Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 9 Nomor 4 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Peran Sekolah Ramah Anak Dalam Penguatan Kearifan Lokal Bagi Siswa Miskin Ekstrem Sekolah Dasar di Balikpapan Casmudi. Prita Indriawati. Rahayu Sri Waskitoningtyas* Universitas Balikpapan. Indonesia *rahayu. sri@uniba-bpn. Abstract Child-Friendly Schools in Balikpapan currently have not yet built local wisdom for their students, especially in the context of education and daily life. This local wisdom can be utilized as a culture-based approach to support them socially, emotionally, and The objectives of this study . explain the form of involvement of parents and school committees in the local wisdom of Child-Friendly Schools (SRA). explain the experiences of extremely poor students (SME) regarding the comfort of learning The subjects of the study were selected from extremely poor students in Elementary Schools (SD) in Balikpapan, together with teachers, principals, and parent This type of research refers to qualitative research. The sample was determined purposively, namely SDN 001 Balikpapan Timur. SDN 002 Balikpapan Selatan. SDN 001 Balikpapan Kota. SDN 004 Balikpapan Barat. SDN 009 Balikpapan Utara, and SD Kumala Bhayangkari. Data collection involved in-depth interviews with students, teachers, and principals, observations of classroom learning habits, and analysis of related documents. Data were analyzed inductively, with a theoretical basis of phenomenology to understand subjective experiences, ethnography for cultural context, and discourse analysis for language interpretation. The main result is that childfriendly school education can build local wisdom in extremely poor students. child-friendly school learning for Extreme Poor Students requires support from parents, committees and services to help their stability, emotions and mentality. improving learning outcomes, individual approaches, social assistance and strengthening teacher motivation are effective strategies to improve student experiences related to motivation for learning outcomes. Keywords: Child Friendly School. Extreme Poor Students. Elementary School Abstrak Sekolah Ramah Anak di Balikpapan saat ini masih belum membangun kearifan lokal untuk siswanya terutama dalam konteks pendidikan dan kehidupan sehari-hari. Kearifan lokal ini bisa dimanfaatkan sebagai pendekatan berbasis budaya untuk mendukung mereka secara sosial, emosional, dan praktis. Tujuan penelitian ini adalah . menjelaskan bentuk keterlibatan orang tua dan komite sekolah dslsm kearifan lokal Sekolah Ramah Anak (SRA). menjelaskan pengalaman siswa miskin ekstrem (SME) terkait kenyamanan motivasi motivasi belajar. Jenis penelitian ini merujuk ke penelitian kualitatif. Subjek penelitian dipilih dari siswa miskin ekstrem di Sekolah Dasar (SD) di Balikpapan, bersama dengan guru, kepala sekolah, dan perwakilan orang tua. Sampel ditentukan secara purposive yaitu SDN 001 Balikpapan Timur. SDN 002 Balikpapan Selatan. SDN 001 Balikpapan Kota. SDN 004 Balikpapan Barat. SDN 009 Balikpapan Utara, dan SD Kumala Bhayangkari. Pengumpulan data melibatkan wawancara mendalam dengan siswa, guru, dan kepala sekolah, observasi kebiasaan belajar di kelas, dan analisis dokumen terkait. Data dianalisis secara induktif, dengan landasan teori fenomenologi untuk memahami pengalaman subjektif, etnografi untuk konteks budaya, dan analisis wacana untuk interpretasi bahasa. Hasil utamanya bahwa https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH pendidikan sekolah ramah anak dapat membangun kearifan lokal siswa miskin ekstrem. Kesimpulannya . pembelajaran sekolah ramah anak bagi Peserta Didik Miskin Ekstrem memerlukan dukungan orangtua, komite dan layanan untuk membantu stabilitas, emosi dan mentalnya. peningkatan hasil belajar, pendekatan individual, bantuan sosial, dan penguatan motivasi guru merupakan strategi efektif untuk meningkatkan pengalaman siswa terkait dengan motivasi hasil belajarnya. Kata Kunci: Sekolah Ramah Anak. Siswa Miskin Ekstrem. Pendahuluan Sekolah Ramah Anak di Balikpapan saat ini masih belum membangun kaerifan lokal untuk siswanya terutama dalam konteks pendidikan dan kehidupan sehari-hari. Kearifan lokal ini bisa dimanfaatkan sebagai pendekatan berbasis budaya untuk mendukung mereka secara sosial, emosional, dan praktis. Berdasarkan wawancara pendahuluan dengan beberapa kepala sekolah bahwa sekolah sudah mengadakan kegiatan kearifan lokal misalnya saja kegiatan gotong royong, cinta lingkungan, hormat kepada guru dan orang tua, mengenakan pakaian adat pada Hari Kartini. Tetapi ada beberapa siswa miskin ekstrem pada Hari Kartini ada yang tidak menggunakan pakaian adat hal ini dikarenakan tidak mempunyai biaya sewa baju adat, ada beberapa siswa miskin ekstrem kurang cinta terhadap lingkungan misalnya membuang sampah di laci meja. Seharusnya siswa miskin ekstrem terutama di jenjang SD dapat dilihat pada saat penerimaan peserta didik baru jalur Afirmasi. Saat ini SD di Balikpapan dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) Tahun 2024, terdapat Jalur Afirmasi adalah jalur pendaftaran yang diperuntukkan bagi peserta didik yang menerima program penanganan keluarga ekonomi tidak mampu dari pemerintah pusat atau daerah dan anak berkebutuhan khusus (ABK) dalam zonasi (Daga. Dalam penerimaan peserta didik baru sebagai siklus input dalam proses penyelenggaraan Pendidikan, penerimaan calon siswa pada kelompok Afirmasi melalui jalur keluarga tidak mampu dan anak berkebutuhan khusus (ABK) (Hanifah et al. , 2. Pada penelitian yang menjadi hal perhatian penting adalah kelompok penerima bea siswa kurang mampu Program Indonesia Pintar disingkat (PIP) (Marsidi et al. , 2. Sekolah saat ini sudah mulai menekankan kearifan lokal. Salah satu kearifan lokal sering di bangun sejak SD yaitu mengenai gotong royong misalnya membersihkan kelas, melakukan piket, mengambil sampah di halaman sekolah. Gotong royong dilakukan secara sukarela tanpa adanya imbalan dilandasi rasa kebersamaan, kekeluargaan dan Upaya peduli terdap lingkungan termasuk kearifan lokal. Siswa miskin ekstrem harus peduli terhadap lingkungan sekitarnya. kearifan lokal dalam pengelolaan berperan penting dalam menjaga kelestarian (Marlina et al. , 2. Sekolah ramah anak selalu menerapkan siswanya untuk peduli terhadap lingkungan. Jika cinta terhadap lingkungan sekolah dilandasi oleh nilai-nilai budaya lokal seperti gotong royong, penghormatan terhadap alam, dan tradisi hidup bersih. Kearifan lokal yang lainnya yaitu menggunakan pakaian adat, sehingga siswa miskin ekstrem mengetahui bahwa Indonesia kaya akan pakaian adat. Ketika siswa menggunakan baju adat dalam kegiatan tertentu, mereka secara tidak langsung melestarikan dan memperkuat kearifan lokal di tengah arus modernisasi. Kondisi kemiskinan ekstrem siswa berdampak pada deprivasi, yaitu pencabutan pengalaman Deprivasi berfungsi menghambat perilaku anti sosial. Semua anak Indonesia khususnya di Kota Balikpapan, berhak memperoleh kesempatan pendidikan yang sama, untuk meperoleh pelaynan maksimal sesuai dengan kebutuhan belajar mereka Kelompok anak miskin ekstrem sering mengalami hambatan akses pendidikan, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH seperti biaya dan transportasi, uang saku, kebutuhan dasar sarapan pagi, berpakaian yang layak dan sehat (Maharani et al. , 2. SRA melindungi anak dari kekerasan dan diskriminasi di sekolah (Casmudi et al. , 2. Implementasi SRA di Indonesia memerlukan komitmen dari semua pihak. Penelitian menemukan implementasi SRA di PAUD belum optimal karena kurangnya pemahaman guru, dukungan keluarga, dan sarana prasarana (Richrd & Permatasari, 2015. Fansury et al. , 2. SRA berperan penting dalam melindungi anak untuk mencapai pemahaman mengenai nilai-nilai kearifan lokal bagi anak termasuk siswa miskin ekstrem (Andriyan & Trihantoyo, 2. Implementasi SRA menunjukkan hasil positif dalam menurunkan risiko perundungan, meningkatkan kesejahteraan, dan prestasi akademik. Sekolah Ramah Anak mendukung kebijakan Kota Ramah Anak (KRA) (Damanik, 2. Sedangkan Kota Smart City memerlukan tata kelola perkotaan berbasis TIK bagi guru (Purwaningsih, 2. Kota Balikpapan memerlukan dukungan dari sekolah dan masyarakat untuk mencapai tujuan sebagai Kota Ramah Anak (KRA). Peran aktif masyarakat mampu menerapkan prinsip-prinsip kota pintar. Setiap Peserta didik dalam setiap jenjangnya, mereka berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk Berdasarkan hasil wawancara pendahuluan dengan kepala sekolah SDN 001 Balikpapan Timur dan SDN 002 Balikpapan Selatan bahwa pemerintah sudah memberikan fasilitas sekolah berupa bantuan BOS, bantuan tersebut sudah digunakan untuk fasilitas sekolah dan kebutuhan siswa, tetapi kekurangan papan edukasi dan kelengkapan TIK. Guru sudah memberikan layanan bimbingan kepada siswa, tetapi kendalanya komunikasi guru dan orang tua siswa ada beberapa yang kurang berjalan lancar, tidak semua orang tua siswa hadir di rapat dikarenakan pekerjaan yang kebanyakan sebagai buruh pasar dan nelayan harus bekerja tiap hari. Begitu pula wawancara Kepala Sekolah di SDN 004 Balikpapan Barat, bahwa sekolah tersebut kurang fasilitas berupa CCTV dan sekolah tersebut beberapa kali kehilangan barang. Sedangkan wawancara dengan Kepala Sekolah SD Bhayangkari dan SDN 001 Balikpapan Kota untuk fasilitas cukup baik, hanya saja papan edukasi yang belum Untuk hasil wawancara di SDN 009 Balikpapan Selatan karena sekolah berada di pinggir jalan besar dengan area parkir yang sempit sehingga sekolah tersebut kekurangan sarana CCTV dan papan edukasi. Berdasarkan data yang diperoleh dari 6 sekolah tersebut yaitu SDN 001 Balikpapan Timur. SDN 002 Balikpapan Selatan. SDN 004 Balikpapan Barat. SDN 001 Balikpapan Kota. SD Kumala Bhayangkari. SDN 009 Balikpapan Utara. Penerima PIP di SDN 001 Balikpapan Timur 56 siswa. SDN 002 Balikpapan Selatan 40 siswa. SDN 001 Balikpapan Kota 20 siswa. SD Kumala Bhayangkari 20 siswa. SDN 004 Balikpapan Barat 76 siswa, dan SDN 009 Balikpapan Utara 99 siswa. Penerima PIP paling besar berada di SD SDN 009 Balikpapan Utara. Berdasarkan hasil wawancara pendahuluan dengan dua orang siswa miskin ekstrem di SDN 009 Balikpapan Utara bahwa siswa tersebut tinggal dan hidup bersama neneknya dan kedua orang tuanya sudah tidak memberikan uang saku. Kemudian salah satu siswa miskin ekstrem tersebut rumahnya hangus terbakar. Sehingga guru SD Ramah Anak harus bisa memberikan pengetahuan mengenai aspek mental, emosional, dan sosial. Supaya antara siswa miskin ekstrem dengan siswa non miskin ekstrem bisa berteman dengan baik, bisa berkomunikasi dengan baik, dan bisa memberikan dukungan kepada temannya yang terkena musibah. Sekolah harus memfasilitasi layanan pendidikan supaya anak belajar dengan nyaman. Meski layanan pendidikan dinilai baik, perlu analisis lebih mendalam tentang dampak kemiskinan terhadap peningkatan kualitas hidup siswa secara holistik, bukan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH hanya aspek akademik (Maharani et al. , 2. mengeksplorasi layanan pendidikan ramah anak bagi kelompok sosial-ekonomi. Peran guru juga dapat mempengaruhi tingkah laku siswanya (Astuti et al. , 2. SRA yang berada di Balikpapan penting dalam mewujudkan pendidikan berkualitas dan berkeadilan (Boentolo et al. , 2. Lingkungan yang aman dan nyaman misalnya dengan adanya tanaman atau hidroponik membuat suasana sekolah nyaman (Khodijah, 2. Siswa juga harus aman dari diskrimainasi dan bullying (BuAoulolo et al. Oleh karena itu, sekolah perlu menyusun kebijakan yang berfokus pada pemenuhan hak anak, seperti hak atas pendidikan, perlindungan, dan kesejahteraan. Implementasi kebijakan ini harus holistik, melibatkan pemerintah, sekolah, masyarakat, dan keluarga. Keberhasilan implementasi bergantung pada kualitas program sekolah, dukungan pemerintah, serta partisipasi aktif siswa, keluarga, dan Masyarakat. Rumusan penelitian ini . bagaimana keterlibatan orang tua dan komite dalam kearifan lokal sekolah ramah anak?, dan . pengalaman siswa miskin ekstrem terkait kenyamanan motivasi belajarnya?. Penelitian ini bertujuan untuk . menjelaskan bentuk keterlibatan orang tua dan komite sekolah dslsm kearifan lokal Sekolah Ramah Anak (SRA). menjelaskan pengalaman siswa miskin ekstrem (SME) terkait kenyamanan motivasi motivasi belajar. Dengan melihat cermat, untuk membantu mengungkap permasalahan mengoptimalkan proses belajar di sekolah ramah anak, diperlukan variasi peran guru di berbagai konteks sosial-ekonomi dan geografi. Sekolah ramah anak menjadi wadah interaksi sosial anak dengan nyaman, sebagai sarana bagi anak untuk dapat tumbuh kembang sesuai potensi, termasuk siswa miskin ekstrem. Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya karena dilakukan di sekolah dasar, serta orang tua dan komite sekolah dasar dijadikan subyek dalam penelitian ini. Metode Jenis penelitian ini merujuk ke penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif Metode kualitatif, yang mengandalkan data non-numerik, bertujuan untuk memahami secara mendalam fenomena sosial seperti pendidikan, budaya, dan politik. Fokus studi kasus ini adalah pada analisis intensif terhadap beberapa kasus spesifik, termasuk stigma sosial terhadap siswa miskin ekstrem, efektivitas program Sekolah Ramah Anak (SRA), motivasi dan ketahanan siswa, pencapaian akademis, dan pemenuhan kesejahteraan siswa miskin ekstrem. Subjek penelitian dipilih dari siswa miskin ekstrem di Sekolah Dasar (SD) di Balikpapan, bersama dengan guru, kepala sekolah, dan perwakilan orang tua. Sampel ditentukan secara purposive yaitu SDN 001 Balikpapan Timur. SDN 002 Balikpapan Selatan. SDN 001 Balikpapan Kota. SDN 004 Balikpapan Barat. SDN 009 Balikpapan Utara, dan SD Bhayangkara. Sumber data yaitu Kepala Sekolah. Guru dan Komite Sekolah. Teknik penentu informan berdasarkan purposive sampling. Teknik pengumpulan data melibatkan wawancara mendalam dengan siswa, guru, dan kepala sekolah, observasi kebiasaan belajar di kelas, dan analisis dokumen terkait. Data dianalisis secara induktif, dengan landasan teori fenomenologi untuk memahami pengalaman subjektif, etnografi untuk konteks budaya, dan analisis wacana untuk interpretasi bahasa. Analisis data dilakukan melalui identifikasi tema . nalisis temati. , penelusuran struktur naratif . nalisis narati. , dan interpretasi bahasa . nalisis wacan. Analisis tematik melibatkan pembacaan berulang, identifikasi tema, kategorisasi, dan penyusunan laporan. Analisis naratif fokus pada struktur dan makna Sumber cerita diambil dari proses wawancara mendalam kepada narasumber yang memberikan keterangan jawaban dari pertanyaan melalaui wawancara, observasi dan bukti dokumentasi, sehingga sumber data terklarifikasi. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Hasil dan Pembahasan Pelaksanaan pembelajaran melalui ekstra kulikuler yang banyak diminati siswa di SDN 001 Balikpapan Timur yang menerapkan nilai-nilai gotong meliputi pramuka, rebana, sepak bola, dan voli. Sedangkan di SDN 002 Balikpapan Selatan pelaksanaan pembelajaran melalui ekstra kulikulernya sudah menerapkan nilai gotong royong yaitu sepakk bola, pramuka, tari, dan rebana. Untuk SDN 001 Balikpapan Kota dan SD Kumala Bhayangkari ektra kulikuler yang diminati siswa yaitu voli, futsal, music . , rebana, dan pramuka. Sedangkan siswa SDN 004 Balikpapan Barat dan SDN 009 Balikpapan Barat lebih suka mengikuti futsal, rebana, dan pramuka. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Sekolah dan Guru di SDN 001 Balikpapan Kota bahwa komite sekolah SDN 001 Balikpapan Kota juga menerapkan gotong royong berupa menjadi orang tua asuh bagi siswa miskin ekstrem dengan memberikan uang saku dan seragam sekolah. Berdasarkan hasil observasi di 6 sekolah tersebut bahwa sarana dan prasarana mulai dari ruang kelas, ruang guru, ruang kepala sekolah, ruang perpustakaan dan ruang UKS sudah tersedia. Sarana untuk kegiatan ekstra kulikuler juga tercukupi. Guru terlibat dalam kegiatan ekstra kulikuler (Sale et al. , 2. Berdasarkan wawancara dengan guru SDN 009 Balikpapan Utara terkait dengan siswa miskin ekstrem yang rumahnya terbakar dan tidak dibiayai oleh kedua orang tuanya bahwa semua siswa SDN 009 Balikpapan Utara bergotong royong dalam membantu siswa yang terkena musibah. Sejalan dengan bahwa sikap gotong royong harus diterapkan pada diri manusia (Somawati, 2. Guru SD juga sudah menerapkan profil pelajar Pancasila kepada siswanya supaya tidak membeda-bedakan teman antar suku dan agama, dengan bermain bersama dan belajar bersama dalam belajar dan diskusi Sejalan dengan bahwa penting dalm diri manusia menerapkan profil pelajar Pancasila meliputi beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan gotong royong (Parta & Aryasuari, 2. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang dukungan orangtua dan Komite sekolah dalam mengelola SRA, nampaknya keterbukaan manajemen sekolah menjadi hal pokok yang krusial yang dihadapai oleh sekolah. Dari beberapa sumber referensi menyebutkan bahwa partisipasi orangtua dalam kegiatan sekolah, dan kontribusi komite sekolah terhadap sekolah bergantung kepada komunikasi yang efektif dilandasi keterbukaan kepemimpinan kepala sekolah (Ulandary et al. , 2. Kepala sekolah juga bertanggungjawab atas apa yang ada di sekolah. Gotong royong di SD dilakukan secara sukarela tanpa adanya imbalan dilandasi rasa kebersamaan, kekeluargaan dan solidaritas. Semua siswa melakukan gotong royong, komite sekolah dan guru juga bersama-sama melakukan gotong royong. Misalnya pada kegiatan Hari Kemerdekaan komite sekolah bekerja sama dengan guru mengadakan lomba dan menghias kelas. Sesuai dengan bahwa menerapkan gotong royong dapat menumbuhkan kearifan lokal (Pamungkas et al. , 2. Kendalanya tidak semua wali kelas melakukan kegiatan gotong royong, yang sering mengadakan gotong royong hanyalah komite sekolah. Kesenjangan pada gotong royong bahwa siswa lebih fokus pencapaian hasil belajarnya tanpa memperhatikan nilai kebersamaan. Tradisi gotong royong lebih mengandalkan kegiatan fisik tetapi tergeser dengan perkembangan Misalnya pada kegiatan Hari Kemerdekaan harusnya guru bersama komite membuat tumpeng secara bersama-sama tetapi banyak yang pesan tumpeng melalui ecommerse. Gotong royong juga menumbuhkan cinta terdap lingkungan dan kepeduliannya terhadap lingkungan. Kepala Sekolah. Guru, orang tua dan Komite secara bersama-sama menumbuhkan nilai gotong royong dan cinta lingkungan pada diri siswa (Marlina et al. , 2. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Adanya keterlibatan orang tua dan komite sekolah terhadap kegiatan-kegiatan sekolah misalnya saja kegiatan Hari Kemerdekaan, dan kebersihan sekolah untuk menyambut hari-hari besar yang lainnya. Selain itu orang tua dan komite selalu kompak dalam kegiatan di sekolah misalnya saja perpisahan sekolah. Kearifan lokal yang lainnya yaitu menggunakan pakaian adat. Ketika Hari Kartini Kepala Sekolah, guru dan siswa menggunakan pakaian adat. Siswa miskin ekstrem mengetahui bahwa Indonesia kaya akan pakaian adat. Ketika siswa menggunakan baju adat dalam kegiatan tertentu, mereka secara tidak langsung melestarikan dan memperkuat kearifan lokal di tengah arus modernisasi. Pakaian adat bagian identitas budaya Indonesia (Tukan et al. , 2. Kesenjangan terhadap pakaian adat yang paling mencolok pengaruh budaya global dan tren mode internasional. Kesenjangan pelayanan setiap sekolah pasti berbeda-beda. Semua guru dan sekolah memberikan perlakuan dan pelayanan yang sama terhadap siswanya. Tetapi setiap siswa terkadang ada mengalami kesenjangan pelayanan terhadap apa yang diberikan teman sebayanya, misalya saja siswa laki-laki hanya ingin berteman dengan siswa laki-laki, begitu pula sebaliknya, adanya grup dalam kelompok bermainnya siswa misalnya kelompok siswa yang pintar atau kelompok yang sama mengikuti ekstra Terkadang siswa miskin ekstrem ada yang tidak mengikuti ekstra kulikuler di sekolah SD karena faktor biaya atau ongkos perjalanan ke sekolah. Hal ini diperlukan peran guru dalam dukungan psikososial untuk siswa miskin ekstrem sangat penting karena guru menjadi barisan terdepan dalam interaksi antar siswa melalui kegiatan gotong royong dan cinta lingkungan. Hal ini dapat menumbuhkan nilainilai kearifan lokal pada diri siswa. Dukungan orangtua dan Komite sekolah selama ini dalam implementasi program SRA adanya dukungan program ekstra kurikuler dan perbaikan sarana penunjang sekolah ramah anak seperti kenyamanan ruang kelas di sekolah masing-masing . umber wawancara Kepala sekola. Sebagaian sekolah menyatakan nyaris tidak ada kendala yang dihadapi oleh sekolah dalam mendapatkan dukungan dari orangtua dan komite sekolah dalam implemntasi SRA. Di sekolah lainnya justru kendala itu muncul dari sebagian kecil orangtua yang kurang peduli terhadap perkembangan anaknya dan program sekolah (Damanik, 2. Sehingga diperlukan peran bimbingan konseling untuk siswa dan orang tua. Perlunya strategi peningkatan kesejahteraan siswa miskin ekstrem supaya dapat mengikuti kegiatan ekstra kulikuler di sekolah dan mengikuti pembelajaran di sekolah. Terkadang kurangnya faktor ekonomi yang menghambat siswa miskin ekstrem untuk mengikuti pembelajaran di sekolah ataupun mengikuti ekstra kulikuler. Kurangnya komunikasi siswa miskin ekstrem dengan teman-temannya membuat minder. Sehingga guru bersama komite sekolah dan orang tua mengadakan bantuan kepada siswa miskin ekstrem misalnya berupa seragam sekolah yang layak digunakan dan peralatan sekolah. Untuk mengoperasionalkan program SRA, sekolah membutuhkan tahapantahapan operasionalnya seperti. Adanya landasan kuat yang menjadi latar belakang sekolah mengarahkan kepada program SRA. Seperti contoh warga sekolah pernah mengalami kekerasan baik secara verbal maupun non-verbal. Adanya komitmen lewat deklarasi mewujudkan sekolah ramah anak untuk meningkatkan mutu Pendidikan tahapan kegiatan dimulai dari. tahapan sosialisasi, pembinaan soliditas guru, pembiasaan, dan memasukan nilai-nilai sekolah ramah anak dalam proses pembelajaran. Mengukur dampak dari implementasi SRA seperti. terbentuknya karakter anak, siswa merasa senang, dan meningkatnya peran aktif orangtua untuk ikut menerapkan pendidikan ramah anak (Wati et al. , 2. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Untuk menunjukkan adanya capaian implementasi SRA di sekolah, dibutuhkan sarana program pelatihan dan pengembangan siswa mengenai penggunaan teknologi serta pemahaman guru mengenai latar belakang siswa, mengembangkan pembelajaran berbasis defrensiasi, memahami perbedaan sosial emosional anaks ecara terus menerus (Andina et , 2. sehingga guru memiliki kompetensi sebagai modal baginya yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugasnya dengan baik sehari hari. Kemudian pada akhirnya anakAe anak akan mendapatkan sebuah layanan yang menyuburkan perkembangan minat dan bakat, sosial emosional dan kesehatan mental yang baik dalam mewujudkan kesejahteraan siswanya (Sholikha, 2022. Damanik, 2. Adanya perbedaan kualitas pelayanan SRA setiap sekolah yaitu (SDN 001 Balikpapan Timur. SDN 002 Balikpapan Selatan. SDN 001 Balikpapan Kota. SDN 004 Balikpapan Barat. SDN 009 Balikpapan Utara, dan SD Bhayangkar. dalam pemenuhan kebutuhan fisik siswa, khsusnya SME. Dari data grafik ini membuka peluang baru penelitian lebih lanjut dapat yang difokuskan pada sekolah-sekolah dengan perolehan skor-skor pemenuhan kebutuhan fisik siswa yang masih rendah. Untuk mengungkap dan mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya layanan konseling terhadap sarana sekolah (Casmudi & Sugianto, 2. Implikasi Penelitian ini menunjukkan kualitas layanan yang tidak merata, meskipun hal ini, semua sekolah dalam penelitian ini berstatus sebagai SRA, namun kualitas layanan, khususnya dalam hal pemenuhan minat dan kemampuan peserta didik, masih bervariasi. Ini menunjukkan bahwa status SRA saja tidak menjamin kualitas layanan yang sama di semua sekolah (Muhammad et al. , 2. Penting dalam pengembangan minat dan bakat peserta didik, terutama bagi Siswa Miskin Ekstrem (SME). Pembahasan minat dan bakat pada penelitian ini, layanannya mencakup ekstrakurikuler, dan bimbingan konseling secara fungsional di masing-masing kelas, karena di SD tidak menyediakan guru spesialis Bimbingan dan Konseling (BuAoulolo et , 2. disingkat (BK) seperti di jenjang SMP dan SMA. Grafik 4. Ketercapaian Program SRA-SD Kota Balikpapan Tahun 2024 Sumber Kepala sekolah Gambar 1. Grafik Ketercapaian Program SRA SD di Balikpapan Mencermati grafik diatas, program SRA di masing sekolah bervariasi. Ada sekolah sudah berhasil menerapkan program SRA dengan baik, sementara sekolah lainnya masih perlu melakukan perbaikan. Dapat disebabkan berbagai faktor, seperti ketersediaan sumber daya, dukungan pihak sekolah, keterlibatan orangtua dan Komite https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Grafik 4. Dampak Implementasi SRA-SD Kota Balikpapan Tahun 2024 Sumber Kepala sekolah SD BHAYANGKARI KOTA SDN 001 BALIKPAPAN KOTA SDN 001 BALIKPAPAN TIMUR SDN 002 BALIKPAPAN SELATAN SDN 009 BALIKPAPAN UTARA SDN 004 BALIKPAPAN BARAT Gambar 2. Grafik Dampak Implementasi SRA SD di Balikpapan Menyajikan data mengenai dampak implementasi (SRA) di sejumlah Sekolah Dasar (SD) di Kota Balikpapan tahun 2024. Angka yang tertera pada setiap sekolah mewakili suatu skor atau metrik yang menunjukkan tingkat keberhasilan atau dampak SRA di sekolah tersebut. Berdasarkan wawancara guru dan Kepala sekolah mengelola anggaran untuk kualitas sarana SRA, memiliki beberapa implikasi dan rekomendasi sebagai berikut: Pemetaan Kebutuhan: Perlu dilakukan pemetaan kebutuhan sarana dan prasarana di setiap sekolah untuk mengetahui secara pasti apa saja yang masih kurang dan perlu Alokasi Anggaran dari Pemerintah daerah yang cukup untuk pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana sekolah sekolah ramah anak. Peningkatan Partisipasi Masyarakat: Perlu melibatkan masyarakat dalam upaya peningkatan sarana dan prasarana sekolah melalui program-program gotong royong atau donasi. Evaluasi Berkala: Perlu dilakukan evaluasi secara berkala terhadap efektivitas penggunaan sarana dan prasarana sekolahramah anak, ini bertujuan untuk memastikan bahwa sarana dan prasarana yang ada benar-benar layak dan dimanfaatkan secara optimal bagi SRA. Kesenjangan pada gotong royong tidak semua miskin ekstrem melaksanakan gotong royong dengan sukarela, ada beberapa siswa miskin ekstrem masih kurang peduli terhadap lingkungan, dan masih mengikuti tren mode internasional. Salah satu adanya hambatan dalam oraganisasi sekolah yaitu faktor komunikasi (Astuti et al. , 2. Kecukupan sumber daya dan disposisi, indikator struktur birokrasi yang tidak berjalan, karena tidak adanya struktur birokrasi khusus yang dibentuk dalam pelaksanaan sekolah ramah anak. Faktor pendukung pelaksanaan sekolah ramah anak kurang komitmen seumberdaya Guru dan tenaga kependidikan, faktor komunikasi internal yang macet menimbulkan komunikasi ke luar kepada orangtua siswa mengalami hambatan, faktor finansial sering menjadi alasan hambatan utama (Ivan et al. , 2. Terkait penanganan bulliying, diskrimiasi dan kekerasan kepada anak di Semolah Ramah Anak bersumber dari data Analisis grafik karakter anti-bullying, diskriminasi, dan kekerasan di SD Kota Balikpapan menunjukkan adanya variasi yang sangat signifikan dalam perhatian kepala sekolah terhadap isu-isu sosial ini. Hal ini mengindikasikan pentingnya bagi sekolah tertentu untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan kelas yang inklusif bagi semua siswa (Sunanto, 2. Keterbukaan sekolah dalam kebijakan program SRA perlu melibatkan para pihak termasuk kelompok orangtua miskin Anak-anak merekalah yang akan menjadi obyek program untuk mewujudkan anak yang sejahtera fisik dan non fisiknya. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Upaya mensejahterakan anak, salah satunya terjadinya peningkatan prestasi akademik anak khusus kelompok rentan ini. Kompleknya permasalahan yang dihadapi kelompok SME, sering menimbulkan frustasi para guru hal ini tidak hanya permasalahan pada anak yang bersangkutan tetapi permasalahan kompleksnya dari rumah dan lingkungannya anak SME itu. Aspek kesejahteraan siswa, merupakan kondisi komprehensif yang dirasakan oleh setiap siswa, termasuk kelompok peserta didik miskin Siswa merasakan selama menempuh di SD SRA. Umumnya pemahaman sekolah tentang kesejahteraan siswa, dengan memberikan layanan kebutuhan fisik dan non fisik dengan seimbang siswa akan sejahtera. Kemampuan menyesuaikan diri, dalam penelitian tim SRA digambarkan sebagai kemampuan bersosialisasi. Orientasi belajar, identic dengan kemampuan kognitif. Penilaian diri, dalam pendangan tim ini sebagai kesehatan mental siswa. Kesimpulan Kesimpulan penelitian ini yaitu . pembelajaran sekolah ramah anak bagi Siswa Miskin Ekstrem memerlukan dukungan orangtua, komite dan layanan lebih secara psikologis dan psikis untuk membantu stabilitas, emosi dan mentalnya. Implementasi Sekolah Ramah Anak (SRA) berhasil meningkatkan kesejahteraan siswa berupa hasil belajar Peserta Didik dan pengembangan bakat dan minat walau belum optimal bagi kelompok Peserta diidk Miskin Ekstrem di SD Kota Balikpapan. Kondisi sosial emosional siswa kurang adanya dukungan orang tua terkadang siswa masih mengikuti tren mode internasional. Guru dan Komite Sekolah bekerja sama dalam mendukung mental dan emosional siswa misalnya pada Hari Kemerdakaan mengadakan lomba dan memberikan hadiah kepada siswa. Serta . peningkatan hasil belajar, pendekatan individual, bantuan sosial, dan penguatan motivasi guru merupakan strategi efektif untuk meningkatkan pengalaman siswa terkait dengan motivasi hasil belajarnya. Aspek kesehatan mental, merupakan indikator stratgis, berhubungan erat dengan emosi dan motivasi belajar yang ditunjukkan dalam perilaku belajar sehari-hari. Kesehatan mental menjadi fokus perhatian dari temuan penting bagi peserta didik miskin ekstrem di SRA SD Kota Balikpapan. Guru berperan penting dalam pembelajaran sekolah ramah anak bagi Peserta Didik Miskin Ekstrem memerlukan dukungan orangtua, komite dan layanan lebih secara psikologis dan psikis untuk membantu stabilitas, emosi dan mentalnya. Daftar Pustaka