KARANGAN: Jurnal Kependidikan. Pembelajaran, dan Pengembangan. Vol 02. No 02. Bln September. Tahun 2020. Hal 26 Ae 32 PEMBELAJARAN FISIKA DENGAN VIDEO REKAM LAYAR PADA MASA PANDEMI COVID-19 UNTUK MENGOPTIMALKAN KEMAMPUAN BELAJAR SISWA KELAS XII-MIPA. 1 POKOK BAHASAN LISTRIK DINAMIS SMA NEGERI 2 BANGKALAN Mohammad Saeri Guru SMA Negeri 2 Bangkalan INFO ARTIKEL Diterima:28-8-2020 Disetujui:30-8-2020 Kata Kunci: rekam layar, cooperative learning, knowledge Abstrak: Tujuan menggunakan aplikasi rekam layar ini adalah meningkatkan kemampuan pengetahuan fisika kelas XII-MIPA. 3 siswa SMAN 2 Bangkalan 2020/2021. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Setiap siklus dalam CAR dimulai dengan rencana, kemudian dilanjutkan dengan implementasi, observasi dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah 34 siswa kelas XII-MIPA. 3 Sman 2 Bangkalan. Data dikumpulkan menggunakan hasil tes pengetahuan siswa, dan dianalisis secara deskriptif kuntitatif. Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan video rekam layar dapat meningkatkan kemampuan pengetahuan siswa kelas XIIMIPA. 3 SMAN 2 Bangkalan dalam proses pembelajaran Dengan memberikan variasi pembelajaran menggunakan video rekam layar dan mendorong siswa untuk belajar kelompok terjadi peningkatan hasil kemampuan siswa pada siklus pertama, kedua, dan ketiga. Dengan membatasi KKM 70, persentase ketuntasan pengetahuan 17,64 % pada tahap awal menjadi 45% sebagai hasil dari tindakan pertama. Hasil ini masih sangat jauh dari target yaitu ketuntasan sebesar 75%. Maka pada tindakan kedua dilakukan banyak perbaikan, diantaranya dengan menyiapkan materi dalam bentuk power point dan menjelaskannya menggunakan video rekam layar. Selain itu, juga penekanan pada optimalisasi pemanfaatan sumber belajar yang tersedia, baik dari buku maupun internet. Langkah ini memberikan pengaruh yang sangat signifikan pada kemampuan pengetahuan siswa, terbukti ketuntasan kemampuan pengetahuan siswa sebagai hasil dari tindakan kedua ini meningkat tajam menjadi 69%. Tindakan ketiga dilakukan banyak perbaikan, diantaranya dengan penyederhanaan ringkasan materi, dan penekanan yang diulang pada pemahaman konsep yang agak rumit dengan menggunakan rekam layar, terutama dalam pembahasan soal-soal. Hal ini menunjukkan selalu terjadi peningkatan persentase ketuntasan pada nilai kemampuan pengetahuan siswa menjadi 89 % Demikian pula, aspek kemampuan pengetahuan siswa selalu meningkat. Abstract: The purpose of using this screen recording application is to improve the ability of physics knowledge class XII-MIPA. 3 students of SMAN 2 Bangkalan Saeri. Pembelajaran Fisika DenganA 2020/2021. This research uses the Classroom Action Research (CAR) method. Each cycle in CAR begins with a plan, then continues with implementation, observation and The subjects of this study were 34 students of class XII-MIPA. 3 Sman 2 Bangkalan. Data were collected using the results of student knowledge tests, and analyzed descriptively quantitative. From the results of the study, it can be concluded that the use of video screen record can improve the ability of students of class XII-MIPA 3 SMAN 2 Bangkalan in the learning process of By providing variations of learning using video screen record and encouraging students to study groups an increase in the results of students' abilities in the first, second, and third cycle. By limiting the KKM 70, the percentage of completeness of knowledge 17. 64% in the initial stages becomes 45% as a result of the first action. This result is still very far from the target of 75% So in the second action many improvements were made, including by preparing material in the form of power points and explaining them using screen record In addition, there is also an emphasis on optimizing the use of available learning resources, both from books and the internet. This step has a very significant influence on students 'knowledge abilities, as evidenced by completeness of students' knowledge abilities as a result of this second action increased sharply to 69%. The third action was carried out many improvements, including by simplifying the summary of material, and repeated emphasis on understanding rather complex concepts by using screen recordings, especially in the discussion of questions. This shows that there is always an increase in the percentage of completeness in the value of students 'knowledge ability to be 89% Similarly, aspects of students' knowledge ability is always increasing. Alamat Korespondensi: Mohammad Saeri. SMA Negeri 2 Bangkalan Email: mohammadsaeri16@gmail. Pembelajaran Fisika di kelas XII SMA Negeri 2 Bangkalan pada masa pandemic covid19 sangat menyita waktu untuk berfikir, selama KBM daring guru-guru mengajar dengan pola yang monoton atau konvensional yang dicirikan dengan mengandalkan penggunaan metode ekspositori yaitu menjelaskan, memberi contoh, mengajukan pertanyaan, dan memberi tugas secara klasikal melalui whatsApp. Kalaupun ada diskusi terkesan kurang hidup, karena faktor dari kemampun guru sendiri yang kurang mumpuni dalam mengelola kelas maupun penggunaan aplikasi daring yang digunakan terhadap pelajaran fisika masih SMA Negeri 2 Bangkalan merupakan salah satu sekolah menengah atas Negeri yang terakreditasi A di kabupaten Bangkalan. Walaupun demikian, dari hasil raport fisika kelas XI-MIPA. 3 di SMA Negeri 2 diperoleh suatu fakta bahwa tidak semua siswa kelas XI-MIPA. 3 memiliki nilai yang bagus dalam mata pelajaran fisika. Masih banyak siswa yang masih mengalami kesulitan dalam menerima materi pelajaran Fisika. Apalagi masa pandemi covid-19 ini, siswa harus daring sehingga dibutuhkan alat komunikasi (HP) karena HP ini yang yang mempermudah komunikasi guru dengan siswa baik dalam kegiatan belajar mengajar atau pemberian tugas dan pengumpulannya. Selain itu, dalam proses pembelajaran fisika yang berlangsung selama pandemi covid-19 didominasi dengan metode diskusi, guru memberikan screenshot materi dan tugas kemudian siswa diminta untuk mempelajari materi dan mengerjakan tugas. Hal ini KARANGAN: Jurnal Kependidikan. Pembelajaran, dan Pengembangan. Vol 02. No 02. Bln September. Tahun 2020. Hal 26 Ae 32 membuat suasana semakin tidak menarik sehingga mengakibatkan siswa jenuh dengan pembelajaran yang kurang variatif tersebut. Proses KBM dengan WhatsApp selama ini membosankan bagi siswa sehingga siswa kurang terlibat aktif dalam pembelajaran. Model pembelajaran seperti ini menunjukkan bahwa guru terkesan kurang persiapan dan masih menjadi sentral dalam pembelajaran, sementara siswa kurang diberdayakan kemampuannya secara optimal. Hal itu tentu akan berpengaruh pada pencapaian hasil belajar siswa. Dari hasil raport Fisika kelas XI-MIPA. 3 semester genap, wawancara dengan guru pengajar dan pengamatan langsung dapat diidentifikasi permasalahan-permasalahan yang Permasalahan-permasalahan yang terjadi di SMA Negeri 2 Bangkalan dapat dikemukakan sebagai berikut: . metode konvensional masih dominan dalam kegiatan belajar-mengajar pada masa pandemic covid-19 sehingga menimbulkan kejenuhan pada . kurang optimalnya perhatian dan aktivitas siswa dalam belajar Fisika. Hasil dari obsevasi awal hanya ada sekitar 30% yang memperhatikan penjelasan dari guru . emberikan komentar lewat WhatsAp. kurangnya penggunaan aplikasi pembelajaran khususnya untuk mata pelajaran Fisika. Guru hanya menggunakan WhatsApp saja. kondisi siswa yang kurang aktif dalam mengikuti pelajaran Fisika. Hal ini ditunjukkan oleh sikap siswa yang enggan bertanya maupun menjawab pertanyaan guru. Terbukti dari observasi awal hanya sedikit siswa yang bertanya, tidak lebih dari 5 anak. Dan ketika guru melontarkan pertanyaan siswa malah diam. setiap kelas telah dilengkapi dengan group masing-masing mapel tetapi siswa acuh dan tidak menarik dengan penyajian pembelajaran dari guru. cara mengajar guru yang terlalu monoton membuat situasi kelas terkesan . pada umumnya banyak siswa yang masih sulit memahami konsep Fisika sehingga berakibat kurang maksimalnya nilai akademik siswa. Terbukti dari hasil nilai PAT semester genap, tidak ada satupun siswa yang tuntas. Dengan KKM (Kriteria Ketuntasan Minima. yaitu nilai 70, tapi nilai tertinggi di kelas XI-MIPA. 3 adalah 68. Dari berbagai masalah di atas, maka perlu adanya perbaikan kualitas proses pembelajaran maupun hasil belajar siswa pada masa pandemic covid-19. Sebagai tindak lanjut guna mengatasi permasalahan yang terjadi maka perlu dilakukan penelitian tindakan . ction researc. yang berorientasi pada perbaikan kualitas pembelajaran melalui sebuah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR). Peningkatan atau perbaikan kinerja belajar siswa di kelas, mutu proses pembelajaran, kualitas prosedur dan alat evaluasi yang digunakan serta kualitas penerapan kurikulum, dan pengembangan kompetensi siswa dapat dilaksanakan melalui Penelitian Tindakan Kelas (Arikunto. Suhardjono & Supardi 2008: . Penerapan metode mengajar yang bervariasi merupakan upaya untuk meningkatkan keberhasilan siswa dalam belajar sekaligus salah satu indikator peningkatan kualitas Metode mengajar yang bervariasi dapat mengurangi kejenuhan siswa dalam menerima pelajaran, meningkatkan kemampuan siswa untuk berinteraksi sosial dan memperkecil perbedaan yang ada. Metode mengajar yang baik adalah metode yang mendapatkan hasil belajar yang tahan lama, dapat digunakan dalam kehidupan siswa dan merupakan pengetahuan asli atau otentik (Sardiman, 2010: 49-. Usaha meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar dapat dilakukan dengan mengadakan inovasi dalam proses pembelajaran, salah satunya yaitu dengan rekam layar. Guru dapat mempersiapkan materinya sedemikian rupa dengan membuat rangkuman materi dan dapat menjelaskan hal-hal yang essensial karena struktur kurikulum yang biasanya 44 perminggu harus dilaksanakan 44 perduaminggu. Aplikasi rekam layar bisa di download atau bisa langsung menggunakan aplikasi bawaannya. Dengan rekam layar guru mampu menciptakan suasana sosial yang membangkitkan semangat agar pelajaran itu lebih efektif dan efisien karena siswa dapat melihat wajah guru dan dapat mendengarkan suaru gurunya. Metode pembelajaran Cooperative Learning merupakan salah satu metode pembelajaran yang mendukung pembelajaran konstruktivistik (Suparno, 2007: . Sistem pengajaran Cooperative Learning dapat didefinisikan sebagai sistem kerja/belajar kelompok yang Lima unsur pokok yang harus diterapkan dalam metode pembelajaran Cooperative Learning, yaitu saling ketergantungan positif, tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama, dan proses kelompok (Lie, 2002: . Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum Saeri. Pembelajaran Fisika DenganA menguasai bahan pelajaran. Hal ini dilakukan siswa menggunakan group WhatsApp dan mereka mendiskusikan di groupnya masing-masing METODE Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode Classroom Action Research (CAR) atau Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan dengan empat aspek utama yang saling berkaitan, yaitu: . perencanaan tindakan, . tindakan, . observasi, dan . Keempat aspek itu dihubungkan sebagai suatu siklus sebagaimana tampak pada Gambar 1. Penelitian tindakan kelas dilakukan menggunakan model kolaboratif antara guru dengan Guru dan peneliti duduk bersama secara harmonis untuk memikirkan dan menemukan permasalahan yang diteliti dalam penelitian tindakan kelas, penentuan rencana tindakan perbaikan dan pelaksanaan penelitian. Berdasarkan kesepakatan antara peneliti dan guru maka tugas guru dan peneliti pada penelitian ini adalah sebagai berikut : Peneliti pada penelitian ini bertugas sebagai pelaksana tindakan. Guru pada penelitian ini bertugas sebagai observer atau pengamat. Selain itu dalam penelitian tindakan kelas ini melibatkan seorang rekan peneliti untuk membantu observasi. Berdasarkan observasi awal dirancang suatu tindakan untuk meningkatkan kemampuan belajar siswa menggunakan media video rekam layar. Untuk memperoleh hasil yang maksimal pada penelitian ini dilakukan dalam 3 siklus, jika satu siklus belum memperoleh hasil yang diharapkan, maka dilanjutkan siklus berikutnya yang disesuaikan dengan hasil refleksi pada siklus sebelumnya. Gambar 1. Siklus Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas (Sumber: Arikunto, dkk. KARANGAN: Jurnal Kependidikan. Pembelajaran, dan Pengembangan. Vol 02. No 02. Bln September. Tahun 2020. Hal 26 Ae 32 Dalam penelitian ini, difokuskan pada penilaian hasil belajar siswa yang lebih khusus penilaian terhadap kemampuan pengetahuan siswa. Dengan demikian, penilaian terhadap hasil belajar siswa diperoleh berdasarkan hasil tes pada tiap siklus. Data yang dikumpulkan yaitu daftar nilai ulangan/tes siswa dalam proses pembelajaran fisika menggunakan rekam Data penelitian berupa data hasil observasi dengan berpedoman pada lembar observasi aktivitas siswa dan juga nilai pengetauansiswa pada saat kondisi awal, lalu nilai pada tes siklus 1 dan tes siklus 2. Analisis kuantitatif dari data yang telah berhasil diperoleh dari hasil observasi pada setiap siklus dalam pelaksanaan tindakan kelas dianalisis secara diskriptif dengan menggunakan teknik persentase untuk melihat kecenderungan yang terjadi dalam proses Kegiatan analisis tersebut meliputi: Hasil tes kemampuan pengetauan siswa di akhir tiap siklus. Penelitian ini dikatakan berhasil apabila target yang telah direncanakan pada penelitian ini tercapai. Target penelitian tersebut disusun oleh peneliti dan guru dengan memperhatikan kondisi awal kelas yang dijadikan subjek penelitian. Adapun untuk target dalam penelitian ini disajikan pada Tabel. Tabel 1. Indikator Keberhasilan Kemampuan Pengetahuan Siwa Indikator Cara Penilaian Keterca Tercapainya nilai batas Oc Jawaban benar Oc total soal Tuntas (KKM) > 70 HASIL H Hasil belajar siswa diperlihatkan dengan melakukan kajian dokumentasi terhadap arsip nilai PAT I (Penilaian Akhir Semester I). Kondisi pengetauan pada kelas XI-MIPA. ini tergolong rendah, terbukti dengan mencermati nilai PAT pada kelas ini yang memperlihatkan dengan batas ketuntasan minimum nilai 70 tenyata hanya 6 siswa yang tuntas atau sekitar 17,64% dari total 34 siswa dalam kelas tersebut. Tindakan pertama dilakukan dengan membimbing siswa untuk membahas materi yang ditekankan melalui diskusi dalam kelompok. Dengan langkah ini terjadi peningkatan ketuntasan kemampuan pengetahuan dari 17,64 % pada tahap awal menjadi 45% sebagai hasil dari tindakan pertama. Hasil ini masih sangat jauh dari target yaitu ketuntasan sebesar Maka pada tindakan kedua dilakukan banyak perbaikan, diantaranya dengan pembimbingan dan penekanan untuk melakukan belajar melalui daring, terutama dalam pembahasan soal-soal menggunakan video rekam layar. Selain itu, juga penekanan pada optimalisasi pemanfaatan sumber belajar yang tersedia, baik dari buku maupun internet. Langkah ini memberikan pengaruh yang sangat signifikan pada kemampuan pengetauansiswa, terbukti ketuntasan kemampuan pengetahuan siswa sebagai hasil dari tindakan kedua ini meningkat tajam menjadi 69%. tindakan ketiga dilakukan banyak perbaikan, diantaranya dengan penyederhanaan ringkasan materi, dan penekanan yang diulang pada pemahaman konsep yang agak rumit dengan menggunakan rekam layar, terutama dalam pembahasan soal-soal. Hal ini menunjukkan selalu terjadi peningkatan persentase ketuntasan pada nilai kemampuan pengetahuan siswa menjadi 89 % pada rangkaian proses pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran kooperatif, dan akhirnya tercapai target awal pada siklus yang ketiga. Selengkapnya sebagaimana pada Tabel 2. Saeri. Pembelajaran Fisika DenganA Tabel 2. Persentase Ketercapaian Nilai Kemampuan Pengetahuan. Aspek Persentase Ketercapaian Persentase Ketercapaian Nilai Kemampuan Kognitif Kondisi Awal 17,64% Siklus I Siklus II Siklus i Kesimpulan Setiap siklus selalu terjadi SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Dengan menerapkan aplikasi rekam layar pada pembelajaran kooperatif, selalu terjadi peningkatan kemampuan pengetahuan siswa dalam pembelajaran fisika. Tindakan pertama dilakukan dengan membimbing siswa untuk membahas materi yang ditekankan melalui diskusi dalam kelompok asal dan kelompok ahli. Dengan langkah ini terjadi peningkatan ketuntasan kemampuan pengetauandari 16,75% pada tahap awal menjadi 45% sebagai hasil dari tindakan pertama. Hasil ini masih sangat jauh dari target yaitu ketuntasan sebesar 75%. Maka pada tindakan kedua dilakukan banyak perbaikan, diantaranya dengan pembimbingan dan penekanan untuk melakukan belajar kelompok melalui daring. Selain itu, juga penekanan pada optimalisasi pemanfaatan sumber belajar yang tersedia, baik dari buku maupun internet. Langkah ini memberikan pengaruh yang sangat signifikan pada kemampuan pengetauansiswa, terbukti ketuntasan kemampuan pengetauan siswa sebagai hasil dari tindakan kedua ini meningkat tajam menjadi 69%. Tindakan ketiga dilakukan banyak perbaikan, diantaranya dengan penyederhanaan ringkasan materi, dan penekanan yang diulang pada pemahaman konsep yang agak rumit dengan menggunakan rekam layar, terutama dalam pembahasan soal-soal. Hal ini menunjukkan selalu terjadi peningkatan persentase ketuntasan pada nilai kemampuan pengetahuan siswa menjadi 89 %Hal ini menunjukkan selalu terjadi peningkatan persentase ketuntasan pada nilai kemampuan pengetauansiswa pada rangkaian proses pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran koopaeratif, dan akhirnya tercapai target awal pada siklus yang ketiga. Saran