VOCAT : Jurnal Pendidikan Katolik Vol. No. Tahun 2024. Hal. 25 - 35 Website: https://ejournal. id/index. php/vocat PERAN KEIBUAN MARIA DALAM PASTORAL KAUM AWAM DAN IMPLIKASINYA BAGI GURU AGAMA KATOLIK Tobias Kardiman1*. Hironimus Jesanto Tamat2 STFT Widya Sasana. Malang Email: tobiasosm@gmail. com1, tamathironimus@gmail. Abstrak: Fokus tulisan ini adalah peran keibuan Maria dalam pastoral kaum awam dan implikasinya bagi Guru Agama Katolik. Kaum awam dipanggil untuk melayani dan mewartakan kerajaan Allah. Salah satu tugas kaum awam adalah menjadi Guru Agama Katolik. Kehadiran Guru Agama Katolik baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat sangatlah penting. Dewasa ini tantangan yang krusial adalah kurangnya kesetiaan dalam memberikan kesaksian hidup. Aktivitas mengajar di sekolah hanyalah formalitas semata sehingga tidak memberikan pengaruh positif dalam diri peserta didik. Guru Agama Katolik kurang menyadari panggilannya sebagai guru. Menanggapi persoalan itu maka sangatlah penting belajar dari kesetian Maria sebagai Ibu dan guru yang setia mendampingi Putranya hingga akhir. Kesetiaan, kesabaran, kesaksian hidup dan hendaknya terus dihidupi oleh Guru Agama Katolik dalam aktivitas mengajar di ruang kelas maupun di lingkungan masayarakat. Metode yang digunakan dalam penulisan ini kepustakaan . iterature revie. menganalisis penelitian terdahulu yang relavan dengan tema yang dibahas. Tulisan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesetiaan Maria dalam karya pastoral kaum awam khususnya Guru Agama Katolik. Guru Agama Katolik mestinya memiliki spirit dalam tugas pelayanannya. Kata Kunci: Awam. Guru. Kesetian, . Teladan. Maria Abstract: The focus of this article is the maternal role of Mary in the pastoral care of the laity and its implications for Catholic religious teachers. The laity are called to serve and proclaim the kingdom of God. One of the duties of lay people is to become Catholic religious teachers. The presence of Catholic religious teachers both in schools and in the community is very important. Today the crucial challenge is the lack of faithfulness in giving life testimony. Teaching activities at school are just a formality so they do not have a positive influence on students. Catholic religious teachers are less aware of their calling as teachers. In response to this problem, it is very important to learn from Mary's loyalty as a mother and teacher who faithfully accompanied her son until the end. Loyalty, patience, testimony of life should continue to be lived by Catholic religious teachers in teaching activities in the classroom and in the community. The method used in this writing is literature . iterature revie. analyzing previous research that is relevant to the theme discussed. This article aims to increase awareness of the importance of Mary's faithfulness in the pastoral work of lay people, especially Catholic teachers. Catholic Religious Teachers should have a spirit in their service duties Key words: Laymen. Loyalty. Mary. Teachers. PENDAHULUAN Konsili Vatikan II telah menempatkan keistimewaan bagi kaum awam dalam kehidupan Gereja sungguh menyadari peran awam dalam karya kerasulan. Kerasulan awam dilandasi oleh panggilan Kristiani sebagai mana diwariskan oleh para rasul. Semua dipanggil untuk terlibat dalam tugas kenabian Kristus. Umat Kristiani (Awa. yang telah dibaptis dipanggil untuk ikut serta dalam tugas kenabian Kristus (Dien, 2. Kesaksian hidup menjadi model dan teladan bagi semua umat Kristiani menunaikan tugas kenabian-Nya hingga penampakan kemuliaan sepenuhnya bukan saja melalui hierarki yang mengajar atas nama dan dengan kewibawaan-Nya melainkan juga melalui para awam . LG Art. Akan tetapi dalam konteks kehidupan dunia yang semakin berubah kaum awam kristiani berhadapan dengan kecendrungan-kecendrungan yang menekankan ekspresi lahiriah atau tampilan luar dari praktek keagamaan (Wibowo, 2015 ). Nilai- nilai Kristiani tidak berperan dalam kehidupan bersama, tidak pula menyumbangkan kemajuan bagi kehidupan publik yang menunjang kebaikan bersama . onum commun. khususnya pada bidang Relasi manusia dengan Allah, hanya mengisi ketenangan batin semata tanpa berimplikasi pada semangat untuk menjadi saksi Kristus dalam kehidupan sosial masyarakat. Dalam konteks ini awam katolik khususnya guru agama katolik terjebak dalam kenyamanan pribadi yang berujung pada kurangnya kesadaran untuk melayani secara serius. Penghayatan nilai kristiani semakin lemah, dan ilmu yang diperoleh selama masa perkuliahan hanya dijadikan sebagai pengetahuan semata tanpa adanya resapan dalam hati. Hal itu bisa terlihat dari kualitas pengabdian hidup dalam pelayanan baik di sekolah maupun lingkungan masyarakat. Relasi dengan sesama antara orang tua, guru dan murid semakin mendangkal (Donatus, 2. Dalam menghadapi konteks kehidupan yang semakin berubah awam Kristiani dipanggil untuk meneladani keibuan Maria yang setia dalam menerima tugas dari Allah. Paus Yohanes Paulus II memberikan beberapa anjuran salah satunya adalah peran keibuan Maria dalam karya misioner Gereja Katolik (Halima, 2. Peran maria sebagai ibu sangat penting dan aktual dalam hal kesetian, keiklasan dalam penghayatan iman dan memberi diri untuk rela berkorban bagi yang lain. Pada titik ini kehadiran Maria direfleksikan sebagai ibu yang melahirkan kehidupan baru dalam karya pewartaan. Ia adalah seorang ibu yang melahirkan kesetiaan, ketekunan, kepekaan. Semuanya itu diungkapan dalam Fiatnya, "Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu . Luk 1:. Ungkapan ini mencerminkan sikap kesetiaan Maria terhadap karya keselamatan Allah. Fiat Maria merangkum seluruh peran keibuannya dalam rencana keselamatan Allah (Pasi. Tulisan ini bertujuan untuk menampilkan peran keibuan Maria dalam pastoral awam dan relavansinya bagi guru agama katolik. Peran keibuan Maria dalam pastoral kaum awam memiliki dampak signifikan bagi guru agama katolik dalam menjalankan tugas mereka sebagai pendidik dan pembimbing rohani (Musi et al. , 2. Sebagai ibu Gereja. Maria menjadi teladan bagi penghayatan iman dan kasih kepada umat. Dalam pastoral kaum awam, kehadiran Maria sebagai Bunda yang penyayang memberikan inspirasi bagi guru agama Katolik dalam membina hubungan yang hangat dan penuh perhatian dengan peserta didik. Melalui pengajaran dan teladan keibuan Maria, guru agama katolik dapat memberikan pelayanan yang tulus kepada murid-muridnya. Lantas bagaimana peran keibuan Maria dalam pastoral kaum awam? Apa relavansinya bagi guru agama Katolik dalam mendidik generasi muda Katolik? METODE Tulisan ini menggunakan metode kepustakaan. Pengumpulan data dalam pembahasan dilakukan melalui studi literatur yang relavan dengan tema yang dikaji. Metode yang digunakan dalam penulisan ini kepustakaan . iterature revie. menganalisis penelitian terdahulu yang relavan dengan tema yang dibahas. Tulisan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesetiaan Maria dalam karya pastoral kaum awam khususnya Guru Agama Katolik. Guru Agama Katolik mestinya memiliki spirit dalam tugas pelayanannya. Metode ini membantu penulis untuk mendalami tema. Hasil studi membantu penulis dalam mengembangkan gagasan dan refleksi tentang peran keibuan Maria dalam pastoral kaum awam. HASIL DAN PEMBAHASAN Keibuan Maria dalam Gereja Katolik Santa Perawan Maria memegang peran penting dan sentral dalam penghayatan iman umat Katolik. Gereja Katolik menghormati Maria dengan penuh cinta dan tulus, menunjukkan devosi yang kuat terhadapnya (Pasi, 2. Penghormatan yang besar diberikan kepadanya berdasarkan ajaran Gereja Katolik seperti Maria Bunda Allah. Bunda Perawan. Maria Dikandung Tanpa Noda. Maria Diangkat ke Surga. Banyak umat yang mendalami devosi kepadanya bahkan menjadikan Maria sebagai Ibu yang peka dan peduli. Devosi kepada Maria tercermin dalam praktik-praktik iman seperti doa rosario, kunjungan ke tempat-tempat ziarah yang didedikasikan untuknya, serta pemberian penghormatan dalam bentuk perayaan-perayaan khusus. Karena perawan Maria menerima sabda Allah dengan hati dan tubuhnya, lalu melahirkan hidup bagi dunia, sungguh dihormati sebagai Bunda Allah dan Bunda penebus. Gereja tidak pernah ragu-ragu untuk memberikan penghormatan secara istimewa kepadanya. Konsili Vatikan II merangkum seluruh tradisi yang sudah berabad-abad lamanya. Kepada Perawan Maria dikaruniakan tugas dan kehormatan tinggi, ialah menjadi Bunda Putra Allah. Karena itu Ia menjadi Putri Allah Bapa serta Roh Kudus. Berkat karunia ini ia melampaui segala makluk lain di dunia. Oleh karena itu, ia menerima salam sebagai anggota Gereja yang serba unggul dan sangat istimewa, pun juga sebagai pola-teladannya yang mengagumkan dalam iman dan cinta kasih. Berkat bimbingan Roh Kudus Gereja Katolik menghadapinya penuh rasa kasih sayangsebagai bundanya yang tercinta (LG. Peran keibuan Maria terus hidup dan bertumbuh dalam kehidupan umat. Gereja Katolik memberikan penghormatan istimewa kepadanya. Penghormatan kepada Santa Perawan Maria juga memperkuat ikatan spiritual antara umat Katolik dan memperdalam pengalaman iman. Kesetiaan penghormatan kepada Maria sebagai ibu menjadi bagian integral dari tradisi dan praktik keagamaan umat Katolik di seluruh dunia. Gereja katolik mengakui Maria sebagai ibu kaum beriman. Maria menjadi tokoh yang tetap atual dan takkan pernah ada kata tuntas untuk mereflesksikan Hal ini mau menggambarkan kekaguman Gereja pada sosok pribadi bunda Maria yang unik dan unggul dalam karya keselamatan Allah (Sabato, 2. Maria bersedia menerima tawaran Allah untuk menjadi ibu Puteranya. Bunda Allah. Dengan mengatakan ya untuk menjadi Bunda Allah. Maria menerima secara pribadi tawaran Allah dalam diri Yesus Kristus. Demikian pula dengan peran keibuan Gereja yang dijalankan oleh setiap anggota Gereja mesti diawali dengan penerimaan keselamatan secara personal oleh setiap anggota Gereja yang diwujudkan oleh peristiwa pembabtisan dan penghayatannya sepanjang hidup. Dengan kata lain seorang anggota Gereja yang mengambil bagian dalam peran keibuan Maria adalah seorang yang dilahirkan dalam iman sehingga semakin dekat dengan Kristus. Maria bukan hanya pola bagi keibuan Gereja dalam melahirkan orang untuk putra-putri gereja. Lebih dari itu Maria dengan cinta kasih keibuannya tetap ikut serta dalam kelahiran dan pertumbuhan putra-putri Gereja (Pasi, 2. Keibuan Maria mengungkapkan kasih Allah yang tiada taranya yang selalu menghibur anak-anak-Nya. Seperti seorang yang dihibur oleh ibunya demikian aku ini akan menghibur kamu (Yes 66:. Pengakuan ini akan semakin nyata dan konkret dalam kehidupan umat Kristiani jikalau bersikap baik terhadap sesama terutama mereka yang miskin dan terlantar. Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini kamu telah melakukannya untuk Aku (Mat 25:. Hal ini mau mengungkapkan bagaimana peran seorang ibu itu menggambarkan kasih Allah kepada umat. Dalam misteri Gereja, peran Santa Perawan Maria ditempatkan secara istimewa sebagai teladan bagi perawan dan ibu. Maria dengan setia menemani Yesus Puteranya, sejak dalam kandungan hingga meletakkannya di dalam kubur. Ia menjadi simbol kekaguman dan harapan baru dalam mendidik generasi masa depan Gereja. Dengan cinta kasih sebagai seorang Ibu. Maria berjalan bersama umat Allah yang sederhana dan miskin menuju kebahagiaan, melindungi mereka dari bahaya dan kesulitan. Dalam Gereja Katolik. Santa Perawan Maria disapa dengan gelar Pembela. Pembantu. Penolong, dan Perantara dan lain-lain. Akan tetapi penting untuk diketahui bahwa gelar-gelar tersebut tidak mengurangi martabat atau kekuatan Kristus sebagai satu-satunya Pengantara. Maria adalah wanita yang kudus, yang memiliki relasi yang paling dekat dengan Tuhan Yesus. Penghormatan umat Katolik kepada Maria merupakan jalan untuk memuji dan memuliakan Allah yang selalu hadir dalam kehidupan manusia (Sitorus, 2. Sebagai figur sentral dalam iman Katolik. Maria mengajarkan tentang kesetiaan, penerimaan dan peran penting dalam mewujudkan harapan baru bagi umat manusia. Gereja Katolik melihat Maria sebagai inspirasi dalam memahami kasih Allah dan menjalani kehidupan yang sesuai dengan nilai-nilai iman, yakni kesetiaan, ketekunan, dan pengorbanan. Keibuan Maria bukan hanya sebagai contoh moral, tetapi juga sebagai sumber inspirasi bagi umat Katolik untuk berpartisipasi dalam karya keselamatan Allah ( Adon. Implementasi peran keibuan Maria menjadi esensial, terutama dalam mewartakan kerajaan Allah dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di dalam keluarga, sekolah, dan lingkungan Santa Perawan Maria, melalui karunia Ilahi dan perannya sebagai ibu Sang Penebus, memiliki keterkaitan erat dengan Gereja. Sebagaimana diajarkan oleh Santo Ambrosius. Maria adalah pola Gereja dalam iman, cinta kasih, dan persatuan sempurna dengan Kristus. Dalam misteri Gereja. Maria menduduki tempat utama sebagai teladan perawan dan ibu. Dengan iman dan ketaatan, ia melahirkan Putera Bapa tanpa mengenal pria, dalam naungan Roh Kudus, sebagai Hawa Maria, sebagai ibu dan perawan, bekerja sama dengan cinta kasih keibuannya untuk melahirkan dan mendidik Umat beriman, yang diakui oleh Allah sebagai saudara-saudara sulung Kristus (Sidang Para Uskup, 2. Dalam peran keibuan terealisasi apa yang dikatakan oleh Yesus kepada ibu-Nya di kaki salib: AoAoIbu inlah anakmu! dan kepada murid-Nya inilah ibumu (Yoh 19-26-. Kata-kata ini memaklumkan tempat Maria dalam kehidupan murid-murid Yesus dan mengungkapkan keibuan baru sebagai ibu penebus dunia. Inilah keibuan dalam tata rahmat. Konsili Vatikan II mengajarkan tentang Maria sebagai berikut: Adapun dalam tata rahmat itu peran Maria sebagai Bunda tiada hentinya terus berlangsung, sejak persetujuan yang dengan setia diberikannya pada saat warta gembira, dan yang tanpa ragu-ragu dipertahankannya di bawah salib, hingga penyempurnaan kekal semua para terpilih. Sebab sesudah diangkat ke surga ia tidak meninggalkan peran yang membawa keselamatan itu, melainkan dengan aneka perantaraannya ia terus menerus memperolehkan bagi kita karunia-karunia yang menghantar kepada keselamatan kekal. Dengan cinta kasih keibuannya ia memperhatikan saudara-saudara Puteranya, yang masih dalam peziarahan dan menghadapi bahayabahaya serta kesukaran-kesukaran, sampai mereka mencapai tanah air yang penuh kebahagiaan (LG. Tugas dan peran keibuan Maria dalam Gereja dan seluruh umat manusia sangat besar bahkan sangat luas dan tidak pernah berhenti tetapi terus berlansung. Seperti yang ditegaskan dalam Konsili Vatikan II ia secara sungguh istimewa berkerja sama dengan Juruselamat, dengan ketaatan iman, pengharapan serta cinta kasihnya. Gereja belajar dari Maria tentang keibuannya sendiri. Menurut Yohanes Paulus II isi mariologi hakiki terdapat dalam kata-kata yang diucapkan kepada Maria oleh Malaikat Gabriel Salam hai engkau yang dikaruniai Tuhan mentertai Engkau ( Luk 1:. dan oleh Elisabet: dan berbahagialah Ia yang telah percaya, sebab apa yang dikatakanya dari Tuhan akan terlaksana (Luk 1:. Kedua nas tersebut menyingkapkan kebenaran tentang keibuan Maria terwujud berkat karunia Allah (Musi et al. , 2. Seperti halnya Maria. Gereja menjadi ibu karena dirahmati oleh Allah. Artinya dari dirinya sendiri Gereja tidak dapat menjadi ibu yang melahirkan anaknya dan mendidiknya kalau Allah tidak memberi rahmat untuk itu. Keibuan Maria dalam Pastoral Kaum Awam Panggilan menjadi awam adalah tugas mulia dalam menjalankan tugas kenabian. Awam adalah anggota Gereja yang dihimpun dalam kasih dan persekutuan dengan Allah. Peran awam dalam kehidupan Gereja sangat penting, awam melibatkan diri dalam karya pastoral. Kaum awam dipanggil untuk menggerakan tenaganya menjalani hidup yang suci dan mewartakan sabda Allah (Jegalus, 2. Mewartakan Kristus kepada sesama adalah hak dan kewajiban semua umat Kristiani yang sudah dibabtis. Awam bukan hanya berdiam diri mendengarkan homili atau renungan dari mereka yang dipanggil secara khusus . aum tertahbi. tetapi awam turut melibatkan diri dalam mengembangkan tugas imamat Kristus. Keterlibatan awam mesti disyukuri karena semuanya dipanggil menjadi satu tubuh, bekerja sama sebagai nabi melalui evangelisasi, yakni pewartaan yang dilaksanakan atas dasar Kristus (Susanto, 2. Akan tetapi kenyataanya dewasa ini kaum awam kurang menampilkan sikap sukarela dalam mewartakan, menjadi saksi Kristus. Keterlibatan dalam kehidupan menggereja dan perlahan-lahan berkurang. Realitas ini tentunya sangat berpenguh terhadap pertumbuhan iman umat khususnya anak-anak sebagai masa depan Gereja. Kesetian umat dalam kehidupan menggereja semakin berkurang dan merosot. Menanggapi persoalan ini maka umat kristiani perlu melihat sosok Maria sebagai ibu yang setia menerima tugas dari Allah. Peran Maria sebagai ibu sangat penting dan aktual dalam hal kesetiaan, keiklasan dalam penghayatan iman dan memberi diri untuk relah berkorban bagi yang lain. Pada titik ini kehadiran Maria direfleksikan sebagai ibu yang melahirkan kehidupan baru dalam karya pewartaan. Ia adalah seorang ibu yang melahirkan kesetiaan, ketekunan, kepekaan dan lain-lain. Maria menemukan karya yang mengagumkan yang dibuat Tuhan dalam dan karena dirinya demi kebaikan umat manusia. Maria menerima tanda yang paling besar dan panggilan yang paling besar bagi makhluk ciptaan manapun. Maria menjadi ibu semua yang hidup dan Tuhan mengumpulkan orang sekelilingnya untuk menjadikan mereka satu keluarga dalam Yesus Kristus. Maria menerima semua rahmat dari Allah dengan sepenuh hati. Semuanya itu diungkapan dalam Fiatnya, "Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu . Ungkapan ini mencerminkan sikap kesetiaan Maria terhadap karya keselamatan Allah. Maria dalam pastoral kaum awam mencerminkan keibuan yang hangat dan penuh perhatian. Sebagai figur yang peka terhadap sesama dalam pelayanannya. Maria tidak hanya melihat umatnya sebagai sekelompok individu, tetapi juga sebagai keluarga besar yang membutuhkan kasih sayang dan dukungan. Keibuan Maria tercermin dalam sikapnya yang penuh perhatian terhadap setiap umat, baik yang muda maupun yang tua (Martina and Ardijanto, 2. Maria memegang peranan penting dalam mendampingi kaum awam dalam perjalanan iman mereka. Ia tidak hanya menjadi teladan rohani, tetapi juga sahabat yang setia. Dengan kelembutan dan ketulusan hati. Maria membantu membangun hubungan yang erat antara sesama umat, menciptakan lingkungan yang penuh kasih dan dukungan. Selain itu, keibuan Maria juga tercermin dalam kepeduliannya terhadap kebutuhan praktis kaum awam. Ia tidak hanya peduli terhadap perkembangan rohaniah, tetapi juga terlibat dalam upaya membantu memenuhi kebutuhan seharihari mereka (Martina and Ardijanto, 2. Dengan sikap belas kasih. Maria membimbing dan mendukung mereka dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Dalam peran ibu pastoralnya. Maria juga memotivasi umatnya untuk terlibat aktif dalam pelayanan dan berkontribusi pada masyarakat (Adoon, 2. Dengan kelembutan yang meyakinkan, ia menginspirasi umatnya untuk menjadi agen perubahan positif dalam lingkungan sekitar mereka. Dengan demikian, keibuan Maria dalam pastoral kaum awam adalah landasan yang kokoh bagi pembentukan komunitas yang bersatu, penuh kasih, dan berkomitmen pada pertumbuhan rohaniah bersama. Maria, dalam peran keibuannya, tidak hanya menjadi ibu fisik bagi Yesus, tetapi juga ibu rohaniah bagi seluruh umat beriman. Keikutsertaannya dalam karya keselamatan Allah menjadi teladan yang luar biasa bagi kaum beriman yang telah dibaptis sebagai anggota Gereja. Maria menjadi simbol keiklasan dan kesiapan untuk menjadi saksi Kristus, mengajak umat Allah atau kaum awam untuk turut serta dalam misi pewartaan dan kesaksian iman. Sebagai bagian dari persekutuan umat Allah, kaum awam dipanggil untuk mengalami keselamatan dalam Kristus dan diutus untuk menyampaikan kabar baik karya keselamatan Allah kepada dunia (Paus Benediktus XVI, 2. Mereka, sebagai anggota Gereja, memiliki tanggung jawab untuk terlibat aktif dalam kehidupan berjemaat berdasarkan martabat imamat umum yang mereka terima melalui sakramen baptisan. Dalam hal ini, mereka diundang untuk menjalankan peran sebagai imam, nabi, dan raja dalam mewujudkan misi Gereja di dunia (Jegalus, 2. Peran keibuan Maria tidak hanya memiliki dampak spiritual, tetapi juga menciptakan lingkungan pastoral yang penuh kasih dan dukungan. Melalui kelembutan, perhatian, dan kasih sayangnya. Maria membimbing umat untuk menjalin hubungan yang erat dalam komunitas beriman. Dalam perannya sebagai ibu pastoral. Maria tidak hanya melihat umat sebagai individu, melainkan juga sebagai keluarga besar yang saling memerlukan bimbingan dan inspirasi (Njo, 2. Implementasi peran keibuan Maria juga menggambarkan kesetiaan dan ketaatan yang luar biasa. Maria, dengan iman dan ketaatan yang tulus, melahirkan Yesus tanpa mengenal pria, dalam naungan Roh Kudus. Sebagai ibu dan perawan. Maria bekerja sama dengan cinta kasih keibuan untuk melahirkan dan mendidik umat beriman. Mereka diakui oleh Allah sebagai saudara-saudara sulung Kristus, sebuah panggilan yang membutuhkan dedikasi dan keterlibatan aktif dalam kehidupan umat kristiani (Donobakti. Girsang and Situmorang, 2. Dengan demikian, peran keibuan Maria bukan hanya sebagai figur historis, tetapi juga sebagai inspirasi hidup bagi umat beriman yang ingin mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah dan membangun komunitas rohaniah yang bersatu dalam kasih dan iman. Hal ini juga memungkinkan guru agama untuk lebih efektif dalam membimbing muridmuridnya dalam penghayatan iman Katolik dan mempersiapkan mereka untuk menjadi anggota aktif dalam pastoral kaum awam. Dengan demikian, peran keibuan Maria tidak hanya memperkaya dimensi spiritual dalam pengajaran agama Katolik, tetapi juga memperkuat komunitas iman dan pelayanan pastoral umat Katolik secara keseluruhan. Kehidupan Maria yang berlandaskan pada cinta yang mendalam akan Tuhan dan sesama, kiranya mengajarkan umat Katolik untuk memiliki rasa syukur dan semangat tinggi dalam karya pelayanan berdasarkan profesi masing-masing. Menghayati nilai Kristiani secara penuh dan perhatian yang serius terhadap penderitaan orang lain dalam berbagai bidang pelayanan yang tulus serta kehidupan rohani yang baik dapat menegaskan kehadiran Allah. Maria adalah model bagi umat Allah karena kekagumannya yang penuh syukur akan kasih karunia Allah dan kesiapsediaannya untuk mengabdi sesama. Iman memberikan jaminan bagi pengharapan dan karya pelayanan umat kristiani sehari-hari. Implikasi Keibuan Maria Bagi Guru Agama Katolik Maria adalah lambang kasih sayang dan kebijaksanaan. Guru agama Katolik dapat mengambil contoh dari sikap Maria yang penuh kasih dan penuh pengertian dalam mendampingi murid-muridnya. Guru adalah pendidik yang memiliki keahlian khusus dan profesional dengan tugas membimbing, mengarahkan, momotivasi, melatih, dan mengevaluasi pada pendidikan peserta didik berdasarkan jalur pendidikan yang formal (Milayani, 2. Dalam menjalankan tugas sebagai guru mereka harus mengedepankan pelayanan yang penuh kasih dan iklhas sehingga tidak melihat itu sebagai tugas semata melainkan tugas istimewa yang berasal dari Allah. Dengan membimbing dengan kasih dan kebijaksanaan, guru agama dapat membantu murid-muridnya dalam menghadapi tantangan hidup dan memahami ajaran agama dengan lebih baik. Guru agama Katolik adalah awam yang mengambil bagian dalam tugas pewartaan khususnya di lingkungan sekolah dan lingkungan Sebagaimana mereka memiliki tugas khusus maka tugas mereka pertama-tama adalah memberitakan Kristus kepada anak-anak sebagai masa depan Gereka Katolik (Kristeno, 2. Kehadiran guru agama Katolik merupakan perwujudan dari keterlibatan kaum awam dalam karya pewartaan. Guru agama Katolik sebagai kaum awam memiliki tugas mulia dalam menghadirkan pengetahuan dan mendidik anak-anak agar semakin dekat dengan Tuhan. Lumen Gentium artikel 35 menyerukan pentingya keterlibatan awam dalam tugas kenabian Kristus. Kristus menunaikan tugas kenabian-Nya hingga penampakan kemuliaan sepenuhnya bukan hanya melalui hierarki yang mengajar atas nama dan dengan kewibawaan-Nya melainkan juga melalui para awam. Guru agama Katolik dipanggil untuk mengemban perintah Yesus Kristus dalam mewartakan keselamatan Allah bagi semua orang. Yesus sendiri memberikan contoh konkret dalam Yesus memberikan tugas kepada Gereja . urid-murid-Ny. AuPergilah jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan babtislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu (Mat 28:18-. Perintah Yesus kepada para murid membutuhkan tanggapan dari semua umat beriman khususnya guru agama Katolik. Tanggapan itu tentu pertama-tama melalui iman, dan hati yang terbuka terhadap sabda Allah. Guru menerimanya dengan tulus hati dan sukacita dalam mewartakan sabda Allah yang bukan hanya melalui kata-kata melainkan disertai juga dengan tindakan konkret. Kristus sebagai nabi agung memaklumkan itu kepada semua umat kristiani. Oleh sebab itu maka guru agama Katolik dalam seluruh kehidupan Gereja harus memainkan peran aktif, tidak hanya wajib meresapi dunia dengan tugas-tugas mengajar di ruang kelas melainkan dipanggil juga untuk menjadi saksi Kristus di sekolah dan lingkungan masyarakat. Akan tetapi dalam kehadiran guru agama Katolik kurang bergema dalam lingkungan sekolah dan masyarakat. Di sekolah mereka hanya menjalankan tugas sebagai pendidik kurang menampilkan tugas mereka dalam menghadirkan Kristus bagi anak-anak (Usmany, 2. Guru agama Katolik dalam medidik anak-anak di sekolah maupun lingkungan masyarakat mesti menampilkan sifat kepekaan yang selalu menaruh belaskasihan kepada murid-murid (Pongkot. Martinus and Mukarramah, 2. Guru agama Katolik identik dengan seorang ibu yang melahirkan kehidupan baru bagi masa depan gereja Katolik. Guru agama Katolik mempelajari keibuan dengan memandang dalam iman misteri Maria sebagai ibu. Pandangan ini membantu guru agama Katolik menyadari panggilanya yang bukan hanya sebagai guru meliankan menyadari panggilanya sebagai awam yang handal dalam karya pewartaan. Dalam hal ini guru agama Katolik adalah seorang pelayanan yang memberikan dirinya, hatinya bagi peserta didik dengan penuh kasih. Dalam karya pelayanan mereka harus memiliki kepekaan seperti Bunda Maria meneladani kesetiaanya sebagai ibu bagi semua umat Allah. Kesetiaan mencakup komitmen terhadap ajaranajaran iman Katolik. Maria merenungkan dalam hatinya ajaran putera-Nya. Demikian halnya dengan guru agama Katolik dipanggil untuk mendidik, meneruskan ajaran Kristus kepada anak-anak sebagai masa depan Gereja Katolik . Sebagai ibu Gereja. Maria juga berperan sebagai pembimbing rohani bagi umat Katolik (Tua, 2. Guru agama Katolik dapat mengajarkan murid-muridnya untuk mengikuti teladan Maria dalam hidup mereka sehari-hari, berjalan bersama maria menuju kesucian dan keselamatan. Keibuan Maria dalam Pengajaran Maria adalah model kehidupan umat kristiani yang sempurna. Sebagai seorang ibu. Maria menunjukkan kasih, kepedulian, kesabaran, dan ketaatan yang tinggi kepada kehendak Allah. Guru agama Katolik dapat menggunakan teladan Maria untuk mengajarkan prinsip-prinsip moral dan etika Kristen kepada murid-muridnya (Musi et al. , 2. Keibuan Maria menjadi sumber inspirasi bagi para guru agama Katolik, memberikan landasan bagi pendekatan mereka terhadap pendidikan spiritual anak-anak. Maria, sebagai ibu Yesus, telah menunjukkan kasih dan kelembutan yang luar biasa dalam mendidik anak Allah. Guru agama Katolik diharapkan meneladani sikap tulus dan setia ini, membimbing anak-anak dengan penuh perhatian dan kepedulian (Yani. Ulfah and Hidayah, 2. Guru agama Katolik harus terus berjuang membangkitkan peserta didik pada materi pelajaran yang diberikan serta dapat menggunakan media yang bervariasi dan memungkinkan. Guru agama Katolik dipandang sebagai wujud dari tugas kenabian Kristus, menjadi utusan yang menyampaikan Kerajaan Allah dengan cinta dan ikhlas. Seperti Maria yang melahirkan kehidupan baru bagi Yesus, guru agama Katolik diharapkan mampu menciptakan lingkungan pembelajaran yang penuh dengan kehangatan dan pengertian, menjadikan proses belajar sebagai suatu pengalaman yang mendalam dan bermakna (Bembid, 2. Kehadiran guru agama Katolik tidak hanya terbatas di ruang kelas, tetapi juga memiliki peran sentral di lingkungan sekolah dan Mereka dianggap sebagai penjaga warisan Gereja Katolik, membimbing anak-anak sebagai pewaris masa depan Gereja. Seperti Maria yang membimbing umat dengan kelembutan, guru agama Katolik berusaha untuk membawa kehidupan baru bagi anak-anak, membentuk komunitas beriman yang erat dan saling mendukung. Tanggung jawab guru agama Katolik tidak hanya mencakup pengajaran doktrin-doktrin agama, tetapi juga membimbing siswa dalam pengembangan nilai-nilai moral, etika, dan spiritualitas. Melalui penyatuan pengetahuan agama dan kepedulian pribadi, guru agama Katolik menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung pertumbuhan rohaniah siswa, mempersiapkan mereka untuk mengemban peran sebagai anggota gereja yang bertanggung jawab (Boiliu, 2. Dalam pengajaran guru agama Katolik mesti belajar mengintegrasikan keibuan Maria yang lemah lembut sabar dan setia. Mengintegrasikan ajaran keibuan Maria dalam pengajaran agama adalah langkah penting bagi guru agama Katolik. Inspirasi dari perhatian, kasih sayang, dan kelembutan Maria membentuk dasar pendekatan dalam membimbing siswa. Dengan meneladani sikap setia dan tulus Maria, guru agama menciptakan iklim pembelajaran yang penuh kehangatan. Hal ini tidak hanya tentang mengajarkan doktrin-doktrin agama, tetapi juga membawa nilai-nilai keibuan Maria ke dalam proses pembelajaran, membentuk karakter siswa, dan menghasilkan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan rohaniah mereka. Integrasi ajaran keibuan Maria menjadi suatu kunci dalam membentuk generasi yang berkarakter dan berlandaskan cinta Dengan memperhatikan peran dan karakter Maria, guru agama dapat mengajarkan nilai-nilai spiritual seperti kesabaran, kerendahan hati, kepercayaan kepada Allah, dan kasih kepada sesama. Maria mengajarkan kesetiaan kepada Tuhan dan memberikan contoh hidup yang saleh bagi umat Katolik. Belajar Dari Kesetiaan Maria Gereja Katolik sungguh menyadari peran Maria dalam karya keselamatan Allah. menerima dengan tugas dari Allah dengan hati yang tulus dan terbuka, memberikan dirinya secara total tanpa ada perhitungan (Widodo, 2. Dengan mengatakan "ya" untuk menjadi Bunda Allah. Maria menunjukkan penerimaan yang sungguh-sungguh terhadap tawaran Allah, yaitu keselamatan melalui Yesus Kristus. Keputusannya untuk menjadi Bunda Allah merupakan tindakan pribadi yang mengakibatkan penerimaan yang pribadi juga terhadap anugerah keselamatan yang diwakili oleh Yesus Kristus. Demikian pula, peran keibuannya dalam Gereja yang dijalankan oleh setiap anggota Gereja dimulai dengan penerimaan keselamatan secara personal oleh setiap individu melalui peristiwa pembaptisan dan penghayatan iman sepanjang hidupnya. Dengan kata lain, seseorang yang terlibat dalam peran keibuan Gereja adalah seseorang yang telah lahir kembali dan tumbuh dalam iman oleh Gereja, sehingga menjadi matang dalam Kristus (Saferinus, 2. Konsep penerimaan keselamatan secara personal sangat penting dalam pemahaman akan peran keibuan dalam Gereja. Ketika seseorang menerima keselamatan yang ditawarkan oleh Yesus Kristus secara personal, ia menjadi bagian dari tubuh Kristus, yaitu Gereja. Melalui pembaptisan dan kesetiaan sepanjang hidup, individu-individu ini bertumbuh dalam iman mereka dan menyatu dalam komunitas Gereja. Sebagai anggota Gereja, mereka kemudian dipanggil untuk menjalankan peran keibuan, yaitu memberikan kasih, perhatian, dan bimbingan kepada sesama dalam iman. Dari Maria, guru agama Katolik belajar tentang keibuan yang sejati. Maria merupakan teladan yang sempurna dalam memahami esensi keibuan, yang tidak hanya terikat pada panggilannya sebagai ibu Yesus Kristus, tetapi juga tercermin dalam sifat sakramentalnya. Guru agama Katolik belajar untuk merenungkan kesucian Maria, meneladani kasih sayangnya, dan mengemban kehendak Allah dengan penuh keyakinan. Sebagaimana Gereja adalah tanda dan sarana persatuan erat dengan Allah. Maria, karena peran keibuan yang dianugerahkan kepadanya, menjadi simbol persatuan tersebut (Gregorius Pasi, 1. Melalui penerimaan kehidupan Roh. Maria "melahirkan" putra dan putri umat manusia ke dalam hidup baru Kristus. Demikian pula, guru agama Katolik dipanggil untuk menjadi "ibu" spiritual bagi muridmuridnya, membimbing mereka menuju Kristus dan membantu mereka mengalami kehidupan baru dalam iman. Sebagai perantara antara ilmu pengetahuan dan iman, guru agama Katolik harus mampu "melahirkan" tenaga pendidik baru yang tidak hanya mengajarkan doktrin-doktrin Gereja, tetapi juga mengilhami nilai kristiani yakni iman harapan, kasih, dan dedikasi pada murid-murid mereka (Widodo, 2. Dengan demikian, mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga membimbing, mengasuh, dan memberikan teladan yang menggambarkan kasih Allah kepada umat manusia. Dalam melahirkan tenaga pendidik baru, guru agama Katolik berperan penting dalam mempersiapkan masa depan Gereja Katolik, memastikan kelangsungan dan pertumbuhan iman KESIMPULAN Setiap anggota Gereja dipanggil untuk mengintegrasikan dan menghayati peran Maria dalam Gereja. Hal ini melibatkan kerja sama dalam situasi dan kehidupan masing-masing untuk membangun kelahiran baru murid-murid Kristus dalam iman. Seorang filsuf terkenal Sokrates pernah mengatakan kita hendaknya seperti seorang bidan desa yang mengeluarkan anak dalam kandungan ibu yang melahirkan. Demikianlah tugas awam Katolik khususnya guru agama Katolik harus membangkitkan semangat peserta didik dalam belajar. Bunda Maria menjadi teladan dalam kesetian, kesabaran untuk membimbing anak-anak kepada kebaikan. Pendidikan yang serius tentang nilai Karistiani sangatlah penting karena mereka adalah masa depan Gereja dan bangsa. DAFTAR PUSTAKA