JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA http://jktp. com/jktp/index VOLUME 06 NOMOR 01 JUNI 2023 ISSN 2654 - 5756 ARTIKEL PENELITIAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT STRES PADA MAHASISWA AKHIR FACTORS INFLUENCING STRES LEVELS OF FINAL YEAR STUDENTS Thasya Nur Oktaviona1*. Herlina1. Tesha Hestyana Sari 1 1,2,3 Fakultas Keperawatan. Universitas Riau Abstrak Article history Received date: 28 Juni 2023 Revised date: 16 Juli 2023 Accepted date: 18 Juli 2023 *Corresponding author: Thasya Nur Oktaviona. Fakultas Keperawatan Universitas Riau. Kota Pekanbaru. Indonesia. Thasyaoktaa@gmail. Stres adalah cara tubuh bereaksi ketika menghadapi situasi yang dapat menyebabkan ketegangan, perubahan, ketegangan emosional, dan Stresor merupakan penyebab terjadinya stres. Adapun faktorfaktor stres meliputi efikasi diri, motivasi belajar, hardiness, optimisme, dan prokrastinasi akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui analisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat stres . fikasi diri, motivasi belajar, hardiness, optimisme, dan prokrastinasi akademi. pada mahasiswa tingkat Penelitian ini merupakan penelitian jenis kuantitatif dengan desain analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini berjumlah 152 responden yang diambil berdasarkan metode total sampling. Analisis yang digunakan adalah analisis bivariat dengan menggunakan metode Spearman rho. Hasil penelitian yang didapatkan tingkat stres mahasiswa berada pada kategori stres normal berjumlah 58 responden . ,2%). Faktor-faktor yang mempengaruhi stres yaitu optimisme tinggi sebanyak 113 responden . ,3%), prokrastinasi akademik yang sedang sebanyak 119 responden . ,3%), efikasi diri tinggi sebanyak 150 responden . ,7%), motivasi belajar yang tinggi sebanyak 138 responden . ,8%), serta Hardiness rendah sebanyak 135 responden . ,8%). Hasil analisis bivariat menunjukkan 2 variabel yang mempengaruhi stres mahasiswa tingkat akhir yaitu optimisme . = 0,. dan prokrastinasi akademik . = 0,. Sedangkan efikasi diri . = 0,. , motivasi belajar . = 0,. , dan hardiness . =0,. tidak mempengaruhi tingkat stres yang dialami mahasiswa. Optimisme dan prokrastinasi akademik mempengaruhi tingkat stres mahasiswa tingkat akhir. Kata Kunci: Mahasiswa, optimisme, prokrastinasi akademik, stres Abstract Stress is the body's way of reacting when faced with situations that can cause tension, change, emotional tension, and so on. Stressors are the cause of The stress factors include self-efficacy, learning motivation, hardiness, optimism, and academic procrastination. This study aimed to analyze the factors that influenced the level of stress . elf-efficacy, learning motivation, hardiness, optimism, and academic procrastinatio. in final-year students. This research is a quantitative type research with a correlation analytic design with a cross sectional approach. The sample of this research was 152 respondents which were taken based on the total sampling method. The analysis used was bivariate analysis using the Spearman rho method. The results of the study showed that the stress level of students was in the normal stress category, amounting to 58 respondents . 2%). Factors that influence stress are high optimism of 113 respondents . 3%). Moderate academic procrastination was 119 respondents . 3%), high self-efficacy was 150 respondents . 7%), high learning motivation was 138 respondents . 8%), and low hardiness was 135 respondents . , 8%). The results of the bivariate analysis showed that two variables affected final year student stress, namely optimism . = 0. and academic procrastination . = 0. , but self-efficacy . = 0. , learning motivation . = 0. , and hardiness . = 0. did not affect the level of stress experienced by students. Academic optimism and procrastination affect the stress level of final year students. For future researchers to be able to Thasya Nur Oktaviona. Herlina. Tesha Hestyana Sari. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 6 . , 2023: 26-32 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. research on how to deal with stress in students. Keywords: College student, optimism, academic procrastination, stress PENDAHULUAN Mahasiswa merupakan seseorang yang sedang menempuh ilmu pengetahuan di Perguruan Tinggi, dalam angka partisipasi kasar (APK) rentang usia mahasiswa dari 19 hingga 23 tahun (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik indonesia, 2. Kewajiban mahasiswa yaitu mempelajari terkait ilmu pengetahuan, mengikuti berbagai organisasi, bersosialisasi, dan belajar terkait cara menjadi pemimpin yang tepat agar berhasil dalam hidup. Mahasiswa tingkat akhir yang dihadapkan dengan tuntutan skripsi sebagai syarat utama kelulusan mencapai sarjana. Tugas skripsi ini menuntut mahasiswa dalam berproses seperti mencari topik permasalahan penelitian, judul penelitian, pemilihan sampel penelitian dan dihadapkan pada kesulitan mendapatkan referensi dan keterbatasan waktu penelitian (Martadinata, 2. Kondisi seperti ini yang diprediksi dapat memicu stres pada mahasiswa apabila mahasiswa tersebut tidak dapat memenuhi berbagai tuntutan. Tuntutan tugas akhir yang harus dihadapi dan ketidaksiapan individu untuk menghadapinya ini dapat menimbulkan gangguan psikologis seperti stres, depresi dan kecemasan (Hitches et al, 2. Stres merupakan reaksi fisik, mental, dan kimiawi dari tubuh terhadap situasi yang menakutkan, mengejutkan, membingungkan, membahayakan, dan merisaukan seseorang (Wijayaningsih, 2. Beberapa gejala yang terjadi ketika mahasiswa mengalami stres seperti bersikap berlebihan, gelisah, marah tidak terkontrol, merasa lelah, menjadi tidak sabar ketika mengalami gangguan, mudah tersinggung, dan kesulitan konsentrasi. Dampak stres juga disebabkan karena ketidakmampuan mahasiswa dalam meyakinkan dirinya untuk menyelesaikan tugas akhir. Mahasiswa yang memiliki keyakinan rendah dalam menggunakan kemampuannya, maka dapat dengan mudah menyerah dalam menyelesaikan suatu tugas (Feist & Feist, 2. Menurut World Health Organization . stres adalah salah satu faktor risiko yang paling signifikan untuk perkembangan penyakit mental. Pada tahun 2020 prevalensi yang mengalami stres diperkirakan 74% orang merasa sangat stres. Mahasiswa merupakan kelompok yang rentan mengalami gangguan-gangguan psikologis. Hasil survey dari American College Health Association-National College Health Assessment (ACHA-NCHA) pada tahun 2013 di Amerika menemukan bahwa 27,9% dari sampel 32. 946 siswa mengakui bahwa stres adalah hambatan untuk kinerja akademis mereka. Stres merupakan reaksi fisik, mental, dan kimiawi dari tubuh terhadap situasi yang menakutkan, mengejutkan, membingungkan, membahayakan, dan merisaukan seseorang (Wijayaningsih, 2. Bagi sebagian orang, stres adalah racun yang dapat menyebabkan kelelahan, depresi, disfungsi sosial, dan bahkan keinginan untuk mengakhiri hidup seseorang. Potter & Perry . membagi tingkat stres menjadi empat tingkatan, dimulai dari stres ringan hingga sangat berat. Beberapa penelitian mengemukakan bahwa terdapat banyak sumber stres selama melaksanakan pendidikan kesehatan terkhusus keperawatan. Penyebab paling umum terjadi pada stres, diidentifikasi oleh mahasiswa dan fakultas yang terkait dengan akademisi, termasuk persyaratan akademik, tugas dan ujian, beban kerja yang tinggi dalam praktek klinis, dan memenuhi keseimbangan antara keahlian klinis dan akademik (Setyawati & Murniati, 2. Beberapa gejala yang terjadi ketika mahasiswa mengalami stres seperti bersikap berlebihan, gelisah, marah tidak terkontrol, merasa lelah, menjadi tidak sabar ketika mengalami gangguan, mudah tersinggung, dan kesulitan Gejala yang dialami setiap individu pada umumnya berbeda-beda sesuai dengan tingkatnya. Gejalagejala stres ini dapat mengganggu konsentrasi mahasiswa, sehingga menyulitkan mahasiswa untuk berkonsentrasi pada tugas yang sedang dikerjakannya (Potter & Perry, 2. Faktor Ae faktor yang mempengaruhi stres pada mahasiswa adalah internal (Individ. dan eksternal . Faktor internal meliputi efikasi diri, hardiness (Ketahana. , optimisme, motivasi berprestasi, dan prokrastinasi. Sedangkan untuk faktor eksternal meliputi perkuliahan yang rumit, paksaan atau dorongan status sosial, dan tekanan untuk mencapai prestasi (Ogden, 2012. Yusuf & Yusuf, 2. Dampak stres juga disebabkan karena ketidakmampuan mahasiswa dalam meyakinkan dirinya untuk menyelesaikan tugas akhir. Mahasiswa yang memiliki keyakinan rendah dalam menggunakan kemampuannya, maka dapat dengan mudah menyerah dalam menyelesaikan suatu tugas (Feist & Feist, 2. Efikasi diri yang rendah ini berdampak pada proses penyelesaian tugas yang akan ditunda-tunda. Perilaku menunda-nunda ini disebut dengan prokrastinasi akademik. Prokrastinasi akademik merupakan suatu sifat menunda-nunda yang dilakukan dalam penyelesaian tugas atau pekerjaan (Ghufron & Risnawati, 2. Pada penelitian yang dilakukan Adryana . menjelaskan terkait perbandingan tingkat stres pada mahasiswa tingkat tingkat akhir dan mahasiswa tingkat II, didapatkan hasil bahwa prevalensi stres mahasiswa tingkat akhir lebih tinggi dari pada tingkat II. mahasiswa tingkat akhir mengalami stres yang berat dikarenakan merindukan orangtua dan jadwal yang sibuk serta pengerjaan tugas akhir atau skripsi. Mengerjakan sebuah skripsi telah menjadikan kebanyakan mahasiswa stres, takut, bahkan sampai frustasi dan ada juga yang nekat bunuh diri (Patil, 2. Stres yang dialami mahasiswa tingkat ke II berhubungan dengan aktivitas kampus seperti lomba, diminta kehadiran mengisi acara dan jadwal yang sangat padat, tetapi mahasiswa tingkat II sudah mampu Thasya Nur Oktaviona. Herlina. Tesha Hestyana Sari. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 6 . , 2023: 26-32 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. beradaptasi dengan lingkungan dan kegiatan perkuliahan sehingga membantu mahasiswa dalam proses pembelajaran (Augesti, 2. Hasil studi pendahuluan dengan responden yang sama, juga menunjukan ciri-ciri individu yang memiliki efikasi rendah yaitu 5 mahasiswa mengatakan bahwa ketika menemui kesulitan dalam mencari sumber untuk proposal skripsi mereka akan berhenti mengerjakan tugas tersebut. Selain itu 3 mahasiswa mengatakan tidak yakin akan kemampuan dirinya karena takut gagal. Terdapat beberapa mahasiswa yang masih terkendala pada penentuan judul proposal skripsi dikarenakan mereka mengalami kesulitan dalam mencari artikel-artikel terkait, bermalas-malasan dirumah, tidak dapat membagi waktu yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat stres pada mahasiswa tingkat akhir. METODE Penelitian ini merupakan penelitian analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan mulai tanggal 14 April-14 Mei 2023 secara online menggunakan google form. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa aktif tingkat akhir prodi Keperawatan angkatan A 2019 dan B 2022 yang berjumlah 152 orang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah total sampling. Penelitian ini dilakukan setelah mendapatkan surat keterangan layak etik dari Komite Etik Fakultas Keperawatan Universitas Riau dengan nomor 82/UN19. 8/KEPK. FKp/2023. Kuesioner yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner general self efficacy (GSE), academic motivation scale (AMC), dispositional resilience scale, life orientation test-revised, procrastination scale, dan depression anxiety stres scale 21. Kuesioner efikasi diri menggunakan general self efficacy (GSE) diusulkan oleh Matthias Jerusalem dan Ralf Schwarzer . , digunakan dalam penelitian ini untuk mengukur tingkat efikasi diri. Kuesioner ini terdiri dari tiga dimensi efikasi diri yaitu kemampuan diri (Magnitud. , kekuatan (Strengt. , dan keyakinan diri (Generalit. Kuesioner GSE memiliki nilai reliabilitas sebesar 0,928 . >0,. yang berarti alat ukur ini reliabel dengan perhitungan daya diskriminasi yang bergerak dari 0,586 hingga 0,876 (Ou0,. yang berarti tidak terdapat item yang gugur (Novrianto. Marettih, & Wahyudi, 2. Kuesioner ini memberikan jawaban alternative berdasarkan skala likert yaitu. Sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS) dan sangat tidak setuju (STS). Hasil dari penilaian skor ini, 10-20= rendah dan 21-40= tinggi. Kuesioner motivasi akademik menggunakan Academic Motivation Scale (AMC) yang dibuat oleh Vallerand pada tahun 1992 (Natalya, 2. AMS merupakan alat ukur motivasi belajar mahasiswa yang berlandaskan teori Self Determination yang memuat 7 komponen motivasi, yaitu motivasi intrinsik . ntrinsic motivation to know, intrinsic motivation toward accomplishment dan intrinsic motivation to experience stimulatio. , motivasi ekstrinsik . xternal regulation, introjected regulation, identified regulatio. serta amotivasi . Skala ini telah teruji validitas dan reliabilitasnya . ,73 sampai 0,. Skala AMS termasuk skala likert karena skala ini memiliki 6 alternatif jawaban dimana sangat setuju dengan skor 6, setuju dengan skor 5, cukup setuju dengan skor 4, kurang setuju dengan skor 3, tidak setuju dengan skor 2 dan sangat tidak setuju dengan skor 1. Hasil dari penilaian kuesioner ini rendah (< . , sedang . dan tinggi (Ou. Kuesioner resiliensi menggunakan dispositional resilience scale (DRS-. yang dikembangkan oleh Bartone pada tahun 1989 (Johnsen, et al. , 2. DRS-15 terdiri atas 15 item yang secara keseluruhan mengukur tiga aspek hardiness dalam diri individu berdasarkan teori Kobasa 1979, dalam Maddi . yaitu commitment, control, dan challenge. Hasil uji dari skala ini didapatkan reliabilitas cronbach alpha untuk DRS-15 adalah 0. yang termasuk ke dalam kategori bagus. Artinya, instrumen ini dapat dikatakan instrumen yang layak untuk digunakan dalam pengukuran hardiness. Instrumen ini menggunakan skala likert dengan 5 pilihan jawaban yaitu sangat tidak sesuai (STS), tidak sesuai (TS), cukup sesuai (CS), sesuai (S), dan sangat sesuai (SS). Selain itu skala ini terdiri dari dua jenis item yaitu item favorable dan item unfavorable. Hasil penilaian kuesioner ini sangat rendah (<. , rendah ( 23-. , tinggi ( 43-. dan sangat tinggi (>. Kuesioner optimisme menggunakan life orientation test-revised (LOT-R) yang telah disusun oleh Scheiver. Carver dan Bridges pada tahun 1994 (Glaesmer, 2. Skala ini sudah teruji validitas dan reliabilitasnya . ,70 sampai 0,. Skala ini berjumlah 10 item, dan pada skala asli terdapat lima pilihan jawaban, yaitu STS (Sangat Tidak Setuj. TS (Tidak Setuj. N (Netra. S (Setuj. dan SS (Sangat Setuj. Hasil dari skala ini dengan rentang skor total 5-30. Skor 23-30 dikategorikan sebagai tingkat optimisme tinggi, skor 22-18 dikategorikan sebagai tingkat optimisme sedang dan skor 17-5 dikategorikan sebagai tingkat optimisme rendah . Kuesioner prokrastinasi akademik menggunakan procrastination scale (APS) yang dikemukakan McCloskey . terdiri dari 25 item pertanyaan dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,94 meliputi 6 aspek, yaitu keyakinan psikologis yang mencakup kemampuan, gangguan, faktor sosial, manajemen waktu, inisiatif pribadi, dan Skala ini diadaptasi dari Ardeyera . yang telah dilakukan uji validitas, reliabilitas dan menerjemahkan ke bahasa indonesia didapatkan nilai CronbachAos Alpha 0,86. Skala APS termasuk skala likert karena skala ini memiliki 5 alternatif jawaban dimana pilihan 1 berarti Sangat Tidak Setuju, sedangkan pilihan 5 berarti Sangat Setuju. Hasil penilaian kuesioner ini rendah (<. , sedang . , dan tinggi (Ou . Selain itu skala ini terdiri dari dua jenis item yaitu item favorable dan item unfavorable. Kuesioner tingkat stres menggunakan depression anxiety stress scale 21 (DASS . DASS 21 dibuat oleh Lovibond & Lovibond tahun 1995 (Zanon, 2. Skala DASS 21 telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia Thasya Nur Oktaviona. Herlina. Tesha Hestyana Sari. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 6 . , 2023: 26-32 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. (Damanik, 2. DASS 21 terdiri dari 21 pertanyaan dan disusun untuk mengukur depresi, kecemasan, dan stres pada individu dengan masing- masing berjumlah 7 pertanyaan. DASS 21 nilai CronbachAos Alpha 0,85. Dari 21 pertanyaan, terdapat 7 pertanyaan terkait tingkat stres dan juga telah diuji juga reabilitasnya dengan nilai CronbachAos Alpha 0,84. Pada mahasiswa juga sudah di uji oleh Arjanto . dengan nilai CronbachAos Alpha 0,85. HASIL Tabel 1. Karakteristik Responden No. Karakteristik Responden Usia Remaja Akhir . -25 Tahu. Dewasa Awal . Ae 35 Tahu. Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tinggal Bersama Orang Tua Indekos Total Tabel 1 menunjukkan bahwa responden terbanyak pada usia remaja akhir dari 18 Ae 25 tahun sebanyak 151 responden . ,3%), jenis kelamin perempuan sebanyak 134 responden . ,5%), dan responden dengan tinggal bersama adalah indekos sebanyak 87 responden . ,2%). Tabel 2. Distribusi frekuensi responden berdasarkan Tingkat Stres. Efikasi Diri. Motivasi Belajar. Hardiness. Optimisme dan Prokrastinasi akademik No. Variabel Stres Normal Ringan Sedang Berat Sangat Berat Efikasi Diri Rendah Tinggi Motivasi Belajar Sedang Tinggi Hardiness Rendah Tinggi Optimisme Rendah Sedang Tinggi Prokrastinasi Akademik Rendah Sedang Tinggi Total Tabel 2 menunjukkan bahwa hasil tingkat stres mahasiswa tingkat akhir yaitu pada tingkat normal sebanyak 58 responden. Efikasi diri yang dirasakan mahasiswa menunjukkan tinggi sebanyak 150 responden . ,7%). Motivasi belajar mahasiswa menunjukkan tinggi sebanyak 138 responden . ,8%), sedangkan hardiness yang dirasakan mahasiswa rendah sebanyak 135 responden . ,8%). Mahasiswa menunjukan sifat optimisme yang Thasya Nur Oktaviona. Herlina. Tesha Hestyana Sari. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 6 . , 2023: 26-32 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. tinggi sebanyak 113 responden . ,3%), dan mahasiswa juga mengalami prokrastinasi akademik tingkat sedang sebanyak 119 responden . ,3%). Tabel 3. Hubungan Efikasi Diri dengan Tingkat Stres Mahasiswa Stres Variabel Independen Efikasi Diri Rendah Tinggi Motivasi Belajar Sedang Tinggi Hardiness Rendah Tinggi Optimisme Rendah Sedang Tinggi Prokrastinasi Rendah Sedang Tinggi Total Nilai p Sangat Berat 0,070 0,145 0,442 0,000 0,031 Normal Ringan Sedang Berat Tabel 3 menunjukkan bahwa hasil analisis uji spearman rho, faktor yang mempengaruhi tingkat stres yaitu optimisme . = 0,000 < . ) dan prokrastinasi akademik . = 0,031 < . Sedangkan faktor yang tidak mempengaruhi tingkat stres pada mahasiswa tingkat akhir yaitu efikasi diri . =0,070 > . ), motivasi belajar . = 0,145> . ) dan hardiness . = 0,442 > . PEMBAHASAN Pada penelitian ini menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi tingkat stres yaitu optimisme dan prokrastinasi akademik (Yusuf & Yusuf, 2. Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara efikasi diri dengan tingkat stres mahasiswa tingkat akhir. Penelitian ini sejalan dengan Antari et. yang dilakukan saat adanya pandemi menunjukkan hasil tingkat efikasi diri sebagian besar mahasiswa berada pada kategori tinggi dan tingkat stres mahasiswa berada pada kategori sedang. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara efikasi diri dan stres pada mahasiswa. Penelitian ini juga sejalan dengan Setiawati . yang memaparkan hasil uji spearman rho sebesar 0,440> 0,05 yang artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel motivasi belajar dan stres pada mahasiswa kedokteran angkatan 2019. Terdapat hal yang mempengaruhi yaitu cita-cita mahasiswa, kemampuan mahasiswa, kondisi mahasiswa, kondisi lingkungan, faktor eksternal, dan faktor internal, sehingga mahasiswa dapat mengkompensasi dirinya dalam menghadapi stres. Sesuai dengan penelitian ini, bahwa tidak terdapat hubungan antara motivasi belajar dengan tingkat stres (Pratiwi et al. , 2. Pada variabel hardiness, mendapatkan hasil bahwa tidak terdapat hubungan antara hardiness dan tingkat Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Kurnia & Ramadhani . yang mendapatkan nilai signifikansi hardiness dengan stres akademik yaitu 0. 003< 0. 05, dengan nilai koefisien korelasi sebesar -0. yang artinya terdapat hubungan negatif yang signifikan antara hardiness dan stres yang mana hubungan antara kedua variabel tersebut termasuk dalam kategori sangat lemah. Salah satu faktor internal yang mempengaruhi stres adalah karakteristik kepribadian yang merupakan faktor psikologis. Hal ini disebabkan dengan adanya kepribadian hardiness, dimana terkait aspek komitmen menyatakan bahwa ketika seseorang memiliki keyakinan yang kuat maka dia akan mampu mengendalikan dirinya untuk mencapai tujuan, dengan demikian mahasiswa akan memiliki ketangguhan, semangat, kuat, daya tahan, dan bangkit ketika menghadapi stresor dalam penyelesaian skripsi, sehingga stres yang dialaminya akan rendah (Lukman Prasetya. Merida, & Novianti, 2. Pada variabel optimisme yang menunjukkan terdapat hubungan antara optimisme dan tingkat stres pada mahasiswa tingkat akhir. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Kencana & Muzzamil . yang menemukan hubungan yang kuat pada kedua kategori kuat. Hasil tersebut menunjukkan bahwa optimisme berpengaruh terhadap stres pada mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi. Rasa optimisme dapat muncul karena dukungan dari lingkungan sekitar, termasuk dukungan teman dan juga lingkungan memiliki dampak positif yang signifikan terhadap keterlibatan mahasiswa di perkuliahan (Bakhshaee & Hejazi, 2. Thasya Nur Oktaviona. Herlina. Tesha Hestyana Sari. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 6 . , 2023: 26-32 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. Pada variabel prokrastinasi akademik menunjukkan terdapat hubungan antara prokrastinasi akademik dengan tingkat stres. Penelitian ini sejalan dengan AAoyunina & Abdurrohim . mendapatkan hasil analisis statistik dihasilkan nilai korelasi r= 0,709 yang menunjukkan ada hubungan yang sangat signifikan antara prokrastinasi dan stres pada mahasiswa yang sedang menyusun skripsi. Rasa malas yang timbul dalam diri mahasiswa karena kurangnya motivasi yang mengakibatkan mahasiswa lebih sulit memulai untuk mengerjakanya, selain itu yang juga dapat menjadi pemicunya yaitu mahasiswa cenderung lebih senang melakukan hal yang lebih menyenangkan seperti menonton film, main game, baca novel yang dapat mengakibatkan terabainya tugas kuliah. IMPLIKASI DAN KETERBATASAN Penelitian ini dih diharapkan dapat memberikan wawasan baru dalam ilmu keperawatan, khususnya bidang keperawatan jiwa dan komunitas yaitu dapat dijadikan sebagai acuan dan pertimbangan dalam dunia pendidikan keperawatan untuk mengatasi stres pada mahasiswa. Peneliti menyadari bahwa penelitian ini masih terdapat kekurangan, antara lain peneliti kesulitan untuk mengontrol responden, dikarenakan responden tidak mengisi kuesioner dalam satu waktu. KESIMPULAN Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa disimpulkan bahwa optimisme dan prokrastinasi akademik memengaruhi terjadinya stres yang dialami oleh mahasiswa. Namun tingkat stres yang dialami mahasiswa tingkat akhir berada pada kategori stres berat. Oleh karena itu peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan intervensi yang menurunkan tingkat stres yang dialami mahasiswa. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih banyak kepada pihak Fakultas Keperawatan Universitas Riau yang telah memberikan kesempatan kepada peneliti untuk melakukan penelitian ini dan memberikan dukungan perizinan riset sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan baik. REFERENSI AAoyunina. , & Abdurrohim. Hubungan Antara Stres Akademik dan Motivasi Berprestasi Dengan Prokrastinasi Akademik Pada Mahasiswa Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Prosiding Konferensi Ilmiah Mahasiswa Unissula, 2. , 889Ae897. Adryana. Apriliana. Oktaria. Kedokteran. Lampung. Dokter. A Lampung. Perbandingan Tingkat Stres pada Mahasiswa Tingkat I. II dan i Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Majority, 9, 142Ae149. American College Health Association. American College Health Association-National College Health Assessment II (ACHA-NCHA II): Reference group executive summary Spring 2013. Hanover. MD: ACHA. Antari. Widyaningrum. Priyanti. Studi. Keperawatan. , & Madani. The Correlation between Academic Self-Efficacy and Academic Stress During the Covid-19 Pandemic. Jurnal Kesehatan Madani Medika, 12. , 215Ae226. Arjanto. Uji Reliabilitas dan Validitas Depression Anxiety Stres Scales 21 (DASS-. pada Mahasiswa. Jurnal Psikologi Perseptual, 7. , 60. Retrieved from https://doi. org/10. 24176/perseptual. Augesti. Perbedaan tingkat stres antara mahasiswa tingkat awal dan tingkat akhir Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. J Majority, 4. , 54. Bakhshaee. , & Hejazi. StudentAos Academic Engagement: the Relation between TeacherAos Academic Optimism and Female StudentAos Perception of School Climate. International Journal of Mental Health and Addiction, 15. , 646Ae651. Retrieved from https://doi. org/10. 1007/s11469-016-9674-2 Damanik. The measurement of reliability, validity, items analysis and normative data of Depression Anxiety Stress Scale (DASS). Jakarta: Universitas Indonesia Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Statistik Pendidikan Tinggi (Higer Education Statisti. PDDikti Kemendikbud, 81Ae85. Retrieved from https://pddikti. id/publikasi Feist. , & Feist. Teori kepribadian Buku 1 & 2 Theories of Personality. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika Ghufron. , & Risnawati. Teori - Teori Psikologi. Yogyakarta: ArRuzz Media. Glaesmer. Rief. Martin. Mewes. Bryhler. Zenger. , & Hinz. Psychometric properties and populationAabased norms of the Life Orientation Test Revised (LOTAaR). British journal of health psychology, 17. , 432-445. Hitches. Woodcock. , & Ehrich. Building self-efficacy without letting stress knock it down: Stress and academic self-efficacy of university students, 3(Septembe. , 1Ae11. Thasya Nur Oktaviona. Herlina. Tesha Hestyana Sari. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 6 . , 2023: 26-32 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. Johnson. Polusny. Erbes. King. King. Litz. , . & Southwick. Development and initial validation of the Response to Stressful Experiences Scale. Military medicine, 176. Kencana. , & Muzzamil. Pengaruh Optimisme Terhadap Stres Akademik Pada Mahasiswa Yang Sedang Mengerjakan Skripsi. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 2022. , 353Ae361. Kurnia. , & Ramadhani. Pengaruh Hardiness dan Dukungan Sosial Terhadap Stres Akademik Mahasiswa. Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi, 9. Retrieved https://doi. org/10. 30872/psikoborneo. Lukman Prasetya. Merida. , & Novianti. Hardiness dan Stres Akademik Mahasiswa selama Pembelajaran Jarak Jauh. JoPS: Journal of Psychological Students, 1. , 11Ae24. Maddi. Salvatore R. Maddi. The Wiley Encyclopedia of Personality and Individual Differences: Personality Processes and Individual Differences, 489-492. Martadinata. Hubungan Antara Stresor Akademik Dan Prokrastinasi Akademik Terhadap Keyakinan Diri Siswa Kelas Xi Sman 1 Cicurug. Psiko Edukasi, 5(Decembe. , 118Ae138. McCloskey. Finally!: The Development and Validation of the Academic Procrastination Scale. Manuscript Submitted for Publication, (Marc. , 1Ae38. Retrieved from https://doi. org/10. 13140/RG. Natalya. Validation of Academic Motivation Scale: Short Indonesian Language Version. ANIMA Indonesian Psychological Journal, 34. , 43Ae53. Retrieved from https://doi. org/10. 24123/aipj. Novrianto. Marettih. , & Wahyudi. Validitas Konstruk Instrumen General Self Efficacy Scale Versi Indonesia. Jurnal Psikologi, 15. , 1. Retrieved from https://doi. org/10. 24014/jp. Ogden. Health Psychology. A text Book. McGraw Hill. Patil. Comparision of Levels of Stres in Different Years of M. Students in A Medical College An Observational Study. International Journal of Contemporary Medical Research, 3. , 1655Ae1657. Potter. , & Perry. Fundamental keperawatan. Jakarta: Salemba Medika. Pratiwi. Demolingo. Kalalo. , & Katuuk. Hubungan Stres Dengan Motivasi Belajar Pada Mahasiswa Semester V Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. E-Journal Keperawatan . -K. , 6. , 1Ae6. Setiawati. Alamsyah. Sani. , & Anggraini. Hubungan Stres Akademik Dengan Motivasi Belajar Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Angkatan 2019. Jurnal Kesehatan Tambusai, 3. , 26Ae33. Retrieved from https://doi. org/10. 31004/jkt. Setyawati. , & Murniati. Stres. Stresor dan Koping Stres Pada Mahasiswa Keperawatan dan Kebidanan Di STIKES Harapan Bangsa Purwokerto. Viva Medika: Jurnal Kesehatan. Kebidanan Dan Keperawatan, 10. , 6Ae12. Retrieved from https://doi. org/10. 35960/vm. WHO. World health organization. Responding WHO/STRESS/Community_Transmission/2018. Stress Workplace. Reference