Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan Volume 21. Nomor 1. Juni 2026: 1-11 https://jurnal. univpgri-palembang. id/index. php/ikan PENGARUH KEDALAMAN LOKASI PENANGKAPAN PUERULUS LOBSTER PASIR (Panulirus homaru. TERHADAP KUALITAS BENIH DI PERAIRAN LABANGKA The Effect of the Depth Fishing Location of Baby Lobster Panulirus homarus on the Quality of Seeds in Labangka Waters Annesya Virgiawani1. Adi Suriyadin1*. Muhammad Haikal Abdurachman2 Program Studi Ilmu Perikanan. Fakultas Ilmu dan Teknologi Hayati. Universitas Teknologi Sumbawa Program Studi Doktoral Pengelolaan Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor *Corresponding author: adi. suryadin@uts. ABSTRAK Lobster pasir (Panulirus homaru. adalah jenis lobster dengan nilai ekonomi penting di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh kedalaman lokasi penangkapan puerulus lobster pasir (P. terhadap kualitas benih di perairan Labangka. Nusa Tenggara Barat. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF) dengan dua faktor, yaitu lokasi penangkapan dan kedalaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor lokasi penangkapan tidak memiliki pengaruh signifikan (P>0,. terhadap tingkat kelangsungan hidup dan perubahan bobot biomassa Namun, faktor kedalaman dan waktu pengamatan memiliki pengaruh signifikan (P<0,. terhadap TKH dan perubahan bobot biomassa lobster. TKH tertinggi terdapat pada pantai Semara . dengan kelangsungan hidup mencapai 60-100%. Biomassa terendah terdapat pada pantai Semara . dengan nilai 0. 198A0,001 gram. Benih lobster yang berkualitas baik berada pada pantai Semara dengan TKH 60-100% dan biomassa 0,001 gram, serta berada pada kedalaman 28-30 meter . dengan TKH berkisar 31,1i,5%. Kata Kunci: kedalaman penangkapan, kualitas benih, lokasi penangkapan. Panulirus homarus, puerulus lobster. ABSTRACT Spiny lobster (Panulirus homaru. is a species of lobster with significant economic value in Indonesia. This study aims to evaluate the effect of capture depth on the quality of homarus puerulus seeds in the waters of Labangka. West Nusa Tenggara. The research employed a Factorial Randomized Block Design (FRBD) with two factors: capture location and depth. The results showed that the capture location factor had no significant effect (P>0. on the survival rate and biomass weight changes of the lobsters. However, depth and observation time had significant effects (P<0. on survival rate (SR) and biomass weight changes. The highest survival rate was found at Semara beach . iddle zon. , reaching 60Ae100%. The lowest biomass was recorded at Semara beach . hore zon. , with a value of 0. 198A0. 001 grams. High-quality lobster seeds were found at Semara beach, with a survival rate of 60Ae100% and biomass of 0. 001 grams, at a depth of 28Ae30 meters . iddle zon. , where survival ranged between 31. 1%-95. e-ISSN 2620-4622 p-ISSN 1693-6442 Pengaruh Kedalaman Lokasi Penangkapan Puerulus Lobster PasirA Annesya Virgiawani et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Juni :1-11 Keywords: Fishing depth, fishing location. Panulirus homarus, puerulus lobster, seed PENDAHULUAN Lobster (Panulirus spp. ) atau udang karang merupakan organisme bercangkang keras yang memiliki nilai ekonomi penting di pasar ekspor Indonesia (Hilal & Fachry, 2. Total volume produksi budidaya lobster di Indonesia pada tahun 2023 mencapai 433 ton per tahun (KKP, 2. Saat ini, kegiatan budidaya lobster masih sangat bergantung pada benih yang berasal dari alam, dengan jenis yang paling banyak dibudidayakan yaitu lobster pasir (Panulirus homaru. dan lobster mutiara (Panulirus ornatu. (Erlania et al. , 2. Dari kedua jenis tersebut, lobster pasir (P. merupakan hasil tangkapan yang paling dominan, yaitu berkisar antara 63Ae87% dari total 103 juta ekor per tahun (Priyambodo et al. , 2. Benih lobster atau puerulus merupakan fase penting dalam siklus hidup lobster yang banyak ditangkap dan diekspor ke Vietnam (Erlania et al. , 2. Fase puerulus atau tahap post-larva memiliki ciri morfologis berupa tubuh transparan dan masih bersifat planktonik (Suastika et , 2008. Thao, 2. Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya perairan Labangka, merupakan salah satu daerah utama penangkapan benih lobster dengan jenis target utama yaitu lobster mutiara dan lobster pasir (Priyambodo et al. , 2020. Abdurachman et al. , 2. Aktivitas penangkapan benih umumnya dilakukan secara masif di perairan dekat pantai yang menjadi habitat alami beberapa jenis Penangkapan dilakukan pada malam hari, dengan kondisi oseanografi yang sangat berpengaruh terhadap keberadaan benih lobster (Priyambodo et , 2017. Vijayakumaran et al. , 2. Faktor seperti pergerakan arus dan pasang surut sangat menentukan distribusi serta pergerakan benih lobster yang semakin mendekat ke perairan pantai (Erlania et , 2016. Priyambodo et al. , 2. Penangkapan benih lobster dapat dilakukan hingga kedalaman lebih dari 21 Kedalaman perairan menjadi berpengaruh terhadap kelangsungan hidup benih lobster pada fase berikutnya (Priyambodo et al. , 2. Perbedaan jarak dan kedalaman dari pantai juga mempengaruhi penggunaan lemak tubuh sebagai cadangan energi. Rendahnya kandungan lemak tubuh diketahui dapat menurunkan tingkat kelangsungan hidup puerulus (Briones-Fourzyn et al. , 2. Lemak tubuh merupakan sumber energi utama yang menggambarkan performa serta kualitas hidup puerulus (Limbourn et al. , 2. Perbedaan kedalaman daerah penangkapan menyebabkan variasi hasil tangkapan dan perbedaan kemampuan lingkungan (Briones-Fourzyn et al. Benih berkualitas menjadi faktor penentu keberhasilan dan dapat menekan peluang pertumbuhan yang lebih cepat (Briones-Fourzyn et al. , 2019. Shanks et , 2. Oleh karena itu, penelitian tentang AuPengaruh Kedalaman Lokasi Penangkapan Puerulus Lobster Pasir (Panulirus homaru. terhadap Kualitas Benih di Perairan LabangkaAy sangat penting untuk dilakukan. Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan memberikan informasi ilmiah mengenai lokasi penangkapan benih berkualitas guna menunjang keberhasilan Pengaruh Kedalaman Lokasi Penangkapan Puerulus Lobster PasirA Annesya Virgiawani et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Juni :1-11 METODE PENELITIAN Waktu dan Lokasi Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai Oktober 2025 di Kecamatan Labangka. Kabupaten Sumbawa. Nusa Tenggara Barat. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara purposive sampling, yaitu dengan memilih lokasi yang secara aktif dimanfaatkan sebagai daerah penangkapan benih lobster . oleh nelayan setempat serta mewakili karakteristik habitat penangkapan di perairan Labangka. Lokasi penelitian terdiri atas Pantai Semara. Pantai Laju, dan Pantai Lepu. Penentuan titik pengambilan sampel pada masing-masing lokasi didasarkan pada hasil survei lapangan dan informasi dari nelayan penangkap benih lobster yang telah kedalaman daerah penangkapan yang dikelompokkan menjadi zona pinggir, tengah, dan dalam. Pengelompokan tersebut dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh variasi kedalaman lokasi penangkapan terhadap kualitas benih lobster pasir (Panulirus homaru. Peta lokasi penelitian disajikan pada Gambar Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian Rancangan Penelitian Penelitian Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF) dengan 2 faktor berbeda yang akan diuji dalam penelitian ini yakni faktor lokasi penangkapan dan faktor faktor lokasi berada pada 3 lokasi berbeda yakni Pantai Semara (A). Pantai Laju (B). Pantai Lepu (C). Selanjutnya penangkapan dikondisikan pada 3 kedalaman berbeda yakni daerah penangkapan Pinggir . Tengah . Dalam . Masing-masing dari perlakuan menggunakan 5 ulangan individu. Prosedur Kerja Persiapan Wadah Wadah yang digunakan berupa toples plastik 250 ml sebanyak 5 buah dengan masing-masing toples diisi berisi 1 ekor benih P. Setiap wadah Pengaruh Kedalaman Lokasi Penangkapan Puerulus Lobster PasirA Annesya Virgiawani et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Juni :1-11 yang digunakan berisi air laut yang telah ditambahkan formalin konsentrasi 40% dengan Lethal concentration (LC. pada dosis 220 ppm (Anisa, 2. Setiap wadah pengujian diberikan aerasi yang berfungsi untuk memasok udara kedalam Parameter Pengamatan Tingkat Kelangsungan Hidup Pengamatan tingkat kelangsungan hidup dinyatakan dengan persamaan berikut (Effendi, 2. Persiapan Wadah Wadah yang digunakan berupa toples plastik 250 ml sebanyak 5 buah dengan masing-masing toples diisi 1 ekor benih P. homarus setiap wadah yang digunakan berisi air laut yang telah ditambahkan formalin konsentrasi 40% dengan LC70 pada dosis 220 ppm (Anisa. Setiap wadah pengujian diberikan aerasi yang berfungsi untuk memasok udara kedalam air. Keterangan: SR = Tingkat kelangsungan hidup Nt = Jumlah yang hidup di akhir . N0 = Jumlah yang hidup di awal . Pengujian Kualitas Benih Benih yang berkualitas dapat dilihat dari kemampuan benih tersebut untuk bertahan hidup, tumbuh, serta tahan terhadap perubahan lingkungan dan perlakuan menggunakan bahan kimia. Pengujian kualitas benih pada penelitian ini dilakukan melalui uji ketahanan. Air laut yang digunakan yang telah diendapkan kemudian ditambahkan formalin 40% dengan (LC. dan dosis 220 ppm, yang uji selama 60 menit dengan pengamatan tingkat kelangsungan hidup dilakukan setiap 20 menit sekali (Anisa, 2. Larutan formalin tersebut dihomogenkan dengan cara diaduk selama 3-5 menit. Penimbangan puerulus dilakukan pada awal dan akhir pengujian untuk mengetahui perubahan berat tubuh, pengenceran formalin mengacu pada persamaan berikut (Krishnaveni et al. Keterangan: Wm = Pertumbuhan berat mutlak . Wt = Berat rata-rata akhir . W0 = Berat rata-rata awal . C1 x V1 = C2 x V2 Keterangan: C1 = Konsentrasi awal larutan V1 = Volume awal larutan C2 = Konsentrasi akhir larutan V2 = Volume akhir larutan ycIycI = ycU 100% Perubahan Biomassa Tubuh Pengamatan perubahan biomassa persamaan sebagai berikut (Effendie, ycOyco = ycOyc Ae ycOycu Kualitas Air Pengukuran parameter kualitas air dilakukan satu kali pada saat pengambilan Parameter yang diamati meliputi oksigen terlarut, potensial 4hermome . H), salinitas dan suhu. Nilai Dissolved Oxygen (DO) diukur menggunakan DO meter, pH diukur menggunakan pH meter digital, salinitas diukur menggunakan 4hermometer4r, sedangkan suhu diukur menggunakan 4hermometer digital. Analisis Data Data hasil pengukuran diolah menggunakan Microsoft Excel 2013 untuk memperoleh nilai rata-rata dan penyajian grafik. Selanjutnya, data hasil perlakuan diuji statistik menggunakan software minitab dengan uji Multivariate Analysis of Variance (MANOVA) dengan signifikansi (P<0,. untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap parameter yang diamati. Apabila hasil analisis Pengaruh Kedalaman Lokasi Penangkapan Puerulus Lobster PasirA Annesya Virgiawani et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Juni :1-11 menunjukkan pengaruh yang nyata, maka dilanjutkan dengan uji lanjut Tukey. Tingkat Kelangsungan Hidup (%) HASIL DAN PEMBAHASAN Tingkat Kelangsungan Hidup (TKH) Tingkat kehidupan lobster pasir selama masa penelitian berkisar dari 75,6% 94,4%. Tingkat kelangsungan hidup dapat menjadi deskripsi dari kualitas benih selama proses pengamatan. Tingkat ketahanan stres yang berbeda dapat dipengaruhi oleh faktor genetik, fisiologi dan kualitas air (Khaerudin et al. , 2. Hasil kelangsungan hidup lobster, berdasarkan persentase grafik selama masa penelitian disajikan pada Gambar 2 sebagai berikut: 0 20 40 60 0 20 40 60 0 20 40 60 0 20 40 60 0 20 40 60 0 20 40 60 0 20 40 60 0 20 40 60 0 20 40 60 Pinggir Tengah Dalam Pinggir Pantai Semara Tengah Pantai Laju Dalam Pinggir Tengah Dalam Pantai Lepu Waktu Pengamatan. Kedalaman dan Lokasi Penangkapan Gambar 2. Tingkat Kelangsungan Hidup Puerulus Lobster Pasir Tingkat kelangsungan hidup yang Gambar menunjukkan bahwa nilai TKH tertinggi terdapat pada pantai Semara dengan kedalaman 28-30 meter . dengan kisaran nilai 60-100%. Nilai TKH terendah berada pada pantai Lepu pada kedalaman 42-44 meter . dengan kisaran nilai 20-0%. Hasil uji statistik, tingkat kelangsungan hidup lobster selama masa penelitian disajikan pada Tabel 1. Hasil uji statistik TKH menunjukkan bahwa faktor kedalaman dan waktu pengamatan memiliki pengaruh signifikan (P<0,. terhadap TKH yang disajikan pada (Tabel . Menurut Nurdin et al . lokasi penangkapan dengan kondisi oseanografi dan kedalaman perairan yang berbeda memiliki pengaruh terhadap komposisi dan jenis lobster yang tertangkap jarak lokasi penangkapan benih dari pantai dan kedalaman memiliki pengaruh hasil tangkapan yang tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh faktor oseanografi dan mempengaruhi habitat benih lobster. Menurut Barton & Iwana . benih kandungan formalin dalam air hingga tidak mengalami kematian. Pengaruh Kedalaman Lokasi Penangkapan Puerulus Lobster PasirA Annesya Virgiawani et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Juni :1-11 Tabel 1. Uji statistik MANOVA tingkat kelangsungan hidup lobster Faktor Pengaruh Tingkat Kelangsungan Hidup (%) Lokasi Pantai Semara Pantai Laju Pantai Lepu 80,0 A 27,1a 68,3 A 30,0a 70,0 A 36,1a Kedalaman Pinggir Tengah Dalam 76,6 A 25,6a 68,3 A 38,7a 73,3 A 28,7a Waktu Pengamatan 0 Menit 20 Menit 40 Menit 60 Menit 100 A 0,0a 95,5 A 8,31a 64,4 A 20,6b 31,1 A 21,3c Keterangan : Huruf superskrip berbeda . ,b,. menunjukan nilai yang berbeda nyata, berdasarkan uji MANOVA pada taraf kepercayaan 95% (P < 0,. Toksisitas formalin yang terjadi pada benih lobster menyebabkan beberapa perubahan perilaku dan kondisi tubuh seperti respon yang lambat, kondisi ekor melipat dan perubahan warna tubuh (Anisa, 2. Faktor stres akibat penggunaan formalin menyebabkan kerusakan jaringan serta penurunan kualitas lingkungan yang menjadi salah satu penyebab kematian (Barton & Iwana Tavares-Dias 2. Dampak lain dari formalin dapat mengganggu keseimbangan homeostasis tubuh yang mengakibatkan peningkatan stres. Hal ini tujuan membantu menyeimbangkan homeostasis dalam proses penyembuhan sel (Schlesinger et , 1. Perubahan Biomassa Tubuh Biomassa merupakan perubahan ukuran baik dalam bobot, panjang maupun volume selama periode waktu tertentu akibat perubahan jaringan tubuh (Effendie, 1. Peningkatan produksi hormon stres dapat mempengaruhi metabolisme sehingga menyebabkan penurunan bobot biomassa tubuh (Barton. Hasil pengamatan terhadap perubahan biomassa tubuh lobster, berdasarkan tabel selama masa penelitian disajikan pada Tabel 2 sebagai berikut: Tabel 2. Hasil perubahan biomassa tubuh lobster Lokasi Kedalaman Pantai Semara Pinggir Tengah Dalam Pinggir Tengah Dalam Pinggir Tengah Dalam Pantai Laju Pantai Lepu Biomassa . Awal 0,209 A 0,009 0,226 A 0,018 0,219 A 0,012 0,225 A 0,032 0,224 A 0,014 0,219 A 0,023 0,221 A 0,023 0,207 A 0,020 0,216 A 0,025 Akhir 0,198 A 0,001 0,214 A 0,015 0,204 A 0,009 0,216 A 0,022 0,204 A 0,015 0,207 A 0,019 0,211 A 0,022 0,198 A 0,021 0,207 A 0,025 Pengaruh Kedalaman Lokasi Penangkapan Puerulus Lobster PasirA Annesya Virgiawani et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Juni :1-11 Nilai biomassa yang disajikan pada Tabel 2, menunjukkan bahwa nilai tertinggi berada pada pantai Lepu . dengan kedalaman 65-66 meter adalah 0,025 gram. Nilai penurunan terendah berada pada pantai Semara . dengan kedalaman 10-13 meter yakni 198A0,001 gram. Hasil uji statistik, perubahan biomassa tubuh lobster selama masa penelitian disajikan pada Tabel 3. Hasil uji statistik menunjukan bahwat faktor kedalaman dan waktu pengamatan menunjukkan perbedaan nyata (P<0. terhadap perubahan biomassa tubuh yang disajikan pada Tabel 3. Penurunan bobot akibat paparan formalin serupa dengan penelitian Anisa . Dampak formalin pada tubuh menyebabkan perubahan ukuran bobot serta panjang menurun diakibatkan adanya peningkatan penggunaan energi cadangan menjadi faktor penyebab penurunan bobot tubuh formalin (Anzueto-Calvo et al. , 2017. Tavares-Dias, 2. Tabel 3. Uji statistik MANOVA perubahan biomassa tubuh lobster Faktor Pengaruh Lokasi Kedalaman Waktu Pengamatan Pantai Semara Pantai Laju Pantai Lepu Pinggir Tengah Dalam Awal Akhir Rata-rata Perubahan Bobot Biomassa . 0,207 A 0,007a 0,210 A 0,008a 0,208 A 0,006a 0,205 A 0,005a 0,211 A 0,006a 0,210 A 0,005ab 0,214 A 0,003a 0,202 A 0,002b Keterangan : Huruf superskrip berbeda . ,b,. menunjukan nilai yang berbeda nyata, berdasarkan uji MANOVA pada taraf kepercayaan 95% (P < 0,. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa perendaman benih (P. dalam formalin dapat menyebabkan penurunan bobot tubuh dan gangguan perilaku, seperti berdiam dan hilangnya Menurut Barton & Iwana . paparan formalin dalam media pemeliharaan menyebabkan stres dan mempengaruhi kemampuan renang, serta berat tubuh. Perubahan bobot menurun akibat paparan formalin yang cukup lama pada benih menyebabkan kurangnya cairan tubuh sehingga jaringan menyusut serta terjadi (Rahmadani et al. , 2018. Giri et al. , 2. Kualitas Air Pertumbuhan dan kelangsungan hidup lobster sangat dipengaruhi oleh kualitas air karena merupakan faktor penting dan pembatas bagi mahluk hidup dalam perairan. Kualitas air yang buruk dapat menghambat pertumbuhan lobster bahkan menimbulkan kematian. (Yusanti & Mulyani, 2. Menurut Erlania et al. kualitas air di Teluk Pidada sangat mempengaruhi aktivitas penangkapan oseanografi dan kualitas perairan yang sesuai dapat meningkatkan keberhasilan Hasil pengukuran kualitas air selama masa penelitian disajikan pada Tabel 4 sebagai berikut: Pengaruh Kedalaman Lokasi Penangkapan Puerulus Lobster PasirA Annesya Virgiawani et al. Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. Vol. Juni :1-11 Tabel 4. Parameter kualitas air selama penelitian Lokasi Kedalaman . Pantai Semara Pinggir . Tengah . Dalam . Pinggir . Tengah . Dalam . Pinggir . Tengah . Dalam . Pantai Laju Pantai Lepu Parameter Kualitas Air Oksigen Salinitas terlarut . g/L) . 6,08 7,04 6,21 7,09 6,49 7,12 5,39 7,23 5,69 7,11 5,73 7,16 5,24 7,12 5,46 7,09 6,81 7,04 Suhu (EE) Parameter kualitas air yang diukur adalah oksigen terlarut, pH. Salinitas dan Suhu. Adapun hasil pengukuran kualitas air selama penelitian pada stasiun yang berbeda masih berada pada kisaran optimum untuk kehidupan lobster air laut. Kisaran DO saat penelitian yaitu 5,246,81 mg/L. pH berkisar 7,04-7,23. Nilai salinitas berkisar 35-36 ppt serta kisaran suhu didapatkan 28-29 EE (Tabel . Phillips Kittaka oksigen terlarut minimum yang dapat digunakan untuk budidaya lobster yaitu 40-80 saturasi atau setara dengan 2,7Ae5,4 mg/L. Kisaran nilai pH yang optimal pada pembesaran lobster pasir (P. adalah 8,0-8,5 (Wickins & Lee 2. , sedangkan pH yang optimal untuk biota laut adalah 7,6-8,7 (Kordi 2. Salinitas optimal untuk lobster spiny pada kisaran 32-36 ppt (Thesiana 2. Kisaran suhu optimal untuk pertumbuhan lobster antara 29 EE-31EE (Saparinto 2. KESIMPULAN Berikut diperoleh dalam penelitian ini: Lokasi benih lobster yang berkualitas baik berada pada pantai Semara dengan nilai TKH mencapai 60-100% dan biomassa terendah 0. 198A0,001 gram. Lokasi penangkapan yang baik untuk benih lobster berada pada kedalaman 28-30 meter . , dengan nilai TKH berkisar 31,1% hingga 95,5%. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih disampaikan kepada Nelayan benih lobster atas bantuan selama pelaksanaan penelitian di lapangan, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Muhammad Haikal Abdurachman. Pi. Si yang telah memfasilitasi tempat penelitian, sehingga penelitian ini terselesaikan dengan baik. DAFTAR PUSTAKA