JURNAL RUPA VOL 08 NO 2 2023 DOI address: https://doi. org/10. 25124/rupa. Makna Simbolik Seni Wayang Golek (Studi Kasus: Kecamatan Sukadana Kabupaten Ciamis Jawa Bara. Santi Nur Febrianti1. Ahmad Rizky Fauzi2* Duta Perpustakaan Perpustakaan Cahaya Pustaka Sukadana. Ciamis Indonesia Penggiat Budaya Kabupaten Ciamis. Dinas Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Ciamis. Indonesia Abstract Wayang golek is a fine art and performing art with a very deep meaning, with the symbols displayed both in the wayangAos architecture and the storyline presented. Wayang art is a cultural performance and a symbol of Indonesian cultural identity. However, this art faces great challenges from changes in modern lifestyles and peopleAos interests. Based on this background, the author is interested in studying and understanding: . the development of wayang golek . the architecture of wayang golek and the symbolic meaning contained therein, and . conservation efforts through technological media. In Sukadana, the art of wayang has existed for a long time. many puppeteers come from the Sukadana District and are famous in other areas. There were around ten puppeteers in the 70s to 90s, but now, in Sukadana District, there are only three active puppeteers. Gadgets and social media are the main reasons for the decline in public interest, especially the younger generation, in the art of Wayang Golek. The research was conducted in Sukadana District. Ciamis Regency. West Java Province. Indonesia. The research uses a qualitative descriptive type. Data collection techniques are conducted through observation, interviews, and document study. In this research, researchers used primary and secondary data sources. Primary data sources were obtained from observations and interviews. Meanwhile, secondary data sources were obtained from supporting documents in the form of photos and research reports on the same research subject. Keywords Culture. Peranakan. Fashion. Batik Pesisir. Contemporary Ahmad Rizky Fauzi Email: gamamadz@gmail. Address Perpustakaan Cahaya Pustaka Jln. Gardu-Cisaga. Margaharja Kecamatan Sukadana Kabupaten Ciamis Makna Simbolik Seni Wayang Golek (Studi Kasus: Kecamatan Sukadana Kabupaten Ciamis Jawa Bara. Ahmad Rizky Fauzi. Santi Nur Febriyanti PENDAHULUAN Pencampuran tradisi dan budaya direfleksikan Heritere la Culture Theory sebagai kebudayaan harus diwariskan dari generasi ke generasi, dan harus sama tanpa ada perubahan ritual untuk menjaga kelestarian suatu kebudayaan. Dialog Agama dan Budaya diperlukan untuk membangun hubungan harmonis atas pencampuran ritualistik tersebut. Heriter la Culture Theory, sebagaimana disampaikan Syahputra . tentang konsep pewarisan budaya, bahwa komunitas kultural masa kini mewarisi kebudayaan nenek moyang secara turun temurun dan terus dilestarikan sebagai kearifan Pewarisan kebudayaan dapat disampaikan dengan baik melalui komunikasi yang baik melalui pembacaan makna-makna simbolik baik verbal maupun nonverbal. Komunikasi yang baik dapat menjadi cara pelestarian budaya yang baik. Disaat perkembangan teknologi yang semakin canggih serta beragamnya media komunikasi modern, seperti internet, beberapa pihak masih mempertahankan kesenian sosial dan rakyat wayang golek sebagai media komunikasi. Beberapa tokoh budaya di Jawa Barat juga masih berusaha mempertahankan kesenian wayang golek sebagai warisan budaya dan media penyampai informasi . Pada dasarnya pertunjukan wayang golek adalah sebuah dunia penuh makna sekaligus sebagai etalase nilai-nilai kehidupan dengan kedalaman makna dan simboliknya. Sejak berabad-abad yang lalu dalam sejarah wayang dikenal sebagai salah satu manifestasi budaya luhur bangsa Indonesia. Bagi masyarakat Indonesia tidak dapat terlepas dari pertunjukan wayang sebagai bagian dari kehidupannya apalagi masyarakat Jawa, baik itu Jawa Barat barat. Jawa Tengah, maupun Jawa Timur. Wayang merujuk pada bayang atau bayangan, tetapi dalam perjalanan waktu pengertian wayang itu berubah dan kini wayang dapat berarti pertunjukan panggung atau teater atau dapat pula berarti aktor dan aktris. Menurut jenis aktor dan aktrisnya wayang dapat digolongkan atas lima golongan yaitu: . wayang kulit, . wayang golek, . wayang wong, . wayang beber dan . wayang klithik . Wayang dikenal sebagai seni pertunjukan yang edipeni-adiluhung, berarti seni yang mengandung nilai-nilai keindahan dan bermuatan ajaran moral spiritual yang mendalam. Melalui pertunjukan wayang, dalam menyampaikan pesan-pesan moral yang bermanfaat besar bagi terwujudnya character building sekaligus. Melalui pertunjukan wayang, dalam menyampaikan pesanpesan moral yang bermanfaat besar bagi terwujudnya character building sekaligus sebagai pendidikan budi pekerti . Melalui pertunjukan wayang, krisis moral dan disorientasi budaya yang kini sedang melanda peradaban budaya bangsa Indonesia, secara perlahan akan dapat dieliminir menuju ke arah sadar akan potensi budaya kelokalan yang bernilai luhur dan berdaya guna bagi generasi bangsa . Wayang golek merupakan salah satu seni pertunjukan rakyat yang berasal dari wilayah Pasundan (Provinsi Jawa Bara. Penamaan wayang golek karena wayangnya terbuat dari bahan kayu yang menyerupai bentuk manusia. Boneka yang terbuat dari kayu tersebutlah yang disebut dengan golek sehingga diberi nama wayang golek. Dalam kehidupan masyarakat di Jawa Barat kesenian wayang golek difungsikan kedalam dua bentuk pergelaran, yaitu sebagai media hiburan dan ritual . Salah satu wilayah di Jawa Barat yang masih mempertahankan eksistensi wayang golek adalah Kecamatan Sukadana Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat. Sejak dulu Kecamatan Sukadana memiliki potensi seni yang cukup berlimpah, termasuk salah satunya adalah seni wayang golek. Wilayah Sukadana berbatasan dengan Kecamatan Rancah. Kecamatan Cisaga. Kecamatan Baregbeg dan Kecamatan Cipaku yang kental akan seni budayanya. Kondisi ini membuat Sukadana menjadi cukup strategis untuk perkembangan seni. Namun sayangnya kondisi itu sangat berbanding terbalik dengan penggiat seni yang tersedia. Terdapat sekitar tiga grup wayang golek yang masih aktif di Kecamatan Sukadan. Ditengah laju modernisasi dan perubahan kondisi sosial saat ini, upaya pelestarian seni tradisional ini semakin terdesak dan memperihatinkan. Kebanyakan dari penggiat seni yang gulung tikar karena semakin sepi Hal tersebut disebabkan seni wayang golek terkalahkan oleh hiburan yang bersifat modern dan dipertunjukan dalam media virtual . Padahal seni yang diciptakan pada jaman dulu sangat Ahmad Rizky Fauzi. Santi Nur Febriyanti sarat akan nilai dan makna yang dapat menjadi pedoman dalam kehidupan kita sehari-hari. Pada saat ini justru kebalikannya yaitu disaat seni-seni luar masuk ke Indonesia justru membuat moral dan nilai keluhuran bangsa ini menurun. Berdasarkan latar belakang itulah membuat penulis tertarik untuk mengkaji dan memahami: . makna simbolik yang ada dalam wayang golek, dan . upaya pelestarian melalui media teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap apa saja makna yang terkandung didalam pertunjukan wayang golek. Setelah mengetahui makna yang terkandung maka kita dapat mengambil nilai-nilai yang berguna untuk kehidupan dan pada akhirnya kita akan menentukan bagaimana kita dapat melestarikan seni wayang golek agar dapat relevan dengan perkembangan zaman saat ini. Penulis berharap dengan dipublikasikannya artikel ini dapat menyadarkan kembali generasi muda bahwa luhurnya kebudayaan bangsa dan selaku generasi muda yang sudah mahir teknologi justru dapat menjadi pionir dalam pemajuan seni wayang golek tersebut. Penelitian ini juga diharapkan menjadi rekomendasi pemerintah dalam program pemajuan kebudayaan agar dapat memanfaatkan dan berkolaborasi dengan teknologi informasi yang semakin berkembang saat ini. PEMBAHASAN Perkembangan Wayang Golek Wayang adalah budaya luhur bangsa Indonesia yang secara historis sudah dikenal sejak tahun 861 M pada masa raja Jayabaya di Kerajaan Kediri (Panjal. Prabu Jayabaya membuat wayang purwa karena rasa minatnya pada kisah nenek moyangnya yang tertuang dalam serat Pustakaraja Purwa1 . Ia lantas melihat Candi Penataran di Blitar dan memandangi arca para dewa serta ukiran relief yang ada di sekeliling candi. Prabu Jayabaya kemudian mencoba meniru bentuk yang Ia lihat dengan menggambarnya di atas daun tal2. Namun menurutnya gambar tersebut terlampau kecil untuk dipertunjukkan. Ia menggambar ulang di atas kulit lembu . yang telah diolah. Gambar yang sudah jadi kemudian dipahat dan diberi pegangan dari gagang yang terbuat dari bambu. Sebanyak 50 wayang berhasil dibuat dan diberi nama wayang purwa serta sengkalan3. Sedangkan konsep pertunjukan wayang purwa adalah dengan membentangkan kelir atau kain putih yang disorot dengan cahaya damar . Tahun 1584 Masehi di Jawa Tengah salah satu Sunan dari Dewan Wali Songo menciptakan Wayang Golek, tidak lain adalah Sunan Kudus yang pertama kali menciptakan Wayang Golek. Pada saat itu Sunan Kudus membuat bangun wayang purwo . ayang purw. sejumlah 70 buah dengan cerita Wayang Menak yang diiringi gamelan Salendro5/ Slendro. Pada jaman Pangeran Girilaya . dari Cirebon wayang dilengkapi dengan cerita yang diambil dari babad dan sejarah tanah Jawa. Lakonlakon yang dibawakan waktu itu berkisar pada penyebaran agama Islam . Perkembangan Wayang Golek di Tanah Pasundan (Jawa Bara. terjadi pada abad ke-19 M . 0 M). Perkembangan ini diawali oleh dukungan Bupati Bandung Wiranatakusumah i. Bupati Bandung menugaskan Ki Darman, juru wayang kulit asal Tegal yang tinggal di Cibiru untuk membuat bentuk golek purwa. Awalnya wayang kayu ini masih dipengaruhi bentuk wayang kulit, yaitu gepeng atau dwimatra6. Pada perkembangan selanjutnya, tercipta bentuk golek yang semakin membulat atau trimatra seperti yang biasa kita lihat sekarang. Pembuatan golek pun terus menyebar ke seluruh wilayah Jawa Barat seperti Garut. Ciamis. Ciparay. Bogor. Karawang. Indramayu, dan Cirebon . kumpulan cerita yang dipakai sebagai acuan oleh para dalang dalam pertunjukan wayang kulit di Jawa. Kumpulan cerita ini dikumpulkan dan dinyatakan secara tertulis oleh pujangga keraton Surakarta yaitu Raden Ngabehi Rangga Warsita. Walaupun sumber ceritanya kebanyakan berasal dari Mahabarata dan Ramayana dari India, tetapi beberapa isi detailnya telah diadaptasi untuk keadaan masyarakat Pulau Jawa . Lontar . ari bahasa Jawa: ron tal. Audaun talA. adalah daun siwalan atau tal (Borassus flabellifer atau palmyr. yang dikeringkan dan dipakai sebagai bahan naskah dan kerajinan . Kayu penyangga untuk memegang wayang Wayang Menak merupakan wayang berbentuk boneka kayu yang diyakini muncul pertama kali di daerah Kudus pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwana II. Sumber cerita Wayang Menak berasal dari Kitab Menak, yang ditulis oleh Ki Carik Narawita menantu Waladana. Slendro atau Salendro adalah satu di antara dua skala dari musik gamelan (Pelog dan Salendr. mendasar hanya lima nada dekat yang berjarak hampir sama dalam satu oktaf . a, mi, na, ti, l. Gepeng berarti pipih dan Dwi matra adalah istilah karya 2 dimensional, yaitu bentuk karya seni rupa yang merupakan pernyataan artistik lewat bidang datar yang mempunyai ukuran panjang & lebar. Makna Simbolik Seni Wayang Golek (Studi Kasus: Kecamatan Sukadana Kabupaten Ciamis Jawa Bara. Pada awalnya, pertunjukan wayang golek ini diadakan khusus untuk kalangan bangsawan atau menak, kemudian merambah dan diterima secara luas di seluruh masyarakat Sunda. Saat awal muncul, wayang golek memiliki berbagai fungsi, termasuk aspek religius, hiburan, sosial, dan sebagai media penyampaian Kesenian wayang golek telah melewati sejarah yang panjang sehingga seiring waktu kesenian ini menjadi ciri khas dan identitas orang Sunda . Pada tahun 2003. UNESCO secara resmi mengakui wayang golek sebagai Warisan Budaya Tak Benda Manusia yang Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity (Karya Agung Warisan Lisan dan Tak Benda Manusi. Pengakuan ini menunjukkan pentingnya wayang golek dalam konteks warisan budaya dunia dan upaya pelestariannya . Keputusan ini mengakui nilai budaya, artistik, dan filosofis dari seni wayang golek. Wayang Indonesia memiliki kualitas seni yang tinggi sehingga perlu dilestarikan dan dikembangkan agar bermanfaat bagi kemanusiaan. Kualitas seni yang tinggi itu biasa disebut Auedipeni-adiluhungAy maksudnya indah dan menarik serta sarat dengan kandungan ajaran moral keutamaan hidup . Perkembangan Wayang Golek di Kecamatan Sukadana Sebagaimana diulas diatas bahwa Sukadana pernah menjadi Augudang seniAy di era 1960-1980. Hal ini terlihat dengan menjamurnya kelompok seni dan peminat seni di wilayah Kecamatan Sukadana yang saat itu adalah bagian dari Kecamatan Rajadesa. Tidak terdapat catatan atau arsip tertulis yang menjelaskan kapan wayang golek pertama masuk ke wilayah Kecamatan Sukadana. Sahlan Saputra . mantan dalang dari Desa Sukadana Kec. Sukadana menuturkan bahwa dalang pertama yang datang ke wilayah Sukadana adalah Adeng Tejasukmana yang berasal dari Cianjur. Sehari-harinya Adeng berdagang keliling dari daerah satu ke daerah lainnya hingga ia menikah dengan seorang warga Cikaso (Desa Margajaya. Kec. Sukadan. Lalu ada dalang Otong Komar yang sehari-harinya berprofesi sebagai guru di Desa Margaharja Kec. Sukadana. Lalu ada Astam Sutisna dari Desa Salakaria Kec. Sukadana yang sebelumnya adalah murid dari Sahlan Saputra. Lalu ada dalang Deden Tirayana Sunarya dari Desa Bunter. Dalang Deden sebenarnya berasal dari Bandung alumni padepokan Giriharja yang menikah dengan seorang warga Desa Bunter. Wayang golek dari Sukadana umumnya mengisahkan cerita Ramayana. Mahabharata, dan terkadang cerita Punakawan. Salah satu keunikan dari dalang-dalang di Sukadana adalah igel . erakan tubuh pada wayang gole. Menurut Sahlan, orang luar seringkali kagum dengan cara igel wayangnya yang khas dan susah ditemukan di daerah lain. Dalang-dalang Sukadana sering tampil di dalam maupun di luar kecamatan, kabupaten bahkan hingga keluar provinsi. Seiring perkembangan jaman minat masyarakat terhadap wayang terus menurun, hingga di era tahun 1980 banyak dalang yang pensiun dan memilih mata pencaharian lain yang lebih menghasilkan. Namun disamping itu, walaupun minat masyarakat terhadap wayang terus menurun tidak mematahkan semangat para pecinta seni. Sekarang terdapat beberapa penerus dalang yang melanjutkan semangat pawayangan di Sukadana seperti Maman Saputra dari Desa Sukadana. Deden Tirayana Sunandar dan Nuryanto Tirayana Sunandar dari Desa Bunter, dan Nono Mulyono dari Desa Margajaya. Mereka memiliki ciri khas yang sama dengan pendahulunya yaitu igel/gerak tubuhnya, ditambah dengan memaksimalkan cerita lawaknya . Rupa Wayang Untuk menarik minat penonton rupa dari wayang golek memiliki bentuk yang tidak monoton, wayang selalu dirancang sedemikian rupa agar terlihat bagus baik saat ditampilkan maupun dipajang di galeri. Pembuat wayang golek selalu bebas berkreasi menciptakan aneka tampilan wayang sehingga wayang golek ada yang terlihat klasik, natural maupun variasi dengan penampilan modern seperti saat Menurut penuturan Maman Rasmana Saputra . salah seorang dalang yang ada di Kecamatan Sukadana, setiap dalang memiliki gaya masing-masing dalam hal bentuk atau rupa. Wayang golek biasanya terbuat dari kayu heras, benda . , dan sawo. Secara garis besar wayang golek berbentuk menyerupai manusia, namun detilnya sangat jauh berbeda. Setiap bagian dihubungkan dengan tali dan dapat dilepaskan. Setiap wayang memiliki detil aksesoris diantaranya makuta . , susumping . iasan teling. , baju/ kebaya, samping, gelang, anting, kemban dan sarung. Terkadang wayang juga membawa senjata seperti keris, panah, gada, tombak dan cakra7 . Dalam menggerakan bagian-bagian tubuh wayang digerakan dengan beberapa alat. Tangan kiri biasanya akan memegang sebuah batang kayu yang terhubung dengan leher dan kepala yang disebut AugagangAy. Tangan wayang digerakan dengan Ahmad Rizky Fauzi. Santi Nur Febriyanti sebuah batang kayu yang dipegang oleh tangan kanan. Pada beberapa wayang modern terkadang terdapat penggerak lidah dan selang peniup untuk membuat gestur sedang merokok. Pada bagian bawah yang tertutup sarung terdapat pasak untuk menancapkan wayang pada gebog . atang pohon pisan. di panggung utama depan dalang. Saat wayang sedang tidak tampil wayang akan disimpan pada sebuah gebog khusus disamping panggung yang bernama Janturan. Wayang golek memiliki warna yang bervariasi yaitu putih, hitam, merah, kuning langsat bahkan ada yang berwarna biru, hijau, abu-abu dan warna lainnya. Warna ini menunjukan watak setiap wayang. Terdapat makna dibalik warna-warna dalam wayang tersebut diantaranya merah melambangkan keberanian, putih kesucian, hitam melambangkan kebijaksanaan, dan kuning langsat melambangkan manusiawi. Menurut Penuturan Maman terdapat dua jenis rupa wayang secara umum yaitu Wayang Purwa . ayang klasi. dan Wayang Purna . ayang sekaran. Wayang Purwa biasanya berasesoris simpel seperti makutanya pendek dan tidak terlalu banyak motif, susumpingnya kecil, dan pakaiannya polos. Sedangkan wayang purna biasanya lebih rumit dan asesorisnya berukuran besar. Terdapat sekitar 130 tokoh wayang yang terbagi kedalam 4 golongan yaitu Batara. Satria. Buta. Punakawan dan terdapat 1 jenis tokoh-tokoh punakawan. Wayang Batara biasanya berwarna hitam atau putih, asesorisnya sangat penuh, makutanya berukuran besar dan ukuran wayangnya juga lebih besar (Gambar 1. Dalam menggerakannya wayang ini penuh wibawa, tegas dan cara bicaranya penuh penekanan, bijaksana, cerdas dan gagah. Wayang Satria (Gambar 1. bentuk tubuh gagah, kepala menunduk, bermakuta indah, susumping besar, warna tubuh kuning emas, putih dan terkadang merah, bentuk mata sipit, alis tipis, dan hidung biasanya berukuran kecil, sebagian besar tidak berkumis. Wayang Buta atau ashura atau raksasa memiliki ukuran besar, berwarna merah, mata melotot, alis dan kumis tebal, gigi tajam besar hingga keluar, dan bermakuta (Gambar 1. Jaman sekarang wayang buta dari golongan kecil biasanya berpenampilan kecil . berkepala botak dan ada juga berambut gondrong acak-acakan, bermata melotot bermulut lebar dan berpakaian compang-camping, dalam pergerakannya wayang buta dari para raja bernada besar/seram dengan gerakan tegas dan berwibawa, sedangkan dari golongan kecil biasanya suara cempreng, kasar, dan gerakannya ceroboh. Wayang Punakawan biasanya berpenampilan rakyat biasa pada umumnya seperti pangsi, sarung dan iket/bendo. Wayang ini bertubuh kecil, berwarna kuning langsat dan merah dengan wajah yang tidak terlalu rupawan (Gambar 1. Dalam berbicaranya punakawan seringkali penuh canda tawa, menjahili majikan/tuannya. Beberapa punakawan memiliki karakter ganda, suatu waktu ia menjadi rakyat biasa dan suatu waktu ia berperan sebagai Batara (Dew. , ia menjadi punakawan tersebut hanya mengawasi marcapada . secara langsung. Selain karakter-karakter wayang yang sudah disebutkan diatas terdapat juga karakter wayang yang tidak masuk dalam pewayangan klasik Jawa yaitu wayang kreasi/ modern. Wayang ini wujudnya terkadang benarbenar menyerupai manusia atau bahkan dapat berpenampilan sangat seram. Seperti gigi yang tonggos muncul keluar, ramput putih, mata hitam besar dan tubuh pendek (Gambar 1. Gambar 1. Jenis-jenis wayang berdasarkan sumber: Dalang Maman Saputra & Dalang Deden Simbol Pertunjukan wayang adalah sebuah bentuk Auteater totalAy dimana setiap lakon atau cerita wayang disajikan dalam pergelaran secara menyeluruh yang terungkap dalam bentuk simbol-simbol . Simbol-simbol yang ditampilkan memiliki makna-makna dan nilai-nilai yang bermanfaat untuk moral, pendidikan, agama dan budi pekerti. Dalam wayang akan selalu muncul nilai baik dan nilai buruk yang diwakili oleh karakter wayang. Setiap karakter memiliki penampilan dan watak yang khas. Makna aspek kehidupan yang ditampilkan dalam wayang memiliki cakupan yang sangat luas mulai dari alam nyata Cakra adalah senjata dengan bentuk seperti panah namun pada bagian mata panah berbentuk roda dengan gigi-gigi yang menyerupai mata tombak. Cakra identik dengan piringan dengan ujung-ujungnya yang tajam . Makna Simbolik Seni Wayang Golek (Studi Kasus: Kecamatan Sukadana Kabupaten Ciamis Jawa Bara. hingga alam kahyangan, mulai dari manusia lahir hingga moksa . , mulai dari kebahagiaan hingga tragedi perang. Wayang menjadi gambaran yang nyata akan roda kehidupan manusia yang dipenuhi simbol-simbol penuh makna, dan penonton wayang harus mampu menerjemahkan dan merealisasikan makna tersebut dalam kehidupannya . Deden Tirayana menjelaskan setiap makna dari pergelaran wayang mulai dari panggung hingga Panggung melambangkan marcapada . tempat kita hidup, mulai dari panggung kosong lalu dipenuhi adegan dan konflik hingga kosong kembali. Marcapada pun begitu mulai dari kekosongan, dipenuhi manusia, terjadi segala konflik hingga suatu saat akan dikosongkan kembali oleh Yang Maha Kuasa. Dalang selalu memegang sempala yang dipukul-pukul ke peti kayu. Sempala tersebut berupa pemukul yang lonjong dan besar ke ujung. Sempala ini melambangkan kekompakan, tekad yang bulat dan fokus ke tujuan. Tempat menancapkan wayang saat tampil adalah sebuah pohon pisang . yang disebut jagat, jika jagat dijatuhkan/ dirobohkan maka robohlah para wayang. Begitupun manusia jika dirobohkam oleh Yang Maha Kuasa maka robohlah manusia itu. Saat wayang tidak dipakai ia akan disimpan pada sebuah alat bernama janturan dengan cara dijajarkan kesamping. Makna dari janturan ialah bahwa dalam kehidupan kita itu sejajar atau sama baik itu orang kaya, miskin, pejabat, konglomerat semuanya setara/sejajar dihadapan Yang Maha Kuasa. Jagat ditumpukan dan dipasak dengan sebuah kayu bernama pancuh. Simbol yang ditampilkan ialah rapat, rapih, rata tidak renggang dan tidak miring sebelah. Makna dibalik simbol itu bahwa hidup manusia harus bergotong-royong dan bekerjasama. Pancuh juga bermakna bahwa seorang pemimpin harus adil dan tidak boleh berat sebelah. Musik dan kawih menjadi faktor utama keindahan dalam pertunjukan wayang, gamelan menjadi kunci utama nilai keindahan dalam penampilan seni wayang. Gamelan yang sering dipakai biasanya rebab, saron, bonang, penerus, rincik, slentem, goong, kempul, kendang, ketuk, jengglong, dan kecrek. Setiap gamelan memiliki falsafah masing-masing namun secara keseluruhan gamelan melambangkan perbedaan yang memiliki satu tujuan, dengan kerjasama dan kekompakan maka tujuan itu akan tercapai. Dalam berpakaian dalang memiliki pakaian khas masingmasing, namun secara garis pakaian dalang memakai bendo, beskap, samping dan sebagian membawa Pakaian melambangkan budaya Sunda yang indah sedangkan bendo melambangkan kerendah hatian dan bentuk menghormati orang lain. Falsafah dalam Pertunjukan Wayang golek Banyaknya nilai yang terkandung dalam pertunjukan wayang dapat menjadi falsafah hidup yang Banyak adegan dalam pertunjukan wayang yang sarat akan nilai dan makna. Deden menjelaskan bahwa Pandawa Lima adalah lima bersaudara yang bersatu dan kompak, dalam peribahasa Sunda terdapat kalimat Ausabeungkeutan hnteu pagirang-girang tampianAy . atu ikatan tidak hidup masingmasin. Semua wayang dalam keluarga pandawa memiliki karakter yang baik. Salah satu tokoh dalam Pandawa yaitu Yudistira memiliki karakter leuleus jeujeur liat tali asak jeujeuran pengkuh kana pamadegan . egowo hatinya, matang pemikirannya, kuat pada pendirianny. , artinya arif bijaksana tidak memaksa tapi dapat mempengaruhi orang disekitarnya. Bima memiliki karakter geutas harupateun . apuh bagai serat are. mudah tersinggung, bicara kasar namun tegas, dan cinta tanah air. Arjuna memiliki sifat kawas cai . eperti ai. , sifat air jika dibendung maka akan membludak menjadi banjir Air di sungai yang dalam permukaannya tenang tetapi dibawahnya justru membahayakan. Jika Pandawa identik dengan protagonis maka Kurawa identik dengan antagonis Kurawa adalah saudara satu kakek dengan Pandawa, kurawa berjumlah 101 orang. Sifat iri dengki, serakah, dan rangkus selalu menguasai mereka. Tokoh yang lebih jahat ialah Sangkuni yang kerap kali mengadu domba antara Pandawa dan Kurawa untuk mencari kesempatan menguasai tahta kerajaan. Sebaliknya Dorna memiliki karakter jujur, tegas dan fokus pada satu tujuan yaitu membimbing Pandawa agar menjadi keluarga yang arif dan bijaksana namun hal tersebut malah membuat ia terkesan jahat. Lalu terdapat tokoh Kresna (Krishn. yang merupakan awatara . Dewa Wisnu yang memiliki karakter cerdas namun licik untuk mencapai suatu tujuan yang ia anggap benar. Pada masa penyebaran agama Islam wayang menjadi media utama penyebaran agama Islam. Banyak cerita yang digubah menyesuaikan dengan syariAoat . Islam. Hal ini dilakukan sejak era Walisongo. Salah satu cerita yang diubah ialah mengenai Pandawa yang berpoliandri kepada Drupadi dan menjadi isteri 5 bersaudara Pandawa. Ia disebut juga pancawala yang artinya 5 laki-laki. Pada awalnya pancawala bermakna 5 laki-laki yang menjadi suaminya, namun seiring waktu dan adanya pengaruh agama Islam pancawala berubah makna menjadi 5 laki-laki yang bersepakat dalam pembagian peran sebagai suami. Jaman dahulu sebagai cara untuk menyebarkan agama Islam sebagai tiket untuk Ahmad Rizky Fauzi. Santi Nur Febriyanti menonton wayang adalah mengucap bismillah dan dua kalimat syahadat. Gugunungan . juga menjadi simbol unsur Islam yaitu melambangkan masjid sebagai tempat untuk bertafakur, beribadah dan diam iAotikaf. Sekarangpun dalang bisa dikatakan selalu membantu ulama dalam menyebarkan agama Islam, mereka selalu menceritakan benar dan salah. Deden berpendapat jika dalang tanpa ilmu agama, teknologi, variasi, dan inovasi akan maka ia akan ketinggalan jaman dan sepi permintaan. Dalam pembukaan, perpindahan sesi dan penutupan dalang selalu mengucapkan kata-kata berbahasa Sunda Buhun dan setiap syair tersebut memiliki makna yang mendalam. Salah satu bait dari kata-kata yang dilantunkan dalang yaitu: AuNu kakungkung ku kurungan Nu kasingkeng ku awak Nu katingker ku papageranAy yang ditutup oleh kurungan yang terkunci didalam badan yang dikelilingi oleh tulang rusuk . alimat-kalimat ini merujuk pada hati manusia sebagai inti dari segalany. AuBumi gonjang ganjing Langit kelap kelipAy Dunia bergetar . empa bum. Langit berkilauan cahaya . elambangkan situasi saat Batara turun ke dunia . AuTutup lawang sigotakaAy Tutup gerbang cerita . elambangkan berakhirnya lakon cerit. Tantangan di Era Modern Dulu kesenian wayang golek sempat AuberjayaAy dalam arti menjadi satu-satunya sarana hiburan yang mampu memenuhi peran dan fungsinya di dalam masyarakat. Wayang tidak hanya sekadar hiburan melainkan juga berperan dalam penyebaran Islam dan sebagai sumber informasi yang efektif. Lewat pertunjukan wayang, ajaran Islam dapat lebih mudah diterima oleh masyarakat pulau Jawa yang sebelumnya menganut agama Hindu/Budha. Wayang golek juga sering dimainkan dalam berbagai perayaan khusus seperti khitanan, pernikahan, acara karawitan, hari raya, dan acara penyambutan tamu kehormatan . Saat ini, wayang golek lebih berperan sebagai seni pertunjukan rakyat, yang relevan dengan kebutuhan masyarakat baik secara spiritual maupun materi. Meskipun di tengah pesatnya jenis hiburan modern, seni tradisional seperti wayang golek terus bertahan. Namun, kesenian tradisional semakin langka karena arus kesenian modern yang dominan. Salah satu masalah saat ini adalah kurangnya minat masyarakat menjadi pengrajin wayang golek, sehingga pembuatan wayang semakin jarang. Dan tidak adanya penerus dari generasi muda yang bersedia untuk menjadi seorang dalang . Menjadi dalang membutuhkan motivasi yang tinggi dan waktu yang panjang untuk mahir dan terampil, serta membutuhkan banyak kemampuan untuk berkompetisi dalam budaya modern. Menurut Nor Ismah . banyak dalang yang mulai belajar dan berkarir sejak masa kanak-kanak dari Sementara itu, untuk calon-calon dalang muda yang tidak berasal dari keluarga dalang, mereka harus belajar keluar atau pergi ke sekolah untuk menjadi dalang. Menurut Edward C. Van Ness . pola tradisi dalam masyarakat untuk melatih dan mengajarkan dalang di seluruh dunia adalah dari ayah yang mengajarkan putranya. Pola tersebut memberikan keuntungan pada dalang muda yang dapat berlatih sejak ia kecil termasuk keberlanjutan kemampuan dan ketertarikan yang istimewa. Seperti dalang Maman Saputra, beliau sudah menyukai kesenian wayang goleh sejak masih duduk Makna Simbolik Seni Wayang Golek (Studi Kasus: Kecamatan Sukadana Kabupaten Ciamis Jawa Bara. di bangku sekolah dasar. Keberadaannya kini tidaklah sehebat dan setegar dulu lagi. Ia kini mulai ditinggalkan oleh para pendu-kungnya. Dengan kata lain, keberadaan kesenian wayang golek saat ini dalam keadaan kritis, jangankan untuk berkembang, untuk bertahan pun sangatlah sulit . Kini, zaman tengah dilanda proses modernisasi dan globalisasi yang seringkali diidentikkan dengan pemikiran-pemikiran dan peradaban barat melalui seniman yang pada akhirnya disebarluaskan ke dalam lingkungan masyarakat luas . Namun bukan hanya itu saja, salah satu masalah lainnya adalah kurangnya minat pada masyarakat untuk menjadi pengrajin Wayang Golek, sehingga pembuatan wayang semakin jarang. Tidak adanya penerus dari generasi muda yang bersedia untuk menjadi seorang dalang menjadi masalah serius dalam pelestarian seni tradisional ini . Penyebab lainnya semakin pesatnya media sosial dan teknologi digital. Namun disisi lain seniman bisa melakukan pendekatan dan mempromosikan serta mendokumentasikan seni Wayang Golek. Inovasi ini memungkinkan seni tradisional ini diwarisi dan diapresiasi oleh generasi muda. Untuk tetap terus mempertahankan serta memajukan seni Wayang Golek ini agar tetap relevan dalam pandangan masyarakat. Upaya Pelestarian melalaui Media Teknologi Dengan upaya inovatif dan kerja sama yang tepat, warisan budaya ini dapat tetap dihormati, dijaga, dan dinikmati oleh generasi mendatang. Jika menggunakan definisi John Burger . tentang Auseniman yang hebatAy adalah seseorang yang harus sukses dalam perjuangannya. Ada tiga hal yang di bahas. Pertama Auperjuangan melawan keadaan materialAy berarti bahwa pendapatan personal dibutuhkan untuk melakukan usaha menjadi seniman yang serius. Kedua Auberjuang melawan ketidak mampuanAy menyiratkan ide baru di luar pemahaman manusia. Ketiga Auberjuang dengan dirinya sendiriAy diperlukan untuk menetapkan pandangannya ke arah pekerjaanya . Pelestarian seni tradisional tak hanya tentang melestarikan bentuk seni, tetapi juga identitas Dengan upaya inovatif dan kerja sama yang tepat, warisan budaya ini dapat tetap dihormati, dijaga, dan dinikmati oleh generasi mendatang. Setiap individu berperan dalam melindungi dan menghormati identitas budaya yang tak ternilai. Dalam sorotan kesenian modern yang semakin maju, seorang dalang harus memiliki kemampuan menarik perhatian penonton agar seni wayang tetap menarik dan tidak terlupakan. Namun, itu bukan berarti melanggar norma-norma tradisional. Maka ungkapan Aumiindung ka waktu, mibapa ka jamanAy adalah justifikasi yang tidak mengada-ada untuk menyebut epistemologi praksis gaya dalang-dalang untuk tetap mempertahankan eksistensi kesenian Wayang Golek di tengah-tengah arus tuntutan zaman . Pelestarian seni tradisional memerlukan pendekatan kreatif. Kelompok seniman dan lembaga budaya harus berkolaborasi untuk menjaga relevansi wayang golek, meskipun tantangan di era modern mungkin ada. Faktor yang cukup penting yang harus dipertimbangkan dalam upaya pelestarian wayang golek adalah dengan memanfaatkan teknologi. Tidak dapat dipungkiri di era Gen-Z ini masyarakat terutama para pemuda cenderung lebih lama menghabiskan waktu dalam dunia gadget sehingga hiburan yang ditampilkan dalam gadget akan lebih sering ditonton. Van Dijk dalam Nasrullah menyatakan bahwa media sosial adalah platform media yang memfokuskan pada eksistensi pengguna yang memfasilitasi mereka dalam beraktifitas maupun Karena itu media sosial dapat dilihat sebagai medium . online yang menguatkan hubungan antar pengguna sekaligus sebuah ikatan sosial . Bantuan teknologi justru akan memberi kesempatan kepada generasi muda yang tadinya tidak tau sama sekali dengan wayang menjadi tahu. Jika satu orang saja mengupload video pertunjukan wayang lalu lewat di beranda pengguna gadget lain maka ia akan melihat walaupun sepintas lalu semkin sering ia melihat maka akan menjadi FYP . or your pag. hingga orang tersebut akan semakin sering melihat. Jika sudah semakin sering ia akan sedikit demi sedikit menyukainya dan terus mencari seputar wayang, sehingga algoritma munculnya video wayang akan semakin naik. Seiring itu semakin banyak pengguna yang mengamati dan mendalami maka akan semakin banyak makna yang disimbolkan dalam pertunjukan wayang tersebut. Memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk mengedukasi masyarakat tentang kesenian tradisional. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memposting informasi tentang sejarah, nilai, dan makna dari kesenian tradisional. Dengan demikian, masyarakat dapat lebih memahami dan Ahmad Rizky Fauzi. Santi Nur Febriyanti menghargai kesenian tradisional. Mempromosikan kesenian tradisional melalui media sosial, seperti Instagram. Twitter. TikTok, dan YouTube (Gambar. Memposting foto, video, atau informasi tentang kesenian tradisional, dapat menarik minat orang untuk mengenal dan mempelajari lebih lanjut tentang kesenian tersebut. Menurut pendapat Meilani Sri Ayuningsih bahwa mengikuti perkembangan zaman memang bukanlah hal yang salah, karena masyarakat yang berkembang merupakan masyarakat yang mampu beradaptasi . Gambar 2. Pertunjukan Wayang Nuryanto Tirayana dari Desa Bunter Kec. Sukadanadalam program #NontonDi Rumah Edisi VII (Ke-tuju. - Disbudpora Ciamis (Sumber: Youtube Disbudpora Ciamis: https://w. watch?v=KCis7hiWQw4& t=5328. PENUTUP Wayang golek merupakan seni rupa sekaligus seni pertunjukan yang memiliki makna yang begitu mendalam dengan simbol-simbol yang ditampilkan baik dari arsitektur wayang itu sendiri maupun dari alur cerita yang disajikan. Wayang terdiri lebih dari 130 karakter. Berdasarkan penggambaran karakternya wayang terdiri dari 5 golongan. Gaya arsitektur wayang dibedakan menjadi dua generasi yaitu wayang purwa dan wayang purna. Wayang purwa arsitekturnya lebih simpel sedangkan wayang purwa lebih simpel dan sederhana. Seni ini bukan hanya pertunjukan budaya, tetapi juga simbol identitas budaya Indonesia. Teknologi merupakan pedang bermata dua bagi seni wayang golek, teknologi dapat menjadi penghambat berkembangnya wayang golek karena Gen-Z cenderung lebih menyukai diam didepan layar gadget dibanding menonton pertunjukan. Namun, disisi lain teknologi menjadi media penyebaran wayang melalui platform seperti Youtube. Instagram dan media lainnya sehingga dapat dilihat oleh Gen-Z. Media sosial dan platform digital memungkinkan seni ini untuk mencapai audiens yang lebih Generasi muda yang sering melihat dalam beranda platformnya akan menjadi tahu, setelah tahu akan mengerti, setelah mengerti ia akan faham, setelah faham ia sedikit demi sedikit menjadi suka. Jika sudah suka maka ia akan ikut mengembangkan dan melestarikan. Pelestarian wayang golek membantu menjaga hubungan antara masa lalu dan masa kini, dan mendorong kita semua untuk melindungi dan menghormati identitas budaya yang kaya dan beraneka ragam. Seni ini adalah cerminan keindahan, filosofi, dan etika yang tak ternilai harganya dalam budaya Indonesia, dan merupakan warisan yang harus dilestarikan. Sukadana sebagai salah satu Kecamatan di Kabupaten Ciamis memiliki sedikit penggiat seni dan hanya memiliki empat dalang yang aktif tampil, dua diantaranya sering tampil dalam media virtual seperti Youtube. Live Facebook dan Instagram. DAFTAR PUSTAKA