Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknologi https://journal. id/index. php/ABDIKAN ISSN 2828-4526 (Media Onlin. | ISSN 2828-450X (Media Ceta. Vol. 4 No. 3 (Agustus 2. 245-253 DOI: 10. 55123/abdikan. Submitted: 12-06-2025 | Accepted: 28-07-2025 | Published: 10-08-2025 Edukasi Masyarakat terhadap Pemanfaatan Limbah Minyak Jelantah Menjadi Lilin Aromaterapi Yulia Nur Azizah1. Titis Cindy Marcella2*. Uswatun NafiAoah3. Wanda NisaAo Mutiara Salsabila4. Widya Rahma Rofiyanti5 Bimbingan Konseling Islam. FUAD. UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Tulungagung. Indonesia Manajemen Keuangan Syariah. FEBI. UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Tulungagung. Indonesia Dosen FEBI. UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Tulungagung. Indonesia Hukum Tatanegara. FASIH. UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Tulungagung. Indonesia Tadris Matematika. FTIK. UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Tulungagung. Indonesia Email: 1nayulia43@gmail. com, 2*titiscm04@gmail. com, 3uswatunnafiah1995@gmail. wandanisa802@gmail. com, 5widyarahmarofiyanti@gmail. Abstract One strategic community empowerment program is training on making aromatherapy candles from used cooking oil. The main goal of this program is to increase public understanding and skills in how to creatively and sustainably manage household waste. This program aims to educate people on how to transform useless waste into products with great economic potential. In Melis Village. Gandusari District. Trenggalek Regency, there are 15 participants consisting of Family Welfare Empowerment (PKK) cadres and active community members. The training was held at the home of one of the local posyandu cadres, strategically chosen and easily accessible to the participants. The learning method used is direct . andson trainin. , where participants not only listen to theoretical explanations but also actively observe and practice each step of the aromatherapy candle-making process. During this process, participants learn methods of purifying used cooking oil using activated charcoal to remove dark color and rancid odor, as well as how to mix it with ingredients like paraffin, wax dyes, and essential oils to give the wax a natural Direct experience that facilitates participants' understanding and skills is gained thru a participatory approach and hands-on practice. The training results show that the community can make environmentally friendly, esthetically pleasing, and potentially profitable aromatherapy candles. It is hoped that this training will not be a temporary activity. it will be a starting point for building a handicraft business using recycled materials in Melis Village and raising awareness about the importance of managing household waste sustainably and responsibly. Keywords: Used Cooking Oil. Aromatherapy Candle. Training. Abstrak Salah satu program pemberdayaan masyarakat yang strategis adalah pelatihan pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah. Tujuan utama dari program ini adalah untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan masyarakat tentang cara mengelola limbah rumah tangga secara kreatif dan berkelanjutan. Program ini bertujuan untuk mendidik orang-orang tentang cara mengubah limbah yang tidak berguna menjadi produk yang memiliki potensi ekonomi yang besar. Di Desa Melis. Kecamatan Gandusari. Kabupaten Trenggalek, ada 15 peserta yang terdiri dari kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan warga aktif masyarakat. Pelatihan diadakan di rumah salah satu kader posyandu lokal yang dipilih secara strategis dan mudah dijangkau oleh peserta. Metode pembelajaran yang diterapkan adalah secara langsung . ands-on trainin. , dimana para peserta tidak hanya menyimak penjelasan teori, namun juga secara aktif menyaksikan dan mempraktekkan setiap tahapan proses pembuatan lilin aromaterapi. Selama proses ini, peserta mempelajari metode pemurnian minyak jelantah menggunakan arang aktif untuk menghilangkan warna gelap dan bau tengik, serta untuk mencampurkannya dengan bahan-bahan seperti parafin, pewarna lilin, dan minyak esensial untuk memberi lilin aroma alami. Pengalaman langsung yang memfasilitasi pemahaman dan keterampilan peserta diperoleh melalui pendekatan partisipatif dan praktik Hasil pelatihan menunjukkan bahwa masyarakat dapat membuat lilin aromaterapi yang ramah Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Yulia Nur Azizah1. Titis Cindy Marcella2. Uswatun NafiAoah3. Wanda NisaAo Mutiara Salsabila4. Widya Rahma Rofiyanti5 ABDIKAN (Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknolog. Vol. 4 No. 245 Ae 253 lingkungan, menarik secara estetika, dan berpotensi menghasilkan keuntungan finansial. Diharapkan bahwa pelatihan ini bukan hanya kegiatan sementara. itu akan menjadi titik awal untuk membangun usaha kerajinan tangan dengan bahan daur ulang di Desa Melis dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya mengelola limbah rumah tangga secara berkelanjutan dan bertanggung jawab. Kata Kunci: Minyak Jelantah. Lilin Aromaterapi. Pelatihan. PENDAHULUAN Desa Melis merupakan sebuah desa yang mayoritas penduduknya bekerja di sektor informal seperti petani, pedagang kecil, dan ibu rumah tangga. Penduduknya dikenal aktif dalam kegiatan sosial dan gotong royong, namun masih menghadapi keterbatasan dalam akses informasi dan pelatihan keterampilan berbasis Selain itu, tingkat pengelolaan limbah rumah tangga di desa ini masih rendah. Limbah rumah tangga yang tidak terkelola secara optimal merupakan salah satu sumber pencemaran lingkungan yang signifikan. Minyak jelantah, yaitu minyak goreng bekas pakai yang telah digunakan berulang kali, merupakan salah satu limbah yang sering terabaikan namun memiliki dampak negatif besar terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Di Indonesia, konsumsi minyak goreng mencapai sekitar 4 juta kiloliter per tahun, yang berarti potensi limbah minyak jelantah juga sangat besar, mengingat sebagian besar minyak goreng ini digunakan dalam rumah tangga dan perdagangan makanan. Namun, data resmi mengenai jumlah pasti minyak jelantah yang terbuang dan bagaimana pengelolaannya masih sangat terbatas, menimbulkan kekhawatiran terhadap dampak pencemaran yang dihasilkan dari limbah ini (Wardhani et al. Minyak jelantah yang dibuang sembarangan dapat mencemari lingkungan, terutama air dan tanah. Limbah minyak ini dapat menyumbat saluran air, mengganggu sistem drainase, serta merusak ekosistem perairan. Penumpukan limbah yang tidak terkelola dapat menyebabkan bencana ekologis seperti banjir dan pencemaran air tanah (Wardhani et al. , 2. Dari sisi kesehatan, penggunaan minyak goreng lebih dari tiga kali sangat tidak dianjurkan karena perubahan struktur kimia minyak terjadi, sehingga menghasilkan senyawa berbahaya seperti asam lemak bebas dan radikal bebas. Senyawa ini meningkatkan risiko penyakit serius seperti kanker, hipertensi, stroke, dan penyakit jantung koroner (Bachtiar et al. , 2. Oleh karena itu, masalah limbah minyak jelantah ini bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga isu kesehatan masyarakat yang harus segera ditangani. Penelitian terdahulu oleh Widowati et al. menunjukkan bahwa pengelolaan dan pemanfaatan minyak jelantah di Indonesia masih belum optimal meskipun minyak jelantah memiliki nilai ekonomi yang tinggi apabila diolah dengan baik. Kurangnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat serta sistem pengelolaan limbah yang belum memadai menjadi salah satu faktor utama rendahnya pemanfaatan minyak jelantah. Hal ini membuka peluang untuk mengembangkan solusi inovatif yang tidak hanya berfokus pada pengurangan limbah, tetapi juga pada pemberdayaan ekonomi masyarakat. Salah satu inovasi yang relevan adalah pengolahan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi, yaitu produk yang menggabungkan minyak jelantah dengan bahan lain seperti parafin, pewarna, dan minyak esensial untuk menciptakan produk berharga ekonomi sekaligus ramah lingkungan. Pendekatan ini dianggap praktis dan mudah diterapkan pada tingkat rumah tangga, serta memberikan manfaat ganda berupa pengurangan limbah sekaligus penciptaan produk bernilai jual (Widowati et al. , 2. Penelitian ini mengisi kekosongan dengan menitikberatkan pada pendekatan edukasi dan pelatihan sistematis yang bersifat partisipatif bagi masyarakat, terutama ibu rumah tangga, agar mereka memiliki pemahaman dan keterampilan dalam mengelola limbah minyak jelantah menjadi produk bernilai guna. Berbeda dari penelitian sebelumnya, studi ini mengintegrasikan aspek lingkungan, kesehatan, dan ekonomi dalam satu pendekatan yang aplikatif melalui pelatihan langsung dan pendampingan. Melalui model ini, diharapkan dapat terjadi perubahan terhadap perilaku masyarakat dalam mengelola limbah sehingga bisa memberikan dampak positif yang berkelanjutan. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi pada pengurangan dampak negatif minyak jelantah secara ekologis dan kesehatan, tetapi juga memberdayakan masyarakat melalui pengembangan produk kreatif berbasis limbah, yang sekaligus meningkatkan kesejahteraan dan kesadaran lingkungan masyarakat secara holistik. Ini merupakan langkah nyata dalam menerapkan prinsip reduce, reuse, dan recycle . R) dalam kehidupan sehari-hari. (Kenarni, 2. Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Yulia Nur Azizah1. Titis Cindy Marcella2. Uswatun NafiAoah3. Wanda NisaAo Mutiara Salsabila4. Widya Rahma Rofiyanti5 ABDIKAN (Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknolog. Vol. 4 No. 245 Ae 253 PELAKSAAN DAN METODE Kegiatan pelatihan pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah dilaksanakan di salah satu rumah ibu kader posyandu di Desa Melis, tepatnya di Dusun Melis Lor RT 02 RW 01. Kecamatan Gandusari. Pelatihan ini diselenggarakan pada pukul 12. 00 hingga selesai, dengan mengedepankan pendekatan penelitian yang di gunakan adalah kualitatif dengan desain deskriptif partisipatif. Pendekatan ini di pilih karena kegiatan tidak hanya berfokus pada pemberian keterampilan teknis, tetapi juga mengamati tingkat partisipasi, pemahaman, dan sikap masyarakat dalam mengelola limbah rumah tangga menjadi produk bernilai guna. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi demonstrasi langsung . ands-on trainin. serta diskusi partisipatif. Sebanyak 15 setempat mengikuti setiap tahapan mulai dari pemurnaian minyak jelantah dengan arang aktif, pencampuran bahan . arafin, pewarna, dan essential oi. , hingga proses percetakaan Mayoritas peserta adalah ibu rumah tangga yang aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Dengan latar belakang yang beragam namun memiliki semangat belajar yang tinggi, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan dampak nyata dalam mendorong pemanfaatn limbah rumah tangga menjadi peluang usaha yang bernilai ekonomis. Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada masyarakat dalam mengolah limbah minyak jelantah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomis. Kegiatan ini dilaksanakan di salah satu rumah kader posyandu yang telah ditunjuk sebagai lokasi pelatihan. Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi yaitu mencatat keterlibatan aktif peserta selama kegiatan, baik saat praktik maupun diskusi, dan dilakukan wawancara singkat yang dilakukan secara informal setelah kegiatan berlangsung. Tujuannya adalah untuk membuka wawasan masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan limbah rumah tangga secara bijak dan berkelanjutan. Pertanyaan yang diajukan meliputi presepsi masyarakat tentang pembuangan minyak jelantah secara sembarangan, pandangan mereka mengenai peluang bisnis dari produk lilin aroma terapi. Melalui wawancara ini, bisa memperoleh gambaran tentang tingkat kesadaran lingkungan peserta, motivasi untuk berwirausaha, serta harapan mereka terhadap adanya pendampingan lanjutan dari pihak desa. Data yang diperoleh digunakan untuk menilai tingkat partisipasi dan antusiasme peserta, ditunjukkan melalui indikator seperti keaktifan dalam diskusi, kemampuan mereplikasikan proses pembuatan lilin, kesediaan mencoba kembali secara mandiri. Dengan demikian, metode yang digunakan tidak hanya berfokus pada transfer keterampilan teknis, tetapi juga pada pengukuran dampak edukatif dan partisipatif dari program HASIL DAN PEMBAHASAN Pelatihan pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah merupakan bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang bisa memberikan keterampilan praktis sekaligus wawasan baru mengenai pemanfaatan limbah rumah tangga menjadi produk bernilai guna. Minyak jelantah yang biasanya dibuang begitu saja dapat menimbulkan pencemaran lingkungan maupun risiko kesehatan, sehingga diperlukan inovasi sederhana agar limbah tersebut dapat diolah kembali menjadi produk lilin aromaterapi. Penelitian menunjukkan bahwa minyak jelantah dapat diolah kembali menjadi lilin aromaterapi melalui proses adsorpsi dan pencampuran dengan parafin serta minyak esensial, sehingga menghasilkan produk ramah lingkungan yang bernilai guna sekaligus memiliki potensi ekonomi (Mufida et al. , 2. Pemanfaatan ini juga didukung oleh penelitian lain yang menegaskan bahwa pemanfaatan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi tidak hanya efektif mengurangi limbah rumah tangga, tetapi juga mencerminkan konsep ekonomi sirkular yang mampu membuka peluang usaha lokal di tingkat masyarakat (Putri Wulandari et al. Pelatihan pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah merupakan bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang bisa memberikan keterampilan praktis terkait pemanfaatan minyak jelantah menjadi produk lilin aromaterapi. kegiatan ini dilakukan dengan praktik langsung yang diikuti oleh 15 peserta yang terdiri dari ibu-ibu kader posyandu dan masyarakat setempat RT 02 RW 01 Desa Melis dan berlangsung di rumah Ibu Indri selaku kader posyandu. Sasaran utama kegiatan ini adalah kaum ibu, mengingat peran mereka dalam mengelola kativitas rumah tangga. Tanpa disadari. Istilah aromaterapi telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern, seiring dengan trend kembali ke alam . ack to natur. Meskipun begitu, pemhaman masyarakat Indonesia terhadap arti dan kegunaan aromaterapi masih terbatas. Banyak yang menganggap bahwa aromaterapi hanya sebagai pewangi ruangan untuk menciptakan suara tenang, santai, atau romantis. Padahal, sebenarnya, manfaat aromaterapi jauh lebih beragam dan luar biasa. (Wardani et al. , 2. Terdapat pembuktian bahwa aromaterapi secara efektif mengurangi stres ringan pada masyarakat usia produktif, dengan 91,78 % responden merasakan manfaat Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Yulia Nur Azizah1. Titis Cindy Marcella2. Uswatun NafiAoah3. Wanda NisaAo Mutiara Salsabila4. Widya Rahma Rofiyanti5 ABDIKAN (Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknolog. Vol. 4 No. 245 Ae 253 relaksasi (Mahalaksmi et al. , 2. Dan dalam konteks lain menunjukkan bahwa kombinasi aromaterapi lavender dengan relaksasi pernapasan signifikan menurunkan tingkat kecemasan pada pasien kanker . O 0,. (Syahida et al. , 2. Banyak yang beranggapan bahwa aromaterapi hanya berfungsi sebagai pewangi ruangan untuk menciptakan suasana yang tenang, santai, maupun romantis. Padahal, manfaat aromaterapi jauh lebih beragam dan signifikan (Wardani et al. , 2. Sejumlah penelitian telah menunjukkan hal tersebut, misalnya Mufida et al. yang menekankan pentingnya pemanfaatan limbah minyak jelantah sebagai bahan dasar pembuatan lilin aromaterapi ramah lingkungan, serta Wulandari et al. yang menyoroti potensi ekonomi kreatif dari produk tersebut bagi masyarakat. Selain itu. Mahalaksmi et al. membuktikan bahwa aromaterapi efektif mengurangi stres ringan pada masyarakat usia produktif, dengan 91,78% responden merasakan manfaat relaksasi. Dalam konteks klinis. Astuti . juga menemukan bahwa kombinasi aromaterapi lavender dengan teknik relaksasi pernapasan berpengaruh signifikan dalam menurunkan tingkat kecemasan pada pasien kanker . O 0,. Sebagai tindak lanjut dari pemaparan teoritis tersebut, pelatihan diimplementasikan melalui pendekta sistematis dan partisipatif. Implementasi pelatihan ini menggabungkan penyampaian materi teoritis, praktik langsung, dan pendampingan keterampilan. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan masyarakat, khususnya ibu-ibu rumah tangga, dalam mengelola limbah minyak jelantah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan ekonomis. Pelaksanaan pelatihan diawali dengan edukasi mengenai dampak negatif pembuangan minyak jelantah terhadap lingkungan dan kesehatan, serta potensi pemanfaatannya sebagai bahan baku lilin aromaterapi. Selanjutnya, dilakukan demonstrasi pembuatan lilin aromaterapi, dimulai dari proses pemurnian minyak menggunakan arang aktif, pencampuran dengan parafin dan pewarna, penambahan minyak esensial, hingga tahap pencetakan lilin. Peserta mengikuti seluruh proses secara aktif dan diberi kesempatan untuk mempraktikkan secara mandiri dengan didampingi oleh fasilitator. Gambar 1. Proses Pembuatan Lilin Aromaterapi Gambar 1. 1 Menunjukkan tahapan awal pembuatan lilin aromaterapi, yaitu proses pemurnian minyak jelantah menggunakan arang aktif hingga percampuran dengan parafin, pewarna, dan essential oil. Hasil implementasi menunjukkan bahwa para peserta mampu memahami dan mereplikasi proses pembuatan lilin aromaterapi dengan baik. Produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang cukup baik dari segi warna, bentuk, dan aroma. Selain itu, kegiatan ini juga mendorong tumbuhnya kesadaran peserta terhadap pentingnya pengelolaan limbah rumah tangga secara berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan temuan Hayati et al. yang menyatakan bahwa pelatihan pengolahan minyak jelantah mampu meningkatkan keterampilan masyarakat sekaligus membuka peluang usaha baru berbasis kerajinan tangan ramah lingkungan (Asfitri Hayati et al. , 2. Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Yulia Nur Azizah1. Titis Cindy Marcella2. Uswatun NafiAoah3. Wanda NisaAo Mutiara Salsabila4. Widya Rahma Rofiyanti5 ABDIKAN (Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknolog. Vol. 4 No. 245 Ae 253 Gambar 2. Proses Menuangkan Campuran Lilin Cair ke dalam Wadah Cetakan Gambar 3. Tahap Pendinginan / Pembekuan Gambar 1. 2 Memperlihatkan proses menuangkan campuran lilin cair ke dalam wadah cetakan yang sudah G dalam pembentukan lilin aromaterapi. di beri sumbu sebagai langkah penting Gambar 1. 3 Menampilkan tahap pendinginan dimana cairan lilin yang telah di cetak dibiarkan mengeras pada suhu ruang hingga siap digunakan. Lebih lanjut, pelatihan ini juga berkontribusi dalam memberikan alternatif solusi terhadap pencemaran lingkungan akibat pembuangan minyak jelantah secara sembarangan. Dalam penelitian Suci et al. ,S pelatihan serupa yang disertai pengenalan strategi pemasaran produk terbukti efektif dalam meningkatkan E potensi ekonomi masyarakat melalui produk daur ulang. (Suci et al. Dengan demikian, implementasi pelatihan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis peserta, tetapi m usaha lokal yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan. juga mendorong terciptanya peluang b pendekatan edukatif dan praktis dapat menjadi strategi yang efektif Keberhasilan ini menunjukkan bahwa dalam mengubah limbah menjadi sumber daya yang bermanfaat secara sosial, ekonomi, dan ekologis. \ Aromaterapi ini yaitu. Meningkatkan pemahaman masyarakat Adapun tujuan dari Pelatihan Lilin tentang bahaya penggunaan dan *pembuangan minyak jelantah terhadap kelestarian lingkungan. Menambah wawasan masyarakat mengenai berbagai produk daur ulang yang dapat dihasilkan dari minyak . Memberikan edukasi kepada tentang metode penyaringan atau pemurnian minyak . Menyajikan contoh Bpraktis dalam mengelola minyak jelantah menjadi produk ramah lingkungan untuk kebutuhan rumahI tangga, seperti lilin aromaterapi. (Adhani & fatmawati, 2. Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Lisensi: Creative Yulia Nur Azizah1. Titis Cindy Marcella2. Uswatun NafiAoah3. Wanda NisaAo Mutiara Salsabila4. Widya Rahma Rofiyanti5 ABDIKAN (Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknolog. Vol. 4 No. 245 Ae 253 Pelatihan pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah dilaksanakan dengan memberikan penjelasan kepada masyarakat sebelum mempraktekkan. Proses ini menggunakan berbagai alat dan bahan yang berfungsi mengolah minyak bekas atau jelantah menjadi lilin aromaterapi. Minyak jelantah merupakan limbah rumah tangga umum yang bisa dimanfaatkan dengan baik. (Asfitri Hayati et al. , 2. Untuk membuat produk lilin aromaterapi ini, harus mempersiapkan terlebih dahulu berbagai macam alat dan bahan yang dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan pelatihan ini. Peralatan dan bahan-bahan yang dimaksud berupa. Minyak Jelantah. Arang aktif. Asam Stearat / Parafin. Pewarna lilin. Essential Oil / Pengharum lilin. Panci. Sendok kayu / stainless. Pot lilin. Sumbu lilin. Saringan Minyak. Langkah pertama dalam proses pembuatan lilin aromaterapi adalah merendam minyak jelantah dengan arang selama 24 jam. Arang berfungsi untuk mengurangi warna gelap pada minyak sehingga lebih jernih, sekaligus menyerap bau tidak sedap . dari minyak jelantah. Setelah direndam, minyak disaring menggunakan saringan untuk memisahkan arang dan kotoran lainnya. Langkah berikutnya, minyak telah disaring sebanyak 500ml dipanaskan diatas panci dengan api kecil. Ketika minyak mulai hangat, tambahkan asam stereat / parafin sebanyak 500gr, disesuaikan dengan kebutuhan . Setelah stereat larut dan bercampur rata, masukkan pewarna . eperti krayo. agar lilin mempunyai warna yang menarik. Selanjutnya, tambahkan essential oil untuk memberikan aroma harum pada lilin. Setelah semua bahan tercampur dengan baik dan campuran sudah mendidih, matikan api dan diamkan sekitas 5 menit. Setelah suhu menurun sedikit dan minyak sudah siap dituang ke pot lilin, tuangkan lilin ke pot lilin yang sudah terpasang sumbu ditengahnya. Terakhir biarkan lilin mengeras selama kurang lebih 1 jam (Minto Basuki et , 2. Melalui kegiatan pelatihan ini, masyarakat diberikan pemahaman bahwa limbah rumah tangga, seperti limbah minyak jelantah, dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar untuk menghasilkan produk yang inovatif dan bernilai guna. Pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah menjadi contoh konkret bagaimana limbah yang umumnya dibuang dapat diolah menjadi kerajinan yang memiliki nilai fungsional sekaligus Pelatihan ini turut membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengembangkan keterampilan baru, sekaligus memberikan potensi ekonomi melalui pengembangan usaha kerajinan lilin aromaterapi (Latief et al. , 2. Adapum faktor penghambat dalam pelatihan ini antara lain adalah pot lilin yang terbuat dari gypsum mengalami perembesan saat menampung cairan lilin. Hal ini menyebabkan cairan lilin meresap ke dalam pori-pori pot sehingga volume lilin dalam pot terus berkurang. Kondisi tersebut mengakibatkan hasil akhir lilin tidak optimal dan kurang efisien dari segi penggunaan bahan. Hambatan selanjutnya adalah bau tidak sedap pada limbah minyak jelantah yang tetap tertinggal meskipun telah direndam dengan arang aktif selama 24 jam. Proses penyaringan yang telah dilakukan belum sepenuhnya mampu menghilangkan aroma tidak sedap tersebut, sehingga memengaruhi kualitas aroma lilin yang dihasilkan. Selain itu, terdapat kesulitan dalam menentukan jenis minyak jelantah yang paling sesuai untuk digunakan sebagai bahan dasar pembuatan lilin aromaterapi. Hal ini disebabkan oleh perbedaan karakteristik minyak jelantah, seperti warna, kekentalan, dan tingkat kejenuhan aroma, yang dapat memengaruhi hasil akhir produk lilin. (Viogenta et al. , 2. Tingginya tingkat partisipasi dan semangat peserta dalam mengikuti setiap sesi pelatihan menjadi salah satu faktor pendorong utama dalam keberhasilan kegiatan ini. Peserta menunjukkan keterlibatan aktif melalui diskusi, tanya jawab tentang pelatihan pembuatan lilin ini, serta praktik langsung dalam proses pembuatan lilin aromaterapi. Antusiasme tersebut mencerminkan adanya ketertarikan yang tinggi terhadap materi pelatihan serta keinginan untuk memperoleh keterampilan baru yang dapat dimanfaatkan sebagai peluang usaha. Keterlibatan aktif peserta juga turut menciptakan suasana belajar yang interaktif dan kolaboratif, sehingga pelatihan dapat berjalan secara optimal. (Widowati et al. , 2. Hasil dari pelatihan pembuatan lilin aromaterapi berbahan dasar minyak jelantah menunjukkan adanya dampak positif yang signifikan terhadap peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran lingkungan para peserta. Tingginya antusiasme yang ditunjukkan melalui keaktifan dalam sesi praktik, disertai dengan tanggapan positif dari anggota PKK serta masyarakat sekitar, mengindikasikan bahwa kegiatan ini mampu menarik minat sekaligus memotivasi mereka untuk mencoba dan mengembangkan keterampilan tersebut secara mandiri. Para peserta tidak hanya memahami teknik pengolahan minyak jelantah menjadi produk bernilai tambah, tetapi juga menyadari potensi ekonomi dan manfaat lingkungan yang dapat dihasilkan dari inovasi ini. Pelatihan ini sekaligus memberikan edukasi praktis mengenai Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Yulia Nur Azizah1. Titis Cindy Marcella2. Uswatun NafiAoah3. Wanda NisaAo Mutiara Salsabila4. Widya Rahma Rofiyanti5 ABDIKAN (Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknolog. Vol. 4 No. 245 Ae 253 pentingnya kegiatan daur ulang dan pengelolaan limbah rumah tangga secara berkelanjutan, sehingga diharapkan dapat mendorong terbentuknya perilaku ramah lingkungan dan peluang usaha kreatif di kalangan masyarakat. (Suci et al. , 2. Dengan demikian, pelatihan ini tidak hanya memberikan keterampilan praktis, tetapi juga berkontribusi dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya kegiatan daur ulang dan pengelolaan limbah secara kreatif dan produktif agar bernilai ekonomi. Peserta pelatihan memperoleh wawasan baru tentang bagaimana limbah rumah tangga, khususnya minyak jelantah, yang selama ini dianggap tidak berguna bahkan berbahaya, dapat diubah menjadi produk bernilai tinggi dengan teknik yang relatif Proses pembelajaran yang dilakukan secara partisipatif membuat peserta lebih mudah memahami setiap tahapan pembuatan lilin aromaterapi, mulai dari pemurnian minyak, pencampuran bahan, hingga pencetakan akhir. Kegiatan ini juga membuka pandangan masyarakat bahwa pengelolaan limbah tidak selalu membutuhkan teknologi canggih, tetapi dapat dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar. Keberhasilan pelatihan ini diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk memulai kegiatan serupa, baik di rumah maupun melalui usaha bersama dalam kelompok. Dengan cara ini, masyarakat tidak hanya bisa mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembuangan minyak jelantah, tetapi juga mendapatkan peluang untuk meningkatkan pendapatan. Keterampilan yang diperoleh dari pelatihan ini dapat dikembangkan menjadi produk unggulan desa yang memiliki nilai jual, apalagi saat ini semakin banyak konsumen yang mencari produk ramah lingkungan. Jika masyarakat, pemerintah desa, dan pihak pendukung bekerja sama, kegiatan seperti ini dapat menjadi contoh pemberdayaan yang berkelanjutan, bermanfaat bagi lingkungan, dan memberikan keuntungan ekonomi bagi warga. Selain itu, melalui diskusi dan tanya jawab selama pelatihan, peserta semakin menyadari bahwa peluang usaha berbasis pengolahan limbah memiliki prospek yang menjanjikan jika dikelola secara berkelanjutan. Produk lilin aromaterapi yang dihasilkan tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga fungsional dan ramah lingkungan, sehingga berpotensi menarik minat konsumen yang peduli pada produk hijau . reen Hal ini diharapkan dapat memicu tumbuhnya semangat kewirausahaan di kalangan ibu rumah tangga maupun generasi muda desa. Dampak jangka panjang yang diharapkan dari pelatihan ini adalah terbentuknya kelompok-kelompok usaha kecil yang dapat memproduksi lilin aromaterapi secara mandiri, sehingga meningkatkan pendapatan keluarga sekaligus berkontribusi dalam pelestarian lingkungan. (Widowati et al. , 2. Gambar 3. Hasil Pelatihan Pembuatan Lilin Aromaterapi Gambar 1. 4 Memperlihatkan produk akhir berupa lilin aromaterapi hasil karya masyarakat dan ibu kader yang sangat antusias, gambar ini menjadi bukti bahwa masyarakat mampu menghasilkan produk yang dimiliki nilai estetika dan ekonomis. Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Yulia Nur Azizah1. Titis Cindy Marcella2. Uswatun NafiAoah3. Wanda NisaAo Mutiara Salsabila4. Widya Rahma Rofiyanti5 ABDIKAN (Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknolog. Vol. 4 No. 245 Ae 253 PENUTUP Simpulan Pelatihan pembuatan lilin aroma terapi dari minyak jelantah di Desa Melis. Kecamatan Gandusari. Kabupaten Trenggalek, terbukti memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan masyarakat dalam mengelola limbah rumah tangga, khususnya minyak Kegiatan ini tidak hanya mengedukasi peserta tentang bahaya limbah minyak bagi lingkungan dan kesehatan, tetapi juga menunjukkan bahwa limbah tersebut dapat diolah menjadi produk bernilai guna dan Melalui metode pelatihan langsung . ands-o. , peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis tetapi juga mampu mempraktekkan secara nyata proses pengelolaan limbah menjadi produk bernilai Kegiatan ini berhasil menumbuhkan kesadaran Masyarakat terhadap isu lingkungan, khususnya dampak negative limbah minyak jelantah bagi kesehatan dan ekosistem. Antusiasme dan partisipasi aktif masyarakat menunjukkan bahwa kegiatan ini berhasil membuka wawasan dan memotivasi mereka untuk berinovasi dalam memanfaatkan limbah. Pelatihan ini juga mencerminkan penerapan prinsip 3R (Reduce. Reuse. Recycl. sebagai solusi praktis untuk menjaga kelestarian lingkungan. Saran Sebagai saran, program pelatihan pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah sebaiknya tidak berhenti sebagai kegiatan satu kali, melainkan dilanjutkan dengan pembinaan dan pendampingan secara berkelanjutan agar keterampilan peserta terus berkembang dan memberikan manfaat jangka panjang. Diperlukan pula dukungan konkret dari pemerintah desa, dinas lingkungan hidup, dan lembaga pemberdayaan masyarakat dalam hal penyediaan sarana, bahan baku, serta akses pemasaran produk. Selain itu, hasil pelatihan diharapkan dapat mendorong lahirnya usaha kreatif berbasis kerajinan daur ulang yang mampu meningkatkan ekonomi keluarga dan membuka peluang kerja baru. Untuk mendukung keberlanjutan program, penting juga dilakukan edukasi secara rutin mengenai pengelolaan limbah rumah tangga secara menyeluruh agar masyarakat semakin sadar lingkungan dan mampu mengelola sampah menjadi sesuatu yang bernilai guna. Ucapan Terima Kasih Penulis menyampaikan terima kasih kepada Kepala Desa Melis atas dukungan yang diberikan. Dosen Pembimbing Lapangan atas arahan dan bimbingannya. Divisi Linkes khususnya Yulia. Della. Alvy. Zienes, dan Fitri atas kerja samanya, perwakilan Divisi Sosial Budaya Eliya, perwakilan Divisi Ekonomi Wanda NisaAo, serta perwakilan Divisi Pendidikan Widya Rahma atas kontribusi yang telah diberikan dalam pelaksanaan kegiatan. DAFTAR PUSTAKA