PERBEDAAN KEKUATAN TEKAN ANTARA RESIN KOMPOSIT BULKFILL DENGAN RESIN KOMPOSIT FIBER BULKFILL Ni Nyoman NurdeviyantiA. Kadek Lusi ErnawatiA. Ni Nyoman Intan Ayu Suadnyani. Departemen Konservasi Gigi. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Mahasaraswati Denpasar Ni Nyoman Intan Ayu Suadnyani. Email :inntanas@gmail. ABSTRAK Latar belakang: Masalah kesehatan gigi dan mulut di Indonesia saat ini tergolong cukup tinggi salah satu penyakit gigi dan mulut yang paling banyak ditemukan adalah karies gigi. Gigi yang telah terkena karies butuh perhatian khusus untuk dirawat. Pertimbangan dalam pemilihan bahan tumpatan juga perlu diperhatikan agar memiliki kemampuan untuk menahan beban kunyah yang besar dan tidak mudah fraktur. Bahan restorasi yang baik dan dapat mengembalikan fungsi estetika merupakan kebutuhan masyarakat, salah satu bahan tersebut adalah resin komposit. Resin komposit ini dapat diapplikasikan secara langsung ke dalam kavitas dengan baik serta warnanya mampu menyerupai gigi asli. Tujuan: untuk mengetahui perbedaan kekuatan tekan antara resin komposit bulkfill dengan resin komposit fiber bulkfill. Metode: penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratoris dengan post test only design. Penelitian ini melibatkan 2 resin komposit yaitu resin komposit bulkfill sebagai kelompok I dan resin komposit fiber bulkfill kelompok II. Sampel dengan bentuk tabung silindris memiliki ukuran diameter 4 mm dan tinggi 6 mm sebanyak 10 sampel tiap kelompok, kemudian sampel direndam aquades lalu diletakkan di inkubator dengan suhu 37A selama 24 jam. Dilanjutkan dengan masing-masing sampel di uji kekuatan tekan menggunakan alat Universal Testing Machine hingga hancur. Hasil: kekuatan tekan Kelompok I sebesar 223,28 Mpa dan kelompok II sebesar 403,9 Mpa. Analisis data menggunakan uji parametrik independent t-test dengan p = 0,00 dimana p < 0,05 yang berarti perbedaan kekuatan tekan yang didapat signifikan antara resin komposit bulkfill dan fiber bulkfill. Kesimpulan: kekuatan tekan resin komposit fiber bulkfill lebih besar dari resin komposit bulkfill. Kata Kunci: Resin komposit, kekuatan tekan, bulkfill, fiber bulkfill ABSTRACT Introduction: Dental and oral health problems in Indonesia are currently quite high, one of the most common dental and oral diseases is dental caries. Teeth that have been affected by caries need special attention to be treated. Considerations in selecting the filling material also need to be taken into account so that it has the ability to withstand large chewing loads and does not fracture easily. Restoration materials that are good and can restore aesthetic function are what society needs, one of these materials is composite This composite resin can be applied directly into the cavity and its color can resemble natural teeth. Objective: to determine the difference in compressive strength between bulkfill composite resin and bulkfill fiber composite resin. Method: The research used was laboratory experimental with a post test only design. This research involved 2 composite resins, namely bulkfill composite resin as group I and bulkfill fiber composite resin as group II. Samples with a cylindrical tube shape have a diameter of 4 mm and a height of 6 mm, 10 samples per group, then the samples are soaked in distilled water and then placed in an incubator at a temperature of 37A for 24 hours. This was followed by each sample being tested for compressive strength using a Universal Testing Machine until it was crushed. Results: Group I compressive strength was 223. 28 Mpa and Group II was 403. 9 Mpa. Data analysis used the parametric independent t-test with p = 0. 00 where p < 0. 05, which means the difference in compressive strength obtained was significant between bulkfill composite resin and bulkfill fiber. Conclusion: the compressive strength of bulkfill fiber composite resin is greater than bulkfill composite Keywords: Composite resin, compressive strength, bulkfill, fiber bulkfill PENDAHULUAN Masalah kesehatan gigi dan mulut di Indonesia saat ini tergolong cukup tinggi, salah satu penyakit gigi dan mulut yang paling banyak ditemukan adalah karies gigi. Gigi yang telah terkena karies butuh perhatian khusus untuk dirawat agar gigi tetap bertahan di dalam rongga mulut. Berdasarkan The Global Burden of Disease Study 2016 masalah kesehatan gigi dan mulut khususnya karies gigi adalah penyakit yang hampir dari setengah populasi penduduk di dunia mengalaminya ada 3,58 milyar jiwa. Menurut data Riskesdas tahun 2018, prevalensi karies di Indonesia yaitu sebesar 88,8% dengan prevalensi karies akar sebesar 56,6% dapat disimpulkan bahwa prevalensi karies cenderung tinggi . i atas 70%) pada semua kelompok umur. Salah satu perawatan untuk penyakit karies gigi adalah dengan melakukan perawatan restoratif agar dapat mengembalikan fungsi mastikasi, bentuk anatomi gigi, warna, estetika, fonetik, serta kepercayaan diri pasien dapat dipertahankan1 Pertimbangan dalam pemilihan bahan tumpatan juga perlu diperhatikan agar memiliki kemampuan untuk menahan beban kunyah yang besar dan tidak mudah fraktur. Penggunaan resin komposit di kedokteran gigi terus mengalami peningkatan yang signifikan beberapa tahun terakhir ini dikarenakan permintaan pasien untuk restorasi sewarna dengan gigi dan memiliki daya kekuatan kunyah yang baik. Resin komposit bisa digunakan untuk mengembalikan bentuk dan fungsi gigi karena memiliki estetika yang baik, kemampuan bahan berikatan dengan struktur jaringan keras gigi, warnanya yang menyerupai gigi asli, mampu diaplikasikan secara langsung ke dalam kavitas dengan baik yang dihasilkan restorasi ini sangat memuaskan. Kekurangan dari resin komposit adalah pengerutan polimerisasi . olimerization shrinkag. Hal itu dapat terjadi karena konversi monomer menjadi polimer saat dilakukan aktivasi oleh sinar biru yang dapat mengurangi volume bebas dari resin komposit, sehingga timbul celah antara bahan restorasi dengan struktur gigi1 . Para peneliti di bidang kedokteran gigi terus mengembangkan inovasi terbaru dalam penyempurnaan penggunaan bahan restorasi resin komposit. Resin komposit bulkfill merupakan salah satu resin komposit yang dikembangkan pada tahun 2010. Tipe resin komposit jenis ini dapat dipolimerisasikan dan diapplikasikan dalam sekali tumpat . eknik bul. hingga kedalaman 4-5 mm, karena pabrik memodifikasi komposisi inisiator dan mengurangi jumlah filler untuk meningkatkan polimerisasi2 . Berbeda dengan resin komposit konvensional yang harus di sinar setiap kondensasi resin sedalam 2 mm. Resin komposit bulkfill mengandung modifiers seperti shrinkage stress reliver yang mengurangi tingkat pengerutan polimerisasi sehingga mengurangi kebocoran mikro yang dapat menimbulkan karies sekunder3. Resin komposit bulkfill dapat disinar hingga kedalaman kurang lebih 4 mm, karena warnanya 15% translusen yang memudahkan cahaya dapat masuk ke lapisan yang lebih dalam4 . Resin komposit bulkfill lebih menguntungkan terutama bagi dokter gigi dan juga pasien karena kelebihan dari resin ini adalah mudah di applikasikan dapat meminimalisir waktu perawatan gigi dan tidak membentuk ruang kosong di dalam kavitas tumpatan sebagai restorasi gigi posterior, tidak terbentuk void, pengerutan polimerisasi rendah, sehingga mengurangi terjadi kebocoran mikro dan dapat mengurangi tekanan pengerutan karena memiliki elastisitas Kekurangan pada resin komposit bulkfill adalah efek yang dihasilkan dari shrinkage stress akan lebih besar ketika dokter gigi menggunakan teknik bulkfill karena seluruh bahan resin komposit berpolimerisasi pada satu waktu dibandingkan menggunakan teknik layer by layer atau inkremental3 . Resin komposit dengan penguat fiber atau disebut juga Fiber Reinforced Composite Resin (FRC) sudah banyak digunakan para praktisi di dunia kedokteran gigi. Resin komposit fiber bulkfill mulai di perkenalkan karena memiliki inovasi baru dengan menambahkan penguat short fiber (SFC) di dalamnya yang terdiri dari kombinasi matriks resin, e-glass fiber atau electrical glass dan pengisi partikulat anorganik yang tahan terhadap air6 . Fiber yang biasa digunakan dalam kedokteran gigi adalah fiber e-glass karena mempunyai daya lentur tinggi dan sifat yang keras sehingga cocok digunakan pada gigi yang menerima tekanan besar seperti gigi posterior. Fiber e-glass mempunyai beberapa fungsi diantaranya memiliki ketahanan terhadap sifat kimia, memiliki sifat estetis yang baik, sifat mekanik hampir sama dengan dentin dan biokompatibel. Selain itu, e-glass fiber memiliki keterbatasan yaitu harganya mahal7 . Pada resin komposit fiber penambahan e-glass ini di harapkan memiliki nilai ketahanan fraktur yang jauh lebih tinggi daripada resin komposit tanpa e-glass. Menurut penelitian Panjaitan dkk. melaporkan bahwa terdapat peningkatan resistensi terhadap fraktur ketika resin komposit dikombinasikan dengan fiber. Penelitian Purnamasari dkk. 2019 mengatakan bahwa fiber memiliki kekerasan permukaan yang ideal, ini dapat menjadi bukti fiber dapat digunakan untuk tambalan kavitas dengan kedalaman 4 mm. Tidak hanya pada kekerasan saja, fiber juga memiliki ketahanan fraktur, kekuatan flexural dan modulus yang tinggi nilainya dengan angka kekerasan permukaan. Suatu bahan restorasi harus memiliki ketahanan terhadap beban kunyah yang diterima untuk dapat bertahan di dalam rongga mulut. Pertimbangan dalam memilih bahan tumpatan pada gigi anterior dan posterior yang perlu di perhatikan agar bahan tumpatan tersebut mempunyai kemampuan dalam menahan Salah satu sifat mekanik yang dibutuhkan pada bahan restorasi adalah kekuatan tekan yang baik. Kekuatan tekan merupakan sifat mekanis yang mempunyai peranan penting dan harus dimiliki oleh bahan restorasi, agar dapat menggambarkan kekuatan suatu bahan terhadap penyebaran retak atau fraktur akibat tekanan pengunyahan saat proses mastikasi yang diterima oleh bahan restorasi tersebut7 . METODE PENELITIAN Rancangan penelitian yang digunakan merupakan post test only design dikarenakan tidak adanya kontrol terhadap rancangan eksperimen. Perlakuan dibagi menjadi 2 kelompok yaitu: resin komposit bulkfill sebagai kelompok I dan resin komposit fiber bulkfill kelompok II. Sampel pada penelitian ini adalah bahan restorasi bulkfill dan restorasi fiber bulkfill yang berbentuk tabung silindris. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 20 sampel. Berdasarkan perhitungan menggunakan rumus Hulley. Penelitian ini menggunakan ketebalan berdiameter 6 mm dan memiliki lebar 4 Pada saat tahap curing dilakukan dengan metode continuous light-curing selama 20 detik pada setiap layer. Aplikasi dengan teknik incremental oblik. Bahan penelitian ini akan disimpan pada suhu 37Ac selama 24 jam dalam inkubator untuk mengkondisikan suhu fisiologis seperti yang ada pada dalam rongga mulut. Prosedur penggunaan alat uji menggunakan Universal Testing Machine untuk menguji kekuatan tekan agar dapat mengetahui ketahanan internal terhadap beban yang diukur dalam satuan Megapascal (Mp. Analisis data dilakukan setelah akhir perlakuan. Data terlebih dahulu dilakukan uji normalitas, menggunakan uji normalitas dengan Shapiro-Wilk karena jumlah sampel yang digunakan kurang dari 50 sampel. Kemudian dilakukan uji homogenitas untuk menentukan data atau sampel memiliki varian yang homogen atau tidak menggunakan uji homogenitas LeveneAos Test, apabila data terdistribusi normal dan memiliki varian yang homogen maka dapat dianalisis secara statistik paramterik menggunakan uji dua sampel bebas . ndependent t-tes. Uji T-Test memiliki syarat yaitu perbedaan dua kelompok data harus berdistribusi normal, apabila data tidak berdistribusi normal maka dilakukan uji non parametrik Man Whitney U Test untuk mengetahui perbedaan statistik perbedaan kekuatan tekan pada resin komposit bulkfill dan resin komposit fiber bulkfill. HASIL Penelitian ini menggunakan dua kelompok sampel yaitu dengan masing-masing 10 sampel setiap kelompok. Kelompok I merupakan bulkfill dengan teknik inkremental oblik berbentuk tabung silindris dengan diameter 4 mm dan tinggi 6 mm dan kelompok II merupakan fiber bulkfill dengan teknik inkremental oblik berbentuk tabung silindris dengan diameter 4 mm dan tinggi 6 mm. Gambar. 1 Sampel Resin Komposit bulkfill dan resin komposit fiber bulkfill Tabel. 1 Hasil uji kekuatan tekan resin komposit bulkfill dan resin komposit fiber bulkfill NO. MEAN Kelompok I 223,28 Kelompok II 403,90 Ket : Kelompok I : Sampel restorasi komposit bulkfill tabung silindris. Kelompok II : Sampel restorasi komposit fiber bulkfill tabung silindris. Tabel. 1 menunjukkan nilai rata- rata compressive strength secara berurutan yaitu kelompok I lebih rendah dan kelompok II lebih tinggi. Gambaran perbedaan nilai rerata compressive strength dari kedua kelompok ini dapat dilihat pada gambar diatas. Tabel. 1 Tabel Uji Normalitas Data Tests of Normality Kelas Penelitian Hasil Penelitian BULKFILL BULKFILL FIBER Kolmogorov-Smirnova Statistic Sig. ,271 ,036 ,235 Shapiro-Wilk Statistic Sig. ,825 10 ,059 ,124 ,871 10 ,104 Pada penelitian ini data uji normalitasnya menggunakan uji Saphiro-Wilk karena jumlah sampelnya 20 (O . dan diperoleh hasil yaitu p = 0,059 pada kelompok I pada kelompok II dan p = 0,104. Data tersebut menunjukkan bahwa p > 0. 05 sehingga dapat diketahui bahwa data yang diperoleh berdistribusi normal Tabel. 1 Uji Homogenitas Hasil Penelitian Levene Statistic ,363 Sig. ,554 Berdasarkan hasil uji homogenitas menggunakan metode LeveneAos test pada sampel diperoleh nilai p = 0,554. Data tersebut menunjukkan p > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa data yang diperoleh memiliki ragam yang sama . Tabel. 1 T-Test dua sampel bebas Hasil Penelitian Kelas Penelitian BULKFILL Group Statistics Mean BULKFILL FIBER Std. Deviation Std. Error Mean 16,305 14,636 5,156 4,628 223,28 403,90 Independent Samples Test Levene's Test for t-test for Equality of Means Equality of Variances Equal variances Equal variances not assumed Sig. ,363 ,554 26,06 26,06 Sig. - Mean Differenc Std. Error 95% Confidence Interval Differenc of the Difference Lower Upper ,000 -180,620 6,929 -195,177 -166,063 17,79 ,000 -180,620 6,929 -195,189 -166,051 Berdasarkan hasil uji t data dua sampel bebas tersebut di dapatkan p = 0,000. Hasil Uji T-Test dikatakan ada perbedaan apabila nilai Sig. -taile. < dari 0. Sehingga berdasarkan hasil Uji T-Test terdapat perbedaan yang signifikan karena Sig. -taile. < 05 yaitu 0. 000 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata compressive strength yang signifikan antara resin komposit bulkfill dan resin komposit fiber bulkfill. Resin komposit fiber bulkfill menunjukkan bahwa kekuatan tekannya lebih tinggi dan diikuti oleh resin komposit bulkfill yang lebih rendah. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan kekuatan tekan yang signifikan. Kekuatan tekan pada resin komposit fiber bulkfill lebih besar dibandingkan resin komposit bulkfill. Hasil pengujian menunjukkan rata-rata kekuatan tekan kelompok I resin komposit bulkfill sebesar 223,28 Mpa dan kelompok II resin komposit fiber bulkfill sebesar 403,90 Mpa. Nilai rata-rata tersebut memiliki selisih sebesar 180,62 Mpa. Kelompok II menunjukkan kekuatan tekan yang lebih tinggi dan diikuti dengan kelompok I yang memiliki nilai kekuatan tekan lebih Pada kelompok I yaitu resin komposit bulkfill di klasifikasikan menjadi material dengan viskositas rendah dan viskositas tinggi. Resin komposit dengan viskositas yang tinggi mengandung jumlah partikel filler yang lebih banyak dibandingkan dengan resin komposit yang viskositasnya rendah. Resin komposit bulkfill umumnya menunjukkan adanya pengurangan jumlah filler dan peningkatan ukuran filler untuk mencapai kedalaman polimerisasi7 . Resin komposit bulkfill memiliki empat komponen utama dan komponen tambahan. Empat komponen utama diantaranya matriks polimer organik, partikel filler inorganik, coupling agent dan photoinitiator, sedangkan komponen tambahan yaitu inhibitor, pigmen dan modifier optik. Beberapa matriks resin yang digunakan adalah kombinasi dari beberapa monomer seperti BIS-GMA. UDMA. TEGMA. BIS-EMA. AFM2. Pada penelitian yang dilakukan oleh Vidyanara dkk. menyatakan bahwa resin komposit bulkfill yang diperkuat oleh monomer AUDMA dan AFM. Monomer AUDMA (Aromatic Dimethacrylat. akan menurunkan jumlah kelompok resin yang reaktif, menurunkan volumetrik shrinkage dan kekakuan matriks saat berpolimerisasi. Monomer AFM (Addition Fragmentation Monomer. juga akan menurunkan stress untuk mempertahankan sifat fisiknya. Resin komposit tipe ini memiliki viskositas yang rendah sehingga memiliki kemampuan sealing yang baik dan dianggap menurunkan polymerization shrinkage. Faktor yang mempengaruhi kualitas polimerisasi resin komposit bulkfill yaitu intensitas cahaya, lama penyinaran, panjang gelombang cahaya, ketebalan resin komposit, jarak ujung light curing unit dengan permukaan restorasi, warna resin komposit dan komposisi bahan resin komposit itu sendiri. Faktor lain yang berperan dalam mempengaruhi kualitas resin komposit bulkfill yaitu ketebalan bahan resin komposit. Restorasi kavitas dengan ketebalan yang dalam akan mengakibatkan penyebaran dari energi light curing atau sinar mengalami divergen terhadap permukaan resin komposit Hal ini mengakibatkan menurunnya polimerisasi resin komposit bulkfill. Menurut penelitan yang dilakukan oleh Ratih dan Novitasari pada tahun 2017 bahwa pengaplikasian resin komposit packable pada penggunaan di klinik harus secara berlapis pada kavitas yang dalam untuk menghasilkan suatu restorasi yang optimal. Selain itu aplikasi secara berlapis juga perlu dilakukan pada restorasi dengan resin komposit bulkfill karena dari penelitiannya juga terlihat bahwa resin komposit bulkfill menunjukan kekuatan tekan yang lebih rendah dengan kedalaman 4 mm. Meskipun aplikasi secara berlapis sangat menyita waktu serta kemungkinan terjadinya kontaminasi antara lapisan maupun terbentuknya gelembung udara diantara lapisan dapat meningkat, akan tetapi apabila dilakukan dengan berhati-hati dapat meningkatkan kesuksesan restorasi resin komposit packable bulkfill. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang di lakukan oleh Noviyani dkk. tahun 2018 menyatakan bahwa polimerisasi resin komposit bulkfill sampai ketebalan lapisan 4 mm dikarenakan peningkatan derajat polimerisasi resin komposit bulkfill dilakukan dengan memodifikasi filler. Peningkatan ukuran filler resin komposit bulkfill akan menurunkan penyebaran cahaya antar filler dan matriks sehingga penetrasi cahaya dapat lebih dalam. Komponen lain yang terdapat pada resin komposit bulkfill adalah kandungan polymerization booster . pengganti fotoinisiator camphorquinone. Inisiator ini memiliki absorbsi panjang gelombang dengan rasio yang lebih luas dibandingkan camphorquinone, sehingga resin komposit bulkfill dapat diaplikasikan sampai kedalaman 4 mm. Namun, resin komposit bulkfill dengan ketebalan 6 mm membuat proses polimerisasi tidak sempurna dan nilai mempengaruhi pada kekuatan tekannya yang semakin menurun. Restorasi kavitas dengan ketebalan yang dalam akan mengakibatkan penyebaran dari energi light curing atau sinar mengalami divergen terhadap permukaan resin komposit. Hal ini menyebabkan terjadinya penurunan polimerisasi resin komposit bulkfill. Oleh karena itu, nilai dari kekuatan tekan resin komposit bulkfill lebih rendah daripada resin komposit fiber bulkfill. Hal ini terjadi karena kelompok II yaitu resin komposit fiber bulkfill menurut penelitian yang dilakukan oleh Garoushi pada tahun 2018 resin komposit fiber bulkfill peningkatan kekuatan tekan karena terdapat komponen fiber yang terbenam dalam matriks resin polimer yang memiliki fungsi sebagai penguat, sedangkan matriks berfungsi untuk menyalurkan tekanan diantara fiber serta melindungi fiber dari kerusakan mekanis dan lingkungan. Peningkatan sifat material juga dapat disebabkan oleh kemampuan fiber dalam menghentikan perambatan retak. Selain itu, resin komposit fiber bulkfill ini terdiri dari short glass yang mengandung kombinasi matriks resin e-glass fiber yang berdistribusi secara acak dan pengisi partikulat anorganik. Berdasarkan komposisi kimia glass fiber dikelompokkan menjadi beberapa jenis seperti fiber tipe . E . C . dan S . dengan perbedaan sifat mekanik dan sifat Jenis e-glass fiber adalah jenis utama yang menggunakan penguat plastic dan terdiri dari calium amino borosilicate yang memiliki tensille strength, modulus elastis dan kerapatan yang baik sehingga mengdapatkan hasil kekuatan tekan yang tinggi. Diameter filler short e-glass fiber berukuran 17 AAm dan panjang 1,3-2 mm. Matriks resin terdiri dari BisGMA. TEGDMA dan PMMA yang membentuk semi-IPN selama polimerisasi bahan yang dapat meningkatkan sifat ikatan dan kekuatan tekan resin komposit menjadi lebih baik. Semi-IPN memiliki kemampuan berupa dapat mengaktifkan kembali struktur permukaan resin komposit fiber bulkfill sehingga bahan restorasi memiliki ikatan yang tahan lama dan dapat memperbaiki restorasi apabila terjadi Menurut penelitian Donova dkk. menyebutkan bahwa gaya mastikasi dapat menimbulkan adanya suatu pembentukan dan perambatan retak. Namun berbeda dengan restorasi resin komposit fiber bulkfill yang dapat mengatasi hal tersebut karena bahan restorasi ini memiliki kandungan fiber dalam skala milimeter sehingga kekuatan tekan yang dihasilkan menjadi jauh lebih baik. Resin komposit fiber bulkfill mempunyai mekanisme kekuatan tekan yang berukuran mili meter, hal ini karena fiber tersebut memiliki kemampuan untuk mencegah adanya suatu perambatan retak, menahan apabila terjadi awal retakan dan perbanyakan retakan sehingga terbentuk suatu penutupan pada celah serta mengurangi intensitas tegangan di ujung retakan. Hal ini menyebabkan tekanan dan keretakan tidak mudah mengenai restorasi ini. Resin komposit fiber diklaim memiliki karakteristik penyusutan yang berbeda daripada resin komposit lainnya. Saat pengapplikasian fiber akan beriorientasi ke dalam bidang horizontal pada kavitas. Hal ini terjadi karena adhesi yang kuat antara resin dan fiber sehingga shrinkage akan minimal pada bidang horizontal meskipun pada bidang vertikal tetap akan terjadi shrinkage7. Proses adhesi . antara resin komposit fiber dengan resin matriks terjadi dengan baik karena kandungan silika oksida yang tinggi dari fiber tersebut. Silanization ini dibantu dengan silane . oupling agen. yang merupakan molekul fungsional yang mampu menyatukan antara matriks dengan fiber. Proses silanization atara fiber dengan matriks tidak lepas dari volume. Volume atara fiber dan silane sebagai coupling agent penting diketahui karena dapat berpengaruh pada kekuatan tekan resin komposit 8 . Namun, pemberian silane yang terlalu banyak akan menyebabkan kekuatan tekan dari resin komposit fiber menjadi berkurang9 . Abouelleil dkk. menyatakan bahwa penambahan fiber dapat meningkatkan sifat material karena stress ditransfer dari matriks ke fiber dan juga fiber berperan dalam menghentikan perambatan crack. Selain penambahan fiber, panjang dan diameter fiber berperan penting dalam meningkatkan sifat komposit. Fiber yang ditambahkan dalam komposit dapat meningkatkan sifat material jika fiber memiliki panjang yang melebihi panjang minimum tertentu. Panjang minimum fiber adalah saat fiber mencapai kekuatan tekannya dan matriks mencapai kekuatan geser maksimumnya. Dalam penelitian ini, panjang dan diameter fiber diukur dengan menggunakan stereomikroskop dan SEM dan diperoleh diameter fiber 16 mm dan rata-rata panjangnya antara 1 dan 2 mm. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Patel . yang juga menyatakan bahwa adanya serat fiber dalam resin komposit diteorikan sebagai penyerapan stress-free shock akan terjadi antara permukaan fiberresin. Fiber juga menggantikan beberapa bagian dari komposit secara keseluruhan atau signifikan mengurangi kontraksi volumetrik sehingga dapat menurunkan stress Produsen dari (EverX. GC) mengklaim bahwa karakter penyusutannya berbeda dari komposit lainnya. Saat peletakan, fiber berorientasi dalam bidang horizontal pada kavitas. Karena ikatan yang kuat antara resin dengan fiber, arah fiber mengurangi penyusutan pada bidang horizontal meskipun pada bidang vertikal terjadi penyusutan. Hasil ini dapat menjadi bukti bahwa resin komposit fiber bulkfill dapat digunakan untuk tambalan kavitas dengan kedalaman 4 mm. Tidak hanya pada kekuatan tekan saja, resin komposit fiber bulkfill juga memilki ketahan fraktur, kekuatan fleksural dan modulus yang sama tinggi nilainya. Dari hasil penelitian terlihat bahwa masing-masing kelompok ada beberapa hasil uji kekuatan tekannya yang memiliki nilai yang berbeda jauh dengan sampel lain dalam Hal ini disebabkan oleh perhitungan kekuatan tekan pada sampel dari alat uji tekannya (Universal Testing Machin. yang di sambungkan ke komputer, sehingga pada sistem komputer tersebut untuk besaran nilainya dibatasi hingga 6000 Mpa. Sehingga terdapat beberapa nilai yang berbeda jauh dari sampel dalam kelompoknya. Selain itu faktor keadaan rongga mulut dapat berkaitan dengan adanya kandungan air dan bahan kimia di dalam rongga mulut yang dapat mengurangi kekuatan tekan dari suatu bahan restorasi, namun pada penelitian ini tidak dilakukan perlakukan apapun berkaitan dengan hal tersebut. Hasil penelitian ini sesuai dengan hipotesa penulis dan secara statistik terdapat perbedaan kekuatan tekan yang signifikan antara resin komposit bulkfill dan resin komposit fiber bulkfill karena bahan restorasi resin komposit gigi posterior di dalam rongga mulut pada saat mastikasi dapat mengalami gaya tekan dan tarikan kearah horisontal secara bersamaan. Jika resin komposit tidak memiliki kekuatan untuk menahan tekanan dari pengunyahan, maka resin komposit akan pecah atau retak. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan kekuatan tekan yang signifikan antara nilai kekuatan tekan bahan resin komposit fiber bulkfill dan resin komposit bulkfill, dimana resin komposit fiber bulkfill memiliki kekuatan tekan yang lebih tinggi daripada resin komposit bulkfill. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang uji sifat mekanis lain pada resin komposit bulkfill dan resin komposit fiber bulkfill dan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang uji kekuatan tekan pada resin komposit bulkfill dan resin komposit fiber bulkfill dengan disertai perlakuan khusus seperti perendaman pada saliva. DAFTAR PUSTAKA