menjawab pertanyaan, memberikan respons yang sesuai, serta mengikuti instruksi secara berurutan selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Secara pedagogis, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan teknik bercerita dua arah yang memberikan kesempatan kepada anak untuk berinteraksi secara aktif selama kegiatan bercerita dapat meningkatkan kualitas proses Dalam proses pembelajaran dengan teknik bercerita dua arah, anak tidak hanya berperan sebagai pendengar pasif, tetapi juga terlibat dalam proses berpikir, memahami informasi, mengemukakan pendapat, dan merespons cerita yang disampaikan. Keterlibatan aktif tersebut membantu anak membangun pemahaman yang lebih baik terhadap isi cerita sekaligus komunikasi secara lebih optimal. Hasil peningkatan kemampuan menyimak anak pada setiap tahap tindakan. Pada pra-siklus, kemampuan menyimak anak mencapai 64,48%, kemudian meningkat menjadi 75,71% pada siklus I, dan kembali meningkat menjadi 86,06% pada siklus II. Capaian pada siklus II telah memenuhi indikator keberhasilan klasikal yang ditetapkan, yaitu minimal 85%. Dengan demikian, teknik bercerita dua arah terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan menyimak anak. Berdasarkan hasil penelitian di atas, peneliti merekomendasikan bagi guru PAUD agar dapat mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih kreatif, interaktif, dan komunikatif dalam proses pembelajaran di kelas, salah satunya melalui penerapan teknik bercerita dua arah agar anak lebih aktif, termotivasi, dan memiliki kemampuan menyimak yang lebih optimal. Selain itu, bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan penelitian serupa Agustus 2026. Volume 7. Issue 3, 2384-2392 dengan cakupan yang lebih luas, variabel yang berbeda, mempertimbangkan hasil evaluasi awal sebagai dasar pengembangan penelitian selanjutnya. Ucapan Terimakasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada Kepala TK PGRI 07 Aikmel, guru kelompok B, serta anak-anak kelompok B yang telah berpartisipasi dalam penelitian ini. Terima kasih juga disampaikan kepada dosen pembimbing dan semua pihak yang telah memberikan dukungan, arahan, serta bantuan hingga penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik. Referensi