EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Agustus 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational NILAI-NILAI PENDIDIKAN YANG TERKANDUNG DALAM QS. AN-NAHL AYAT 106 DAN QS. AZ-ZUMAR AYAT 9 Muhammad Rohan Saputra1. Khusnul Wardan2 Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda1,2 e-mail: rhansaputra200@gmail. com1 , wardankhusnul@yahoo. ABSTRAK Pendidikan Islam bertujuan membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia, namun realitas di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan antara tujuan ideal dan praktik Peserta didik masih sering lemah dalam integritas, rendah motivasi belajar, serta menjalankan ibadah sebatas rutinitas. Penelitian ini berfokus pada nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam QS. An-Nahl ayat 106 dan QS. Az-Zumar ayat 9, yaitu keteguhan iman, kejujuran hati, pentingnya ilmu, dan keikhlasan ibadah. Penelitian menggunakan metode studi literatur dengan menghimpun dan menganalisis sumber dari buku, tafsir, dan artikel ilmiah yang Analisis dilakukan dengan mengkaji tafsir Kemenag dan Tafsir Al-Mishbah untuk memperoleh pemahaman filosofis sekaligus aplikatif terhadap ayat-ayat tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa QS. An-Nahl ayat 106 menekankan keteguhan iman dan kejujuran hati sebagai fondasi karakter religius, sedangkan QS. Az-Zumar ayat 9 menegaskan keutamaan ilmu dan keikhlasan ibadah sebagai dasar pembentukan pribadi muslim yang utuh. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi nilai QurAoani ke dalam pendidikan Islam dapat memperkuat aspek kognitif, afektif, dan spiritual peserta didik. Prospek pengembangan penelitian ini adalah penerapannya dalam kurikulum, strategi pembelajaran, keteladanan guru, dan program pembiasaan sehingga dapat melahirkan generasi yang religius, cerdas, jujur, dan ikhlas dalam menghadapi tantangan global. Kata Kunci: keteguhan iman, kejujuran hati, pentingnya ilmu, keikhlasan ibadah. ABSTRACT Islamic education aims to shape individuals who are faithful, knowledgeable, and virtuous, yet the reality in the field still shows a gap between the ideal goals and actual practices. Students are often weak in integrity, have low learning motivation, and perform worship merely as a This study focuses on the educational values contained in QS. An-Nahl verse 106 and QS. Az-Zumar verse 9, namely steadfast faith, sincerity of heart, the importance of knowledge, and sincerity in worship. This research employed a literature study method by collecting and analyzing sources from books. QurAoanic exegesis, and relevant scientific articles. The analysis was conducted by examining the Ministry of Religious AffairsAo interpretation and Quraish ShihabAos Tafsir Al-Mishbah to obtain both philosophical and applicative understandings of the The findings reveal that QS. An-Nahl verse 106 emphasizes steadfast faith and sincerity of heart as the foundation of religious character, while QS. Az-Zumar verse 9 stresses the importance of knowledge and sincerity in worship as the basis of forming a complete Muslim This study concludes that integrating QurAoanic values into Islamic education can strengthen studentsAo cognitive, affective, and spiritual aspects. The prospect of this research lies in its application to the curriculum, learning strategies, teacher role modeling, and habituation programs to produce a religious, intelligent, honest, and sincere generation capable of facing global challenges. Keywords: steadfast faith, sincerity of heart, importance of knowledge, sincerity in worship. Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Agustus 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational PENDAHULUAN Pendidikan Islam mengemban sebuah visi agung, yaitu untuk membentuk manusia paripurna atau insan kamil, seorang individu yang dalam dirinya terintegrasi secara harmonis tiga pilar fundamental: kekuatan iman . , kedalaman ilmu . , dan kesungguhan dalam beramal . (Insani et al. , 2. Idealnya, lembaga pendidikan Islam berfungsi sebagai sebuah ekosistem yang secara sadar dan terencana menumbuhkembangkan ketiga aspek tersebut secara seimbang (Almasri, 2017. Fadilah et al. , 2. Lulusan yang dihasilkan tidak hanya diharapkan cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki ketangguhan spiritual dan akhlak mulia, sehingga mampu menjadi agen perubahan positif yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Visi holistik inilah yang menjadi standar tertinggi dan tujuan akhir dari seluruh proses pendidikan dalam kerangka ajaran Islam. Namun, dalam realitas dunia pendidikan kontemporer, terdapat sebuah kesenjangan yang signifikan antara visi ideal yang holistik tersebut dengan praktik yang seringkali bersifat parsial dan terfragmentasi. Banyak lembaga pendidikan saat ini, baik sadar maupun tidak, terjebak dalam pendekatan yang memisahkan secara kaku antara pendidikan agama dengan pendidikan umum. Akibatnya, nilai-nilai iman seringkali diajarkan sebatas doktrin teoretis, ilmu pengetahuan diajarkan dalam kerangka yang sekuler dan terlepas dari nilai spiritual, sementara praktik ibadah cenderung dijalankan sebagai rutinitas formalitas tanpa penghayatan yang mendalam (Mubarok & Yusuf, 2024. Qolil & Astuti, 2. Kesenjangan antara idealisme integratif dengan praktik yang terkotak-kotak ini menjadi salah satu tantangan terbesar bagi dunia pendidikan Islam saat ini. Kesenjangan ini termanifestasi secara nyata pada karakter dan perilaku peserta didik. Ketika fondasi iman tidak ditanamkan secara kokoh, mereka menjadi generasi yang mudah goyah dalam keyakinan dan tidak konsisten dalam memegang prinsip saat dihadapkan pada tantangan ideologi modern. Ketika ilmu tidak dilandasi oleh iman, semangat belajar menjadi rendah dan orientasinya hanya bersifat pragmatis, yang salah satunya tecermin dalam lemahnya integritas akademik dan maraknya praktik ketidakjujuran (Nugroho, 2. Selanjutnya, ketika ibadah kehilangan ruh keikhlasannya, ia hanya menjadi sebuah ritual kosong yang gagal membentuk karakter dan kepekaan sosial. Fenomena inilah yang menunjukkan adanya jarak yang lebar antara cita-cita luhur pendidikan Islam dengan kenyataan yang terjadi di lapangan. Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, satu-satunya jalan adalah kembali merujuk pada sumber utama ajaran Islam, yaitu Al-QurAoan, sebagai pedoman fundamental dalam merumuskan kembali filosofi dan strategi pendidikan. Al-QurAoan bukanlah sekadar kitab suci yang dibaca, melainkan sebuah panduan hidup komprehensif yang di dalamnya terkandung nilai-nilai pendidikan yang universal dan relevan sepanjang zaman. Berbagai kajian telah menegaskan bahwa penguatan nilai-nilai QurAoani dalam proses pendidikan merupakan kunci untuk memperkuat daya saing dan membentuk karakter peserta didik yang tangguh (Jabar & Subagyo, 2025. Yunita et al. , 2. Dengan menggali kembali prinsip-prinsip pedagogis dari Al-QurAoan, kita dapat menemukan kerangka kerja yang otentik untuk merevitalisasi pendidikan Islam. Secara lebih spesifik, penelitian ini akan memfokuskan kajiannya pada dua ayat kunci dalam Al-QurAoan yang secara langsung membahas tiga pilar utama pendidikan. Pertama. Surah An-Nahl ayat 106, yang menekankan tentang pentingnya keteguhan iman dan kejujuran hati, bahkan di bawah tekanan yang paling ekstrem sekalipun. Kedua. Surah Az-Zumar ayat 9, yang secara tegas menyoroti keutamaan orang-orang yang berilmu serta pentingnya keikhlasan dalam beribadah sebagai fondasi pembentukan pribadi yang unggul. Kedua ayat ini dipilih karena secara bersama-sama memberikan sebuah kerangka konseptual yang sangat kuat untuk Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Agustus 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational merekonstruksi model pendidikan yang mengintegrasikan kembali antara kekuatan iman, keutamaan ilmu, dan kesucian ibadah. Nilai kebaruan atau inovasi dari penelitian ini terletak pada pendekatan metodologisnya dalam menggali makna dari kedua ayat tersebut. Berbeda dari kajian tafsir konvensional yang mungkin hanya merujuk pada satu sumber, penelitian ini akan melakukan analisis komparatifintegratif dengan menggunakan dua karya tafsir monumental di Indonesia: Tafsir Kementerian Agama, yang merepresentasikan pandangan formal dan kolektif, serta Tafsir Al-Mishbah karya Quraish Shihab, yang dikenal dengan kedalaman analisis bahasa dan konteks Dengan mensintesiskan kedua perspektif ini, penelitian diharapkan dapat mengungkap dimensi makna yang lebih kaya, mendalam, dan multi-perspektif dari nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam kedua ayat tersebut. Berdasarkan latar belakang masalah mengenai kesenjangan dalam praktik pendidikan Islam serta potensi Al-QurAoan sebagai solusi, maka tujuan dari penelitian ini menjadi sangat Studi ini bertujuan untuk menggali, menganalisis, dan mensintesiskan nilai-nilai pendidikan Islam yang mencakup aspek iman, ilmu, dan ibadah, berdasarkan penafsiran Surah An-Nahl ayat 106 dan Surah Az-Zumar ayat 9 dalam Tafsir Kemenag dan Tafsir Al-Mishbah. Hasil dari kajian ini diharapkan tidak hanya memberikan kontribusi teoretis dalam bidang tafsir pendidikan, tetapi juga dapat menurunkan implikasi-implikasi praktis yang dapat diimplementasikan oleh para pendidik dan pemangku kebijakan untuk memperkuat kembali sistem pendidikan Islam di Indonesia. METODE PENELITIAN Penelitian ini dirancang dengan menggunakan metode studi literatur atau kajian pustaka . ibrary researc. Pendekatan kualitatif ini dipilih karena fokus penelitian adalah untuk mengkaji dan menganalisis secara mendalam data-data tekstual yang sudah ada, tanpa melakukan penelitian lapangan secara langsung. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk melakukan penelusuran, identifikasi, dan analisis terhadap kandungan nilai-nilai pendidikan Islam yang terdapat dalam QS. An-Nahl ayat 106 dan QS. Az-Zumar ayat 9. Metode ini memungkinkan peneliti untuk melakukan penelusuran, analisis, serta evaluasi kritis terhadap berbagai sumber yang telah terdokumentasi, sehingga dapat menghasilkan sebuah sintesis yang sistematis dan mendalam. Seluruh proses penelitian ini berbasis pada penggalian data dari sumber-sumber pustaka untuk menjawab rumusan masalah yang telah ditetapkan. Proses pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan secara sistematis dengan mengidentifikasi dan mengumpulkan data dari dua jenis sumber utama. Sumber data primer dalam konteks studi literatur ini adalah dua karya tafsir utama, yaitu Tafsir Kementerian Agama Republik Indonesia dan Tafsir Al-Mishbah karya M. Quraish Shihab. Kedua tafsir ini dipilih untuk memperoleh pemahaman yang filosofis sekaligus aplikatif terhadap ayat-ayat yang Sementara itu, sumber data sekunder digunakan untuk mendukung dan memperkaya analisis, yang mencakup sepuluh artikel ilmiah pilihan yang secara spesifik membahas tema terkait, buku-buku akademik, serta berbagai referensi daring yang relevan. Prosedur pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran pada basis data akademik, seperti Google Scholar dan Mendeley, untuk mengidentifikasi dan mengumpulkan literatur yang sesuai. Analisis data dalam penelitian ini menerapkan metode analisis isi kualitatif . ualitative content analysi. dengan pendekatan deskriptif. Proses analisis dilakukan melalui beberapa tahapan yang sistematis. Tahap pertama adalah pengumpulan data dari berbagai literatur yang Tahap kedua adalah pembacaan kritis terhadap sumber-sumber tersebut, terutama pada bagian yang menafsirkan QS. An-Nahl ayat 106 dan QS. Az-Zumar ayat 9. Tahap ketiga adalah pencatatan dan pengolahan informasi untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan nilai-nilai Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Agustus 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational pendidikan yang terkandung di dalamnya, seperti keteguhan iman, kejujuran hati, pentingnya ilmu, dan keikhlasan beribadah. Tahap terakhir adalah penarikan kesimpulan, di mana peneliti melakukan sintesis terhadap seluruh informasi yang telah dianalisis untuk membangun sebuah argumen yang koheren. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Al-QurAoan tidak hanya berfungsi sebagai petunjuk kehidupan, tetapi juga sebagai sumber nilai-nilai pendidikan yang membentuk akhlak dan karakter manusia. Setiap ayatnya mengandung hikmah yang dapat dijadikan landasan dalam proses pembelajaran, baik dari sisi keimanan, akhlak, maupun keilmuan. QS. An-Nahl ayat 106 memberikan pelajaran tentang keteguhan iman serta kejujuran hati dalam menghadapi berbagai ujian hidup. Sementara itu. QS. Az-Zumar ayat 9 menekankan pentingnya ilmu dan keikhlasan ibadah sebagai landasan utama pembinaan diri seorang muslim. Nilai-nilai pendidikan dari kedua ayat tersebut dapat dirangkum dalam tabel 1 berikut. Tabel 1. Nilai Nilai Pendidikan Surat & Ayat Qs. An- Nahl: 106 Nilai Pendidikan Keteguhan iman Kejujuran hati dan prinsip QS. Az- Zumar: 9 Pentingnya Ilmu Keikhlasan Ibadah Implikasi Pendidikan Membentuk pribadi muslim yang kuat dan tidak mudah goyah dalam tekanan Membiasakan jujur, konsisten, dan bertanggung jawab pada pilihan hidup. Menumbuhkan semangat belajar dan rajin menuntut ilmu Membiasakan ibadah dengan ikhlas, sabar, dan konsisten Pembahasan Kandungan Surah An-Nahl ayat 106 e e A I eI aEAa cEEa I e eI a a eOIIN aacE I eI a eEN OCa eEN IA AI aO E aE eI I eI aa a a eE aE eA aA a e A aI aiOI aA ne a a e a a Aa a NA a a a a a a AacE eO aIA a AU aIIa NA )106 :16/A ( EIEA A a eO UIA a AA Ue Aa aEa eO aN eIA a Ua a AcEE aOEa aN eIA a AA Terjemahan: AuSiapa yang kufur kepada Allah setelah beriman . ia mendapat kemurkaan Alla. , kecuali orang yang dipaksa . engucapkan kalimat kekufura. , sedangkan hatinya tetap tenang dengan keimanannya . ia tidak berdos. Akan tetapi, siapa yang berlapang dada untuk . kekufuran, niscaya kemurkaan Allah menimpanya dan bagi mereka ada azab yang besar. Ay Tafsir Al-Misbah Ayat ini dan ayat-ayat berikut berbicara tentang kelompok kafir yang lebih buruk dari yang semula dibicarakan oleh kelompok yang lalu, serta lawan-lawan mereka. Ayat ini menegaskan bahwa: Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah keimanannya secara potensial karena telah jelasnya buktibukti kebenaran tetapi dia menolaknya akibat keras kepala, atau sesudah keimanan secara faktual yakni setelah dia mengucapkan kalimat syahadat - siapa Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Agustus 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational yang demikian itu sikapnya - dia mendapat kemurkaan Allah, kecuali yang dipaksa mengucapkan kalimat kufur atau mengamalkannyapadahal hatinya tetap tenang dengan keimanan - maka dia tidak berdosa, - akan tetapi orang yang membuka dan melapangkan dada sehingga hatinya lega dengan kekafiran, yakni hatinya membenarkan ucapan dan atau amal kek-ufurannya itu, maka atas mereka kemurkaan besar yang turun menimpanya dari Allah dan bagi mereka telah disiapkan, di akhirat kelak, azab yang besar. Yang demikian itu yakni murka dan siksa, atau kemurtadan itu disebabkan karena mereka sangat mencintai kehidupan di dunia dan menempatkannya di atas kehidupan akhirat. Itulah yang memalingkan mereka dari iman sehingga mereka wajar mendapat murka dan siksa, dan juga disebabkan karena telah menjadi ketetapan-Nya bahwa Allah tidak memberi petunjuk yakni tidak memberi kemampuan menerima iman dan mengamalkan petunjuk bagi kaum yang kafir, sesuai dengan keinginan mereka menolak iman dan tekad mereka menolak petunjuk. Nilai-nilai pendidikan dalam surah An-nahl ayat 106: Keteguhan Iman QS. An-Nahl ayat 106 menegaskan bahwa orang yang dipaksa untuk kafir tetapi hatinya tetap tenang dalam iman tidak termasuk berdosa. Tafsir Kemenag menjelaskan bahwa ayat ini menjadi pengecualian bagi mereka yang mengalami tekanan fisik maupun psikis, sebab Allah menilai hati dan keyakinan yang tersembunyi di dalam dada. Dengan demikian, keteguhan iman dipahami sebagai kondisi ketika seseorang tetap meyakini kebenaran meskipun dalam keadaan penuh ancaman. Nilai ini mengajarkan kepada dunia pendidikan agar siswa dibimbing untuk memiliki kekuatan batin dalam menghadapi tekanan lingkungan. Keteguhan iman dapat menjadi dasar pembentukan karakter religius yang stabil dan konsisten (PATI & ISLAM, n. Tafsir Al-Mishbah menambahkan dimensi historis ayat ini dengan mengaitkannya pada kisah Ammar bin Yasir. Ammar dipaksa oleh kaum Quraisy untuk mengucapkan kekufuran, tetapi hatinya tetap penuh iman. Rasulullah SAW menenangkannya dan menegaskan bahwa ia tidak berdosa. Quraish Shihab menegaskan bahwa inti ajaran ini adalah bahwa iman sejati berada di dalam hati, bukan hanya pada lisan yang bisa dipaksa. Dalam konteks pendidikan, hal ini menekankan pentingnya pembinaan hati dan jiwa siswa, agar mereka tidak mudah Keteguhan iman dalam tafsir ini tidak hanya dimaknai sebagai perlawanan pasif, melainkan juga sikap mental untuk tidak terguncang oleh keadaan. Hal ini sesuai dengan nilai pendidikan karakter, di mana guru perlu mengajarkan siswa untuk berpegang pada prinsip walaupun menghadapi kesulitan. Internalisasi nilai keteguhan dapat dilakukan melalui pembiasaan, keteladanan, dan pendampingan goyah oleh tekanan eksternal (Wahyuningtyas, 2. Lebih jauh, keteguhan iman juga membentuk pribadi muslim yang resilien. Resiliensi dalam pendidikan berarti kemampuan siswa untuk bangkit dari kegagalan atau tekanan. Ayat ini mengajarkan bahwa sekalipun lisan dapat dipaksa, hati yang kuat akan menjadi sumber kekuatan untuk bertahan. Pembelajaran berbasis nilai keimanan dapat meningkatkan daya juang dan motivasi siswa (Syuhada et al. , 2. Dengan demikian, keteguhan iman sebagaimana dijelaskan dalam tafsir Kemenag dan Al-Mishbah memberikan landasan filosofis yang kuat bagi pendidikan Islam. Pendidikan tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga aspek afektif dan spiritual. Hal ini penting agar peserta didik tumbuh sebagai pribadi yang tangguh, tidak mudah dipengaruhi, dan memiliki komitmen kuat terhadap nilai-nilai agama. Penguatan iman di sekolah dapat melahirkan generasi yang berkarakter kuat dalam menghadapi tantangan zaman (Herawati et al. , 2. Kejujuran Hati dan Prinsip QS. An-Nahl ayat 106 menegaskan bahwa Allah mengecam mereka yang Aulapang dada menerima kekafiranAy, yakni orang yang dengan sadar memilih berpaling dari iman. Tafsir Kemenag menafsirkan bahwa ayat ini menjadi peringatan bahwa dosa besar ditimpakan kepada Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Agustus 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational mereka yang secara sukarela dan dengan kesadaran penuh meninggalkan iman (Kemenag. Hal ini menunjukkan bahwa kejujuran hati menjadi tolok ukur iman, bukan sekadar simbol atau ucapan lahiriah. Dalam pendidikan, nilai ini dapat diimplementasikan melalui penanaman kejujuran akademik, konsistensi dalam sikap, dan tanggung jawab moral. Kejujuran merupakan nilai fundamental dalam membentuk integritas peserta didik (Hidayat. Tafsir Al-Mishbah memberikan penekanan lebih lanjut bahwa orang yang Aulapang dadaAy menerima kekafiran berarti hatinya benar-benar ridha terhadap kebatilan. Quraish Shihab menegaskan bahwa perbedaan antara orang yang dipaksa dan orang yang lapang dada adalah letak kejujuran hati. Jika hati ridha terhadap kebatilan, maka ia telah keluar dari prinsip iman yang sejati. Oleh karena itu, pendidikan harus mengarahkan peserta didik untuk jujur dalam keyakinan dan teguh dalam prinsip, bukan sekadar mengikuti arus sosial. Penekanan ini relevan dalam pembelajaran karakter yang menekankan ketulusan dalam bertindak. Kejujuran hati juga berkaitan erat dengan integritas dalam dunia pendidikan. Seorang siswa yang beriman tetapi tidak jujur dalam perbuatannya sesungguhnya sedang mengalami kontradiksi moral. Oleh karena itu, guru perlu menanamkan nilai kejujuran tidak hanya dalam aspek akademik, tetapi juga dalam interaksi sosial. Pendidikan berbasis iman dan kejujuran dapat mencegah perilaku curang, baik dalam ujian maupun kehidupan sehari-hari (Musbikin. Lebih lanjut, prinsip kejujuran dalam hati akan melahirkan konsistensi dalam bertindak. QS. An-Nahl ayat 106 memberikan pesan bahwa orang yang tidak konsisten dalam hati dan perbuatannya rentan untuk meninggalkan kebenaran. Dalam pendidikan, konsistensi ini dapat diwujudkan dalam sikap disiplin, tanggung jawab, dan ketegasan dalam memegang prinsip. Integritas dan kejujuran merupakan modal utama dalam membentuk generasi yang berkualitas (Irawan, 2. Dengan demikian, kejujuran hati dan prinsip sebagaimana dijelaskan dalam tafsir Kemenag dan Al-Mishbah memiliki relevansi yang tinggi dengan pendidikan Islam. Nilai ini menuntun siswa agar tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga jujur, tulus, dan konsisten dalam keyakinan serta tindakan. Pendidikan yang menekankan kejujuran hati akan menghasilkan generasi berintegritas yang mampu menghadapi tantangan global dengan tetap berpegang pada nilai keimanan. Kejujuran sebagai prinsip iman merupakan fondasi pembentukan karakter mulia dalam dunia pendidikan(Sholihah & Maulida, 2. Kandungan Surah Az-Zumar ayat 09 e AU OCa aiO UI Oe a aA AacE a a a aO aO e a eO ae aIa a a N Ca eE N eaE aO ea aOOA a AA a A a I eI N aaO Ca aIU I a a E eO aEA a AE aOeIa aO eEa aI eOIa aOE aOeIa aacE aO eEa aI eOIa a I aI aOaa E a aOEaO eacEa eE aA )9 :39/A( EIA Terjemah: (Apakah orang musyrik yang lebih beruntun. ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dalam keadaan bersujud, berdiri, takut pada . akhirat, dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah (Nabi Muhamma. AuApakah sama orang-orang yang mengetahui . ak-hak Alla. dengan orang-orang yang tidak mengetahui . ak-hak Alla. ?Ay Sesungguhnya hanya ululalbab . rang yang berakal seha. yang dapat menerima pelajaran. Tafsir Al-Misbah Setelah ayat yang lalu mengecam dan mengancam orang-orang kafir, ayat di atas menegaskan perbedaan sikap dan ganjaran yang akan mereka terima dengan sikap dan ganjaran bagi orang-orang beriman. Allah berfirman: Apakah orangyang beribadah secara tekun dan tulus di waktu-waktu malam dalam keadaan sujud dan berdiri secara mantap demikian juga Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Agustus 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational yang ruku, dan duduk atau berbaring, sedang ia terus-menerus takut kepada siksa akhirat dan dalam saat yang sama senantiasa mengharapkan rahmat Tuhannya sama dengan mereka yang baru berdoa saat mendapat musibah dan melupakan-Nya ketika memperoleh nikmat serta menjadikan bagi Allah sekutu-sekutu? Tentu saja tidak sama! Katakanlah: AuAdakah sama orang-orangyang mengetahui hak-hak Allah dan mengesakan-Nya dengan orang-orangyang tidak mengetahui hak Allah dan mengkufuri-Nya?Ay Sesungguhnya orangyang dapat menarik banyak pelajaran adalah Ulul Albdb, yakni orang-orang yang cerah pikirannya. Awal ayat di atas ada yang membacanya aman dalam bentuk pertanyaan dan ada juga yang membacanya amman. Yang pertama merupakan bacaan NafiAo. Ibn Katsir dan Hamzah. terdiri darih,uruf alif dan man yang berarti siapa. Kata man berfungsi sebagai subjek . , sedang predikat . -ny& tidak tercantum karena telah diisyaratkan oleh kalimat sebelumnya yang menyatakan bah orang kafir ntsngada-adakan bag Allah sekutu-sekutu dan Inilah yang penulis kemukakan dalam penjelasan sebelum ini. Bacaan kldua amman adalah bacaan mayoritas ulama. Ini pada mulanya terdiri dari dua kata yaitu man, lalu digabung dalam bacaan dan tulisannya. Ia mengandung dua kemungkinan makna. Yang pertama kata am berfungsi sebagai kata yang digunakan bertanya. Dengan demikian ayat ini bagaikan menyatakan: AuApakah si kafir yang mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, sama dengan yang percaya dan tekun beribadah?Ay Yang kedua, kata am berfungsi memindahkan uraian ke uraian yang lain, serupa dengan kata bahkan. Makna ini menjadikan ayat di atas bagaikan menyatakan. AuTidak usah mengancam mereka, tetapi tanyakanlah apakah sama yangfmengada-adakan sekutu bagi Allah dengan yang tekun beribadah?Ay Kata qanit terambil dari kata qunut yaitu ketekunan dalam ketaatan disertai dengan ketundukan hati dan ketulusannya. Sementara ulama menyebut juga nama-nama tertentu bagi tokoh yang dinamai qanit oleh ayat di atas seperti Sayyidina Abu Bakr atau Ammar Ibn Yasir dan lain-lain. Ini pun sebagaimana yang penulis kemukakan ketika menafsirkan ayat 8 yang lalu, merupakan contoh dari sekian banyak tokoh yang dapat menyandang sifat tersebut. Ayat di atas menggambarkan sikap lahir dan batin siapa yang tekun itu. Sikap lahirnya digambarkan oleh kata-kata sajidan/sujud dan qaAoiman/ berdiri sedang sikap batinnya dilukiskan oleh kalima. yahd aru al-akhirata wayarju ar-rahmah/ takut kepada akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya. Ay Ayat di atas menggarisbawahi rasa takut hanya pada akhirat, sedang rahmat tidak dibatasi dengan akhirat, sehingga dapat mencakup rahmat duniawi dan ukhrawi. Memang seorang mukmin hendaknya tidak merasa takut menghadapi kehidupan duniawi, karena apapun yang terjadi selama ia bertakwa maka itu tidak masalah, bahkan dapat merupakam sebab ketinggian derajatnya di akhirat. Adapun rahmat, maka tentu saja yang diharapkan adalah rahmat menyeluruh, dunia dan akhirat. Takut dan mengharap menjadikan seseorang selalu waspada, tetapi tidak berputus asa dan dalam saat yang sama tidak yakin. Keputusasaan mengundang apatisme, sedang keyakinan penuh dapat mengundang pengabaian persiapan. Seseorang hendaknya selalu waspada, sehingga akan selalu meningkatkan ketakwaan, namun tidak pernah kehilangan dan sangka baik kepada Allah swt. YaAolamun pada ayat di atas, ada juga ulama yang memahaminya sebagai kata yang tidak memerlukan objek. Maksudnya siapa yang memiliki pengetahuan apapun pengetahuan itu pasti tidak sama dengan yang tidak memilikinya. Hanya saja jika makna ini yang Anda pilih, maka harus digarisbawahi bahwa ilmu pengetahuan yang dimaksud adalah pengetahuan yang bermanfaat, yang menjadikan seseorang mengetahui hakikat sesuatu lalu menyesuaikan diri dan amalnya dengan pengetahuannya itu. Kata yatad akkaru terambil dari kata yakni pelajaran/peringatan. Penambahan huruf ta pada kata yang digunakan ayat ini mengisyaratkan banyaknya pelajaran yang dapat diperoleh oleh Ulul Albab. Ini berarti bahwa selain mereka Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Agustus 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational pun dapat memperoleh pelajaran, tetapi tidak sebanyak Ulul Albab. Selanjutnya rujuklah ke QS. Shad . : 43 untuk memahami makna Ulul Albab. Nilai-nilai pendidikan dalam surah Az-Zumar ayat 9 Pentingnya Ilmu QS. Az-Zumar ayat 9 menunjukkan bahwa kedudukan orang berilmu lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tidak berilmu. Tafsir Kemenag menegaskan bahwa orang yang berilmu akan mampu menjalani ibadah dengan penuh kesadaran, berbeda dengan mereka yang beribadah tanpa pemahaman. Hal ini memberikan pesan kepada pendidikan Islam agar menjadikan ilmu sebagai fondasi utama dalam pembinaan peserta didik. Kesadaran terhadap keutamaan ilmu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa (Faizah et al. , 2. Menurut Tafsir Al-Mishbah, orang berilmu mampu melihat kehidupan dengan lebih bijak, sementara kebodohan membatasi pandangan seseorang. Quraish Shihab menekankan bahwa ilmu bukan sekadar informasi, melainkan cahaya yang membimbing hidup. Hal ini mengajarkan bahwa dalam pendidikan, peserta didik perlu diarahkan agar belajar bukan hanya untuk kepentingan duniawi, tetapi juga sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah. Kecintaan pada ilmu mampu melahirkan generasi berdaya saing (Maskanah et al. , 2. Nilai pentingnya ilmu juga berhubungan dengan motivasi intrinsik. Peserta didik yang menyadari bahwa menuntut ilmu adalah ibadah akan belajar dengan tekun tanpa dorongan Guru memiliki peran besar untuk menanamkan kesadaran ini melalui pembiasaan dan keteladanan. Integrasi ilmu dengan nilai iman berpengaruh signifikan terhadap minat belajar (Utami & Sofa, 2. Selain itu, ilmu juga menjadi pilar pembentukan karakter. Pendidikan Islam harus mengajarkan bahwa ilmu harus diamalkan agar bermanfaat, bukan sekadar dimiliki. Hal ini menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial pada peserta didik. Ilmu dalam Islam memiliki fungsi sosial untuk membangun masyarakat yang adil (Dayusman et al. Dengan demikian, nilai pentingnya ilmu dalam QS. Az-Zumar ayat 9 menjadi dasar bagi pendidikan Islam untuk melahirkan generasi yang cerdas, bijak, dan berakhlak mulia. Penguatan ilmu berbasis iman dapat membentuk karakter peserta didik yang tangguh menghadapi tantangan zaman (Yunita et al. , 2. Keikhlasan Ibadah QS. Az-Zumar ayat 9 juga menyinggung orang yang beribadah dengan penuh Tafsir Kemenag menjelaskan bahwa ibadah yang dilakukan dengan ikhlas dan sabar memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah. Hal ini relevan dalam pendidikan, yakni membiasakan peserta didik berbuat dengan niat tulus, baik dalam belajar maupun berinteraksi Keikhlasan adalah pondasi integritas peserta didik (Ramadhani et al. , 2. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menegaskan bahwa keikhlasan ibadah melahirkan ketenangan jiwa dan kesabaran. Beliau menekankan perbedaan mendasar antara orang yang beribadah secara formalitas dengan orang yang benar-benar beribadah karena Allah. Dalam pendidikan, guru dapat menanamkan nilai ini dengan mendorong siswa agar belajar dan beribadah tanpa pembelajaran berbasis ikhlas mampu mencegah perilaku pragmatis pada siswa (MarAoah, 2. Keikhlasan juga berkaitan dengan konsistensi dan kesabaran. Peserta didik yang ikhlas akan lebih kuat menghadapi kesulitan belajar. Nilai ini melatih mereka untuk bersabar dan tetap teguh meski menghadapi kegagalan. Niat ikhlas menjadi faktor penguat motivasi belajar (Aiyub et al. , 2024. Setiani & Sumarah, 2. Selain itu, keikhlasan ibadah membentuk integritas yang Seorang siswa yang tulus dalam setiap tindakan akan terbiasa jujur dan bertanggung jawab. Guru dapat menumbuhkan nilai ini melalui keteladanan dan pembiasaan dalam kegiatan pembelajaran. Keikhlasan berpengaruh positif terhadap sikap disiplin dan Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Agustus 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational prestasi akademik (Miftahusalimah et al. , 2025. Musyawir et al. , 2024. Rostiati, 2. Dengan demikian. QS. Az-Zumar ayat 9 memberikan pelajaran penting tentang keikhlasan ibadah sebagai fondasi kepribadian. Pendidikan Islam yang menanamkan nilai ini akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga tulus dan konsisten dalam menjalankan kewajiban. Keseimbangan antara ilmu dan keikhlasan ibadah adalah kunci pembentukan karakter mulia (Hamka et al. , 2024. Abidin, 2. KESIMPULAN Penelitian ini menegaskan bahwa QS. An-Nahl ayat 106 dan QS. Az-Zumar ayat 9 memuat nilai-nilai pendidikan yang penting bagi pembentukan karakter peserta didik, yaitu keteguhan iman, kejujuran hati, pentingnya ilmu, dan keikhlasan ibadah. Nilai-nilai tersebut apabila diintegrasikan dalam praktik pendidikan mampu memperkuat aspek kognitif, afektif, dan spiritual peserta didik secara seimbang. Hasil kajian menunjukkan bahwa masih terdapat kesenjangan antara nilai QurAoani yang diidealkan dengan realitas pendidikan di lapangan, karena sebagian peserta didik masih lemah dalam integritas, rendah motivasi belajar, dan menjalankan ibadah sebatas formalitas. Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa integrasi Tafsir Kemenag dan Tafsir Al-Mishbah dapat menghadirkan kerangka filosofis sekaligus aplikatif untuk memperkuat pendidikan Islam. Prospek penerapan hasil penelitian ini dapat dikembangkan melalui kurikulum pendidikan Islam, strategi pembelajaran kontekstual, keteladanan guru, serta program pembiasaan yang berkelanjutan. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menghasilkan pemahaman normatif, tetapi juga memberikan implikasi praktis untuk melahirkan generasi religius, cerdas, jujur, dan ikhlas yang siap menghadapi tantangan global dengan tetap berpegang pada nilai-nilai keislaman. DAFTAR PUSTAKA