JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 2. Nomor 1. Desember 2024, 61-70 E-ISSN 3063-0665. P-ISSN x-x Journal Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski doi :x/x. PERAN WANITA DALAM KEPEMIMPINAN ISLAM (Sejarah Dan Prospek Masa Depa. Miftakul Arifin1 Ainur Rosyidah2 STAI KH. Muhammad Ali Shodiq1 STIQ Wali Songo Situbondo2 miftaarif94@gmail. ainurrosyda88@gmail. Abstract From the beginning of Islam to the present, women's roles in Islamic leadership have undergone significant change. From the historical contributions of Khadijah bint Khuwailid and Aisyah bint Abu Bakar to the challenges and opportunities faced by women in leadership in the modern era, the purpose of this study is to investigate the development of the role of women in leadership in the Islamic world. This study examines how various social, political, and cultural factors have affected women's leadership roles, as well as how current social changes may affect their prospects in the future, using a historical approach and contextual analysis. According to the findings of the study, despite thefact that women have demonstrated significant leadership abilities in a variety of contexts, the extent to which they are able to take on leadership roles is still impacted by a number of obstacles, including how text is interpreted, cultural norms, and structural barriers. However, opportunities for women to take on more active leadership roles are increasing as a result of advancements in education and social change. This study highlights the significance of gaining a deeper comprehension of these dynamics in order to achieve inclusive and sustainable progress. identifies a number of strategies that can assist women's leadership development in Islamic contexts. Keyword: History. Islamic leadership, the role of women. Abstrak Sejak awal Islam hingga saat ini, peran perempuan dalam kepemimpinan Islam telah mengalami perubahan yang signifikan. Dari kontribusi sejarah Khadijah binti Khuwailid dan Aisyah binti Abu Bakar hingga tantangan dan peluang yang dihadapi perempuan dalam kepemimpinan di era modern, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan peran perempuan dalam kepemimpinan di dunia Islam. Studi ini mengkaji bagaimana berbagai faktor sosial, politik, dan budaya mempengaruhi peran kepemimpinan perempuan, serta bagaimana perubahan sosial saat ini dapat mempengaruhi prospek mereka di masa depan, dengan menggunakan pendekatan historis dan analisis kontekstual. Berdasarkan temuan penelitian, meskipun perempuan telah menunjukkan kemampuan kepemimpinan yang signifikan dalam berbagai konteks, sejauh mana mereka mampu mengambil peran kepemimpinan masih dipengaruhi oleh sejumlah kendala, termasuk bagaimana teks , norma budaya, dan hambatan struktural. Namun, peluang bagi perempuan untuk mengambil peran kepemimpinan yang lebih aktif semakin meningkat sebagai akibat dari kemajuan dalam pendidikan dan perubahan sosial. Studi ini menyoroti pentingnya memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai dinamika tersebut untuk mencapai kemajuan yang inklusif dan Laporan ini mengidentifikasi sejumlah strategi yang dapat membantu pengembangan kepemimpinan perempuan dalam konteks Islam. Kata Kunci: Sejarah, kepemimpinan Islam, peran perempuan. Peran Wanita Dalam Kepemimpinan Islam (Sejarah Dan Prospek Masa Depa. Pendahuluan Kepemimpinan perempuan merupakan tema yang akan selalu hangat untuk Meskipun salah satu persoalan gender ini sudah marak dibahas dan dikaji berulang-ulang, namun ternyata masih layak untuk dilakukan penelitian ulang secara lebih mendalam lagi. Alasannya adalah perubahan dan perkembangan zaman telah membawa posisi perempuan berpartisipasi dalam ranah publik. Saat ini semakin terlihat kemajuan dan prestasi yang dimiliki oleh perempuan. Bahkan dizaman sekarang tidak jarang bila perempuan menjadi pemimpin dalam lembaga atau organisasi. Mereka memiliki jabatan strategis dalam ranah publik. Dalam praktik Islam, perempuan mengambil peran penting yang berbeda di arena publik, apalagi bagian pemerintahan. Peran kepemimpinan perempuan telah mencerminkan dinamika yang kompleks dan seringkali kontekstual sejak awal Islam. Perempuan telah menunjukkan kemampuan kepemimpinan yang signifikan, mulai dari Khadijah binti Khuwailid, istri pertama Nabi Muhammad SAW yang merupakan seorang pengusaha dan pemimpin bisnis sukses, beliau sosok Istri yang hebat senantiasa mendampingi dan membantu Rasulullah menyebarkan ajaran Islam. Beliau bahkan rela menafkahkan sebagian hartanya untuk dakwah Islam. Aisyah binti Abu Bakar yang terkenal dengan kecerdasan dan kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan dan kepemimpinan politik. 2 Seiring perubahan zaman peran perempuan dalam kepemimpinan menghadapi tantangan baru yaitu globalisasi, kemajuan pendidikan dan perubahan sosio-politik memberikan suasana berbeda pada pekerjaan perempuan, baik di arena lokal maupun Di banyak negara, perempuan kini semakin banyak dikaitkan dengan isu-isu legislatif, bisnis dan bidang lainnya, yang menunjukkan bahwa ruang bagi otoritas perempuan semakin besar. Akan tetapi, satu sisi ada banyak tantangan yang dihadapi oleh wanita menjadi seorang pemimpin salah satu diantaranya: diskriminasi gender atau bias gender. Selain itu, perempuan sering dihadapkan pada tantangan dan keseimbangan peran keluarga dan karier dan ini menjadi tantangan dan hambatan perempuan untuk mendapatkan posisi strategis. Tentu tantangan yang dihadapi pemimpin wanita dalam hal ini tidak bisa dinormalisasikan. Kita harus bersinergi untuk mencari jalan keluar agar diskriminasi gender tidak dilangengkan sehingga mereka dapat mengoptimalkan peran dan potensinya. Berdasarkan latar belakang diatas penting melakukan penelitian tentang peran wanita dalam kepemimpinan Islam (Sejarah dan Prospek Masa depa. Mengingat peran wanita dalam dunia kerja terus meningkat pada abad 21 ini, banyak wanita terlibat dalam berbagai bidang pendidikan. politik dll. 4 Keterlibatan perempuan dalam dunia kerja dapat memberikan nilai bagi kesejahteraan keluarganya, meningkatkan pendapatan nasional dan juga dapat mengaktualisasikan diri. 5 Apalagi jika wanita mendapatkan kesempatan yang sama untuk menjadi memimpin tentu akan dapat berpartisipasi penuh dan lebih efektif terlibat dalam mengambilan keputusan dalam kehidupan, baik dalam bidang agama, politik, ekonomi dan sosial masyarakat. 1 M. Quraish Shihab. Perempuan, (Jakarta: Lentara Hati. Cet. IX, 2. , h. 2Sugirma dan Agustang K. Antara Khadijah Dan Aisyah (Teladan Moderasi Beragama Perspektif Gende. , dalam Jurnal Al-wardah: Kajian Perempuan. Gender dan Agama. Vol 14. No1. (Ternate:IAIN,2. 3 Dinny Rahmayanty. Dkk. Tantangan Dan Peluang Perempuan Sebagai Pemimpin Dalam Berbagai Industri. Dalam Jurnal Pendidikan dan Konseling. Vol. 5 No. Riau: Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, h. 4https://w. com/berita/4035900/mpr-keterlibatan-perempuan-di-dunia-usaha-dan-politik-harusmeningkat diakses 7-September 2024 pukul 06:00 5Agus Kurniawan dan Nur Hidayah. PEREMPUAN SEBAGAI TULANG PUNGGUNG KELUARGA (Studi Buruh Perempuan di Pabrik Bulumata Palsu PT. Tiga Putera Abadi Perkasa. Purbalingga. Jawa Tenga. Dalam Jurnal Pendidikan Sosiologi. Yogyakarta:Universitas Negeri Yogyakarta,2020. 6https://dp3a. id/blog/post/mencapai-kesetaraan-gender-dan-memberdayakan-kaum-perempuan, diakses 7-September 2024 pukul 08:01 JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 2. Nomor 1. Desember 2024, 61-70 E-ISSN 3063-0665. P-ISSN x-x Published: STAI KH. Muhammad Ali Shodiq Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski Miftakul Arifin Ainur Rosyidah Metode Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif, studi pustaka (Library Researc. yaitu mengumpulkan data yang dilakukan oleh peneliti dengan menelaah teori-teori, gagasan atau pendapat dari beberapa sumber baik itu buku, jurnal, skripsi maupun tesis yang relevan dengan tema penelitian dan kemudian pembahasan tersebut dianalisa. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tentang sejarah kepemimpinan wanita dalam Islam, 2. Untuk mendeskripsikan tentang tantangan peran kepemimpinan Wanita dalam Islam, 3. Untuk mendeskripsikan masa depan peran kepemimpinan perempuan dalam Islam. Hasil Penelitian dan Pembahasan Sejarah kepemimpinan wanita dalam Islam Sejak Islam hadir ditengah-tengah masyarakat telah membebaskan dan mengakui eksistensi Ketika Islam hadir perempuan menjadi manusia yang bermartabat. Karena sebelum datangnya Islam perempuan di Masyarakat Arab dikesampingkan, bayi lahir dengan jenis kelamin perempuan dianggap aib lalu dikubur hidup-hidup, perempuan diperjual belikan bahkan diwariskan. Islam hadir membawa angin segar bagi peradaban manusia khususnya perempuan. Pada masa Nabi Muhammad perempuan lebih dihargai dan diberi kebebasan sebagaimana laki-laki, baik itu kebebasan dalam berfikir, berargumentasi, belajar dan bekerja. Dalam hal ini tentu memberikan nilai positif bagi wanita, karena bisa menentukan jalan hidup dan mengapai cita-citanya sehingga muncul wanitawanita hebat dan tangguh. Sebenarnya sejarah peran kepemimpinan wanita dalam Islam telah diabadikan didalam al-QurAoan yaitu seorang perempuan yang bernama Ratu Balqis dari Negeri SabaAo seorang wanita yang sangat terkenal dengan kecerdasan, kebijaksanaanya, disenangi oleh rakyatnya hingga negerinya mendapatkan kemakmuran. Selain itu peran kepemimpinan wanita juga ada pada masa Rasulullah seperti Khadijah binti Khuwailid, istri pertama Nabi Muhammad SAW yang merupakan seorang pengusaha dan pemimpin bisnis sukses, wanita hebat yang menemani Rasulullah dalam berdakwah menyebarkan ajaran agama Islam serta mendedikasikan sebagian hartanya untuk berjuang di Jalan Allah. Aisyah binti Abu Bakar yang terkenal dengan kecerdasan dan kontribusinya terhadap ilmu agama dan pengetahuan serta kepemimpinan politik. 8 Hafshah. Ummu Warakah yang memiliki kontribusi terhadap perkembangan dan kemajuan agama Islam beliau menguasai tulis baca, perawi hadis dan mengajarkan ilmunya pada kaum muslimah, serta masih banyak lagi para perempuan muslimah generasi selanjutnya yang terkenal, hebat yang mau berjuang menegakkan dan menyampaikan ajaran agama Islam ditengahtengah budaya masyarakat patriarki pada masa itu. Ummu Hani al-Syifa adalah salah satu perempuan yang memiliki keahlian di bidang kepenulisan atau Beliau diberi tugas oleh khalifah Umar ibn al-Khathab sebagai petugas yang mengurusi pasar di kota Madinah, dll. Dalam sejarah Islampun mencatat terdapat seorang Ratu bernama Syajarahtuddur yaitu Ratu Dinasti Mamluk di Mesir, juga Rabiah al Adawiyah seorang tokoh sufi Di Negara Muslim lain, wanita menjadi pemimpin negara sudah pernah terjadi diantaranya di Negara Pakistan dan Bangladesh. Perdana Menteri (PM) Benazir Bhutto menjadi Kepala Negara 7 Siti Afifahtul Mukarromah. Erny Roesminingsih. Kepemimpinan Perempuan Di Masa Kontemporerdalam Perspektif Islam, dalam Jurnal Leadership: Jurnal mahasiswa manajemen Pendidikan Islam. Vol. 4 No. 2022, (Malang:STAI MaAohad Ali Al-Hikam,2. 8 Sugirma dan Agustang K. Antara Khadijah Dan Aisyah (Teladan Moderasi Beragama Perspektif Gender. 9Dwi Sukmanila Sayska. Peran Umahatul Mukminin Dalam Periwayatan Hadis, dalam Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid. Vol. No. 1, (Padang:UIN Imam Bonjol Padang, 2. 10Yuminah Rohmatullah. Kepemimpinan Perempuan dalam Islam: Melacak Sejarah Feminisme melalui Pendekatan Hadits dan Hubungannya dengan Hukum Tata Negara, dalam Jurnal SyariAoah: Jurnal Ilmu Hukum dan pemikiran. 2017 h. JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 2. Nomor 1. Desember 2024, 61-70 E-ISSN 3063-0665. P-ISSN x-x Published: STAI KH. Muhammad Ali Shodiq Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski Peran Wanita Dalam Kepemimpinan Islam (Sejarah Dan Prospek Masa Depa. Pakistan selama dua periode yaitu pada tahun 1988-1990 dan 1993-19968. Kemudian Negara Bangladesh, yang memisahkan diri dari Pakistan pada 1971, dipimpin oleh dua kepala negara wanita yaitu Khaleda Zia . 1- 2. dan Sheikh Hasina. yang berkuasa dua periode yakni tahun 1996-2001 dan 2009-2024 11 Sedangkan di Indonesia tepatnya pada abad ke-17 M, ada nama Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Johan beliau adalah sultanah Aceh Darussalam yang menjabat selama 34 tahun, yaitu pada tahun 1641 hingga 1674 M. Sultanah Safiatuddin merupakan pemimpin yang sangat cerdas. menguasai berbagai macam bahasa seperti bahasa Arab. Persia. Spanyol dan Urdu. Selain itu, beliau juga menguasai berbagai bidang ilmu keagamaan. Kecintaannya pada ilmu pengetahuan menjadikan Aceh Darussalam wilayah yang maju pesat dalam bidang ilmu pengetahuan seperti seni budaya dan Bahkan Universitas dan dayah-dayah atau pondok pesantren juga maju pesat. Beberapa kitab ulama besar ditulis atas permintaan sang Sultanah, karangan Syekh Nuruddin ar-Raniry. Syekh Abdurrauf as-Sinkily, dan Syekh Daud ar-Rumy. Kemudian kitab-kitab tersebut dianjurkan untuk diajarkan kepada masyarakat umum. Selain ia juga sangat peduli kepada nasib para kaum perempuan dan mengembangkan Armada Inong Bale, menjalin hubungan diplomatik dengan Turki Usmani, dan mampu menghadapi Belanda serta serangan-serangan lain yang mengancam kedaulatan kerajaan Aceh Darussalam. Ia juga menjadi represetasi keberhasilan pemimpin perempuan pada masa itu. 12 Selain itu ada R. Kartini. Cut Nyak Dien. Laksamana Malahayati. Dewi Sartika. Rasuna Said. Nyi Ageng Serang, ibu Wahid Hasyim, dan juga Aisyah Dahlan mereka kaum wanita memimpin sebuah lembaga organisasi, baik non formal ataupun formal. Kemudian terdapat presiden perempuan pertama di Indonesia yakni Megawati Sukarnoputri serta banyak menteri, ketua DPR RI seperti Puan Maharani. DPRD. Gubernur Jawa Timur13 yaitu Khafifah Indar Parawansa. Meteri Keuangan RI Yaitu Sri Mulyani Indrawati, dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. 14 Sejarah ini memberikan pesan bahwa kepemimpinan perempuan belum tentu memberikan dampak yang negatif kepada masyarakat. Tantangan peran kepemimpinan Wanita dalam Islam Islam sebagai ajaran agama yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, keadilan,persamaan dan kesetaraan. Laki-laki dan Perempuan memiliki kedudukan yang sama yaitu sama-sama sebagai hamba, pemimpin di bumi . halifah fil ard. , dan menerima perjanjian primordial. Adam dan Hawa sama-sama aktif dalam drama kosmis. Laki-laki dan perempuan berpotensi untuk meraih prestasi yang optimal. Dalam hal ini, sebagaimana ada dalam firman Allah dalam surat al-Hujurat ayat 13 a A auIac aEa eC aIa aEI aII aE sa aOaIa aO aO a a eE aIa aE eIA ca AacEE aeCa aO aE eI o au acIA A aEO UIA a ca a eaO o au acI a eE a aI aE eI aIA a acEEA a ca aOeaaOac aN EIA a AaOU aO aC aeaa aE aEa aA AOA U Aa aA Artinya: Hai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Ay 11 Yuminah Rohmatullah. Kepemimpinan Perempuan dalam Islam 88 12 Helmiannoor dan Musyarapah. Eksistensi Dan Dedikasi Ulama Perempuan Terhadap Pendidikan Islam Di Nusantara, dalam Jurnal Syamil: Jurnal Pendidikan Agama Islam atau Journal of Islamic Education. Vol,7. No, 2, (Samarinda:UINSI, 2. , h. 13 Yuminah Rohmatullah, . Kepemimpinan Perempuan dalam Islam, h 88 14https://w. org/blog-sjp/pelibatan-dan-kepemimpinan-perempuan-dalam-komunitas Diakses pada tanggal 13-09-2024 Pukul 13:12 15https://w. id/en/blog/opinion-5/kepemimpinan-perempuan-dalam-bingkai-kesetaraan-gender-tinjauanperspektif-islam-2073 diakses pada tanggal13-09-2024 Pukul 9:58 JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 2. Nomor 1. Desember 2024, 61-70 E-ISSN 3063-0665. P-ISSN x-x Published: STAI KH. Muhammad Ali Shodiq Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski Miftakul Arifin Ainur Rosyidah Ayat tersebut menjelaskan bahwasanya Allah menciptakan manusia dari beberapa suku dan bangsa yaitu dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan agar saling mengenal. Ini merupakan prinsip dasar hubungan antar manusia. Oleh karena itu, ayat ini tidak menggunakan panggilan kepada orang aA aOaeaaOac aN EacaOIa a aIIAtetapi AA orang beriman AOA a caA aOaeaaOac aN EIAkepada semua jenis manusia. Ayat ini ingin memberikan pesan kepada semua manusia bahwa sesungguhnya ia memiliki derajat kemanusiaan yang sama di sisi Allah. Perbedaan hanya terletak pada nilai ketakwaannya saja, baik itu laki-laki maupun perempuan. Oleh karena itu sebagai hamba Allah berusahalah untuk menjadi hamba yang paling berketakwa agar menjadi orang yang mulia di sisi Allah dan orang yang beruntung. Ayat ini juga menegaskan terdapat kesatuan asal usul manusia dengan menunjukkan kesamaan derajat kemanusiaan satu dengan manusia lainya meskipun berbeda suku, bahasa, ras dan budaya, namun tidak sepantasnya seseorang berbangga dan merasa diri lebih tinggi derajatnya daripada yang lain, karena didasari perbedaan suku, bangsa, ras dan budaya ataupun perbedaan karena jenis kelamin. Adapun pesan moral yang dipertegas dalam ayat ini adalah pembebasan manusia dari berbagai macam intimidasi, diskriminasi, penindasan, diskriminasi seksual, etnis, warna kulit dan kaitanya dengan ikatan primordial lainnya. Meskipun secara teks al-qurAoan mengandung nilai-nilai prinsip kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan, akan tetapi dalam kehidupan masyarakat banyak kita temui diskriminasi terhadap sesama baik pada kaum minoritas suku,bangsa agama, ras, atau jenis kelamin, yang menimbulkan problematika di masyarakat. Padahal setiap manusia memiliki hak untuk mendapatkan perlakuan yang adil dalam hubungan sosial, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat maupun lingkungan kerja. Dalam lingkungan kerja seseorang harus mendapatkan pekerjaan yang baik dan layak dan mendapatkan upah yang adil naik laki-laki maupun perempuan. Karena itu merupakan hak sebagai warga negara. Negara berkewajiban memenuhi hak atas pekerjaan yang layak bagi setiap Negaranya, namun dalam praktik dilapangan seringkali pemenuhan hak atas pekerjaan yang layak, masih jauh dari harapan keadilan. Feminisasi dan kemiskinan struktural mengakibatkan hak atas pendidikan warga negara, terutama hak perempuan dan pendidikan yang masih belum terealisasikan secara maksimal, sehingga mengakibatkan semakin jauh akses perempuan mendapatkan pekerjaan yang layak, perempuan dengan terpaksa memasuki pekerjaan yang tidak mensyaratkan pendidikan seperti pekerja pabrik, tenaga kerja wanita, buruh pabrik dengan upah yang rendah dll. Oleh karena itu, pemerintah harus mendorong wanita agar mendapatkan pendidikan tinggi dan juga mendukung peran wanita dalam melakukan pengorganisasian dan peningkatan kapasitas serta kualiatas kepemimpinannya, agar dapat menggunakan suaranya untuk berpartisipasi dalam mengambil keputusan, apalagi keputusan terkait dengan nasib hak-hak perempuan seperti keamanan ketika bekerja, upah yang adil, cuti melahirkan dan lain-lain. selain itu perempuan juga harus terlibat aktif dalam menjaga, membagun bangsa dan negara. Sehigga dengan cara itu perempuan akan membentuk organisasi dan menjadi agen perubahan . gent of chang. untuk mewujudkan negara yang bersih, berdaulat, sejahtera, adil gender dan majemuk. 19 Akan tetapi, hingga saat ini masih banyak faktor-faktor yang menjadi tantangan atau hambatan yang dihadapi peran kepemimpinan perempuan dalam Islam diantaranya: Faktor agama Tafsir agama yang bias gender, walaupun terkadang hasil penafsiran ayat al-QurAoan yang terkait dengan perkara sosial maupun politik itu bias gender yang mana mereka Quraish Shihab. Tafsir Al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati, 2012, cet ke-5, hlm. 17 Sarifa Suhra. Kesetaraan Gender Dalam Perspektif Al-QurAoan Dan Implikasinya Terhadap Hukum Islam. Dalam Jurnal al-Ulum. Vol. 13 No. 2, (Gorontalo: IAIN,2. 18Raihan Putry. Kepemimpinan Perempuan Dalam Perspektif Islam, dalam Jurnal MUDARRISUNA. Vol. No 2,(Banda Aceh:UIN Ar-Raniry, 2015, h. 19 Ibid,. JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 2. Nomor 1. Desember 2024, 61-70 E-ISSN 3063-0665. P-ISSN x-x Published: STAI KH. Muhammad Ali Shodiq Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski Peran Wanita Dalam Kepemimpinan Islam (Sejarah Dan Prospek Masa Depa. menginterpretasikan ayat-ayat al-QurAoan dengan penafsiran yang memihak laki-laki dan menyudutkan peran perempuan. Seperti halnya terkait posisi kepemimpinan yang mana laki-laki adalah pemimpin perempuan dan melarang perempuan sebagai pemimpin yaitu kepemimpinan untuk wilayah pemerintah, menutup perempuan untuk menikmati hak politiknya untuk menduduki jabatan kepemimpinan dalam pemerintah. Padahal keduanya sama-sama sebagai hamba Allah yang seharusnya baik laki-laki maupun perempuan hanya boleh menghambakan diri kepada Allah bukan makhluk selain Allah. Jika kesadaran tersebut sudah terbangun maka mereka akan saling menghormati satu sama lain dan tidak lagi mendeskriditkan perempuan dengan membatasi peran perempuan yang hanya dilingkup Sehingga perempuan mendapatkan hak dan kebebasanya dalam mengaktualisasikan Jika para perempuan diberi kebebasan dalam mengoptimalkan kemampuanya, bukan tidak mungkin mereka dapat berkompetisi maupun berkerjasama dalam berbagai bidang, sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap keamanan, pembangunan dan kemajuan negara. Faktor steriotip, steriotip merupakan konsepsi atau pandangan tentang sifat suatu kelompok berdasarkan anggapan yang subjektif dan tidak tepat. 22 Salah satunya memandang bahwa ketika wanita menjadi seorang pemimpin maka ia akan mengungguli laki-laki padahal pandangan tersebut tidaklah benar. Apabila orang menjalankan pekerjaan atau tugas yang memiliki stereotip maskulin, orang tersebut akan dianggap lebih sukses dalam melakukan pekerjaan, karena ia memiliki kualitas maskulin dalam dirinya. Karena kualitas maskulin adalah kualitas yang interpretasikan dengan jenis kelamin laki-laki, sehingga masyarakat menganggap bahwasanya laki-laki lebih cocok dalam melakukan pekerjaan tersebut. Sedangkan, seseorang yang tidak mempunyai kualitas yang sesuai dengan stereotip pekerjaan yang dilakukan akan dianggap memiliki peluang lebih kecil untuk bisa menjadi sukses dalam melaksanakan tugas atau pekerjaannya. Seperti halnya pekerjaan yang berhubungan dengan tugas kepemimpinan ialah pekerjaan yang selalu dihubungkan dengan kualitas maskulin. Jika seorang perempuan, yang stereotipnya tidak memiliki kualitas maskulin dan mencoba menjadi seorang pemimpin, maka ia akan dianggap tidak bisa menjalankan tugasnya sebaik laki-laki. Walaupun wanita itu sudah memperlihatkan kualitas maskulin dan dinilai positif. Ia tetap dinilai negatif oleh sebagian orang yang masih menganut peran gender tradisional. Adapun penyebab terbentuknya stereotip pekerjaan yang berbasis gender yaitu terdapat asumsi bahwa untuk bisa menjadi sukses dalam menjalankan suatu pekerjaan, ia harus mempunyai kualitas maskulin atau feminin. Kualitas maskulin dan feminin adalah gabungan berbagai perbuatan yang dikelompokkan oleh masyarakat yang berdasarkan hasil dari pengamatan di lingkungan sosial. Jenis kelamin Kepemimpinan tidak bisa terhindar dari perseorangan atau individu yang berperan sebagai Banyak yang mengaitkan antara kemampuan personal dalam memimpin dengan perspektif biologis yaitu berdasarkan pada perbedaan jenis kelamin perempuan dan laki-laki. Hal ini mengakibatkan munculnya istilah ketimpangan gender dengan menempatkan posisi perempuan pada kondisi yang tidak menguntungkan, meskipun perempuan merupakan sumber daya manusia yang mempunyai kualitas dan kapasitas yang mampu untuk menjadi seorang 20 Tim Penyusun 10 Agenda politik perempuan, 10 Agenda politik perempuan ,mewujudkan Indonesia beragam, . tp:tp,2. 21Nur Alifta Kinanti, dkk. Stereotip Pekerjaan Berbasis Gender Dalam Konteks Indonesia, dalam Jurnal Manajemen dan Usahawan Indonesia. Vol. 44 No. tp:tt. 22 https://kbbi. id/stereotip, diakses 10-09-2024 Pukul 06:02 23 https://w. id/wanita-juga-miliki-hak-untuk-memimpin diakses pada tanggal 10-09-2024 pukul 5:19 24 Nur Alifta Kinanti, dkk. Stereotip Pekerjaan Berbasis Gender,h. JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 2. Nomor 1. Desember 2024, 61-70 E-ISSN 3063-0665. P-ISSN x-x Published: STAI KH. Muhammad Ali Shodiq Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski Miftakul Arifin Ainur Rosyidah Di era modern saat ini, persoalan gender bukan lagi menjadi faktor pembeda yang Begitu banyak yang berubah pekerjaan yang dulunya di lakukan oleh pria sekarang dapat dikerjakan oleh perempuan dengan baik seperti tentara, dinas, sopir, pertambangan, kelautan, mandor, satpam, kuli bangunan, pengisian bahan bakar dan lain sebagainya. Kesenjangan keseimbangan antara hidup dan karier Perempuan masih dipandang sebelah untuk menjadi pemimpin, mereka seringkali mendapat stigma masyarakat bahwa tugas dan tanggung jawab perempuan adalah didalam rumah atau mengurus keluarga dari pada aktif diluar rumah, jika ada dia terpaksa bekerja diluar rumah, tugas mengurus rumahpun tetap menjadi tanggung jawab perempuan. Perempuan diminta multitasking saat melakukan tanggung jawabnya, sebagai wanita karier ia tidak hanya memiliki kedudukan ganda tapi juga beban ganda . ouble burde. kedudukannya sebagai ibu rumah tangga dan sebagai pekerja yang dituntut harus seimbang, tiap posisi tersebut menuntut yang baik dan optimal dan tidak ingin diragukan salah satu pihak. Tentu dalam hal ini sulit dilakukan oleh wanita karier disatu sisi ia dituntut bekerja secara professional dan optimal tapi disatu sisi, ia punya tanggung jawab terhadap pasangan dan anak. Beratnya tanggung jawab dan tuntutan pekerjaan rumah serta beban pekerjaan di tempat kerja yang harus diselesaikan oleh perempuan membuat perempuan seringkali dihadapkan pada masalah kesehatan mental . ental healt. atau ketidaktenagan jiwa. Bias tak sadar atau bias Implisit Tantangan yang dihadapi perempuan dalam dunia kerja yaitu sikap bias implisit dari atasan atau pemimpin yang dapat menghambat jenjang karier karyawan. Bias tak sadar mempengaruhi sikap seseorang kepada orang lain maupun kelompok, bias ini berakar pada seksisme, rasisme dan segala bentuk deskriminasi yang mempengaruhi perilaku orang tanpa ia sadari. 27 Bias secara implisit ini dapat mempengaruhi keberhasilan tim masa depan institusi atau lembaga. Karena biasanya pemimpin yang memiliki sifat bias secara implisit ini dapat mempengaruhi sikap professional, cara berfikir hingga cara berinteraksi dengan rekan kerja. Dengan demikian bias ini menyebabkan penilaian penyimpangan dan meneguhkan stereotip dalam mengambil keputusan. Maka dari itu untuk meningkatkan keadilan agar tidak bias implisit bisa dilakukan cara yaitu melakukan perubahan budaya, edukasi, kebijakan inklusif, dan keterlibatan berbagai pemangku Karena untuk menegakkan keadilan gender bukan hanya mengenai moral, tetapi juga penting untuk perkembangan lembaga atau institusi dan inovasi yang berkelanjutan serta pembangunan yang inklusif. Masa Depan peran kepemimpinan perempuan dalam Islam Di era modern seperti sekarang ini, pendidikan bagi perempuan semakin terbuka lebar. Pandangan bahwa laki-laki yang menjadi salah satunya kandidat ideal menjadi seorang pemimpin sudah mulai tergeser oleh perkembangan zaman. Karena siapapun bisa menjadi seorang pemimpin. 25Reny Yulianti. Women Leadership: Telaah Kapasitas Perempuan Sebagai Pemimpin, dalam Jurnal MADANI. Politik dan Sosial Kemasyarakatan. Vol 10 No. 2 ,(Lamongan:Unisda,2. 26 Utami Syahdiah, dkk. Problematika Wanita Karir dalam Perspektif Buya Hamka. In Proceeding International Conference on Tradition and Religious Studies. Vol. No. (Palembang:Universitas Islam Negeri Raden Fatah, 2. 27 https://online. edu/news/women-in-leadership,diakses tanggal 13-09-2024 pukul 12. 28 https://asana. com/id/resources/unconscious-bias-examples. diakses tanggal 13-09-2024 pukul 14:53. Leovani, dkk. KETIDAKSETARAAN GENDER DI TEMPAT KERJA : Tinjauan Mengenai Proses Dan Praktek Dalam Organisasi, dalam Jurnal Analisis Ilmiah Fakultas Ekonomi Universitas Flores. Vol. 13 No. (NTT:Universitas flores, 2023 h. 29Ega JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 2. Nomor 1. Desember 2024, 61-70 E-ISSN 3063-0665. P-ISSN x-x Published: STAI KH. Muhammad Ali Shodiq Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski Peran Wanita Dalam Kepemimpinan Islam (Sejarah Dan Prospek Masa Depa. Agama Islam yang yang memiliki syari'at yang bersifat fleksibel, komprehensif dan dinamis, memiliki kriteria tersendiri untuk menjadi pemimpin diantaranya. memiliki ilmu pengetahuan baik umum maupun agama, memiliki tanggung jawab, bisa berlaku adil, sehat secara fisik maupun psikis, memiliki loyalitas dan pekerja keras serta profesional. Jadi kepemimpinan tidak lagi didasarkan pada keturunan, bakat, pengalaman laki-laki saja tapi juga, kesiapan yang terencana, semua program kerjanya harus terencana, dianalisis dan dikembangkan secara sistematis untuk membangkitkan sifat-sifat pemimpin yang sesuai dengan tuntutan syari'at. Agar muda mendapatkan keberhasilan. 30 Pemimpin dalam Islam merupakan wakil dari umat, ia mempunyai tugas yang sangat berat karena mengembang tugas kenabian dalam rangka mengatur umat manusia untuk kebaikan, keadilan, kesejahteraan, menciptakan keamanan, dalam syari'at Islam baik secara empirik historis normatif terdapat kesetaraan hak antara perempuan dan laki-laki dalam konteks pemimpin, dalam konteks pemimpin. Syari'at Islam memberikan kesempatan bagi perempuan atau laki-laki yang menggunakan akal secara total sebagai umat yang sama-sama punya Pada abad 21 sebagian orang berani berpendapat bahwa abad ini merupakan abad kebangkitan perempuan. Hal ini karena sudah banyak perempuan yang bebas untuk menentukan jalan hidupnya baik itu belajar, bekerja atau berkarier. Karena saat ini sudah banyak perempuan mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi, hal ini tentu mempengaruhi nilai, kualitas, kapasitas dalam diri perempuan. Sehingga ia layak menjadi pemimpin masa depan. Karena bagaimanapun masa depan pekerjaan bergantung pada kepemimpinan perempuan, mengingat jumlah lulusan perguruan tinggi terbanyak adalah perempuan. Melibatkan perempuan dalam dunia kerja maupun menjadikan ia pemimpin tidak hanya menjadi bagian masa depan tapi juga bagian mengubah masa depan. 31 Segala bidang pekerjaan yang dulunya dikerjakan dan didominasi laki-laki harus dirombak disegala tingkatan dan perubahan sedang berlangsung secara menyeluruh . Berdasarkan data 60 % jumlah lulusan sarjana di Indonesia didominasi oleh perempuan. 32 Bahkan banyak pemimpin-pemimpin dari kalangan perempuan yang mengemparkan dunia termasuk perempuan pengerak perubahan sebagaimana di Selandia Baru. Singapura. Indonesia dll. Untuk keluar dari sejarah yang mendiskreditkan peran kepemimpinan perempuan dan menciptakan keadilan gender dimasa depan. Seseorang yang memiliki kewenangan dalam mengambil kebijakan atau stake holder dalam suatu lembaga atau institusi harus memberdayakan perempuan di tempat kerja dan memberikan kesempatan perempuan untuk memiliki jenjang karier yang jelas dan Adapun pemberdayaan perempuan di tempat kerja dengan cara memberikan fasilitas dalam pengasuhan anak . , menawarkan fleksibilitas, memperkuat suara perempuan dan mendanai program pelatihan atau pendidikan kepemimpinan dan mendukung serta meningkatkan perempuan dalam posisi kepemimpinan tingkat tinggi. Masa depan kepemimpinan perempuan juga bergantung pada inisiatif keberagaman kesetaraan dan inklusi yang mendukung semua perempuan untuk terus maju dan berkembang. 33 Sebagaimana masyarakat juga menaruh harapan yang besar menanti hadirnya pemimpin yang ideal yang akan membawah perubahan dan keluar dari problematika kehidupan, dan sosok yang bisa menjadi pemimpin yang ideal bisa dari jenis kelamin laki-laki maupun perempuan, asalkan ia mampu meneladani akhlak Rasulullah dengan baik. Karena beliau tidak hanya memimpin umat tapi juga seorang pemimpin negara, pemimpin yang mampu menerapkan syari'at Islam sebagai harapan dan cita-cita umat Islam dan manusia pada umumnya. 34 Jadi apapun profesi 30 Raihan Putry. Kepemimpinan Perempuan Dalam Perspektif Islam, h. 31 Ibid, 654 https://w. com/edu/read/2020/08/15/205859271/kemendikbud-kesetaraan-gender-nyatanya-lulusansma-dan-s1-banyak-perempuan?page=all diakses tanggal 13-9-2024 pukul 13:02 33https://online. edu/news/women-in-leadership. 34https://muslimahnews. net/2022/10/10/12646/ diakses 1309-2024 pukul 13:33 JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 2. Nomor 1. Desember 2024, 61-70 E-ISSN 3063-0665. P-ISSN x-x Published: STAI KH. Muhammad Ali Shodiq Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski Miftakul Arifin Ainur Rosyidah yang didapat perempuan. Ia harus mencerminkan kepribadian Islam dengan bertanggung jawab dan berakhlak karimah sehingga dapat memberikan nilai positif bagi diri sendiri maupun orang lain serta membawah kemajuan bersama. Menjadi pemimpin yang mampu menyelesaikan masalah. Pemimpin yang mampu menjaga independensinya dari beragam faktor yang mampu mempengaruhi kebijakan strategis, misal dalam bidang politik, dan Pemimpin yang mampu bersikap amanah yang dapat mengembang tugas dengan baik sehingga dicintai oleh masyarakatnya. Daftar Rujukan Helmiannoor dan Musyarapah, . Eksistensi Dan Dedikasi Ulama Perempuan Terhadap Pendidikan Islam Di Nusantara, dalam Jurnal Syamil: Jurnal Pendidikan Agama Islam atau Journal of Islamic Education. Vol,7. No, 2. Samarinda:UINSI. Kinanti. Nur Alifta dkk, . Stereotip Pekerjaan Berbasis Gender Dalam Konteks Indonesia, dalam Jurnal Manajemen dan Usahawan Indonesia. Vol. 44 No. tp:tt. Kurniawan. , & Hidayah. PEREMPUAN SEBAGAI TULANG PUNGGUNG KELUARGA (Studi Buruh Perempuan di Pabrik Bulumata Palsu PT. Tiga Putera Abadi Perkasa. Purbalingga. Jawa Tenga. E-Societas: Jurnal Pendidikan Sosiologi, 9. Kurniawan. Agus dan Nur Hidayah. PEREMPUAN SEBAGAI TULANG PUNGGUNG KELUARGA (Studi Buruh Perempuan di Pabrik Bulumata Palsu PT. Tiga Putera Abadi Perkasa. Purbalingga. Jawa Tenga. Dalam Jurnal Pendidikan Sosiologi. Yogyakarta:Universitas Negeri Yogyakarta. Leovani. Ega dkk. KETIDAKSETARAAN GENDER DI TEMPAT KERJA : Tinjauan Mengenai Proses Dan Praktek Dalam Organisasi, dalam Jurnal Analisis Ilmiah Fakultas Ekonomi Universitas Flores. Vol. 13 No. NTT:Universitas flores. Mukarromah. Siti Afifahtul. Erny Roesminingsih. Kepemimpinan Perempuan Di Masa Kontemporerdalam Perspektif Islam, dalam Jurnal Leadership: Jurnal mahasiswa manajemen Pendidikan Islam. Vol. 4 No. Malang:STAI MaAohad Ali Al-Hikam. Putry. Raihan. Kepemimpinan Perempuan Dalam Perspektif Islam, dalam Jurnal MUDARRISUNA. Vol. No 2,(Banda Aceh:UIN Ar-Raniry. Rahmayanty. Dinny. Dkk. Tantangan Dan Peluang Perempuan Sebagai Pemimpin Dalam Berbagai Industri. Dalam Jurnal Pendidikan dan Konseling. Vol. 5 No. Riau: Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai. Rohmatullah. Kepemimpinan Perempuan dalam Islam: Melacak Sejarah Feminisme melalui Pendekatan Hadits dan Hubungannya dengan Hukum Tata Negara Yuminah. Jurnal Syariah, 17. Rohmatullahm Yuminah. Kepemimpinan Perempuan dalam Islam: Melacak Sejarah Feminisme melalui Pendekatan Hadits dan Hubungannya dengan Hukum Tata Negara, dalam Jurnal SyariAoah: Jurnal Ilmu Hukum dan pemikiran. Sayska. Dwi Sukmanila. Peran Umahatul Mukminin Dalam Periwayatan Hadis, dalam Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid. Vol. No. 1, (Padang:UIN Imam Bonjol Padang. Setyawan. Christianto Dedy, dkk, . Pemimpin Ideal dan Karakteristik yang Didambakan dalam Menjawab Tantangan Zaman,in SHEs: Conference Series Vol. No. (Surakarta:Universitas Sebelas Maret. Shihab. Quraish. Tafsir Al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati, cet ke-5. Shihab. Quraish . Perempuan. Jakarta: Lentara Hati. Cet. IX. 35Christianto Dedy Setyawan, dkk. Pemimpin Ideal dan Karakteristik yang Didambakan dalam Menjawab Tantangan Zaman,in SHEs: Conference Series Vol. 5 No. (Surakarta:Universitas Sebelas Maret, 2. , h. JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 2. Nomor 1. Desember 2024, 61-70 E-ISSN 3063-0665. P-ISSN x-x Published: STAI KH. Muhammad Ali Shodiq Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski Peran Wanita Dalam Kepemimpinan Islam (Sejarah Dan Prospek Masa Depa. Sugirma dan Agustang K, . Antara Khadijah Dan Aisyah (Teladan Moderasi Beragama Perspektif Gende. , dalam Jurnal Al-wardah: Kajian Perempuan. Gender dan Agama. Vol No1. Ternate:IAIN. Suhra. Sarifa. Kesetaraan Gender Dalam Perspektif Al-QurAoan Dan Implikasinya Terhadap Hukum Islam, dalam Jurnal al-Ulum. Vol. 13 No. Gorontalo: IAIN. Syahdiah. Utami. dkk,( 2. Problematika Wanita Karir dalam Perspektif Buya Hamka. In Proceeding International Conference on Tradition and Religious Studies. Vol. No. Palembang:Universitas Islam Negeri Raden Fatah Tim Penyusun 10 Agenda politik perempuan, . 10 Agenda politik perempuan ,mewujudkan Indonesia beragam. tp:tp. Yulianti. Reny. Women Leadership: Telaah Kapasitas Perempuan Sebagai Pemimpin, dalam Jurnal MADANI. Politik dan Sosial Kemasyarakatan. Vol 10 No. 2 ,Lamongan:Unisda. https://asana. com/id/resources/unconscious-bias-examples. diakses tanggal 13-09-2024 pukul 14:53. https://kbbi. id/stereotip, diakses 10-09-2024 Pukul 06:02 https://online. edu/news/women-in-leadership,diakses tanggal 13-09-2024 pukul 12. https://w. com/berita/4035900/mpr-keterlibatan-perempuan-di-dunia-usaha-danpolitik-harus-meningkat diakses 7-September 2024 pukul 06:00 https://w. com/edu/read/2020/08/15/205859271/kemendikbud-kesetaraan-gendernyatanya-lulusan-sma-dan-s1-banyak-perempuan?page=all diakses tanggal 13-9-2024 pukul 13:02 https://w. id/wanita-juga-miliki-hak-untuk-memimpin diakses pada tanggal 10-09-2024 pukul 5:19 https://dp3a. id/blog/post/mencapai-kesetaraan-gender-dan-memberdayakankaum-perempuan, diakses 7-September 2024 pukul 08:01 https://muslimahnews. net/2022/10/10/12646/ diakses 1309-2024 pukul 13:33 https://w. id/en/blog/opinion-5/kepemimpinan-perempuan-dalam-bingkaikesetaraan-gender-tinjauan-perspektif-islam-2073 diakses pada tanggal13-09-2024 Pukul 9:58 https://w. org/blog-sjp/pelibatan-dan-kepemimpinan-perempuan-dalamkomunitas Diakses pada tanggal 13-09-2024 Pukul 13:12 JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman Volume 2. Nomor 1. Desember 2024, 61-70 E-ISSN 3063-0665. P-ISSN x-x Published: STAI KH. Muhammad Ali Shodiq Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/jipski