Miftahul Khairi Eksistensi Karya Seni Rupa Islam Dalam Medan Seni Rupa Indonesia: Studi Kasus Pameran Fragments Of Modern Indonesian Art History Di OHD Museum Magelang Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. pISSN 2087-0795 eISSN 2622-0652 THE EXISTENCE OF ISLAMIC ARTWORKS IN THE INDONESIAN ART FIELD: A CASE STUDY OF THE FRAGMENTS OF MODERN INDONESIAN ART HISTORY EXHIBITION AT THE OHD MUSEUM MAGELANG EKSISTENSI KARYA SENI RUPA ISLAM DALAM MEDAN SENI RUPA INDONESIA: STUDI KASUS PAMERAN FRAGMENTS OF MODERN INDONESIAN ART HISTORY DI OHD MUSEUM MAGELANG Miftahul Khairi1 Jurusan Ilmu Seni dan Arsitektur Islam Fakultas Ushuluddin dan Humaniora. UIN Walisongo Semarang1 Kampus II UIN Walisongo Jl. Prof. Dr. Hamka Km 1 Ngaliyan. Semarang 50189 miftahul_khairi@walisongo. ABSTRACT This research explains the development of Islamic art in the modern and contemporary Indonesian art scene through Rispul and Tita RubiAos works collected by OHD Museum. The fundamental question is how OHDAos taste in choosing its collection? How is the curation process in the exhibition Fragment of Modern Indonesian Art History? And why Rispul and TitarubiAos works were chosen for the exhibition? This question is explained through the sociology of art theory from Becker and Bourdieu and uses a qualitative method with a case study approach. The results of the study show that OHD as a pure collector by providing distinction to the works he will collect, thereby gaining legitimacy in the Indonesian and Asian art scene. His legitimacy is able to influence the world of art collecting in Indonesia and Asia. The works of Tita Rubi and Rispul were collected and selected for the exhibition because they fit the criteria of being part of the development of contemporary art and continuing the Islamic art series. Keywords: Existence. Islamic Art. OHD Museum. Tita Rubi. Rispul. ABSTRAK Penelitian ini menjelaskan dan mengeksplorasi perkembangan seni rupa Islam dalam medan seni rupa Indonesia melalui karya Rispul dan Tita Rubi yang dikoleksi dan dipamerkan OHD Museum dalam pameran Fragments of Modern Indonesian Art History. Pertanyaan mendasarnya adalah Bagamaina selera OHD dalam memilih Koleksinya? Bagaimana Proses Kurasi dalam Pameran Fragment of Modern Indonesian Art History? Serta mengapa karya Rispul dan Titarubi dipilih dalam Pameran tersebut ?. Pertanyaan ini dijelaskan melalui Teori sosiologi seni dari Becker dan Bourdieu dan menggunakan Metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa OHD sebagai kolektor murni dengan memberikan distingsi tehadap karya yang akan dikoleksinya dengan demikian mendapatkan legitimasi dalam medan seni rupa Indonesia dan Asia. Legitimasinya mampu memberikan pengaruh terhadap dunia pengoleksian karya seni di Indonesia dan Asia. Karya Tita Rubi dan Rispul dikoleksi dan dipilih dalam pameran karena dianggap menjadi bagian dari perkembangan seni rupa kontemporer dan meneruskan jalinan seri rupa Islam. Kata kunci: Eksistensi. Seni Islam. OHD Museum. Tita Rubi. Rispul. Volume 16 No. 2 Desember 2024 Jurnal Brikolase Online: https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index pISSN 2087-0795 Proses Review : 1 Desember 2024. Dinyatakan Lolos: 29 Desember 2024 eISSN 2622-0652 doi: 10. 33153/brikolase. PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Pada dasarnya seni tidak dapat hidup tanpa aspek lain di luar dirinya. Eksistensinya ditentukan oleh ruang sosialnya. Aspek itu antara lain adalah masyarakat penyangga seni, dan institusi sosialnya. Masyarakat penyangga seni dan Institusi adalah elemen yang penting dalam pertumbuhan dan perkembangan seni. Apek tersebut memberikan ruang bagi seniman dan karyanya untuk tetap hidup. Seni Islam sebagai bagian dari kebudayaan tentu tidak statis. Kehadirannya senantiasa bergerak sesuai dengan perkembangan zamanya. Hasrat untuk mencari dan menemukan kemungkinan-kemungkinan baru dalam menciptakan karya seni tentunya akan muncul. seni-seni islam seperti yang dipaparkan di atas merebak dan menemukan jalur-jalur barunya. Institusi sosial seni yang menopangnya tidak lagi hanya berada pada pesantren-pesantren atau menjadi seni terap pada bangunan arsitektur keagamaan tetapi juga ditopang oleh institusi sosial seni yang notabene berada pada alur maenstream seni rupa Indonesia. Salah satunya adalah OHD museum (OEI HONG DJIEN Museu. OHD museum adalah museum seni rupa yang terletak di magelang yang mengoleksi karyakarya seniman ternama seperti Raden Saleh. Basoeki Abdullah. Hendra Gunawan Lee Man Fong. Affandi. Sudjojono. Harijadi S. Soedibio. Kartono Yudhokusumo. Trubus S. Eko Nugroho. Widayat. Fadjar Sidik. Widayanto. Ahmad Sadali. Dengan koleksinya yang begitu beragam dan banyak, dia dikenal sebagai kolektor papan atas dalam medan seni rupa Indonnesia. Tak jarang dibeberapa aktivitas pameran dia diundang untuk membuka pameran, memberikan ceramah pada forum seni rupa, menjadi pemateri dalam seminar dan diskusi bahkann menjadi penasehat dala event-event skala besar di Inndonesia. Eksistensinya tersebut menemptkan dirinya sebagai patron dalam medan seni rupa indonesia. Dengan eksisnya dalam dunia seni rupa Indonesia, koleksi OHD seolah menjadi tolok ukur bagi perkembangan seni rupa Indonesia. OHD telah menjelma sebagai trend-setter dalam dunia mengoleksi karya seni. Kapasitasnya dalam arena pengoleksian karya seni rupa untuk menampung karya yang cukup banyak memberikan jaringan pasar yang luas dan lebih apresiatif. Dalam ranah pasar dan pengkoleksian karya seni, selera koleksinya mempengaruhi dunia pengoleksian karya seni . Dalam ranah aprsiasi seni, kehadirannya sebagai tamu dalam membuka pameran memberikan warna tersendiri bagi seniman yang berpameran dan seolah memberikan status prestise bagi seniman yang berpameran. Selain itu, melalui karya koleksinya yang lengkap mampu merotasi setiap koleksinya untuk dipamerkan dengan berbagai tema dalam museumnya. Salah satu pameran penting yang dilaksanakannya dalam museum pribadinya adalah pameran yang bertajuk Fragments of Modern Indonesian Art History 2021. Pada pameran koleksinya ini menampilkan karya seni rupa dari berbagai generasi awal sampai dengan saat ini. Dengan poin inti sejarah dalam pamerannya kali ini, maka karya-karya yang ditampilkan merupakan bagian penting dalam sejarah perkembangan seni rupa Indonesia. Volume 16 No. 2 Desember 2024 Miftahul Khairi Eksistensi Karya Seni Rupa Islam Dalam Medan Seni Rupa Indonesia: Studi Kasus Pameran Fragments Of Modern Indonesian Art History Di OHD Museum Magelang Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. pISSN 2087-0795 eISSN 2622-0652 Hal yang menarik dalam pameran tersebut adalah terdapat dua karya seni Rupa Islam yang bertemakan Islam yaitu karya Tita Rubi yang berjudul Bayang-bayang yang maha kecil #5 dan Rispul yang berjudul Gua Hira . Pemilihan dua karya tersebut tentunya memberikan asumsi dasar bahwa karya dengan tema tersebut dipandang memiliki nilai yang cukup penting dalam perkembangan seni rupa Indonesia oleh kurator museum. Pada karya Tita Rubi yang berjudul Bayang-bayang yang maha kecil #5 merupakan karya dengan media keramik yang dicetak beredisi yang bertuliskan ayat kursi. Sedangkan karya instalasi Rispul yang berjudul Gua Hira dengan menampilkan tulisan iqraAo yang beraksara arab. Dengan statusnya sebagai kolektor papan atas, maka alasan terkait pengoleksian karya dan pemilihan karya-karya tersebut tentunya tidak dapat dilepaskan dari pertimbangan OHD terhadap nilai dalam karya yang terhubung dengan seleranya dalam memilih karya seni. Kehadiran dua karya tersebut dalam ruang seni yang maenstream dalam peta seni rupa modern dan kontemporer Indonesia memperlihatkan eksistensi seni rupa Islam tumbuh dan berkembang mencari bentuk barunya serta mencari ruang barunya untuk hidup. Inovasi serta perkembangan ini menjadi kajian yang menarik ketika fenomena tersebut ditelaah aspek sosialnya serta selera dari kolektor yang mengoleksi karya seni tersebut. Terlebih lagi kolektor tersebut bukanlah kolekdol yang mengoleksi karya untuk kepentingan bisnis lukisan dan kepentingan Rumusan Maslah dalam penelitian ini adalah Bagaimana selera Kolektor Oei Hong Djien dalam memilih karya Koleksi OHD Museum terutama karya Tita Rubi (Bayang-bayang yang Maha Keci. dan Rispul (Gua Hir. Bagaimana proses kurasi karya Pameran yang bertajuk Fragments of Modern Indonesian Art History 2021?. Apa latar belakang dipilihnya karya Tita Rubi (Bayangbayang yang Maha Keci. dan Rispul (Gua Hir. dalam pameran Fragments of Modern Indonesian Art History 2021? Landasan Teori Bertolak dari permasalahan yang diajukan dalam rumusan masalah, teori yang digunakan untuk membedah permasalahan-permasalahan penelitian ini adalah teori sosiologi seni yang meliputi Art World Howard S. Becker dan Teori Selera dari pierre Bourdieu. Art world merupakan pandangan Becker terhadap kompleksitas aktivitas kegiatan kerja sama, relasi serta pengetahuan konvensional seni yang diakui dalam dunia seni. Hal itu tetap terjalin dikarenakan dalam realita dunia seni terdapat produksi, distribusi dan konsumsi karya seni Kompleksitas aktivitas tersebut melibatkan beberapa aktor yang bekerja secara kolektif dan saling mempengaruhi dalam dunia seni seperti dealer, kolektor, sejarahwan, jurnalis seni, pemerintah, lembaga kebudayaan, peneliti, kritikus kurator, estetikawan serta publik yang menikmati karya seni tersebut. Praktik jalinan aktivitas kolektif tersebut membentuk hukum konvensi yang merupakan sebuah bentuk kesepakan bersama dan erat kaitannya dengan standarisasi, reputasi serta selera dalam dunia kesenian (Becker, 1. Untuk mengkaji lebih dalam terkait tentang aktivitas kolektif, jejaring distribusi dan konvensi seni dan selera, maka digunakan teori praktik sosial dari Pierre Bourdieu. Teori ini biasa dinyatakan dengan persamaan (Habitus x Moda. Medan = Praktik Sosial. Habitus merupakan produk sejarah yang menghasilkan praktik-praktik, baik individual maupun kolektif sesuai dengan skema yang dikandung sejarah (Ritzer, 2. Berkaitan dengan Volume 16 No. 2 Desember 2024 Jurnal Brikolase Online: https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index pISSN 2087-0795 Proses Review : 1 Desember 2024. Dinyatakan Lolos: 29 Desember 2024 eISSN 2622-0652 doi: 10. 33153/brikolase. sejarah, habitus menghadirkan pengalaman masa lalu dalam pemikiran maupun tindakan terlebih semua aturan formal dan normal tersurat untuk menjamin kesesuaian praktik-praktik sepanjang Habitus menjamin koherensi hubungan konsepsi masyarakat dan pelaku oleh karena itu habitus memungkinkan dibangunnya teori produksi sosial pelaku dan logika tindakan (Jenkins. Habitus merupakan kerangka penafsiran untuk memahami dan menilai realitas sekaligus penghasil praktik-praktik kehidupan yang sesuai dengan struktur obyektif (Haryatmoko, 2. Hal ini berarti bahwa habitus merupakan proses internalisasi yang terjadi antara diri aktor dan lingkungannya kemudian dicerna dan dipahami oleh aktor. Sehingga, melalui proses tersebut, aktor menjadi fasih dan kuat dalam struktur obyektif atau arena. Pada realitanya, aktor berimprofisasi menjawab tantangannya tergantung dari kondisi lingkungannya dan rutinitas tindakannya. Hal tersebut memiliki kemampuan kreatif dan jangkauan strategis. Konsep Bourdieu tentang field dalam penelitian sosial mengarah pada tiga hal. Pertama, hubungan arena dengan Aoarena kekuasaanAo yang merupakan arena dominan yang bisa menstrukturkan arena-arena lain. Kedua, pelaku harus menciptakan peta struktur objektif dari posisi yang menciptakan arena dan hubungan dalam kompetisi dengan bentuk spesifik dari modal. Ketiga adalah analisis habitus yang meliputi jejak . dan strategi yang diproduksi dan kendala serta kesempatan, ditentukan oleh struktur arena (Jenkins, 2. Bertolak dari konsep tersebut, field merupakan sebuah tempat arena kekuasaan. Bourdieu mengungkapkan bahwa aktor-aktor dalam arena adalah aktor-aktor yang berpengaruh dalam arena tersebut (Bourdieu, 1. Pada tempat tersebut terjadi pertukaran dan pertemuan bentuk-bentuk modal sehingga pelaku di dalamnya menginginkan posisi tertentu. Oleh karena itu, para pelaku mengakumulasi modal yang dimilikinya untuk mendapatkan posisi tertentu sehingga membuat strategi dengan melihat kendala dan kesempatan yang bisa dimanfaatkan. Arena tentu saja mempertemukan para pemilik modal yang telah terinternalisasi dengan arena tersebut. Hubungan dominasi dalam arena melibatkan modal atau kapital untuk menunjang starategi mereka untuk mendominasi. Menurut Bourdieu dalam arena terdapat empat modal yaitu modal kultural, ekonomis, sosial dan simbolik. Modal kultural adalah modal pengetahuan yang dimiliki oleh pelaku yang berupa ijasah, cara berbicara, kemampuan menulis, cara pembawaan yang berperan dalam penentuan kedudukan sosial. Modal ekonomi merupakan sumber daya yang bisa menjadi sarana produksi sarana finansial berupa warisan, dan kepemilikikan alat produksi. Modal sosial merupakan jaringan hubungan sebagai sumber daya untuk penentuan kedudukan sosial. Modal simbolis merupakan kepemilikan simbol-simbol kekuasaan seperti jabatan, mobil mewah, kantor, prestise, gelar, status yang tinggi dan lain-lain (Grenfell & Hardy, 2007. Modal-modal tersebut sebagai sarana untuk mendapatkan posisi dalam arena. Metode Penelitian Penelitian yang akan dilaksanakan merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus. Penelitian studi kasus lazimnya bertumpu pada sumber bukti umum seperti dokumen, rekaman arsip, wawancara, pengamatan langsung, observasi partisipan dan perangkatperangkat fisik (Yin, 2. Sumber data atau bukti dalam penelitian ini mengacu pada dokumen, rekaman arsip, wawancara serta perangkat fisik. Volume 16 No. 2 Desember 2024 Miftahul Khairi Eksistensi Karya Seni Rupa Islam Dalam Medan Seni Rupa Indonesia: Studi Kasus Pameran Fragments Of Modern Indonesian Art History Di OHD Museum Magelang Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. pISSN 2087-0795 eISSN 2622-0652 Sumber data atau bukti yang berasal dari dokumen dapat berupa katalog pameran, suratsurat, memorandum serta artikel-artikel dari majalah ataupun surat kabar yang tersimpan di perpustakaan atau pusat referensi lainnya yang berkaitan dengan OHD Museum. Rekaman arsip sebagai sumber data dapat berupa rekaman-rekaman pribadi maupun pidato-pidato dalam peristiwa-peristiwa penting yang berkaitan dengan Pameran Fragments of Modern Indonesian Art History. Wawancara berupa tuturan atau informasi dari OHD. Kurator Pameran. Tita Rubi dan Rispul serta para pakar seni. Beberapa sumber data atau bukti yang dipaparkan tersebut dikonfirmasi satu sama lain untuk memperkuat atau mengoreksi data-data atau bukti-bukti yang HASIL DAN PEMBAHASAN Trajectory dan Strategi OHD OHD Museum : Proses Mengoleksi hingga Mengkurasi Oei Hong Djien Museum resmi didirikan pada tahun 1977. Museum ini merupakan Private Museum yang menghimpun karya-karya seni rupa modern dan kontemporer koleksi OHD. Museum yang dibangun dari bekas Gudang tembakau ini menampung lebih dari 2500 karya. Dengan kepemilikan koleksi yang begitu banyak, di Museumnya tersebut OHD merotasi karya-karya di dalamnya sesuai dengan tema pameran yang diinginkannya. Kolektor adalah orang atau lembaga yang termasuk dalam infrastruktur penting dalam seni rupa yang senang mengoleksi karya seni rupa. Kehadiran kolektor menjadi poros penting dalam tumbuh kembangnya kesenian. Kolektor memiliki dasar dalam mengoleksi karya seni murni sebagai koleksi pribadi dan ada pula yang dijadikan sebagai aset masa depan untuk dijual kembali. Dalam medan seni rupa keberadaan kolektor sangat penting dalam medan seni rupa. Semakin kuat modal budaya, ekonomi, sosial serta simboliknya semakin kuat pula posisinya dalam Seperti yang dijelaskan Becker bahwa dunia seni merupakan aktifitas kolektif dari beberapa aktor yang memiliki peran penting dalam medan seni rupa. Kolektivitas tersebut akan mengatur konvensi yang berkembang dalam medan seni. Keberadaan OHD sebagai kolektor dan membangun museum memperlihatkan bagaimana OHD mampu mencitrakan dirinya sebagai aktor yang penting dalam medan seni rupa Indonesia. Terlebih lagi modal simbolik melalui karya-karya yang dikoleksinya mempunyai pengaruh penting terhadap pandangan aktor-aktor lain dalam medan seni rupa Indonesia baik bagi kolektor lain maupun seniman. OHD dikenal sebagai kolektor ulung dalam medan seni rupa Indonesia. Eksistensi OHD sebagai kolektor dapat dilihat dari keaktifannya dalam mengoleksi karya sampai saat ini. Karyakarya yang diburu tidak hanya sekedar karya maestro atau old master, tapi karya-karya seniman baru yang memiliki track record baik dalam medan seni rupa. Selain itu, karya yang menampilkan kebaruan dalam eksplorasi bentuk dikoleksinya. Representasinya adalah karya-karya instalasi. Karya-karya seni dari seniman ternama menghiasi interior dan Eksterior bangunan Beberapa contoh yang dapat dilihat adalah terdapat karya-karya yang permanen di dalam dan di luar museum seperti karya nasirun yang berada di depan pintu masuk museum, karya Entang Wiharso yang terdapat di gerbang depan museum, dan karya Rudi Mantofani di dalam museum. Volume 16 No. 2 Desember 2024 Jurnal Brikolase Online: https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index pISSN 2087-0795 Proses Review : 1 Desember 2024. Dinyatakan Lolos: 29 Desember 2024 eISSN 2622-0652 doi: 10. 33153/brikolase. Karya Entang Wiharso di Depan OHD Museum dan Pintu Masuk OHD Museum dihiasi Karya Nasirun Sumber : Dokumentasi Pribadi Interior dengan lantai terbuka Karya Rudi Mantovani Sumber : Dokumentasi Pribadi Dalam mengoleksi karya seni. OHD mengalami fase-fase tertentu di dalamnya. Fase itu didasarkan sesuai dengan Trajectory kehidupannya sebagai kolektor. Pertama, fase belajar dan berguru yaitu fase dimana OHD baru memahami tentang seni rupa dan belajar dari para seniman dan kritikus,. Kedua, fase selektif dimana OHD sudah memahami lebih dalam tentang karya seni rupa dan cenderung selektif dalam memilih karya. Fase ini fokus pengoleksian karya pada karya Old Master. Ketiga, fase hunted period dimana OHD sudah menempati posisi yang kuat dalam medan seni rupa dalam pengoleksian karya seni rupa. Maka dari itu, pemilihan karya seni sebagai koleksinya sangat selektif (Wawancara Oei Hong Djie. Pada fase awal, karya-karya yang dikoleksi OHD adalah karya-karya yang memang secara harga masih relatif murah. Karya yang dikoleksi adalah karya yang cederug disenangi untuk bahan pajangan di rumah. Pada fase ini pengetahuan OHD lebih banyak di dapat dari teman sekosannya yang merupakan sepupunya sendiri yang kuliah di jurusan seni rupa dan menjadi kritikus seni. Fase selanjuutnya dengan seiring penndalaman pengetahuan OHD tentang seni lukis dan seni rupa. OHD semakin semangat sekaligus selektif untuk berburu karya lukisan. Dalam istilahnya pada fase ini OHD merasa addict dalam berburu karya seni. Hal ini terpicu akibat dukungan ekonominya untuk mengoleksi sudah ada, yaitu sebagai dokter. Selain itu, jejaring dan penngetahuannya pun bertambah tentanng kualitas karya dan sejarah seni rupa Indonesia. Tak jarang OHD meminta saran dari teman-temanya yang memiliki background seni rupa . eniman, kritikus dan kurato. untuk menyeleksi karya seni yang akan dikoleksiya. Volume 16 No. 2 Desember 2024 Miftahul Khairi Eksistensi Karya Seni Rupa Islam Dalam Medan Seni Rupa Indonesia: Studi Kasus Pameran Fragments Of Modern Indonesian Art History Di OHD Museum Magelang Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. pISSN 2087-0795 eISSN 2622-0652 Fase hunted periode merupakan fase dimana OHD didatangi oleh seniman yang menawarkan lukisan. Pada masa ini OHD memilih dan memilah karya yang dikoleksinnya. Meskipun pada satu sisi dia juga berburu karya-karya yang memang memiliki kualitas seperti yang dijelaskan Semakin matang pengetahuan OHD dalam memahami seni rupa, semakin selektif pula dalam hal memilih karya. Hal itu sejalan dengan perkembangan seni rupa kontemporer dengan berbagai macam corak baik gaya, aliran ataupun media. Kriteria-kriteria karya koleksinya perlu dilihat berdasarkan bahan atau material karya, konsep kebaruan karya, nama besar seniman,peran seniman dalam medan seni rupa serta eksistesi seniman dalam berkarya seni1. Dengan modal pengetahuan sejarah seni rupa indonesia yang mumpuni, kriteria karya yang dikoleksi oleh OHD cenderung karya-karya yang memiliki nilai sejarah. Karya-karya yanng dipilih adalah karya-karya yang memiliki reputasi dalam medan seni rupa Indonesia. Tantangan yanng cukup penting adalah memilih karya-karya seni rupa kontemporer yang medianya cenderung tidak konvesioal. Mengoleksi karya dengan media baru inilah yang cenderung memerlukan kepekaan yang cukup kuat, karena harus mampu melihat nilai karya hari ini dan kedepannya. Pada titik inilah kemampuan unntuk membaca perkembangan seni rupa saat ini dan yang akan datang diuji. Dengan proses seleksi yang ketat, karya-karya koleksi OHD Museum menjelma menjadi private museum yang menampilkan karya-karya seni rupa modern dan kontemporer yang terlengkap di Indonesia. Tak jarang karya-karya koleksinya dipinjam oleh museum nasional Singapura untuk dipamerkan. Seniman seperti Wahdi. Wakidi. Basuki Abdullah. Carel Dake dan Lee Man Fong mewakili gaya romantisisme dan Naturalisme mooi indie. Karya-karya perintis seni rupa Bali seperti I Gusti Nyoman Lempad dan Rudolf Bonet. Karya-karya seni yang mewakili perjuangan Indonesia dengan corak dan gaya yang berbeda diwakili oleh karya-karya Affandi. Emiria Soenassa. Sudjojono dan Hendra Gunawan. Seniman-seniman ini mewakili realisme sosial dengan gaya ekspressionisme. Pergulatan aliran realisme sosialis dan Humanisme universal diperlihatkan pula dalam museumnya. Karya Amrus Natalsja. Batara Lubis. Trubus Sudarsono. Henk Ngantung. Sudjana Kerton dan Djokopekik mewakili Realisme Sosialis sedangkan aliran Humanisme Universal diwakili oleh Karyakarya Nashar. Oesman Effendi. Bagong Kussudiardja. Fadjar Siddik. But Muchtar dan Widayat. Karya koleksinya juga memperlihatkan perkembangan seni rupa setelah 1965 ditandai hadirnya karya-karya yang didominasi oleh aliran lirisisme yang cenderung memperlihatkan ekspresi emosional seniman yang terrepresentasi melalui karya abstrak, dekoratif dan spiritualisme. Karya koleksinya ini diwakili oleh karya-karya dari seniman seperti Widayat. AD Pirous. Amang Rahman. Syaiful Adnan. Abbas Ali Basjah dan Amri Yahya. Sebagai antitesa aliran tersebut OHD mengoleksi karya seniman Gerakan Seni Rupa Baru yang diwakili oleh karya FX Harsono. Dede Eri Supria dan I Nyoman Nuarta. Perkembangan seni rupa tahun 1980 yang cenderung lebih beragam dimana para seniman muda membuat karya-karya eksperimental nan kritis. Sebagai perwakilannya OHD mengoleksi karya Heri Dono. Tisna Sanjaya dan Dadang Christanto. Selain itu, kehadiran dan tumbuhnya aliran surrelisme Yogyakarta yang diwakili oleh Lucia Hartini dan Ivan Sagita. Koleksinya tentang seni rupa kontemporer yang medianya adalah instalasi terlihat pada karya Tita rubi. Rispul. Rudi Mantofani. Eko Nugroho dan lain-lain. Volume 16 No. 2 Desember 2024 Jurnal Brikolase Online: https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index pISSN 2087-0795 Proses Review : 1 Desember 2024. Dinyatakan Lolos: 29 Desember 2024 eISSN 2622-0652 doi: 10. 33153/brikolase. Dengan lengkapnya karya koleksi yang terpajang dan tersimpan di OHD museum secara tidak langsung pengunjung diajak untuk mempelajari sejarah seni rupa Indonesia. Seni rupa pada pergolakan kemerdekaan Indonesia, karya seni rupa revolusioner, karya yang mencitrakan seni untuk seni dan seni untuk rakyat (Manikebu dan Maniker. , serta perkembangan mazhab Bandung dan Yogyakarta, eksperimental art, seni Instalasi dan new media art dirangkum menjadi satu dalam ruang pamer. Keragaman karya-karya koleksi tersebut secara tidak langsung menampilkann cita rasa estetik dan tingkat pengetahuan dari OHD dalam memahami karya seni rupa serta Selain itu. OHD memandang bahwa karya seni merupakan citra dari kebudayaan itu sendiri dan bangsa yang besar dapat dilihat dari karya seninya. Karya seni merupakan representasi dari jiwa seniman dan budayanya. Setiap karya seni yang dihasilkan tidak hanya obyek visual tapi merupakan pancaran batin senimannya serta ekspresi kebudayaan. Karya seni dipahami sebagai fakta benda dalam suatu kebudayaan. Kehadiran Museum untuk menjaga dan merawat karya seni perlu ada. Terlebih lagi belum adanya museum khusus yang menyimpan karya seni rupa modern dan kontemporer Indonesia pada masa awal didirikannya OHD Museum. Kehadiran seni rupa yang bertema keagamaan sebagai koleksinya didasarkan pada perkembangan seni rupa modern Barat yang pada awal kemunculannya bertemakan tentang spiritualitas dan agama. Karya yang bertemakan tentang agama di Indonesia terrepresentasi dari karya Laksmi Sitaresmi. I Made Wiayanta. Lucia Hartini. Butet Kertaradjasa. Nasirun. AD Pirous. Syaiful Adnan. Tita Rubi dan Rispul. Terlebih lagi bahwa tema ini juga berkembang pada seni rupa pasca 1965 dengan konsep bentuk serta media yang berbeda. Keberadaan museum OHD sebagai museum pribadi menempatkan OHD bukan hanya sebagai seorang kolektor atau owner dari OHD Museum, tetapi juga menjadi seorang kurator di Banyaknya karya koleksi yang tersimpan di museum, memberikan keleluasaan dirinya untuk mengatur karya-karya yang akan dipajang dan dipamerakan. Kurator adalah Profesi bagi orang yang menjaga, merawat, memelihara dan memperhatikan serta mengawasi segala sesuatu seperti perpustakaan umum, museum atau sejenisnya (Susanto. Dengan profesinya yang seperti itu, maka kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh kurator adalah pemahaman sejarah kebudayaan, seniman, karya, serta gaya dan aliran yang berkembang (Miftahul Khairi, 2. Eksistensi OHD sebagai kurator seni diperlihatkann ketika dia membuat buku yang berjudul seni dan mengoleksi seni. Buku tersebut terdiri dari kumpula tulisannya selama eksis dalam medan seni rupa indoesia. Sejak 90 an OHD membuat banyak catatan antara lain sebagian besar tertuang pada pengantar katalog pameran dari dalam dan luar negeri. Naskah pidato dan ceramah pada pertemuan seperti seminar dan diskusi publik. Selain itu, eksistesi sebagai kurataor dapat dilihat pada artikel yang ditulisnya pada katalog balai lelang, majalah seni rupa dan fashion serta buku. Aktivitasnya ini menempatkan OHD sebagai pemain yang legitim dalam medann seni rupa Indonesia tidak hanya sebagai kolektor tetapi juga menempati posisi lain seperti kurator atau bahkan patron bagi aktor dalam medan seni ruupa. Dengan kepemilikan karya yang lengkap dan pengetahuan yang mumpuni dalam sejarah seni rupa, dia mudah membuat program-program di museumnya salah satunya adalah pameran Fragments of Modern Indonesian Art History yang dilaksanakan pada tahun 2021. Volume 16 No. 2 Desember 2024 Miftahul Khairi Eksistensi Karya Seni Rupa Islam Dalam Medan Seni Rupa Indonesia: Studi Kasus Pameran Fragments Of Modern Indonesian Art History Di OHD Museum Magelang Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. pISSN 2087-0795 eISSN 2622-0652 Pameran Fragments of Modern Indonesian Art History sebagai strategi OHD Kondisi pandemi yang mejadi bencana global turut di rasakan juga oleh OHD Museum. Jika pada sebelumm pandemi aktivitas pameran kerap dilaksanakan oleh OHD museum, maka pada tahun 2021 OHD museum tercatat melakukan pameran temporer dua kali. Pada kurun waktu tersebut tercatat OHD museum memiliki dua agenda pameran yang cukup penting yaitu pameran Fragment Indonesian Modern Art History dan Pameran yang bertajuk Au potretAy yang merupakan karya-karya dari seniman dan sastrawan senior yaitu goenawan muhammad. Pameran Fragments Indonesian modern art history merupakan pameran yang menampilkan karya-karya seni rupa modern dan kontemporer yang punya peran penting dalam perkembangan seni rupa indonesia yang dikoleksi oleh OHD museum. Karya-karya yang ditampilkan adalah beragam mulai dari penggunaan medium, gaya serta aliran. Terdapat 82 dan 98 karya seniman dipilih untuk merepresentasikan sejarah seni rupa modern dan kontemporer. karya dipamerakan dalam museum mulai dari seniman aestro sampai dengan seniman pendatang baru. Pada pameran ini dapat diidentifikasi terdapat 10 karya tiga dimensi (Patung dann instalas. , 1 Video Art dan 87 karya lukisan. Karya instalasi beberapa diantaranya dapat dilihat dari karya Tita Rubi dan Rispul. Karya video art dapat dilihat dari karya FX Harsono. Sisanya adalah karya dengan medium seni lukis. OHD museum sebagai museum seni rupa yang cukup lengkap di menunjukkann karyakarya terbaik dari koleksinya pada pameran ini. OHD sebagai kurator pameran ini memandang bahwa karya-karya yanng terpilih memiliki peran penting dalam sejarah seni rupa sampai saat ini. Kurator melalui pameran ini melihat bahwa dalam sejarah seni rupa modern indonesia, sanggar dan kelompok senimann memberikan perkembangan penting dalam eksistensi seni rupa modern maupun konntemporer. Keberadaan kelompok dan sanggar tersebut tidak hanya menopang senimann dalam hal karir kesenimanannya tetapi juga menumbuhkan medan seni rupa itu sendiri. Kelompok atau komunitas seni yang ditampilkan dalam pameran ini adalah Kelompok lima. Persagi. SIM. Pelukis Rakjat yang pada awal perkembangan seni rupa punya peran penting dalam pertumbuhan seni rupa modern Indonesia. Selain menampilkan karya-karya pada masa awal seni rupa modern Indonesia kurator juga menampilkan seniman-seniman yang tergabunng dalam komunnitas atau kelompok seni rupa saat ini yang tumbuh dala percatra sei rpa kontemporer Indonesia. Komunitas-kounitas tersebt anntara lain adalah Sakato, jendela, gelaran, genta yang dari sumatra barat memmiliki peran yang sangat penting di seni rupa indonesia. Demikian pula kehadiran sanggar dewata yang merupakan kelompok dari seniman-seniman bali yang menetap di yogyakarta yang selalu melakka aktivitas pameran-pameran di Yogyakarta. Selain itu, peran akademisi seni yang memberikan pendekatan berbeda dalam praktik seni rupa dan hasil karya yang beragam. ASRI. ITB dan IKJ menjadi akademisi seni yang memiliki peran yanng cukup signifikan dalam medan seni rupa modern dan seni rupa kontemporer indonesia. dari seak awal pediriannya karya-karya dari perupa-perupa jebolan akademmisi ini memberikan warna dan citra tersendiri dalam corak karya yang ditampilkannya. Dengan segala corak yang hadir dan ditampilkan dalam pameran ini, kurator mempertimbangkan gaya dan aliran yang berkembang pada medan seni rupa. sederhananya adalah gaya serta corak yang khas dan sangat kotrast dihasilkan oleh akademisi jebolan ASRI dan ITB. Demikian pula yang dihasilkan oleh seniman-seniman jebolan IKJ yang Volume 16 No. 2 Desember 2024 Jurnal Brikolase Online: https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index pISSN 2087-0795 Proses Review : 1 Desember 2024. Dinyatakan Lolos: 29 Desember 2024 eISSN 2622-0652 doi: 10. 33153/brikolase. menampilkan karya konteporer yang khas. Dengan demikian corak khas mazhhab bandung dan mazhab yogyakarta yang menjadi perdebatan dalam seni rupa era soekarno ditampilkan dalam pameran ini. Selera OHD dalam memilih karya Titarubi dan Rispul Trajectory Titarubi Seperti apa yang telah dielaskan di atas bahwa pemilihan karya atau selera OHD dalam memilih karya seni sebagai koleksinya dilakukan dengan perhitungan yang sangat matang. Nilai sejarah, kebaruan ide serta elaborasi teknik dan media baru yang mencitrakan perkembangan seni rupa dipilihkan untuk melengkapi karya-karya koleksinya sehingga memiliki narasi atau rangkaian yang lengkap dalam sejarah seni rupa Indonesia. Dengan motivasi dan kecenderungan yang demikian, selera OHD terkesan politis karena didasarkan memang pada pemahaman modal budaya, sosial, ekonomi dan simbolik yang telah terbangun. Pemilihan OHD terhadap karya Tita rubi tidak terlepas dari trackrecord Titarubi sendiri dalam medan seni rupa indonesia. Sebagai seniman yang sudah eksis sejak tahun 90 an menempatkan titarubi sebagai seniman yang punya legitimasi kuat dalam dunia seni rupa Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat pada trajectory Titarubi sendiri sebagai seniman terlebih lagi sebagai seniman perempuan yang tetap eksis sampai saat ini. Menilik kembali sejarah seni rupa Indonesia, sangat sedikit sekali seniman wanita yang mampu eksis dan menampilkan corak baru dalam seni rupa. Dalam catatan sejarah sejak zaman persagi sampai dengan tahun 1990 an hanya beberapa saja seniman wanita yang eksis dan memiliki nama besar. Beberapa diantaranya adalah Emiria Soenasa. Kartika affandi. Lucia Hartini. Astari Rasjid. Sri Robustinah. Siti Adiyati serta Tita rubi. Tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran seniman wanita ini turut mewarnai dan membawa wacana baru dalam medan seni rupa. Isu kesetaraan Gender, problematika-problematika yang terjadi pada wanita kian dibicarakan dalam wacana seni rupa Indonesia. Isu-isu tersebut salah satunya dibawakan oleh Tita rubi melalui pamerannya yang berjudul bayang-bayang yang maha kecil. Pameran yang diadakan di Cemara 6 Galery Jakarta pada tanggal 15 Januari - 8 Februari 2003. Pada karya ini terlihat ada beberapa poin yang diperlihatkan oleh tita rubi dalam karyanya. Pertama adalah isu tentang persoalan wanita dalam lingkup keluarga yang mana memperlihatkan eksistensi dirinya sebagai Wanita. Istri serta ibu dan juga mengemban profesi sebagai seniman. Lebih dalam lagi bagaimana seorang Titarubi melindungi anak-anaknya dengan baik yang diperlihatkan dengan pahatan kaligrafi yang berisi potongan ayat-ayat Al Quran seperti ayat kursi pada media yang dipilihnya. Kedua. Pahatan kaligrafi potongan ayat kursi sebagai ekspresi untaian doa yang dia dapatkan dari keluarga yang berlatarbelakang religius dan diterapkan pada anak-anaknya. Ketiga adalah penggunaan media baru untuk mengekspresikan karya seninya yang diakui oleh kurator Jim Supangkat sebagai terobosan baru dalam penciptaan karya seni. Volume 16 No. 2 Desember 2024 Miftahul Khairi Eksistensi Karya Seni Rupa Islam Dalam Medan Seni Rupa Indonesia: Studi Kasus Pameran Fragments Of Modern Indonesian Art History Di OHD Museum Magelang Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. pISSN 2087-0795 eISSN 2622-0652 Dokumetasi pameran bayang-bayang yang maha kecil di majalah tempo dan kompas Sumber: Dokumentasi Pribadi Selain itu, kemunculan Tita rubi dan kawan-kawan menghadirkan kembali isu gender dalam medan seni rupa Indonesia. Pada kondisi ini seniman-seniman perempuan memeriksa dan membaca kembali peran perempuan di Indonesia. selanjutnya merujuk bagaimana seniman perempuan hadir dalam medan seni rupa dengan seluruh dinamika pekerjaan rumah tangga yang dibebani terhadap dirinya. Hal itu lebih merujuk pada ungkapan Auwanita juga bisaAy. Hal tersebut dapat dilihat pada isu-isu gender yang sering diartikulasikan Titarubi dalam setiap pamerannya menempatkanya sebagai point of interest dalam seniman perempuan itu sendiri. Hal tersebut dapat dilihat pada pameran tunggalnya yang se (Tubu. dan Kelak Retak serta pada pameran bersama yang berjudul Mata Perempuan. Kepemilikan modal budaya Tita rubi yang terasah selama berkuliah di ITB dengan jurusan kriya keramik memperkokoh kemampuan mengolah bentuk untuk menghasilkan cita rasa estetik dalam karyanya. Demikian pula dengan wacana-wacana dalam karyanya yang up to date yang didukung oleh lingkungan ITB yang tidak pernah kering dengan wacana-wacana seni rupa. Terlebih lagi modal sosial yang terbangun dan terjalin antar sesama seniman, kurator dan kolektor yang dengan mudah menghadirkannya dalam medan seni rupa yang mainstream. Selain itu, reputasi karya seni tidak dapat dipisahkan dari senimannya serta karya itu dipamerkan (Becker, 1. Reputasi karya bayang-bayang yang maha kecil tersebut kian menanjak setelah dipamerkan di galery Singapura yang merupakan tempat yang cukup prestise dalam pasar seni rupa. Pegakuan teradap seniman dan karyanya dapat dilihat dari dukungan budaya dan kreasi atau penemuannya. Selain itu, seniman berinteraksi melalui proses negosiasi, dan seleksi. selanjutnya, reputasi seniman tergantung dari struktur pendukung, yang menilai dari karya seni itu sendiri (Zolberg, 1. Hal ini memperlihatkan bahwa pilihan artistik audience sangat berpengaruh terhadap reputasi atau kedudukan seni itu sendiri. Karya seni adalah modal simbolik bagi seniman sendiri dan kolektor yang mengoleksi karya yang nantinya berfungsi untuk menopang status sosial dan simbolik kolektor untuk memantapkan dirinya sebagai aktor yang legitimated. Terlebih lagi jika dikaitkan dengan karya instalasi di zaman atau era seni rupa kontemporer yang menjamur saat ini dimana seniman harus mampu mengoneksikan antara wujud karya dengan teknik penciptaan sehingga mampu terbahasakan dengan baik. Volume 16 No. 2 Desember 2024 Jurnal Brikolase Online: https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index pISSN 2087-0795 Proses Review : 1 Desember 2024. Dinyatakan Lolos: 29 Desember 2024 eISSN 2622-0652 doi: 10. 33153/brikolase. Seni sebagai bagian dari kebudayaan selalu menampilkan jiwa zamannya. Maka dari itu apa yang ditampilkan Tita rubi dalam karyanya merupakan wacana yang hangat pada masanya. Selain itu, tema-tema dalam karya tita rubi sebagian besar menampilkan tema-tema yang terkini dan segar sehingga dalam setiap karyanya merepresentasikan zamannya. Trajectory Rispul Seperti halnya Titarubi. Rispul memiliki latar belakang keilmuan yang sama yaitu dalam Bidang seni Kriya. Hanya saja tirarubi bergelut dalam Kriya keramik sedangkan Rispul pada kriya Meskipun begitu perlu dicatat bahwa dengan modal pengetahuan mengolah medium membuat seniman ini mampu mengartikulasikan karyanya dengan baik. Perkebagan sei rupa yyang pesat meberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap seniman-seniman saat ini. Meskipun dalam hal latar belakang seni rupa yang berbeda, tuntutan kebaruan dalam hal bentuk, ekspresi serta isi karya seni dalam medan seni rupa mmenjadi hal yang utama. Demikian yang dilakukan rispul dengan mencoba mengembangkan karya-karyanya kearah bentuk karya yang baru Beberapa hal yang perlu digarisbawahi dalam trajectory kesenimanan Rispul adalah konsistensinya dalam menggarap karya kaligrafi. Penggunaan media baru dalam berkesenian serta mampu membawa audiencenya masuk dalam karya seninya menjadi poin utama dalam setiap karyanya. Salah satu karya dengan bentuk yang sama dibuatnya adalah karya yang berjudul Cahaya Ilahi, 2017. Konsistensinya tersebut membawa karya-karyanya sebagai penerus dari tradisi kaligrafi modern yang sebelumnya berkembang. Rispul. Cahaya Ilahi, 2017 Sumber : Dokumentasi Arsip Indo Art Now Volume 16 No. 2 Desember 2024 Miftahul Khairi Eksistensi Karya Seni Rupa Islam Dalam Medan Seni Rupa Indonesia: Studi Kasus Pameran Fragments Of Modern Indonesian Art History Di OHD Museum Magelang Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. pISSN 2087-0795 eISSN 2622-0652 Secara bentuk. OHD memilihnya karena merupakan bentuk baru dari seni rupa Islam kontemporer degan subect matter nya kaligrafi arab. Kaligrafi arab yang dijadikan sebagai instalasi menjadi varian baru dalam karya kaligrafi. Hal ini berdasar pada koleksi-koleksi seni rupa Islam . yang telah dikoleksi lebih dulu oleh OHD seperti karya Syaiful Adnan dan AD. Pirous sebagai angkatan pelopor seni kaligrafi modern. Pengalaman visual OHD sangat paham tentang bentuk karya seni Rupa Islam yang fresh dan baru menuntun untuk memilih karya Rispul yang berjudul Gua Hira. Aktor dalam medan seni rupa yang memiliki posisi legitimated cenderunng melihat dan menggunakan modal-modalnya untuk memperkuat legitimasinya dalam medan yang dimainkannya. Dalam memilih karya Rispul dengan tema Islam melengkapi karya seni koleksi OHD yang berhubungan dengan Agama dan Spiritual, khususnya seni rupa Islam. Dengan demikian memperkokohh reputasinya sebagai kolektor murni serta menaikkan reputasi museumnya dengan koleksi yang lengkap. Selera Koleksi Selera merupakan kecenderungan dari seorang aktor dalam memilih sesuatu salah satunya karya seni. Dengan kata lain selera merupakann praktik dari individu maupun kelommpok yang memberikan pemahaman akan statusnnya dalam lingkungan sosial. Status sosial seseorang dapat dilihat dari seleranya dalam medan tertentu salah satunya seni rupa (Grenfell & Hardy, 2007. Aktor akan senantiasa memilih karya-karya yang memiliki nilai dan reputasi dalam medan untuk menempatkan dirinya sebagai pemainn yang legitim di dalamnya. Selera individu tidak dapat dilepaskan dari akmulasi modal yang telah teriternalisasi dalam dirinya melalui habitusnya (Zolberg, 1. Modal budaya, sosial, ekonomi dan simbolik yang telah tertanam menuntun preferensi dalam memilih sesuatu contohnya karya seni. Selera individu dalam pandangan Bourdieu tidaklah netral. Dengan kata lain selera bersifat sagat politis karena selera tersebut akan menuntun pada rekognisi dalam medan sosial seni. OHD dalam memilih karya sebagai Koleksinya menentukan kriteria tertentu. Sebagaian besar karya yang diburunya adalah karya-karya yang memiliki nilai sejarah dalam mainstream medan seni rupa Indonesia. Dengan demikian, karya yang dikoleksi memiliki nilai yang cukup tinggi secara ekonomi dan simbol serta memiliki reputasi yang baik untuk menunjang modal simboliknya sebagai kolektor dan private Bourdieu membagi tiga kriteria tiga jenis selera dalam masyarakat terkait tentang seni. Bourdieu memetakkan kategori selera yang terdiri dari selera legitimated, selera middle-brow dan selera popular (Zolberg, 1. Pemetaan terkait selera ini tidak terlepas dari pondasi dasar teoritisnya yaitu habitus, modal dan arena. Peran ketiga pondasi teoritis ini menentukan bagaimana motif atau kepentingan OHD dalam memilih karya-karya koleksinya. Posisinya sebagai kolektor dengan kepemilikan karya-karya seni mastepiece, menempatkan dirinya sebagai kolektor yang memiliki reputasi yang cukup baik dalam medan seni rupa Indonesia. Modal yang telah terinternalisasi menuntun pada pengkoleksian karya. Modal budayanya terbangun dari aktivitasnya memantau dan memahami karya seni yang up to date yang kemudian menuntun dirinya untuk memilih karya-karya yang memiliki reputasi Peranannya sebagai ketua asosiasi kolektor Asia menjadi modal penting untuk memahami dan mendalami pengalaman visual dalam memilih karya. Pemahamannya tentang sejarah seni Volume 16 No. 2 Desember 2024 Jurnal Brikolase Online: https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index pISSN 2087-0795 Proses Review : 1 Desember 2024. Dinyatakan Lolos: 29 Desember 2024 eISSN 2622-0652 doi: 10. 33153/brikolase. rupa dan perkembangan seni rupa terkini memperkaya wawasannya dalam memilih karya. Selain itu, pengetahuan tentang media penciptaan seni melalui lawatan-lawatannya ke luar negeri menjadi modal budaya yang penting dalam memilih karya. OHD memahami bahwa seni dan budaya adalah merupakan bagian penting dari kehidupan Kebutuhan jasmani dan rohani menjadi kebutuhan yang harus terpenuhi dalam diri Pun demikian kolektor maupun seniman. Kolektor mengoleksi karya untuk kebutuhan rohani serta kepuasan batin untuk mendapatkan karya yang disukai dan diinginkannya. Begitupun dengan seniman berkarya dengan memenuhi kebutuhan rohaninya. Ini sangat berkaitan dengan preferensi pengkoleksian karya. Untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut, tak jarang dalam koleksinya. OHD mengoleksi karya yang berhubngan dengan agama dan spiritual. Representasinya adalah karyakarya yang bercorak spiritual dan Agama seperti karya kaligrafi Syaiful adnan dan AD Pirous serta karya Rispul dan Tita rubi untuk karya yang behubungan dengan agama Islam. Selain itu, karya Lucia hartini yang bertema tetang kekristenan dan Nasirun yang berhubungan dengan Islam tradisi. Kemampuan OHD dalam mengolah modal budaya untuk mengoleksi karya adalah ketika pemilihan karya-karya yang bertemakan spiritual dan agama tidak hanya karya yang dua dimensional yang bermedia kanvas dan cat minyak. Pemilihan karya koleksi dengan tema yang serupa dengan media yang berbeda memperlihatkan ada kelanjutan dari pengolahan tema yang sama tapi dengan menggunakan media baru dalam seni rupa Islam. Dengan kecenderungan pemilihan karya koleksi seperti ini, menunjukkan bahwa dirinya memperhatikan perkembangan seni rupa Islam yang dulunya hanya berkutat pada media terapan serta konvensional berkembang menjadi karya dengan media yang baru. Kekuatan modal ekonomi yang dimiliki OHD membuat dirinya mmampu dengan mudah mengoleksi karya yanng berkualitas dan mahal. Selain sebagai seorang dokter. OHD juga memiliki perusahaan tembakau yang mana pemasukannya mampu untuk mendapatkan karya-karya yang bagus dengan harga yang mahal. Pengetahuan tentang karya seni rupa terbangun dari bagaimana seorang aktor dalam medan mampu menjalin relasi dalam medan yang dimainkannya. Demikian pula dengan legitimasi yang diterimanya terbangun atas dasar kelihaian aktor dalam memainkan perannya dalam ruang Keaktifannya dalam menghadiri pembukaan pameran, bertemu dengan para seniman, kritikus, kurator dan sesama kolektor membuka ruang yang seluas-luasnya untuk mengepakkan sayap dalam medan seni rupa indonesia dan internasional. Dalam ranah seni rupa Asia. OHD didaulat sebagai senior advisor to the board singapore art museum dan art retreat singapore. Hal ini penting untuk dicatat karena singapura merupakan negara yang paling lengkap menyedikan ruang serta fasilitas mengenai seni rupa asia tenggara dan asia serta tempat yang paling sering dan aktif melakukan lelang karya seni rupa. Dengan kata lain. Singapura merupakan pasar seni rupa asia dan internasional. Melalui cara-cara tersebut. OHD memantapkan modal sosialnya dalam medan seni rupa Indonesia dan Internsional. Posisi OHD terlegitimasi dengan kepemilikan karya-karya seniman materpiece yang secara otomatis menaikkan status simboliknya sebagai kolektor ternama di Indonesia. Terlebih lagi dengan banyaknya karya-karya seni yang dimilikinya dan membuat museum untuk menampilkan karyakarya tersebut menaikkan status sosialnya sebagai kolektor yang memiliki reputasi yang baik dalam medan seni rupa. Hal tersebut menampik kesan bahwa kolektor hanya mengoleksi karya dengan Volume 16 No. 2 Desember 2024 Miftahul Khairi Eksistensi Karya Seni Rupa Islam Dalam Medan Seni Rupa Indonesia: Studi Kasus Pameran Fragments Of Modern Indonesian Art History Di OHD Museum Magelang Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. pISSN 2087-0795 eISSN 2622-0652 tujuan ekonomi belaka. Tapi lebih daripada itu, apa yang ditunjukkan oleh OHD melalui Pendirian Museum yang karya-karyanya yang berhubungan dengan sejarah seni rupa Indonesia, menunjukkan perhatiannya terhadap perkembangan seni rupa Indonesia. Demikianlah bagaimana modal simbolik OHD melalui karya-karya koleksinya menjadi aktor yang legitim dalam medan seni rupa Indonesia. Kepemilikan modal yang selalu berkembang melalui habitus dalam medan seni rupa yang berkembang menuntun OHD pada selera legitimated. Pengetahuan tentang seni rupa, relasi yang terbangun, karya koleksi yang representatif, serta ekonomi yang kuat dalam mendapatkan karya seni yang diinginkannya menuntun dan memperkuat posisinya. Tak jarang OHD sering diundang untuk membuka pameran seni rupa, menjadi narasumber dalam diskusi dan seminar serta banyak pula seniman yang turut andil dalam pembangunan private museumnya. Kepemilikan modal, serta habitus yang terbentuk dalam medan seni rupa mepengaruhi selera estetis dan visual OHD. Konektivitas yang terbangun dengan para kolektor dari dalam dan luar negeri melalui dialog-dialog serta kehadirannya dalam setiap lelang karya seni memberikan referensi yang cukup luas dalam hal pemilihan karya koleksinya. Lawatan-lawatan ke setiap event seni rupa nasional dan internasional, kunjungan ke galery swasta serta studio seniman memperluas dan memperdalam cara baca serta cara pandangnya tentang seni rupa. Terlebih lagi, kolegakoleganya yang didominasi oleh kurator-kurator ternama seperti Suwarno Wistrotomo. Jim Supangkat. Dwi Marianto dan kurator senior lainnya memperdalam wacananya tentang seni Dalam medan seni rupa, jalinan kerjasama yang terbentuk dengan kuat dalam medan akan mempengaruhi konvensi yang diakui dalam medan tersebut. Dengan demikian, konektivitas yang terbentuk itu, secara langsung maupun tidak langsung menuntun atau menetapkan selera serta standar karya yang bagus dan tidak. Dalam hal ini. OHD masuk dalam lingkaran tersebut dan kehadirannya dalam setiap pameran untuk membuka acara atau memberikan kata pengantar dalam pameran seni adalah representasi sebagai pemain yang legitim dalam medan seni rupa. Selain itu, keberadaan OHD museum dengan karya modern dan kontemporer yang ada di dalamnya adalah menjadi simbol bagaimana OHD membranding diri dan koleksinya menjadi koleksi yang penting dan perlu untuk dilirik oleh orang-orang yang bergelut dalam medan seni rupa Indonesia dan Internasional. Kolektor dalam art world memiliki peran penting dalam keutuhan medan seni rupa. Perannya sebagai masyarakat penyangga seni memperkuat structral support dalam medan seni rupa. keberadaan OHD. Melani Setiawan. Wiyu Wahono. Benni santosa Halim. Edwin Rahadjo dll sebagai kolektor membuat struktur medan menjadi tetap utuh. Perihal aktivitas mengoleksi tenentu memiliki motif dan kepentingan. Ada kolektor yang mengoleksi karya memang murni karena pengetahuan dan selera estetik yang terbangun dari habitusnya dalam medan seni rupa. Ada pula yang memiliki motif untuk menjual kembali lukisan yang telah dikoleksinya sebagai untuk menambah pundi-pundi ekonomi. Penulis mencoba menelaah selera OHD dalam mengoleksi serta memilih karya Rispul dan Titarubi sebagai bagian dari karya pameran dimulai dari membagi tipe Kolektor murni dan Kolekdol. Kolektor murni adalah orang yang memang memiliki hasrat murni untuk mengoleksi karya seni untuk kepentingan pemuasan batin pribadinya serta sadar bahwa karya seni yang dikoleksinya tidak hanya sekedar memiliki nilai ekonomi. Kolekdol adalah pengoleksi karya seni yang punya motif untuk menjual kembali kara seni dengan harga yang mahal. motifnya adalah Volume 16 No. 2 Desember 2024 Jurnal Brikolase Online: https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index pISSN 2087-0795 Proses Review : 1 Desember 2024. Dinyatakan Lolos: 29 Desember 2024 eISSN 2622-0652 doi: 10. 33153/brikolase. untuk mendapatkan keuntungan ekonomi yang lebih dari karya seni yang dikoleksinya. Biasanya kelokdol cenderung pragmatis dalam memilih dan membeli karya. Kolektor lukisan murni cenderung tidak memiliki motif yang spekulatif dalam mengoleksi karya seni rupa. Seleranya cenderung mempengaruhi pasar selera mainstream pasar (Cempaka. Dengan demikian, struktur sosialnya cenderung menempati posisi yang tinggi karena akumulasi modal (Budaya. Ekonomi. Sosial dan Simboli. yang dimilikinya seimbang sehingga mampu menyeleksi serta mendapatkan karya yang diinginkannya. Pengoleksian karyanya memperhatikan kualitas mutu dan estetika karya karena habitusnya sudah terbentuk dengan baik. Trend pasar tidak terlalu berpengaruh karena secara otomatis habitusnya mengontrol pemilihan Selain itu, karya koleksinya diperlakukan dengan baik dengan menempatkannya pada ruang yang seharusnya seperti private museum dan Galery seperti pada kasus OHD Museum. Hal yang bertolak belakang terjadi pada Kolekdol. Trend pasar cenderung diikuti karena memiliki motif ekonomi yang tinggi terutama dalam hal memperjualbelikan karya seperti spekulan atau pedagang. Kepemilikan modal (Budaya/ wawasan sen. yang tidak seimbang dan tergiting akan selera pasar yang berkembang dan bersifat temporer. Habitus OHD yang terbentuk dengan baik dari keluarga, relasi dalam medan seni rupa menempatkannya sebagai kolektor murni. Hal itu diperlihatkan dengan karya-karya koleksinya yang memang menyasar pada karya seni yang memiliki peran besar dalam perkembangan sejarah seni rupa Indonesia dan dunia. Selera OHD yang legitmated sebagai kolektor murni memberikan pengaruh dan dampak pada karya seniman yang dikoleksinya Contohnya adalah karya Edi Sunaryo, setelah dikoleksinya, harga karyanya naik secara drastis pada pasar seni rupa. Posisi kolektor OHD yang sudah terlegitimasi, menempatkan distingsi terhadap koleksinya untuk mepertahankan posisinya. Hal itu dilakukan dengan menetukan kriteria dalam pengoleksian Pertama, track record seniman dalam medan seni rupa. Kedua, keterwakilan seniman dalam peta sejarah seni rupa Indonesia. Ketiga, seniman mampu merelasikan ide penciptaan karyanya dengan media yang dipilih. Keempat, karya yang dibuat mampu merepresentasikan zamannya, baik dalam penggunaan media maupun wacana dan isu yang diangkat. Bayang-bayang- yang maha kecil dan Gua Hira dikoleksinya dimana era seni rupa menginjak era dimana seni rupa hadir dengan semangat seni rupa kontemporer. Era dimana semua gaya seni berkembang massif dan menuntut seniman kreatif dalam segala hal baik dalam kebaruan ide penciptaan maupun pengolahan media yang baru dan segar serta mampu merelasikan keduanya. Titarubi dan karyanya diamati melalui trajectorynya serta mampu bertahan dalam medan seni rupa Indinesia. Isu gender, sejarah, penciptaan seni berbasis riset menghasilkan karya-karya yang elitis dan out of the box. Karya nya yang berbasis riset terbaru adalah karya pala dan instalasi kapal yang dipajang atau ditempatkan di bandara Jendral Ahmad Yani semarang. Demikian pula dengan karya-karya Rispul yang dengan konsisten menggarap karya-karya kaligrafi dalam bentuk instalasi yang memperlihatkan keberlanjutan karya seni rupa islam yang seblumnya cenderung memanfaatkan karya lukisan sebagai ekspresinya. Kolektor murni memanfatkan seluruh modalnya dengan baik. Demikian pula yang dilakukan OHD dalam mengoleksi karya. Modal budaya yang dimilikinya digunakan untuk memilih karya yang memang berkualitas. Pengalaman visual melalui visit galery di dalamm maupun di luar negeri memberikannya pengalaman visual maupun referensial sehingga mampu memilih karya yang Terlebih lagi bahan bacaannya terkait sejarah seni rupa menopang akan semua hal Volume 16 No. 2 Desember 2024 Miftahul Khairi Eksistensi Karya Seni Rupa Islam Dalam Medan Seni Rupa Indonesia: Studi Kasus Pameran Fragments Of Modern Indonesian Art History Di OHD Museum Magelang Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. pISSN 2087-0795 eISSN 2622-0652 Ketika trend seni rupa kontemporer mencuat dan menjamur pada tahun 2000an, kolektor dituntut untuk mencari dan menemukan karya yang menarik secara konsep dan bentuk Pada kodisi inilah modal budaya kolektor diuji, dengan mampu membaca perkembangan seni rupa yang akan datang. Tentunya dengan kepentingan untuk membuat koleksinya bertahan dan tetap bernilai kedepannya bahkan sampai dengan senimannya meninggal. SIMPULAN OHD merupakan kolektor yang terlegitimasi dlam medan seni rupa Indonesia. Kolektor ini memiliki akumulasi modal yang seimbang, olehkarena itu untuk memperkuat posisinya dalam medan seni rupa OHD membuat kriteria tersendiri dalam pengoleksian karya seni. Kriteria ini dibuat untuk memberikan distingsi terhadap kolektor lainnya. Kriteria tersebut digunakan dalam memilih karya Titarubi dan Rispul. Olehkarena OHD menjadi kurator dalam pameran Fragments of modern Indonesian art history, maka pemilihan terhadap karya koleksinya sejalan dengan selera pribadinya dan diseleksi dengan ketat karena keterbatasan ruang pamer. Keterlibatan karya Bayang-Bayang yang Maha Kecil dan Gua Hira dalam pameran tersebut didasarkan pada kedua seniman merupakan perupa akademisi, menampilkan corak baru dalam seni rupa Islam, mewakili bentuk seni baru yang berkembang dalam seni rupa kontemporer Indonesia sehingga mampu merpresentasikan sejarah seni rupa Indonesia. DAFTAR PUSTAKA