Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis Vol. 9 No. https://jurnal. politeknik-kebumen. id/index. php/E-Bis p-ISSN : 2580-2062 e-ISSN : 2622-3368 Pemahaman Pajak dan Love of Money terhadap Persepsi Etika Penggelapan Pajak dengan Moderasi Religiusitas Aqsha Prima Dinata1*. Sri Andriani2 Akuntansi. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Indonesia *Email:210502110036@student. uin-malang. id*1,sriandriani@akuntansi. Doi: https://doi. org/10. 37339/e-bis. Diterbitkan oleh Politeknik Piksi Ganesha Indonesia Info Artikel Diterima : 2024-12-18 Diperbaiki : 2024-12-21 Disetujui : 2024-12-30 ABSTRAK Eksplorasi penggelapan pajak dari perspektif etika merupakan kontribusi baru, karena mayoritas penelitian yang ada berfokus pada pertimbangan hukum, implikasi keadilan, dan mekanisme yang mendasari penggelapan pajak. Penelitian ini bertujuan untuk menilai pengaruh pemahaman pajak dan love of money pada persepsi etis penggelapan pajak di kalangan mahasiswa, serta memeriksa peran moderasi religiusitas dalam hubungan antara pemahaman pajak, love of money, dan persepsi etis yang terkait dengan penggelapan pajak. Penelitian kuantitatif dengan fokus pada populasi mahasiswa sarjana tahun terakhir bidang akuntansi di seluruh wilayah Malang Raya, dengan ukuran sampel yang terdiri dari 368 responden. Pengumpulan data menggunakan teknik sampling purposive. Kerangka analisis yang digunakan untuk evaluasi data yakni (PLS-SEM). Temuan menunjukkan bahwa pemahaman pajak dan love of money berpengaruh pada etika penggelapan pajak. Selain itu, religiusitas tidak moderasi dalam hubungan antara pemahaman pajak, love of money, dan persepsi etis penggelapan pajak. Kata Kunci: Pemahaman Pajak. Love Of Money. Penggelapan Pajak. Persepsi Mahasiswa. Etika. ABSTRACT The exploration of tax evasion from an ethical perspective is a novel contribution, as the majority of research focuses on legal considerations, justice implications, and the mechanisms underlying tax evasion. This study aims to assess the influence of tax understanding and love of money on ethical perceptions of tax evasion by university students, as well as examine the moderating role of religiosity in the relationship between tax understanding, love of money, and ethical perceptions associated with tax evasion. Quantitative research with a population of final-year undergraduate students in accounting throughout Malang Raya, with a sample size of 368 respondents. Data collection using purposive sampling technique. The analytical framework used for data evaluation is (PLS-SEM). The findings show that tax understanding and love of money affect the ethics of tax evasion. In addition, religiosity does not function as moderation in tax understanding, love of money, and ethical perceptions of tax evasion. Keywords: Tax understanding. love of tax evasion. student perception. Alamat Korespondensi Jl. Letnan Jenderal Suprapto No. 73 Kebumen. Jawa Tengah. Indonesia 55431 PENDAHULUAN Ketidakpatuhan yang ditunjukkan oleh wajib pajak merupakan faktor yang berkontribusi signifikan terhadap tindakan penggelapan pajak yang disengaja oleh individu untuk menghindari tanggung jawab fiskal mereka. Penggelapan pajak merupakan usaha yang melanggar hukum Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis AAqsha Prima Dinata1*. Sri Andriani yang dilakukan wajib pajak secara sadar untuk mengurangi, membatalkan, atau menghindari kewajiban pajak mereka melalui berbagai praktik penipuan, sehingga gagal mematuhi peraturan perpajakan yang ada (Sari et al. , 2. Fenomena kasus terkait penggelapan pajak menjadi tantangan serius yang dihadapi oleh sistem perpajakan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Kasus penggelapan pajak di Sidoarjo tersangka DSB selaku Direktur CV IM dugaan pelanggaran secara sengaja memberikan informasi yang salah atau tidak lengkap dalam SPT Masa, serta tindakan sengaja tidak menyetorkan pajak yang seharusnya dibayarkan akibat dari tindakan ini negara diperkirakan mengalami kerugian pendapatan sebesar Rp 500 juta (Hariani, 2. Kasus penggelapan pajak lain oleh PT BAPI diduga menyerahkan laporan pajak yang salah atau tidak lengkap terkait Periode Pajak Penghasilan (SPT) Pasal 4 Ayat . tindakan ini telah berdampak pada keuangan negara sejumlah Rp 2,9 miliar (Santia, 2. Di tengah maraknya kasus penggelapan pajak, muncul pertanyaan mendasar mengenai etika dalam praktik akuntansi terutama terkait dengan perpajakan. Mahasiswa akuntansi sebagai calon profesional di bidang keuangan memiliki peran krusial dalam menjaga integritas profesi. Pengembangan kompetensi mahasiswa tidak hanya terbatas pada aspek teknis, melainkan juga menuntut pemahaman yang komprehensif mengenai etika bisnis dan perpajakan (Berlianti et al. , 2. Di satu sisi, mahasiswa akuntansi memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan yang mendorong tata kelola keuangan yang baik (Sari et al. , 2023. Yusra & Utami, 2. Namun, di sisi lain pengetahuan mendalam mereka tentang sistem perpajakan juga dapat dimanfaatkan untuk melakukan pelanggaran hukum. Oleh sebab itu, moralitas penggelapan pajak dari persepsi mahasiswa akuntansi dapat menjadi indikator penting dalam upaya pencegahan dan pemberantasan praktik tersebut. Pemahaman yang kuat bahwa penggelapan pajak bertentangan dengan nilai-nilai etika dapat mendorong perubahan perilaku dan memperkuat kesadaran kolektif masyarakat tentang pentingnya kepatuhan perpajakan (Tulalessy & Loupatty, 2. Salah satu pendorong praktik penggelapan pajak dari persepsi mahasiswa yakni pemahaman pajak. Pemahaman pajak merupakan konstruksi kognitif wajib pajak dalam memahami peraturan perpajakan dan prosedur pelaksanaannya (Dewi & Irawati, 2. Kurangnya pemahaman mengenai ketentuan perpajakan dan implikasinya dapat menyebabkan wajib pajak melakukan tindakan yang melanggar hukum (Karlina et al. , 2. Hasil penelitian Sunarsih et al. , . menunjukan jika individu dengan pemahaman perpajakan yang baik cenderung tidak melakukan penggelapan pajak. Penggelapan wajib pajak juga dipengaruhi oleh love of money. Individu yang mengutamakan pencapaian material cenderung memaklumi tindakan penggelapan pajak, meskipun secara moral tidak dibenarkan (Farhan et al. , 2. Hasil penelitian Dewanta & Machmuddah . mengungkap jika tingkat kecintaan individu akan uang berpengaruh terhadap pemahaman mahasiswa terkait etika penggelapan pajak. Mahasiswa dengan pemahaman etis yang baik umumnya memiliki pandangan yang lebih seimbang tentang nilai uang dan kebutuhan hidup. Religiusitas berperan sebagai menjadi faktor pendorong kepatuhan terhadap pajak terutama dalam penggelapan pajak. Persepsi mahasiswa mengenai korelasi antara religiusitas dan etika penggelapan pajak umumnya berakar pada keyakinan bahwa individu yang taat beragama cenderung lebih patuh terhadap kewajiban perpajakan. Sesuai dengan studi yang dilakukan oleh Sofha & Utomo . Hidayatulloh & Syamsu . menemukan jika individu dengan religiusitas tinggi memiliki kecenderungan lebih rendah untuk melaksanakan tindak penggelapan pajak. Auliana & Muttaqin . menyatakan bahwa individu yang memiliki keyakinan yang selaras dengan agamanya dapat menunjukkan nilai-nilai Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis AAqsha Prima Dinata1*. Sri Andriani etika yang baik dalam kehidupannya. Religiusitas yang tinggi menguatkan komitmen individu terhadap nilai-nilai moral, sehingga mendorong perilaku yang selaras dengan ajaran agama (Choiriyah & Damayanti, 2. Oleh karena itu, individu dengan tingkat religiusitas tinggi cenderung menunjukkan komitmen yang kuat dalam memenuhi kewajiban perpajakan sebagaimana diatur dalam undang-undang (Pihany & Andriani, 2. Penelitian terkait penggelapan pajak sebagian besar hanya membahas dari sisi hukum, sisi keadilan, dan mekanisme dari tindakan penggelapan pajak itu sendiri. Kurangnya penelitian yang membahas dari sisi etika atau moral untuk dibahas. Maka dari itu, penelitian ini menekanan spesifik dan objek penyelidikan, fokus dalam pengaruh pemahaman pajak dan kencintaan terhadap uang . ove of mone. terhadap perilaku penggelapan pajak menurut pandangan mahasiswa program studi akuntansi seluruh Malang Raya dengan religiusitas sebagai variabel Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai dampak pemahaman pajak dan love of money pada persepsi etis mengenai penggelapan pajak di kalangan mahasiswa, sementara juga memeriksa peran moderasi religiusitas dalam hubungan antara pemahaman pajak, love of money, dan persepsi etis yang terkait dengan penggelapan pajak. Studi ini memiliki impilikasi positif baik secara teori maupun praktis. Dari segi teori, diharapkan penelitian ini dapat memperkaya literatur yang ada mengenai fenomena penggelapan pajak, sehingga menjadi rujukan bagi penelitian-penelitian selanjutnya. Temuan-temuan yang diperoleh dapat membuka peluang untuk menggali lebih dalam terkait faktor pendorong penggelapan pajak dari persepsi mahasiswa. Dari segi praktis, diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak mulai dari akademisi, praktisi perpajakan, pembuat kebijakan, hingga mahasiswa akuntansi. Implikasi praktis dari penelitian ini dapat digunakan sebagai perancangan strategi perpajakan yang lebih efektif, meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kepatuhan perpajakan, serta membekali mahasiswa dengan pemahaman yang lebih baik mengenai etika profesional dalam konteks perpajakan. Selain itu, penelitian ini juga berkontribusi pada perluasan cakupan pengetahuan dengan wawasan yang lebih mendalam mengenai pengaruh berbagai faktor pada pandangan terkait pada tindakan penggelapan pajak itu sendiri. KAJIAN PUSTAKA Pemahaman pajak adalah pemahaman mendalam mengenai aturan dan prosedur perpajakan (Yusra & Utami, 2. Menurut (Dewanta & Machmuddah, 2019. Sunarsih et al. indikator pemahaman pajak ada sebagai berikut pengetahuan dasar, prosedur pelaporan, dan manfaat pajak. Love of money dapat diartikan sebagai suatu kecenderungan psikologis yang menempatkan nilai yang sangat tinggi pada uang (Akbar & Indrayeni, 2. Adapun beberapa indikator dalam pengukuran love of money yaitu prioritas utama, motivasi utama, dan nilai diri (Dewanta & Machmuddah, 2019. Sunarsih et al. , 2. Persepsi etika penggelapan pajak merupakan seseorang menilai apakah tindakan menghindari pajak itu etis atau tidak, dengan memperhatikan tindakan yang dilakukan secara sengaja untuk menghindari pajak serta sikap abai atau lalai dalam memenuhi kewajiban perpajakan (Kamaliah et al. , 2. Ada beberapa indikator dalam pengukuran persepsi etika penggelapan pajak yakni keadilan pajak, konsekuensi sosial, dan norma subjektif (Dewanta & Machmuddah, 2019. Sunarsih et al. , 2. Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis AAqsha Prima Dinata1*. Sri Andriani Religiusitas merupakan tingkat keterlibatan individu dalam praktik keagamaan, yang melibatkan integrasi berbagai aspek kepercayaan dan perilaku keagamaan dalam kehidupan sehari-hari (Kamaliah et al. , 2. Menurut (Dewanta & Machmuddah, 2019. Sunarsih et al. indikator religiusitas ada sebagai berikut nilai-nilai moral, tanggung jawab sosial, dan keadilan ilahi. Pengaruh Pemahaman Pajak Terhadap Persepsi Etika Penggelapan Pajak Dalam Teori Of Planned Behavior memperlihatkan pandangan mahasiswa tentang etika penggelapan pajak dipengaruhi oleh pemahaman mereka tentang pajak. Pengetahuan mahasiswa tentang pajak berkorelasi positif dengan persepsi negatif mereka atas penggelapan pajak. Dari hasil studi yang dilakukan Santana et al. , . pemahaman pajak berhubungan negatif dengan pandangan wajib pajak tentang penggelapan pajak. Hasil sama juga diperoleh Dharma . yang menunjukkan adanya hubungan negatif antara cara mahasiswa memandang etika penggelapan pajak. Hasil penelitian ini mengindikasikan adanya korelasi negatif antara tingkat pemahaman perpajakan dengan persepsi terhadap penggelapan pajak. Dari tinjauan tersebut, dirumuskan hipotesis pertama sebagai berikut: H1: Pemahaman Pajak Berpengaruh Terhadap Persepsi Etika Penggelapan Pajak. Pengaruh Love of Money Terhadap Persepsi Etika Penggelapan Pajak Dalam Teori of Planned Behavior dijelaskan jika individu yang cinta terhadap uang, kemungkinan mereka berpihak secara positif terhadap penggelapan pajak. Persepsi mahasiswa terkait etika penggelapan pajak merupakan pandangan subjektif mengenai benar atau salahnya tindakan penggelapan pajak. Sesuai dengan studi yang dilakukan oleh Dewanta & Machmuddah . Kamaliah et al. , . Yusra & Utami . secara konsisten menunjukkan adanya korelasi positif antara love of money dengan pandangan etis mahasiswa akuntansi tentang penggelapan pajak. Dengan kata lain, seseorang yang cinta terhadap uang secara berlebihan maka semakin besar kemungkinan ia akan menganggap tindakan penggelapan pajak sebagai hal yang Dari tinjauan tersebut, dirumuskan hipotesis kedua sebagai berikut: H2: Love of Money Berpengaruh Terhadap Persepsi Etika Penggelapan Pajak. Pengaruh Religiusitas Memoderasi Variabel Pemahaman Pajak Terhadap Persepsi Etika Penggelapan Pajak Kurangnya pemahaman mengenai perpajakan, membuka celah bagi wajib pajak untuk menghindari kewajiban perpajakannya secara ilegal seperti penggelapan pajak (Karlina et al. Setiap agama memiliki peran yang memuat nilai norma-norma tertentu yang mengajarkan tentang kebaikan dan moralitas yang dapat mempengaruhi pemahaman dan kepatuhan individu terhadap peraturan perpajakan. Dalam Teori of Planned Behavior individu yang memiliki pemahaman pajak baik dan keyakinan religius kuat maka norma subjektif mereka akan cenderung menentang penggelapan pajak. Lebih lanjut, teori atribusi menjelaskan individu yang memiliki pemahaman pajak tinggi akan menganggap kewajiban perpajakan adalah bagian dari moralitas dan praktik penggelapan pajak bertentangan dengan nilai-nilai moral yang diajarkan oleh berbagai agama, sehingga dianggap sebagai tindakan yang tidak beretika. Dari tinjauan tersebut, dirumuskan hipotesis ketiga sebagai berikut: Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis AAqsha Prima Dinata1*. Sri Andriani H3: Religiusitas Memoderasi Pengaruh Pemahaman Pajak Terhadap Persepsi Etika Penggelapan Pajak. Pengaruh Religiusitas Memoderasi Variabel Love of Money Terhadap Persepsi Etika Penggelapan Pajak Seseorang yang beragama biasanya memiliki kemampuan pengendalian diri yang lebih baik, terutama saat menghadapi godaan materialistik. Persepsi moral yang lebih baik pada individu religius juga berkontribusi pada perilaku etis, termasuk kepatuhan terhadap kewajiban perpajakan (Farhan et al. , 2. Dalam Teori of Planned Behavior individu yang religius memiliki norma subjektif yang kuat terhadap agama. Norma subjektif ini kemudian akan mempengaruhi sikap individu bersikap etis terhadap penggelapan pajak. Dari tinjauan tersebut, dirumuskan hipotesis keempat sebagai berikut: H4: Religiusitas Memoderasi Pengaruh Love of Money Terhadap Persepsi Etika Penggelapan Pajak. METODE Penelitian kuantitatif digunakan dalam penelitian ini untuk mendeskripsikan secara sistematis variabel-variabel penelitian melalui data numerik. Penelitian kuantitatif deskriptif sendiri menurut Paramita et al. , . adalah suatu kajian yang bertujuan untuk menggali dan menjelaskan suatu fenomena secara mendalam dengan mengandalkan metode-metode Penelitian kuantitatif berfokus pada pengukuran variabel-variabel penelitian menggunakan skala numerik, kemudian menganalisis data tersebut dengan metode statistik (Abdullah, 2. Penggunaan instrumen kuesioner digunakan dalam pengumpulan informasi. Dalam (Hardani et al. , 2020. Sukendra & Atmaja, 2. kuesioner adalah metode untuk mengumpulkan data numerik dengan cara berinteraksi secara tertulis dengan subjek penelitian. Pertanyaanpertanyaan tersebut dirancang secara cermat untuk mengukur variabel penelitian yang telah ditetapkan, dengan tujuan mendapatkan data yang konsisten dan dapat diandalkan untuk mendukung kesimpulan penelitian (Abdullah et al. , 2. Sedangkan untuk teknik analisis penelitian ini menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Mahasiswa program sarjana . program studi akuntansi semester akhir yang mengenyam pendidikan di PTN atau PTS seluruh Malang Raya menjadi populasi dalam penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik sampling purposive untuk memilih sampel penelitian sebagai berikut: . Mahasiswa aktif jenjang sarjana program studi akuntansi yang mengenyam pendidikan di PTN atau PTS. Mahasiswa program studi akuntansi semester akhir . inimal semester 6 keata. Mahasiswa program studi akuntansi yang telah lulus materi perkuliahan etika bisnis dan profesi. Mahasiswa program studi akuntansi yang telah lulus materi perkuliahan perpajakan I, perpajakan II atau hukum pajak. Jumlah sampel dihitung menggunakan rumus Isaac dan Michael dengan margin kesalahan 5%, mendapatkan total 368 responden. HASIL DAN PEMBAHASAN Kuesioner disebar kepada mahasiswa akuntansi tingkat akhir di seluruh Malang Raya untuk mengumpulkan data penelitian. Pengumpulan data penelitian menggunkan rumus Isaac Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis AAqsha Prima Dinata1*. Sri Andriani dan Michael dengan margin of error sebesar 5%, menghasilkan total 368 responden untuk peneyebaran kuesioner. Dari jumlah tersebut, sebanyak 368 kuesioner berhasil dikembalikan. Setelah dilakukan validasi, ditemukan 63 kuesioner yang tidak memenuhi kriteria kelengkapan data, sehingga hanya 305 kuesioner yang dapat digunakan dalam analisis lebih lanjut. Berikut ini adalah profil demografi responden ditinjau dari aspek gender. Tabel 1. Profil Demografi Responden Ditinjau Dari Aspek Gender Gender Individu Laki-Laki Perempuan JUMLAH Sumber. Data Primer 2024 Pada Tabel 1 responden berdasarkan gender menunjukan jika gender laki-laki berjumlah 145 orang yang terdiri dari 39% responden dan gender perempuan berjumlah 223 orang yang terdiri dari 61% responden. Data menunjukkan bahwa responden perempuan lebih dominan yaitu sebesar 61%. Tabel 2. Profil Demografi Responden Berdasarkan Perguruan Tinggi PTN / PTS Individu Universitas Brawijaya Universitas Negeri Malang Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Universitas Gajayana Universitas Muhammadiyah Malang Universitas Merdeka Malang Universitas Islam Malang Universitas Wisnuwardhana Universitas Widya Gama Universitas Katolik Widya Karya Universitas PGRI Kanjuruhan Malang Institut Teknologi Dan Bisnis Asia Malang JUMLAH Sumber. Data Primer 2024 Pada Tabel 2, sebanyak 368 responden yang terbagi dalam beberapa PTN maupun PTS. Universitas Brawijaya menunjukkan bahwa 56 orang yang terdiri dari 15% responden. Universitas Negeri Malang menunjukkan bahwa 49 orang yang terdiri dari 13% responden. UIN Malang menunjukkan bahwa 64 orang yang terdiri dari 17% responden. Universitas Gajayana menunjukkan bahwa 38 orang yang terdiri dari 10% responden. Universitas Muhammadiyah Malang menunjukkan bahwa 43 orang yang terdiri dari 12% responden. Universitas Merdeka Malang menunjukkan bahwa 34 orang yang terdiri dari 9% responden. Universitas Islam Malang menunjukkan bahwa 20 orang yang terdiri dari 5% responden. Universitas Wisnuwardhana menunjukkan bahwa 10 orang yang terdiri dari 3% responden. Universitas Widya Gama menunjukkan bahwa 18 orang yang terdiri dari 5% responden. Universitas Katolik Widya Karya menunjukkan bahwa 14 orang yang terdiri dari 4% responden. Universitas PGRI Kanjuruhan Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis AAqsha Prima Dinata1*. Sri Andriani Malang menunjukkan bahwa 12 orang yang terdiri dari 3% responden, dan Institut Teknologi Dan Bisnis Asia Malang menunjukkan bahwa 10 orang yang terdiri dari 3% responden. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas yang mengisi kuesioner universitas UIN Malang yaitu sebesar Uji Outer Model Dalam melakukan uji outer model dilakukan beberapa langkah diantaranya pengujian validitas convergent, validitas discriminant, composite reability, dan cronbach`s alpha. Kerangka kerja outer model yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat sebagai berikut: Gambar 1. Outer Model Sumber. Output Smart PLS 4. 0, 2024 Validitas Convergent Analisis Partial Least Square (PLS) berfungsi sebagai alat ukur validitas convergent cara mengevaluasi kekuatan hubungan antara skor komponen laten yang dihasilkan oleh model dengan konstruk laten yang diukur. Batas ambang koefisien korelasi 0,70 umumnya digunakan sebagai indikator validitas konvergen yang baik. Loading factor yang melebihi 0,70 penelitian ini dianggap memenuhi kriteria untuk penelitian terdahulu. Love Money PHPJ1. PHPJ1. PHPJ1. PHPJ1. PHPJ1. Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis Tabel 3. Validitas Convergent Persepsi Pemahaman Etika Pajak Penggelapan Pajak Religiusitas Validitas AAqsha Prima Dinata1*. Sri Andriani Love Money Pemahaman Pajak Persepsi Etika Penggelapan Pajak Religiusitas PHPJ1. LOMY2. LOMY2. LOMY2. LOMY2. LOMY2. LOMY2. PEPP1. PEPP1. PEPP1. PEPP1. PEPP1. PEPP1. RLGS1. RLGS1. RLGS1. RLGS1. RLGS1. RLGS1. LOMY = Love of Money. PHPJ = Pemahaman Pajak. PEPP = Persepsi Etika Penggelapan Pajak. RLGS = Religiusitas. V = Valid Sumber. Output Smart PLS 4. 0, 2024 Validitas Pada Tabel 3, loading factor untuk setiap indikator konstruk melebihi 0,70 memenuhi kriteria untuk penelitian terdahulu. Validitas Discriminant Hasil analisis menunjukkan bahwa setiap variabel mempunyai loading factor yang lebih tinggi daripada konstruk yang lain. Hal ini menandakan bahwa diskriminan validitas model telah tercapai, di mana setiap variabel mengukur konsep yang unik dan berbeda. Composite Reability Analisis reliabilitas komposit dilakukan untuk menilai seberapa konsisten indikatorindikator tersebut dalam mengukur variabel laten yang sama. Suatu konstruk dianggap memiliki reliabilitas yang memadai jika nilai reliabilitas kompositnya melebihi 0,70. Hasil analisis reliabilitas komposit untuk masing-masing variabel dapat dilihat secara rinci pada Tabel 4. LOMY PHPJ PEPP Tabel 4. Composite Reability . Validitas RLGS LOMY = Love of Money. PHPJ = Pemahaman Pajak. PEPP = Persepsi Etika Penggelapan Pajak. RLGS = Religiusitas. V = Valid Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis AAqsha Prima Dinata1*. Sri Andriani Sumber. Output Smart PLS 4. 0, 2024 Analisis reliabilitas komposit yang dijelaskan pada Tabel 4 menjelaskan bahwa semua variabel penelitian memenuhi ambang batas reliabilitas (>0,. , sehingga dapat disimpulkan bahwa instrumen penelitian yang digunakan dapat diandalkan karena memiliki tingkat keandalan yang tinggi. Average Variance Extracted (AVE) Menurut Abdillah & Hartono . dalam (Sunarsih et al. , 2. sebuah model dianggap memiliki validitas diskriminan yang cukup jika akar kuadrat rata-rata varians ekstraksi (AVE) dari setiap konstruk lebih tinggi daripada korelasi antar konstruk lainnya. Nilai AVE dan matriks korelasi variabel laten disajikan lengkap pada Tabel 5. Tabel 5. Data Avarage Variance Extracted AVE Validitas LOMY PHPJ PEPP RLGS LOMY = Love of Money. PHPJ = Pemahaman Pajak. PEPP = Persepsi Etika Penggelapan Pajak. RLGS = Religiusitas. V = Valid Sumber. Output Smart PLS 4. 0, 2024 Hasil analisis pada Tabel 5 menunjukkan bahwa semua variabel penelitian memiliki nilai AVE yang melebihi ambang batas 0,5. Ini menunjukkan bahwa setiap variabel telah berhasil diuji validitas diskriminannya (Abdillah & Hartono, 2. dalam (Sunarsih et al. , 2. Cronbach`s Alpha Koefisien cronbach`s alpha merupakan indikator batas bawah reliabilitas suatu konstruk. Suatu konstruk dianggap reliabel jika nilai alpha Cronbach-nya melebihi 0,6 (Abdillah & Hartono, 2. dalam (Sunarsih et al. , 2. Nilai cronbachAos alpha disajikan lengkap pada Tabel 6. Tabel 6. Data cronbachAos alpha CronbachAos Alpha Validitas LOMY PHPJ PEPP RLGS LOMY = Love of Money. PHPJ = Pemahaman Pajak. PEPP = Persepsi Etika Penggelapan Pajak. RLGS = Religiusitas. V = Valid Sumber. Output Smart PLS 4. 0, 2024 Analisis reliabilitas menggunakan koefisien cronbach's alpha pada Tabel 6 menunjukkan nilai di atas 0,6 untuk seluruh variabel penelitian. Keandalan instrumen penelitian ini telah teruji dan memenuhi standar yang ditetapkan (Abdillah & Hartono, 2. dalam (Sunarsih et al. , 2. Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis AAqsha Prima Dinata1*. Sri Andriani Uji Inner Model Model struktural diuji menggunakan analisis Partial Least Square (PLS) untuk memverifikasi korelasi antar indikator variabel. Kualitas model dinilai berdasarkan nilai Rsquare. Nilai R-square disajikan lengkap pada Tabel 7. Tabel 7. Hasil R-square Persepsi Etika Penggelapan Pajak Sumber. Output Smart PLS 4. 0, 2024 R-square R-square Pada Tabel 7 menunjukkan bahwa pemahaman pajak dan cinta akan uang, yang dimoderasi oleh religiusitas, secara bersama-sama mampu menjelaskan 65% variasi dalam persepsi etika penggelapan pajak. Sisa perbedaan ini disebabkan oleh faktor-faktor lain yang tidak termasuk dalam model analisis. Pengujian Hipotesis Gambar 2. Inner Model Pada Gambar 2 menjadi dasar untuk menguji kebenaran hipotesis yang diajukan. Inner Model akan digunakan sebagai analisis korelasi sebab-akibat antar variabel laten dalam penelitian ini (Ghozali & Hengky, 2. dalam (Sunarsih et al. , 2. LOMY -> PEPP PHPJ -> PEPP RLGS x LOMY -> PEPP RLGS x PHPJ -> PEPP Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis Tabel 8. Alpha Cronbach |O/STDEV| P values Dampak AAqsha Prima Dinata1*. Sri Andriani LOMY = Love of Money. PHPJ = Pemahaman Pajak. PEPP = Persepsi Etika Penggelapan Pajak. RLGS = Religiusitas O = Original sample. (|O/STDEV|) = T statistics. S = Signifikan. TS = Tidak Signifikan Sumber. Output Smart PLS 4. 0, 2024 Analisis data pada Tabel 8 menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara variabel pemahaman perpajakan dan persepsi etika penggelapan pajak dengan nilai P-value . ,002 < 0,. Hasil analisis ini menerima hipotesis pertama, yakni pemahaman perpajakan memiliki pengaruh signifikan terhadap persepsi mahasiswa mengenai etika penggelapan pajak. Variabel love of money dan persepsi etika penggelapan pajak memiliki hubungan signifikan dengan P-value . ,020 < 0,. Hasil analisis ini menerima hipotesis kedua, yakni love of money memiliki pengaruh signifikan terhadap persepsi mahasiswa mengenai etika penggelapan pajak. Pada hipotesis ketiga moderasi religiusitas ditolak dengan P-value . ,766 > 0,. , menunjukkan bahwa religiusitas tidak memoderasi hubungan antara pemahaman perpajakan dan persepsi etika penggelapan pajak. Serta pada hipotesis keempat moderasi religiusitas ditolak dengan P-value . ,897 > 0,. , menunjukkan bahwa religiusitas tidak memoderasi hubungan antara love of money dan persepsi etika penggelapan pajak. Pengaruh Pemahaman Pajak terhadap Persepsi Etika Penggelapan Pajak Pada Tabel 8 menunjukkan dukungan empiris terhadap hipotesis pertama. Nilai p yang sangat signifikan . ,002 < 0,. mengindikasikan bahwa pemahaman perpajakan berkorelasi positif dengan pandangan pada penggelapan pajak. Penelitian ini mendukung Theory of Planned Behavior (TPB) yang menyoroti peran pengetahuan sebagai faktor determinan perilaku. Teori ini mengindikasikan bahwa peningkatan pemahaman mengenai regulasi perpajakan secara signifikan berkorelasi negatif dengan kecenderungan individu khususnya mahasiswa, untuk melakukan praktik penggelapan pajak. Studi ini memperkuat temuan Sunarsih et al. , . bahwa individu yang memiliki tingkat pemahaman perpajakan yang memadai cenderung tidak melakukan penggelapan pajak. Dengan demikian, mahasiswa dengan pemahaman pajak yang minim cenderung memaklumi atau bahkan menyetujui praktik penggelapan pajak. Penelitian ini didukung Dharma . dan Santana et al. , . semakin paham seseorang tentang pajak, semakin tidak setuju sesorang dengan tindakan penggelapan pajak. Berbeda dengan studi oleh Tulalessy & Loupatt . dan Styarini & Nugrahani . yang tidak menunjukkan korelasi signifikan anatara pemahaman perpajakan dengan kecenderungan melakukan penggelapan Pengaruh Love of Money terhadap Persepsi Etika Penggelapan Pajak Pada Tabel 8 menunjukkan dukungan empiris terhadap hipotesis pertama. Nilai p yang sangat signifikan . ,020 < 0,. mengindikasikan bahwa kecintaan terhadap uang berkorelasi positif dengan pandangan pada penggelapan pajak. Penelitian ini mendukung Theory of Planned Behavior (TPB) yang menyatakan bahwa tindakan individu dipengaruhi oleh evaluasi pribadi terhadap tindakan tersebut, tekanan sosial, dan keyakinan akan kemampuan untuk melakukan Ini disebabkan oleh individu yang cinta terhadap uang cenderung lebih mementingkan keuntungan pribadi dibandingkan dengan kewajiban sosial seperti membayar pajak. Mahasiswa dengan orientasi materialistik yang kuat cenderung mengaitkan penggelapan pajak dengan Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis AAqsha Prima Dinata1*. Sri Andriani keuntungan pribadi semata, sehingga memaklumi praktik penggelapan pajak. Temuan ini konsisten dengan hasil penelitian Dewanta & Machmuddah . Kamaliah et al. , . Yusra & Utami . bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara love of money dan persepsi mahasiswa akuntansi terhadap tindakan penggelapan pajak. Dengan kata lain, individu yang mencintai uang seringkali beranggapan bahwa penggelapan pajak adalah tindakan yang etis. Namun, temuan ini bertentangan dengan penelitian Choiriyah & Damayanti . jika love of money tidak berpengaruh pada penggelapan pajak. Pengaruh Religiusitas Memoderasi Variabel Pemahaman Pajak Terhadap Persepsi Etika Penggelapan Pajak Pada Tabel 8 hipotesis ketiga moderasi religiusitas ditolak dengan P-value . ,766 > 0,. , mengindikasikan bahwa tingkat keagamaan seseorang tidak mampu memoderasi pengaruh pemahaman pajak terhadap persepsi etika dalam tindakan penggelapan pajak. Penelitian ini tidak mendukung Teori of Planned Behavior jika individu yang memiliki pemahaman pajak baik dan keyakinan religius kuat maka norma subjektif mereka akan cenderung menentang penggelapan Lebih lanjut, penelitian juga ini tidak mendukung teori atribusi menjelaskan individu yang memiliki pemahaman pajak tinggi akan menganggap kewajiban perpajakan adalah bagian dari moralitas dan tindakan penggelapan pajak dianggap tidak etis karena melanggar nilai agama. Penelitian oleh Randiansyah et al. , . telah mengidentifikasi beberapa faktor yang mendorong individu untuk menyimpang dari nilai-nilai keagamaan mereka dan terlibat dalam tindakan tidak jujur, seperti adanya peluang, tuntutan kebutuhan keluarga, atau kondisi Penelitian ini menguatkan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Randiansyah et al. , . jika tingkat religiusitas tidak menjadi faktor determinan dalam perilaku penggelapan pajak. Namun, temuan ini kontradiktif dengan studi Wirawan et al. , . yang menyimpulkan jika religiusitas berkorelasi positif dengan perilaku individu dalam memenuhi kewajiban perpajakan. Pengaruh Religiusitas Memoderasi Variabel Love of Money Terhadap Persepsi Etika Penggelapan Pajak Pada Tabel 8 hipotesis keempat moderasi religiusitas ditolak dengan P-value . ,897 > 0,. , mengindikasikan bahwa tingkat keagamaan seseorang tidak mampu memoderasi pengaruh kecintaan terhadap uang terhadap persepsi etika dalam tindakan penggelapan pajak. Penelitian ini berbeda dengan Theory of Planned Behavior (TPB) yang menjelaskan jika seseorang yang religius dengan norma subjektif yang kuat terhadap agama. Individu dengan perilaku yang baik dan didukung oleh religiusitas yang kuat akan mempengaruhi tingkat keinginan individu terhadap materi dan mengurangi tindakan melanggar hukum dalam sistem perpajakan. Individu yang taat beragama umumnya menunjukkan tingkat pengendalian diri yang baik terhadap dorongan materialistik seperti love of money sehingga mereka cenderung menghindari tindakantindakan yang melanggar norma sosial, termasuk praktik penggelapan pajak (Farhan et al. , 2. Dengan demikian, religiusitas tidak selalu menjadi salah satu faktor pendorong terhadap perilaku yang melanggar norma. Berbeda halnya dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Farhan et al. , . dan Randiansyah et al. , . menyimpulkan jika peningkatan tingkat religiusitas berkorelasi positif dengan pengurangan perilaku negatif seperti love of money dan peningkatan tindakan etis. Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis AAqsha Prima Dinata1*. Sri Andriani SIMPULAN Temuan menunjukkan bahwa pemahaman pajak dan love of money memberikan pengaruh pada etika penggelapan pajak. Selain itu, religiusitas tidak berfungsi sebagai faktor moderasi dalam hubungan antara pemahaman pajak, love of money, dan persepsi etis penggelapan pajak. Hasil penelitian ini mengindikasikan pentingnya meningkatkan pemahaman perpajakan untuk memperbaiki persepsi etika mahasiswa terkait tindakan ilegal seperti penggelapan pajak. Ada beberapa hal yang membatasi penelitian ini yang perlu diperhatikan. Sampel spesifik mahasiswa akuntansi Malang Raya membatasi penerapan hasil studi ke populasi yang lebih beragam. Selain itu, hanya variabel religiusitas yang diuji sebagai variabel moderasi, sehingga belum dapat menjelaskan lebih mendalam tentang faktor-faktor mempengaruhi fenomena yang diteliti. Penggunaan pendekatan kuantitatif juga membatasi kemampuan penelitian dalam menggali aspek kualitatif yang lebih mendalam. Penelitian ini dapat menjadi dasar yang kuat untuk studi lanjutan dengan jangkauan yang lebih luas. Selain perluasan populasi dan sampel, penelitian mendatang dapat menggunakan kombinasi metode mix methode untuk memperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh. Penambahan variabel moderasi dan konteks sosial budaya yang lebih spesifik juga dapat memperkaya temuan penelitian. REFERENSI