P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. Pembentukan Karakter Kepemimpinan Melalui Pengalaman Hidup Mufasa Pada Film Mufasa: The Lion King . Shafira Putri Nayla Zahra, 2Gagas Gayuh, 3Amaliyah, 4Nazhifah Wardani Manajemen Perkantoran Digital. Universitas Airlangga. Surabaya E-mail: 1shafira. nayla-2023@vokasi. aji@vokasi. id, 3amaliyah@vokasi. id, 4nazhifah. wardani2023@vokasi. ABSTRAK Kepemimpinan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan dalam menyusun strategi, tetapi juga dipengaruhi oleh karakter yang terbentuk melalui pengalaman hidup. Nilai seperti integritas, keberanian, dan keteladanan menjadi dasar penting yang memungkinkan terciptanya kepemimpinan yang otentik dan mampu memberikan pengaruh positif. Namun, kenyataannya banyak pemimpin justru lahir dari warisan kekuasaan atau kedudukan keluarga, sehingga proses pembentukan karakter seringkali diabaikan. Dari kenyataan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pengalaman hidup Mufasa dalam film Mufasa: The Lion King . membentuk karakter kepemimpinan otentik, serta menelaah ketercerminan komponen self-awareness, relational transparency, balanced processing, dan internalized moral perspective dalam perjalanan hidup tokoh utama. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui observasi non-partisipan terhadap adegan film, dokumentasi transkrip dialog, serta penguatan dari literatur terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman hidup yang penuh kehilangan, tekanan, dan konflik justru menjadi dasar pembentukan kepemimpinan otentik. Kesadaran diri tercermin dalam pengakuan jati diri, keterbukaan tampak melalui ungkapan perasaan kehilangan, kemampuan menimbang secara adil terlihat pada ajakan kolaborasi antar spesies, dan konsistensi moral diperlihatkan dengan sikap menolak tunduk pada kejahatan. Nilai integritas, keberanian, serta keteladanan yang muncul dari perjalanan hidup tersebut menegaskan bahwa kepemimpinan otentik terbentuk dari proses panjang, bukan dari garis keturunan ataupun status Kata Kunci: Kepemimpinan Otentik. Karakter. Pengalaman Hidup. Film Mufasa. The Lion King ABSTRACT Leadership is not only determined by the ability to develop strategies, but is also influenced by character formed through life experiences. Values such as integrity, courage, and exemplary behavior are important foundations that enable the creation of authentic leadership capable of exerting a positive influence. However, in reality, many leaders are born into positions of power or family status, so the process of character building is often neglected. Given this reality, this study aims to analyze how Mufasa's life experiences in the film Mufasa: The Lion King . shape his authentic leadership character, as well as to examine the reflection of the components of selfawareness, relational transparency, balanced processing, and internalized moral perspective in the main character's life journey. The research method used is qualitative with a descriptive approach through non-participant observation of film scenes, documentation of dialogue transcripts, and reinforcement from related literature. The results show that life experiences full of loss, pressure, and conflict, actually form the basis of authentic leadership. Self-awareness is reflected in the recognition of identity, openness is seen through the expression of feelings of loss, the ability to weigh things fairly is seen in the call for collaboration between species, and moral consistency is shown by the refusal to submit to evil. The values of integrity, courage, and exemplary behavior that Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 emerge from this life journey, confirm that authentic leadership is formed through a long process, not solely through lineage or status. Keywords: Authentic Leadership. Character. Life Experience. Mufasa Movie. The Lion King PENDAHULUAN Pada era saat ini, manajemen penting dalam menentukan kemajuan atau Keberhasilan sebuah organisasi tidak hanya ditentukan oleh sistem kerja, tetapi juga oleh cara kepemimpinan dijalankan. Gaya kepemimpinan yang efektif mampu menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, sehingga tujuan organisasi dapat tercapai (Husaini & Fitria, 2. Kepemimpinan sendiri diartikan sebagai kemampuan untuk memengaruhi orang lain agar bertindak sesuai arahan pemimpin (Saputra & Ningsih, 2. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh seorang pemimpin tidak hanya bergantung pada perintah, tetapi juga pada kualitas pribadi yang melekat dalam dirinya. Kepemimpinan yang baik tidak semata bergantung pada keterampilan menyusun rencana atau mencapai target, melainkan juga pada karakter yang dimiliki. Karakter seperti kejujuran, keberanian, dan integritas menjadi dasar penting bagi pemimpin dalam mengambil keputusan, menjaga kepercayaan, dan memberi pengaruh positif bagi lingkungannya (Monzani et al. , 2. Pembentukan karakter yang kuat memiliki keterkaitan menjadi fondasi penting lahirnya pemimpin yang disegani (Magezi & Madimutsa, 2. Pemimpin dengan karakter adaptif mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru sekaligus mempertahankan nilai-nilai utama dalam Karakter pemimpin biasanya terlihat dari gaya kepemimpinan yang diterapkan dalam keseharian. Gaya kepemimpinan merupakan perilaku pemimpin dalam Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 memengaruhi pengikut untuk mencapai tujuan tertentu (Utari & Hadi, 2. Literatur mengenalkan berbagai tipe kepemimpinan seperti transaksional, transformasional, karismatik, etis, dan otentik (Zahroh et al. , 2. Dari berbagai gaya tersebut, kepemimpinan otentik menjadi semakin relevan karena menekankan kejujuran, integritas, dan keselarasan antara nilai pribadi dengan tindakan nyata (Suhartini dalam Fatah et , 2. Kepemimpinan ini terdiri dari empat komponen utama, yaitu selfawareness, relational transparency, balanced processing, dan internalized moral perspective (Obuba, 2. Keempatnya menekankan kesadaran diri, kemampuan menilai informasi secara objektif, dan konsistensi moral dalam pengambilan keputusan. Pembentukan kepemimpinan otentik tidak terjadi secara instan, melainkan melalui pengalaman hidup yang sarat Kehilangan, konflik, dan tekanan sosial menjadi proses yang membentuk nilai keberanian, integritas, dan keteladanan (Wang et al. , 2. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDG. 16 tentang perdamaian, keadilan, dan institusi yang kuat, yang menekankan pentingnya kepemimpinan berlandaskan transparansi dan moralitas (Singh & Singh, 2. Film Mufasa: The Lion King . menjadi contoh menarik untuk menggambarkan proses ini. Perjalanan Mufasa dari masa kecil hingga kepemimpinan sejati tidak lahir dari keturunan atau jabatan, melainkan melalui pengalaman hidup yang menumbuhkan kejujuran, keberanian, dan prinsip moral yang kokoh (Suhartini dalam Fatah et al. Penelitian P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 pembentukan karakter kepemimpinan otentik Mufasa melalui analisis kualitatif film, dengan fokus pada nilai integritas, kepemimpinan otentik. LANDASAN TEORI Manajemen merupakan perilaku anggota dalam mengelola organisasi agar tujuan dapat tercapai secara efektif. Konsep ini berkaitan erat dengan kepemimpinan, sehingga lahir istilah manajemen kepemimpinan sebagai upaya menyusun interaksi antarindividu dalam struktur yang terarah (Husaini & Fitria. Prosesnya mencakup pengaturan dan pengarahan sumber daya melalui utamaAiplanning, organizing, actuating, dan controllingAi yang menjadi penghubung penting antara Keberhasilan bergantung pada kemampuan pemimpin dalam menjalankan fungsi-fungsi tersebut (Hidayat, 2. Kepemimpinan maupun eksternal (Aulia et al. , 2. Seorang pemimpin ideal memiliki empat aspek penting yang terangkum dalam LEAD. Loyalty . emampuan membangun loyalita. Educate . emberikan pengetahuan dan nila. Advice . emberi arahan dan sara. , serta Discipline . enegakkan kebenaran secara konsiste. Dalam praktiknya, kepemimpinan tercermin dari Gaya kepemimpinan menjadi kunci dalam memotivasi dan mendorong kinerja pengikut (Agustine & Edalmen, 2. Beragam gaya telah dikenal, seperti karismatik, etis, dan otentik (Zahroh et al. Di antara gaya tersebut, kepemimpinan otentik dinilai paling relevan karena menekankan kejujuran. DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. integritas, dan keselarasan antara nilai pribadi dan tindakan nyata (Suhartini dalam Fatah et al. , 2. Pemimpin otentik memiliki pemahaman diri yang kuat, kejelasan nilai, dan ketegasan dalam mengambil posisi terhadap isu penting (Reiza, 2. Komponen utamanya meliputi self-awareness . esadaran dir. , relational transparency . , balanced processing . ertimbangan objekti. , dan internalized moral perspective . onsistensi mora. (Dowden dalam Obuba, 2023. Kasa et al. , 2. Kepemimpinan juga tidak berdiri sendiri, melainkan lahir dari interaksi antara pemimpin dan pengikut yang memiliki tujuan bersama. Hubungan ini melibatkan empat elemen penting, yaitu kepribadian pemimpin, kelompok sebagai wadah interaksi, pengikut dengan kebutuhan beragam, serta situasi yang memengaruhi proses kepemimpinan (Candra. Pembentukan kepemimpinan otentik sangat dipengaruhi oleh nilai integritas, keberanian, dan keteladanan (Suhartini dalam Fatah et al. Pemimpin dengan nilai tersebut lebih mampu membangun kepercayaan dan kesejahteraan anggota (Kleynhans et , 2. Selain itu, pengalaman hidup berperan besar dalam membentuk jati diri dan cara pandang moral pemimpin. Peristiwa penting dan perjalanan pribadi keteguhan sikap, dan konsistensi dalam pengambilan keputusan. Proses inilah yang menjadikan kepemimpinan semakin otentik karena berakar pada pengalaman nyata, bukan semata teori (Almutairi et , 2. METODOLOGI Metodologi penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif, karena bertujuan menggali makna, konsep, serta karakteristik fenomena secara alami dan menyeluruh dengan menekankan kualitas data daripada kuantitas (Sidiq & Choiri dalam Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. Waruwu, 2. Objek penelitian adalah film animasi Mufasa: The Lion King . yang disutradarai oleh Barry Jenkins, sedangkan subjeknya adalah tokoh utama. Mufasa, dengan fokus nilai-nilai kepemimpinan otentik, yang mencakup self-awareness, perspective, balanced processing, dan melalui adegan-adegan dalam film. Data penelitian terdiri dari data primer berupa observasi langsung dan dokumentasi dialog maupun adegan film, serta data sekunder berupa literatur dan studi pustaka untuk memperkuat hasil analisis (Pramiyati et al. , 2017. Innayah et al. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi nonpartisipan, di mana peneliti berperan sebagai pengamat, serta dokumentasi berupa transkrip dialog dan cuplikan adegan penting (Hasanah, 2. Prosedur analisis data mengikuti tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Rijali, 2. , dengan cara memilih adegan atau dialog yang relevan, mengelompokkan informasi sesuai empat komponen kepemimpinan otentik, lalu Mufasa mencerminkan nilai tersebut. Untuk menjaga keabsahan data, penelitian ini menerapkan triangulasi melalui dokumentasi, dan teori akademik, sehingga hasil penelitian lebih konsisten, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan (Nurfajriani et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 HASIL Film Mufasa: The Lion King menceritakan tentang masa kecil Mufasa yang menunjukkan bahwa proses terbentuk sejak dini. Saat muda. Mufasa telah belajar menghadapi tanggung jawab terhadap lingkungannya dan makhlukmakhluk yang akan dipimpinnya. Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 Pengalaman hidup yang didapatinya mulai dari kehilangan, pertentangan, hingga Mufasa dapat memiliki keberanian dalam mengambil keputusan. Hal tersebut membentuk dedikasi yang menegaskan integritasnya sebagai pemimpin. Dedikasi ini tercermin dalam konsistensi Mufasa menjaga harmoni, baik dengan sesama singa maupun makhluk lain. Melalui kisah Mufasa, terlihat bahwa pemimpin yang baik mampu membangun kepercayaan, mengambil keputusan dengan bijak, dan memberi teladan yang menginspirasi lingkungan di sekitarnya. Self-awareness (Kesadaran dir. Gambar 1. Mufasa merasa pesimis terhadap jati dirinya (Adegan: 00:29:32 Ae 00:30:. Mufasa: AuAku mereka. Eshei. Kau membuangbuang waktumu melatihku seperti iniAy Eshei: AuTapi keterampilan yang kau miliki, tidak ada pria lain yang memilikinya. Mufasa: Obasi tidak akan pernah Aku tidak akan keluarganyaAy Eshei: AuTapi Dan Obasi bisa melihat betapa berbakatnya kauAy Mufasa: AuAku tidak pernah harus menjadi seperti Taka, aku tidak pernah harus menjadi RajaAy Adegan ini memperlihatkan sisi rapuh Mufasa yang sedang P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 Mufasa merasa pesimis terhadap jati dirinya karena kehilangan orang-orang terdekat dan berpikir bahwa dirinya tidak akan pernah diterima oleh Obasi sebagai bagian dari keluarga. Dalam percakapannya dengan Eshei. Mufasa keraguannya akan masa depan dan tanggung jawab yang mungkin harus Mufasa emban. Mufasa menutupi rasa tidak percayanya dengan mengatakan lebih senang hidup bebas tanpa aturan dan beban seperti menjadi raja. DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. membekas, bahkan digambarkan sebagai jejak samar yang hilang terbawa angin. Eshei berusaha menenangkan dengan keyakinan bahwa orang tua Mufasa masih bisa ditemukan, namun Mufasa tetap mengakui perasaan putus Suasana adegan ini terasa intim dan penuh kejujuran, karena dapat memperlihatkan bagaimana Mufasa berani membuka dirinya apa adanya dalam interaksi dengan orang terdekatnya. Balanced (Pertimbangan matang sebelum Relational (Keterbukaan dalam berinteraks. Gambar 2. Mufasa menceritakan sedihnya kehilangan orang tua (Adegan: 00:29:16 - 00:29:. Mufasa: AuTerkadang merasakan dosa. Itu hanya jejak samar di angin. Bau rumah. Dan hilangAy Eshei: AuMufasa, orang tuamu masih di luar sana. Kita bisa terus mencarinyaAy Mufasa: AuAku telah kehilangan mereka. Eshei. Kau membuangbuang waktu dengan melatihku seperti iniAy Adegan ini menggambarkan Mufasa Eshei. Mufasa perasaan sedih kehilangan orang masih terus Gambar 3. Mufasa mengajak spesies lain untuk bekerja sama (Adegan: 01:33:45 - 01:34:. Mufasa: AuAku adalah possum, seekor binatang liar tanpa kebanggaan, namun aku berdiri di hadapanmu dengan kepala tegak. Aku tahu kau takut, tapi percayalah, tidak akan ada yang berubah jika kita tetap terisolasi dalam suku masing-masing tanpa peduli pada nasib orang lainAy Jerapah: AuTapi mengapa kita harus berdiri bersama kalian? Ini adalah pertempuran kalianAy Mufasa: AuHari ini mereka datang untuk kita para singa, tapi aku jamin, saat kalian membiarkan mereka berjalan di antara kalian mencari kita sekarang, mereka sedang merencanakan untuk datang mengejar kalian besokAy Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 Kerbau: AuHarapan seekor singa tidak bisa mengubah nasib MalayleAy Gambar 4. Mufasa meyakinkan bahwa tindakannya benar (Adegan: 01:34:05 Ae 01:34:. Mufasa: AuTidak ada singa yang sebesar gajah, sekuat lembu, secepat cheetah, atau setinggi jerapah, yang dapat terbang dan mengintai seluas dan sejauh burung bangau dan elang di Jadi, apakah kalian tidak Setiap lingkaran kehidupan. Napasku adalah napasmu. Perjuanganmu adalah perjuanganku. Aku tidak akan tunduk pada kejahatan, dan kalian pun tidak bolehAy Mufasa: AuHari ini mereka ada di sini untuk kita, para singa, tetapi membiarkan mereka berjalan di antara kalian mencari kita merencanakan untuk datang mengejar kalian besokAy Jerapah: AuMufasa benar. Malayle adalah rumah kita. Kita harus berdiri bersama Mufasa! Bersama kita akan berdiri kuat! Ayo. Malayle!Ay Adegan ini menunjukkan Mufasa mengajak berbagai spesies untuk bersatu menghadapi ancaman. Meski awalnya jerapah dan urusan singa. Mufasa meyakinkan Malayle. Mufasa makhluk memiliki kelebihan dan peran penting dalam perjuangan bersama, hingga akhirnya semua hewan tergerak dan sepakat melindungi rumah mereka. Internalized moral perspective (Tindakan yang berlandaskan Kerbau: AuHarapan seekor singa tidak dapat mengubah nasib MalayleAy Mufasa: AuTidak ada singa yang sebesar gajah, sekuat lembu, secepat cheetah, atau setinggi jerapah, yang dapat terbang dan mengintai seluas dan sejauh burung bangau dan elang di Jadi, apakah kalian tidak Setiap lingkaran kehidupan. Napasku adalah napasmu. Perjuanganku adalah perjuanganmu. Aku tidak akan tunduk pada kejahatan, dan kalian pun tidak boleh. Ay Adegan keyakinan kuat bahwa tindakan Mufasa dapat menyelamatkan Malayle dari bahaya. Ancaman ditekankan bukan hanya masalah singa, tetapi juga akan menimpa semua makhluk jika dibiarkan. Setiap spesies memiliki peran dalam lingkaran kehidupan, sehingga perjuangan mereka saling terhubung. Suasana penuh Mufasa untuk mempertahankan nilai yang dianggap benar demi kebaikan bersama. 2 PEMBAHASAN Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 Pembentukan kepemimpinan otentik pada karakter Mufasa dalam film Mufasa: The Lion King . terlihat jelas melalui perjalanan hidup yang penuh tantangan. Kehilangan keluarga, tekanan sosial, dan konflik dengan orang terdekat membentuk keteladanan dalam dirinya. Pembentukan karakter kepemimpinan tersebut dapat dilihat pada Gambar 2, dialog AuAku telah Eshei. Kau membuang-buang melatihku seperti iniAy yang menjelaskan bahwa Mufasa telah kehilangan orang tua nya dan Gambar 4, dialog AuHari ini mereka ada di sini untuk kita, para singa, tetapi aku jamin, saat kalian membiarkan mereka berjalan di antara kalian mencari merencanakan untuk datang mengejar kalian besokAy yang menunjukkan Mufasa sedang menghadapi sebuah konflik dan mencoba meyakini spesies lain agar dapat bekerja sama menyelamatkan Malayle. Hal ini menegaskan bahwa pemimpin otentik perlu membangun hubungan Kepemimpinan semacam ini menciptakan kedekatan, suasana yang terbuka, serta mendorong pertumbuhan pribadi dan profesional anggota (Fatah et al. , 2. Self-Awareness Kesadaran diri . elf-awarenes. Mufasa tergambar dalam adegan ketika mengakui perbedaan dengan keluarga kerajaan dan menyatakan bahwa tidak harus menjadi raja seperti Taka. Pengakuan ini bukan tanda kelemahan, melainkan refleksi terhadap identitas dirinya. SelfAwareness (Kesadaran dir. memiliki peran yang sangat kepemimpinan otentik, karena tanpa hal tersebut sulit untuk emosional, efektivitas, maupun Pemahaman ini juga menjadi DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. dasar dalam memberikan arah pembelajaran, penilaian, serta pengembangan kepemimpinan di berbagai bidang profesional (Carden et al. , 2. Relational Transparency Relational transparency muncul ketika Mufasa secara terbuka mengungkapkan rasa kehilangan dan keraguan kepada Eshei. Keterbukaan ini menegaskan bahwa Mufasa tidak menutupi kepercayaan melalui komunikasi Transparansi semacam ini mencerminkan salah satu ciri utama kepemimpinan hubungan yang tulus. Sikap tulus ini selaras dengan hasil penelitian kepemimpinan otentik menuntut bersama untuk membangun kepercayaan dalam organisasi (Zahroh et al. , 2. Artinya, keterbukaan bukan hanya tentang menyampaikan perasaan, tetapi juga tentang menciptakan ruang didengarkan, dan termotivasi untuk ikut bergerak bersama Balanced Processing Kemampuan mempertimbangkan berbagai perspektif . alanced Mufasa meyakinkan spesies lain Mufasa tidak sekadar mengandalkan otoritas sebagai singa, melainkan menyusun argumentasi dengan menyoroti masing-masing Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. Cara ini menegaskan bahwa keputusan yang diambil didasarkan pada evaluasi yang adil, bukan pada kepentingan Pemimpin memiliki kemampuan balanced processing dapat meningkatkan kepuasan kerja karena anggota merasa pendapatnya dihargai dan dipertimbangkan (Yati et al. Hal ini menegaskan bahwa kepemimpinan otentik bukan soal siapa yang paling berkuasa, melainkan bagaimana pemimpin membuat keputusan yang adil sehingga semua pihak merasa Internalized Moral Perspective Prinsip . nternalized moral perspectiv. dijelaskan melalui pernyataan Mufasa yang menolak tunduk pada kejahatan dan menekankan Konsistensi moral ini menunjukkan bahwa keputusan yang dibuat bukan sekadar respons situasional, melainkan berakar pada nilai keadilan dan Pemimpin dengan mampu memperkuat komitmen dan semangat tim karena mereka Artinya. Mufasa bukan hanya pemimpin yang memberi perintah, tetapi juga sosok yang dipandang dapat menjunjung prinsip, dan hal itu membuat orang lain mau mengikuti langkahnya (Kasa et , 2. Pengalaman Mufasa membuktikan bahwa kepemimpinan lahir dari proses panjang penuh tantangan, yang menumbuhkan kejujuran diri, keputusan, dan keteguhan moral. Prinsip moral yang tertanam Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 memperkuat kepercayaan dan komitmen pengikut, sementara membangun hubungan yang solid (Kasa et al. , 2020. Zahroh et al. Nilai integritas, solidaritas, dan keberanian yang tercermin selaras dengan SDGs 16 tentang penguatan institusi, menjadikan kisah ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga refleksi tentang transparansi dan moralitas (Singh & Singh, 2. KESIMPULAN Film Mufasa: The Lion King . menegaskan bahwa pengalaman hidup penuh kesulitan membentuk Mufasa menjadi pemimpin otentik. Kehilangan keluarga, tekanan lingkungan, dan kesadaran diri untuk mengenali jati diri serta menolak ambisi kekuasaan demi Nilai keterbukaan terlihat saat kemampuan menimbang adil tampak melalui ajakan bersatu lintas spesies, dan keteguhan moral tercermin dari sikap menolak kejahatan demi persatuan. Perjalanan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari proses panjang yang menumbuhkan integritas, keberanian, dan keteladanan, bukan semata keturunan atau jabatan. UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penelitian ini dapat diselesaikan dengan baik. Penulis menyampaikan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada para pihak yang telah memberikan ilmu, arahan, serta masukan penyusunan penelitian ini. Terakhir, penulis juga berterima kasih kepada diri sendiri atas ketekunan, komitmen, dan P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 kerja keras yang telah dicurahkan hingga penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu. DAFTAR PUSTAKA