ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29526-29531 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Pengaruh Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Interpersonal terhadap Perilaku Prososial Siswa Sekolah Dasar Devi Wahyuni1. Ahmad Susanto2. Muhamad Sofian Hadi3 1,2,3 Pendidikan Dasar. Universitas Muhammadiyah Jakarta e-mail: deviwahyuni9@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kecerdasan emosional dan kecerdasan interpersonal terhadap perilaku prososial pada siswa sekolah dasar. Latar belakang masalah menunjukkan bahwa perkembangan teknologi yang pesat telah membawa dunia ke era digital, di mana kecerdasan emosional dan interpersonal menjadi krusial dalam adaptasi siswa terhadap perubahan teknis dan sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode Populasi penelitian adalah siswa kelas IV dan V di SD Lab School FIP UMJ, dengan sampel sebanyak 126 siswa yang diambil menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner . untuk mengukur kecerdasan emosional, kecerdasan interpersonal, dan perilaku prososial. Analisis data dilakukan menggunakan regresi sederhana dan berganda, serta uji hipotesis parsial . dan simultan . ji F) dengan bantuan SPSS 20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan emosional berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku prososial, dengan kontribusi sebesar 22,5%. Kecerdasan interpersonal berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku prososial, dengan kontribusi sebesar 28,6%. Kecerdasan emosional juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap kecerdasan interpersonal, dengan kontribusi sebesar 16,4%. Secara simultan, kecerdasan emosional dan kecerdasan interpersonal berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku prososial, dengan kontribusi sebesar 36,5%. Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya pengembangan kecerdasan emosional dan interpersonal untuk meningkatkan perilaku prososial siswa. Kata kunci: Kecedasan Emosional. Kecerdasan Interpersonal. Perilaku Prososial Abstract This study aims to analyze the influence of emotional intelligence and interpersonal intelligence on prosocial behavior among elementary school students. The background of the problem shows that the rapid development of technology has brought the world into the digital era, in which emotional and interpersonal intelligence are crucial for studentsAo adaptation to technical and social changes. This research employs a quantitative approach with a survey method. The research population consists of 4th and 5th grade students at SD Lab School FIP UMJ, with a sample of 126 students selected using simple random sampling. Data were collected through questionnaires to measure emotional intelligence, interpersonal intelligence, and prosocial behavior. Data analysis was conducted using simple and multiple regression, as well as partial hypothesis testing . -tes. and simultaneous testing (F-tes. with the aid of SPSS 20. The results indicate that emotional intelligence has a positive and significant effect on prosocial behavior, contributing 22. Interpersonal intelligence has a positive and significant effect on prosocial behavior, contributing Emotional intelligence also has a positive and significant effect on interpersonal intelligence, contributing 16. Simultaneously, emotional intelligence and interpersonal intelligence have a positive and significant effect on prosocial behavior, with a contribution of The implication of this study is the importance of developing emotional and interpersonal intelligence to enhance studentsAo prosocial behavior. Keywords : Emotional Intelligence. Interpersonal Intelligence. Prosocial Behavior Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29526-29531 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 PENDAHULUAN Pendidikan dasar merupakan fondasi penting dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak. Pada masa ini, anak tidak hanya belajar mengenal dunia kognitif melalui mata pelajaran formal, tetapi juga mulai memahami nilai-nilai sosial, norma, serta bagaimana membentuk relasi dengan orang lain di luar lingkup keluarga. Salah satu aspek penting dalam perkembangan sosial ini adalah perilaku prososial, yaitu perilaku yang dilakukan secara sukarela untuk membantu, mendukung, atau memberi manfaat bagi orang lain tanpa mengharapkan Menurut (Hidayat & Bashori, 2. Perilaku prososial sebagai tindakan oleh orang lain dengan tujuan mengurangi stres fisik dan psikologis. Perhatikan bahwa perilaku prososial masing masing individu adalah hasil dari respons saraf yang terjadi di otak. Perilaku prososial muncul karena hasil dari interaksi manusia sebagai makhluk sosial atau adanya keterkaitan antara berbagai macam faktor. Akan tetapi, saat ini yang perlu dipertanyakan adalah apakah manusia secara alami berperilaku prososial atau egois, dan apakah manusia dalam tingkat apapun benarbenar termotivasi untuk berperilaku prososial. Manusia tidak terlepas berkelompok, individu dalam kehidupannya selalu berinteraksi dengan individu lainnya. Individu juga tidak terlepas dari bantuan individu lain, individu dalam memberikan bantuan perlu menumbuhkan rasa tulus ikhlas tanpa mengharapkan imbalan, hal tersebut disebut sebagai perilaku prososial. Perilaku prososial merupakan tindakan menolong yang memberi manfaat kepada orang lain tanpa harus memberikan timbal balik atau keuntungan untuk orang yang menolong (Baron & Byrne,2. Seiring dengan kemajuan teknologi dan komunikasi pada saat ini semakin banyak individu yang mementingkan dirinya sendiri atau berkurangnya rasa tolong menolong antara sesama. Semakin berkembangnya aktivitas pada setiap orang, maka akan semakin sibuk dengan urusannya sendiri, yang memunculkan sifat atau sikap individualisme yang menjadi ciri manusia Individualisme ini merupakan faham yang bertitik tolak dari sikap egoisme, mementingkan dirinya sendiri, sehingga mengorbankan orang lain demi kepentingan dirinya sendiri. Menurut Cahyono . Tingkah laku manusia kadangkala mementingkan dirinya Fenomena ini seringkali terlihat bahwa ketika ada orang mengalami kesulitan sering tidak mendapatkan bantuan dari orang lain. Sebagian lagi ketika menyaksikan orang lain dalam kesulitan langsung membantunya, sedang yang lain barangkali diam saja meskipun mampu untuk Sebagian lagi cenderung menimbang-nimbang lebih dalam sebelum bertindak, ada pula yang ingin membantu, tetapi motifnya bermacam-macam dan seterusnya. Prasetyo, dkk . perkembangan arus globalisasi dan digitalisasipun membuat perubahan yang signifikan terhadap perilaku sosial masyarakat, khususnya siswa di sekolah. Sebagai lembaga pendidikan, sekolah harus mampu menghadirkan pembelajaran yang dapat meningkatkan karakter siswanya. Pada kenyataannya, pembelajaran yang saat ini telah berjalan belum sepenuhnya memberikan hasil positif dalam pembentukan karakter siswa. Dari beberapa hasil penelitian menyatakan, perilaku atau sikap siswa Sekolah Dasar (SD) Kelas V perlu menjadi Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh kementrian Kesehatan . Gangguan kesehatan mental atau depresi merupakan masalah kejiwaan yang rentan terjadi pada remaja. Data di Indonesia menunjukkan sebanyak 6,1 % penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas mengalami gangguan kesehatan mental. Dimana salah satunya disebabkan oleh ketidakmampuan dalam mengendalikan perilaku dan emosi yang mengakibatkan kesakitan dan kematian. Hal ini juga dibuktikan oleh (J & Matulessy, 2012. Saekoni, 2005 dalam Sabiq, 2. mulai hilangnya sikap prososial seperti gotong royong, toleransi, sikap agresif remaja dan kurangnya kepekaan antar sesama menjadi masalah-masalah sosial yang komplek bagi remaja saat ini. Suparmi . mengatakan, sebagian siswa SD belum mampu melakukan kerjasama dengan siswa lainnya. Hasil penelitian menujukkan sebagian siswa SD melakukan tindakan bulliying kepada siswa lainnya (Wiwit, 2017. Raskauskas et al. , 2010. Hertinjung, 2. Mayoritas siswa SD cenderung mengalami masalah perilaku sosial, sehingga keberadaan sekolah diharapkan mampu untuk menyelesaikan masalah perilaku siswa (Anisah, 2015. Prihatiningsih & Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29526-29531 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Wijayanti, 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku prososial seperti menolong dan berempati siswa SD masih perlu ditingkatkan (Suparmi, 2. Hal tersebut selaras dengan Sugiyanto . siswa SD merupakan generasi penerus bangsa yang diharapkan dapat memajukan bangsa Indonesia. Perilaku prososial dan sikap-sikap yang baik sudah seharusnya tertanam dengan baik pada diri mereka. Berdasarkan observasi pada siswa kelas V SD se Gugus II Kecamatan Pengasih Kabupaten Kulon Progo, di peroleh data bahwa di SD Pengasih 1, 9 siswa mencontek saat ulangan atau mengerjakan tugas, 2 siswa enggan membantu ketika teman meminta tolong, 3 siswa individualis. Sedangkan di SD Serang, 5 siswa sering melihat pekerjaan temannya ketika mengerjakan soal, 3 siswa enggan membantu ketika teman meminta tolong, dan 1 siswa individualis. Idealnya untuk dapat memajukan bangsa Indonesia mereka seyogyanya dapat memiliki perilaku sosial yang baik. Menurut Suryanto dkk. 2:168- . perilaku prososial dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya: . faktor genetis . he selfish gene, kelompok kerjasama, dan kepribadia. , . uasana hati yang baik, dan emosi negati. , . mpati dan altruisme, alternatif egoistik, keterbatasan altruism. , . arakteristik orang yang ditolong, kecocokan antara orang yang menolong dengan yang ditolong, dan pengaruh kedekata. , . odel, norma, reward, tempat tinggal, dan kondisi masyaraka. Dua aspek psikologis yang diyakini memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku prososial adalah kecerdasan emosional . motional intelligenc. dan kecerdasan interpersonal . nterpersonal intelligenc. Kecerdasan emosional merupakan kemampuan individu untuk mengenali, memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosi secara konstruktif, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Siswa yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi umumnya mampu mengendalikan emosi negatif seperti marah atau kecewa, memahami perasaan orang lain, serta merespons konflik sosial dengan cara yang lebih positif dan kooperatif. (Suryanto dkk. 2:168- . Meskipun demikian, pengembangan kecerdasan emosional dan interpersonal pada anak usia sekolah dasar sering kali belum menjadi perhatian utama dalam praktik pendidikan. Kurikulum cenderung masih berorientasi pada pencapaian akademik, sementara pembinaan karakter dan kemampuan sosial-emosional belum terintegrasi secara optimal dalam proses pembelajaran. Guru juga kerap menghadapi keterbatasan dalam hal waktu, metode, dan pemahaman untuk membina kemampuan-kemampuan ini secara terstruktur dan berkesinambungan. Hal ini sejalan dengan hasil observasi di SD Lab School FIP UMJ, terdapat siswa yang kesulitan mengendalikan emosinya, seperti ketika dia mengajak teman untuk bermain lalu temannya tidak mau bermain dengannya maka ia akan memukul atau mendorong temannya karena kecewa, terdapat siswa yang kesulitan bersosialisasi karena menganggap dirinya tidak cukup asik, sehingga ia tidak mau bersosialisasi padah temannya sudah mencoba mengajak untuk main ataupun makan bersama. Kurangnya kesadaran membantu teman atau guru dalam melakukan aktivitas, siswa cenderung membantu teman yang memiliki kedekatan, dan terdapat siswa yang mengejek temannya hingga temannya kesal. Namun ada juga siswa yang yang selalu menawarkan bantuan kepada gurunya ketika guru sedang membawa banyak barang. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Metode survei merupakan metode yang mengumpulkan informasi dari suatu sampel dengan menanyakan melalui Dalam penelitian ini, data diperoleh dari 126 responden yang merupakan siswa kelas 4 dan 5 SD Lab School Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jakarta. Survei ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sikap peduli lingkungan dan tanggung jawab lingkungan terhadap perilaku peduli lingkungan siswa sekolah dasar. Teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan observasi, kuesioner . dengan alat ukur skala likert dan dokumentasi yang menunjang penelitian. Dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis data yaitu, . Uji Instrumen . ji validitas, dan uji realibilita. , . Uji prasyarat data . ji normalitas, uji linieritas, uji homogenita. , . Uji Hipotesis . ji t dan uji . Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29526-29531 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam penelitian survei kuantitatif, uji prasyarat dilakukan terlebih dahulu untuk menunjukkan bahwa varians data sama atau homogen, diikuti dengan uji homogenitas menggunakan program SPSS. Uji homogenitas dilakukan dengan menggunakan Levene Statistics. Ringkasan uji homogenitas disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Test of Homogenety of Variances Test of Homogeneity of Variances Levene Statistic df1 Kecerdasan Based on Mean Based on Median Based on Median and with . adjusted df Based on trimmed mean Kecerdasan Based on Mean Interpersonal Based on Median Based on Median and with 1. adjusted df Based on trimmed mean Sig. Berdasarkan output di atas hasil dari uji homogenitas diketahui nilai signifikansi pada variabel (XCA) kecerdasan emosional terhadap variabel (Y) perilaku prososial yaitu 0,247 > 0,05, maka dapat disimpulkan adalah homogen. Kemudian hasil uji pada variabel (XCC) kecerdasan interpersonal terhadap variabel (Y) perilaku prososial yaitu 0,170 > 0,05, maka dapat disimpulkan adalah homogen. Uji normalitas, yang digunakan untuk menentukan apakah data dalam penelitian ini terdistribusi normal atau tidak, merupakan uji prasyarat kedua. Uji Kolmogorov-Smirnov digunakan untuk menentukan normalitas. Tabel berikut menunjukkan hasil keluaran SPSS untuk uji normalitas data. Tabel 2. One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardized Residual Normal Parameters Mean Std. Deviation Most Extreme Differences Absolute Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Test distribution is Normal. Calculated from data. Lilliefors Significance Correction. This is a lower bound of the true significance. Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 yaitu 0,200 > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa data dalam penelitian berdistribusi normal. Setelah lolos uji prasyarat, data harus dianalisis. Analisis regresi sederhana digunakan untuk menentukan faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap perilaku peduli lingkungan. Berikut ini adalah ringkasan hasil analisis data yang diperoleh menggunakan program SPSS. Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29526-29531 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Tabel 3. Hasil uji Regresi Sederhana XCA dan Y Model Summary Adjusted R Std. Error of the Model R Square Square Estimate Predictors: (Constan. Kecerdasan Emosional Berdasarkan tabel output SPSS AuModel SummaryAy di atas, koefisien atau nilai R adalah 0,474 dan nilai R squre atau koefisien determinasi (KD) yang diperoleh sebesar 22,5 % yang artinya variabel kecerdasan emosional ) berpengaruh sebesar 22,5 % terhadap variabel perilaku prososial (Y). Tabel 4. Hasil uji Regresi Sederhana XCC dan Y Model Summary Adjusted R Std. Error of the Model R Square Square Estimate Predictors: (Constan. Kecerdasan Interpersonal Berdasarkan tabel output SPSS AuModel SummaryAy di atas, koefisien atau nilai R adalah 0,535 dan nilai R squre atau koefisien determinasi (KD) yang diperoleh sebesar 28,6 % yang artinya variabel kecerdasan interpersonal ) berpengaruh sebesar 28,6 % terhadap variabel perilaku prososial (Y). Tabel 5. Hasil uji Regresi Sederhana dan XCC Model Summary Adjusted R Std. Error of Model R R Square Square the Estimate Predictors: (Constan. Kecerdasan Interpersonal Berdasarkan tabel output SPSS AuModel SummaryAy di atas, koefisien atau nilai R adalah 0,406 dan nilai R squre atau koefisien determinasi (KD) yang diperoleh sebesar 16,4 % yang artinya variabel kecerdasan emosional ) berpengaruh sebesar 16,4 % terhadap kecerdasan interpersonal ( ). Hasil analisis data antara variabel kecerdasan emosional terhadap perilaku prososial dapat dijelaskan bahwa, terdapat pengaruh antar keduanya, yakni sebesar 22,5%. Hal ini juga dapat dijelaskan dalam penelitian Utari dan Rustika . tingginya taraf kecerdasan emosional dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Goleman faktor yang kecerdasan emosional adalah lingkungan keluarga dan lingkungan non keluarga. Hasil analisis data antara variabel kecerdasan interpersonal terhadap perilaku prososial dapat dijelaskan bahwa, terdapat pengaruh antar keduanya, yakni sebesar 28,6 % yang artinya variabel kecerdasan interpersonal ) berpengaruh sebesar 28,6 % terhadap variabel perilaku prososial (Y). Hal ini sejalan dengan hasil penelitain Melati dan Maryam . Apabila kecerdasan interpersonal tinggi maka kualitas dan kuantitas interaksi sosial juga akan meningkat sehingga akan berpengaruh pada tingkat prososial seorang individu. Dalam berinteraksi dengan orang lain membutuhkan penguasaan keterampilan komunikasi dan sensitivitas sosial, kedua hal tersebut perlu ditingkatkan dengan cara individu mengungkapkan pemikirannya melalui berkomunikasi dan memperbanyak interaksi dilingkungan sosial yang lebih luas. Hasil analisis data antara variabel kecerdasan emosional terhadap kecerdasan interpersonal dijelaskan bahwa, terdapat pengaruh antar keduanya, yakni sebesar 16,4%. Wulandari . terdiri dari faktor internal . aktor bawaan yang sifatnya geneti. dan faktor Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29526-29531 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 eksternal . aktor yang memengaruhi perkembangan kecerdasan individu seperti tingkat pendidikan dan pengalaman yang dimiliki individ. SIMPULAN Kecerdasan emosional berpengaruh signifikan terhadap perilaku prososiL siswa SD Lab School Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jakarta sebesar 22,5 persen, kecerdasan emosional berpengaruh signifikan terhadap perilaku prososial siswa SD Lab School Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jakarta sebesar 28,6 persen, dan kecerdasan emosional berpengaruh signifikan terhadap kecerdasan interpersonal siswa SD Lab School Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jakarta sebesar 16, 4 persen. pengembangan kecerdasan emosional dan interpersonal adalah esensial untuk meningkatkan perilaku prososial siswa. Ini memberikan landasan kuat bagi institusi pendidikan untuk mengintegrasikan program-program yang berfokus pada pengembangan keterampilan sosialemosional, tidak hanya untuk mendukung prestasi akademik, tetapi juga untuk membentuk individu yang lebih empatik, kooperatif, dan bertanggung jawab dalam masyarakat. DAFTAR PUSTAKA